Category Archives: Abu Fairuz Ahmad Ridwan

#COVID_19 : Mendung Kan Berakhir

Setiap orang kan mati, bila tidak dengan virus Covid 19, maka dengan hal yang lain. Bila hari ini kau selamat dari sebab kematian, mungkin esok, atau lusa. Bila kau lepas dari kejaran maut siang ini, mungkin nanti sore, malam atau besok pagi.

Hidup ini takkan kekal, bumi tempatmu berpijak tak abadi, hari ini kita melanglang buana menyisiri segala macam jalan diatasnya, entah esok atau lusa, kita kan mendekam di dalamnya.

Virus Corona datang untuk mengajarimu bahwa, kematian itu bisa datang begitu cepat menjemputmu, agar kau bersiap-siap selalu untuk menyambutnya.

Semua pintu-pintu dunia telah ditutup untukmu, mulai dari pintu masjid, pintu pasar, pintu sekolah, pintu kampus dll, ada satu pintu yang masih terbuka lebar untukmu yaitu pintu taubat.

Titik permasalahan bukanlah kapan dan bagaimana kau mati, inti masalah adalah bagaimana agar kau mati dalam kedaan husnul khotimah, dalam taubat dan amal sholeh, dalam ketaatan pada Tuhanmu.

Katakan kematian yang Engkau berlari darinya,sesungguhnya ia kan datang menemuimu, kemudian Kalian akan di Kembalikan pada Zat Yang Maha mengetahui segala yang ghoib maupun yang tampak, dan akan memberitahukan kalian tentang apa yang kalian lakukan. Qs: Aljumuah: 8.

Aku tak bermaksud mengajakmu pesimis menatap badai Corona yang sedang melanda ini, bukan pula memerintahkanmu untuk meratap dan bersedih menunggu kematian.

Tetaplah berusaha maksimal mengambil sebab, berikhtiar, menjaga jarak untuk sementara hubungan sosial, menghindari keramaian, selalu mencuci tangan, banyak berdiam di rumah, mengkonsumsi vitamin E dan C selalu. Bila semua prosedur telah kau lakukan, maka bertawakkallah pada Allah, dan katakan “tidak akan menimpa kita kecuali apa yang Allah tetapkan untuk kita, dan Dialah Tuan penjaga dan pemelihara kita”

Pastikan awan covid 19 yang berarak membawa mendung kematian, kan segera berlalu, pintu-pintu masjid kan segera kembali di buka, ka’bah kan kembali dikunjungi, kajian-kajian kan kembali semarak.

Duhai Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang, ampuni kami dengan segala dosa-dosa kami, jangan haramkan kami untuk kembali bersujud di rumah-rumahMu, menimba ilmu di masjid-masjidmu, berthowaf dan bersa’i di Mekah dan Madinah yang kau Sucikan.

Batam,4 Sya’ban 1441/ 28 Maret 2020

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Berikut ini adalah beberapa artikel yang telah kami posting sebelumnya terkait musibah wabah Covid-19, semoga bermanfaat..

  1. Do’a Mohon Perlindungan Dari Keburukan Segala Penyakit
  2. Do’a Mohon Perlindungan Dari Berubahnya Kesehatan
  3. Do’a Mohon Perlindungan Dari Segala Bahaya
  4. Do’a Saat Menghadapi Kesulitan
  5. Dzikir Ketika Melihat Oang Lain Terkena Musibah Penyakit
  6. Dzikir Saat Mengalami Kesusahan/Kesedihan
  7. Keutamaan Bersedekah Di Hari-Hari Ini
  8. UPDATE – Tebar Sembako dan Air Minum
  9. Ladang Pahala
  10. Ampuni dan Sayangilah Kami Ya Ghofuur Ya Rohiim
  11. Tawakal Yang Hakiki
  12. Do’akan Kebaikan Bagi Saudaramu
  13. Keutamaan Membaca 2 Ayat Terakhir Dari Qs Al Baqoroh
  14. Tentang Berjabat Tangan
  15. Apakah Takut Terinfeksi Corona Merusak Tauhid..?
  16. Apakah Qunut Nazilah Disyari’atkan Dalam Kasus Wabah Penyakit..?
  17. Hal Ghoib Semakin Dipercaya
  18. Tenanglah Wahai Saudaraku Seiman
  19. Penjelasan Hadits Tentang Berlindung ke Masjid Ketika Wabah
  20. Ringankan Orang Yang Sakit
  21. Peniadaan Kegiatan Sholat Jum’at Besok di Jakarta
  22. Pahala Yang Sama Bila Ada Udzur
  23. Sholatlah Di Rumah Saat Wabah Seperti Ini
  24. Jangan Sampai Kita Kalah Dengan Ketakutan Kita Sendiri !
  25. Agar Tidak Tertular Atau Menularkan
  26. Pelajaran Dari Peristiwa Penyakit Menular Di Suriah dan Mesir
  27. Kabar Gembira
  28. Karena Musibah Adalah Bagian Dari Nikmat…
  29. Bahagia Itu Bila Orientasi Anda Akherat…
  30. Nasehat dan Fatwa dan Tata Cara Sholat Bagi Tenaga Medis
  31. Besarnya Pahala Akan Sesuai Dengan Besarnya Cobaan
  32. Physical Distance Juga Bagian Dari Islam
  33. Beriman Kepada Qodar Baik Dan Buruk Keduanya Dari Allah
  34. Untukmu Yang Harus Keluar Rumah Untuk Mencari Nafkah
  35. Landasan Setiap Kebaikan
  36. Musibah Menghapus Dosa…
  37. Mendung Kan Berakhir
  38. Ampuni dan Sayangilah Kami Ya Ghofuur Ya Rohiim
  39. Bersabar Menghadapi Musibah
  40. Allah Yang Mengetahui Akhir Dari Perkara Kita

#COVID_19 : Pelajaran Dari Peristiwa Penyakit Menular Di Suriah dan Mesir

BAHAYA PERKUMPULAN DI SAAT TERJADINYA WABA’

=======

Perhatikan apa yang terjadi pada kaum muslimin di mesir dan Suriah ketika mereka memutuskan berkumpul untuk berdo’a dalam rangka menghindari tho’un (penyakit menular) tanpa didasari dengan fatawa ulama yang mumpuni ilmunya. Mereka ingin mengganti ibadah do’a pribadi menjadi ibadah kolektif (dilakukan dengan berjama’ah) karena kebodohan mereka terhadap ketentuan-ketentuan syariat serta berpaling dari kebenaran Allah dalam syariat-Nya tanpa syariat yang lainnya.

Al-hafidz Ibnu Hajar al-Atsqolany –semoga Allah merahmatinya- berkata :
“Berdo’a dalam rangka menolak bala’ tidak terlarang dan tidak pula bertentangan dengan taqdir secara asal. Akan tetapi berkumpul untuk berdo’a (di saat waba’) sebagaimana ketika shalat istisqo’ adalah merupakan kebid’ahan, yang terjadi pada tho’un yang tersebar pada tahun 749 di Suriah.

Aku (Ibnu Hajar) membaca dalam juz yang ditulis oleh al-Munbijy, setelah ia mengingkari sekumpulan manusia dalam masalah ini maka ia (al-Munbijy) berkata : “Maka mereka berdo’a dan berteriak dengan suara keras. Kejadian itu pada tahun 763, ketika terjadi tho’un di Suriah. Disebutkan hal itu terjadi pada tahun 749. Saat itu manusia dan mayoritas tokoh negeri tersebut keluar ke padang pasir untuk berdo’a dan ber-istighotsah (meminta perlindungan). Maka setelah itu tho’un semakin merajarela dan tersebar padahal sebelum mereka berdo’a (secara berjama’ah) awalnya adalah sedikit. Dan tidaklah diragukan bahwa ini (bertambahnya korban tho’un) adalah disebabkan karena bercampurnya antara orang-orang yang sakit dengan orang-orang yang sehat dan tersebarnya tho’un diantara mereka.

Aku (Ibnu Hajar) berkata :
“Dan peristiwa ini telah terjadi di zaman kami, yaitu kejadian pertama tho’un di Mesir pada tanggal 27 robiul akhir pada tahun 833. Pada saat itu jumlah yang meninggal kurang dari 40 orang, kemudian mereka keluar ke padang pasir pada tanggal 4 jumadil al-ula, setelah diserukan kepada mereka untuk berpuasa selama 3 hari sebagaimana dalam shalat istisqo’. Kemudian mereka berkumpul, berdo’a selama satu jam lalu mereka pulang. Maka tidaklah berlalu sebulan melainkan jumlah korban yang meninggal menjadi 1,000 orang setiap hari, bahkan kemudian bertambah.

Dan tidaklah diragukan lagi bahwa ini (bertambahnya korban tho’un) adalah disebabkan karena bercampurnya antara orang-orang yang sakit dengan orang-orang yang sehat dan tersebarnya tho’un diantara mereka”

Kemudian beliau (Ibnu hajar) mengatakan :
“Seandainya perbuatan mereka ini (berdo’a dengan cara jama’i) disyariatkan niscaya tidak akan terlewatkan oleh kaum salaf, demikian pula para ulama negeri dan orang-orang yang mengikuti mereka di masa yang telah lampau.

Dan tidaklah sampai kepada kita berita apapun dalam hal tersebut atau tidak pula atsar dari para ahli hadits dalam hal ini dan bahkan tidak ada bahasan secuilpun dari seorangpun dari kalangan ulama fiqh (yang dinukil dalam masalah ini)”

[Dari kitab Hukmu at-tada’I li fi’li at-thaat fi an-nawazil wa as-sadaid wa al-mulimmad (17-21). Karya. DR. Nuroh bintu Zaid Ar-Rusud]

Alih Bahasa
Al-faqir ila afwi Robbihi
Abu Harits, Hamidin as-Sidawy
(14/07/1441 H)

Diposting oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/ahmad.ridwan.921230/posts/2910971025616382

 

*خطر الاجتماعات أيّام الوباء*

انظر ماذا حدث للمسلمين في دمشق والقاهرة عندما قرروا أن يتجمعوا للدعاء لدفع الطاعون دون فتوى الراسخين في العلم وأرادوا تحويل العبادة الفردية في التضرع إلى جماعية جهلاً بضوابط الشرع وإعراضاً عن حق الله في التشريع دون غيره.

قال الحافظ ابن حجر العسقلاني رحمه الله : فليس الدعاءُ برفعِ الوباءِ ممنوعاً ولا مصادماً للمقدور من حيث هو أصلاً ، وإنما الاجتماعُ له كما في الاستسقاءِ فبدعةٌ حدثت في الطاعون الكبير سنة (٧٤٩) بدمشق.

فقد قرأت في/جزءالمنبجي/بعد إنكاره على جمع الناس في موضع، قال : فصاروا يدعون ويصرخون صراخاً عالياً ، وذلك في سنة (٧٦٤) لمّا وقع الطاعون بدمشق ، فَذَكَرَ أن ذلك حدث سنة (٧٤٩) وخرج الناس إلى الصحراء ومعظمُ أكابرِ البلدِ فدعوا واستغاثوا ، فعَظُمَ الطاعونُ بعد ذلك وكَثُرَ وكان قبلَ دعائِهم أخفُّ ! ( ولاشك ان هذا بسبب اختلاط المريض بالصحيح ).

قلت : الحديث لابن حجر
ووقع هذا في زماننا حين وقع أوَّلُ الطاعونِ بالقاهرة في ٢٧ من شهر ربيع الآخَر سنة (٨٣٣) ، فكان عددُ من يموتُ بها دون الأربعين ،فخرجوا إلى الصحراء في ٤ جمادى الأولى بعد أن نودي فيهم بصيام ثلاثة أيامٍ كما في الاستسقاء ، واجتمعوا ودعوا وأقاموا ساعةً ثم رجعوا ، فما انسلخ الشهر حتى صار عددُ من يموت في كل يومٍ بالقاهرة فوق الألف ثم تزايد !
(وهذا أيضا بسبب اختلاط المرضى بالأصحاء وانتشار العدوى بينهم)

إلى أن قال أنه لو كان مشروعاً فِعلُهم ما خفيَ على السلف ثم على فقهاء الأمصار وأتباعِهم في الأعصارِ الماضية ، فلمْ يبلغْنا في ذلك خبرٌ ولا أثرٌ عن المحدِّثين ، ولا فرعٌ مسطورٌ عن أحدٍ من الفقهاء .

من كتاب/ حُكْمُ التداعي لفعل الطاعات في النوازل والشدائد والملمات ١٧-٢١

أ.د.نورة بنت زيد الرشود

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Agar Tidak Tertular Atau Menularkan

Bismillah..

Kita bukan sedang berbicara tentang takdir dan kematian yang pasti datang, tetapi kita berbicara tentang ikhtiyar dan upaya menjauhkan diri dan orang lain dari virus Corona.

Bukan saatnya lagi keluar rumah “petentengan” ke sana ke sini, meremehkan dahsyatnya penularan covid 19 ini.

Bukan saat yang tepat meyakinkan diri hanya cukup baca do’a, zikir, ruqyah dan semacamnya dengan meninggalkan sebab bercampurnya orang sakit dengan orang sehat di pasar, pusat keramaian, acara-acara pengajian, resepsi pernikahan bahkan di masjid-masjid.

Nabi yang menyatakan “la ‘adwa- tiada penyakit menular(dengan sendirinya)” tetapi Beliau juga yang memerintahkan “berlarilah engkau menghindari orang yang terjangkiti kusta sebagaimana engkau berlari dari singa”

Virus Corona ini memang dampak klinisnya tak langsung, mungkin setelah beberapa hari baru kita kan terperanjat bahwa musibah ini adalah “bola es” yang awalnya jatuh dari puncak kecil untuk kemudian menjadi gunung es menghancurkan semua yang dilewati.

Mungkin dirimu tak sadar engkau pergi kemana-mana membawa virus yang kau sebarkan ke khalayak ramai. Mungkin pula kau tak merasa orang-orang yang kontak berinteraksi denganmu ternyata sedang menularkan virusnya padamu walau semua tentunya dengan izin Allah.

Menyepelekan himbauan untuk tetap di rumah, bisa merubah negeri ini bagaikan Italia yang dua minggu masa inkubasi mereka remehkan dan sepelekan, mereka tetap keluar rumah, berkeliaran, berdarmawisata dan berpesta pora, selepas itu mayat-mayat mereka mati bergelimpangan.

Negeri kita dan sarana prasarana kesehatan kita, berupa rumah sakit, tim medis, tempat inkubator dll tidak akan mampu menghadapi kedatangan puluhan pasien dalam satu waktu, apalagi ratusan pasien.

Tidakkah kau lihat bagaimana tim medis dari para dokter maupun perawat banyak yang sudah terjangkiti bahkan ada yang wafat disebabkan resiko yang tidak dapat dihindari buah dari berinteraksi dengan orang yang sakit..?

Masa ini adalah masa ber-uzlah-menyendiri- di rumah-rumah, banyak berzikir dan beristighfar, mendawamkan qiratul Quran, menangisi dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Semoga saja Allah yang maha Pengasih dan Penyayang , mencurahkan rahmatNya pada kita, segera mengangkat musibah ini dari kita.

Degub kerinduan ke masjid, memang sulit dibendung, denyut nadi untuk menghadiri kajian selalu datang menghantui, namun bersabar dengan menahan diri ke masjid lebih selamat dari tertular atau menularkan orang lain.

Virus corona memang berasal dari satu orang, namun tak disangka satu orang sakit itu dapat merusak ratusan bahkan ribuan orang sehat karena interaksi.

Batam, 27 Rajab 1441/22 Maret 2020

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Ikhlas Itu Berat

‎Berkata Syeikh Muhammad Sholeh Ibn Utsaimin:

‎« والإخلاصُ يا إخواني صعبٌ والإنسانُ لا يخلو من رياءٍ ولو يسيرًا ، ولا يخلو من إعجابٍ بنفسِهِ ولو يسيرًا أعـاذنا اللهُ وإيَّاكُم من ذلك.

‎ فطهِّر قلبك ، وٱجعل عملَكَ خالصًا للهِ تعالى ، فأنتَ عبدُ الله ، لستِ عبدًا للخلق ، والذي ينفعُكَ ويضرُّك الله ، والذي يدخلكَ ‏الجنةَ وينجيك من النَّارِ الله ، والذي بيدِهِ ملكوتُ كل شيءٍ الله » .

‎شرح مشكاة المصابيح (1 / 143)».

“Ikhlas itu berat wahai saudara-saudaraku, dan manusia selalu saja tergelincir dalam riya meski sedikit, terkadang merasa diri hebat walaupun sesekali, semoga Allah selamatkan kalian darinya.

Maka sucikanlah dirimu ! Jadikanlah amalanmu ikhlas hanya untuk Allah semata, sebab engkau adalah hamba milik Allah bukan hamba milik manusia, dan yang mampu mendatangkan bagimu manfaat dan menolak mudarat hanya Allah, yang memasukkanmu ke dalam surga atau menyelamatkanmu dari neraka hanya Dia, hanya Dia pula yang ditangannya kerajaan langit dan bumi”

(Dari kitab Syarh Misykat Almashabih 1/143)

Batam, 17 jumadal akhir 1441/11 Feb 2020

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

Hati Yang Kering

Ibarat tanaman yang gersang manakala tidak disiram, begitupula hati kan mengering apabila tak pernah disirami dengan air wahyu. Dari mengering lambat laut hati itu kan menjadi mati sebagaimana matinya tanaman tak disiram.

Berkata Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Rohimahullah,

فإن الانسان إذا كان لا يحضر حلقات العلم ولا يسمع الخطب ولا يعتني بما ينقل عن أهل العلم فإنه تزداد غفلته وربما يقسو قلبه حتى يطبع عليه ويختم عليه فيكون من
الغافلين(الفتاوى ١٢-٣٣٤)

“Bila seseorang enggan menghadiri majlis ilmu, tidak pula sudi mendengar khutbah (kajian), malas dan tidak perduli dengan pencerahan dari para ulama, niscaya akan semakin bertambah lalai dan keras hatinya bahkan tertutup, jadilah ia dari rombongan orang-orang yang lalai”

Bila tanaman mengering takkan pernah mampu memberikan buah yang segar dan daun nan hijau yang menyejukkan pandangan mata, demikian juga hati yang mengering takkan mampu memberikan buah ilmu, iman dan amal, tidak pula mampu menumbuhkan ranting dan dahan-dahan ketaatan.

Hati yang kering takkan pernah merasakan nikmatnya taat, sekalipun ia melakukannya, maka hanyalah sebatas gerakan ritual tanpa makna.

Sebagaimana tanaman kan mengering dan mati bila dihinggapi hama maupun benalu ganas yang menyerap makanannya, maka demikian juga hati kan mengeras dan mati bila digerogoti benalu kesyirikan, ujub, riya, sum’ah dan segala macam bid’ah maupun syahwat.

Menjaga hati agar tetap segar bugar hendaklah seseorang senantiasa membasahi lidahnya dengan dzikrullah, mengasah mata hatinya dengan ilmu dan ma’rifat, mengosongkan jiwanya dari bencana hasad, takabbur dan nifaq.

Orang yang jauh dari majlis ilmu dan ulama hakikatnya adalah orang yang sedang menyiksa batinnya dan membunuh akar iman dan agamanya secara perlahan.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

Di Dunia Ini Ada Syurga

Orang sengsara adalah orang yang tak pernah menikmati syurga dunia. Didunia ini ada syurga, bagi sesiapa yang tak pernah masuk menikmatinya takkan pernah masuk menikmati syurga akhirat.

Begitulah kira-kira ungkapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah sebagaimana di nukil sang Murid Ibnul Qoyyim.

Sekalipun dalam penjara Qal’ah yang terkenal sadis di negeri Damaskus, ia menyatakan betapa besar rahmat Allah atasnya yang tak dapat ditukar dengan dunia seisinya.

Dari balik jeruji besi ia tersenyum menatap aparat yang memenjarakannya sembari berkata: “apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku padaku, syurgaku ada dalam hatiku, ia bersamaku kemana saja kupergi, sekiranya mereka membunuhku kuharap mati dalam keadaan syahid, bila mereka memenjarakanku itula waktu berkhulwat dengan Tuhanku, bila mereka mengasingkanku maka itulah siyahah berpelesir di jalan Tuhanku”

Kemudian beliau membaca ayat dalam surat Alhadid:

فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ [الحديد : 13]

“Maka dipisahkan antara mereka dengan pagar berpintu, bagian dalamnya ada rahmat sementara sisi luarnya penuh adzab”

Syurga yang dimaksud adalah syurga hidup dibawah naungan iman, dalam kenikmatan samudera cinta Arrohman, berkayuh dengan bahtera kerinduan padaNya, dalam sepoi angin yang menggiring layar ma’rifatullah kepada jalan RidhoNya.

Syurga itu adalah perasaan indah merasakan manisnya buah iman dan taat, meski tak berhias mahkota dan gelimang harta, tak berjabatan dan bernasab mulia.

Syurga itu kan membuat kau tenang ketika orang gelisah, membuat kau tentram ketika dunia gundah, senyap berkhulwat dengan Nya dalam keramaian, tak merasa sepi bersamaNya meski dalam pengasingan.

Bila tangisan makhluk tertumpah dalam ratapan dunia yang tak terwujud, ambisi pangkat dan jabatan yang terluput, maka tangisannya tertumpah di atas sajadah-sajadah cinta dan mihrab-mihrab rindu pada Allah sang kekasih.

Duhai Tuhan, betapa kerinduan mencapai maqom itu terkadang menyesakkan dada, menyempitkan qalbu ini. Sampaikan kami yang naif ini pada jenjang itu…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

Waktumu.. Bahagiamu Atau Celakamu

Suatu hari Syeikh Jamaluddin Alqasimi-salah seorang ulama Syam-melewati kedai kopi menyaksikan orang-orang yang membuang-buang waktu duduk bermain catur dan berbual-bual tanpa makna, maka ia berkata: “Aduhai.. sekiranya waktu mereka bisa kubeli niscaya kan kubeli untuk menambah waktuku”

Dalam kitabnya Shoidul khatir, Ibnul Jauzi pernah menyebutkan keprihatinannya yang dalam terhadap orang-orang yang membuang-buang masanya dipinggir-pinggir jalan, maupun ditepian sungai Tigris dan Eufrat berbual-bual menghabiskan umur, beliau menyebutkan bagaimana guru beliau Abul wafa Ibn Aqil alhambali yang begitu menghargai waktunya.

Ia berkata tentang gurunya: “kudapati dalam catatan guruku ia menulis, tidak halal bagiku menyia-nyiakan waktuku walau sesaat. Bilamana lisanku sudah kelu untuk mengulangi hafalan ataupun berdiskusi tentang ilmu, mataku tak mampu lagi untuk membaca, maka aku akan gunakan akalku untuk berfikir di atas pembaringanku, hingga akhirnya aku takkan bangun dipagi hari kecuali telah ada bahan untuk kutuliskan sebagai buah fikirku tadi malam untuk menjadi buku yang bermanfaat”

⚉ WAKTU ITU ADALAH KEHIDUPAN

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa waktu itu adalah kehidupan.. yang tak menggunakan waktu untuk kebaikan hakikatnya tidak pernah hidup kecuali sebagaimana hidupnya binatang.

Seorang muslim sadar waktunya didunia begitu terbatas dan begitu berharga untuk menjadi jembatan kehidupan yang hakiki dan abadi di negeri akhirat.

Seorang mukmin senantiasa akan menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya sebagai panduan yang mengingatkannya selalu tentang mahalnya harga waktu.

Bila anda perhatikan dengan cermat, alangkah banyaknya ayat yang menyebutkan Allah bersumpah dengan waktu. Lihat saja dalam juz Amma, bertebaran sumpah Allah dengan waktu secara umum maupun penggalan-penggalan waktu. Ia berfirman:

والضحى والليل إذا سجى

“Demi waktu dhuha (manakala mentari naik sepenggalah)
Demi malam bila telah sunyi dan gelap

والشمس وضحاها، والقمر إذا تلاها والنهار إذا جلاها والليل إذا يغشاها

“Demi matahari dan cahayanya dikala dhuha
Demi bulan yang datang menggantikannya
Demi siang manakala Dia Tampakkan”

والليل إذا عسعس والصبح إذا تنفس

“Demi malam apabila akan meninggalkan gelapnya
Demi shubuh apabila fajarnya telah menyingsing”

والعصر

“Demi masa”

Allah, bilamana bersumpah dengan makhluknya, hakikatnya sedang menunjukkan pada kita betapa agung dan pentingnya makhluk tersebut, karena penggalan-penggalan waktu tersebut sejatinya adalah modal besar bagi manusia untuk beramal dan berbekal demi keberuntungan negeri akhiratnya.

⚉ KEBANYAKAN MANUSIA MENYIA-NYIAKAN WAKTU

Namun sayangnya kebanyakan manusia lalai menyia-nyiakan waktunya lewat tanpa makna. Itulah kelak yang paling disesali manusia bila ajal datang menjemput. Allah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ [المؤمنون : 99-100]

“Tatkala datang pada salah seorang mereka kematian, barulah ia menyesal dan berkata: “Tuhan kembalikanlah aku hidup semoga aku dapat beramal sholeh yang dahulu kutinggalkan”, sekali-kali tidak, sesungguhnya itu hanyalah ungkapan penyesalan yang tak berguna, sementara di belakang mereka ada dinding pembatas untuk kembali ke dunia hingga datangnya hari mereka dibangkitkan.” (Al Mu’minuun : 99-100)

Kebanyakan manusia lalai dalam gelimang kenikmatan dunia dari memahami untuk misi apa mereka diciptakan.

Kebanyakan mereka menghiasi hidup sekedar untuk bersenang-senang, makan minum tak ubahnya binatang yang hidup hanya untuk makan, minum, dan melampiaskan syahwat.

Mengejar ambisi dunia dengan angan-angan panjang tak berkesudahan hingga akhirnya kematian menyudahi mimpi-mimpi dunianya.

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ [الحجر : 3

“Biarkan mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan dengan angan-angan yang panjang, kelak mereka akan tau akibatnya.” (Al Hajr : 3)

Saudaraku, jangan pernah lewatkan waktumu untuk hal-hal yang tak berguna, habis di depan android dan handphone pintarmu, tenggelam dalam samudera maksiat memandang yang haram, terlena dengan berbagai ragam medsos dan game-game yang membunuh waktumu.

Terakhir ingatlah ungkapan Imam Syafii rahimahullah: “aku pernah berteman dengan orang-orang sufi dan tak kutemukan dari mereka apa yang berharga selain ucapan hikmah mereka yang berbunyi:

الوقت كالسيف فإن لم تقطعه قطعك

“Waktu itu ibarat pedang, bilamana kau tak mampu memotong dengannya (menggunakannya ) niscaya ia akan memotongmu”.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

Demi Masa Depan

Bekerjalah banting tulang demi masa depanmu !
Belajarlah bersungguh-sungguh demi masa depanmu !
Bersusah payahlah, bersakit-sakit demi masa depanmu !
Sekolah yang tinggi dan raih prestasi demi masa depanmu !

Masa depan apa yang ada di benak kebanyakan manusia ? Jawabnya adalah masa depan dunia manakala seseorang berhasil meraih pangkat dan jabatan, harta dan tahta, dielu-elukan banyak pengikut dan pengagum.

Lantas, setelah harta ditangan, jabatan dipundak, kedudukan dipandang, apakah berarti kau telah mencapai garis finish mu meraih masa depan yang dulu kau impi-impikan ?

Bukankah setelah itu, tubuhmu bongkok tak lagi lentur, pandanganmu tak jeli karena mulai kabur, kulitmu tak kencang berubah mengendur, rambut hitammu pun telah tertutup oleh ubanmu yang mulai bertabur, secara perlahan jasadmu mendekat ke pintu kubur, untuk kemudian dipendam tanah menjadi hancur lebur, sanak keluarga, handai tolan, pengikut dan pengagummu pun pada kabur.

Jangan pernah tertipu berletih-letih menyiapkan masa depan, karena masa depan yang hakiki bukanlah di dunia fana yang sempit ini, tetapi masa depan mukmin adalah ketika dengan dua kakinya menginjak taman-taman surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Orang bijak adalah orang yang bersusah payah untuk menpersiapkan masa depannya setelah kematian, bersabar-sabar dengan menjalankan ketentuan syariat, menjauhi dosa-dosa dan bertahan dengan segala derita.

Dunia memang harus dipersiapkan, diraih dan dikejar, tetapi bukanlah tujuan hidup, dan bukanlah hakikat hidup, karena hakikat hidup itu kan diraih nanti setelah ruh berpisah dari badan.Tiada indah masa depan yang diraih di dunia, namun hancur binasa terluput di akhirat kelak.

Batam, 18 Rabiul Akhir 1441/ 15 Des 2019

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Seni Kehidupan…

Kehidupan di dunia ini, penuh dengan lika-liku dan pernak-pernik yang tak selalu indah, kan menjadi indah bilamana disikapi dengan hati yang lapang.

Anak yang terkadang menyebalkan, istri yang rewel, suami yang kurang tanggap, mertua yang tak bersahabat, partner bisnis berkhianat, tetangga yang usil, kawan kerja pemalas…dst, kan membuat kemarahan memuncak, stress, luka dan duka mendalam di hati, bilamana tak dihadapi dengan kesabaran yang tak berbatas.

Mudah memaafkan ketergelinciran orang lain, adalah seni hidup yang akan membuat hatimu menjadi bahagia, lapang dada dan suka cita.

Manakala setiap kesalahan dan kekeliruan orang tak bisa kau terima dan maafkan, pastilah hatimu kan hancur lebur, remuk-redam dalam kegalauan yang tak berkeputusan.

Manalah ada manusia yang sempurna selamat dari kesalahan dan kekhilafan. Manakala hati kau selalu sibukkan untuk terus mengingat kesalahan orang padamu niscaya kan membuatmu letih.

Orang cerdas adalah orang yang tidak gampang baper menghadapi perkara remeh temeh yang seharusnya tidak terlalu dipikirkan dan dimasukkan ke dalam arsip hatimu, untuk menjaga agar qolbumu tetap lapang tidak sempit dan sumpek.

Orang bijak tak kan mau berkutat, memusingkan diri dengan keteledoran anak istrinya, keluarga maupun tetangganya, karena akan merubah kegembiraan harinya menjadi hari yang penuh duka dan luka.

Berkata Imam Ahmad Bin Hambal yang maknanya lebih kurang : ”9/10 dari perangai mulia adalah tidak mengambil pusing segala yang remeh temeh”

➡️ Seni kehidupan itu adalah mampu memaafkan orang yang bersalah padamu, membalas keburukannya dengan kebaikan, menukar kebencian dan dendam kesumat padanya dengan ampunan, meski ia adalah perkara yang tak ringan.

Kita memang harus lebih banyak bercermin dari teladan para Nabi dan orang-orang Sholeh. Bagaimana mereka mampu membahagiakan hati mereka dengan memaafkan orang-orang yang jahat dan buruk sikap terhadap mereka.

Lihat betapa jahat dan zalimnya saudara-saudara Nabi Yusuf yang membuangnya dalam sumur yang dalam, hanya karena cemburu. Membuat Yusuf kecil dijauhkan dari keluarga, diperjual belikan sebagai hamba sahaya, difitnah wanita dan masuk penjara bertahun-tahun.

Lihat pula apa balasan Yusuf terhadap mereka tatkala ia berada di puncak kekuasaan, “Tidak ada balas dendam terhadap kalian pada hari ini, semoga Allah memaafkan kalian”

Belajar dari Baginda Nabi Muhammad yang didustakan kaumnya, diembargo, diusir dari kampung halamannya, bahkan hampir terbunuh…

Tatkala Beliau masuk ke Kota Mekah sebagai penakluk, dan tatkala Quraisy menjadi makhluk yang hina dina menunggu keputusan Muhammad untuk mereka. Di hadapan ribuan Kafir Quraisy ia berpidato: ”hari ini aku akan berkata kepada kalian sebagaimana Yusuf berkata kepada sauadara-saudaranya yang zalim ‘tidak ada balas dendam di hari ini, semoga Allah memaafkan kalian’, pergilah kalian kemanapun kalian mau sungguh seluruh kalian telah kubebaskan”

Betapa kejahatan gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, pembuat onar dan makar, penyebar fitnah dan pengadu domba, namun tatkala mati Nabi tetap menyolatkan jenazahnya. Umar sempat sewot dan menarik baginda Nabi sambil berkata: ”bagaimana anda sholatkan ia padahal ia orang munafiq ?” Nabi menjawab: ”aku disuruh Allah pilih antara menyolatkan ataupun tidak menyolatkannya, demi Allah bila kutau Allah akan mengampuninya manakala aku berdo’a untuknya lebih banyak dari tujuhpuluh kali, niscaya kan aku lakukan”

Allahu akbar, sungguh betapa besar dan mulia nya jiwa-jiwa orang yang mampu memaafkan musuhnya manakala ia sanggup menghabisinya dan melampiaskan amarahnya.

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.