Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Taubat Secara Umum

Taubat tidak harus untuk dosa tertentu, bisa juga untuk dosa-dosa secara umum.

=====

Syeikhul Islam -rohimahullah- mengatakan:

والناس في غالب أحوالهم لا يتوبون توبة عامة مع حاجتهم إلى ذلك،
– فإن التوبة واجبة على كل عبد في كل حال؛
– لأنه دائمًا يظهر له ما فرط فيه من ترك مأمور،
– أو ما اعتدى فيه من فعل محظور، فعليه أن يتوب دائمًا.

“Mayoritas keadaan manusia tidak bertaubat dengan taubat yang umum (untuk semua dosanya), padahal mereka sangat membutuhkan taubat ywng demikian..

– Karena taubat itu diwajibkan kepada seluruh hamba di semua keadaan.
– Karena selalu terjadi pada dirinya; tindakan melalaikan apa yang diperintahkan kepadanya.
– atau tindakan melakukan kezaliman dengan melakukan sesuatu yang diharamkan padanya..

Oleh karenya, sudah seharusnya ia selalu bertaubat kepada-Nya..”

[Majmu’ Fatawa 6/175]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kesalahan Dalam Memahami Ikhtilaf Mu’tabar

Sebagian orang memandang bahwa bila ikhtilafnya mu’tabar, berarti boleh dilakukan semua.

=====

Misalnya, “Qunut Subuh”, ketika dikatakan ikhtilafnya mu’tabar, maka kita boleh melakukan dua-duanya, yakni: boleh qunut boleh tidak, meski menurut kita pendapat yang tidak membolehkannya lebih kuat.

Sungguh ini kesalahan dalam memahami konsekuensi dari “ikhtilaf yang mu’tabar” .. kesalahan dalam hal ini akan menyeret kita kepada sikap plin-plan dan tidak konsisten dalam berpendapat, misalnya:

– Menyentuh wanita yang bukan mahram, apakah membatalkan wudhu atau tidak..?

– Membaca alfatihah bagi makmum ketika imamnya mengeraskan bacaannya, apakah wajib ataukah tidak..?

– Nikah tanpa wali, apakah boleh atau tidak..?

– Isbal, apakah boleh atau tidak..?

– Shalat berjama’ah, apakah wajib atau tidak..?

Ikhtilaf dalam masalah-masalah ini adalah mu’tabar, apakah itu berarti kita boleh melakukan dua-duanya..? Bayangkan bahayanya kesalahan pemahaman ini..!

Padahal ikhtilaf yang mu’tabar dalam fikih itu banyak .. begitu pula dalam masalah akidah.

Yang benar bahwa seseorang tetap tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalil dalam pandangannya, meskipun ikhtilafnya mu’tabar.

Kenyataan bahwa itu ikhtilaf yang mu’tabar, hanya mengharuskan kita untuk toleran di dalamnya dan tidak merendahkan pendapat lain .. bukan membenarkannya dan menjadikan kita boleh melakukan dua-duanya.

Karena bila ikhtilafnya bertentangan dan saling menafikan, tidak mungkin dua-duanya benar .. dan bila tidak mungkin dua-duanya benar, maka berarti salah satunya salah, dan kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menurut kita salah.

Yang dibolehkan adalah melakukan salah satunya saja yang menurut dia dalilnya lebih kuat, wallahu a’lam.

Demikian, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tanda Bahwa Anda AHLI AKHIRAT

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Engkau akan mendapati orang-orang yang ahli akhirat tidak memikirkan (harta) dunia yang hilang dari mereka..

Jika dunia itu datang; mereka menerimanya.. dan jika dunia itu hilang, mereka tidak memikirkannya..”

[Syarah Riyadhus shalihin 3/48].

—–

Oleh karena itu, jangan terlalu memikirkan dunia yang hilang dari Anda… Karena dipikirkan atau tidak, itu tidak akan mengubah takdir Anda.

Untuk apa Anda dibuat setres olehnya..?! Bukankah pada akhirnya nanti, dunia itu akan meninggalkan Anda, dan tidak mau menemani Anda lagi.

Tidak ada faedahnya kita dipusingkan oleh dunia.. ingatlah bahwa dunia itu akan selalu ada yang datang, dan ada yang pergi.

Berfikirlah yang positif.. bila dunia datang, maka Alhamdulillah, kita harus mensyukurinya.. bila dunia itu pergi, maka Alhamdulillah, Allah telah mengurangi beban tanggungjawab kita.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

1504171955

MUTIARA SALAF : Agar Rasa Hasad Hilang

Hatim Al-Asham -rahimahullah- mengatakan:

“Aku melihat orang-orang saling hasad, maka aku pun merenungi firman Allah ta’ala:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَهُم مَّعِیشَتَهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ

“Kamilah yang membagi-bagi penghidupan untuk mereka dalam kehidupan dunia..” [Az-Zukhruf: 32]

Maka, aku pun meninggalkan hasad, karena hasad adalah bentuk protes terhadap pembagian Allah..”

[Mukhtashar Minhajil Qashidin 28]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Jangan Bersedih Saudaraku Dan Bersabarlah

Jangan bersedih saudaraku dan bersabarlah .. Dihina karena membela agama Allah adalah kemuliaan.

=====

Jangan bersedih ketika engkau dihina karena Allah, karena itu adalah cara Allah memuliakanmu.

Lihatlah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau banyak dihina karena menyampaikan risalah Allah ‘Azza wajalla. Tapi itu malah menjadikan beliau semakin mulia.

Lihatlah banyaknya hinaan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang Allah ceritakan dalam Alquran:

وَقَالُوا يَاأَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

“Mereka mengatakan: wahai orang yang Adz-Dzikr (Alqur’an) diturunkan kepadanya, sungguh kamu benar-benar GILA..” [Al-Hijr: 6]

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Mereka mengatakan: apakah kami harus meninggalkan tuhan-tuhan kami, karena seorang PENYAIR yang gila..” [Ash-Shaffat: 36].

وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ

“Mereka mengatakan: dia hanya DIAJARI orang lain dan gila..”

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

“Maka berilah pengingat, sungguh dengan nikmat Rabb-mu engkau bukanlah seorang DUKUN dan bukan pula seorang yang gila..” [Ath-Thur: 29].

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ

“Bahkan mereka mengatakan: Al-Quran itu hanyalah MIMPI-MIMPI KACAU, atau hasil kebohongan Muhammad, atau bahkan dia hanyalah penyair..” [Al-Anbiya’: 5].

وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَـذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

“Mereka heran karena kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka. Dan orang-orang kafir itu mengatakan: orang ini adalah penyihir yang BANYAK DUSTA..” [Shad: 4].

Lihatlah, dari ayat-ayat di atas saja banyak sekali hinaan dan cacian yang bisa kita simpulkan: ada gila, ada penyair yang biasanya banyak lebay dan halu, ada diajari orang lain = hanya copas, ada dukun, ada pembawa mimpi-mimpi kacau, dan ada pendusta.

Iya ada 6 hinaan, ini baru sebagian yang Allah sebutkan dalam Alquran, bagaimana dengan yang terjadi sebenarnya..?!

Tapi apakah Nabi kita shollallahu ‘alaihi wasallam menjadi hina karenanya..? sama sekali tidak, bahkan beliau semakin mulia di sisi Allah ta’ala dan juga tengah-tengah manusia..!

Begitu pula dengan siapapun yang dihina karena perjuangannya membela agama Allah .. hinaan kepada dia karenanya, akan menjadikan dia semakin mulia, wallahu a’lam.

Oleh karena itu, bersabarlah dan jangan terlalu bersedih .. Yakinlah bahwa habis gelap terbitlah terang, “alaisash shubhu biqoriib..”

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Rintangan Dalam Dakwah

Wahai Ahlussunnah .. Teruslah berjuang untuk agama Allah, banyaknya aral melintang justru menjadi bukti lurusnya jalan perjuanganmu..!

Rintangan dalam dakwah adalah sunnatullah yang harus ada .. kebatilan yang terusik, pasti akan menampakkan reaksinya .. itu tidak mungkin dihindari.

Lihatlah ketika dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semakin besar, musuh-musuh Beliau semakin gencar dalam menekan Beliau .. Tapi beliau terus dengan perjuangannya, sampai akhirnya Allah menangkan dakwah beliau.

Kuncinya adalah “terus berjuang” dan “terus berjuang” untuk agama Allah .. bi-idznillah pembela agama Allah pasti akhirnya akan mendapatkan kemenangan.

Allah ta’ala berfirman:

هُوَ ٱلَّذِیۤ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِینِ ٱلۡحَقِّ لِیُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّینِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ

“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk MEMENANGKANNYA di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membenci..” [Ash-Shaf: 9]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4805707696210776&id=100003147806078&sfnsn=wiwspwa

Sampai Kapan Anda Bertaubat..?

Ada seorang ulama ditanya:

“Sungguh ada seorang yang jatuh dalam kesalahan, lalu dia bertaubat… Lalu dia jatuh lagi dalam kesalahan, dan bertaubat lagi… Kemudian dia jatuh dalam kesalahan lagi dan bertaubat lagi… Sampai kapan..?!”

Dia menjawab: “Sampai setan putus asa menggodanya..”

———

Jadikanlah setan putus asa untuk menggoda Anda… Jangan sebaliknya, Anda malah dijadikan putus asa untuk bertaubat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

“Katakanlah: Wahai orang yang melampaui batas terhadap dirinya (dengan dosa), janganlah kalian BERPUTUS ASA dari rahmat Allah (dengan meminta ampun kepadaNya), karena Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia maha pengampun lagi maha penyayang..” [QS. Azzumar: 53].

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda dalam hadits qudsi, bahwa Allah berfirman:

“Wahai hamba-hambaKu, sungguh kalian akan terus melakukan kesalahan, baik di malam hari maupun siangnya, sedang Aku akan mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kalian..” [HR. Muslim: 2577]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Semangat Menjalankan Perkara Yang Sunnah

Ah .. itu kan sunnah, boleh dong ditinggalkan..!

=====

Inilah ucapan sebagian orang yang malas-malasan dalam melakukan ketaatan kepada Allah.

Bedakan dengan keadaan para pemuka sahabat Nabi -rodhiallahu ‘anhum- dan orang-orang yang mengikuti mereka .. sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahullah-:

وقد كان صدر الصحابة ومن تبعهم؛
– يواظبون على السنن مواظبتهم على الفرائض،
– ولا يفرقون بينهما في اغتنام ثوابهما

“Dahulu para pemuka sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka:
– merutinkan amalan-amalan sunnah, sebagaimana mereka merutinkan amalan-amalan wajib.
– dan mereka tidak membedakan antara keduanya dalam mengambil manfaat pahalanya..”

[Fathul Bari 3/265]

Dan inilah salah satu sebab jauhnya mereka dari amalan-amalan bid’ah .. karena waktu-waktu mereka sudah terisi dengan amalan-amalan yang disyariatkan.

Berbeda dengan orang-orang yang meremehkan amalan-amalan sunnah .. akhirnya banyak waktu kosong yang ingin mereka isi dengan amalan-amalan bid’ah.

Kata Imam Syafi’i rohimahullah :

نفسك إن لم تشغلها بالحق؛ وإلا شغلتك بالباطل

“Jiwamu, bila tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka dia menyibukkanmu dengan kebatilan..” [Adda’ wad Dawa’, hal 156].

Yang terakhir..
bila hal ini berkaitan dengan perkara yang sunnah, maka gunakan pola pikir yang sama pada perkara yang makruh. Semangatlah dalam meninggalkannya sebagaimana dalam meninggalkan yang haram, untuk mengambil manfaat pahala dari meninggalkannya.

Jangan malah mengatakan: “ah .. itu kan makruh, boleh dong dilakukan..!” Sungguh perkataan seperti ini hanya akan menjadikan kita rugi dengan banyak pahala, bahkan akan menjerumuskan kita kepada yang haram, wallahu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Bolehkah Wanita Muslimah Ziarah Kubur..?

PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Ijin bertanya ustadz, bolehkah perempuan ziarah ke kubur..?

JAWABAN:

Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh

Ada khilaf dalam masalah ini, mayoritas ulama membolehkannya, dan ini yang ana kuatkan, karena banyak dalil yang mendukungnya.

Diantaranya hadits ‘Aisyah Rodhiallahu ‘anha, suatu ketika pernah bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

“Jika aku berziarah kubur, apa yang kubaca..?”

Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bacalah..”

Dalam hadits ini beliau tidak melarang istri beliau dari amalan berziarah, bahkan beliau mengajarinya do’a berziarah.

Ini menunjukkan bolehnya berziarah bagi seorang muslimah.

Namun demikian, ada LARANGAN MEMPERBANYAK ziarah bagi kaum muslimah, yaitu dalam sabda beliau yang lain:

“Laknat Allah atas kaum perempuan yang memperbanyak ziarah kubur..”

Begitu pula jika ziarah itu mendatangkan mudhorat bagi perempuan tertentu, atau menjadi fitnah bagi orang lain, maka ziarah menjadi terlarang baginya, karena mudhorat yang ditimbulkannya tersebut, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ditentang Dan Diperkarakan

Ditentang dan diperkarakan .. berarti dakwahnya tidak hikmah..!
=====
Sebagian orang mengatakan, “harusnya kalian introspeksi diri, seandainya kalian sudah benar cara dakwahnya, harusnya tidak ada pertentangan dari masyarakat..!”

Sanggahan:

1. Kita menyadari bahwa hikmah dalam berdakwah harus diterapkan.. kita juga menyadari bahwa hikmah dalam berdakwah akan menjadikan dakwah mudah diterima.

2. Tapi harus diketahui juga, bahwa setelah menerapkan hikmah dalam berdakwah, bukan berarti otomatis tidak akan ada rintangan dalam dakwah. Karena hikmah dalam berdakwah itu usaha agar dakwah diterima dengan baik, dan usaha tidak harus mendatangkan hasil sesuai yang diharapkan.

3. Kalau hikmah dalam berdakwah harus menjadikan dakwah diterima dengan baik tanpa rintangan, tentunya yang paling pantas dengan hasil itu adalah Nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Tapi ternyata dakwah beliau penuh dengan tantangan dan rintangan, sampai kota Makkah ketika itu menjadi “gueger bin ruame” karena dakwah beliau. Sampai ada pemboikotan terhadap para pengikut beliau hingga bertahun-tahun .. sampai beliau dan para sahabatnya harus berhijrah .. ada beberapa sahabat beliau yang disiksa, bahkan sampai terbunuh karena siksaan itu .. bahkan sampai beliau hampir dibunuh .. dst.

Apa kita akan katakan, beliau tidak bisa hikmah dalam berdakwah..?!

Lihat pula banyaknya ulama ahlussunnah dalam sejarah yang dipenjara karena dakwah mereka, bukan karena yang lain .. apakah kita akan katakan mereka tidak menerapkan hikmah dalam berdakwah..?!

4. Yang perlu diingat pula, bahwa semakin besar dan banyak pengikut suatu dakwah, maka semakin berat pula arus pertentangannya .. ibarat pohon yang semakin tinggi, maka semakin kuat dan banyak pula angin yang menerpanya.
Semakin besar dan semakin banyak pengikut suatu dakwah, maka semakin banyak yang hasad terhadapnya .. dan semakin banyak yang merasa terganggu dan dirugikan olehnya, apalagi itu akan bersinggungan dengan asap dapurnya.
Sehingga BISA JADI tidak diganggunya suatu dakwah adalah akibat kecilnya pengaruh suatu dakwah, sehingga tidak diperhitungkan .. bukan karena sudah menerapkan hikmah dalam berdakwah dngane baik.

5. Ingatlah, bahwa di sana ada orang-orang yang khawatir eksistensinya menjadi luntur karena adanya dakwah ilallah ini .. sehingga apapun yang dilakukan seorang pendakwah tidak akan mampu menenangkan hatinya, kecuali bila pendakwah itu mengikuti keinginannya.

Inilah kehidupan dunia .. harus ada perang eksistensi antara yang haq dengan yang batil .. sehingga kita harus bersabar dan terus berusaha memperjuangkan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sampai kita bertemu beliau di telaga-Nya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى