Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Ada Apa Dengan Menyukai QS Yusuf Melebihi Surat Lainnya..?

Anda suka mendengar Surat Yusuf melebihi surat lainnya ?

Bila betul demikian, simak penjelasan Imam Ibnu Timiyah berikut:

Sebagian orang dan juga wanita ada yang senang mendengarkan surat Yusuf, dikarenakan pada surat Yusuf dibawakan cerita tentang asmara dan hal-hal yang terkait dengannya.

Ia mencintai surat Yusuf dibanding surat lainnya dikenakan di dalam dirinya ada asmara yang membara dan kecenderungan untuk berbuat keji ( zina). Sampai-sampai sebagian mereka berusaha dengan sungguh sungguh untuk sering memperdengarkan surat tersebut kepada kaum wanita atau lainnya, dikarenakan pada diri mereka terdapat kecenderungan kepada perbuatan buruk, mereka begitu antusias untuk hal itu.

Di saat yang sama, mereka tidak senang untuk mendengarkan kandungan surat An Nur yang menjelaskan tentang hukuman dan larangan dari perbuatan keji (zina).”

(majmmu’ fatawa ibnu Taimiyyah 15/335)

Ayo jujur saja…

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Tentang Cinta Kepada Wanita…

Lebih jauh mengerti tentang cinta kepada wanita.

Bagi banyak orang urusan cinta tuh susah, kepada siapa ia harus menjatuhkan cintanya. Pilih sana pilih sini, ndak segera ketemu dengan wanita yang sesuai dengan mimpinya.

Perkenalan, ta’aruf, bahkan sampai pacaranpun ternyata cinta tak kunjung datang, sehingga semuanya harus kandas.

Bahkan setelah dipaksakan untuk saling mencintai, namun betapa mudah riak-riak kehidupan mengkandaskan cinta semu mereka.

Serumit dan sesusah itukah urusan cinta ?

Sobat! Di sisi lain, betapa banyak orang yang begitu mudah menemukan wanita yang menjadi bunga hatinya, tanpa ta’aruf, tanpa pacaran, tanpa banyak kriteria atau persyaratan. Mereka menikah dan hidup berumah tangga bahagia bak bidadari dan sang pangeran. Badai kehidupan tak kuasa mengikis cinta mereka berdua.

Anda penasaran mau tahu apa rahasia cinta mereka ?

Ketahuilah bahwa cinta itu ada yang halal dan ada yang haram.

Cinta haram tuh hanya sebatas gemuruh nafsu menggebu dan bisikan setan.

Sedangkan cinta yang halal itu karunia ilahi, sehingga tiada yang kuasa memupusnya atau membasmi.

Renungkan pengakuan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang cinta beliau kepada Khadijah rodhiallahu ‘anha:

إني قد رزقت حبها

“Sesungguhnya aku telah dikaruniai rejeki cinta kepadanya.” (Muslim)

Subhanallah, cinta itu rejeki dan karunia ilahi.

Karenanya, bila anda ingin menikmati betapa indah dan manisnya cinta sejati, cintailah orang yang halal untuk anda cintai, dan MOHONLAH kepada Allah agar anda benar benar mendapatkan rejeki cinta kepadanya sebagaimana anda meminta harta, kekayaan dan rejeki lainnya.

Selamat mencoba, semoga bahagia bersamanya.

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Bekal Juru Dakwah…

⚉   Sufyan Ats Tsauri berkata:

لا يأمر بالمعروف ولا ينهي عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال رفيق بما يأمر رفيق بما ينهي عدل بما يأمر عدل بما ينهي عالم بما يأمر عالم بما ينهي

“Tidak layak untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang telah memenuhi tiga kriteria:

1. Lemah lembut ketika memerintahkan yang ma’ruf, dan lemah lembut ketika melarang yang mungkar

2. Adil/Proporsional pada urusan ma’ruf yang ia perintahkan dan pada urusan kemungkaran yang ia larang.

3. Menguasai ilmu tentang apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.”

(Al Waro’ oleh Imam Ahmad bin Hambal hal 155)

⚉   Ibnu Taimiyah berkata:

“Penguasaan ilmu harus dilakukan sebelum menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Lemah lembut di saat menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga ia menempuh cara yang paling mudah dalam menjalankan misinya.

Tabah setelah menunaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga ia mampu bersabar menghadapi gangguan orang yang ia perintahkan untuk menjalankan yang ma’ruf atau ia cegah dari kemungkaranya. Karena sesungguhnya orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar biasanya menghadapi gangguan .”

(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 15/167)

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Inilah Alasan Mengapa Hujan Bisa Turun…

Sahabat Zaid bin Khalid Al Juhani rodhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa di suatu malam, di daerah Hudaibiyah, turun hujan. Dan di pagi harinya Nabi shollallalhu ‘alaihi wa sallam memimpin sholat shubuh para sahabatnya. Seusai menunaikan sholat beliau berbalik menghadap kepada para sahabat lalu bertanya kepada mereka:

“Tahukah kalian, apa yang Allah firmankan ?”

Para sahabat menjawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: Allah berfirman: ‘Di pagi ini ada sebagian hambaku yang beriman kepadaku dan ada yang kufur kepadaku.’

Orang yang berkata: 

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

kita mendapat hujan atas kemurahan Allah dan kerahmatan dari-Nya, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan ingkar/kufur kapada astronomi (perbintangan).

Adapun orang yang berkata: 

مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا

kami mendapat hujan karena pengaruh bintang ini dan itu, maka ia adalah orang yang ingkar/kufur kepada-Ku dan beriman kepada astronomi/perbintangan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bagaimana sobat ? masihkah anda berkata: hujan turun karena musimnya, ataukah anda mulai menyadari bahwa yang menciptakan musim dan juga hujan adalah Allah. Keduanya terjadi atas kehendak Allah.

Musim tidak berdiri sendiri dan sesuka hatinya menurunkan atau menghentikan hujan, musim tunduk kepada kehendak Allah Ta’ala.

Karena itu, mengapa anda lebih mengingat musim dibanding mengingat Allah Ta’ala ?

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

“kita mendapat hujan atas kemurahan Allah dan kerahmatan dari-Nya”

Semoga bermafaat.

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bila Lisan Anda Lebih Cepat Berbicara Dibanding Akal Pikiran Anda…

Dahulu sebagian orang bijak berpetuah:

لسان العاقل من وراء قلبه؛ فإذا أراد الكلام تفكّر، فإن كان له قال وإن كان عليه سكت؛ وقلب الأحمق من وراء لسانه، فإذا أراد أن يقول قال، فإن كان له سكت، وإن كان عليه قال.l

Lisan orang yang berakal itu ada di balik kalbunya, setiap kali ia hendak berbicara maka ia pikirkan terlebih dahulu dengan baik-baik, bila menguntungkan maka ia ucapkan namun bila merugikan dirinya ia memilih untuk diam.

Sedangkan akal pikiran orang pandir ada di balik lisannya, setiap kali ia hendak bicara maka langsung ia ucapkan, bila ucapan itu menguntungkan dirinya ia malah diam, dan bila ucapan itu merugikan dirinya ia malah begitu bernafsu untuk mengucapkannya.

Semoga bermanfaat.

Ustadz  DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

Inilah…

Inilah yang menjadikan orang munafiq merasa puas dan bangga.

Kemunafikan terbesar adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan. Namun demikian, sepandai pandai orang menyembunyikan kemunafikan, tetap saja sikap dan ucapannya, akan menceritakan isi hatinya.

Diantara indikasi kemunafikan ialah adanya rasa girang ketika orang kafir mendapat kemenangan atau minimal bebas malang melintang, ia tiada terusik oleh ulah orang kafir sedikitpun.

Namun sebaliknya, ia berang, meradang, kecewa, naik pitam, dan uring-uringan bila ummat Islam mendapat kemenangan atau kesenangan atau berhasil membungkam juragan orang orang munafiq, yaitu kaum kuffar.

