Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Kaidah Ushul Fiqih Ke-54 : Peniadaan Itu Pada Asalnya…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-53) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 54 🍀

👉🏼  Peniadaan itu pada asalnya :
– meniadakan keberadaan,
– kemudian meniadakan keabsahan,
– kemudian meniadakan kesempurnaan.

Perhatikanlah tingkatan ini.

Dalam bahasa arab, peniadaan itu biasanya dimulai dengan لا (Laa) atau ما (Maa) yang artinya tidak ada. Bila kita menemukan ucapan peniadaan, maka perhatikanlah tingkatan tadi. Yaitu:

⚉  PERTAMA: pada asalnya peniadaan itu wajib dibawa kepada makna meniadakan keberadaan. Contohnya ucapan:

لا خالق إلا الله

“Tidak ada pencipta selain Allah.” Kata ‘Laa’ dalam kalimat tersebut bermakna TIDAK ADA.

⚉  KEDUA: Bila tidak mungkin dibawa kepada makna meniadakan keberadaan, maka wajib dibawa kepada meniadakan keabsahan. Contohnya :

لا صلاة لمنفرد خلف الصف

“Tidak sah sholat orang yang berdiri sendirian di belakang shoff.”

Kata ‘Laa’ dalam hadits tersebut tidak mungkin dibawa kepada makna tidak ada, maka dibawa makna yang kedua yaitu TIDAK SAH.

⚉  KETIGA: Bila tidak mungkin dibawa kepada makna meniadakan keabsahan atau karena adanya dalil, maka dibawa kepada meniadakan kesempurnaan.
Contohnya:

لا صلاة بحضرة الطعام ولا هو يدافعه الأخبثان

“Tidak sempurna sholat ketika makanan telah tersaji, tidak juga ketika menahan buang air.”

Hadits tersebut bermakna tidak sempurna, karena sholat dalam keadaan makanan telah tersaji hanya berhubungan dengan ke khusyu’an, sedangkan ke khusyu’an bukan rukun sholat.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Adakah Sholat-Sholat Sunnah Antara Maghrib dan ‘Isya..?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ukhty..tlg tanyakan ana dpt bc spt ini shohih gk ya?…

⚉ RUTIN SALAT SUNNAH DI WAKTU INI PAHALANYA SETARA SALAT 12 TAHUN

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Barangsiapa melakukan salat sunnah Enam Roka’at setelah salat Maghrib dan di antara salat-salat itu tidak berkata dengan kata-kata yang buruk, maka salatnya sebanding Ibadah dua belas tahun. (HR.At Tirmidzi no. 435 dan Ibnu Mâjah no. 1374)

Jawaban:
Hadits ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Umar bin Abdullah bin Abi Khots’am. Ia perawi yang sangat lemah. Sehingga hadits ini statusnya DHO’IF JIDDAN.

👉🏼   TAPI sholat antara Maghrib dan ‘Isya termasuk sunnah namun tanpa bilangan jumlah tertentu. berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Hudzaifah bin Yaman bahwa beliau pernah sholat Maghrib bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau sholat antara Maghrib dan ‘Isya. Di shohihkan oleh Syaikh Albani.

Dan para shahabatpun mengamalkannya sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar dan lainnya.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Pertanyaan Pedih…

Ust, boleh minta nasehatnya sedikit ?

Begini, kakak saya mengadu pada saya, suaminya kan aktif sekali di medsos. Setiap pagi bangun tidur yang dipegang hp duluan, buka twitter atau fb. Sebelum sholat shubuh & sesudahnya, juga liat hp, bahkan kadang dzikir paginya terlewat. Jika ditegur, alasannya berdakwah. Semua-semua dikomentari & ditanggapi. Nanti ditempat kerja juga demikian, sampai sore dan malam menjelang tidur. Kakak saya liat yang difollow pun banyak akhowat.

