Category Archives: Abuz Zubair Hawaary

Demikianlah Kebanyakan Manusia…

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

قال ابن القيم رحمه الله :
” *وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَسْمَعُ مِنْكَ وَيَرَى مِنَ الْمَحَاسِنِ أَضْعَافَ أَضْعَافِ الْمَسَاوِئِ فَلَا يَحْفَظُهَا وَلَا يَنْقُلُهَا وَلَا تُنَاسِبُهُ، فَإِذَا رَأَى سَقْطَةً أَوْ كَلِمَةً عَوْرَاءَ وَجَدَ بُغْيَتَهُ وَمَا يُنَاسِبُهَا فَجَعَلَهَا فَاكِهَتَهُ وَنُقْلَهُ* “

مدارج السالكين ١ / ٤٠٦

“Demikianlah kebanyakan manusia, ia mendengar dan melihat darimu kebaikan-kebaikan yang lebih banyak dari keburukan namun ia tidak mengingatnya, tidak menyebarkannya dan tidak sesuai dengannya.

Tapi apabila ia melihat satu kekeliruan, atau kata-kata yang salah seolah ia mendapatkan apa yang ia cari-cari dan ia jadikan bahan obrolanya dan ia sebarkan.”

[Madarij as Saalikin 1/406]

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

Nasihat Untuk Para Suami…

Apabila engkau tidak menjaga istrimu, tidak bertakwa kepada Allah dalam memperlakukannya, dan tidak menunaikan haknya, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Ketika engkau pulang dari bekerja menemui istrimu, dia yang telah menjadikan rumahmu bagai surga di muka bumi, sekalipun letih dan lelah dia berusaha tampil cantik dan menarik dihadapanmu, tersenyum kepadamu dan berusaha menghiburmu, lantas engkau cuek dan acuh tak acuh..ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Ketika engkau manfaatkan kepemimpinanmu atasnya dengan cara yang tidak terpuji, hanya sekedar jaga gengsi dan memperlihatkan dirimu sebagai pemimpin, maka ketahuilah engkau tidak pantas jadi suami.

Ketika istrimu bekerja diluar rumah, ia lakukan itu hanyalah untuk membantumu memikul beban hidup. Lalu dia pulang ke rumah, ia pun tetap melakukan pekerjaan rumah sekalipun tampak letih, sementara engkau sikapi dgn angkuh, sombong tanpa mau mengulurkan tangan membantunya melakukan pekerjaan rumah dan memperhatikan anak-anak, tidak pula memberi kesempatannya rehat. Maka ketahuilah engkau tidak layak jadi suami dan ayah.

Apabila engkau telah menikah, dulu istrimu cantik, mulus dan ramping, lalu dia hamil dan melahirkan, umurnya juga telah bertambah, tubuhnya mulai gemuk, kulitnya mulai kendur, tampak perobahan dan bekas-bekas letih, lelah dan penat karena hamil, melahirkan, mengurus rumahmu, dirimu dan anak-anakmu. Kemudian engkau malah berkeluh kesah terhadapnya, merasa jenuh, sering menyindirnya dengan kata-kata yang melukainya serta melalaikannya, ketahuilah engkau tidak pantas jadi suami.

Jika engkau pulang ke rumah hanya utk makan, lalu menyendiri dengan HP mu atau semisalnya, atau keluyuran keluar rumah dengan teman-temanmu, membiarkan dan melalaikannya di rumah sepanjang minggu. Ketahuilah engkau suami yang gagal.

Apabila engkau memperlakukan istrimu dengan kata-kata yang kasar, tidak bersabar terhadap kesalahan dan kekurangannya, tidak memaafkannya, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau menyakiti istrimu dengan tanganmu, menampar atau memukulnya tidak pada kondisi dan bagian yang diizinkan syar’i, maka engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau menuntut istrimu bersolek dan tampil cantik untukmu, sementara engkau tidak peduli terhadap dirimu dihadapannya, engkau tidak pantas jadi suami.

Jika engkau tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dirumahmu, tidak memerintahkan istrimu sholat dan menutup aurat, tidak menjaga istrimu dari api neraka, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau mengumbar aib rumahtanggamu dan problematikanya kepada teman-temanmu, ibu bapakmu dan saudara-saudarimu, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau tidak bertakwa kepada Allah pada istrimu, engkau tidak pantas jadi suami.

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

Ilmu Itu Bukan Dari Usahamu…

“وفي قوله تعالى (والذين أوتوا العلم) – المجادلة : 11 – إشارة إلى أن العلم لا يدركه الإنسان بنفسه، و أن الإنسان مفتقر إلى الله عز وجل في تحصيله. فليس العلم من كسبك، وكم من إنسان بقي سنوات عديدة يطلب العلم ولم يحصله، و كم من إنسان حصل علما كثيرا في مدة قصيرة، كل هذا يعتمد على اعتماد الإنسان على ربه و سؤاله ربه أن يزيده من العلم.”

(التعليق على مقدمة المجموع : ٣٧)

“Di dalam Firman Allah Ta’ ala (artinya : dan orang-orang yang diberi ilmu) -al Mujadilah : 11- terdapat isyarat bahwasanya ilmu tidak didapat oleh manusia dengan sendirinya, dan bahwasanya manusia membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam mendapatkan ilmu.

Jadi, ilmu itu bukan dari usahamu, berapa banyak manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun menuntut ilmu tapi dia tidak mendapatkannya, dan tidak sedikit pula manusia yang meraih ilmu yang banyak dalam masa yang singkat. Semua ini bergantung kepada ketergantungan seseorang kepada Robbnya dan permohonan dia kepada-Nya agar menambahkan ilmu untuknya.”

(kitab at Ta’liiq ‘ala Muqoddimah al Majmu’ : 37)

اللهم علمني ما ينفعني و انفعني بما علمتني و زدني علما

“Ya Allah ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku, dan berilah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang telah engkau ajarkan kepadaku, dan tambahkanlah ilmuku.”

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

 

Begitulah Sahabatku…

Bila hp kita penuh, kita akan bersihkan dari file-file yang tidak penting dan sampah. Dan kenyataannya kebanyakan memori hp kita memang dipenuhi oleh file-file yang tak penting. Gambar, video dan lain-lain yang tak penting membuat hp kita jadi berat.

Bagaimana dengan pikiran, hati dan jiwa kita ? Apa yang memenuhinya ??!!!
File-file sampah dunia dan syahwat ??!!

Jika ingin hati dan pikiranmu fresh dan bersemangat lagi, bersihkan ! 
Buang file-file sampah dunia dan syahwat yang tak penting, karena hati dan pikiranmu lebih penting dari HP mu !

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

Kisah Sahaabat Yang Diperintahkan Untuk Bercadar Di Zaman Khalifah ‘Umar Ibnu Al Khattab

Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى

Bila memandang laki-laki, baik itu Ustadz atau bukan, bisa menimbulkan fitnah, maka para wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangan mereka.

Perintah bercadar adalah bagi kaum wanita KECUALI sekali perintah tersebut dikeluarkan untuk seorang sahaabat bernama Dihyah bin Kholifah Al Kalbi radhiyallahu ‘anhu.

Bagaimana kisahnya ? simak penjelasan Ustadz Abu Zubair  حفظه الله تعالى

Contoh Ghiiroh Yang Patut Diteladani – Kisah Kekawatiran Akan Fitnah Terhadap Al Fadhl Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhumaa

Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى

Kali ini Ustadz Abu Zubair menceritakan tentang kecemburuan (ghiiroh), kekawatiran Rasulullah akan terjadinya fitnah terhadap seorang sahaabat yang bernama Al Fadhl Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhumaa. Suatu sikap yang patut diteladani.

 

Lemahnya Kepemimpinan Laki-Laki Di Tengah Keluarga

Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى

Lemahnya kepemimpinan laki-laki dan cintanya yang berlebih-lebihan kepada keluarga, bahkan melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya…

Ingatlah, akibat dari seseorang yang lalai terhadap keluarganya di yamul mahsyar kelak….

Apa itu Qonthoroh…?

Simak penjelasan Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini :

Sampai Kapan Kita Bersabar Dalam Menasihati Anak Untuk Taat Kepada Allah?

Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى

Apakah ada batasan kesabaran dalam menasihati anak untuk taat kepada Allah ? pendidikan apa yang harus pertama kali ditanamkan kepada anak ?

Simak jawaban Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini :