Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Dimanakah Tempatmu Di Sisi Allah…?

Mungkin penjelasan di bawah ini bisa menjawabnya.

Ada seorang bercerita:

Aku pernah shalat di salah satu masjid kotaku yang besar. Usai shalat ada seorang tua yang menoleh kepadaku dan berbisik di telingaku: Lihatlah jamaah yang ada di shof pertama, dan perhatikan wajah mereka.’

Aku pun melakukannya, kemudian aku menoleh kepadanya dan bertanya, ‘apa maksudmu ?’

Dia mengatakan: ‘Apakah kau lihat orang kaya, atau orang penting, atau orang yang berkedudukan tinggi ?’

‘Sedikit, kebanyakan atau bahkan seluruhnya para pekerja, supir, kuli, karyawan.’ Jawabku.

Dia mengatakan: ‘Begitu pula posisi kita di sisi Allah !’

Dia menambahi: ‘Lihatlah tempatku dan tempatmu sekarang ini, di shof ke-empat… Begitupula nanti tempat kita di hari kiamat !’

Dia menambahi lagi: ‘Sungguh menakjubkan masjid-masjid Allah, dia membuka tabir dan mengabarkan kepada kita posisi kita di sisi Allah’

Sungguh, apa yang dikatakan orang tua itu seakan membangunkanku dan memberi tamparan keras ke wajahku..

Ya Allah, semoga Engkau mengampuni kami, dan memberikan semangat kepada kami untuk memperbaiki tempat kami di sisi-Mu.. Amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da2004161101

Kubur, BUKAN Tempat Peristirahatan Terakhir…

Kubur, BUKAN tempat peristirahatan terakhir
======================

“Salah, orang yang mengatakan tentang orang mati, bahwa dia telah pindah ke tempat tinggal terakhirnya !

Karena tempat tinggal terakhir itu surga atau neraka.

Jika seseorang benar-benar meyakini kalimat itu, tentu dia KAFIR, karena orang yang mengatakan bahwa tempat tinggal terakhir itu kuburan, berarti dia mengingkari hari ba’ats (dibangkitkannya manusia dari kubur)…

Dan sayangnya, kalimat itu telah menyebar di tengah-tengah manusia, makanya kita sering mendengarnya, baik di media cetak maupun di media lainnya, padahal ini kesalahan.”

[Syaikh ‘Utsaimin -rohimahullah- dalam kitab beliau Syarah Akidah Ahlussunnah wal Jamaa’ah, hal 394].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da1705161611

Katanya…

Katanya, kita harus SEIMBANG antara mencari dunia dan mencari akherat.

Padahal Allah berpesan untuk lebih mendahulukan dan mementingkan akherat. Renungkanlah firmanNya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia.” [QS. Al-Qosos:77].

Jujurlah, mungkinkah Anda menyeimbangkan antara dunia dan akherat ?! Sungguh, seakan itu hal yang mustahil… Yang ada: mendahulukan dunia, atau mendahukan akherat. Dan yang terakhir inilah yang Allah perintahkan.

Makanya, Allah berfirman dalam ayat lain:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56].

Ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan UTAMA kita diciptakan. Jika demikian, pantaskan kita seimbangkan antara tujuan utama dengan yang lainnya..?!

Bahkan dalam do’a “sapu jagat” yang sangat masyhur di kalangan awam, ada isyarat untuk mendahukan kehidupan akherat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Di sini ada 3 permintaan : 1 permintaan untuk kehidupan dunia, dan 2 permintaan untuk kehidupan akherat… Inilah isyarat, bahwa kita harus lebih memikirkan kehidupan akherat, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat, amin…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da1505151850

Alqur’an Adalah OBAT Untuk Semua Penyakit… Tapi Sayang Banyak Kaum Muslimin Yang Menjauhinya…

Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya):

“Kami telah menurunkan dari Alqur’an; sesuatu yang bisa menjadi OBAT dan rahmat bagi kaum mukminin.” [QS. Isro’:82]

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Alqur’an adalah obat yang sempurna dari semua penyakit hati dan BADAN.

Ia juga obat dari penyakit dunia dan akherat.

Dan barangsiapa tidak disembuhkan oleh Alqur’an, maka Allah tidak memberikan kesembuhan baginya.”

[Kitab Zadul Ma’ad, karya Ibnul Qoyyim, 4/323]

——–

Saudaraku kaum muslimin… Mari jadikan Alqur’an ini, sebagai obat hati dan badan kita… obat untuk dunia dan akherat kita.

Ambillah keberkahan darinya dengan cara-cara yang dituntunkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da2606150956

Amalmu Itu Sedikit… Jangan Ujub !

Syaikh Utsaimin رحمه الله  mengatakan:

“Berapapun banyaknya amal saleh
yang telah kau lakukan; jangan kau
merasa ujub (takjub) dengan amal-
amalmu.

Karena amal-amalmu itu tetap saja
sedikit, bila dibandingkan dengan hak
Allah yang harus kau tunaikan untuk-Nya”.

[Syarah Riyadhus Sholihin, 1/575]

Diterjemahkan oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

da3103162105

Cinta Yang Hakiki Kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam…

“Cinta kepada Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- bukanlah dengan melakukan bid’ah karena dorongan cinta, sehingga engkau melakukan sesuatu yang tidak beliau lakukan.

Akan tetapi, cinta yang hakiki (kepada beliau) adalah dengan engkau menetapi jalan beliau, mencintai apa yang dilakukan beliau, dan membenci bid’ah sebagaimana beliau dahulu membencinya.”

[ Syeikh Prof. DR. Sulaiman Arruhaily ]
t.me/Drsuleiman

Diterjemahkan oleh:
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Jangan Terlena Dengan KELEBIHAN Yang Allah Berikan Padamu…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Biasanya orang yang takjub (terlena) dengan dirinya; dia akan kalah -dengan izin Allah-.
   Jika dia terlena dengan banyaknya jumlah pasukan; dia akan dikalahkan.
   Bila dia terlena dengan ILMUNYA; dia akan tersesat.
⚉   Bila dia terlena dengan kecerdasannya; dia akan hilang jalan.

Maka janganlah kamu terlena dengan dirimu, begitu pula dengan kekuatan apapun yang kau miliki, namun mintalah pertolongan kepada Allah -azza wajall- dan SANDARKANLAH semuanya kepada-Nya, hingga terlaksana apapun yang kau inginkan”.

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin: 6/669]

Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da270714-2144

Bagaimana Mengatur Rasa Takut dan Rasa Harap Kepada Allah…

Al-Fudhail bin Iyadh -rohimahulloh- pernah mengatakan:

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.

Jika pada saat keadaannya sehat dia melakukan kebaikan; tentu akan menjadi besar rasa harap dan husnuzhannya (kepada Allah) saat kematian (menghampirinya).

(Tapi) bila pada saat sehatnya dia melakukan keburukan; tentu dia akan su’uzhan ketika kematian (menghampirinya), dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah).”

[Hilyatul Auliya’ 8/89].

——

Inilah cara yang sangat baik dalam mengatur hati kita.. dengan rasa takut saat keadaan baik, maka kita tidak akan terlena dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.. kita akan menggunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pahala yang dapat memuliakan kita nantinya.

Dan dengan rasa berharap baik kepada Allah saat ajal menjemput kita, maka kita akan tenang, bahagia, dan bisa menghadapi kematian dengan baik, sehingga Allah akan memudahkan kita dalam menutup hidup dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”.

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah; pasti dia masuk surga.”[HR. Abu Daud: 3116]

Semoga Allah memberikan kita semua husnul khotimah… amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Semua Kebaikan Bermuara Dari Do’a…

Muthorrif bin Abdullah (w 87 H) mengatakan:

“Aku merenungkan, apakah yang mengumpulkan semua kebaikan ?

Ternyata semua kebaikan adalah dengan banyaknya puasa dan sholat, dan ternyata banyaknya puasa dan sholat itu di Tangan Allah ‘azza wajall.

Dan ternyata engkau tidak mendapatkan apa yang di tangan Allah ‘azza wajall, kecuali dengan MEMINTA kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu.

Jadi ternyata yang mengumpulkan semua kebaikan adalah DO’A.

[Kitab: Azzuhd, Imam Ahmad, hal: 241].

————

Do’a, amal yang sangat ringan, sangat besar manfaatnya, namun sedikit yang memperhatikannya dengan semestinya, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da290115-1331