Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Tawakkal Tuh Susahnya Minta Ampun…

Tawakkal tuh susahnya minta ampun.

Memahami konsepnya saja seakan rumit, apalagi prakteknya, demikian kata sebagian orang.

Betul demikian, karena tawakkal itu adalah salah satu tingkatan iman yang cukup tinggi.

Bila anda dan demikian juga saya merasa berat, itu bukti bahwa iman kita masih terlalu rendah, sekedar memahaminya saja susah, apalagi menerapkannya.

Bagaikan anak TK diminta mengangkat beban seberat 70 Kg, wajar bila dia merasa susah, berat bahkan mustahil bisa melakukannya.

⚉  Tawakkal itu berarti percaya sepenuhnya bahwa semua urusan telah Allah tentukan, sehingga tidak perlau galau memikirkan hari esok.

⚉  Tawakkal juga berarti berserah diri, sehingga selalu puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya.

⚉  Tawakkal juga berarti selalu berbaik sangka bahwa apa yang Allah berikan pasti lebih baik dibanding apa yang ia inginkan.

⚉  Tawakkal berarti meyakini bahwa tiada daya atau upaya yang dapat menolak kehendak Allah. Apapun yang Allah kehendaki pasti terlaksana dan apapun yang tidak Allah kehendaki pasti tiada mungkin dapat terwujud.

⚉  Tawakkal berarti selalu optimis, ulet, dan kerja keras, dalam segala kondisi dan dalam segala urusan, karena tiada yang mustahil bagi Allah bila telah menghendakinya.

⚉  Tawakkal berarti selalu mencukupkan diri dengan yang halal, dan menjauhi yang haram, karena rejeki tiada akan pernah lari dikejar, dan juga tiada pernah ketingalan walau terlupakan.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى 

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Berikut ini adalah kumpulan artikel terkait masalh Riba yang pernah di posting di portal ini. Semoga bermanfaat.

  1. Seuntai Nasehat : RIBA !!!
  2. Paham Riba Tapi Kenapa Masih Kerja Di Bank..?
  3. Dana Riba… Mengapa Dikumpulkan dan Dimanfa’atkan..?
  4. Dapat Hadiah Dari Orang Yang Bisnisnya RIBA, Ditolak..?
  5. Kerja Di Tempat RIBA Tapi Kenapa Do’a Di Kabulkan..?!
  6. Bagi Yang Masih Menikmati Atau Berkecimpung Di Dunia RIBA…
  7. Riba Fadhl… Meluruskan Pesan Berantai… (RALAT)
  8. Tentang Menerima Makanan Dari Orang Yang Bekerja Di Bisnis RIBA…
  9. Lebih Besar Dari Riba…
  10. Riba, Zinah, Penyebar Issue, Penceramah Yang Tidak Mengamalkan Ilmunya, dll… Diantara Penyebab Adzab Kubur #3
  11. Hasil Akhir Pemakan RIBA…
  12. Laknat Bagi Para Pendukung Riba…
  13. Pekerjaan Haram Dan Tidak Mampu Beribadah Dengan Semestinya…
  14. Transaksi Riba (Giro Diuangkan Dimuka)…
  15. Penyaluran Harta Riba Untuk Cat Tembok Rumah…
  16. Bolehkah Beribadah Di Masjid Yang Dibangun Dengan Uang Haram..?
  17. Membayar Hutang Ribawi Dengan Hutang Ribawi Juga…
  18. Apakah Dana Pensiun PNS Riba..?
  19. Ikut Pergi Dengan Teman Yang Bekerja Di Bank Ribawi…
  20. Terlilit Hutang Riba…
  21. Membuat Aplikasi Yang Dipakai Bank Ribawi…
  22. Bonus Dari Keuntungan Riba…
  23. Bekerja Di Toko Yang Melakukan Transaksi Riba Dengan Bank…
  24. ….

Benarkah Yang Diam Selalu Lebih Selamat Dibanding Yang Berbicara..?

Benarkah yang diam selalu lebih selamat dibanding yang berbicara?

Simak jawabannya pada penjelasan Imam Ibnu Al Qayyim berikut ini:

“Pada lisan manusia terdapat dua petaka besar, bila engkau terhindar dari satunya, sering kali engkau tidak dapat terhindar dari yang lainnya:
1. Petaka berbicara
2. Petaka diam.

Dan bisa jadi ada saatnya, dosa masing masing dari keduanya lebih berat dibanding dosa yang lainnya.

Orang yang diam membisu sehingga tidak menyampaikan kebenaran, bila ia tidak sedang dalam kondisi takut akan keselamatan dirinya, maka ia adalah setan bisu dan pelaku maksiat kepada Allah, riya’ lagi penjilat .

Sedangkan orang yang berbicara dengan kebatilan maka ia adalah setan crewet, dan pelaku maksiat kepada Allah.

(Ad Daaú wa Ad Dawa’ oleh Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah 70)

Edisi berlatih bijak nan cerdas

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Apa Bedanya..?

Beli lipstik mahal mahal tapi lupa menikah hingga menjadi tua bangka.

Apa bedanya ? Tahun baru, hari baru, pekan baru, bulan baru, windu baru, dasawarsa baru, abad baru dan lainnya ?

Semuanya sama, yang beda adalah amal dan perilaku anda.

Tahun terus berganti, dahulu Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan lainnya juga mengalami pergantian tahun, namun apalah arti semua itu kalau ternyata pergantian tahun hanya menjadi saksi akan kejahatan dan kesesatan anda, sebagaimana telah menjadi saksi atas kejahatan mereka ?

Namun sebaliknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, imam Malik, Syafi’i, dan lainnya, kini tidak lagi bisa menyaksikan pergantian tahun baru, tetapi amal, ilmu dan jasa mereka terus terukir dan dinikmati seluruh ummat Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan itulah hari hari (kemenangan dan kekalahan) yang Kami putar diantara manusia agar Allah membedakan antara orang orang yang beriman (dari yang lainnya) dan menjadikan sebagian kalian gugur syahid, sedangkan Allah tiada mencintai orang orang yang bertundak lalim.” (Ali Imran 140)

Orang yang gegap gempita merayakan malam tahun baru, dengan penuh hura-hura, bahkan maksiat, lupa akan ibadah dan amalan kebajikan dirinya, bagaikan orang yang terperdaya dengan kulit durian, lupa dengan isinya.

Atau bagaikan orang yang girang mendapatkan lipstik namun lupa untuk menikahi si gadis idamannya, sehingga lipstik itu terbengkalai tiada arti, dan hanya menjadi onggokan sampah yang mengotori rumahnya.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Ganti Nama Setelah Hijrah..??

Namaku : Bejo, Untung, Joko, Riyadi, Bunga, Melati, ….. haruskah diganti ?

Sebagian orang karena merasa risih dengan namanya yang dianggapnya “tidak islamy”. Alasannya nama tersebut diambil dari bahasa Jawa, atau Sunda, atau latin atau lainnya, seperti contoh di atas.

Ada yang akhirnya mengganti nama dan kemudian nama barunya disebut dengan “Nama Hijrah”, sedangkan nama semula, entah apa disebutnya, bisa jadi dianggapnya “Nama Jahiliyah”.

Ada pula yang akhirnya menyembunyikan namanya dan mencukupkan diri kunyah, yaitu menggunakan “Abu” atau “Ibnu” atau “Ummu” atau “Bintu”.

Padahal sebatas yang saya ketahui, tidak ada dalil yang mengharuskan penggunaan bahasa arab, atau bahasa lainnya dalam urusan nama.

Yang penting kandungan maknanya baik, semisal “Untung, Bejo, Joko, Riyadi, Bunga, Mawar, Melati” dan lainnya.

Bahkan mencukupkan diri dengan kunyah tanpa menyebutkan nama, adalah tindakan yang menyimpang, karena tanda pengenal utama adalah nama, bukan kunyah.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Istri dan Suami Idaman…

Istri idaman istri yang bertauhid, bukan yang musyrik, sebaliknya juga demikian.

Ketika Hajar beserta putranya yang masih bayi yaitu Ismail ‘alaihimaassalam, ditinggalkan oleh sang suami sekaligus sang ayah yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, di satu lembah tak berpenghuni dan juga tidak nampak ada tanda tanda sumber kehidupan.

Hajar ‘alaihassalam tiada bertanya, ke mana ia bisa belanja, atau memetik buah buahan, atau tanaman, tetapi ia bertanya:

“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini (meninggalkan mereka berdua di lembah Makkah) ?”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab: “Betul.”

Segera Hajar ‘alaihassalam menimpali jawaban suaminya dengan berkata: 

إذن لا يضيعنا

“BIla demikian, niscaya Allah tiada mungkin menyia-nyiakan kami.” (Bukhari dan lainnya)

Kisah ini begitu indah dan begitu dalam menyimpan nilai nilai tauhid.

Walau, keduanya beriman, bertawakkal, dan berserah diri kepada Allah Ta’ala, namun demikian, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah berada di tempat yang lumayan jauh, sehingga tidak lagi nampak oleh sang istri Hajar ‘alaihassalam, beliau segera berdo’a, memohonkan :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim 37)

Dan sebaliknya, Hajar ‘alaihassalam juga tidak berpangku tangan, setelah merasa kehausan, beliau berusaha mencari air, berlari ke sana dan ke mari, sekali gagal, tiada putus asa, diulang lagi hingga tujuh kali.

Ada yang unik, beliau mengulang pencarian di tempat yang sama berkali-kali, padahal setiap kali berlari dari bukit Sofa ke Marwah, beliau tidak menemukan ada tanda tanda kehidupan atau pertolongan.

Namun demikian, beliau tiada berputus asa, tetap optimis dengan ucapannya di atas, bahwa Allah tiada menyia-nyiakannya.

Bisa jadi anda merasa gagal, atau usaha yang anda lakukan sudah terbukti berkali kali gagal, namun tidak sepatutnya anda pesimis.

Dan ada yang unik pula, dalam kondisi ini, Hajar ‘alaihassalam dihadapkan pada dua pilihan berat: 
1. Menunggui putranya agar tidak diserang burung elang, atau nasar, atau srigala atau hewan lainnya.

2. Mencari air minum yang sangat urgen bagi kelangsungan hidup dirinya dan juga putranya tercinta.

Mungkin anda akan berkata: idealnya beliau membawa serta sang putra berlari ke sana dan ke sini, sambil mencari air minum, tetapi itu tidak beliau lakukan, karena pilihan ini tentu sangat memberatkan langkahnya mencari air, atau bisa jadi tidak kuasa beliau lakukan, karena beliau memulai mencari air setelah kehausan .

👉🏼   Demikianlah hidup, sering kali kita terpaksa memilih pilihan yang pahit, namun orang bijak dengan izin Allah dapat menentukan pilihan yang tepat, yaitu memilih yang lebih ringan resikonya dan paling kuasa ia lakukan dibanding pilihan lain yang lebih berat resiko dan lebih susah untuk dia kerjakan.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Kehilangan Kewarganegaraan…

Di setiap negara, ada saja alasan alasan seseorang dinyatakan kehilangan kewarganegaraannya. Bila alasan alasanitu telah terjadi, walau negara itu adalah tanah kelahiran anda, namun tetap saja anda akan dinyatakan kehilangan kewarganegaraan.

Berikut beberapa alasan anda kehilangan kewarganegaraan Indonesia :
1. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri.
2. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin Presiden
3. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut.
4. dst.

Jadi adanya alasan alasan anda dinyatakan kehilangan kewarganegaraan adalah satu hal yang nyata.

Bila hal ini terjadi pada status anda sebagai warga negara, maka demikian pula dengan status keislaman anda. Bisa saja anda dinayatakan kehilangan status sebagai seorang muslim bila anda telah melakukan tindakan yang secara nyata menyebabkan keislaman anda gugur, alias murtad.

Diantara alasan alasan tersebut ialah anda dengan suka rela menyatakan kepindahan agama anda, dari islam ke agama lain.

Atau anda melakukan dengan sadar tindakan yang nyata nyata menodai kesucian agama anda, semisal mencaci maki Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, atau memperolok olok ajaran-Nya.

Atau anda menyatakan bahwa tiada lagi ada beda antara beragama Islam dengan agama lain, semuanya sama, dan masih banyak lagi alasan seseorang dinyatakan kehilangan status agamanya.

Dua fakta di atas nyata, dan tidak termasuk dari radikalisme pikiran atau sikap. Akan tetapi bentuk dari menjaga kedaulatan negara dan agama.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Buah Cantik…

Buah cantik, tahukah anda buah apa itu ?

Itulah buah hati,

Ketika anda mendapat karunia berupa seorang putri, atau bahkan lebih maka mereka itulah buah manis, nan cantik.

Anda mau tahu seberapa manis buah hati anda yang selalu nampak cantik jelita di mata anda ?

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ

“Siapapun yang merawat dua anak wanita hingga keduanya menjadi dewasa, maka kelak di hari qiyamat ia akan dibangkitkan bersamaku. Kemudian Nabi shollallahu ‘álaihi wa sallam merapatkan jari jemarinya.”
(Muslim)

Pada riwayat lain beliau bersabda:

مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Siapapun yang diuji dengan mendapat kepercayaan berupa anak-anak wanita, kemudian ia bersikap sebaik mungkin kepada mereka, niscaya kelak mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka.”
(Muslim)

Bagaimana sobat!
betapa cantiknya buah hati tersebut, di dunia hingga di akhirat.

Ya Allah, lindungi putra putri kami dan jadikan mereka penyejuk hati kami di dunia hingga di akhirat, amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Se-Iya & SeKata…

Keharmonisan satu hubungan persahabatan atau rumah tangga sering kali diungkapkan dengan sebutan: Se-IYA dan SeKATA.

Indah dan bahagia bila gambaran tersebut benar-benar dapat terwujud. Rumah tangga senantiasa sejuk nan harmonis dan persahabatanpun terus terjalin dengan erat.

Namun demikian, pernahkah anda bertanya: siapakah yang bisa selalu se-iya dan sekata ? Adakah wanita yang bisa selalu se-iya dan sekata dengan anda ? Dan adakah lelaki yang selalu bisa se-iya dan sekata dengan anda ?

Sobat! Ketahuilah bahwa sejatinya keharmonisan rumah tangga hanya dapat dirasakan seutuhnya di saat terjadi perbedaan bukan di saat sedang sependapat sehingga se-iya dan sekata.

Demikian juga halnya dengan persahabatan yang sejati, hanya terbukti di saat terjadi perbedaan keinginan dan pendapat.

Tatkala terjadi perbedaan pandangan dan silang keinginan, anda mampu menahan emosi dan tetap menjaga keharmonisan dan kebersamaan maka itulah keharmonisan sejati bukan semu atau manis di bibir semata.

Bukan hanya menahan emosi bahkan dengan kebesaran jiwa, anda mengalah dan menuruti keinginan pasangan anda tentu keharmonisan semakin terasa indah.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Pergaulilah istri istri kalian dengan baik, karena sejatinya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk paling bengkok ialah yang paling atas. Bila engkau hendak meluruskannya niscaya engkau mematahkannya. Dan bila engkau membiarkannya maka ia akan terus bengkok, maka pergauilah istri-istri kalian dengan sebaik mungkin.” (Muttafaqun alaih)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

 

da2705142259

Ada Apa Dengan Menyukai QS Yusuf Melebihi Surat Lainnya..?

Anda suka mendengar Surat Yusuf melebihi surat lainnya ?

Bila betul demikian, simak penjelasan Imam Ibnu Timiyah berikut:

Sebagian orang dan juga wanita ada yang senang mendengarkan surat Yusuf, dikarenakan pada surat Yusuf dibawakan cerita tentang asmara dan hal-hal yang terkait dengannya.

Ia mencintai surat Yusuf dibanding surat lainnya dikenakan di dalam dirinya ada asmara yang membara dan kecenderungan untuk berbuat keji ( zina). Sampai-sampai sebagian mereka berusaha dengan sungguh sungguh untuk sering memperdengarkan surat tersebut kepada kaum wanita atau lainnya, dikarenakan pada diri mereka terdapat kecenderungan kepada perbuatan buruk, mereka begitu antusias untuk hal itu.

Di saat yang sama, mereka tidak senang untuk mendengarkan kandungan surat An Nur yang menjelaskan tentang hukuman dan larangan dari perbuatan keji (zina).”

(majmmu’ fatawa ibnu Taimiyyah 15/335)

Ayo jujur saja…

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى