Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Menurut Anda dan Menurut Mereka…

Bid’ah itu menurut anda, tapi menurut mereka sunnah.

Dalilnya lemah menurut anda, namun kuat menurut mereka.

Rojih itu menurut anda, sedang menurut mereka marjuh.

Tidak sah menurut anda, namun sah menurut mereka.

Membatalkan ibadah itu menurut anda, namun tidak membatalkan menurut mereka.

Dan masih banyak lagi.

Bila perbedaan ini tidak disikapi dengan ilmu dan hikmah, niscaya terjadi kekacauan.

Perbedaan semisal terjadi pada banyak masalah, sejak dahulu kala hingga saat ini perbedaan serupa terus terjadi.

Karena perbedaan semacam inilah dahulu di Masjid Haram Makkah setiap kali sholat fardhu, ummat Islam di sana berkelompok menjadi 4 kelompok besar, ada para pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

Setiap waktu sholat tiba, Masing masing dari mereka mengumandangkan Azan dan Iqamat serta sholat berjama’ah secara bergantian.

Masing masing penganut mazhab meyakini bahwa sholat penganut mazhab lain tidak sah, mengamalkan bid’ah, atau melakukan sebagian pembatal ibadah.

Akibatnya mereka tidak mau berjama’ah di belakang penganut mazhab lain.

Bahkan sebagian penganut mazhab merasa bahwa menikahi wanita ahli kitab lebih baik dibanding menikahi wanita penganut mazhab lain.

Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya perihal hukum berjama’ah dengan penganut mazhab lain, dan beliau menjawab:

“Segala puji hanya milik Allah, betul, sebagian mereka (para penganut mazhab) boleh mendirikan sholat di belakang penganut mazhab yang lain, sebagaimana dahulu para sahabat, para penerus mereka dengan kebaikan (tabi’in) dan juga para imam sepeninggal mereka diantaranya imam keempat mazhab, sebagian mereka mendirikan sholat (berjama’ah) di belakang sebagian lainnya.

Padahal mereka bersilang pendapat dalam masalah masalah yang telah disebutkan di atas dan jga masalah masalah lainnya. Walau demikian tidak seorangpun dari ulama salaf ( terdahulu ) yang berpendapat tidak sahnya sholat di belakang sebagian lainnya.

Dan siapapun yang mengingkari fakta ini, maka itu pertanda ia adalah seorang ahli bid’ah (mubtadi’) lagi sesat, menentang Al Kitab, As Sunnah, dan ijma’ generasi terdahulu dari ummat ini dan ijma’ para imam ummat ini.

Sungguh di kalangan para sahabat dan tabi’in dan generasi penerus mereka, dari mereka ada yang membaca basmalah ketika sholat, dan ada dari mereka yang tidak membacanya.

Dari mereka ada yang mengeraskan bacaan basmalah dan ada pula yang tidak mengeraskannya.

Dari mereka ada yang membaca QUNUT SUBUH, dan dari mereka ada pula yang tidak membaca qunut.

Dari mereka ada yang mengulang wudhu’ karena berbekam, mimisan, dan muntah, dan dari mereka juga ada yang tidak mengulang wudhunya karena hal hal tersbeut.

Dari mereka ada yang berwudhu kembali setiap kali menyentuh kemaluannya, menyentuh wanita dengan diringi nafsu birahi, dan dari mereka ada yang tidak mengulang wudhunya walau telah melakukan hal hal tersebut ……

Secara global, permasalahan ini ada dua kondisi:

⚉  Kondisi pertama:
Tidak diketahui apakah sang imam melakukan hal yang dapat membatalkan sholat, maka pada kondisi ini menurut kesepakatan ulama; terdahulu, dinataranya imam keempat mazhab dan lainnya, makmum boleh mendirikan sholat di belakang imam tersebut. Pada kondisi ini, di kalangan ulama’ terdahulu tidak ditemukan perbedaan pendapat.

Perbedaan pendapat baru ditemukan di kalangan sebagian kaum fanatisme dari penganut mazhab dari kalangan mutaakhirin. ……

⚉  Kondisi kedua:
Diketahui dengan meyakinkan bahwa sang imam melakukan hal yang terlarang menurut pendapat makmum, semisal menyentuh kemaluannya, atau wanita dengan diiringi nafsu birahi, berbekam, atau fashdu atau muntah, kemudian ia mendirikan sholat tanpa berwudhu kembali, maka pada kondisi ini terjadi perbedaan yang telah masyhur:

➡️ Pendapat pertama:
Sholat makmum di belakang imam tersbeut tidak sah, karena ia meyakini batalnya sholat sang Imam, ini adalah pendapat yang dianut oleh sebagian pengikut mazhab Abu Hanifah, As Syafii, dan Ahmad.

➡️ Pendapat kedua:
Sholat makmum tetap sah, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama; terdahulu, dan ini adalahmazhab Imam Malik, dan pendapat kedua di kalangan penganut mazhab As Syafii dan Ahmad, bahkan termasuk penganut mazhab Imam Abu Hanifah.

Dan kebanyak teks ucapan Imam Ahmad sejalan dengan pendapat ini.

Inilah pendapat yang benar, sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dalam shohih Al Bukhari dan lainnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam:

يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

“Para imam kalian itu memimpin kalian dalam mendirikan sholat. Bila mereka berbuat benar, maka pahalanya untuk kalian dan juga untuk mereka. Namun bila para imam berbuat salah, maka pahalanya untuk kalian, sedangkan dosa kesalahan sepenuhnya mereka yang menangungnya.”

Pada hadits ini Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kesalahan imam tidak menular kepada para makmumnya. …..

Sedangkan anggapan bahwa makmum meyakini bahwa sholat imamnya telah batal, maka ini adalah kesalahan persepsi.

Karena yang benar makmum meyakini bahwa imamnya telah melakukan ibadah sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan bahwasannya Allah akan mengampuni kesalahannya dan sholatnya tidak sertta merta menjadi batal karena amalannya tersebut.” (Majmu’ Fatawa 23/373-378)

Ini namanya manhaj salaf dalam berbeda pendapat bukan berbeda pendapatan, sehingga tetap adeeem mak nyeeeees

Selamat berekreasi di dunia fiqih yang selalu dinamis dan indah.

Semoga menyegarkan khazanah keilmuan anda.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 
.
.
ARTIKEL TERKAIT

  1. Sholat Di Belakang Imam Yang Qunut Shubuh…
  2. Apakah Makmum Ikut Mengangkat Tangan dan Mengamini Imam Qunut Shubuh..?
  3. Sumber Perbedaan Masalah Qunut Shubuh Dan Pendapat Jumhur Ulama…
  4. Masalah Khilafiyah dan Ijtihaadiyah # 3 – Perkara Khilaf Yang Tidak Boleh Dikatakan Sesat – Qunut Shubuh…
  5. Saling Menghormati Dalam Masalah Ijtihadiyah…
  6. Beda Antara Khilafiyah dan Ijtihadiyah…

Sholat Di Belakang Imam Yang Qunut Shubuh…

Anda termasuk yang tidak meyakini adanya qunut shubuh ?

Oke, itu hak anda, tapi anda tidak bisa paksakan keyakinan anda kepada orang lain, termasuk kepada buaaanyak imam imam masjid salah satunya barang kali imam masjid di komplek anda.

Lalu bagaimana dong seharusnya anda bersikap ?

Cari masjid lain ? Belum tentu ada.

Shalat sendiri ? Itu namanya kebodohan.

Gimana dong yang benar ?

Simak ulasan Imam Ibnu Taimiyyah berikut:

“Dianjurkan kepada para ma’mum untuk tetap mengikuti imamnya dalam perkara perkara yang termasuk ranah perbedaan ijtihad.

Bila imam Qunut maka ma’mum ikut qunut bersamanya, dan bila imam tidak qunut maka iapun ikut tidak berqunut bersamanya.

Karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda: 

إنما جعل الإمام ليؤتم به

“Sejatinya diadakannya imam itu untuk diikuti.”

Dan beliau juga bersabda:

لا تختلفو على أئمتكم

“Janganlah kalian menyelisihi imam imam kalian.”

Dan telah diriwayatkan pada hadits yang shohih bahwa beliau bersabda:

يصلون لكم فان أصابوا فلكم ولهم وإن أخطؤوا فلكم وعليهم

“Para imam itu memimpin kalian mendirikan sholat, bila mereka benar dalam sholatnya, maka itu membawa pahala untuk kalian dan mereka, namun bila mereka berbuat kesalahan dalam sholatnya, maka itu membawa pahala bagi kalian sedang bagi mereka, kesalahan itu membawa dosa…….”

Oleh karena itu dahulu Ibnu Mas’ud mengingkari khalifah Utsman bin Affan yang sholat genap (4 roka’at) di saat berada di Mina, kemudian ketika tiba waktu sholat, beliau tetap ikut sholat empat roka’at. Dan tatkala beliau ditanya perihal sikapnya ini, beliau menjawab: 

الخلاف شر

“Pertentangan itu buruk.”

Demikian pula sahabat Anas bin Malik tatkala ditanya tentang waktu melempar jumroh, beliau menjawab sesuai pendapatnya, kemudian ia berpesan: ‘tunaikanlah hajimu sebagaimana imammu menunaikannya”.

(Majmu’ Fatawa 23/115-116)

Pendapat serupa juga masih disuarakan oleh Syeikh Bin Baz, Bin Utsaimin, Bin Fauzan dll

Ndak percaya ? Silahkan buka tautan berikut:

https://binbaz.org.sa/old/28687

https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/17437

http://binothaimeen.net/content/10433

Wis, gitu saja, silahkan berkomentar sesuka anda, yang penting hati anda happy sehappy-happynya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

ARTIKEL TERKAIT

  1. Apakah Makmum Ikut Mengangkat Tangan dan Mengamini Imam Qunut Shubuh..?
  2. Sumber Perbedaan Masalah Qunut Shubuh Dan Pendapat Jumhur Ulama…
  3. Masalah Khilafiyah dan Ijtihaadiyah # 3 – Perkara Khilaf Yang Tidak Boleh Dikatakan Sesat – Qunut Shubuh…
  4. Saling Menghormati Dalam Masalah Ijtihadiyah…
  5. Beda Antara Khilafiyah dan Ijtihadiyah…

Jangan Dibelokkan…

Wahai ummat Islam, ingatlah kemuliaan itu hanya karena anda dekat kepada Allah, bukan karena apresiasi manusia.

Dengan taqwa anda mulia walau di mata semua manusia anda hina dina.

Dengan membela kebenaran anda mulia walau akhirnya anda harus hidup hanya sebatang kara.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Berilmu lagi Maha Mengetahui.” (al Hujurat 13)

Jadi kembali kembali ke khitthah, tegakkan taqwa di manapun anda berada dan dalam urusan apapun.

Ucapkan yang benar, amalkan yang benar, serukan yang benar, dan mohonlah pertolongan Allah untuk istiqamah di atas kebenaran walau semua ummat manusia mencibirmu atau bahkan mencincangmu.

Semoga mengobarkan semangat anda semua untuk fokus pada kebenaran bukan slogan atau omongan orang.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

Bajumu…

Bajumu baru hari ini, usang esok hari, beli lagi baju baru, besok usang lagi, demikian seterusnya.

Sepandai pandai anda merawat baju baru anda tetap saja esok manjadi usang.

Namun tahukah anda bahwa Allah kuasa untuk selalu memberimu baju baru ?!

Rosulullah shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman di dalam dadamu dapat menjadi usang bagaikan bajumu menjadi usang, karena itu mohonlah kepada Allah Ta’ala untuk senantiasa memperbaharui iman di dalam dadamu.” (At Thabrani)

Atau kalaupun anda tidak dikaruniai baju baru, maka minimal Allah Ta’ala kuasa menjadikanmu merasa cukup dengan baju anda yang telah usang sehingga tidak butuh kepada baju baru.

Apalagi faktanya di dunia ini masih sangat banyak saudara kita yang tidak kuasa beli baju baru, dan bisa jadi anda salah satunya.

Kalaupun tidak memiliki baju baru tetap saja anda harus fokus untuk menutup aurat dan melindungi tubuh anda dari panas dan dingin dengan baju anda yang tidak lagi baru lagi tersebut.

Jangan sampai karena sudah jengah dengan baju usang akhirnya anda telanjang dada apalagi sampai nekad tidak berbaju.

Semoga mencerahkan.

Ditulis oleh
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Suamimu Tak Seburuk Fir’aun…

Wahai kaum wanita, saat ini anda bisa saja berkata: ‘nasib oh nasib, punya laki kayak gini.. mimpi buruk apa ya aku dulu..?’

‘Udah duitnya seret, ngomel terus, mana ndak cakep, kentutnya bau lagi..’

Wahai kaum istri, keep calm please..

Coba untuk sejenak anda menjawab pertanyaan berikut:

Siapa yang lebih buruk, suamimu atau Fir’aun ?

Namun demikian sejelek apapun Fir’aun ternyata tidak menghalangi istrinya yaitu Asiyah bintu Muzahim menjadi wanita penghuni surga. Bahkan kisah dan ketegaran batinnya diabadikan dalam Al Qur’an.

{ وَضَرَبَ اللَّه مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَة فِرْعَوْن إِذْ قَالَتْ رَبّ ابْن لِي عِنْدك بَيْتًا فِي الْجَنَّة } 

“Dan Allah membuat isteri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Robbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zholim.” ( At Tahrim 11)

Percayalah saudari, kalau anda mendambakan kebahagiaan, percayalah bahwa kebahagian itu hanya Allah yang punya, bila anda beriman dengan baik, pasti anda bahagia, sebagaimana Asiyah bintu Muzahim bisa tetap berbahagia walau suaminya adalah manusia paling jahat di dunia.

Saudariku ! Selama anda mengharapkan kebahagiaan dari suami anda niscaya anda kecewa dan menderita.

Namun setiap kali anda fokus menunaikan tugas dan kewajiban anda sebagai istri, sedangkan hak dan kebahagian hidup anda, hanya anda pinta kepada Allah Yang Maha Kuasa, niscaya anda bahagia, siapapun suami anda.

Bila anda berkata: ‘kok bisa ya wanita sholehah dinikahi lelaki jahat seperti itu ?’

Ya.. untuk membuktikan dan menguji kekuatan iman Asiyah bintu Muzahim, karena kalau tanpa ujian, niscaya kesempurnaan iman beliau tidak terbukti.

Terlebih bagi saya dan juga anda, sehingga bisa jadi anda akan bertanya: ‘apa hebatnya dia sehingga kita dianjurkan meneladaninya dan dia dimasukkan ke dalam surga ?’

Nabi Muhammad Shollallahu ’alaihi wasallam bersabda :

“إن عظم الجزاء مع عظم البلاء ، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط ” حسنه الترمذي.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu setimpal dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya jika Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Ia akan mengujinya.

Barang siapa yang ridho dengan ujian itu maka baginya keridhoan Allah, dan barang siapa yang marah/benci kepada ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah” (At Tirmizi)

Jadi suamimu kayak gitu.. karena Allah sayang kepadamu, agar engkau bisa berjiwa besar, dan dapat pahala besar.

Selamat mencoba, semoga bahagia selalu bersamanya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى .

 

Solusi Anak Rewel Tiada Henti…

Anda punya anak kecil ? Suka rewel ? Nangis terus ?

Bisa jadi ini biangnya, simak kisahnya:

Suatu hari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah istri beliau ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha, beliau mendengar tangisan anak kecil. Segera beliau menanyakan perihal tangisan anak tersebut:

(ما لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِي ؟ هَلَّا استرقيتُم لَهُ مِنَ العينِ)أحمد وحسنه الألباني

“Mengapa bayi kalian ini menangis terus ? Tidakkah kalian meruqyahnya (membacakan do’a-do’a untuknya) agar terbebas dari pengaruh pandangan kekaguman ?” ( riwayat Ahmad dan dinyatakan hasan oleh Al Albani)

Anak itu tidak salah dan tidak berdosa, yang salah dan berdosa karena zholim ialah orang yang mengaguminya namun lupa untuk memuji Allah yang telah menciptakannya tampan, cantik, lucu, nggemesin dll.

Di saat mendapat nikmat atau memandang keindahan kemudian lupa memuji Allah bagaikan anda bisa menggerakkan tangan namun tidak peduli dengan orang sekitar, sehingga akhirnya anda memukul orang sebelah anda.

Atau anda memiliki kendaraan bagus lalu anda memacunya dengan kencang, lupa efek dari kencangnya laju kendaraan anda, bisa berdampak buruk bagi orang lain.

Betul rasa kagum, seneng, gemes dan yang lainnya adalah karunia yang Allah berikan kepada anda, sebagaimana tampan, cantik dan sehat atau lincah adalah karunia yang Allah berikan kepada anak tersebut.

Eksplorasi rasa senang anda yang tidak mengikuti norma dan kode etik yang diajarkan, ternyata mengakibatkan si kecil kehilangan kenikmatan yang dimiliki bayi tersebut.

Yuk, budayakan mengucapkan “subhanallah” atau “maasyaaAllah” atau “baarakallahu fiik”

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى.

untuk save poster bisa dari : https://t.me/bbg_alilmu 

 

Beda Amar Ma’ruf Dari Nahi Mungkar – Belajar Manhaj…

Mengamalkan yang ma’ruf harus dengan cara yang ma’ruf alias benar dan halal.

Mau punya anak ya nikah, mau sholat ya dengan cara yang benar, mau sedekah ya bekerja agar dapat penghasilan lalu sedekah.

Jangan sampai mencuri untuk sedekah atau sholat dengan sesuka hati, dan punya anak dengan cara kumpul kebo.

Dalam urusan mendapatkan kebaikan, bila anda tidak kuasa melakukannya dengan cara yang baik alias benar, maka gugurlah kewajiban tersebut, alias anda tidak perlu melakukannya, walaupun kadang kala anda harus menggantinya di lain waktu, semisal orang yang tidak kuasa puasa di bulan Ramadhan.

Dalam urusan mencegah yang mungkar, di kondisi normal juga demikian, anda harus menggunakan cara yang benar alias baik.

Namun kadang kala anda berada dalam kondiai dilematis, sehingga anda tidak bisa menjauhi kemungkaran atau kerugian dengan cara yang baik.

Kadang kala anda terpaksa harus memilih satu dari dua kerugian atau kemungkaran.

Anda tersedak makanan dan yang ada hanya khomer maka anda boleh menyelamatkan jiwa anda dengan menenggak khomer agar anda bisa kembali bernafas.

Anda kadang terpaksa harus mengoprasi perut istri anda untuk mengeluarkan anak anda yang tidak lahir normal.

Imam Ibnu Taimiyah pernah melintasi beberapa pasukan Tartar yang sedang mabok-mabok, maka beliau membiarkan mereka mabok, karena kalau mereka sadar akan membunuh ummat Islam atau memperkosa muslimah.

Kadang kala anda terpaksa naik angkot atau bis umum, KRL untuk bisa sampai ke tempat kerja, padahal penumpangnya campur baur, bisa jadi anda hanya mendapat tempat duduk di sisi gadis cantik jelita yang mengenakan celana pendek 1/3 pahanya.

Jadi manhaj salaf mengajarkan anda bijak dalam beramar ma’ruf dan bernahi mungkar, sehingga bisa membedakan antara keduanya.

Perbedaan antara kedua hal di atas adalah salah satu prinsip penting dalam manhaj salaf.

Bagi orang yang kurang jeli, apalagi malas berpikir maka keduanya bisa jadi dianggap sama, padahal tidak demikian.

Perbedaan ini dituangkan dalam kaedah ilmu fiqih:

لا واجب مع العجز ولا تحريم مع الضرورة

“Tiada hukum wajib dalam kondisi tidak berdaya dan tiada hukum haram dalam kondisi darurat.”

Semoga mencerdaskan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى 

Berbeda Namun Sejatinya Bersepakat…

⚉  ‎Imam Malik berfatwa anjing tidak najis walau jilatannya wajib dibasuh 7x dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

Mayoritas ulama’ berfatwa jilatan anjing najis besar.

⚉  ‎Imam Abu Hanifah tidak mensyaratian bacaan fatihah dalam sholat.

Mayoritas ulama menganggap bacaan fatihah sebagai rukun shalat.

Dan masih banyak lagi kasus serupa.

Mereka berbeda fatwa namun sejatinya mereka bersepakat, dalam:
1. Sumber agama mereka adalah Al Qur’an dan As Sunnah.

2. Fatwa fatwa mereka di atas dihasilkan dari kajian terhadap dalil dengan metodologi yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

3. Tidak ada unsur hawa nafsu atau argumen lain yang lebih diutamakan di atas Al Qur’an dan As Sunnah.

4. Metodologi yang mereka gunakan untuk mengkaji dalil mereka dapatkan dari ulama’ terdahulu sebelum mereka.

5. Beda pendapat tidak menumbuhkan kesombongan atau kebencian kepada ulama’ lain yang menyelisihi fatwanya. Karena yang menjadi tinjauan utama mereka adalah alasan/dalil dan metodologi masing masing dalam memahami dalil, bukan hasil akhir dari kajiannya. Sehingga dahulu di kalangan ulama’ bila terjadi perbedaan pendapat, masing masing menanyakan dalil saudaranya dengan berkata:

ما حملك على هذا ؟

“Apa dalil yang mendorongmu berpendapat/melakukan demikian ?”

Bila telah mengetahui dalil dan cara pendalilan saudaranya maka tidak dilanjutkan dengan tuduhan sesat atau lainnya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Benci Tidak Selalu Menjauhi Atau Menghukumi…

Benci tidak selalu menjauhi atau menghukumi.

Anda benci kepada kebodohan, namun bukan berarti anda harus menjauhi mereka, kadang kala anda harus mendatangi mereka untuk mengajari mereka.

Benci kepada pelaku kesyirikan sering kali menuntut anda untuk mendatangi mereka untuk mendakwahi mereka.

Namun kadang kala anda tak kuasa untuk banyak berbuat apalagi melawan, anda hanya kuasa untuk diam, karena ternyata pelaku kekufuran atau kemaksiatan tersebut adalah orang tua anda.

Atau mereka adalah masyarakat sekitar anda, sehingga anda tetap berinteraksi sosial dengan mereka.

Diam bukan berarti menyetujui, namun tetap benci.

Walaupun bisa jadi anda kuasa melakukan pengingkaran atau menunjukkan sikap, satu hal yang belum tentu kuasa dilakukan oleh orang selain anda.

Sesatkah orang yang karena suatu alasan apalagi tidak menunjukkan sikap atau kebencian dan pengingkaran ?

Bila semua itu dilakukan karena tujuan yang dibenarkan, bukan sekedar kemalasan atau kepentingan dunia semata, maka keduanya tidak layak dicela.

Bahkan kadang kala anda benci namun tetap bermanis muka demi kepentingan yang lebih besar atau menghindari kerugian yang lebih berat.

Nabi shollalahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan atau menunda keinginan untuk memugar bangunan Ka’bah demi menghindari kekacauann yang lebih berat.

Sebagaimana beliau tidak mengizinkan para sahabat untuk meng-eksekusi orang orang munafiq, demi menghindari kesan buruk terhadap Islam dan ummat Islam; tega membunuh kawan sendiri.

Jadi manhaj itu bukan produk kaku namun sebaiknya luwes dan sangat akomodir terhadap perubahan dan perbedaan kondisi, figur dan tujuan.

Semoga mencerahkan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kesyirikan Biang Suburnya Hizbiyah…

Fanatisme kepada apapun selain kebenaran, adalah bentuk nyata dari hizbiyah kepada selain Allah dan Rasul-Nya.

Bila fanatisme anda kepada guru kelewat batas, walaupun dia adalah seorang Imam semisal Imam Malik bahkan kepada seorang sahabat semisal sahabat Abu Bakar atau Umar, maka anda pasti terjerumus dalam kesyirikan.

Fanatisme anda menyebabkan anda mengutamakan pendapat dan sikap figur tersebut walau terbukti menyelisihi dalil.

Kalaupun anda tidak membela minimal anda benci kepada yang menentang pendapat atau sikap tersebut.

Inilah sejatinya kesyirikan yang sering terlupakan.

Sebagaimana gaji dan jabatan yang menyebabkan anda buta mata membela juragan anda, tanpa peduli salah atau benar, maka itulah bentuk dari kesyirikan, walaupun yang mengangkat anda sebagai pejabat adalah seorang raja apalagi sekedar seorang juragan atau pesuruh perkumpulan.

Jadi syirik itu bukan hanya urusan kuburan atau sesajian, namun syirik itu adalah sikap menduakan Allah dalam jiwa anda, yang terefleksi pada ucapan atau tindakan.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى