Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Dua Ayat Yang Harus Selalu Terngiang Saat Terjadi Bencana

DUA AYAT yang harusnya selalu terngiang dalam benak setiap kita yang muslim saat terjadi BENCANA .. apalagi bila bencana itu datang BERTUBI-TUBI..

Pertama: QS. Asy-Syuro: 30, yang menjelaskan bahwa sebab datangnya musibah adalah karena DOSA manusia yang sudah keterlaluan.

Kedua: QS. Ar-Ruum: 41, yang menjelaskan bahwa tujuan Allah menimpakan musibah adalah agar kita KEMBALI kepada Allah.

Oleh karena itu, marilah kita ingatkan diri masing-masing akan banyaknya dosa-dosa kita dan dosa-dosa yang terjadi di sekitar kita .. Ayolah kita kembali kepada Allah, dengan beristighfar dan bertaubat .. tinggalkan kemaksiatan dan lakukan ketaatan.

Dan yang tidak kalah penting, mari tumbuhkan semangat bernahi-mungkar terhadap kemaksiatan yang ada di sekitar kita.

Semoga Allah menjaga kita dan negeri kita, serta memperbaiki keadaannya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Husnuzhon Kepada Allah

Husnuzhon (berbaik sangka) kepada Allah itu bukan dengan meninggalkan kewajiban, bukan pula dengan melakukan kemaksiatan. Barangsiapa yang mengira demikian, maka dia telah tertipu dan merasa aman dengan makar Allah.

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan:
“Telah jelas perbedaan antara Husnuzhon dengan keadaan tertipu.. Bila Husnuzhon menjadikan seseorang beramal, mendorongnya, membantunya, dan menggiringnya kepada kebaikan, maka itulah Husnuzhon yang benar..

Tapi bila Husnuzhon kepada Allah, mengajaknya untuk malas-malasan dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu keadaan tertipu..”

[Aljawabul Kafi 1/38]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

MENGAKU SALAH Jauh Lebih Baik dan Terhormat

Mengaku salah jauh lebih baik dan terhormat… daripada berusaha membenarkan yang salah karena kita tidak mampu menjalankannya, atau tidak mau meninggalkannya.

=====

Misalnya ketika anda merasa berat memanjangkan jenggot, atau terpaksa harus mencukurnya sampai habis karena sesuatu hal, maka jangan berusaha mencari pembenaran untuk hal itu.

Tapi hendaklah anda mengakui kesalahan itu, agar diri anda terdorong untuk selalu memohon ampun atas kesalahan itu, dan agar pada saatnya nanti anda bisa meninggalkan kesalahan itu.

Syeikh Ali Thontowi -rohimahulloh- pernah mengatakan, ketika beliau belum bisa memanjangkan jenggotnya:

“Adapun masalah memangkas habis jenggot (yang kulakukan), maka demi Allah aku tidak akan mengumpulkan pada diriku (dua keburukan, yakni); perbuatan buruk dan perkataan buruk, Aku tidak akan menyembunyikan kebenaran karena aku menyelisihinya, aku juga tidak akan berdusta atas nama Allah dan berdusta kepada manusia.

Aku mengakui bahwa diriku salah dalam hal ini, sungguh aku telah berusaha berkali-kali untuk meninggalkan kesalahan ini, tapi aku kalah oleh nafsu syahwatku dan kekuatan adat (masyarakat).

Dan aku terus memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan kepada diriku sehingga aku bisa memanjangkannya, dan mintalah kalian kepada Allah agar aku bisa memanjangkannya, karena do’a seorang mukmin kepada mukmin lainnya -jika dilakukan tanpa sepengetahuannya-; tidak akan ditolak in-syaAllah”

[Kitab: Ma’an Nas, karya: Sy. Ali Thontowi, hal: 177-178].

Dan alhamdulillah di akhir hayatnya, beliau bisa memanjangkan jenggotnya.. Lalu beliau menjelaskan hal itu dalam catatan kaki pada halaman tersebut, beliau mengatakan:

“Dan Allah telah memberikan pertolongannya kepadaku (untuk memanjangkannya), maka hanya bagi-Nya segala pujian”

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

2511160631

Belum Qodho’ Hutang Puasa Dari Sejak SMP

Pertanyaan:

Ada seorang wanita yang punya hutang puasa ramadhan (karena haidh).. namun karena kekurang-pahamannya terhadap hukum-hukum dalam agama, ia tidak pernah membayar/qodho hutang Ramadhan tsb (yang batal karena haidh) sampai Ramadhan berikutnya datang dan pergi.. dan begitu seterusnya dan tidak ada yang mengingatkannya/memberitahunya dari sejak jenjang SMP hingga ia menikah dan diberitahu oleh suaminya akan wajibnya qodho tsb..

dan sekarang setelah ia sadar dan mendapatkan pemahaman agama yang lebih baik, walhamdulillah, dan setelah ia coba hitung-hitung, perkiraan ada 300 hari hutang qodho puasa Ramadhan dari sejak SMP yang belum ia lunasi, apa yang harus ia lakukan..?

Jawaban :

1. Dia termasuk orang yang meninggalkan puasa karena udzur (haidh).

2. Orang yang meninggalkan puasa karena udzur punya kewajiban untuk meng-Qodho’ puasanya.

3. Meng-Qodho’ puasa tidak harus berturut-turut, tapi bisa dicicil sedikit-sedikit hingga hutang puasanya lunas.

4. Apabila ada hutang puasa yang menumpuk, melewati Ramadhan berikutnya KARENA UDZUR maka (tetap harus qodho’ dan) tidak ada fidyahnya.

Tapi kalau hutang puasanya numpuk, melewati ramadhan berikutnya TANPA UDZUR maka (tetap harus qodho’ dan) dianjurkan membayar fidyah, tapi tidak sampai diwajibkan, wallahu a’lam.

5. Besaran fidyah untuk setiap hari yang diakhirkan Qodho’nya sampai melewati Ramadhan berikutnya tanpa udzur adalah memberikan makanan siap saji yang pantas kepada fakir miskin, atau memberikan setengah sho’ (1,5 kg untuk lebih hati-hatinya) dari makanan pokok daerahnya (kalau dikita berarti beras).

Demikian, wallahu a’lam.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
.
.
Catatan Poin 4:
▪️Bila Ada Udzur : qodho’ saja tanpa fidyah

▪️Tanpa ada Udzur : qodho’ dan dianjurkan fidyah

ARTIKEL TERKAIT
Belum meng-Qodho’ Hutang Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya

Tanda Bahwa Anda AHLI AKHIRAT

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Engkau akan mendapati orang-orang yang ahli akhirat tidak memikirkan (harta) dunia yang hilang dari mereka..

Jika dunia itu datang; mereka menerimanya.. dan jika dunia itu hilang, mereka tidak memikirkannya..”

[Syarah Riyadhus shalihin 3/48].

—–

Oleh karena itu, jangan terlalu memikirkan dunia yang hilang dari Anda… Karena dipikirkan atau tidak, itu tidak akan mengubah takdir Anda.

Untuk apa Anda dibuat setres olehnya..?! Bukankah pada akhirnya nanti, dunia itu akan meninggalkan Anda, dan tidak mau menemani Anda lagi.

Tidak ada faedahnya kita dipusingkan oleh dunia.. ingatlah bahwa dunia itu akan selalu ada yang datang, dan ada yang pergi.

Berfikirlah yang positif.. bila dunia datang, maka Alhamdulillah, kita harus mensyukurinya.. bila dunia itu pergi, maka Alhamdulillah, Allah telah mengurangi beban tanggungjawab kita.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

1504171955

Istighfar-nya Nabi Ibrohim Yang Istimewa…

Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang istimewa.

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنبن

ROBBANAGH-FIRLII WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMININ” [QS. Ibrohim: 41]

(Ya Rabb kami, ampunilah aku, dan kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin).

PERBANYAKLAH BER-ISTIGHFAR SEPERTI INI, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan do’a malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

0801151928

Memperbarui Wudhu dan Mandi Besar

KISS (Konsultasi Islam Sesuai Sunnah)
Topik: Memperbarui Wudhu dan Mandi Besar

Pertanyaan:
Apakah disunnahkan memperbarui Wudhu dan Mandi Besar di setiap akan melakukan shalat..? Kalau iya, kapan waktunya..?

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi waman tabi’a hudah.

1. Memperbarui Wudhu pada asalnya tidak disyariatkan, sebagaimana dikatakan oleh Syeikhul Islam -rahimahullah-:

وأما من لم يصل به: فلا يستحب له إعادة الوضوء، بل تجديد الوضوء في مثل هذا بدعة، مخالفة لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولما عليه المسلمون، في حياته وبعده، إلى هذا الوقت

“Adapun orang yang belum shalat dengan wudhunya, maka tidak dianjurkan baginya untuk memperbarui wudhunya, bahkan memperbarui wudhu pada keadaan yang seperti ini adalah bid’ah, menyelisihi Sunnah (tuntunan) Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, dan menyelisihi praktek kaum muslimin baik di masa beliau masih hidup ataupun setelah beliau wafat hingga hari ini..”

2. Memperbarui wudhu menjadi disunnahkan ketika seseorang telah menggunakan wudhunya untuk shalat, baik shalat fardhu, maupun shalat sunnah.

hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لولا أنْ أشُقَّ على أمتي لأمرتهم عند كل صلاة بوضُوء

“Seandainya bukan karena khawatir memberatkan umatku, tentunya aku sudah perintahkan (wajibkan) mereka untuk wudhu di setiap shalatnya..” [HR. Ahmad: 7513, Sanadnya Hasan]

3. Dikecualikan dari anjuran berwudhu untuk setiap shalat, bila shalat tersebut mengikuti shalat lainnya, seperti: shalat rawatib dengan shalat fardhunya, shalat witir dengan shalat malamnya, shalat malam bila salam di setiap dua rekaatnya.

Begitu pula dengan shalat fardhu yang dijamak, seperti shalat Zhuhur yang dijamak dengan shalat Ashar, maka tidak disunnahkan memperbarui wudhu, karena tidak adanya contoh dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.

4. Harus dibedakan antara masalah ‘menjaga Wudhu’ dengan masalah ‘memperbarui Wudhu’.

Adapun ‘menjaga Wudhu’, yaitu berusaha untuk berwudhu ketika ada pembatalnya, maka ini sangat dianjurkan dalam Islam, karena sabda beliau: “Tidaklah menjaga wudhu, kecuali seorang mukmin (sejati)..” [HR. Ahmad: 22378, sanadnya Shahih].

5. Adapun memperbarui mandi besar, maka ini tidak disyariatkan sama sekali (bid’ah), karena tidak adanya dalil yang menjelaskan hal ini sama sekali.

wallahu a’lam.

Demikian, silahkan dishare .. Semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Lupa Mandi Junub dan Sudah Shalat Beberapa Kali

KISS (Konsultasi Islam Sesuai Sunnah)
Topik: Lupa mandi junub dan sudah shalat beberapa kali.

Pertanyaan:
Bismillah .. Assalamu’alaikum, Ustadz ana mau nanya, ana seorang remaja kelas 8 smp, kemaren malam ana mimpi basah, lalu ana lupa untuk mandi junub dan ana keinget klo ana mimpi basah, ana ingetnya malam ini. Pertanyaan ana: Apakah shalat shalat ana sah..?
Terus, ana blum mandi junub, apakah saat inget langsung mandi junub, syukron
=======

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi waman tabi’a hudah.

1. Orang yang junub, selama belum mandi besar tetap dianggap sebagai orang yang berhadats besar, meski dia lupa junubnya, sehingga shalat yang dia lakukan tidak sah.

2. Antum harus meng-qadha’ semua shalat yang antum lakukan dalam keadaan hadats besar .. dan qadha’lah shalat-shalat itu dengan cara berurutan. Dalam kasus antum, berarti urutannya: Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, lalu Isya’.

3. Saat ingat masih junub, segeralah mandi dan segeralah mengqadha’ shalat selagi waktunya memungkinkan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Penjelasan Ayat ke-4 Dari Surat Al-Ma’un

KISS (Konsultasi Islam Sesuai Sunnah)
Topik: Penjelasan ayat ke-4 dari surat Al-Ma’un.

Pertanyaan:
Bismillah, tanya ustadz .. dlm surah Al-Ma’un, kenapa orang yg sholat justru masuk neraka wail .. syukron.
=======

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man wa lah.

1. Ayat yang dimaksud adalah firman Allah ta’ala:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

“Maka celakalah orang-orang yang shalat (4) Yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya (5) mereka berbuat riya’ (6) dan enggan memberikan bantuan..”

2. Menurut sahabat Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma-, ayat ini berkaitan dengan orang-orang munafik, yang mereka melakukan shalatnya ketika bersama kaum mukminin saja. Tapi ketika mereka sendirian, mereka meninggalkan dan melalaikan shalatnya.
Penafsiran ini sangat selaras dengan ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan sifat-sifat kaum munafikin; mereka melalaikan shalat-shalatnya saat sendiri, mereka riya’ dengan shalatnya saat melakukannya bersama kaum muslimin, dan mereka enggan membantu kaum muslimin meski dengan bantuan yang ringan sekalipun.

3. Harus dibedakan antara ungkapan “Lalai TERHADAP shalatnya” dengan ungkapan “Lalai DI DALAM shalatnya”.
“Lalai terhadap shalatnya”, berarti: melupakan shalatnya dengan meninggalkannya .. sedangkan “Lalai di dalam shalatnya”, berarti: ada kelalaian dalam shalatnya, misalnya: tidak khusyu’ atau tidak fokus dengan shalatnya, pikirannya kemana-mana saat shalat.

4. Jadi ayat ini tidak menjelaskan ancaman bagi orang yang shalat, karena shalatnya .. tapi menjelaskan ancaman bagi orang yang lalai dari shalatnya dan meninggalkannya .. dan ada perbedaan yang sangat jauh antara keduanya.

5. Tidak benar ada neraka yang namanya wail .. memang benar ada riwayat hadits yang menjelaskan bahwa di neraka nanti ada lembah yang namanya wail, namun sayangnya riwayat hadits ini lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam masalah ini.

6. Dalam memahami Al-Qur’an jangan sampai kita memotong ayat dari konteksnya, bila hal itu menyebabkan timbulnya pertentangan antara makna ayat dengan konteksnya.

7. Dan yang paling penting dari itu semua, kita harus merujuk kepada pemahaman generasi salaf dalam memahami ayat Al-Qur’an.

Wallahu A’lam.
Demikian, semoga bisa dipahami dengan baik, bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Saat Ditipu Orang Lain…

Saat ditipu orang lain ..

=====

Mungkin Anda akan marah, jengkel, susah tidur karena pikiran yang sangat terganggu.

Jika Anda seorang mukmin yang kuat, harusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi .. harusnya pikiran Anda tetap tenang dan santai, karena beberapa alasan berikut ini:

1. Hakmu tidak akan hilang.

Karena kalau Anda merelakan harta itu untuk penipu, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak .. sedang, kalau Anda tidak merelakannya, maka Anda bisa menuntutnya di akherat nanti sesuai kadarnya .. hak Anda tetap terjaga dengan baik.

2. Perbuatan dia tidak akan mengurangi jatah rezekimu.

Saat Anda ditipu oleh seseorang, sebenarnya memang saat itulah waktu Anda menikmati rezeki itu telah selesai, sehingga rezeki itu memang harus diambil dari Anda.

3. Bahkan Anda bisa mendapatkan do’a yang mustajab.

Karena ketika Anda ditipu, berarti Anda dizalimi, dan do’anya orang yang dizalimi itu mustajab, karena tidak adanya hijab antara do’anya dengan Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Dan tidak ada masalah kita mend’oakan keburukan kepada orang yang menzalimi kita, sebagaimana dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika dizalimi orang lain.

4. Anda bisa mendapatkan pahala, penghapus dosa, dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, bila Anda bisa menghadapinya dengan sabar dan rela atas takdir Allah tersebut .. sehingga sebenarnya ketika sedang ditipu, Anda diberi peluang mendapatkan ganti yang jauh lebih baik.

5. Ingatlah bahwa itu merupakan takdir yang memang dikehendaki Allah terjadi .. Anda marah atau rela, tetap saja harus terjadi, dan tidak mungkin bisa dihindari.

Jika semua ini Anda tahu, tanyakan kepada diri Anda, mengapa saya harus marah dan jengkel .. bukankah lebih baik saya melupakannya dan memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat untuk masa yang akan datang.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.