Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Enak Ya..

Enak ya, kalau bisa tinggal di kampung islami, desa sunnah, kampung ulama’ dst.

Demikian gumam atau mimpi sebagian orang..
benarkah demikian ?

Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya permasalahan yang serupa, kemudian beliau menjelaskan bahwa keutamaan tinggal di satu tempat tidaklah dinilai dari kampungnya atau negerinya.

Kelebihan tinggal di suatu tempat dinilai dari apa yang bisa Anda lakukan. Bila Anda tinggal di suatu negeri atau Perkampungan yang banyak pelaku maksiat nya, atau bahkan banyak Non-muslim nya, namun anda bisa banyak berbuat kebaikan di sana ingin memerintahkan yang Ma’ruf dan melarang yang Mungkar.

Sedangkan bila anda tinggal di negeri muslim maka Anda hanya menjadi pupuk bawang tidak banyak yang bisa Anda lakukan, walaupun anda lebih nyaman hati atau anda lebih tenang, maka menurut beliau dengan tetap tinggal di negeri yang lebih banyak maksiat namun anda juga lebih banyak bisa berbuat kebaikan lebih baik dan lebih utama daripada anda tinggal di negeri Islam yang hanya sebagai pupuk bawang.

Beda halnya bila anda tidak berguna di kampung yang heterogen bahkan anda terkontaminasi negatif maka “bertiarap” dengan berpindah agar selamat itu bisa menjadi solusi bagi ketidak berdayaan anda.

Makanya Fokuslah untuk berbuat baik di mana pun anda berada, dibanding sibuk memikirkan kampung ini atau itu, negeri ini atau negeri itu.. karena nilai anda ada pada karya Anda, Bukan pada rumah Anda atau alamat kantor Anda atau kampung Anda.

Beliau lalu berdalil dengan surat Al Hujurot ayat : 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”

Dengan demikian Anda tidak mudah tertipu dengan kampung Islam atau negri sunnah atau kampung taqwa atau desa kurma atau kampung unta dan nama nama serupa lainnya, yang telah terbukti jadi jargon perdagangan yang juga terbukti indah di dengar pahit di rasa dan fakta.

[silahkan baca Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 27/39-40]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Iman Pasti Diuji, Agar Terbukti Murni Bukan Imitasi

Anda mengaku beriman ? Sudahkah anda diuji sehingga terbukti iman anda murni bukan iman imitasi ?

Adapun janji Allah Ta’ala, maka pasti benar dan sudah terbukti, berbeda dengan iman anda, karena itu jangan bermimpi menguji kebenaran janji Allah, namun bersiaplah untuk diuji kebenaran iman anda.

Kisah berikut cukup unik untuk anda renungkan, bagaimana orang beriman menjalani ujian iman.

Sahabat Abu Said Al Khudri mengisahkan,
“Suatu hari datang seorang lelaki kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata,
“Wahai Rasulullah, sejatinya saudaraku saat ini sedang menderita diare”

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْقِهِ عَسَلًا»

“Minumi ia madu”

Segera lelaki itu pergi dan menjalankan petunjuk Nabi, yaitu meminumi saudaranya madu.

Tidak selang berapa lama, ia kembali lagi menemui Rosulullah dan berkata kepadanya, “aku telah meminumkan madu kepadanya, namun ternyata diarenya malah bertambah parah”

Mendengar laporan itu, beliau kembali memerintahkannya untuk terus meminuminya madu.

Segera lelaki itu pergi dan menjalankan perintah Rosulullah, namun lagi-lagi diare sauadaranya semakin bertambah parah. Sehingga ia kembali menemui Rosulullah dan mengabarkan hal ini kepada beliau.

Mendapat laporan perihal diare saudara lelaki itu yang semakin bertampah parah, lagi-lagi Rosulullah memerintahkannya untuk meminuminya madu.

Tanpa pikir panjang atau ragu sedikitpun, lelaki itu kembali mematuhi perintah Rosulullah.

Dan lagi-lagi diare saudaranya semakin bertambah parah, hingga akhirnya untuk yang ketiga kalinya ia menyampaikan kejadian ini kepada Nabi. Dan Nabi pun kembali memerintahkannya dengan pengobatan yang sama. Dan kembali lagi diare saudara lelaki itu juga belum kunjung sembuh.

Walau sudah mencoba pengobatan ala Rosulullah untuk ketiga kalinya, namun lelaki itu tidak putus asa atau bergeming dan ragu. Ia tetap dengan yakin meminta petunjuk dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan untuk keempat kali ini, Rosulullah bersabda,

صَدَقَ اللهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ»

“Allah Maha Benar, sedangkan perut saudaramu yang tidak benar/ mengalami gangguan”

Selanjutnya Rosulullah memerintahkan lelaki itu untuk meminumkan madu kepada saudaranya, dan SUBHANALLAH, setelah minum madu empat kali, barulah diare saudara lelaki itu sembuh total.” (Muslim)

Rosulullah menyatakan bahwa Allah Maha Benar, karena Allah telah menjelaskan bahwa pada madu terdapat kesembuhan, sebagaimana ditegaskan pada ayat 69 surat An Nahl.

Demikianlah contoh nyata bagaimana seorang mukmin melatih keimanan, walau gagal tiga kali, namun tetap saja teguh dan tegar menerapkan ajaran Rosulullah, hingga akhirnya berhasil mendapatkan bukti akan kebenaran ajaran beliau.

Bagaimana dengan anda sobat ?

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Cintamu Membuka Tabir Dirimu

Berpura pura itu semua orang bisa, memperdaya manusia bisa saja anda lakukan, namun anda berpura-pura di hadapan Allah mana mungkin bisa ?

Allah Ta’ala maha mengetahui segala sesuatu, termasuk yang ada dalam hatimu.

Walau demikian, faktanya anda lebih sering merasa perlu untuk bersembunyi dari manusia karena takut ketahuan oleh mereka, dibanding bersembunyi karena takut kepada Allah Ta’ala.

Ada apa dengan dirimu kawan ?

Coba renungkan kembali ayat berikut:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ ٱللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ ٱلْقَوْلِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhoi. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan” (An-Nisa’ 4:108)

Semoga menggugah anda dari kelalaian panjang yang telah menyelimuti anda selama ini.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Berlindung Dari Kejahatan Diri

Tatkala anda selalu merasa pasti benar dan yang lain pasti selalu salah..

Tatkala anda hanya siap mengkritik orang dan sebaliknya tatkala dikiritik muka anda selalu membara..

Tatkala anda selalu bernafsu mencari salah orang lain, namun anda tiada pernah siap ditegur oleh orang lain..

Tatkala anda begitu bahagia bila merasa di atas orang lain, sedangkan di saat ada orang lain berada di atas, dada anda menjadi sesak..

Dan tatkala tatkala serupa lainnya, maka segera baca do’a khutbah al hajah, yang salah satunya memuat permohonan berikut:

وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،

“Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita”

Semoga Allah mengaruniakan cermin ke dalam jiwa anda dan sebelumnya jiwa saya juga. Amiin

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Harus Jadi Siapa Anak Saya..?

Haruskah anak anda jadi ulama ?

Tidak harus, tapi andai bisa, Maka itu luar biasa.

Haruskah anak anda menjadi saudagar ?

Tidak harus, namun andai itu menjadi kenyataan maka tentu istimewa dengan syarat selalu ingat agamanya.

Haruskah anak anda menjadi raja ?

Tidak harus, namun bila itu terlaksana maka suatu hal yang luar biasa, asalkan ia tetap menegakkan kebenaran dan membungkam kebatilan.

Namun ada satu keniscayaan yang harus anda ingat:

Andai anak anda, anak saya dan anak semua orang jadi ulama’ maka celakalah kita semua.

Andai mereka semua menjadi raja, lalu siapa yang menjadi rakyatnya?

Andai mereka semua jadi rakyat tak seorangpun mau jadi raja, maka siapa yang meminpin mereka?

Andai mereka semua jadi pengusaha lalu siapa konsumennya?

Lalu harus jadi siapa anak saya ?

Jawabannya ya tetap jadi anak anda, sehingga andalah yang bertanggung jawab mendidik dan mengarahkannya, agar menjadi anak sholeh yang berguna untuk dunia dan agamanya, baik dengan berprofesi sebagai saudagar, atau ulama’ atau raja atau pekerja atau lainnya.

Yang dibutuhkan adalah adanya kerjasama yang harmonis, masing masing menjalankan perannya sebagai bagian dari ummat Islam dengan maksimal dan jangan saling “loncat pagar” potensinya, niscaya indah dunia kita.

Semoga Allah menjadikan anak anak kita sebagai orang sholeh, amiin

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Derita Menunggu Dokter

Nunggu dokter tuh terasa lama, walau kadang kala hanya satu jam.

Pernahkah anda menunggu giliran dipanggil oleh dokter yang anda kunjungi ?

Berapa lama anda menanti panggilan darinya ?

Terasa lama bukan ? Padahal bisa jadi anda hanya menunggu satu atau dua jam, namun tetap saja membosankan, sehingga sering kali anda membuang waktu anda dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno yang teronggok di ruang tunggu, bukan hanya sekali, bahkan anda membacanya berkali kali.

Sobat, sadarkah anda bahwa sejatinya saat ini anda sedang menanti panggilan malaikat pencabut nyawa.

Sehingga bisa jadi, kini anda dilanda rasa jenuh, merasa waktu panggilan tersebut terlalu lama, sehingga anda membuang waktu anda yang hanya sekejap, untuk melakukan hal yang sia-sia, serupa dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno di ruang tunggu dokter anda.

Padahal, telah banyak bukti di sekitar anda, orang-orang yang telah lebih dahulu dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa.

Dari mereka ada yang umurnya lebih muda dari anda, bahkan terlalu muda bila dibanding dengan umur anda, dan ada pula yang lebih tua dibanding anda.

Tapi percayalah, cepat atau lambat, andapun akan mendapat giliran untuk dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa.

Sudahkah anda mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadirannya ?

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

 

Cintailah Mereka.. Agar Engkau Bersama Mereka Kelak Di Surga

‏Sahabat Anas bin Malik mengisahkan bahwasanya ada seorang arab badui bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat seraya berkata: “Wahai Rosulullah, kapan hari kiamat datang ?”

‏Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apakah yang engkau persiapkan untuk menghadapi hari kiamat ?”

‏Lelaki itu berkata: “Aku tidak membekali diri dengan banyak sholat, puasa, dan sedekah, tiada persiapan spesial kecuali aku mencintai Allah dan Rosul-Nya”

‏Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”

‏Sahabat Anas berkomentar, lalu kami berkata, “Apakah kami juga demikian ?”

‏Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ya”

‏Seusai menyampaikan riwayat ini, sahabat Anas berkata: “Maka kamipun sangat gembira”

‏Selanjutnya sahabat Anas berkata : “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap, kelak aku dipersatukan bersama mereka meskipun aku tidak kuasa beramal sebagaimana amal sholeh mereka” [Bukhari dan Muslim]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kemana Kan Ku Langkahkan Kaki Ini..?

Sahabatku semua, mau kemana engkau melangkah pagi ini ?

Ke pasar berbelanja ?

Ke kantor berkarya ?

Ke taman berwisata ?

Ke istana berfoya foya ?

Ke masjid untuk bersujud kepada-Nya ?

Semua itu terserah kepada anda, namun sadarkah anda bahwa kemanapun engkau kayuhkan langkah kakimu, percayalah bahwa malaikat maut siap menjemputmu di manapun anda berada.

Bisa jadi langkah demi langkahmu ke tempat yang engkau tuju, sejatinya hanya untuk mengantarkan nyawamu kepadanya yang telah menantimu di sana ?

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا قضى الله لعبد أن يموت بأرض جعل له إليها حاجة أو قال بها حاجة

“Bila Allah menentukan seorang hamba mati di suatu negri, maka Allah menjadikan pada diri hamba-Nya itu rasa perlu atau keinginan untuk mendatangi tempat tersebut.” (At Tirmizy dan lainnya.)

Segerakan taubat, persiapkan bekalmu di akhirat, semoga menyegarkan pagimu sobat.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Apa Karyamu Pagi Ini Sobat..?

Apa karyamu pagi ini sobat..?

Hidupmu adalah rangkaian dari hari, jam, menit, dan detik yang engkau lalui..

untuk apakah harimu engkau lalui..?
dan untuk apakah jam, menit, dan detikmu engkau gunakan..?

Apapun yang kau lakukan, sejatinya engkau telah menukarkan hidupmu dengannya.

Beruntungkah engkau yang telah menghabiskan hidupmu untuk mendapatkan apa yang ada dalam genggamanmu saat ini..?

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا
[رواه مسلم]

“Di Setiap pagi, setiap manusia menjual dirinya, apakah ia akan memerdekakan dirinya atau akan membinasakannya.” (HR. Muslim)

Percayalah apapun yang kau dapatkan hari ini semuanya akan kau tinggalkan pada hari esok, kecuali amal Ibadah-ibadahmu..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

NIKMAT Perusak Kenikmatan

Sobat ! Sadarkah anda bahwa setiap nikmat yang anda dapatkan menghancurkan nikmat lain yang lebih dahulu anda dapatkan ?

Ingat di saat anda memiliki sepeda ? Nikmat sepeda menjadikan anda lupa akan nikmat bisa berjalan kaki.

Selanjutnya, nikmat memiliki kendaraan menyebabkan anda lupa dan bahkan meremehkan nikmat bersepeda.

Nikmat makan sate menjadikan anda lupa dan bahkan meremehkan nikmat makan tempe.

Nikmat memiliki apartemen mewah menyebabkan anda memandang sebelah mata nikmat rumah tipe SS.

Sebaliknya juga demikian setiap derita menyebabkan anda lupa akan derita sebelumnya yang lebih ringan.

Di saat anda memiliki kendaraan butut, mungkin anda merasa menderita. Namun ternyata derita ini terlupakan ketika anda ditimpa derita lain semisal derita lumpuh atau derita menanti kendaraan umum ynang tak kunjung datang sedangkan hujan lebat mulai membasahi tubuh anda .

Di saat makan berlaukkan tempe penyet, mungkin anda merasa menderita karena melihat orang lain mampu membeli dan menikmati sate.

Namun demikian derita ini sekejap akan terlupakan disaat anda benar benar kelaparan namun tidak mendapatkan makanan apapun, walau hanya sepotong tempe.

Karena itu jadilah orang yang selalu cerdas dalam menyikapi setiap keadaan yang menimpa anda. Di saat mendapat kenikmatan maka lihatlah orang yang ada dibawah anda, agar nikmat yang anda dapatkan semakin terasa nikmat dan tidak menghapuskan nikmat sebelumnya.

Dan sebaliknya, disaat ditimpa kesusahan juga demikian, lihatlah orang yang lebih susah dibanding anda agar kesusahan itu berubah dan terasa nikmatnya.

Inilah kunci hidup bahagia, sederhana bukan ?

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da2203151404