Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Di Mana Allah..?

Yang kemaren, membangga-banggakan sanad ilmunya sampai kepada Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- ..

.
=============
.
Ternyata setelah diteliti (khususnya dalam masalah dimana Allah..?), paling tinggi sanad mereka sampai kepada generasi awal muktazilah .. tidak ada dari kaum muslimin sebelum itu yang mengatakan bahwa Allah tidak bertempat seperti yang mereka katakan hingga saat ini.

Sebaliknya ustadz-ustadz yang mereka juluki wahabi, bisa menyebutkan silsilah akidah itu hingga generasi Tabi’ut tabi’in, Tabiin, bahkan generasi Sahabat -rodhiallahu ‘anhum ajma’in- .. dan para Sahabat tidaklah mungkin mengambil akidah itu, melainkan dari Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam-.

Silahkan mereka membantah hakekat yang lebih terang dari sinar matahari ini !

Bahkan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari yang mereka bangga-banggakan pun menjadi salah satu ulama yang menjadi “musuh” mereka dalam akidah ini, ternyata beliau sendiri juga meyakini bahwa Allah itu berada di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya .. bahkan beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan semua ulama) di zaman dahulu dalam masalah ini.

Jika keadaannya demikian, masih pantaskah akidah itu dipegang teguh .. apalagi akidah bahwa Allah ada dimana-mana .. apalagi akidah bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya !

Semoga Allah selalu membimbing kita semua kepada jalan yang lurus, jalan-Nya Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau -rodhiallahu ‘anhum ajma’in- .. itulah akidah Ahlussunnah Waljama’ah yang sebenarnya.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bisnis PALING Menguntungkan Yang Banyak DILALAIKAN..!

Sebagaimana kita tahu dalam rumus dasar bisnis; gunakanlah modal semurah mungkin untuk meraih keuntungan sebesar mungkin.

Tahukah Anda, bahwa ternyata hal itu sangat mudah kita lakukan dalam kehidupan ini.

Sadarkah Anda bahwa dunia SANGAT murah di mata Allah.. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Seandainya dunia ini sama nilainya di sisi Allah dengan SAYAP NYAMUK, tentu Allah tidak akan memberi seorang kafir pun minuman walaupun HANYA seteguk.”

Camkanlah, betapa kecilnya ‘sayap nyamuk’, dan dunia lebih sedikit nilainya dari itu.

Sebaliknya surga Allah itu sangat mahal, sebagaimana sabdanya:

“Ingatlah, bahwa barang DAGANGAN Allah itu MAHAL. Ingatlah bahwa barang dagangan Allah itu SURGA.”

Beliau juga menyabdakan:

“Sungguh, ‘tempat cambuk’ salah seorang dari kalian di surga, itu lebih baik dari DUNIA SEISINYA.”

Dan membeli kehidupan AKHERAT (surga) yang sangat mahal tersebut dengan modal kehidupan DUNIA yang sangat murah merupakan BISNIS yang paling menguntungkan yang dilalaikan banyak orang.

Banyak orang melewatkan kesempatan emas ini dalam hidupnya, apakah Anda juga ingin melewatkan kesempatan tersebut ? Saya yakin Anda tidak akan mengikuti mereka.

Oleh karenanya, mulailah dari sekarang untuk berusaha menggunakan SEMUA kenikmatan yang ada pada Anda untuk membeli kenikmatan akherat… tentunya dengan tetap melandasi setiap amalan dengan IKHLAS dan mengikuti SUNNAH Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.

Semoga taufiq Allah selalu menyertai kita… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0107140605

Pantaskah..?

Imam Syafi’i -rohimahullah- wafat 204 H, sedangkan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari baru lahir 294 H .. ya 90 tahun setelah Imam Syafi’i wafat.. Kemudian ada akidah yang disandarkan kepada Imam Asy’ari.

Kalau akidah keduanya sama, pantaskan Imam Syafi’i dikatakan berakidah Asy’ari..?! Bahkan pantaskah kita katakan, Imam Asy’ari lebih alim tentang akidah dan kaidah yang berkaitan dengannya melebihi Imam Syafii..?!

Tidaklah seseorang terkenal dengan julukan tertentu dalam akidah .. kecuali ada perbedaan antara dirinya dengan yang lainnya .. sebagaimana tidak dikatakan syiah, kecuali ada yang berbeda dengan yang lainnya, tidaklah dikatakan muktazilah kecuali ada yang berbeda dengan yang lainnya .. dst.

Kalau tidak ada bedanya dengan golongan Ahlussunnah yang sudah dikenal di zaman Sahabat, maka tentunya tidak perlu ada nama khusus untuk akidahnya..Jika akidah Asy’ari berbeda dengan akidah Imam Syafi’i, dan Imam Syafi’i lebih alim daripada Imam Asy’ari baik dari sisi fikih maupun akidah .. pantaskah kita memilih akidah Asy’ari dan meninggalkan akidah Imam Syafii, yakni akidah Ahlussunnah waljama’ah yang namanya sudah familiar sejak zaman Sahabat..?

Tentunya tidak pantas !

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hati Yang Bening

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia… Dialah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendo’akannya agar diberkahi.”

Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri sholihah, keturunan yang baik), saya mendo’akan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’“.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiapkali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga Dia menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiapkali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudoakan dia agar mendapat hidayah”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Robb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zholim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu.

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.

Suatu malam, Hasan Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang men-zholimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d… Sungguh, malam ini aku mendengar engkau berdo’a untuk kebaikan orang yang men-zholimimu, sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang men-zholimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya ?
Beliau menjawab: “Firman Allah (yang artinya):

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah”. [Q.S. Asy-Syuuro: 40].

[Kitab Syarah Shohih Bukhori, karya Ibnu Baththol, 6/575-576]

Sungguh, itulah hati yang dijadikan sholih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka.

Janganlah engkau bersedih meratapi kebaikanmu. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.

Hidup kita ini bagai bunga mawar. Padanya terdapat keindahan yang membuat kita bahagia, namun padanya juga terdapat duri yang menyakiti kita.

Apapun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah !

Sebaliknya apapun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu!

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya. Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan.

[Terjemahan dari status berbahasa arab].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

 

da0509150030

Orang Baik Bukan Berarti Bebas Cobaan…

Jika Anda telah berusaha mendekat kepada Allah dan sesuai Sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bukan berarti UJIAN, cobaan, dan musibah tidak akan menimpa.

Jika sudah demikian, lalu ujian musibah menimpa, maka tetaplah teguh, dan BERBAIK SANGKALAH kepada Allah. Ingat selalu firman-Nya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ TANPA diuji ?!

Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta”. [Al-Ankabut: 2-3].

Ingat pula Sabda Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-:

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik (setelahnya), lalu orang yang paling baik (setelahnya).

Maka siapa yang agamanya berbobot, cobaannya juga berat. Siapa yang agamanya lemah, cobaannya juga ringan.

Dan sungguh seseorang akan terus ditimpa cobaan, hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa dosa sedikitpun”. [Shohihul Jami: 993].

Jangan lupa juga perkataan Syeikh Abdul Qodir Jaelani -rohimahulloh-:

“Wahai anak kecilku, sungguh musibah itu datang BUKAN untuk membinasakanmu, namun dia datang untuk menguji kesabaran dan imanmu.

Wahai anak kecilku, cobaan itu (ibarat) hewan buas, dan hewan buas itu tidak mau memangsa bangkai”. [Zadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim, 4/178].

Oleh karena itu, semakin tinggi agama kita, semakin kita butuh berdoa untuk keteguhan iman kita, sebagaimana dicontohkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam.

Ummu Salamah -isteri beliau- mengatakan: Dahulu doa Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- yang paling banyak adalah:

يا مقلب القلوب, ثبت قلبي على دينك

Wahai Yang membolak-balikkan hati, TEGUHKANLAH hatiku di atas agamaMu”. [HR. Tirmidzi: 3522, disahihkan oleh Syeikh Albani].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da271214

Kalau Haditsnya Sudah Tidak Valid

Kalau haditsnya sudah tidak valid, maka tinggalkanlah…
begitulah pendapat Imam Syafi’i -rohimahullah-.

=====

Beliau mengatakan:

“Kesimpulan masalah ini, bahwa hadits tidak boleh diterima, kecuali hadits yang valid.

Sebagaimana para saksi tidak boleh diterima persaksiannya kecuali orang yang telah diketahui keadilannya.

Maka apabila haditsnya “tidak diketahui”, atau orang yang membawakannya “dibenci”; maka seakan hadits itu tidak pernah ada, karena hadits itu tidak valid.”

[Kitab: Ikhtilaful Hadits 10/41].
——–

Sungguh, penjelasan yang sangat jelas dan tegas dalam menyikapi hadits yang lemah… Terus terang, penulis sangat takjub dengan perkataan beliau, bahwa hadits yang tidak valid itu seakan tidak pernah ada sama sekali !!

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

da2108162139

Berlomba-lombalah Untuk Mendapatkan UMUR KEDUA Anda…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Sesungguhnya seorang ulama bila telah menanamkan ilmunya kepada orang lain, lalu dia meninggal, maka pahalanya tetap akan mengalir serta nama baiknya akan tetap dikenang.

Itulah UMUR KEDUA dan kehidupan lain baginya, dan itulah perkara yang paling pantas untuk dijadikan ajang saling berlomba untuk mendapatkannya dan meraihnya.”

[Kitab: Miftahu Daris Sa’adah, Ibnul Qoyyim, 1/148].

———

Sungguh betapa mulia ilmu agama ini, namun sungguh mengherankan kenyataan sedikitnya orang yang semangat dalam mencari, mengamalkan, dan menyebarkannya… Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

da2012141607

Serba-Serbi DZULHIJJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Di Bulan Dzulhijjah…

Untuk memudahkan pencarian, berikut adalah daftar SERBA SERBI DZULHIJJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Di Bulan Dzulhijah yang pernah kami posting dari beragai sumber.

SERBA SERBI DZULHIJJAH – Daftar Isi LENGKAP

  1. Larangan Mencukur Bagi Yang Hendak Berkurban… 
  2. Amalan Apa Saja Di Awal Bulan Dzulhijjah… (audio) 
  3. Lebih Utama… 
  4. Berkurban ? Ah, Sayang Uangnya..!
  5. Bolehkah Kurban Atas Nama Organisasi..?
  6. Kurban Giliran Dalam Keluarga…
  7. Kurban Atas Nama Istri Karena Niat Berkurban Tapi Dari Uang Suami, Siapa Yang Tidak Potong Rambut dan Kuku..?
  8. Ingin Kurban Tapi Masih Punya Hutang…
  9. Peringatan Bagi Yang Akan Ber-Kurban Termasuk Panitia Kurban… (audio)
  10. Pahala Kurban Untuk Siapa Saja..? (audio) 
  11. Bolehkah Suami dan Istri Sama-Sama Berkurban..? (audio)
  12. Apakah Boleh Menyatukan Niat Aqiqah Dengan Niat Ber-Kurban…?? (audio)
  13. Sunnah Yang Terlupakan Di Hari-Hari Awal Dzulhijjah… 
  14. Berkurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal… (audio)
  15. E-Book Panduan Kurban Praktis…
  16. Rancu Antara Batas Iuran dan Batas Pahala per Hewan Kurban… (audio)
  17. Takbir Di Hari-Hari Awal Dzulhijjah… 
  18. Beredarnya Hadits PALSU Terkait Keutamaan 10 HARI PERTAMA Bulan DZUL-HIJJAH… 
  19. Hadits Dhoif Seputar Dzulhijjah… 
  20. Tentang Derajat Hadits Puasa Tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah… (audio)
  21. Jangan Dekati Masjid Kami..!! 
  22. Bolehkah Puasa Arafah Dan Puasa Awal Dzulhijjah Namun Masih Memiliki Utang Puasa..? 
  23. Belasan Jam Untuk 2 Tahun… 
  24. Hari Arofah… 
  25. Daging Kurban Tercampur…
  26. Amalan di Hari-Hari Tasyrik (11-12-13 Dzulhijjah)… 
  27. Mengapa Dilarang Puasa Di Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah)..? 
  28. Puasa Ayyamul Biidh Tanggal 13 Dzulhijjah..?
  29. Satu Kurban untuk Satu Keluarga, Apa Maksud Satu Keluarga..?
  30. Memotong Rambut Dengan Sengaja, Apakah Sah Kurbannya..?

Jika Ingin Tahu KECINTAAN Kepada ALLAH Yang Ada Pada Dirimu

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Jika kamu ingin tahu KECINTAAN kepada ALLAH yang ada pada dirimu maupun orang lain, maka lihatlah kecintaan hatimu kepada ALQUR’AN, dan (apakah) kelezatanmu dalam mendengarkannya melebihi kelezatan para penyanyi dan penari mendengarkan musik.

Karena sudah dimaklumi bahwa orang yang mencintai idolanya, maka perkataan dan ucapannya akan menjadi sesuatu yang paling dia cintai, sebagaimana dikatakan (dalam sebuah syair):

‘Jika kamu mengaku mencintai-Ku, lalu mengapa kamu menjauhi kitab-Ku..?!

Tidakkah kamu merenungkan (dan merasakan) kelezatan perkataanku yang ada di dalam kitab-Ku..?!’

Sahabat Utsman bin Affan juga mengatakan: ‘Seandainya hati kita bersih, tentunya dia tidak akan kenyang dengan kalamullah’

Bagaimana pecinta akan kenyang dengan ucapan orang yang dicintainya, yang dia adalah tujuan akhir yang dicarinya..?!”

[Kitab: Adda’ wad Dawa’, Ibnul Qoyyim, hal: 258]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0202162059

Boleh Dengan Catatan

Pertanyaannya:
Apakah boleh (misalnya) merutinkan membaca sholawat, sebanyak 100 kali, setiap habis sholat Shubuh, karena ingin banyak membaca sholawat dan merasa cocok dengan waktu itu..?

Jawabannya:
Boleh dengan beberapa catatan:

1. Dia merutinkannya untuk dirinya sendiri.

2. Tidak menganggap ada keutamaan khusus pada bilangan itu untuk bersholawat.

3. Tidak menganggap ada keutamaan khusus pada waktu itu untuk bersholawat.

Hal ini karena adanya perintah untuk bersholawat secara umum .. dan perintah itu tidak mungkin diwujudkan kecuali dengan adanya waktu, dan bilangan.

Sehingga bila seseorang ingin merutinkan:
a. Dzikir tertentu.. karena ingin mendapatkan keutamaannya yang disebutkan dalam dalil yang shohih.
b. Dengan bilangan tertentu.. karena ingin menyemangati diri sampai pada target itu .. dan agar bisa rutin dalam melakukan kebaikan itu.
c. Pada waktu tertentu.. karena waktu yang pas dan longgar di waktu itu.

Maka, seperti ini tidak menjadi masalah, wallahu a’lam.

Inilah jawaban mengapa sahabat Abu Hurairah -radhiallahu anhu- merutinkan setiap hari bertasbih sampai 12,000 kali, dan kita tidak menyebutnya sebagai amalan bid’ah. [Lihat: Siyaru A’lamin Nubala’ 2/610]

Ini juga sebagai jawaban mengapa mengkhususkan hari tertentu untuk kajian bukan bid’ah .. Mengapa mengkhususkan mudik dan kumpul keluarga di hari raya bukan bid’ah .. dst.

Semoga bisa dipahami dengan baik .. silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى