Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Berkata Dalam Agama Allah Tanpa Ilmu

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah : “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui..” (Al-A’raf – 33)

Dalam ayat ini..
Allah menyebutkan perkara perkara yang Allah haramkan..
Dimulai dari yang terkecil yaitu fahisyah, lalu berbuat dosa, lalu berbuat kezaliman, lalu syirik..

Lalu Allah menutup ayat itu dengan firman-Nya: berkata terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui..
Karena berkata tanpa ilmu adalah sumber berbagai macam kesesatan..
Munculnya kesyirikan, bid’ah, zalim, dan dihalalkannya maksiat adalah akibat berkata tanpa ilmu..
Maka menuntutlah ilmu dahulu sebelum pandai berbicara dan berkomentar..
Karena semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya di hari kiamat kelak..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Adab Seseorang Adalah Tanda Kebahagiaan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

أدب المرء عنوانُ سعادته وفلاحه ، ‏وقلة أدبه عنوان شقاوته وبَوَارِه ، ‏فما استُجلِب خيرُ الدنيا والآخرة بمثل الأدب ،
‏ولا استُجلِب حرمانُهما بمثل قلة الأدب

“Adab seseorang adalah tanda kebahagiaan dan keberuntungannya.. dan sedikitnya adab seseorang adalah tanda kesengsaraan dan kecelakaannya..

Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan dunia dan akherat seperti adab yang baik.. dan tidak ada yang menghalangi dari kebaikan dengan adab yang buruk..”

(Madarijussalikin 2/397)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menunggu Pertolongan Allah Dengan Sabar Adalah Ibadah

Ibnu Rojab rohimahullah berkata:

انتظارُ الفرجِ بِالصَّبْرِ عِبادةٌ، فإنَّ البلاءَ لا يدومُ :
‏اصبرْ لكل مصيبة وتجلدِ،
‏واعلم بِأنّ الضر غير مؤبدِ.
‏واصبر كما صبر الكرام فَإنّها،
‏نُوَبٌ تنوب اليوم تكشف في غدِ.

“Menunggu faroj (pertolongan Allah) dengan sabar adalah ibadah, karena ujian itu tak akan selamanya..
sabarlah menghadapi musibah dan kokohlah..
ketahuilah bahwa musibah itu tidak akan selamanya..
sabarlah dengan kesabaran orang-orang yang mulia..
karena ia akan segera berganti esok hari kelak..”

(Majmu Rosail 3/155)

Bila kita tak mau menunggu..
Betapa mudahnya berputus asa..
Lalu bersuudzon kepada Allah ‘azza wajalla..

Menunggu dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti menolong hamba-hamba-Nya..
Dan pertolongan Allah yang paling besar adalah..
Kesabaran yang kuat dan ridha dengan ketentuan-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Hukum Duduk Sambil Memeluk Lutut Saat Khutbah Jum’at

Pertanyaan :
Ustadz apa hukum duduk sambil memeluk lutut saat khutbah Jum’at berlangsung..? Syukron atas jawabannya.

Jawab :
Para ulama berselisih dalam masalah ini:

1. Jumhur ulama berpendapat boleh. Ini adalah pendapat madzhab yang empat. Berdasarkan riwayat Ya’la bin Syaddad bin Aus berkata:

شَهِدت مع معاوية بيت المقدس فجمَّع بنا، فنظرتُ فإذا جُلُّ مَن في المسجد أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فرأيتهم محتبين والإمام يخطب

“Aku menyaksikan Baitul Maqdis bersama Mu’awiyah lalu beliau melaksanakan Jum’at. Aku melihat ternyata kebanyakan yang di masjid adalah para shahabat Rasulullah dan mereka duduk sambil memeluk lutut dalam keadaan imam berkhutbah..” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud namun sanadnya lemah)

Mereka juga berhujjah dengan perbuatan Ibnu ‘Umar dan Anas yang melakukannya saat khutbah Jum’at, dan tidak ada satupun shahabat yang menyelisihinya sehingga menurut Ibnu Mundzir itu adalah ijma’.

2. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukumnya makruh. Berdasarkan hadits Mu’adz bin Anas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ihtiba ketika imam berkhutbah. (HR Abu Dawud, Attirmidzi dan ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani).

Sementara jumhur mendha’ifkannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata dalam syarah riyadhushalihin:

نهى النبي صلى الله عليه وسلم عنها – أي الحبوة – والإمام يخطب يوم الجمعة لسببين : الأول : أنه ربما تكون هذه الحبوة سبباً لجلب النوم إليه ، فينام عن سماع الخطبة .
والثاني : أنه ربما لو تحرك لبدت عورته ؛ لأن غالب لباس الناس فيما سبق الأزر والأردية ، ولو تحرك أو انقلب لبدت عورته .
وأما إذا أمن ذلك فإنه لا بأس بها ؛ لأن النهي إذا كان لعلة معقولة فزالت العلة فإنه يزول النهي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang habwah (duduk sambil memeluk lutut) saat imam berkhutbah di hari Jum’at karena dua sebab :

Pertama: Karena itu terkadang mendatangkan kantuk sehingga ia tertidur dari mendengarkan khutbah..

Kedua: Karena jika ia bergerak dikhawatirkan akan terlihat auratnya. Karena kebanyakan pakaian manusia saat itu adalah izar dan rida (kain bawah dan kain atas). Jika ia bergerak dan terbalik maka akan terlihat auratnya.

Adapun jika aman dari dua ini maka tidak mengapa. Karena larangan itu apabila disebabkan oleh illat yang dapat difahami, lalu illat itu hilang maka laranganpun hilang..”

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/UBCintaSunnah/posts/1682856131907824

ILLAT Yang Berulat

Dalam ilmu qiyas ada yang disebut ILLAT : yaitu sifat yang tampak dan tetap (mundhabit) dan tidak terbatas (muta’addi) serta tidak ditolak oleh syariat.

Diantara kesalahan dalam penggunaan qiyas adalah meng-qiyaskan kepada dalil yang illat-nya qashirah (terbatas) dan tidak tetap.

Sebuah contoh : meng-qashar sholat, illat-nya terbatas hanya dalam safar. Lalu ada orang yang sedang sakit mengqashar shalatnya padahal ia tidak safar. Dengan alasan bahwa illat meng-qashar sholat dalam safar adalah adanya masyaqqah (kesulitan). Padahal masyaqqah atau kesulitan itu sesuatu yang sifatnya ghair mundhabit (tidak tetap) : yaitu berbeda sesuai dengan perbedaan orang dan amalnya. Sedangkan syarat illat itu harus tetap.

Imam Al Amidi berkata:

الإجماع منعقد على صحة تعليل الأحكام بالأوصاف الظاهرة المنضبطة المشتملة على احتمال الحكم

“Telah terjadi ijma akan sahnya menta’lil hukum dengan sifat yang tampak dan tetap dan mengandung kemungkinan hukum..” (Al Ihkam 3/181)

Diantara contohnya juga adalah orang yang membolehkan musik karena berdalil dengan hadits ‘Aisyah berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Abu Bakar masuk ke dalam rumahku, sementara di tempatku terdapat dua orang budak wanita Anshar sedang bernyanyi sebagaimana yang dibawakan oleh orang-orang Anshar pada hari Bu’ats. Ia (‘Aisyah) berkata, “Namun keduanya bukanlah penyanyi yang terkenal..” Maka Abu Bakar pun bertanya, “Apakah di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat nyanyian syetan..?” Pada hari itu merupakan hari raya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu miliki hari raya, dan hari ini merupakan hari raya untuk kita..” (HR Muslim)

Padahal illat pembolehan memukul rebbana ini qashirah (terbatas) pada hari raya sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda Nabi dalam hadits tersebut: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu miliki hari raya, dan hari ini merupakan hari raya untuk kita..”
Sehingga tidak boleh dikatakan bahwa memukul rebana dan alat musik boleh untuk setiap waktu.

Al Amidi berkata:

اتفق الكل على أن تعدية العلة شرط فى صحة القياس

“Semua bersepakat bahwa illat yang muta’addi (tidak terbatas) adalah syarat sah qiyas..” (Al Ihkam 3/192)

Imam Assubki rahimahullah berkata:

لا ذاهب إلى تجويز القياس حيث لا تعقل العلة أو لا تتعدى

“Tidak ada seorangpun yang berpendapat bolehnya qiyas dalam perkara yang tidak difahami illatnya atau illatnya tidak muta’addi..” (Al Ibhaj 3/40)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/UBCintaSunnah/posts/1681851515341619

Makruh Menurut Ulama Salaf

Ulama salaf (terdahulu) sering menggunakan kata makruh untuk perkara yang haram.

Imam Taqiyuddin Assubki berkata:

وفى المكروه ثلاث اصطلاحات أحدها الحرام فيقول الشافعي أكره كذا ويريد التحريم وهو غالب إطلاق المتقدمين

“Makna makruh itu ada tiga istilah. Salah satunya adalah haram. Imam Syafii suka berkata, “Aku memakruhkan ini.” Maksudnya adalah haram. Ini sering digunakan oleh para ulama terdahulu..”
(Al Ibhaj 1/60)

Imam Ghozali berkata:

فكثيرا ما يقول الشافعي رحمه الله وأكره كذا وهو يريد التحريم

“Seringkali imam Asy Syafii rahimahullah mengatakan, “Aku memakruhkan ini.” Maksudnya adalah haram..” (Al Mustashfa: 1: 66-67)

Imam Alaudin Al Mardawi berkata:

يطلق المكروه ويراد به الحرام وهو كثير من كلام الإمام أحمد وغيره من المتقدمين

“Makruh sering dipakai untuk makna haram. Dan ini banyak dalam ucapan imam Ahmad dan ulama terdahulu..” (Attahbir Syarh Takhyir 3/1008)

Maka saat kita membaca kitab para ulama terdahulu, jangan terkecoh dengan lafazh makruh yang mereka ucapkan. Karena makruh yang bermakna di bawah haram itu sering digunakan oleh orang-orang belakangan. Sedangkan ulama terdahulu sering menggunakan kata makruh untuk yang haram.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/UBCintaSunnah/posts/1681147018745402

Orang Yang Paling Dicintai Allah

Abu ad-Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata:

إن شئتم لأحدثنكم من أحب عباد الله إلى الله؛ الذين يحببون الله إلى عباده، ويعملون في الأرض نصحا

“Jika kalian mau aku beritahukan siapa hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah, yaitu yang membuat para hamba mencintai Allah dan beramal kebaikan..” (Az Zuhd karya Imam Ahmad)

Dengan mengingatkan manusia tentang nikmat-nikmatNya yang amat banyak..
Mengenalkan mereka sifat sifat Allah yang maha pengasih dan penyayang..
Agar dengan cinta kepada Allah tumbuh kekuatan untuk beramal salih.. dan dengan takut kepada siksa-Nya, mereka menjauhi kemaksiatan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

SUNNAH Yang Terlupakan – Sholat 4 Roka’at Setelah Sholat ‘Isya

‘Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash berkata,Siapa yang sholat (sunnah) 4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, maka 4 roka’at tersebut seperti keutamaannya 4 ROKA’ATNYA malam Laitul Qodar..” (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf no 7273. Sanadnya shahih).

‘Aisyah rodliyallahu ‘anha berkata,4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, sebanding dengan yang semisal 4 ROKA’AT TERSEBUT pada malam Lailatul Qodar..” (HR Ibnu Abi Syaibah no 7274. Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim).

‘Abdullah bin Mas’ud rodliyallahu ‘anhu berkata, Siapa yang sholat (sunnah) 4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, dia tidak memisah roka’at-roka’at tersebut dengan salam, maka 4 roka’at tersebut sebanding dengan yang semisal 4 ROKA’AT TERSEBUT pada MALAM LAYLATUL QODAR..” (HR Ibnu Abi Syaibah no 7275. Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim).

Walaupun semuanya mauquf..
Namun dihukumi marfu’..

Ibnu ‘Abbas berkata, Aku pernah menginap di rumah bibiku maimunah binti Al Harits istri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.. Maka Nabi sholat Isya, lalu pulang ke rumahnya dan sholat empat roka’at. Lalu beliaupun tidur..” (HR Al Bukhari no 117 dan 665).

Hadits-hadits di atas kuat sanadnya, dan bisa dijadikan sandaran amalan -wallohu a’lam

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Penjelasan Lebih Lanjut Terkait Shalat Sunnah 4 Raka’at Setelah ‘Isya
Sholat Sunnah Setelah ‘Isya Yang Nilainya Sama Dengan Sholat Sunnah Di Malam Laylatul Qodr…

 

da040916