Category Archives: Irfan Helmi

1238. Apakah Sujud Sahwi Yang Dilakukan Setelah Salam Tetap Diakhiri Dengan Salam..?

1238. BBG Al Ilmu

TANYA
Saya kelebihan roka’at di sholat zhuhur, harusnya empat jadinya lima, setelah salam saya diingatin orang tentang kelebihan 1 roka’at tersebut dan dia bilang ke saya untuk sujud sahwi (2 x sujud), namun dia tidak bilang apakah salam lagi atau tidak. Pertamyaan saya, dalam kasus seperti diatas dimana sujud sahwi dilakukan setelah salam, apakah tetap baca tasyahud akhir + salam lagi atau setelah sujud yang kedua langsung salam..?

JAWAB

Jika kejadiannya seperti yang ditanyakan, yaitu kelebihan 1 roka’at, maka hendaklah ia sujud sahwi SESUDAH salam, karena untuk menghinakan setan.

Menurut Ibnu Taimiyah rohimahullah dalam Majmu’ Fatawa, tidak ada dalil sama sekali yang memerintahkan untuk tasyahud sebelum salam dalam sujud sahwi.

Sujud sahwi TETAP harus ditutup lagi dengan salam sebagaimana dalam hadits shohih riwayat Muslim.

والله أعلم بالصواب

Dijawab oleh,
Ustadz Irfan Helmi, Lc, حفظه الله تعالى

Puasa Ayyaamul Biidh Dan Puasa Syawwal

Ustadz Irfan Helmi, Lc, حفظه الله تعالى

Disunnahkan puasa Ayyamul Biidh, yakni tanggal 13,14,15 bulan Hijriyah. Berdasarkan hadits Abu Dzar al-Ghifari berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ, وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Rasulullah صلىالله عليه وسلم
memerintah kami untuk puasa 3 hari yang putih (Ayyamul Biidh) pada tiap bulan Hijriyah, tanggal 13,14,15”
[HR Ahmad, An-Nasa’i & Ibnu Hibban, hadits hasan. Lihat ash-Shahihah no.1567]

Disebut Ayyamul Biidh karena pada malam-malam hari tersebut muncul bulan purnama yang sinar rembulannya putih terang-benderang.
Sekedar info: ayyamul biidh bulan ini bertepatan dengan tanggal 9-11 Agustus 2014 M.

FAWAID :
Berkata al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah: “Apabila berkumpul 2 ibadah yang sejenis dalam satu waktu, salah satunya bukan karena qadha (wajib-) atau mengikut ibadah lainnya, maka 2 ibadah tersebut boleh digabung menjadi satu”

Berdasarkan kaidah tersebut, dapat diambil pelajaran sebagai berikut:

1. TIDAK BOLEH menggabungkan niat puasa Ayyamul Biidh ataupun 6 hari Syawal yang hukumnya sunnah dengan qadha puasa Ramadhan yang hukumnya wajib.

2. BOLEH menggabungkan niat puasa Ayyamul Biidh dengan puasa 6 hari Syawal. Karena kedua ibadah tersebut sama jenisnya, yakni amalan sunnah. Inilah yang disebut dengan “mendulang pahala yang banyak dengan amal ibadah sedikit tapi sesuai Sunnah”.

Semoga bermanfaat.
Al-faqir ilallah,
Abu Yusuf Irfan Helmi

Puasa Ayyamul Biidh Tanggal 13 Dzulhijjah..?

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq merupakan hari untuk makan dan minum” [HR Muslim]

Yang dimaksud hari2 tasyriq adalah tanggal 11,12,13 Dzulhijjah. Oleh karena itu, TIDAK BOLEH berpuasa pada hari-hari itu.

Lantas bagamana dengan orang yang biasa puasa sunnah Ayyamul Biidh ?

Ada DUA alternatif :

●   PERTAMA : lakukan puasa Ayyamul Biidh pada tanggal 14-15 Dzulhijjah (2 hari) saja. Dia tinggalkan puasa tanggal 13 Dzulhijjah karena Allah. Semoga dengan begitu dia mendapat ganti (pahala) yang lebih baik dari Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam:

إنّكَ لنْ تدعَ شيئًا للّهِ عزّ وجلّ إلاّ بدَّلك اللّهُ بهِ ما هو خيرٌ لك منه  – رواه أحمد ٢٣٠٧٤

 

“Sesungguhnya tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla kecuali Allah pasti menggantinya untuk kamu yang lebih baik bagimu..” [HR Ahmad no.23074]

●   KEDUA : niatkan puasa 3 hari dalam sebulan. Tanggalnya bebas, tidak ditentukan. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah berkata, “Kekasihku (Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam) berwasiat kepadaku tentang 3 hal yang takkan aku tinggalkan sampai aku mati: Puasa 3 hari setiap bulan; Shalat Dhuha; Shalat Witir sebelum tidur” [HR Bukhari no.1178]

Dari Mu’adzah berkata kepada Aisyah, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam biasa puasa 3 hari setiap bulan. Jawab Aisyah: Ya! Aku (Mu’adzah) bertanya, Pad hari apa beliau melakukan puasa tsb ? Aisyah menjawab: “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau berpuasa” (yakni sesukanya) [HR at-Tirmidzi no.763, shahih]

Semoga bermanfaat. [Mina, 11 Dzulhijjah 1434 H]

Ustadz Irfan Helmi Lc, حفظه الله تعالى