Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Jangan Sibukkan Diri Dengan Tindakan Mencela Orang Lain…

Suatu hari, Hasan Al-Bashri -rohimahulloh- mendengar orang mencela Hajjaj yang terkenal dengan kezalimannya yang luar biasa, maka beliau pun mendatanginya dan mengatakan:

“Heh.. Wahai lelaki, seandainya kamu telah menemui akheratmu, maka dosamu yang paling kecil pun, akan lebih memberatkanmu, daripada dosa Hajjaj yang paling besar sekalipun.

Dan ketahuilah, bahwa Allah itu hakim yang maha adil, jika Dia nanti mengambil dari Hajjaj hak orang-orang yang dizaliminya, maka Dia juga akan mengambilkan haknya Hajjaj dari orang-orang yang menzaliminya.

Maka jangan sekali-kali menyibukkan diri dengan perbuatan mencela seseorang !

[Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashfahani, 2/270]

———–

Daripada engkau mencela kegelapan, lebih baik engkau menghidupkan cahaya, sehingga kegelapan itu hilang dengan sendirinya.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

da1504162256

Faedah Bagi Penuntut Ilmu…

Semakin banyak belajar, Anda akan semakin tahu banyaknya perbedaan pendapat .. sehingga Anda akan semakin dewasa dalam menyikapinya.

Tapi di saat yang sama, mereka yang masih jahil akan menganggapmu tidak kokoh, ngambang, ga jelas, dan sebutan tidak baik lainnya .. bukan karena keadaanmu seperti yang mereka katakan .. Tapi karena keterbatasan mereka yang belum bisa memahami ilmu yang engkau sampaikan.

Oleh karena itu, pahamilah keadaan ini, sehingga engkau tidak mudah tersinggung .. dan tetaplah berusaha untuk terus belajar dan terus mengajar .. biarkan mereka bersuara, kafilahmu tetap berlalu.

Semoga kita semua husnul khatimah, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى.

EDISI PEMILU # 3 – Ustadz Pilih Siapa Di Pemilu Ini…?!

1. kalau dijawab langsung = dibilang jurkam amatiran.
2. kalau dijawab: “kembali ke penilaian masing-masing, siapa yang lebih ringan keburukannya, dan lebih baik bagi Islam dan kaum muslimin” = dibilang membingungkan.
3. kalau didiamkan = kasihan.

Karena itulah, saya memilih jawaban kedua .. karena itu keadaan yang paling ringan bagi saya .. karena dengan jawaban itu,
⚉ orang yang nanya tidak kasihan,
⚉ saya tidak dikatakan sebagai jurkam amatiran, dan
⚉ kebenaran tidak saya sembunyikan,

Wallahu a’lam.

Jangan tanya lagi ya .. karena saya sudah jawab dengan status ini untuk semuanya .. semoga bisa dipahami dengan baik.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى.

EDISI PEMILU # 2 – Faedah Ilmu Tentang Pemilu Di INDONESIA…

⚉  Pada tanggal 25 Rajab 1440 H / 31 Maret 2019 M, Ustadz Iqbal Gunawan -hafizhohullah- (kandidat doktor di bidang akidah UIM*) telah bertanya kepada Syeikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad -hafizhohullah- (ulama hadits paling senior di Madinah, bahkan di Arab Saudi) dengan pertanyaan kurang lebih seperti ini:

“Dua pekan lagi di INDONESIA akan diadakan pemilu untuk memilih presiden, ada dua calon yang maju. Ketika tidak tahu mana yang lebih ringan mudhoratnya, apakah kita lebih baik golput ?”

Syeikh bertanya: “Semuanya muslim ?”

Ustadz Iqbal: “Iya, semuanya muslim”.

Syeikh menjawab: “Tanya siapa yang lebih baik (dari keduanya), tanya orang yang tahu (tentang hal itu)”.

——

Lihatlah, bagaimana beliau tetap menganjurkan untuk TIDAK GOLPUT .. Beliau menganjurkan agar kita tetap berusaha mencari tahu siapa yang lebih baik dari keduanya, tidak lain untuk dijadikan sebagai sandaran pilihan kita.

Kalau kita ingin ikut ulama kibar .. karena berkah itu bersama ulama kibar .. maka saya melihat beliau sangat pantas disebut sebagai ulama kibar, wala uzakki ‘alallahi ahada, wallahu a’lam.

=====

⚉  Setelah jawaban Syeikh di atas tersebar, beliau ditanya lagi pada 26 Rajab 1440 H / 1 April 2019 M, dalam majlis beliau di masjid Nabawi tentang hal yang sama, maka beliau menjawab:

“Yang saya katakan, apabila ada dua calon, yang satunya lebih baik daripada yang lain, (salah satunya) lebih baik untuk kaum muslimin daripada yang lain .. dan keikutsertaan mereka menguatkan calon yang lebih baik, maka tidak mengapa (mereka ikut memilih).

Adapun jika tidak ada nilai lebih diantara keduanya, maka seseorang memilih keselamatan (dengan tidak ikut memilih) lebih selamat.

Akan tetapi, apabila salah satunya mempunyai nilai lebih daripada yang lain dari sisi dia bisa menguatkan kaum muslimin dalam urusan agama mereka, terutama ahlussunnah yang berada di atas jalan yang lurus, maka calon yang ini (harusnya) dikuatkan (dengan memilihnya), jika keikutsertaan mereka bisa memperkuat calon tersebut”

—–

MasyaAllah dua fatwa yang saling melengkapi dan saling menguatkan.

Sangat jelas terlihat dalam dua fatwa itu, beliau lebih menguatkan memilih daripada golput.

Bahkan di fatwa kedua beliau membuka dengan anjuran memilih dan menutupnya juga dengan anjuran memilih, wallahu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

  • UIM = Universitas Islam Madinah

ref : https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah

EDISI PEMILU #1 – Kaidah Yang Lagi Viral .. “Mengambil Yang Lebih Ringan Mudhorotnya”…

Dalam tulisan ini, penulis ingin memberikan sedikit faedah tentang kaidah ini, dan untuk lebih mudah memahaminya, penulis akan jabarkan dalam beberapa poin berikut ini:

⚉  PERTAMA:

Dalam bahasa arab, ada banyak redaksi untuk kaidah ini, diantaranya:

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف

  • Mudhorot yang lebih berat, harus dihilangkan dengan melakukan yang mudhorot yang lebih ringan

يختار أخفَّ الضررين

  • Yang harusnya dipilih adalah mudhorot yang lebih ringan

يختار أهونَ الشرين

  • Yang harusnya dipilih adalah keburukan yang lebih ringan

إذا اجتمع الضرران أسقط الأكبر للأصغر

  • Jika ada dua mudhorot yang berkumpul, maka yang lebih besar harus digugurkan, untuk melakukan yang lebih kecil.

تحتمل أخف المفسدتين لدفع أعظمهما

  • Mafsadat yang lebih ringan harus dijalani untuk menolak mafsadat yang lebih besar.

إذا تعارض مفسدتان رُوعي أعظمُهما ضررًا بارتكاب أخفهما

  • Apabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudhorotnya lebih besar, dengan melakukan mudhorot yang lebih ringan.

إذا تزاحمت المفاسد، واضطر إلى فعل أحدها، قدم الأخف منها

  • Jika ada banyak mafsadat berkumpul, dan terpaksa harus melakukan salah satunya, maka yang didahulukan sebagai pilihan adalah mafsadat yang paling ringan.

⚉  KE-DUA:

Kaidah ini adalah bukti nyata kesempurnaan Islam dan betapa besar rahmat yang dibawa oleh Islam .. hingga dalam masalah yang sulit seperti ini pun, Islam masih memberikan solusi yang memudahkan manusia, dan tentunya akan tetap mendatangkan pahala bila niatnya adalah untuk tunduk dan patuh kepada syariat Allah yang menciptakan kita.

⚉  KE-TIGA

Ada banyak dalil yang menunjukkan benarnya kaidah ini, diantaranya:

1. Firman Allah ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi orang dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) masjidil haram, dan mengusir penduduknya darinya, itu lebih besar dosanya dalam pendangan Allah. Dan tindakan-tindakan fitnah tersebut lebih parah daripada pembunuhan”. [Albaqarah: 217].

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa mafsadat yang dilakukan oleh kaum musyrikin berupa:

  • tindakan kufur kepada Allah,
  • menghalangi manusia dari petunjuk Allah,
  • mengusir kaum muslimin dari tanah Makkah,

ini semua lebih berat dari tindakan kaum muslimin memerangi sebagian kaum musyrikin di bulan haram itu.

Sehingga tindakan memerangi orang-orang kafir di bulan haram saat itu menjadi boleh, karena mafsadatnya lebih ringan daripada mafsadat-mafsadat yang dilakukan kaum musyrikin terhadap kaum muslimin .. dan kaum muslimin tidaklah melakukan hal itu kecuali agar mafsadat yang lebih besar dari kaum musyrikin tidak terjadi.

2. Firman Allah ta’ala tentang kisah Nabi Khidir -‘alaihissalam- yang melubangi kapal milik orang miskin dan membunuh anak kecil .. kedua tindakan ini dilakukan oleh beliau untuk menghindari mudhorot yang lebih besar, yaitu:

  • diambilnya kapal yang masih bagus oleh penguasa yang zalim, dan
  • kufurnya kedua orang tua anak tersebut karena terfitnah oleh anaknya.

[Lihat Alkahfi, ayat: 71-74, dan ayat 79-81, dan kitab Alqawaid wal ushul Aljamiah: 150]

3. Firman Allah ta’ala tentang larangan mencela tuhannya kaum kafirin, karena itu menyebabkan mereka mencela Allah ta’ala [Al-An’am: 108] .. karena mafsadat dicelanya Allah secara zalim itu jauh lebih besar daripada mafsadat tidak dicelanya tuhan-tuhan mereka yang batil itu.

4. Diantara dalil yang menjadi dasar kaidah di atas adalah: kisah perjanjian Hudaibiyah, dimana ada beberapa sisi ketidak-adilan yang tampak jelas dalam perjanjian itu .. tapi hal itu tetap diterima dan dipilih oleh Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wasallam-, karena mafsadat tidak menerima perjanjian itu lebih besar .. yaitu dengan terancamnya kaum muslimin yang masih berada di Makkah dari pembunuhan dan penyiksaan. [Shahih Bukhari: 2731].

Dan terbukti setelah perjanjian itu, tidak hanya kaum muslimin yang ada di Makkah selamat, tapi lebih dari itu perkembangan dakwah beliau semakin cepat dan menguat dimana-mana.

5. Dalil lain yang menunjukkan benarnya kaidah di atas adalah: kisah seorang badui yang kencing di masjid Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, kemudian ada sebagian sahabat beliau yang ingin menghentikannya .. maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya: “Biarkan dia, dan jangan kalian memutus (kencing)-nya!” kemudian beliau meminta seember air, lalu beliau menyiram (tempat bekas kencing)-nya. [HR. Muslim 284].

Ini menunjukkan bahwa beliau lebih memilih mudhorot yang lebih ringan .. karena jika orang badui itu dihardik dan dihentikan, maka air kencingnya akan berhamburan di masjid beliau, tentu ini mafsadat yang lebih besar .. oleh karena itu, beliau meninggalkan mafsadat tersebut dengan cara membiarkan mafsadat yang lebih ringan, yaitu: kencing di masjid beliau sampai selesai di satu tempat saja.

⚉  KE-EMPAT:

Sebagian orang mengatakan, bahwa “kaidah ini hanya berlaku bila keadaannya darurat .. ketika keadaannya tidak darurat, maka kaidah ini tidak boleh diterapkan” .. Ini adalah kesimpulan yang prematur dan tidak sesuai dengan praktik para ulama dalam menjelaskan kaidah ini.

Tapi yang menjadi syarat kaidah ini adalah “ketika dua mudhorot tidak bisa dihindari semuanya, tapi masih bisa menghindari salah satunya dan tahu mudhorot yang lebih ringan .. maka itulah yang harusnya dilakukan”.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan hal ini, diantaranya:

a. Kenyataan bahwa contoh yang diberikan oleh para ulama dalam kaidah “mengambil mudhorot yang lebih ringan”, tidak semuanya sampai pada keadaan darurat .. sehingga bisa kita pahami, bahwa kaidah itu tidak hanya berlaku pada keadaan darurat saja, tapi juga bisa berlaku pada keadaan lain.

b. Kenyataan bahwa kaidah “mengambil mudahorat yang lebih ringan” sering disandingkan dengan kaidah “apabila maslahat dan mafsadat berkumpul, dan maslahatnya lebih besar, maka yang didahulukan adalah maslahatnya” .. karena kaidah ini tidak hanya berlaku ketika keadaan darurat, maka kaidah yang sering disandingkan dengannya pun demikian, tidak hanya berlaku pada keadaan darurat saja.

Diantara contohnya adalah berdakwah lewat video, ada maslahatnya, ada juga mafsadatnya .. tapi kalau kita bandingkan, maka kita akan dapati lebih banyak maslahatnya, sehingga tetap boleh dilakukan.

c. Kenyataan bahwa mudhorot atau mafsadah itu bisa terjadi meski keadaannya tidak darurat .. Nah, bila ada dua mudhorot atau mafsadat yang tidak bisa kita hindari semuanya, maka yang kita lakukan adalah memilih mudhorot atau mafsadat yang lebih ringan.

Perlu diketahui, bahwa keadaan darurat adalah: “Sesuatu yang harus ada untuk terciptanya maslahat agama dan dunia. Sehingga bila tidak ada, maka maslahat dunia akan rusak, keadaan kacau, dan terjadi kematian. Sedang di akherat mendatangkan kerugian nyata dengan tidak mendapatkan surga dan kenikmatan”. [Al-Muwafaqat: 2/8].

Atau lebih simpelnya keadaan darurat adalah: “Keadaan yang apabila seseorang tidak melakukan larangan, dia akan mati atau mendekati kematian”. [Al-Mantsur fil Qawaid liz zarkasyi 2/319]

Atau: “Kebutuhan mendesak yang memaksa seseorang melakukan sesuatu yang diharamkan syariat”. [Haqiqatud Dharuratisy Syar’iyyah, lil jizani, hal: 25].

⚉  KE-LIMA:

Ada banyak contoh yang disebutkan oleh para ulama dalam penerapan kaidah ini .. dan kalau kita renungkan, kita akan mendapati bahwa kaidah itu bisa diterapkan pada semua keadaan, baik keadaannya darurat maupun tidak .. yang penting dua mudhorot itu tidak bisa dihindari semuanya, dan hanya bisa menghindar dari salah satunya.

Berikut sebagian contoh kaidah ini:

1. Bolehnya mendiamkan kemungkaran, apabila ditakutkan timbul kemungkaran yang lebih besar dengan mengingkarinya .. karena mafsadat adanya kemungkaran yang sedang terjadi = lebih ringan daripada mafsadat kemungkaran yang dikhawatirkan. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

2. Apabila cincin berharga seseorang dimakan oleh ayam ternak tetangganya, maka pemilik cincin itu berhak memiliki ayam tersebut dengan membelinya, lalu menyembelihnya untuk mendapatkan kembali cincinnya .. karena mafsadat matinya ayam ternak lebih ringan, daripada mafsadat hilangnya cincin berharga. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

3. Seandainya ada orang yang shalat, dia tidak mampu menutup auratnya ketika berdiri .. tapi bila dia duduk, auratnya bisa tertutupi .. maka dia diperintahkan untuk shalat duduk .. karena mafsadat tidak berdiri lebih ringan daripada mafsadat tidak menutup aurat dalam shalat. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

4. Boleh bagi produsen atau pemerintah membatasi harga jual suatu produk, padahal membatasi harga jual pada asalnya dilarang dan itu bisa mendatangkan mudhorot kepada penjual .. tapi hal itu menjadi boleh, karena mudhorot mahalnya harga yang harus dialami oleh masyarakat umum = lebih besar dan lebih luas efeknya, daripada mudhorot yang harus dialami oleh penjual.

5. Apabila ada orang terpaksa harus makan, dan di depannya hanya ada dua bangkai, yang satu bangkai kambing, dan yang satu bangkai anjing .. maka yang harus dia pilih adalah bangkai kambing, karena mudhorotnya lebih ringan. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah: 86]

6. Barangsiapa terpaksa harus menjimak salah satu dari dua isterinya, tapi yang satunya sedang haid dan yang satunya lagi puasa wajib .. maka yang harus dia pilih adalah isteri yang sedang puasa wajib, karena itu yang mudhorotnya lebih ringan, karena puasa wajib boleh dibatalkan untuk kebutuhan orang lain yang mendesak, seperti: karena menyusui, khawatir dengan kesehatan janin, menyelamatkan seseorang dari kebakaran, dst. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah: 86]

7. Boleh merusak rumah seseorang yang berada di samping rumah orang lain yang sedang terbakar .. dengan pertimbangan agar kebakaran tidak menjalar ke banyak rumah yang lainnya .. karena rusaknya satu rumah adalah mudhorot yang lebih ringan, daripada terbakar dan rusaknya banyak rumah yang lainnya. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 151]

8. Boleh untuk tidak taat kepada kedua orang tua ketika melarang anaknya menunaikan ibadah haji wajib, meskipun itu menjadikan mereka marah .. karena mudhorot tidak menunaikan kewajiban ibadah haji lebih besar daripada mudhorot tidak taat kepada kedua orang tua .. karena mudhorot bermaksiat kepada Allah lebih besar daripada mudhorot bermaksiat kepada kedua orang tua .. maka ada sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang artinya: “tidak boleh taat kepada makhluk, dalam hal bermaksiat kepada sang Khaliq” [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 151]

9. Apabila seorang yang sedang ihram terpaksa harus makan, dan di depannya hanya ada dua pilihan: hewan buruan atau bangkai kambing .. maka yang menjadi pilihan adalah hewan buruan, karena memakan hewan buruan bagi dia, mudhorotnya lebih ringan .. karena haramnya bangkai itu berkaitan dengan dzatnya, sedangkan haramnya hewan buruan itu bukan karena dzatnya, tapi karena keadaan dia yang sedang ihram. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 152]

10. Boleh berdusta antara suami isteri untuk menjaga keharmonisan dan rasa cinta antara keduanya .. karena mudhorot dusta untuk menguatkan tali pernikahan = lebih ringan daripada rusaknya tali suci pernikahan. [Lihat hadits Attirmidzi 1939, shahih]

11. Boleh berdusta untuk mendamaikan dua insan yang sama-sama muslim yang sedang tidak rukun .. karena mudhorot berdusta untuk mendamaikan keduanya = lebih ringan daripada rusaknya persaudaraan sesama muslim. [Lihat hadits Attirmidzi 1939, shahih]

12. Boleh membuka perut ibu hamil yang sudah meninggal, bila diperkirakan janinnya bisa diselamatkan dengan cara itu .. karena mudhorot dilukainya tubuh mayit lebih ringan daripada mudhorot matinya janin yang ada di rahimnya. [Alwajiz fil qawaidil fiqhiyyah 261].

13. Seseorang yang dimintai keterangan tentang wanita yang akan dipinang, dia boleh membuka aib wanita itu kepada orang yang ingin meminangnya .. karena mudhorot membuka aibnya dalam kondisi seperti ini lebih ringan daripada mudhorot salah pilih istri yang akan dialami oleh orang tersebut.

14. Boleh menyebut orang dengan aib yang ada pada jasadnya, jika memang dengan itu kita mudah mengenalkannya kepada orang lain, selama tidak ada niat merendahkan .. padahal itu sebenarnya masuk dalam kategori ghibah .. tapi ini dibolehkan, karena memang mudhorotnya lebih ringan daripada mudhorot sulitnya mengenalkan orang tersebut.

Makanya ada beberapa ulama yang masyhur dengan sebutan yang menunjukkan aib pada tubuhnya, seperti: Al-A’masy (yang matanya kabur), Al-A’raj (yang pincang), Al-Ashamm (yang tuli), Al-A’ma (yang buta), Al-Ahwal (yang juling), dst.

15. Orang yang memamerkan kemaksiatannya, boleh disebarkan aibnya yang berhubungan dengan kemaksiatan tersebut .. karena mudhorot meng-ghibah dia dalam kondisi seperti itu lebih ringan daripada mudhorot tertipunya masyarakat umum dengan keadaan dia.

16. Boleh memajang gambar hewan bernyawa seperti: burung tertentu atau foto figur tertentu, bila memang tanpa itu keberlangsungan lembaga pendidikan akan terkendala .. karena mudhorot memajang gambar hewan bernyawa lebih ringan daripada mudhorot terkendalanya kehidupan lembaga pendidikan.

17. Boleh memberikan jalan kepada kelompok-kelompok tertentu untuk mengadakan kajian di masjid fasum, bila tanpa itu kajian ahlussunnah malah akan distop oleh mereka yang mayoritas .. karena mudhorot adanya kajian mereka lebih ringan, daripada mudhorot distopnya kajian ahlussunnah di masjid fasum tersebut.

18. Boleh menggunakan keberadaan preman, untuk melindungi kegiatan-kegiatan dakwah, bila tanpa itu kegiatan dakwah tidak bisa berlangsung dengan baik, aman, dan lancar .. karena mafsadat hidupnya preman tersebut yang dibarengi dengan aman dan lancarnya kegiatan dakwah = lebih ringan daripada terhentinya kegiatan dakwah di daerah tersebut.

19. Boleh memandang wanita yang bukan mahram ketika ada niat kuat untuk menikahinya (yakni: dalam syariat nazhar) .. karena mudhorot melihat wanita yang bukan mahram dalam kondisi seperti itu lebih ringan, daripada mudhorot terganggunya akad nikah di kemudian hari apabila dia kurang puas dengan keadaan lahir pasangannya karena tidak nazhar sebelum melakukan akad.

20. Apabila dalam suatu keadaan, kita tidak bisa menghindar dari 2 pilihan buruk: mengorbankan kalung emas 50 gram, atau mengorbankan uang di dompet 5 juta .. maka tentunya kita akan memilih mengorbankan uang 5 juta di dompet .. karena mudhorotnya lebih ringan daripada mudhorot kehilangan kalung emas 50 gram. [Qowaidul Ahkam 1/74].

21. Boleh ikut menyumbangkan suara di pemilu .. karena mudhorot ikut memilih calon yang lebih baik untuk Islam dan kaum muslimin = lebih ringan daripada mudhorot dikuasainya kaum muslimin oleh mereka yang tidak perhatian kepada Islam dan kaum muslimin atau bahkan memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya .. Coba kita renungkan contoh-contoh di atas, apakah semuanya masuk dalam keadaan darurat .. orang yang obyektif dan insaf, akan mengatakan tidak semuanya masuk dalam keadaan darurat .. yang ada adalah adanya dua mafsadat atau kemudhorotan yang tidak memberikan pilihan kecuali mengambil salah satunya.

⚉  KE-ENAM

Apakah penerapan kaidah “mengambil yang lebih ringan mudhorotnya” dalam masalah bolehnya mengikuti pemilu, sudah tepat dan memenuhi syarat ?

Kita katakan, bahwa penerapan kaidah itu dalam masalah pemilu sudah tepat dan memenuhi syarat, karena dua alasan:

A. ALASAN PERTAMA: karena banyak syeikh kibar ketika berfatwa tentang bolehnya ikut memilih dalam pemilu menyebutkan kaidah ini dalam penjelasannya .. jika penerapan kaidah ini dalam masalah pemilu tidak memenuhi syarat, tentunya mereka tidak akan menyebutkannya. [sebagiannya bisa dilihat di link ini: https://addariny.wordpress.com/…/tentang-memberikan-suara-…/]

B. ALASAN KEDUA: karena sistem demokrasi ini adalah keburukan yang dipaksakan kepada kita .. mau tidak mau kita harus mengikuti dan menjalaninya .. milih atau tidak milih, dua-duanya adalah pilihan yang diberikan oleh sistem demokrasi .. sehingga, sebenarnya apapun keadaan kita, milih atau tidak, tetap saja kita masih dalam sistem demokrasi, ini tidak bisa kita hindari selama kita masih hidup di negara demokrasi .. dan kita ikut milih atau tidak ikut milih, sistem itu akan tetap berjalan, dan efeknya akan mempengaruhi Islam dan kaum muslimin.

Jika keadaannya demikian, tidak diragukan lagi, bahwa menyumbangkan suara dalam pemilu untuk memilih calon pemimpin yang lebih ringan keburukannya bagi Islam dan kaum muslimin mudhorotnya lebih ringan daripada mudhorot tidak ikut menyumbangkan suara di pemilu, bila akhirnya akan berakibat buruk terhadap Islam dan kaum muslimin.

Cobalah kita bayangkan bila kaum muslimin yang baik-baik tidak ikut memilih dalam pemilu ? Apakah dengan begitu sistem demokrasi akan berhenti ? Tentunya tidak, sistem ini akan tetap berjalan selama masih ada banyak pemilih yang menyumbangkan suaranya.

Lalu jika kaum muslimin yang baik-baik tidak ikut memilih pemimpin, siapa yang akan memilih pemimpin ? tidak lain adalah kaum muslimin yang tidak baik, dan mereka yang non muslim (kafir).

Jika yang memilih pemimpin adalah orang-orang  yang tidak baik, lalu apakah mereka akan memilih pemimpin yang memperjuangkan kebaikan untuk Islam dan kaum muslimin ? Tentunya tidak, karena jawaban “iya” sangat jauh kemungkinannya.

Lalu jika yang dipilih oleh mereka adalah pemimpin yang tidak memperjuangkan Islam dan kaum muslimin, bukankah efeknya akan sangat buruk bagi Islam dan kaum muslimin ? Tentunya iya, itulah jawaban sangat logis.

⚉  KE-TUJUH

Sebagian orang menganggap, bahwa paparan yang disebutkan di akhir poin ke-enam, adalah jalan pemikiran kelompok haroki, sehingga harusnya sangat tabu disampaikan oleh seorang yang bermanhaj salaf.

Kita katakan, ‘sungguh itu adalah tuduhan yang zhalim .. tuduhan yang keluar karena tidak punya jawaban yang logis untuk mematahkan dalil yang disampaikan.

Sungguh dalil logis di atas telah disampaikan oleh Syeikh Utsaimin -rohimahullah- sejak dahulu, coba simak perkataan beliau berikut ini:

أنا أرى أن الانتخابات واجبة ، يجب أن نعين من نرى أن فيه خيراً ، لأنه إذا تقاعس أهل الخير ، مَنْ يحل محلهم ؟ سيحل محلهم أهل الشر ، أو الناس السلبيون الذين ما عندهم خير ولا شر ، أتباع كل ناعق ، فلابد أن نختار من نراه صالحاً .
فإذا قال قائل : اخترنا واحداً لكن أغلب المجلس على خلاف ذلك . قلنا : لا مانع ، هذا الواحد إذا جعل الله فيه البركة وألقى كلمة الحق في هذا المجلس سيكون لها تأثير ولا بد ، لكن الذي ينقصنا الصدق مع الله ، نعتمد على الأمور المادية الحسية ولا ننظر إلى كلمة الله عز وجل …. رَشِّحْ مَنْ ترى خيّرا ، وتوكل على الله.

“Saya melihat (ikut memilih dalam) pemilu itu WAJIB, kita wajib memilih orang yang kita lihat ada kebaikan pada dirinya, karena apabila orang-orang baik tidak ikut berpartisipasi, siapa yang akan mengisi tempat mereka ? Yang akan mengisi tempat mereka tentunya orang-orang buruk, atau orang-orang pasif (lemah) yang tidak punya kebaikan dan keburukan, bisanya hanya mengekor orang lain.

Oleh karenanya kita harus memilih orang yang kita lihat shalih (baik).

Apabila ada yang berkata: ‘kita kan hanya memilih satu orang saja, padahal mayoritas orang yang di majlis tidak baik seperti dia.’

Kita jawab: ‘tidak masalah, satu orang yang baik ini, apabila Allah menjadikan keberkahan padanya, dan dia sampaikan kebenaran di majlis itu, pastinya akan memiliki pengaruh baik.

Tapi memang kita itu kurang percaya kepada Allah, kita biasa bersandar pada perkara-perkara yang kasat mata saja, dan kita tidak melihat kalimat Allah ‘azza wajalla .. maka, pilihlah orang yang engkau lihat baik, dan bertawakkallah kepada Allah’”.  [Liqa babil maftuh 211/13]

Inilah penjelasan yang sangat gamblang dari Syeikh Utsaimin -rohimahullah- dalam masalah ini, semoga bisa dipahami dengan baik .. Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، والحمد لله رب العالمين.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

ref : https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah

Orang Yang Paling Lemah… Dan Paling Pelit…

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

أعجز الناس من عجز عن الدعاء، وأبخل الناس من بخل بالسلام

“Manusia paling LEMAH adalah orang yang untuk berdoa saja tidak mampu.

Dan manusia paling PELIT adalah orang yang untuk bersalam saja dia bakhil”.

[Di shohihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah: 601].

——–

Oleh karenanya, perbanyaklah berdo’a, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Itulah amalan yang sangat ringan, namun dia itulah hakekat dari semua ibadah, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Doa, itulah ibadah”. [HR. Abu Dawud: 1329 shohih].

Dan semangatlah untuk menyampaikan salam kepada orang lain, tidak maukah Anda menjadi lebih baik dari orang yang Anda salami meski hanya sesaat ?!

Sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Yang TERBAIK dari keduanya adalah orang yang memulai menyapa dengan salam”. [HR. Bukhori Muslim].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da1701152357

Ayat Yang Sangat Indah Dan Halus Dalam Menjelaskan HARUSNYA Kita Meninggalkan SEMUA Bid’ah Dalam Agama…

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian”. [QS. Alu Imron: 31].

Renungkanlah kandungan ayat ini:

1. Ayat ini berkenaan tentang cinta kepada Allah, yang harusnya menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. [QS. Albaqoroh: 165].

Itu saja dalam mengejewantahkannya harus mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, apalagi bila cinta itu kepada makhluk-Nya.

Sehingga dalam mencintai Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- kita LEBIH wajib mengikuti cara dan tuntunan beliau, begitu pula dalam mecintai keluarga beliau, ka’bah, Alqur’an, dst…

2. Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- SAJA dalam mengejewantahkan cinta kita kepada Allah.

Sehingga kita tidak boleh mencintai Allah dengan cara para NABI selain beliau, apalagi cara para ulama, apalagi cara kita sendiri, jika cara-cara tersebut tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

3. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mencintai kita jika kita mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dalam mengejewantahkan cinta kita kepada-Nya.

Maka sebaliknya Allah akan menjadi MURKA, bila kita mengejewantahkan cinta tersebut dengan mengikuti tuntunan dari selain beliau.

———-

Semoga Allah memberikan TAUFIQ kepada kita, sehingga kita dapat mencintai Dia, Nabi, para ulama, dan yang lainnya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da0901151655

KAFIR Disebut Dalam DUA Konteks…

KAFIR disebut dalam DUA konteks:

1. Konteks panggilan, maka ini dibolehkan dalam keadaan tertentu saja.. seperti konteks surat ALKAAFIRUN, atau konteks ayat 7 dari surat Attahrim.

Adapun dalam kehidupan sehari hari, maka panggilan yang kita gunakan harusnya panggilan yang bersahabat, karena kita harus berakhlak mulia.

2. Konteks menjelaskan hakekat keadaan, maka ini dibolehkan secara mutlak, sebagaimana kata ini disebutkan ratusan kali dalam Alquran untuk menjelaskan hakekat keadaan orang yang kufur kepada Allah dan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Maka jangan disamakan dua konteks yang ada .. berlakulah adil dalam melihat dalil.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Imbangilah Ilmu Agama Anda Dengan Amal…

Ilmu agama bukan untuk dibanggakan, atau hanya untuk pengetahuan… Tapi dia menuntut Anda untuk diamalkan.

Dalam sebuah tulisannya, Tajuddin Assubki -rohimahulloh- yang wafat tahun 771 H / 1370 M seakan menjelaskan keadaan sebagian penuntut ilmu di masa kita ini, beliau mengatakan:

“Diantara mereka (yang berilmu agama), ada segolongan orang yang memang tidak meninggalkan amal-amal wajib, tapi senang ilmu dan PERDEBATAN, dia senang bila dikatakan: “si fulan sekarang adalah pakar fikih di daerah ini”, kesenangannya terhadap hal-hal itu sampai mendarah daging, hingga kesibukannya untuk itu menghabiskan sebagian besar waktunya.

Dan dia pun menyepelekan AlQur’an, lupa dengan hapalan Qur’annya, tapi meski seperti itu dia tetap bangga, dan mengatakan: “Kamilah para ulama.”

Apabila dia mendirikan sholat fardhu, dia memang sholat 4 reka’at, tapi tidaklah dia mengingat Allah di dalam sholatnya kecuali sedikit, sholatnya dicampuri dengan memikirkan permasalahan dalam bab haidh dan jinayat yang pelik…

Lalu bila kamu menanyakan kepada salah seorang dari mereka: “Apakah kamu sudah sholat Sunnah Zhuhur ?” Dia akan mengatakan kepadamu: “Imam Syafi’i telah mengatakan: menuntut ilmu lebih afdhol daripada sholat sunnah.

Atau bila kamu mengatakan kepadanya: “Khusyu’ kah kamu dalam sholatmu ?”. Dia akan mengatakan: “Khusyu’ tidaklah termasuk syarat sah sholat.”

Atau bila kamu katakan kepadanya: “Kamu lupa hapalan Qur’anmu ?”. Dia akan mengatakan kepadamu: “Tidak ada yang berpendapat bahwa melupakan hapalan Qur’an itu dosa besar, kecuali penulis kitab Al-‘Uddah, dan mana dalil pendapatnya itu ?!”.

Maka katakanlah kepadanya: “Wahai pakar fikih, memang perkataan itu benar, tapi untuk tujuan kebatilan”, karena Imam Syafi’i tidaklah menginginkan dari perkataannya itu apa yang kau inginkan… dan dikhawatirkan orang yang keadaannya seperti ini, akan keluar total dari agamanya.

[Kitab: Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqom, Tajuddin Assubki, hal: 84-85].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0703152132

Memberikan Minuman = Sedekah Yang PALING Afdhol…

Ibnu Baththol -rohimahulloh- dalam Syarah Shohih Bukhorinya mengatakan:

“Memberikan minuman, merupakan salah satu ibadah paling agung yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.

Salah seorang tabi’in mengatakan:

‘Barangsiapa banyak dosanya, maka hendaknya dia (bersedekah) memberikan minuman (kepada orang lain).

Karena, jika dosa seorang yang memberikan minuman kepada anjing saja bisa diampuni, apalagi orang yang memberikan minuman kepada seorang mukmin yang bertauhid, atau memberikan kehidupan kepadanya ?!”.

Dan pernah ada salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam: “sedekah apakah yang PALING afdhol ?”

Beliau menjawab: “memberikan minuman.”

[HR. Ahmad, dihasankan oleh Syeikh Albani].

Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

 

da0806152211