Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Malas Ibadah Setelah Do’a Dan Harapan Dikabulkan…

Sewaktu miskin rajin berdo’a, namun setelah kaya do’a kadang kala saja.

Di saat susah, rajin ibadah, setelah semuanya menjadi mudah, mulai banyak alasan untuk tidak beribadah.

Demikiankah kondisi anda ?

Simak pernyataan Imam Ibnu Taimiyyah berikut:
“Barang siapa meninggalkan sebagian perintah Allah setelah keinginannya dikabulkan, maka ini adalah perbuatan dosa.

Bahkan bisa jadi perubahan sikap ini adalah bentuk dari syirik kecil yang sering menimpa mayoritas manusia.”

[Majmu’ Fatawa 22/387]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

Trik Membawa Anak Kecil Ke Masjid…

Trik membawa anak kecil ke masjid agar tidak gaduh mengganggu jamaah sholat.

1️⃣ Sebelum berangkat jelaskan apa itu masjid dan bagaimana seharusnya anak bersikap di masjid.

2️⃣ jangan biarkan anak anda membawa serta atau mengantongi mainan ketika hendak berangkat ke masjid.

3️⃣ Persiapkan pakaian anak agar mengenakan pakaian untuk sholat bukan pakaian untuk bermain.

4️⃣ Sesampai di masjid, gandeng tangan anak agar ikut masuk masjid.

5️⃣ Dudukkan anak di sebelah anda.

6️⃣ Jangan biarkan anak anda duduk atau berdiri sholat di sebelah sesama anak kecil.

7️⃣ Bila anak mencuri kesempatan dan keluar dari masid atau membuat gaduh di masjid, segera cari anak anda dan gandeng kembali tangannya untuk masuk ke masjid dan duduk di sebelah anda.

8️⃣ Jangan lupa untuk kembali mengingatkan adab di masjid yang seharusnya dilakukan anak anda.

9️⃣ Ketika sholat didirikan, kondisikan agar anak ikut mendirikan sholat di sebelah anda, sehingga anda bisa mengawasi dan membimbingnya bila di tengah sholat anak anda membuat kegaduhan atau bermain.

1️⃣0️⃣ Selesai sholat lakukan evaluasi terhadap sikap anak selama di masjid, dan sampaikan hasil evaluasi anda kepada anak.

1️⃣1️⃣ Jangan lupa mengapresiasi anak bila dia bersikap baik.

1️⃣2️⃣ Kadang kala beri hadiah atau hukuman yang mendidik atas prestasi dan kegagalannya.

1️⃣3️⃣ Selalu panjatkan do’a untuk anak anda agar menjadi anak yang rajin mendirikan sholat. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja rajin berdoa untuk anaknya agar menjadi penegak sholat,

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء

“Wahai Robb-ku jadikanlah aku penegak sholat dan juga anak keturunanku, wahai Rab kami kabulkanlah do’a kami” ( Ibrahim 40 )

1️⃣4️⃣ Sering sering kisahkan cerita para ulama’ yang rajin sholat dan juga keutamaan sholat berjama’ah di masjid, termasuk keutamaan masjid.

1️⃣5️⃣ Sampaikan kepada anak anda apa impian anda tentang masa depan anak anda dengan ibadah sholat.

1️⃣6️⃣ Lakukan semua kiat di atas dengan ikhlas sebagai satu kewajiban mendidik anak.

1️⃣7️⃣ Tunaikan semua kiat di atas dengan lemah lembut.

1️⃣8️⃣ Oh iya, jangan lupa bantu menyusun kegiatan anak agar sesuai dengan jadwal sholat fardhu.

1️⃣9️⃣ Dan penting sekali anda mengoreksi diri, sudahkah anda memberi keteladanan kepada anak anda ?

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Demikian Sebagian Dari Etika Membawa Anak Ke Masjid…

Imam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

“Seharusnya masjid dijaga dari segala hal yang dapat menjadi gangguan, terutama gangguan bagi jama’ah yang mendirikan sholat di dalamnya, termasuk dari suara anak-anak yang berteriak-teriak ketika mereka berada di dalam masjid, demikian pula dari anak-anak yang mengotori tikar masjid atau mengotori bagian masjid lainnya,

Terutama bila kegaduhan mereka lakukan ketika ibadah sholat sedang berlangsung, tentu itu termasuk kemungkaran yang besar.”

[ Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 22/ 204 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Hidup Di Dunia Nyata Bukan Hidup Di Dunia Mimpi Atau “Seandainya”…

Medsos sering kali layak dianggap bagaikan dunia mimpi, atau dunia “seandainya”, karena di medsos banyak sekali kata kata indah namun tidak ada buktinya di dunia nyata.

Mungkinkah dengan dunia muya penyakit nifak (bermuka dua) merajalela ?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?” (As Shaf 2)

Apakah anda merasakan hal di atas terjadi pada diri anda ?

Bila anda merasakan hal itu, segera bertaubat dan benahi diri anda, sebelum petaka besar menimpa anda:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As Shaf 3)

Ada baiknya bila anda duduk sesaat merenungkan apa yang telah anda goreskan di lembaran lembaran medsos anda, kemudian bandingkan dengan dunia nyata anda.

Tidak perlu merasa terhina atau tertuduh, karena status ini ajakan untuk introspeksi diri, bukan untuk menghina atau membuli.

Semoga menggugah jiwa jiwa yang telah terlena oleh kebebasan di dunia maya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Haramkah Bermedsos..?

Medsos, facebook atau WA, atau IG atau lainnya hanyalah produk tekhnologi, selain dari itu adalah ulah tangan manusia termasuk ulah tangan anda.

Sama halnya dengan HP, komputer, laptop, internet, TV, dll juga produk tekhnologi.

Untuk apa anda gunakan, maka hukum produk-produk di atas dapat berubah sesuai dengan penggunaan anda.

Dengan demikian, bila anda sadar anda tidak bijak atau sadar selalu tergelincir dan mudah tergelincir dalam penyalah gunaan, maka ya segera tinggalkan semua itu. Karena bila anda tetap menggunakan, maka anda akan berlumuran dengan dosa.

Namun bila anda mampu bersikap dengan bijak, dan memanfaatkan semua itu untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat anda, maka itu semua halal bahkan berguna alias dianjurkan.

Masalah pencetus awal, atau produsen, itu bukan masalah selama pada produk tersebut tidak mengandung hal-hal yang haram, dan kalaupun mengandung hal yang haram, dapat anda non aktifkan, semisal musik, dan lainnya.

Apalagi medsos dan yang serupa tidak lagi menjadi ciri khas orang kafir atau produsennya, serupa halnya dengan baju batik, model rumah joglo, atau masakan daerah atau lainnya.

Walau semula pembuat hal-hal ini adalah nenek moyang kita yang kala itu beragama hindu atau buda atau lainnya, namun produk-produk itu terbukti bermanfaat dan tidak lagi menjadi ciri khas mereka, maka tidak mengapa anda gunakan.

Dan al hamdulillah, kini pakaian batik atau songkok hitam sudah bisa diterima dengan baik oleh teman-teman kita, sebagai bentuk keterbukaan wawasan dan kearifan dalam penerapan ilmu, walaupun semula di anggap sebagai bentuk tasyabbuh,.

Semoga mencerdaskan.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Perbedaan Pendapat…

1. ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas rodhiallahu ‘anhumaa berbeda pendapat perihal masalah akidah; apakah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah secara langsung semasa hidup beliau ?

2. ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha menentang keterangan bahwa orang yang telah meninggal dapat mendengar panggilan/ ucapan orang yang masih hidup. Dan ini tentu termasuk masalah akidah,

3. Mu’awiyah bin Abi Sufyan rodhiallahu ‘anhuma menentang perihal Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika berisra’ dan mi’raj dengan raga dan jiwanya. Padahal selain beliau meyakini bahwa Nabi diberangkatkan Isra’ dan Mi’raj lengkap dengan jiwa dan raganya .

4. Para sahabat bersilang pendapat perihal maksud sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak memerangi Bani Quraidhah: ‘janganlah sekali kali salah seorang dari kalian mendirikan sholat ‘Asar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah.’

5. dll

Walau demikian mereka tidak saling boikot atau menuduh sesat saudaranya.

Ibnu Taimiyah berkata mengomentari berbagai kejadian perbedaan di atas dan juga lainnya;

ولو كان كلما اختلف مسلمان في شيئ تهاجرا لم يبق بين المسلمين عصمة ولا أخوة.

“Andai setiap kali dua orang muslim bersilah pendapat mereka berdua selalu saling menjauh, niscaya tidak akan pernah ada hubungan dan persaudaraan antara sesama kaum muslimin.” [Majmu’ Fatawa 24/173]

Semoga menyegarkan rasa dalam dada anda.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menurut Anda dan Menurut Mereka…

Bid’ah itu menurut anda, tapi menurut mereka sunnah.

Dalilnya lemah menurut anda, namun kuat menurut mereka.

Rojih itu menurut anda, sedang menurut mereka marjuh.

Tidak sah menurut anda, namun sah menurut mereka.

Membatalkan ibadah itu menurut anda, namun tidak membatalkan menurut mereka.

Dan masih banyak lagi.

Bila perbedaan ini tidak disikapi dengan ilmu dan hikmah, niscaya terjadi kekacauan.

Perbedaan semisal terjadi pada banyak masalah, sejak dahulu kala hingga saat ini perbedaan serupa terus terjadi.

Karena perbedaan semacam inilah dahulu di Masjid Haram Makkah setiap kali sholat fardhu, ummat Islam di sana berkelompok menjadi 4 kelompok besar, ada para pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

Setiap waktu sholat tiba, Masing masing dari mereka mengumandangkan Azan dan Iqamat serta sholat berjama’ah secara bergantian.

Masing masing penganut mazhab meyakini bahwa sholat penganut mazhab lain tidak sah, mengamalkan bid’ah, atau melakukan sebagian pembatal ibadah.

Akibatnya mereka tidak mau berjama’ah di belakang penganut mazhab lain.

Bahkan sebagian penganut mazhab merasa bahwa menikahi wanita ahli kitab lebih baik dibanding menikahi wanita penganut mazhab lain.

Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya perihal hukum berjama’ah dengan penganut mazhab lain, dan beliau menjawab:

“Segala puji hanya milik Allah, betul, sebagian mereka (para penganut mazhab) boleh mendirikan sholat di belakang penganut mazhab yang lain, sebagaimana dahulu para sahabat, para penerus mereka dengan kebaikan (tabi’in) dan juga para imam sepeninggal mereka diantaranya imam keempat mazhab, sebagian mereka mendirikan sholat (berjama’ah) di belakang sebagian lainnya.

Padahal mereka bersilang pendapat dalam masalah masalah yang telah disebutkan di atas dan jga masalah masalah lainnya. Walau demikian tidak seorangpun dari ulama salaf ( terdahulu ) yang berpendapat tidak sahnya sholat di belakang sebagian lainnya.

Dan siapapun yang mengingkari fakta ini, maka itu pertanda ia adalah seorang ahli bid’ah (mubtadi’) lagi sesat, menentang Al Kitab, As Sunnah, dan ijma’ generasi terdahulu dari ummat ini dan ijma’ para imam ummat ini.

Sungguh di kalangan para sahabat dan tabi’in dan generasi penerus mereka, dari mereka ada yang membaca basmalah ketika sholat, dan ada dari mereka yang tidak membacanya.

Dari mereka ada yang mengeraskan bacaan basmalah dan ada pula yang tidak mengeraskannya.

Dari mereka ada yang membaca QUNUT SUBUH, dan dari mereka ada pula yang tidak membaca qunut.

Dari mereka ada yang mengulang wudhu’ karena berbekam, mimisan, dan muntah, dan dari mereka juga ada yang tidak mengulang wudhunya karena hal hal tersbeut.

Dari mereka ada yang berwudhu kembali setiap kali menyentuh kemaluannya, menyentuh wanita dengan diringi nafsu birahi, dan dari mereka ada yang tidak mengulang wudhunya walau telah melakukan hal hal tersebut ……

Secara global, permasalahan ini ada dua kondisi:

⚉  Kondisi pertama:
Tidak diketahui apakah sang imam melakukan hal yang dapat membatalkan sholat, maka pada kondisi ini menurut kesepakatan ulama; terdahulu, dinataranya imam keempat mazhab dan lainnya, makmum boleh mendirikan sholat di belakang imam tersebut. Pada kondisi ini, di kalangan ulama’ terdahulu tidak ditemukan perbedaan pendapat.

Perbedaan pendapat baru ditemukan di kalangan sebagian kaum fanatisme dari penganut mazhab dari kalangan mutaakhirin. ……

⚉  Kondisi kedua:
Diketahui dengan meyakinkan bahwa sang imam melakukan hal yang terlarang menurut pendapat makmum, semisal menyentuh kemaluannya, atau wanita dengan diiringi nafsu birahi, berbekam, atau fashdu atau muntah, kemudian ia mendirikan sholat tanpa berwudhu kembali, maka pada kondisi ini terjadi perbedaan yang telah masyhur:

➡️ Pendapat pertama:
Sholat makmum di belakang imam tersbeut tidak sah, karena ia meyakini batalnya sholat sang Imam, ini adalah pendapat yang dianut oleh sebagian pengikut mazhab Abu Hanifah, As Syafii, dan Ahmad.

➡️ Pendapat kedua:
Sholat makmum tetap sah, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama; terdahulu, dan ini adalahmazhab Imam Malik, dan pendapat kedua di kalangan penganut mazhab As Syafii dan Ahmad, bahkan termasuk penganut mazhab Imam Abu Hanifah.

Dan kebanyak teks ucapan Imam Ahmad sejalan dengan pendapat ini.

Inilah pendapat yang benar, sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dalam shohih Al Bukhari dan lainnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam:

يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

“Para imam kalian itu memimpin kalian dalam mendirikan sholat. Bila mereka berbuat benar, maka pahalanya untuk kalian dan juga untuk mereka. Namun bila para imam berbuat salah, maka pahalanya untuk kalian, sedangkan dosa kesalahan sepenuhnya mereka yang menangungnya.”

Pada hadits ini Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kesalahan imam tidak menular kepada para makmumnya. …..

Sedangkan anggapan bahwa makmum meyakini bahwa sholat imamnya telah batal, maka ini adalah kesalahan persepsi.

Karena yang benar makmum meyakini bahwa imamnya telah melakukan ibadah sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan bahwasannya Allah akan mengampuni kesalahannya dan sholatnya tidak sertta merta menjadi batal karena amalannya tersebut.” (Majmu’ Fatawa 23/373-378)

Ini namanya manhaj salaf dalam berbeda pendapat bukan berbeda pendapatan, sehingga tetap adeeem mak nyeeeees

Selamat berekreasi di dunia fiqih yang selalu dinamis dan indah.

Semoga menyegarkan khazanah keilmuan anda.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 
.
.
ARTIKEL TERKAIT

  1. Sholat Di Belakang Imam Yang Qunut Shubuh…
  2. Apakah Makmum Ikut Mengangkat Tangan dan Mengamini Imam Qunut Shubuh..?
  3. Sumber Perbedaan Masalah Qunut Shubuh Dan Pendapat Jumhur Ulama…
  4. Masalah Khilafiyah dan Ijtihaadiyah # 3 – Perkara Khilaf Yang Tidak Boleh Dikatakan Sesat – Qunut Shubuh…
  5. Saling Menghormati Dalam Masalah Ijtihadiyah…
  6. Beda Antara Khilafiyah dan Ijtihadiyah…

Sholat Di Belakang Imam Yang Qunut Shubuh…

Anda termasuk yang tidak meyakini adanya qunut shubuh ?

Oke, itu hak anda, tapi anda tidak bisa paksakan keyakinan anda kepada orang lain, termasuk kepada buaaanyak imam imam masjid salah satunya barang kali imam masjid di komplek anda.

Lalu bagaimana dong seharusnya anda bersikap ?

Cari masjid lain ? Belum tentu ada.

Shalat sendiri ? Itu namanya kebodohan.

Gimana dong yang benar ?

Simak ulasan Imam Ibnu Taimiyyah berikut:

“Dianjurkan kepada para ma’mum untuk tetap mengikuti imamnya dalam perkara perkara yang termasuk ranah perbedaan ijtihad.

Bila imam Qunut maka ma’mum ikut qunut bersamanya, dan bila imam tidak qunut maka iapun ikut tidak berqunut bersamanya.

Karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda: 

إنما جعل الإمام ليؤتم به

“Sejatinya diadakannya imam itu untuk diikuti.”

Dan beliau juga bersabda:

لا تختلفو على أئمتكم

“Janganlah kalian menyelisihi imam imam kalian.”

Dan telah diriwayatkan pada hadits yang shohih bahwa beliau bersabda:

يصلون لكم فان أصابوا فلكم ولهم وإن أخطؤوا فلكم وعليهم

“Para imam itu memimpin kalian mendirikan sholat, bila mereka benar dalam sholatnya, maka itu membawa pahala untuk kalian dan mereka, namun bila mereka berbuat kesalahan dalam sholatnya, maka itu membawa pahala bagi kalian sedang bagi mereka, kesalahan itu membawa dosa…….”

Oleh karena itu dahulu Ibnu Mas’ud mengingkari khalifah Utsman bin Affan yang sholat genap (4 roka’at) di saat berada di Mina, kemudian ketika tiba waktu sholat, beliau tetap ikut sholat empat roka’at. Dan tatkala beliau ditanya perihal sikapnya ini, beliau menjawab: 

الخلاف شر

“Pertentangan itu buruk.”

Demikian pula sahabat Anas bin Malik tatkala ditanya tentang waktu melempar jumroh, beliau menjawab sesuai pendapatnya, kemudian ia berpesan: ‘tunaikanlah hajimu sebagaimana imammu menunaikannya”.

(Majmu’ Fatawa 23/115-116)

Pendapat serupa juga masih disuarakan oleh Syeikh Bin Baz, Bin Utsaimin, Bin Fauzan dll

Ndak percaya ? Silahkan buka tautan berikut:

https://binbaz.org.sa/old/28687

https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/17437

http://binothaimeen.net/content/10433

Wis, gitu saja, silahkan berkomentar sesuka anda, yang penting hati anda happy sehappy-happynya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

ARTIKEL TERKAIT

  1. Apakah Makmum Ikut Mengangkat Tangan dan Mengamini Imam Qunut Shubuh..?
  2. Sumber Perbedaan Masalah Qunut Shubuh Dan Pendapat Jumhur Ulama…
  3. Masalah Khilafiyah dan Ijtihaadiyah # 3 – Perkara Khilaf Yang Tidak Boleh Dikatakan Sesat – Qunut Shubuh…
  4. Saling Menghormati Dalam Masalah Ijtihadiyah…
  5. Beda Antara Khilafiyah dan Ijtihadiyah…

Jangan Dibelokkan…

Wahai ummat Islam, ingatlah kemuliaan itu hanya karena anda dekat kepada Allah, bukan karena apresiasi manusia.

Dengan taqwa anda mulia walau di mata semua manusia anda hina dina.

Dengan membela kebenaran anda mulia walau akhirnya anda harus hidup hanya sebatang kara.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Berilmu lagi Maha Mengetahui.” (al Hujurat 13)

Jadi kembali kembali ke khitthah, tegakkan taqwa di manapun anda berada dan dalam urusan apapun.

Ucapkan yang benar, amalkan yang benar, serukan yang benar, dan mohonlah pertolongan Allah untuk istiqamah di atas kebenaran walau semua ummat manusia mencibirmu atau bahkan mencincangmu.

Semoga mengobarkan semangat anda semua untuk fokus pada kebenaran bukan slogan atau omongan orang.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

Bajumu…

Bajumu baru hari ini, usang esok hari, beli lagi baju baru, besok usang lagi, demikian seterusnya.

Sepandai pandai anda merawat baju baru anda tetap saja esok manjadi usang.

Namun tahukah anda bahwa Allah kuasa untuk selalu memberimu baju baru ?!

Rosulullah shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman di dalam dadamu dapat menjadi usang bagaikan bajumu menjadi usang, karena itu mohonlah kepada Allah Ta’ala untuk senantiasa memperbaharui iman di dalam dadamu.” (At Thabrani)

Atau kalaupun anda tidak dikaruniai baju baru, maka minimal Allah Ta’ala kuasa menjadikanmu merasa cukup dengan baju anda yang telah usang sehingga tidak butuh kepada baju baru.

Apalagi faktanya di dunia ini masih sangat banyak saudara kita yang tidak kuasa beli baju baru, dan bisa jadi anda salah satunya.

Kalaupun tidak memiliki baju baru tetap saja anda harus fokus untuk menutup aurat dan melindungi tubuh anda dari panas dan dingin dengan baju anda yang tidak lagi baru lagi tersebut.

Jangan sampai karena sudah jengah dengan baju usang akhirnya anda telanjang dada apalagi sampai nekad tidak berbaju.

Semoga mencerahkan.

Ditulis oleh
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى