Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Amal Itu Bertingkat-Tingkat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

إِنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِالْكَثْرَةِ، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِمَا يَحْصُلُ فِي الْقُلُوبِ حَالَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya bukan karena banyaknya. Namun karena apa yang ada di hati saat beramal..”
(Majmu Fatawa 25/282)

Apa yang ada di hati berupa:
– keikhlasan
– kekhusyuan
– cinta dan takut
– berharap akan rahmat-Nya
Semua itu amat mempengaruhi keutamaan amal..

Amal walaupun besar tapi kurang ikhlas..
maka berkurang pula pahalanya..

dan amal yang kecil namun disertai hati yang ikhlas dan rasa cinta yang besar..
Ia menjadi besar pahalanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Larut Dalam Kesedihan

Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam berdo’a,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia..” (HR Al Bukhari)

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

” *والمقصود أن النبي ﷺ جعل الحزن مما يستعاذ منه ، وذلك لأن الحزن يُضعف القلب ، ويُوهن العزم ، ويضر الإرادة ، و لا شيء أحبّ إلى الشيطان من حزن المؤمن، قال تعالى { إنما النجوى من الشيطان ليحزن الذين آمنوا .. }*”.

“Nabi  shollallaahu ‘alayhi wa sallam berlindung dari kesedihan karena kesedihan melemahkan hati, melemahkan semangat, dan membahayakan keinginan. Dan tidak ada sesuatu yang paling disukai oleh setan dari membuat sedih seorang mukmin. Allah berfirman, “Sesungguhnya najwa (berbisik-bisik tersebut) berasal dari setan agar membuat sedih kaum mukminin..”

(Thoriqul Hijrotain 2/607)

Sedih saat ditinggal orang yang kita cintai adalah wajar..

Yang tidak wajar itu adalah larut dalam kesedihan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Semakin Hati Penuh Dengan Keimanan Kepada Allah, Semakin Dekat Kepada Kebenaran

Allah Ta’ala berfirman :

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“… maka Allah memberi hidayah orang-orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan, dan Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus..” (Al Baqarah: 213)

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

“Diantara faidah ayat ini adalah bahwa keimanan seorang hamba bila semakin kuat maka ia lebih dekat kepada kebenaran. Karena Allah berfirman yang artinya, “maka Allah memberi hidayah orang-orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..”

Karena Allah menggantungkan hidayah kepada keimanan. Maka hidayah semakin kuat dengan kuatnya iman dan semakin lemah dengan lemahnya iman.

Oleh karena itu para shahabat lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan generasi setelahnya, baik dalam tafsir, hukum, dan akidah. Karena tidak diragukan lagi bahwa para shahabat adalah generasi yang paling kuat imannya. Rosul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sebaik baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya, kemudian setelahnya..”

Oleh karena itu madzhab imam Ahmad adalah bahwa pendapat shahabat adalah hujjah selama tidak bertabrakan dengan nash..”

[ Tafsir Syaikh al-‘Utsaimin 3/35 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menyaring Keimanan

Allah memberi ujian untuk menyaring keimanan..

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi..? (Al-Ankabut – 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta..” (Al-Ankabut – 3)

Hati yang jujur adalah hati yang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla..
hati yang sabar saat diterpa ujian..
dan bersyukur saat diberi kesenangan..

Hati yang jujur adalah hati yang lebih mengharapkan kehidupan akherat..
hati yang takut adzab Allah dan berharap rahmat dan keridhoan-Nya..

Kelak orang orang yang jujur dalam imannya akan melihat kegembiraan di negeri sana..

قَالَ اللَّهُ هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar..” (Al-Maidah – 119)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kelak Semua Akan Kembali Kepada Allah

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata

إنك لا تقدر أن ترضي الناس كلهم،
‏فأصلح ما بينك وبين الله عز وجل.
‏فإذا أصلحت ما بينك وبين الله عز وجل ،
‏فلا تبال بالناس

“Sesungguhnya kamu tidak akan mampu meridhokan manusia seluruhnya.. maka perbaikilah hubunganmu dengan Allah ‘Azza Wajalla.. apabila kamu telah memperbaiki hubunganmu dengan-Nya, maka jangan pedulikan lagi manusia..”

(Tawalu Ta’nis hal. 168 karya ibnu Hajar)

Jangan pedulikan sikap manusia kepadamu..
Sibuklah memperbaiki diri dengan ibadah dan amal salih..
Kelak semua akan kembali kepada Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berbuat Dosa Setelah Taubat

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata

الإنسان إذا فعل الذَّنب ثُم تاب توبةً نصُوحًا ثم غلبتهُ عليهِ نفسُه مرَّةً أُخرى فإن توبتهُ الأولى صحيحة، فإذا تاب ثانيةً فتوبتُه صحيحة،
‏لأن مِن شُروط التوبة أن يعزِم أن لا يعُود وليس من شروط التوبة أن لا يعود .

“Seorang insan apabila berbuat dosa kemudian bertaubat dengan taubat nasuha lalu kalah kembali oleh hawa nafsu dan berbuat dosa.. maka taubatnya yang pertama itu shohih..

Jika ia bertaubat lagi kedua kalinya maka taubatnya juga shohih.. karena syarat taubat adalah bertekad bulat untuk tidak kembali berbuat dosa.. bukanlah syarat taubat untuk tidak pernah kembali berbuat dosa..”

(Syarah Kitab Tauhid)

Siapakah yang mampu tak pernah berbuat dosa setelah bertaubat..
Namun mukmin itu setiap kali jatuh kepada dosa..
Ia segera bertaubat dan membalasnya dengan amal salih..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Keberkahan Rezeki Dan Umur

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وليست سعـةُ الـــرزق والعمل
‏بكثرته، ولا طولُ العمر بكثرة
‏الشهور والأعوم،
‏ولكن سعة الرزق والعمر بالبركة
‏فيه.

“Bukanlah banyaknya rezeki itu dengan banyaknya jumlah harta. . tidak pula panjangnya umur dengan banyaknya bulan dan tahun.. namun keberkahan rezeki dan umur adalah dengan banyak keberkahan padanya..”

(Ad Daa wad Dawaa hal. 201)

Keberkahan itu adalah banyaknya kebaikan pada sesuatu..

Harta dan umur yang berkah adalah harta yang banyak digunakan untuk kebaikan dengan sedekah dan membantu orang lain.. dan umur yang selalu dimakmurkan dengan ketaatan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Merasa Khawatir Amalnya Tidak Diterima

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ* أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya..”

(Al Mukminun 60-61)

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang mencuri dan minum arak..?”

Beliau bersabda,

لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم.

“Bukan wahai anak Ash Shiddiq.. akan tetapi mereka adalah orang orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah. Namun mereka merasa khawatir amalnya tidak diterima..”

(HR Attirmidzi dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

Khawatir tidak diterima bukan karena berburuk sangka kepada Allah.. namun karena merasa ia belum melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya..

Lalu kekhawatiran tersebut membangkitkan kesungguhan tuk terus memperbaiki ibadahnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

MUTIARA SALAF : Amal Sholih Adalah Bangunan Dan Tauhid Adalah Pondasinya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مَن أراد علوَّ بنيانه، فعليه بتوثيق أساسه وإحكامه، وشدة الاعتناء به…
فالأعمال والدرجات بنيان، وأساسها الإيمان، ومتى كان الأساس وثيقًا حمَل البنيان واعتلى عليه، وإذا تهدَّم شيءٌ مِن البنيان سهُل تداركه، وإذا كان الأساس غيرَ وثيق لم يرتفع البنيان ولم يثبت، وإذا تهدَّم شيءٌ مِن الأساس سقط البنيان أو كاد.
فالعارف همته تصحيح الأساس وإحكامه، والجاهل يرفع في البناء مِن غير أساس، فلا يلبَثُ بنيانه أن يسقط

“Siapa yang ingin meninggikan bangunannya hendaklah ia mengokohkan pondasinya dan benar benar memperhatikannya..
Amal adalah bangunan sedangkan pondasinya adalah keimanan.. apabila pondasi kuat maka ia akan kuat menahan bangunan.. apabila bangunan rusak mudah untuk diperbaiki.

Sedangkan apabila pondasi yang rusak maka bangunan akan segera roboh..

Orang yang berilmu, keinginannya adalah mengokohkan pondasi.. sedangkan orang yang tak berilmu sibuk membangun bangunan tanpa memperhatikan pondasi.. maka tak lama bangunan itu roboh..”

[Al Fawaid hal. 204]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Ingin Diakui

Terkadang…
Kita merasa sebagai pelopor dakwah..
Saat dakwah telah berkembang kita merasa bahwa ini hasil usaha kita.. Lalu merasa panas saat ada yang menyaingi..
Kitapun mengungkit kepada manusia bahwa kitalah pelopornya..
Tidakkah sadar bahwa semua itu pemberian Allah Azza wajalla…

Cukuplah Allah saja yang memberi pahala..
Kita tidak membutuhkan pengakuan manusia..
Dan Allahpun tidak membutuhkan amalan kita..
Allah pasti membela agama ini walaupun tanpa kita…

Mungkin…
Di awal kita berdakwah, kita ikhlas berharap pahala Allah semata..
Namun keikhlasan itu diuji saat hasil dakwah mulai terlihat..
Lalu muncul pegiat dakwah lainnya yang ingin turut berkiprah..
Orang yang ikhlas.. Ia akan gembira ketika melihat ada pegiat dakwah lain yang turut membantu dakwah…

Namun..
Setan sering membuat kita lalai..

Allahul Musta’an..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى