Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Berbeda Namun Sejatinya Bersepakat…

⚉  ‎Imam Malik berfatwa anjing tidak najis walau jilatannya wajib dibasuh 7x dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

Mayoritas ulama’ berfatwa jilatan anjing najis besar.

⚉  ‎Imam Abu Hanifah tidak mensyaratian bacaan fatihah dalam sholat.

Mayoritas ulama menganggap bacaan fatihah sebagai rukun shalat.

Dan masih banyak lagi kasus serupa.

Mereka berbeda fatwa namun sejatinya mereka bersepakat, dalam:
1. Sumber agama mereka adalah Al Qur’an dan As Sunnah.

2. Fatwa fatwa mereka di atas dihasilkan dari kajian terhadap dalil dengan metodologi yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

3. Tidak ada unsur hawa nafsu atau argumen lain yang lebih diutamakan di atas Al Qur’an dan As Sunnah.

4. Metodologi yang mereka gunakan untuk mengkaji dalil mereka dapatkan dari ulama’ terdahulu sebelum mereka.

5. Beda pendapat tidak menumbuhkan kesombongan atau kebencian kepada ulama’ lain yang menyelisihi fatwanya. Karena yang menjadi tinjauan utama mereka adalah alasan/dalil dan metodologi masing masing dalam memahami dalil, bukan hasil akhir dari kajiannya. Sehingga dahulu di kalangan ulama’ bila terjadi perbedaan pendapat, masing masing menanyakan dalil saudaranya dengan berkata:

ما حملك على هذا ؟

“Apa dalil yang mendorongmu berpendapat/melakukan demikian ?”

Bila telah mengetahui dalil dan cara pendalilan saudaranya maka tidak dilanjutkan dengan tuduhan sesat atau lainnya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Benci Tidak Selalu Menjauhi Atau Menghukumi…

Benci tidak selalu menjauhi atau menghukumi.

Anda benci kepada kebodohan, namun bukan berarti anda harus menjauhi mereka, kadang kala anda harus mendatangi mereka untuk mengajari mereka.

Benci kepada pelaku kesyirikan sering kali menuntut anda untuk mendatangi mereka untuk mendakwahi mereka.

Namun kadang kala anda tak kuasa untuk banyak berbuat apalagi melawan, anda hanya kuasa untuk diam, karena ternyata pelaku kekufuran atau kemaksiatan tersebut adalah orang tua anda.

Atau mereka adalah masyarakat sekitar anda, sehingga anda tetap berinteraksi sosial dengan mereka.

Diam bukan berarti menyetujui, namun tetap benci.

Walaupun bisa jadi anda kuasa melakukan pengingkaran atau menunjukkan sikap, satu hal yang belum tentu kuasa dilakukan oleh orang selain anda.

Sesatkah orang yang karena suatu alasan apalagi tidak menunjukkan sikap atau kebencian dan pengingkaran ?

Bila semua itu dilakukan karena tujuan yang dibenarkan, bukan sekedar kemalasan atau kepentingan dunia semata, maka keduanya tidak layak dicela.

Bahkan kadang kala anda benci namun tetap bermanis muka demi kepentingan yang lebih besar atau menghindari kerugian yang lebih berat.

Nabi shollalahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan atau menunda keinginan untuk memugar bangunan Ka’bah demi menghindari kekacauann yang lebih berat.

Sebagaimana beliau tidak mengizinkan para sahabat untuk meng-eksekusi orang orang munafiq, demi menghindari kesan buruk terhadap Islam dan ummat Islam; tega membunuh kawan sendiri.

Jadi manhaj itu bukan produk kaku namun sebaiknya luwes dan sangat akomodir terhadap perubahan dan perbedaan kondisi, figur dan tujuan.

Semoga mencerahkan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kesyirikan Biang Suburnya Hizbiyah…

Fanatisme kepada apapun selain kebenaran, adalah bentuk nyata dari hizbiyah kepada selain Allah dan Rasul-Nya.

Bila fanatisme anda kepada guru kelewat batas, walaupun dia adalah seorang Imam semisal Imam Malik bahkan kepada seorang sahabat semisal sahabat Abu Bakar atau Umar, maka anda pasti terjerumus dalam kesyirikan.

Fanatisme anda menyebabkan anda mengutamakan pendapat dan sikap figur tersebut walau terbukti menyelisihi dalil.

Kalaupun anda tidak membela minimal anda benci kepada yang menentang pendapat atau sikap tersebut.

Inilah sejatinya kesyirikan yang sering terlupakan.

Sebagaimana gaji dan jabatan yang menyebabkan anda buta mata membela juragan anda, tanpa peduli salah atau benar, maka itulah bentuk dari kesyirikan, walaupun yang mengangkat anda sebagai pejabat adalah seorang raja apalagi sekedar seorang juragan atau pesuruh perkumpulan.

Jadi syirik itu bukan hanya urusan kuburan atau sesajian, namun syirik itu adalah sikap menduakan Allah dalam jiwa anda, yang terefleksi pada ucapan atau tindakan.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Iedul Fitri = Kembali Kepada Fitrah..?

Iedul Fitri = Kembali Kepada Fitrah ?

Salah Kali !

Banyak khathib atau penceramah bahkan pejabat yang mengurusi masalah agama masyarakat beranggapan bahwa kata “al fithru/ الفطر” berarti fitrah yang salah satu artinya adalah asal mula penciptaan dan akhirnya diartikan dengan suci.

Sebatas yang pernah saya pelajari dan faktanya juga demikian arti kata “fithri” adalah lawan dari “shaum”. Al fithru di sini artinya ialah makan pagi, sebagaimana kata “as shaum” berarti menahan diri.

Dengan demikian iedul fithri arti bahasanya ialah = kembali makan pagi setelah sebelumnya dilarang.

Bila demikian apa istimewanya kembali makan pagi setelah sebelumnya dilarang ? Bukankah akan lebih religi dan mantep bila diartikan dengan fithrah alias asal muasal penciptaan yang identik dengan kesucian ?

Oooh, sangat istimewa, karena dengan memahami arti kata ini maka anda dihadapkan pada satu fakta sederhana namun sarat dengan arti religius yang sangat mendalam. Anda dihadapkan pada satu fenomena bahwa makan, minum, melampiaskan syahwat atau atau menahannya benar-benar karena perintah Allah dan keteladanan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Inilah arti ke-islaman yang sejati, yaitu ketika anda benar-benar telah menyerahkan seluruh urusan anda kepada perintah Allah dan keteladanan Nabi alaihissalam. Inilah ikrar yang sepatutnya anda jadikan pedoman dalam hidup anda sebagai seorang muslim

إن صلاتي ونسكي ومحيايى ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت

“Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan kematianku seutuhnya aku persembahkan teruntuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan.” ( al an’am 162-163)

Ramadhan dan Iedul Fitri mengajarkan kepada anda bahwa Nilai suatu amalan bukanlah terletak pada makan atau minum atau meninggalkan keduanya semata, namun terletak pada ketepatan alias keteladanan yang diiringi oleh ketulusan niat lillahi rabbil ‘alamiin. Apalah artinya menahan makan dan minum alias berpuasa bila menyelisihi tuntunan Nabi alaihissalam, semisal orang yang berpuasa pada hari ied?

Dan sebaliknya betapa buruknya orang yang menurutkan hawa nafsunya dengan makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan, karena itu tentu menyimpang dari tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Sobat, marilah kita pelajari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar kita bisa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Bukan waktunya lagi bagi anda untuk hanya menuruti semangat, emosional, perasaan atau tradisi masyarakat dalam beramal, namun sudah tiba saatnya bagi anda untuk selalu memastikan legalitas setiap amalan anda ditinjau dari dalil dan uswah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Selamat merayakan IEDUL FITRI, semoga Allah menerima seluruh amalan ibadah saudara dan memberi umur yang panjang untuk dapat merayakannya kembali pada tahun tahun yang akan datang.

تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Tuli Namun Mendengar…

Tuli namun mendengar, gara gara kotornya jiwa mereka.

Di beberapa ayat, orang-orang kafir disebut Tuli ataupun buta, padahal sejatinya mereka tidaklah Tuli atau buta akan tetapi yang Tuli dan buta adalah jiwa mereka sehingga tidak mau memahami kebenaran dan melihat fakta.

Akibatnya walaupun mereka mendengar redaksi Al-Quran atau membacanya, tetapi mereka tidak mendapatkan Hidayah Darinya, bahkan semakin menjauh atau semakin besar kebencian mereka kepada Islam .

Simak firman Allah ta’ala berikut:

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُم مُّعْرِضُونَ

“Andai Allah mengetahui bahwa pada diri mereka terdapat kebaikan niscaya Allah akan menjadikan mereka dapat mendengar,, dan andaipun Allah telah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka tetap berpaling Sedang mereka terus menjauhkan dirinya (dari kebenaran).”  [ Al Anfal 23 ]

Mereka dijadikan tidak bisa memahami dan menerima bukan karena tuli dan buta telinga dan mata mereka.

Namun hati dan jiwa mereka yang telah menjadi tuli dan buta karena kotornya niat atau tujuan mereka.

Sobat, yuk sucikan jiwa kita, jauhkan dari niat-niat buruk, waspadalah bahwa niat buruk yang anda pendam hanya akan membutakan mata dan menjadikan tuli pendengaran batin anda.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Di Hatimu Tersimpan Kunci Sukses Puasa dan Semua Amalanmu…

Di hatimu tersimpan kunci sukses puasa dan semua amalanmu.

Bisa jadi amalan anda sama dengan amalan orang munafik, namun anda masuk surga mereka masuk neraka.

Anda beramal karena Allah mereka beramal karena takut sama manusia.

Anda beramal karena meneladani Nabi shalalahu alaihi wa sallam namun mereka beramal demi mengamankan harta dan dunianya.

Anda beramal berdasarkan dalil sedang mereka beramal berdasarkan kepentingan dunianya.

Anda beramal demi menjalankan perintah sedangkan mereka beramal demi kepentingan dunianya.

Lalu kapan semuanya akan terbuka nyata ?

Di saat ajal menjemput, Allah biasanya akan menampakkan semuanya menjadi nyata, anda khusnul khatimah sedangkan orang munafik su’ul khatimah.

Di alam kubur dan kemudian di akhirat, anda dikaruniai nikmat kubur dan surga, sedangkan mereka mendapat siksa kubur dan neraka jahannam.

Selamat bercermin membaca isi hati masing masing.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Ikat Dulu Ontamu Baru Tawakkal…

Ikat dulu ontamu baru tawakkal, demikianlah konsep tawakkal dan tauhid yang benar.

Imam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata:

“di antara hal yang harus diketahui: pernyataan sebagian ulama: bersandar kepada sebab akibat semata adalah bentuk kesyirikan dalam aspek tauhid.

Namun keinginan untuk menghapuskan seluruh kaitan sebab dengan akibatnya adalah bentuk dari cacat akal.

Sebagaimana berpaling atau mengabaikan secara mutlak adanya korelasi antara sebab dengan akibatnya adalah bentuk celaan terhadap syariat.

Tawakal dan Roja’ (mengharap) Yang benar adalah kombinasi dari aplikasi tauhid, akal sehat dan tuntunan syariat.”

[ Majmu’ Fatawa 8/169 ]

Semoga mencerdaskan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Tawakkal Bukan Berarti Berpangku Tangan…
Apakah Tawakkal Identik Dengan Tindakan Nekat..?

 

 

Tawakkal Bukan Berarti Berpangku Tangan…

Kemenangan harus diupayakan, bukan dengan berpangku tangan.

⚉  Nabi Musa ‘alaihissalam tetap diperintahkan berusaha, walau usahanya menurut nalar manusia dan kebiasaan, tiada artinya, yaitu memukulkan tongkat ke lautan.

Allahu Akbar! tatkala sisa usaha yang bisa ia lakukan diiringi dengan kesempurnaan tawakkal, maka menghasilkan buah yang luar biasa, di luar nalar manusia.

⚉  Maryam ‘alaihassalam, yang sedang lapar, dan dalam kondisi lemah karena baru saja melahirkan, diperintahkan untuk berusaha mendapatkan makanan, yaitu menggoyangkan batang pohon kurma.

Hasilnya sungguh luar bisa, walau dengan sisa-sisa tenaganya yang lemah, buah-buah kurma masak yang segar berjatuhan di hadapan Maryam.

Padahal kalau dipikir, Allah Ta’ala kuasa untuk membelah lautan dan menjatuhkan buah kurma tanpa perlu memerintahkan mereka berdua untuk menjalani usaha yang secara tradisi sangat kecil nilainya.

⚉  Demikian pula dengan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ketika berhijrah, sejatinya Allah kuasa menyelamatkan beliau tanpa harus bersembunyi di dalam gua yang sempit dan kecil.

Namun itulah sunnatullah, beliau harus memberi keteladanan bahwa tawakkal bukan berarti berpangku tangan, namun tetap menjalankan usaha bahkan sisa sisa usaha yang masih bisa dilakukan, dan selanjutnya percayakan hasilnya kepada Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Semoga menyegarkan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Demikianlah Pertolongan Allah…

Musuh menyerang dengan segala cara. Tatkala Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke kota Madinah, kaum Quraish Mengerahkan segala daya dan cara yang mereka miliki guna membunuh Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam atau minimal menghalanginya dari hijrah ke kota Madinah. Sampai akhirnya mereka menyewa pakar Pendeteksi jejak manusia.

Dan tatkala Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, bersembunyi di gua Tsaur, pendeteksi jejak langkah yang mereka sewa berhasil menemukan jejak jejak Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, hingga tiba di depan mulut gua.

Semula sahabat Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu mengira bahwa mereka akan berhasil menemukan Nabi dan dirinya.

Namun keyakinan Nabi akan pertolongan Allah tidak pernah padam, sehingga beliau menegaskan kepada sahabat Abu Bakar bahwa Allah selalu bersama mereka berdua.

Dan betul, para pendeteksi jejak yang disawa oleh orang-orang Quraisy beserta seluruh orang yang hadir kalau itu, tidak mampu melihat keberadaan Nabi dan sahabat Abu Bakar.

Demikianlah pertolongan Allah, seringkali bila dinalar dengan akal manusia tak ubahnya bagaikan gajah keluar dari lubang jarum.

Sobat, di saat anda merasa disudutkan dan diserang musuh dari segala arah dan dengan segala cara, maka teruslah berdo’a kepada Allah memohon pertolongan dan perlindungan kepada-Nya dari tipu muslihat musuh-musuh agama Allah, percayalah Allah tiada pernah mengecewakan hamba-Nya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Bila Ketidak Tahuan Telah Dijadikan Sebagai Ilmu Yang Diajarkan dan Tidak Boleh Dibantah…

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

” أخوف ما أخاف على أمتي الأئمة المضلون “

“Hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan”  [ Riwayat Abu Nuáim dalam kitab Hilyatul Auliya’dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits hasan ]

Beliau juga bersabda:

إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن حتى إذا رئيت بهجته عليه وكان ردءا للإسلام انسلخ منه ونبذه وراء ظهره وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك .

“Sesungguhnya hal paling aku takutkan atas kalian adalah lelaki y ang rajin membaca Al Qurán, hingga bila indahnya bacaan Al Qurán telah nampak pada dirinya, dan ia telah berjasa membela Islam, namun ia berbalik arah dan mencampakkan Islam di balik punggungnya, kemudian ia memerangi tetangganya sendiri (sesama muslim) dengan senjatanya (pedangnya) dan serampangan menuduh mereka telah menjadi musyrik.

Sahabat Huzaifah bertanya:

قلت : يا نبي الله أيهما أولى بالشرك الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي 

‘Wahai Nabi utusan Allah, siapakah dari keduanya yang paling layang menyandang status musyrik, yang menuduh atau yang dituduh ?’ Beliau menjawab: ‘tentu yang serampangan menuduh.’  [ Ibnu Hibban, Al Bazzar dan lainnya ]

Ternyata Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menakut-nakuti sahabatnya dengan potensi kehadiran para penjahat dan pengkhianat.

Dan ternyata mengatakan: ‘saya tidak tahu’ adalah ilmu yang sangat berharga dan langka.

Selamat merenung, semoga mencerdaskan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.