Allah Ta’ala menceritakan indikator orang munafiq ini dengan berfirman:

هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُواْ بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ {119} 
إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ 

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman“; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran 119-120)

Simak sobat, dan kenalilah betapa banyak saat ini orang yang lisan, dan penanya bertambah tajam kepada ummat Islam di saat mereka berhasil membungkam atau mengalahkan orang kafir. Seakan mereka terpanggil untuk turut memberi perlawanan kepada ummat Islam sebagai bentuk pembalasan atas kekalahan juragannya orang orang kafir.

Namun pena dan lisan mereka seakan patah alias bisu bila mengetahui orang kafir menghina, menindas, merampas, menginjak nginjak kehormatan ummat Islam, seakan hati mereka menari nari kegirangan atas kehinaan ummat Islam.

Karenanya, yuk kita bercermin, untuk siapa lisan dan pena kita tajam saat ini ? dan dalam kondisi apa hati kita merasa girang menari-nari ?

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kemunafikan dan kekufuran, amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Pendakwah Bengis dan Dokter Sadis…

Apa yang pertama kali terbetik di hati anda ketika anda melihat korban kecelakaan, kebakaran, atau penderita penyakit parah ?

Rasa iba melihat betapa berat derita mereka, atau rasa benci karena anda mengetahui mereka ceroboh tidak menempuh hidup sehat, atau melanggar rambu lalulintas atau karena tidak merapikan instalasi listriknya ?

Dan bagaimana perasaan anda bila menyaksikan seorang tenaga medis yang menolong korban kecelakaan dengan membentak bentaknya, atau sambil menghujatnya, atau sambil bermuka masam, atau sikap kaku dan kasar ?

Coba bandingkan dengan perasaan anda ketika menemukan pelaku maksiat atau bid’ah. Ketahuilah bahwa dosa dan bid’ah adalah penyakit hati, sebagaimana luka bakar, kudisan dan luka kecelakaan adalah penyakit fisik.

Bila anda merasa iba dengan penderita penyakit fisik, sehingga anda tergugah untuk berdonasi, atau menolong mereka, tanpa perlu mencibirnya, mengapa ketika melihat pelaku dosa dan bid’ah anda lebih mengedepankan nafsu menghujat, mencibirkan, hasrat membenci dibanding semangat untuk mendakwahi atau menyelamatkan ?

Dan kalaupun anda berusaha menyelamatkan mereka, namun betapa sering usaha anda diiringi dengan kata kata yang kasar, sikap yang kaku, muka yang masam?

Apakah menurut anda penderita penyakit atau luka fisik lebih layak disayangi dibanding penderita penyakit hati dan iman?

Semoga menggugah dan bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Nasib oh Nasib…

Gitu kali ya keluh kesah orang yang tidak beriman atau lemah iman bahwa hidupnya mengalir sesuai kodrat ilahi.

Ia kira dengan curhat kepada orang lain, deritanya berkurang dan beban mentalnya menjadi ringan dan bisa jadi mereka mengulurkan tangan untuknya.

Berbeda dengan orang yang beriman, tiada ratapan atau keluh kesah yang membasahi bibirnya selain kepada Allah Ta’ala, yang ia lakukan di tempat yang sunyi dan di saat ia jauh dari pandangan manusia.

Di hadapan manusia, seakan hidupnya tanpa masalah dan tanpa rintangan, padahal rintangan dan cobaan silih berganti menerpanya.

Orang yang beriman yakin bahwa hati dan tangan manusia dibawah kuasa Tuhan, yang kuasa mengendalikannya kapan, dimana dan untuk siapapun yang Ia kehendaki.

Karenanya hanya kepada-Nya orang beriman berkeluh kesah:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Ayah Yusuf berkata: “hanya kepada Allah aku mengeluhkan kesusahanku dan dukaku” (Yusuf 86)

Ya demikianlah perbedaan hidup orang yang beriman dan orang yang lemah iman atau bahkan tiada beriman sama sekali.

Bagaimana dengan anda sobat ? Kepada siapa anda berkeluh kesah selama ini ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bukti Paling Valid Bahwa Anda Bertauhid…

Sobat, dunia ini sering kali di bingkai dengan kamuflase alias kemunafikan.

Namun sepandai-pandai manusia berkamuflase maka cepat atau lambat Allah akan membukanya.

Termasuk sikap kita yang mungkin berpura pura sebagai orang yang benar-benar beriman atau bertauhid kepada Allah, padahal sarat dengan kepentingan dunia dan nafsu belaka.

Sebaliknya seringkali manusia salah persepsi dan penilaian, yang baik dimusuhi sedang yang buruk dipuji.

Namun Percayalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala akan Menyibak semuanya, Sehingga semua akan menjadi nyata tiada lagi yang tersamarkan.

Namun pertanyaannya, kapankah itu terjadi ?

Renungkan hadirs berikut:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Sesungguhnya tiap-tiap kalian proses penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya.

Selanjutnya sungguh demi Allah yang tiada Tuhan selainNya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak tersisa jarak antara dirinya dan surga kecuali hanya sehasta saja, kemudian ia dijemput oleh ketetapan Allah sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka dan iapun masuk neraka.

Sebaliknya, ada orang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka, hingga tidak lagi tersisa jarak antara dirinya dan neraka kecuali hanya sehasta saja, kemudian ia dijemput oleh ketetapan Allah, sehingga ia melakukan perbuatan ahli surga dan iapun masuk surga.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saat inilah pembuktian yang tak terbantahkan bahwa anda bertauhid atau tidak, yaitu ketika ajal anda mampu mengikrarkan kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLALLAHU di hadapan Malaikat Pencabut nyawa anda.

من كان آخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة

Siapa pun yang ucapan terakhirnya adalah Laa ilaha Illa Allah, pastilah ia masuk surga.” ( Abu Dawud)

Karena itu yuk sudahi klaim sepihak, apalagi merasa paling bertauhid.

Dan mari kita pebih fokus pada instropeksi diri, karena betapa banyak noda noda dosa yang masih membandal dalam jiwa kita.

Bila dahulu Para sajabat khawatir bila dirinya terjangkiti kemunafikan, mengapa kita saat ini seakan merasa aman dari kemunafikan, sehingga lebih sering menyibukkan diri dengan dosa kawan dibanding dosa sendiri.

Sat oleh Al-Bukhaariy no. 3208, 3332, 6594, 7454; Muslim no. 2643.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

 

Orang Berilmu…

Suatu hari sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu berkata:

ألا أنبئكم بالفقيه حق الفقيه ؟ من لم يقنط الناس من رحمة الله ، ولم يرخص لهم في معاصي الله ، ولم يؤمنهم مكر الله ، ولم يترك القرآن إلى غيره ، ولا خير في عبادة ليس فيها تفقه ، ولا خير في فقه ليس فيه تفهم ، ولا خير في قراءة ليس فيها تدبر .

Maukah engkau aku beri tahu perihal orang yang benar-benar faqih /berilmu ?
Dia adalah orang yang :
1. Tidak menyebabkan masyarakat berputus asa dari kerahmatan Allah.
2. Sebaliknya tidak menjadikan mereka ceroboh dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah.
3. Tidak menggantikan Al Qur’an dengan selainnya.
4. Tidak ada baiknya ibadah yang tidak diiringi dengan ilmu.
5. Sebagaimana tidak ada baiknya ilmu yang tidak diiringi dengan pemahaman.
6. Dan juga tidak ada baiknya pada membaca kalau tidak diiringi dengan tadabbur.

(Al Faqih wa Al Mutaffaqih 2/338)

Sufyan At Tsauri rohimahullahu berkata:

إنَّما العلم عندنا الرخصة من ثقة , فأما التشديد فيُحسنه كل أحد

Yang disebut ilmu menurut kami adalah keringanan yang diajarkan oleh orang yang kredibel. Adapun membuat susah (memberatkan) maka semua orang bisa melakukannya.”

Faedah dari Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى