Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Agar HIDUP Anda TERARAH Dan TAK GOYAH…

Agar hidup anda TERARAH dan TAK GOYAH…

1. Bahwa tujuan UTAMA hidup Anda adalah untuk BERIBADAH kepada Allah, yakni mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, dengan menerapkan sunnah dan menjauhi bid’ah.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, hidup kita akan sangat terarah dan terfokus pada satu tujuan utama, hingga kita tidak akan bingung memilih pilihan hidup mana yang kita kedepankan.

Dengannya pula kita akan berusaha menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, sehingga kita akan tulus menjalaninya tanpa pamrih, karena SEMUANYA akan dibalas oleh Allah yang maha mensyukuri amal para hamba-Nya.

2. Bahwa semuanya telah DITAKDIRKAN.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, kita akan TENANG dalam menjalani hidup, karena kita yakin rezeki yang menjadi bagian kita tidak akan bertambah maupun berkurang.

Dengannya juga, kita akan mantap untuk memilih jalan rezeki yang halal, karena hasilnya akan sama saja, baik kita memilih jalan yang haram maupun jalan yang halal.

3. Bahwa kita diperintah untuk BERUSAHA semampu kita, dan sesuai aturan syariat.

Dengan ini kita akan memahami, mengapa kita harus bekerja, padahal semua sudah ditakdirkan ?!

Jawabannya, karena kita DIPERINTAH untuk berusaha dan beramal, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:
“LAKUKANLAH amalan/pekerjaan, maka semua orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi tujuan dia diciptakan !”

4. Dalam melakukan usaha itu, pastinya ada cobaan dan rintangan… maka hadapilah dengan firman Allah ta’ala:

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal (sebenarnya) itu lebih baik bagimu” [QS. Albaqoroh: 216].

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya”. [QS. Annisa’: 19]

5. Banyaklah berdo’a, lalu yakinlah akan janji Allah bahwa Dia akan memuliakan dan memantaskan kehidupan orang yang beriman dan beramal saleh.

“Barangsiapa yang beramal saleh dalam keadaan beriman, baik dia pria maupun wanita, maka Allah sungguh benar-benar akan memberinya KEHIDUPAN yang baik/mulia”.[QS. Annahl: 97]

Semoga bermafaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Saat Ditipu Orang Lain…

Saat ditipu orang lain ..

=====

Mungkin Anda akan marah, jengkel, susah tidur karena pikiran yang sangat terganggu.

Jika Anda seorang mukmin yang kuat, harusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi .. harusnya pikiran Anda tetap tenang dan santai, karena beberapa alasan berikut ini:

1. Hakmu tidak akan hilang.

Karena kalau Anda merelakan harta itu untuk penipu, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak .. sedang, kalau Anda tidak merelakannya, maka Anda bisa menuntutnya di akherat nanti sesuai kadarnya .. hak Anda tetap terjaga dengan baik.

2. Perbuatan dia tidak akan mengurangi jatah rezekimu.

Saat Anda ditipu oleh seseorang, sebenarnya memang saat itulah waktu Anda menikmati rezeki itu telah selesai, sehingga rezeki itu memang harus diambil dari Anda.

3. Bahkan Anda bisa mendapatkan do’a yang mustajab.

Karena ketika Anda ditipu, berarti Anda dizalimi, dan do’anya orang yang dizalimi itu mustajab, karena tidak adanya hijab antara do’anya dengan Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Dan tidak ada masalah kita mend’oakan keburukan kepada orang yang menzalimi kita, sebagaimana dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika dizalimi orang lain.

4. Anda bisa mendapatkan pahala, penghapus dosa, dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, bila Anda bisa menghadapinya dengan sabar dan rela atas takdir Allah tersebut .. sehingga sebenarnya ketika sedang ditipu, Anda diberi peluang mendapatkan ganti yang jauh lebih baik.

5. Ingatlah bahwa itu merupakan takdir yang memang dikehendaki Allah terjadi .. Anda marah atau rela, tetap saja harus terjadi, dan tidak mungkin bisa dihindari.

Jika semua ini Anda tahu, tanyakan kepada diri Anda, mengapa saya harus marah dan jengkel .. bukankah lebih baik saya melupakannya dan memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat untuk masa yang akan datang.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Cobalah Raba HATI Anda… Masih Hidupkah Dia..?!

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Seorang mukmin, tidak mungkin menjadi sempurna kenikmatannya karena kemaksiatan, tidak mungkin menjadi lengkap kebahagiaannya karena kemaksiatan.

Bahkan, tidaklah dia melakukan kemaksiatan, melainkan kegundahan akan mencampuri hatinya, tapi karena syahwatnya yang mabuk menutupi hatinya; dia tidak merasakan kegundahan itu.

Ketika kegundahan ini hilang dari hatinya, bahkan rasa ingin dan senang terhadap kemaksiatan malah bertambah, maka harusnya dia berprasangka buruk pada imannya dan menangisi KEMATIAN hatinya.

Karena seandainya hatinya masih hidup, harusnya perbuatan dosanya itu menjadikan hatinya gundah, berat, dan sulit menjalani…

Ketika hati itu sudah tidak bisa merasakan (pedihnya) dosa; maka tidaklah sebuah luka menjadikan tubuh yang sudah mati merasakan sakit“.

[Kitab: Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/198-199].
.
.
Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

da201115-2114

Sesuatu Yang Paling Berharga Tapi Paling Disia-siakan

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Waktu adalah sesuatu yang paling berharga, tapi dia sekarang ini menjadi sesuatu yang paling murah di tengah-tengah kita.

Kita biasa melewati waktu demi waktu tanpa ada faedah apapun, bahkan kita biasa menghabiskan waktu demi waktu dalam perkara yang mendatangkan mudhorot.

Dan aku tidak sedang membicarakan satu orang saja, tapi aku sedang membicarakan kaum muslimin secara umum. Sekarang ini -sangat disayangkan sekali- mereka dalam keadaan lengah, terlena, dan lupa.

Mereka tidak bersungguh-sungguh dalam perkara agama mereka. Kebanyakan mereka dalam keadaan lengah dan bermewah-mewahan. Yang mereka lihat adalah apa yang bisa memanjakan badan mereka, walaupun harus merusak agama mereka.”

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin, 1/345].

———

Untukmu wahai saudaraku yang sedang membaca pesan ini… bila keadaan di atas menimpamu, maka cepatlah berubah, sebelum semuanya tinggal kenangan dan penyesalan… Ingatlah selalu firman Allah ta’ala (yang artinya):

“… hingga ketika KEMATIAN mendatangi salah seorang dari mereka, dia mengatakan: ‘Ya Robb, kembalikan aku (ke dunia lagi), sehingga aku bisa beramal shaleh pada apa yang dulu kutinggalkan’

Tentu itu tidak mungkin, tapi sungguh kalimat itu akan dia katakan”. [QS. Almukminun: 99-100].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1611151954

Renungan

Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan, agar hati kita selalu khawatir.

Dia juga selalu membuka pintu taubat, agar kita selalu punya harapan.

Dan Dia menjadikan penentu status seseorang pada amalan penutup hidupnya, agar tidak seorang pun tertipu dengan amalnya.

Seandainya paras dan ragamu lebih penting dan berharga dari ruhmu, tentunya ruh tidak naik ke langit, sedang raga harus dikubur dalam tanah.

Betapa banyak orang terkenal di muka bumi, namun ia tidak dikenal di penghuni langit.

Sebaliknya, betapa banyak orang tak dikenal dibumi, namun ia dikenal baik oleh penghuni langit.

Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah kekuatan takwa, bukan kekuatan raga.

Maka lihatlah kedudukanmu di sisi Allah, dan tinggalkan penilaian manusia.

[Sumber dari pesan berbahasa arab]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da3001161903

Keadaan Kita Di Akherat Nanti

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- berkata:

“Sungguh, seorang hamba akan mati sebagaimana kebiasaan hidupnya .. dan dia akan dibangkitkan sebagaimana matinya”

[Miftahu Daris Sa’aadah 1/94].

Intinya: keadaan kita di akherat nanti, sesuai keadaan kita di dunia ini .. karena kita dibangkitkan sesuai keadaan kita saat mati .. dan keadaan kita saat mati sesuai kebiasaan hidup kita saat ini.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

EMPAT Amalan Pembuka REZEKI

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Ada empat (amalan) yang dapat mendatangkan rezeki:
(1) Bangun malam (untuk sholat)
(2) Banyak istighfar di waktu sahur
(3) Rutin bersedekah
(4) Berdzikir di awal hari dan di akhirnya

Dan ada empat perkara yang dapat menghalangi rezeki:
(1) Tidur pagi
(2) Sedikitnya sholat
(3) Malas-malasan
(4) Berkhianat (tidak jujur)”

[Sumber: Kitab Zadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim, 4/378]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da3011150513

Yakinlah…

Hidup ini bisa saja tertatih-tatih dan berliku-liku, tapi dia tidak akan berhenti. Cita dan asa bisa saja menjadi kabur, tapi dia tidak akan mati.

Kesempatan bisa saja hilang, tapi dia tidak akan habis. Dan betapapun terasa berat dan sempitnya hidup ini, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.

Ingatlah selalu firman Allah ta’ala (yang artinya): 
Bukankah shubuh itu dekat.
[Hud:81]

Sepanjang apapun kelamnya malam, pasti nantinya akan disusul oleh kemunculan fajar sebagai permulaan terangnya kehidupan…

Maka sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan. [Asy-Syarh:5-6].

Perhatikanlah bagaimana Allah mengulangi redaksi yang sama hingga dua kali, oleh karena itu carilah dengan seksama celah kemudahan itu, saat Anda menghadapi kesulitan dalam hidup ini.

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

da2011142054

Mari Merenungi Hakekat Hidup Ini

Setiap hari sebenarnya semua orang selalu mendapatkan musibah, namun seringkali dia tidak menyadarinya, apalagi mengambil pelajaran darinya.

⚉ Musibah pertama:
Umur yang terus berkurang.

Ironisnya pada hari ketika umurnya berkurang, dia tidak sedih karenanya, tapi apabila uangnya berkurang, dia bersedih.. padahal uang bisa dicari lagi, sedangkan umur tidak mungkin dicari gantinya.

⚉ Musibah kedua:
Setiap hari dia memakan dari rezeki Allah.

Bila rezeki itu haram; dia akan disiksa karenanya.. dan bila rezeki itu halal; dia tetap akan dihisab untuk mempertanggung jawabkannya, dan dia tidak tahu apakah dia akan selamat dalam hisab itu atau tidak.

⚉ Musibah ketiga:
Setiap hari, dia semakin mendekat kepada akherat, dan semakin menjauh dari dunia.

Meskipun begitu, dia tidak memperhatikan akheratnya yang kekal sebagaimana dia memperhatikan dunianya yang fana… padahal dia tidak tahu, pada akhirnya nanti dia akan ke surga ataukah ke neraka.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia, sebagai tujuan terbesar hidup kami dan tujuan akhir ilmu kami..

Ya Allah.. Hindarkanlah kami dari nerakaMu, dan jadikanlah rumah abadi kami adalah surgaMu, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da070415-2116

Katanya..

Katanya: “Jangan jadi Tuhan untuk sesama” .. Maksudnya jangan memvonis atau menilai orang lain salah !

Kita jawab:

a. Bahwa perkataan dia, “Jangan jadi Tuhan untuk sesama”, juga merupakan sikap menyalahkan orang lain .. maka harusnya perkataan itu juga berlaku pada dirinya.

b. Perkataan itu datangnya dari orang-orang liberal, yang meyakini bahwa tidak ada hukum Allah di muka bumi ini .. dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

ذَ ٰ⁠لِكُمۡ حُكۡمُ ٱللَّهِ یَحۡكُمُ بَیۡنَكُمۡۖ وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ

“Itulah hukum Allah, yang Dia tetapkan untuk kalian. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”. [Al-Mumtahanah: 10]

c. Bahwa Allah menginginkan agar sebagian hamba-Nya memberikan penilaian kepada hamba-Nya yang lain, dan itu bentuk ketundukan dia kepada Allah, Tuhannya .. bukan sikap menuhankan dirinya kepada orang lain.

Lihatlah firman-Nya:

وَأَنِ ٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ

“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka (kaum yahudi) dengan apa yang Allah turunkan, dan jangan sampai engkau mengikuti hawa nafsu mereka”. [Al-Maidah: 49]

Dia juga berfirman:

وَإِذَا حَكَمۡتُم بَیۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُوا۟ بِٱلۡعَدۡلِ

“Apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, (Allah memerintahkan) agar kalian menetapkannya dengan adil”
[An-Nisa’: 58]

Seorang ahli ilmu juga boleh menilai perbuatan orang lain, makanya Allah berfirman:

فَاسْألُوا أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Bertanyalah kalian kepada ahli ilmu, bila kalian tidak tahu”. [An-Nahl: 43]

Bahkan selain hakim dan ulama’ pun boleh memberikan penilaian terhadap orang lain, lihatlah firman-Nya:

فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ

“Berjalanlah kalian ke (segenap penjuru) bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. [Ali ‘Imran: 137]

Lihat juga firman-Nya:

كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلله

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) ber-amar makruf nahi mungkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali ‘Imran: 110]

Dan tidaklah seseorang mampu ber-amar makruf nahi mungkar, kecuali setelah dia memberikan penilaian terhadap perbuatan tertentu, apakah itu baik atau buruk.

Apa itu berarti, Allah memerintahkan sebagian manusia menjadi Tuhan atas sebagian yang lain .. tentu tidak demikian.

Wallahu a’lam .. silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى