Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Teguhlah, Jangan Goyah…

Syeikh Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berpesan:

Teguhlah, jangan goyah dengan banyaknya serangan yang diarahkan kepadamu, atau banyaknya celaan atas pendapatmu.
Selama kamu di atas kebenaran, maka teguhlah, karena kebenaran itu tidak mungkin tersingkir.

Setelah itu, belalah dirimu jika posisimu lemah, karena tidak ada keadaan yang lebih rendah dari tindakan membela diri. Adapun jika posisimu kuat, maka seranglah. Dan hari-hari itu akan terus berputar.

Tapi yang paling penting, jika posisimu lemah, kamu harus teguh, dan jangan katakan: manusia, semuanya menyelisihi pendapat itu. Akan tetapi, teguhlah, karena Allah pasti akan menolong agamaNya, kitabNya, dan RasulNya di semua zaman.

Dan memang harus ada gangguan, lihatlah Imam Ahmad, dia diseret di pasar dengan hewan bagal, dan dicambuki, tapi dia tetap sabar dan teguh.

Dan lihatlah Syeikhul Islam, dia diarak di atas gerobak dan dijebloskan dalam penjara, tapi dia tetap teguh.

Selamanya tidaklah mungkin bumi bertabur banyak mawar dan bunga, bagi orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Siapa yang menginginkan hal itu, berarti dia telah menginginkan kemustahilan.

[Syarah Annuniyyah, Syeikh Al-Utsaimin 3/270]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

da170316-0542

Ladang Pahala Yang SANGAT BESAR..

Memberikan pinjaman, merupakan ladang pahala yang SANGAT BESAR .. Jangan sia-siakan kesempatan ini.

=====

Diantaranya:

1. Mendapatkan pahala bersedekah setiap hari senilai nominal pinjaman sampai jatuh tempo.

2. Mendapatkan pahala bersedekah setiap hari senilai dua kali lipatnya nominal pinjaman, selama waktu penangguhan setelah jatuh tempo.

3. Mendapatkan naungan Allah di hari kiamat.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ ، فَإِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَأَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ.

“Pemberi hutang setiap harinya mendapatkan pahala bersedekah (senilai piutangnya) sebelum jatuh tempo.

Maka apabila telah jatuh tempo, lalu dia memberikan penangguhan pembayaran, maka setiap harinya dia mendapatkan pahala bersedekah senilai dua kali lipat piutangnya.”

[HR. Ahmad 22537, dishahihkan oleh Syeikh Albani]

Beliau juga bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ

“Barangsiapa menunggu orang yang kesulitan (membayar hutangnya), atau membebaskan hutangnya, maka Allah akan menaunginya di bawah naungan-Nya.” [HR. Muslim 3014]

Bayangkan bila Anda menghutangi 1 juta kepada orang lain .. maka anda mendapatkan pahala bersedekah 1 juta setiap harinya sampai jatuh tempo.

Bila setelah jatuh tempo dia masih sulit melunasi dan Anda memberi masa penangguhan, maka anda mendapatkan pahala bersedekah 2 juta setiap harinya sampai dia bisa melunasinya.

Ini baru piutang dengan nominal 1 juta, bagaimana bila lebih dari itu .. Belum lagi pahala naungan dari Allah di akherat kelak.

Karena Allah -azza wajalla- sudah memberikan pahala yang sangat besar dari amalan ini .. sebagai gantinya, Allah sangat murka bila akad sosial ini dikomersilkan menjadi riba.

Ayo semangat menghidupkan sunnah ini .. Jangan biarkan saudara-saudara kita terjerat riba oleh mereka yang terbiasa menari di atas penderitaan manusia.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Amalan Berpahala SEDEKAH : Keutamaan Memperpanjang Tempo Hutang.. (audio oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى) 

Katakan Tidak Tahu Bila Memang Tidak Tahu…

Jangan sampai kita menipu dan mengkhianati saudara sendiri .. katakan: “saya tidak tahu”, bila memang tidak tahu.

Syeikh Utsaimin -rohimahullah- mengatakan:

“Seandainya ada orang bertanya tentang jalan menuju daerah tertentu, lalu kamu katakan: ‘Jalannya lewat sini’, padahal kamu tidak tahu, tentu orang-orang akan menganggap itu sebagai tindakan khianat dan menipu.

Bagaimana kamu akan mengatakan tentang jalan menuju Surga -yaitu syariat yang diturunkan Allah-, padahal kamu tidak tahu tentang itu sama sekali !”

[Ad-Dhiya’ Al-Lami’ 322]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Mari Perbanyak Shalat Malam Kita di 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan Ini…

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah mengatakan:

“Adapun di sepuluh malam terakhir Ramadhan, kaum muslimin (hendaknya) menambah kerajinan mereka dalam ibadah, karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan untuk mencari lailatul qadar yang lebih utama dari seribu bulan.

Maka orang yang biasanya shalat 23 rekaat di awal ramadhan, mereka bisa membaginya di sepuluh malam akhir, mereka bisa shalat 10 rekaat di awal malam yang mereka namakan shalat teraweh, dan shalat 10 rekaat di akhir malam, mereka memanjangkannya beserta shalat witir 3 reka’at, mereka biasa menyebutnya shalat qiyam.

Ini (sebenarnya) hanyalah perbedaan nama saja, karena semua shalat ini bisa disebut teraweh, bisa juga disebut qiyam.

Adapun orang yang biasanya hanya shalat 11 atau 13 reka’at di awal bulan, dia bisa menambah 10 rekaat lagi di sepuluh malam terakhir yang dilakukan akhir malam dan memanjangkannya, untuk mencari keutamaan 10 malam terakhir dan untuk menambah usaha dalam amal kebaikan.

Orang seperti ini ada contohnya dari para generasi salaf dari kalangan sahabat dan yang lainnya, yang mereka shalat 23 reka’at sebagaimana telah lalu. Dengan demikian mereka bisa menggabungkan dua pendapat, pendapat 13 rekaat di 20 malam pertama, dan pendapat 23 rekaat di 10 malam terakhir.”

[Kitab: Ithaafu ahlil iman bi majalismi syahri romadhon]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1606171717

 

Kaidah Bagus…

Sebelum salam = banyak berdo’a.
Setelah salam = banyak berdzikir.

========

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya:

Manakah yang lebih afdhol untuk do’a “Allohumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik”, dibaca sebelum salam atau sesudah salam, ataukah yang lebih afdhol dibaca di dua waktu itu ?

Beliau menjawab:

Yang lebih afdhol do’a itu dibaca sebelum salam, karena seperti itulah dia datang dalam sebagian riwayat, dan karena do’a itu tempatnya sebelum salam, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud, setelah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menyebutkan tasyahud, beliau menyabdakan: “kemudian hendaklah dia memilih sebagian doa-doa yang dia kehendaki”.

Berdasarkan keterangan ini, maka seorang yang sholat membaca do’a “Allohumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik” sebelum salam.

Adapun setelah salam, apa yang Allah firmankan ?

Dia berfirman (yang artinya): “Apabila kalian telah selesai sholat, maka BERDZIKIRLAH kalian kepada Allah”. [An-Nisa’: 103]. Di ayat ini, Allah tidak mengatakan: “maka berdo’alah kalian kepadanya”.

[Sumber: Liqo’ul babil maftuh 22/255].

Dalam kesempatan lain beliau juga mengatakan:

“Sesungguhnya Rasul -shollallohu alaihi wasallam- telah mengarahkan kita tentang waktu berdo’a di dalam sholat, beliau -‘alaihis sholatu wassalam- mengatakan saat mengajari Abdullah bin Mas’ud tentang tasyahud “kemudian setelah itu, hendaklah dia memilih sebagian do’a-do’a yang dia kehendaki.” Ini menunjukkan bahwa tempat doa adalah sebelum salam, bukan setelahnya.

Kemudian penalaran yang lurus juga menunjukkan hal ini, yakni bahwa do’a itu waktunya sebelum salam, karena selagi engkau dalam sholatmu, maka engkau sedang bermunajat kepada Allah ‘azza wajall. Kemudian setelah engkau bersalam, maka terputuslah munajat dan hubungan antara engkau dengan Allah.

Maka, manakah yang lebih baik, berdo’a ketika engkau dalam keadaan bermunajat kepada kepada Allah… ataukah berdoa setelah selesai sholat dan setelah hubungan itu putus?! Tentunya keadaan pertama yang lebih baik.

Oleh karena itu, bagi yang ingin berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berdoalah sebelum salam”.

wallohu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0103161317

Ambillah Pelajaran Dari Perjalanan Hidup Ini…

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat“.

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang“.

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah“.

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil“.

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif“.

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini“.

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah“.

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya“.

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan“.

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda“.

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama“.

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua ?“.

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita ?“.

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang“.

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat“.

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat“.

====================

Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdo’a kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermu’amalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orang tua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya.”

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah“, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil“. [Al-Isro’: 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orang tua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu.

Ustadz  DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2708151640

Agar Pahala Puasa Anda Terjaga, Maka Berpuasalah Dari DOSA…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Orang yang berpuasa adalah orang yang anggota badannya berpuasa dari dosa-dosa.

lisannya berpuasa dari kedustaan, kekejian, dan penipuan.

Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman.

Kemaluannya berpuasa dari tindakan keji.

Sehingga bila berbicara; dia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat menodai puasanya, dan apabila berbuat; dia tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak puasanya.

Sehingga semua perkataannya bermanfaat dan baik, begitu pula amal-amalnya.

Dia seperti bau yang dicium oleh orang yang duduk bersama orang yang membawa parfum misik.

Begitu pula orang yang duduk bersama orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan manfaat dari duduk bersamanya, dia juga akan selamat saat duduk bersamanya dari kata tipuan, kedustaan, kekejian dan kezaliman.

Inilah puasa yang disyariatkan, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman…

Jadi, puasa adalah puasanya anggota badan dari dosa dan puasanya perut dari makanan dan minuman.

Maka, sebagaimana makanan dan minuman bisa membatalkan puasa dan merusaknya, begitu pula dosa bisa membatalkan pahalanya dan merusak buahnya, sehingga dia seperti orang yang tidak berpuasa.”

[Alwabilush Shoyyib, hal 32-32]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1906150928

Berlomba-lombalah Untuk Mendapatkan UMUR KEDUA Anda…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Sesungguhnya seorang ulama bila telah menanamkan ilmunya kepada orang lain, lalu dia meninggal, maka pahalanya tetap akan mengalir serta nama baiknya akan tetap dikenang.

Itulah UMUR KEDUA dan kehidupan lain baginya, dan itulah perkara yang paling pantas untuk dijadikan ajang saling berlomba untuk mendapatkannya dan meraihnya.”

[Kitab: Miftahu Daris Sa’adah, Ibnul Qoyyim, 1/148].

———

Sungguh betapa mulia ilmu agama ini, namun sungguh mengherankan kenyataan sedikitnya orang yang semangat dalam mencari, mengamalkan, dan menyebarkannya… Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

da2012141607

Kebahagiaan itu dari HATIMU…

Banyak orang mencari kebahagiaan di luar dirinya, bahkan mencari kebahagiaan di tempat-tempat kemaksiatan, ke diskotik, ke konser musik, atau lokalisasi, atau tempat hiburan lainnya.

Sungguh mereka sudah tersesat terlalu jauh dari tempat tujuan kebahagiaan, pertama mereka mencari di luar dirinya, kedua mereka mencari pada sesuatu yang diharamkan.

Sebenarnya kebahagiaan itu berasal dari dirimu sendiri, sangat dekat denganmu, dan jauh lebih mudah engkau dapatkan.

Sumber kebahagiaan itu adalah hatimu, pangkalnya pada rasa syukur dalam hati… Semakin engkau bersyukur semakin engkau bahagia.

Semakin bersyukur, engkau semakin sadar bahwa banyak sekali nikmat Allah yang ada padamu… Hatimu akan sibuk memikirkan nikmat yang ada, sehingga dia akan bahagia.

Selanjutnya, jika Allah memberi tambahan, dia akan semakin bersyukur dan semakin bahagia… Jika tidak, dia akan merasa cukup dengan nikmat yang ada dan dia tetap bahagia.

Seringkali kita terlalu memikirkan nikmat yang belum kita raih, namun melupakan banyak nikmat yang telah ada di tangan kita… Sehingga hati merasa serba kurang, dan itu tentu mendatangkan kesedihan dan kemurungan.

Oleh karenanya, pandai-pandailah mencari celah untuk bersyukur, semakin engkau pandai mencari celah itu, maka semakin banyak pula kebahagiaan engkau dapatkan.

Bersyukurlah agar Allah memberikanmu tambahan… agar engkau bahagia.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى .

da1704160636

Makan Sederhana Bisa LEBIH ENAK, Daripada Makan Enak…

“Mereka yang sederhana dalam makanannya, kenikmatan mereka dari makanan tersebut lebih banyak daripada kenikmatan mereka yang bermewah-mewahan dalam makanannya.

Karena jika mereka yang bermewah-mewahan tersebut telah kecanduan dan terbiasa dengannya, makanan tersebut tidak akan menyisakan kelezatan yang wah, padahal mereka tidak bisa bersabar darinya, disamping sakit mereka akan menjadi banyak karenanya.”

[Oleh Syeikhul Islam, dalam kitabnya: Al-Qoidah fil Mahabbah, hal: 154]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Darini MA. حفظه الله تعالى

da2206141646