Bagaimana sebaiknya sikap kakak saya terhadap suaminya ini?

jawabanku untuknya..
hendaklah bertaqwa kepada Allah..
sibukkanlah dengan yang lebih bermanfaat..
berapa banyak ilmu yang belum kita kuasai..
berapa banyak ayat dan hadits yang belum kita hafal..
akankah kita sibuk di dunia maya..
lalu sunnah sunnah Nabi kita lalaikan..
hak Allah kita gampangkan..
dimanakah hak istri dan keluarga..
dimanakah tanggung jawab amanah dalam pekerjaan..

saudaraku..
janganlah tertipu dengan tipu daya setan..
ia datang kepadamu dibalik alasan yang mentereng..
katanya untuk dakwah..
katanya untuk kebaikan..
seakan kebaikan hanya ada pada media sosial..
lantas..
dimanakah mushaf al qur’an..
dimanakah shahih bukhari dan muslim..
jiwa yang hanif tak akan pernah puas dari al qur’an..

saudaraku..
kesibukkan di medsos..
membuat lalai dari berdzikir kepada Allah..
hati pun sibuk untuk berfikir memberi komentar..
lalu seringkali jatuh dalam perdebatan..
menimbulkan kekeruhan hati..
padahal salaf terdahulu berkata..
mengingat manusia adalah penyakit..
sedangkan mengingat Allah adalah obat..

saudaraku..
komentar komentarmu kelak akan ditanya oleh Allah..
berfikirlah sejenak dengan keilmuan..
dengan hati yang dingin..
bukan dengan ego dan kemarahan..
apakah kesibukanmu di medsos lebih baik..
atau sibuk duduk mengkaji ilmu..
mendalami al quran dan hadits..
tanyalah dirimu..
renungkanlah..
semoga Allah memberi taufiq..
kepadamu dan kepadaku.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

da1501161927

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-21

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 20) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 21 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah shollallahu ‘alayhi wasallam…

Kemudian… yang selanjutnya yang menghalangi seseorang dari kebenaran, yaitu…

⚉   Bergaul dengan orang-orang yang bathil… bergaul dengan orang-orang yang buruk. [خلطة أهل الباطل]

Kata beliau (penulis kitab – Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman):

الخلطة شأنُها كبير فِي التأثير على أخلاق المختلط بِهم، وعاداتهِم، وعقائدهم

“Begaul itu mempunyai pengaruh yang besar, pada akhlak orang yang bergaul, kebiasaan dan bahkan aqidah mereka.”

⚉   Oleh karena itu Al-haafidz Ibnu Rojab rohimahullah berkata dalam kitab Lathoiful Ma’arif (halaman 138) :

‎إن النفوس تتأ سى بِما تشاهده من أحوال أبناء الجنس

“Jiwa itu akan mengikuti apa yang ia saksikan dari penduduk/ lingkungan sekitar.”

⚉   Ibnu Taimiyyah rohimahullah dalam kitab Al Istiqomah (jilid 2 halaman 254) berkata:

‎وهذه الأ مور مِمَّا تعظم بِها الْمِحنة على المؤ منين

“Ini merupakan perkara yang besar ujiannya atas kaum Mu’minin”

‎فإنَّهم يَحتاجون إلَى شيئين

“Karena mereka membutuhkan dua perkara”

Untuk apa ?

‎لدفع الفتنة الَّتِي ابتلي بِها نظر اؤ هم من فتنة الدين والد نيا عن نفو سهم، مع قيام المقتضي لَها

“Untuk menolak fitnah yang mereka di uji dengan yang semisal dengan mereka berupa fitnah agama dan dunia dari jiwa mereka, disertai adanya sebab-sebab yang mengharuskan atau menjerumuskannya.”

‎فإن معهم نفو سًا و شياطينَ كما مع غيرهم

“Karena bersama mereka ada jiwa dan ada syaitan juga.”

Maka manusia bisa memberikan pengaruh kepada orang lain, sebagaimana juga syaitan berusaha mempengaruhi.

Maka kita berusaha agar jiwa kita tidak terpengaruh dengan keburukan… tentu tiada lain adalah dengan cara bergaul dengan orang-orang yang sholeh.

‎ومن أجل تأثير الخلطة جاء الشرع با لحميَّة من خلطة أهل البدع

“Maka untuk mencegah kita supaya tidak terpengaruh oleh keburukan, syari’at menyuruh kita untuk tidak bergaul dengan ahli bid’ah wa ahlil fasad dan orang-orang yang rusak.”

⚉   Allah berfirman (QS An-Nisaa : 140 )

‎وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ

“Dan sesungguhnya telah diturunkan kepada kalian dalam Al-Quran bahwa apabila kalian mendengarkan ayat-ayat Allah yang dikufuri/diperolok maka jangan kalian duduk bersama mereka. Sampai mereka berbicara kepada pembicaraan yang lain, sesungguhnya jika kalian lakukan itu berarti kalian sama saja dengan mereka.”

⚉   Allah juga berfirman ( QS Al-An’am :68 )

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ

“Apabila kamu melihat orang-orang yang tenggelam di dalam memperolok ayat-ayat kami, berpalinglah dari mereka.”

Ayat ini menunjukan tidak boleh kita duduk-duduk bersama orang-orang yang memperolok ayat-ayat Allah.

⚉   Dan Ibnu Jarir atthobari rohimahullah mengatakan : “masuk dalam ayat ini duduk bersama orang-orang yang menyimpang pemikirannya, yang memahami ayat dengan pemahaman yang salah sesuai dengan hawa nafsu mereka.” Karena itu semakna dengan memperolok.

⚉   Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam juga menyuruh untuk memilih teman. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎المرء على دين خليله

“Seseorang itu bergantung di atas agama temannya.”

‎فلينظر أحدكم من يخالل

“Hendaklah seseorang melihat dengan siapa dia berteman”
(Diriwayat Abu Dawud).

⚉   Bundaar bin Al Husaini rohimahullah berkata :

‎صحبة أهل البدع تورث اﻹعر اض عن الحقَّ

“Bersahabat dengan ahli bid’ah itu menyebabkan kita berpaling dari kebenaran.”

⚉   Imam Malik rohimahullah berkata:

‎الدنو من الباطل هلكة

“Mendekati kebathilan itu kebinasaan.”

‎و القول فِي الباطل يصدُّ عن الْحَقَّ

“Dan mengucapkan kebathilan itu menghalangi dari kebenaran.”

⚉   Al Fudhayl bin ‘Iyadh rohimahullah berkata :

من جالس صا حب بدعة لَمْ يُعطَ الحكمة

“Siapa yang suka duduk-duduk bersama ahli bid’ah (atau duduk di majelis ahli bid’ah) ia tidak akan diberikan hikmah.”

⚉   Ibnul Qayyim rohimahullah berkata

‎إن العبد إذا اعتاد سَماع الباطل وقبوله؛ أكسبه ذلك تَحر يفًا للحقَّ عن مواضعه

“Seorang hamba kalau terbiasa mendengarkan kebathilan dan menerimanya… itu akan menyebabkan dia akan bengkok dari kebenaran. Dia akan menyimpang dari kebenaran”

👉🏼  Maka berhati-hatilah jangan sampai kita bergaul dengan orang-orang ahli bathil dari orang pelaku maksiat, pelaku bid’ah, demikian pula orang-orang yang menyeru kepada kebathilan.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Kaidah Ushul Fiqih Ke-53 : Setiap Yang Telah Diketahui…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-52) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 53 🍀

👉🏼  Setiap yang telah diketahui ada atau tidak adanya, maka pada asalnya ditetapkan sesuai yang telah diketahui tersebut.

⚉  Bila yakin adanya wudlu namun ragu apakah berhadats setelahnya atau tidak, maka tidak perlu berwudlu kembali karena telah diketahui adanya wudlu.

⚉  Ketika sahur, kita ragu apakah sudah masuk waktu shubuh atau belum, maka boleh terus bersahur karena pada asalnya malam masih ada sampai yakin bahwa waktu shubuh telah benar benar masuk.
Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Makan sahurlah selama kamu ragu sampai tidak ragu.”

⚉  Bila merasa ragu apakah sudah mengqodlo sholat apa belum, maka wajib ia mengqodlo karena pada asalnya ia belum melakukan.

⚉  Bila ragu apakah telah jatuh talaq apa belum, maka pada asalnya pernikahan itu ada dan talaq tidak ada.

Dan contoh-contoh lainnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Sujud Syukur…

Apabila seseorang mendapatkan kenikmatan atau dipalingkan dari marabahaya maka disunahkan untuk sujud, karena sujud merupakan perbuatan kebaikan.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman QS Al Hajj : 77

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”

⚉   Dan dari Abu Bakroh rodhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapatkan hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

⚉   Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam pernah diberi khabar gembira tentang suatu keperluan maka beliaupun segera sujud. (HR Ibnu Majah)

⚉   Dan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam juga pernah sujud ketika datang kepadanya surat dari Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu tentang keislaman Hamdan (khabilah).

⚉   Dari Thoriq bin Ziad rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu sujud ketika mendapatkan yang dikhabarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam tanda tanda khowarij yang beliau perangi. (HR Imam Ahmad)

⚉   Dan dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik

Dari ayahnya ia berkata, ketika Allah memberikan kepadanya taubat, dalam kisah tiga orang yang tidak ikut perang (Mu’tah) yang tidak ikut dalam sebuah peperangan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam kemudian menyuruh untuk meninggalkan tiga orang ini sampai akhirnya Allah Subhaanahu Wata’ala memberikan taubat kepadanya, kata Ka’ab ketika Allah memberikan taubat kepadanya iapun segera sujud. (HR Ibnu Majah)

————————
⚉   Syaikh Albani rohimahullah mentakhrij tentang sujud syukur beliaupun berkata, kesimpulannya :

“Bahwa tidak diragukan akan disyari’atkannya sujud syukur setelah mendapatkan hadits hadits tersebut, terutama itu telah diamalkan oleh salaffushalih. Dan tidak disyaratkan untuk wudhu sebagaimana disyari’atkannya sholat.”
————————

⚉   Disebutkan dalam AlIkhtiyarot hal 60. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulah berkata :

“Sujud syukur itu tidak harus bersuci sebagaimana halnya sujud tilawah.”

Jadi ini adalah merupakan sujud syukur.
.
.
Wallahu a’lam
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Keutamaan Sujud Tilawah…
Apakah Sujud Tilawah Harus Dalam Keadaan Berwudhu..?

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-20

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 19) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 20 🌿

Kita masuk ke penghalang berikutnya yaitu…

⚉   dimana kebathilan di campur dengan kebenaran… sehingga menjadi samarlah kebathilan tersebut.. dan akhirnya banyak orang yang terhalang dari kebenaran.

⚉   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab Al Istiqomah jilid 2 hal 178 , dalam kitab Daru’ at-ta’aaru bil ’aqli wannaql 7/170

‎الباطل لا يظهر لكثير من الناس أنه باطل لِما فيه من الشبهة؛ فإن الباطل الْمَحض الذي يظهر بطلانه لكلَّ أحد؛ لا يكو ن قولاً و مذهبًا لطائفة تذبُّ عنه

“Kebathilan yang tidak tampak kepada kebanyakan manusia sebagai sebuah kebathilan itu akibat daripada adanya kesamaran, karena kebathilan yang murni yang tampak dengan jelas kebathilannya kepada setiap orang, tidak akan ada orang yang mau berpegang dengannya akan tetapi ketika kebathilan itu dicampuri dengan kebenaran, maka pada waktu itu banyak orang yang tertipu.”

Sebagaimana Allah berfirman [QS Ali ‘Imran : 71]

‎لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

“Mengapa kalian mencampurkan kebenaran dengan kebathilan”

‎وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan kalian menyembunyikan kebenaran dalam keadaan kamu mengetahuinya”

Oleh karena itulah orang-orang yang berusaha untuk melariskan kebathilan akan berusaha untuk mencampurkannya dengan sedikit kebenaran. Supaya apa..? Supaya ia laris di kalangan manusia/ditengah-tengah manusia.

⚉   Ibnu Taimiyah rohimahullah juga berkata dalam kitab Majmuu’ Fatawa 35/190

‎و لا ينفق الباطل فِي الو جو د إلا بِشَو بٍ من الحق

“Kebathilan itu tidak laris di dunia ini kecuali apabila dicampur dengan kebenaran”

Sebagaimana ahli kitab mereka mencampur adukkan antara haq dengan kebathilan, lalu akhirnya merekapun berhasil menyesatkan banyak manusia…. kenapa..?
Karena ada sedikit kebenaran yang ada pada mereka tersebut.

Maka dari itulah.. kewajiban kita adalah untuk jangan sampai tertipu dengan kebathilan yang tercampur dengan kebenaran tersebut .
Tapi berusaha untuk memilah dengan ilmu, mana haq dan mana bathil. Dan kita tidak mencampur adukkan antara kebathilan dan kebenaran tersebut.

⚉   Syaikh Al Mu’alimii berkata:

يسعى فِي التمييز بين معد ن الحجج، و معدن الشبهات

“Hendaknya seseorang itu berusaha membedakan antara kebenaran dengan syubhat”

Maka kalau dia mampu itu mudah bagi dia untuk membedakannya dan mengikuti kebenaran.
Beda (kata Beliau), apabila itu dicampuri dengan syubhat kesamaran.

Kata beliau:

لكن أهل الأهو اء قد حاو لوا التشبيه ولتمو يه

“Para pengikut hawa nafsu ini berusaha menyamarkan kebenaran”

Dimana, dengan cara apa itu ?
Mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebathilan tersebut.

فالواجب على الرَّاغب فِي الحق ألا ينظر إلَى ما يجيئه من معدن الحق من وراء ز جاجاتِهم الملو نة

“Maka kewajiban orang yang mencari kebenaran.. jangan sampai ia mendatangi tempat-tempat yang tercampur antara haq dengan bathil tersebut..” akan tetapi hendaklah ia betul-betul mendatangi tempat-tempat yang memang benar-benar diatas haq murni dan ilmu yang kuat tentunya. Supaya kita selamat.

⚉   Imam Asy-Syaatibii rohimahullah juga mengatakan demikian. Kata beliau:

‎إذ المتشابه لا يُعطي بيانًا شافيًا

“Sesuatu yang samar itu tidak bisa memberikan penjelasan yang jelas.”
Sehingga akhirnya banyak orang yang tergelincir di situ.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran. Karena di zaman ini kebathilan dan kebenaran betul-betul bercampur aduk sehingga banyak orang yang tersamar kepadanya kebenaran.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Kaidah Ushul Fiqih Ke-52 : Istidamah Lebih Kuat Dari Ibtida…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-51) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 52 🍀

👉🏼  Istidamah lebih kuat dari ibtida.

ISTIDAMAH artinya: berlangsung dari awal sebelum melakukan ibadah.
IBTIDA artinya : memulai melakukan sesuatu ketika sedang ibadah.

Contohnya:
⚉  Orang yang memakai minyak wangi sebelum ihrom dan wanginya tersisa sampai ketika umroh, maka ini tidak berpengaruh apapun.
Tetapi jika ia memakai minyak wangi di saat sedang ihrom, maka hukumnya haram.

Contoh lainnya :
⚉  Orang yang sedang ber-ihrom lalu mantalaq istri. Kemudian ia rujuk lagi di saat ihrom. Maka ini boleh.
Berbeda jika ia melakukan aqad nikah di saat ihrom, maka ini dilarang.

Sebagaimana hadits,

لا ينكح المحرم ولا ينكح ولا يخطب

“Orang yang sedang berihrom tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan melamar.” (HR Muslim).
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

Kaidah ke 3:

👉🏼  Dalam memberikan udzur dengan kebodohan tidak ada bedanya antara masalah aqidah atau ushul atau masalah parsial.

Pembedaan antara masalah ushul dengan cabang dimana kebodohan dalam masalah parsial dimaafkan sedangkan dalam masalah ushul tidak dimaafkan sama sekali tidak berdasarkan dalil dan tidak pula atsar.

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Adapun masalah aqidah, banyak manusia mengkafirkan orang yang jatuh dalam kesalahan padanya. Pendapat ini tidak diketahui asalnya dari para shahabat dan tidak pula tabi’in dan tidak juga para imam kaum muslimin. Akan tetapi ia berasal dari pendapat ahlul bid’ah yang mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka seperti khowarij, mu’tazilah dan jahmiyah…” (lihat Minhajussunnah 5/239-240).

Diantara dalil yang menunjukkan kepada kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ada seorang ayah yang berwasiat kepada anak anaknya agar kelak mayatnya dibakar dan abunya sebagian dibuang ke laut dan sebagian lagi dibuang ke darat. ia berkata, “Jika Allah mampu membangkitkan aku, pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang amat berat.”
Lalu Allah membangkitkannya dan bertanya kepadanya: “mengapa kamu lakukan itu ?” ia menjawab: “Karena aku takut kepadamu.” Maka Allah memaafkannya.

⚉  Syaikhul Islam rahimahullah berkata:
“Ini adalah keraguan terhadap kemampuan Allah dan kebangkitan, bahkan ia mengira tidak akan dibangkitkan..”
(Majmu Fatawa 23/346-347)

Namun Allah memaafkannya karena kebodohannya. Padahal meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan adalah masalah yang sangat pokok.
ini menunjukkan bahwa pembedaan masalah pokok dengan masalah cabang dalam pemberian udzur dengan kejahilan adalah tidak benar.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…

 

da1110161628

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…

Kaidah ke 2:

👉🏼  Seorang muslim tidak boleh dikafirkan karena perbuatan atau perbuatan atau keyakinan kecuali setelah ditegakkan hujjah padanya dan dihilangkan syubhat darinya.

⚉  Allah berfirman:

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

“Dan tidaklah Kami mengadzab sampai kami utus rosul kepada mereka.” (Al Isro : 15).

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan seorang muslim yang bersalah sampai ditegakkan padanya hujjah. Barang siapa yang telah islam secara yakin, maka tidak boleh dihilangkan keislamannya dengan alasan yang meragukan. Tidak hilang keislamannya sampai ditegakkan hujjah dan dihilangkan darinya syubhat.”
(Majmu Fatawa 12/465-466).

Dalam kisah Muadz bin Jabal yang pulang dari Syam lalu sujud kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu bertanya alasan mengapa Muadz sujud kepada beliau. Muadz menjslaskan bahwa ia melihat kaum ahlul kitab sujud kepada pendeta mereka. Muadz berfikir bahwa kaum muslimin lebih berhak sujud kepada Nabi. Namun Nabi mengingkari dan mengatakan bahwa bila boleh sujud kepada manusia, beliau akan menyuruh istri sujud kepada suaminya. HR Ahmad.
Dalam hadits tersebut, Nabi tidak langsung memvonis, tetapi beliau menghilangkan syubhat dan membimbing kepada sikap yang benar.

⚉  Kapankah disebut tegak hujjah ?

Sebagian ulama berpendapat bahwa sebatas sampainya alqur’an kepada seseorang maka telah tegak hujjah.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa sebatas sampainya alqur’an belum tegak hujjah sampai ia memahami dengan benar hujjah yang disampaikan kepadanya. Inilah pendapat yang paling kuat. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Dawud tentang empat orang yang akan mengemukakan alasannya pada hari kiamat. Diantaranya adalah orang tua yang pikun. ia berkata, “Ya Allah islam datang dalam keadaan aku telah pikun dan tidak faham.”

Kaidah ini menunjukkan bahwa yang berhak memvonis kafir terhadap muslim yang jatuh kepada perbuatan kufur adalah para ulama yang kokoh keilmuannya. Karena menegakkan hujjah dan menghilangkan syubhat bukanlah pekerjaan para penuntut ilmu yang dangkal ilmunya.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

 

da0810161707