Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Seuntai Nasihat

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

‎تدبير الحق عز وجل لك خير من تدبيرك ، وقد يمنعك ما تهوىٰ ابتلاء ، ليبلو صبرك ، فأره الصبر الجميل ، تر عن قرب ما يسر

“Rencana Allah padamu lebih baik dari rencanamu.. terkadang Allah menghalangi rencanamu untuk menguji kesabaranmu..

maka perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah. Tak lama kamu akan melihat sesuatu yang menggembirakanmu..”

(Shaidul Khathir 1/205)

Kita hanya bisa berencana..
Tapi Allah lah yang menentukan..

Maka janganlah terlalu berharap kepada rencana kita..
Tapi berharaplah yang terbaik di sisi-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dua Macam Ilmu

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

العلم علمان:
‏علم في القلب، وعلم على اللسان
‏فعلم القلب هو العلم النافع
‏وعلم اللسان حجة الله على عباده

“Ilmu itu ada dua macam:
– ilmu yang masuk ke hati, dan
– ilmu yang sebatas di lisan..

Adapun ilmu yang masuk ke hati adalah ilmu yang bermanfaat, dan adapun ilmu yang sebatas di lisan maka itu adalah hujjah Allah atas hamba-hambaNya..”

(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 13/235)

Ilmu yang masuk ke hati dan menimbulkan rasa takut kepada Allah..
Lalu menimbulkan amal sholih dan ketakwaan..
Itulah ilmu yang bermanfaat..

Adapun ilmu yang sebatas di lisan..
Hanya pandai menyampaikan dan membawakan banyak riwayat..
Namun tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah..
Tidak pula menimbulkan amal sholih..
Adalah ilmu yang tidak bermanfaat dan menjadi kebinasaan untuknya kelak..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Senantiasa Berniat Kepada Kebaikan

Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar menulis surat kepada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, rohimahumullah,

*”فإن نويت الحقّ وأردته أعانك الله عليه، وأتاح لك عمالاً، وأتاك بهم من حيث لاتحتسب، فإن عون الله على قدر النيّة، فمن تمت نيته في الخير تم عون الله له، ومن قصرت نيته قصر من العون بقدر ما قصر منه. والسلام”*

“Apabila kamu berniat kebenaran dan menginginkannya, maka Allah akan membantumu kepada kebenaran tsb dan memberimu orang-orang yang akan membantumu kepada kebenaran tsb, karena bantuan Allah itu sesuai niatmu..

Siapa yang berniat kepada kebaikan maka Allah akan membantunya, dan siapa yang kurang niatnya kepada kebaikan maka berkurang juga bantuan Allah sesuai kekurangan niatnya..”

[ Az Zuhd Lil Ahmad bin Hanbal ]

Menjaga niat adalah perkara yang tak mudah..
Namun pengaruhnya amat besar dalam kehidupan..

Seseorang akan berbuat sesuai dengan niatnya..

Siapa yang niatnya lurus maka akan menimbulkan perbuatan yang baik..
Sebaliknya perbuatan-perbuatan yang buruk, adalah akibat dari niat-niat yang buruk..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Beban Dosa

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

وإذا ثَقُل الظهر بالأوزار منع القلب من السير إلى الله، والجوارح من النهوض في طاعته، وكيف يقطع مسافة السفر مُثْقل بالحمل على ظهره؟! وكيف ينهض إلى الله قلب قد أثقلته الأوزار؟! فلو وضعت عنه أوزاره لنهض وطار شوقا إلى ربه، ولانقلب عسره یسرا.

“Punggung yang berat dengan menanggung dosa, menghalangi perjalanan hati menuju Allah, dan membebani badan untuk mentaati-Nya..

Orang yang membawa beban yang amat berat bagaimana mungkin dapat menyelesaikan perjalanannya..?!

Jika ia meletakkan beban-beban dosa dari dirinya, tentu hatipun akan terbang penuh rindu kepada Rabbnya. Dan kesulitanpun berubah menjadi ringan..” (Bada’i Tafsir 3/223)

Saat hati berat kepada ketaatan..
Itu akibat ia menanggung beban dosa..
Sehingga membuat langkahnya tertatih..
Bahkan terhenti tak mampu melanjutkan perjalanan..

Demikianlah kelak di hari akherat..
Ia akan membawa dosa dosanya itu di punggungnya..

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu..!” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu..” (Al-An’am – 31)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Apabila Allah Menginginkan Kebaikan Kepada Seorang Hamba

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا عَلَيْكُمْ أَنْ تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ؟ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمُرِهِ -أَوْ: بُرهَة مِنْ دَهْرِهِ -بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ لَدَخَلَ الْجَنَّةَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ، لو مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ: قَالَ: “يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Jangan merasa kagum kepada amal seseorang hingga kamu lihat ia meninggal di atas apa..

Karena ada orang yang beramal sholih dalam hidupnya jika ia wafat di atasnya, ia masuk surga. Tapi ia berubah lalu beramal keburukan..

Dan ada lagi hamba yang beramal keburukan dalam hidupnya jika ia wafat di atasnya, ia masuk neraka. Kemudian ia berubah dan beramal sholih..

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikan ia beramal sebelum wafatnya..”

Mereka berkata, “Bagaimana dijadikan beramal..?”

Beliau bersabda, “Yaitu Allah memberinya taufik kepada amal sholih kemudian ia wafat di atasnya..”

(HR. Ahmad)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Keindahan Senja

Keindahan senja..
Akan pudar digantikan gelapnya malam..

Demikian kehidupan silih berganti..

Ada masa kita tertawa..
Lalu datang masa kita menangis..

Namun setelah malam yang gelap..
Terbitlah keindahan pagi..
Memberi kehangatan dalam sanubari..

Semua itu agar terpatri ubudiyah dalam hidup kita…
Baik saat susah maupun saat senang..

وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ (١٤٠)

“Dan hari-hari itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zholim..” (Q.S. Ali ‘Imran ayat 140)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bercanda Itu Sunnah

Sufyan bin Uyainah rohimahullah ditanya, “Apakah bercanda itu aib..?” Beliau berkata:

بل سنَّة ، ولكن الشأن فيمن يحسنه ويضعه مواضعه

“Justru sunnah.. tetapi itu untuk orang berbuat ihsan (dalam bercanda) dan meletakkannya pada tempat tempatnya..” (Syarhussunnah Imam Al Baghowi 13/184)

Imam Ibnu Hibban rohimahullah berkata dalam kitab Roudhotul Uqola (1/77)

الواجب على العاقل أن يستميل قلوب الناس إليه بالمزاح وترك التعبس , والمزاح على ضربين : فمزاح محمود , ومزاح مذموم , فأما المزاح المحمود فهو : الذي لا يشوبه مَا كره اللَّه عز وجل ، ولا يكون بإثم ولا قطيعة رحم . وأما المزاح المذموم : فالذي يثير العداوة ، ويذهب البهاء ويقطع الصداقة ويجرىء الدنيء عليه ويحقد الشريف به “

“Kewajiban orang yang berakal adalah mengambil hati manusia dengan bercanda dan tidak bermuka masam.. dan bercanda itu ada dua macam: Bercanda yang terpuji dan bercanda yang tercela..

Adapun yang terpuji adalah yang tidak dikotori oleh perbuatan yang dibenci oleh Allah, bukan dosa dan bukan memutuskan hubungan..

Adapun yang tercela adalah yang menimbulkan permusuhan, menghilangkan kewibawaan, memutuskan pertemanan, membuat orang bodoh menjadi tak sopan kepadanya dan membuat orang mulia dengki kepadanya..”

Para shahabat berkata, “Wahai Rosulullah, engkau bercanda dengan kami..?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali dengan benar..”

(HR Attirmidzi no 1990 dari hadits Abu Hurairah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Zaman Tidak Akan Tetap Di Atas Satu Keadaan

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

اعلم أن الزمان لا يثبت على حال،كما قال الله عز وجل: ﴿وتلك الأيام نداولها بين الناس﴾
‏فتارة فقر،
‏وتارة غنى،
‏وتارة عز،
‏وتارة ذل،
‏وتارة يفرح الموالي،
‏وتارة يشمت الأعادي،
‏فالسعيد من لازم أصلًا واحدًا على كل حال وهو تقوى الله عز وجل”

“Ketahuilah bahwa zaman itu tidak akan tetap di atas satu keadaan.. Sebagaimana firman Allah, ‘Itulah hari-hari Kami silih bergantikan kepada manusia..’

terkadang fakir..
terkadang kaya..
terkadang mulia..
terkadang terhina..
terkadang gembira..
terkadang ditertawakan musuh..

Orang yang bahagia itu (adalah) orang yang selalu memegang satu keadaan..
Yaitu takwa kepada Allah ‘Azza wajalla..”

(Shoidul Khothir hal 137)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Jangan Fitnah Diri Sendiri

Allah Ta’ala berfirman:

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَـٰكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ’

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu..?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu menfitnah diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu..”

(Al-Hadid – 14)

Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“Sebagian salaf menafsirkan makna memfitnah diri kalian sendiri yaitu memfitnah diri dengan kelezatan dunia, maksiat dan syahwat..” (Tafsir Ibnu Katsir)

Namun kita lebih senang memfitnah diri kita sendiri..
Dengan kenikmatan syahwat dunia..
Sehingga menunda nunda taubat..
Membuat jiwa lebih tentram dengan kelezatan syahwat dibanding kelezatan taat..

Maka jagalah diri kita dari api neraka..
Jangan campakkan ia dalam fitnah dunia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ketika Allah Menginginkan Kebaikan Kepada Seorang Hamba

Sungguh kagum melihat seorang yang banyak kebaikannya dan jasanya untuk umat namun ia tak pernah mengungkitnya di hadapan manusia apalagi di sosial media..

Jadi ingat perkataan Ibnul Qoyyim rohimahullah, beliau berkata:

فإن الله إذا أراد بعبد خيراً سلبه رؤية أعماله الحسنة من قلبه والإخبار بها من لسانه ، وشغله برؤية ذنبه ، فلا يزال نصب عينيه حتى يدخل الجنة ، فإن ما تقبل من الأعمال
رفع من القلب رؤيته ومن اللسان ذكره .

“Sesungguhnya Allah apabila menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikan hatinya tak mengingat amal amal kebaikannya, dan dijadikan lisannya tak ingin mengabarkan amalnya kepada manusia. Allah jadikan ia sibuk mengingat dosa dosanya.. 

Senantiasa dosa itu berada di pelupuk matanya hingga ia masuk surga. Karena tanda amal diterima itu adalah menjadikan hati tak mengingatnya dan lisan tak mengabarkannya..”

(Lihat kitab Thoriqul Hijrotain hal. 169-172)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL