Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

MUTIARA SALAF : Agar Rasa Hasad Hilang

Hatim Al-Asham -rahimahullah- mengatakan:

“Aku melihat orang-orang saling hasad, maka aku pun merenungi firman Allah ta’ala:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَهُم مَّعِیشَتَهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ

“Kamilah yang membagi-bagi penghidupan untuk mereka dalam kehidupan dunia..” [Az-Zukhruf: 32]

Maka, aku pun meninggalkan hasad, karena hasad adalah bentuk protes terhadap pembagian Allah..”

[Mukhtashar Minhajil Qashidin 28]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kaidah Untuk Menjawab Syubhat Amalan Bid’ah

Kaidah untuk menjawab syubhat: “tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat, tidak boleh dilakukan..”

=====

Diantara syubhat yang seringkali diulang-ulang untuk membolehkan amalan bid’ah adalah: “Tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat, maka harus ditinggalkan di zaman ini.. Sehingga tidak semua ibadah yang ditinggalkan Beliau dan para Sahabat, maka harus ditinggalkan di zaman ini..” misalnya:

1. Kita tidak harus meninggalkan naik mobil dan yang semisalnya .. padahal beliau dan para Sahabat tidak pernah naik mobil.

2. Kita tidak harus meninggalkan mikrofon untuk adzan .. padahal di zaman Beliau dan para Sahabat, tidak pernah ada yang adzan pakai mikrofon.

3. Kita tidak harus meninggalkan shalat Tarawih berjama’ah di masjid hingga akhir Ramadhan .. padahal di zaman Beliau tidak pernah ada Tarawih berjama’ah di masjid dari awal sampai akhir Ramadhan.

4. Kita tidak harus meninggalkan belajar bahasa Arab agar bisa memahami Ayat Allah dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

SANGGAHAN:
Memang tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat harus ditinggalkan di zaman ini .. Tapi semua amalan yang memenuhi EMPAT SYARAT berikut ini, maka harus kita tinggalkan di zaman ini:

1. Dia merupakan amalan ibadah.
Jika bukan ibadah, maka pada asalnya boleh dilakukan.. makanya naik mobil dan sejenisnya boleh dan tidak harus kita ditinggalkan di zaman setelahnya.

2. Dimampui oleh Nabi dan para Sahabat.
Bila tidak dimampui oleh Beliau dan para Sahabat, maka tidak harus ditinggalkan di zaman setelahnya.. makanya menggunakan mikrofon dibolehkan, karena tidak ada yang bisa adzan menggunakan mikrofon di zaman itu.

3. Tidak ada penghalang untuk melakukannya di zaman Nabi.
Bila ada penghalang untuk melakukannya di zaman Beliau, maka tidak harus ditinggalkan ketika penghalangnya sudah hilang.
Makanya, kita tidak harus meninggalkan shalat Tarawih di masjid secara berjama’ah dari awal Ramadhan hingga akhir ramadhan .. karena dahulu Beliau tinggalkan itu disebabkan adanya penghalang, yaitu kekhawatiran Allah mewajibkannya, padahal beliau tidak ingin memberatkan umatnya.. dan setelah Beliau wafat, kekhawatiran itu sudah tidak ada lagi.

4. Ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya di zaman Nabi dan para Sahabat.
Jika tidak ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya di zaman Beliau dan para Sahabat, padahal setelah itu ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya, maka tidak harus ditinggalkan.
Makanya, kita tidak harus meninggalkan belajar Bahasa Arab, karena Beliau dan para Sahabat tidak perlu belajar Bahasa Arab, karena itu bahasa mereka sendiri.


Intinya:
Bila 4 syarat di atas ada pada suatu amalan.. dan ternyata tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat, maka berarti amalan itu harus ditinggalkan, dan bila dilakukan jadinya bid’ah.

Sebaliknya bila salah satu dari empat syarat ini tidak terpenuhi, maka amalan itu tidak harus ditinggalkan, kecuali ada dalil lain yang menunjukkan tidak bolehnya, wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bukti Cinta Yang Sebenarnya

“Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, menjadikan kalian berbuat tidak adil (zalim) kepada mereka..!” [QS. Al-Maidah: 8]

=====

Sehingga janganlah menuduh orang yang tidak ikut “Maulid Nabi”, dengan tuduhan “pasti tidak cinta Nabi” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Karena seringkali alasan dia tidak ikut “Maulid Nabi” adalah karena “cinta yang sangat tinggi” kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mungkin ada yang heran, mengapa karena “cinta Nabi”, seseorang malah meninggalkan “maulid Nabi”..?

Jawabannya:

Karena menurut dia bukti cinta yang sebenarnya adalah “mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang dia cintai..”

Ketika dia sangat mencintai Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- .. dan dia tahu beliau mengatakan “Jauilah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)..”, dia juga tahu hadits: “Perkara paling buruk dalam agama adalah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)” .. kemudian dia melihat bahwa ritual maulid itu bid’ah, karena tidak pernah dilakukan, baik oleh Nabi, para sahabat, para tabiin, maupun para tabi’ut tabiin .. maka konsekuensinya dia akan meninggalkan “Maulid Nabi” .. bukan karena dia tidak “cinta Nabi”, justru dia tinggalkan itu, karena dia “sangat mencintai beliau” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Oleh karenanya, jangan zalimi saudaramu dengan tuduhan “tidak cinta kepada Nabi” shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dia sangat sadar akan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai melebih orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhari dan Muslim].

Kenyataannya setiap muslim yang ikhlas, dia pasti mencintai Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja bentuk cintanya bisa berbeda sesuai dengan latar belakang ilmu masing-masing.

Jangan sampai “maulidmu” menjadikanmu menzalimi saudaramu..!

Ingat sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Sungguh kezaliman akan mendatangkan banyak kegelapan kepadamu di hari kiamat nanti..!” [HR. Bukhari dan Muslim].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tingginya Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Gambaran betapa tingginya rasa takut kepada Allah ta’ala .. padahal keadaan agamanya sangat istimewa.
=====

Diceritakan oleh Imam Bukhari -rahimahullah-:

“Suatu ketika Hammad bin Salamah menjenguk Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama besar ahli hadits dari generasi tabi’ut tabi’in, wafat 97 H) saat beliau sakit..

Maka Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: “Wahai Abu Salamah (kun-yah Hammad), apakah Allah MAU MENGAMPUNI orang sepertiku..?”

Maka Hammad mengatakan: “Demi Allah, jika aku diminta memilih antara dihisab oleh Allah dengan dihisab oleh kedua orangtuaku, tentu aku memilih dihisab oleh Allah daripada dihisab oleh kedua orang tuaku, karena Allah ta’ala lebih sayang kepadaku daripada kedua orang tuaku..!” [Hilyatul Auliya’ 6/251]

—————————-

Pelajaran berharga dari kisah ini:

1. Sebaik apapun agama kita, kita harus tetap takut kepada Allah.

2. Takut kepada Allah adalah tanda baiknya seseorang.

3. Pentingnya teman yang shalih dan manfaatnya yang sangat besar bagi kita.

4. Pentingnya menyeimbangkan antara khauf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap) kepada Allah.

5. Bila kita melihat teman kita dominan rasa takutnya, maka ingatkan dia kepada kasih sayang Allah yang sangat besar kepada hamba-Nya.

Wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kesombongan Yang Besar Tapi Dibungkus Agama

Kita sadari atau tidak, kesombongan banyak ditampakkan oleh sebagian orang kepada kita .. tapi karena dibungkus agama, ia tidak terlihat sebagai kesombongan, dan mudah menyebar di tengah-tengah masyarakat, wallahul musta’an.

Dan berikut ini adalah sebagian contohnya:

1. Mengaku shalat jumatnya di depan ka’bah .. padahal tinggalnya di negara kita.

2. Mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat sadar.

3. Mengaku bertemu atau bersalaman dengan Nabi Khadhir (biasanya disebut Khidir).

4. Mengaku dikasih pesan atau hadits istimewa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

5. Mengaku selalu diawasi dan diperhatikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Mengaku didatangi atau diziarahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .. mirip dengan ini, mengaku acaranya dihadiri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Mengaku dibawa naik ke Sidrotul Muntaha dan bertemu Allah.

8. Mengaku sudah sebagai wali, atau rela disebut sebagai wali.

9. Memerintahkan muridnya untuk menyebut namanya bila sedang dalam masalah, niscaya beres masalahnya.

10. Menjamin semua muridnya masuk surga.

11. Mengaku yang menyelisihinya pasti celaka.

12. Mengaku nanti bisa menggandeng seseorang masuk surga.

13. Mengaku mendapatkan ilham atau bisikan dari Allah.

14. Menjamin semua yang mengikuti ormasnya masuk surga .. ketika ditanya oleh malaikat di kubur, jawab saja: “aku pengikut ormas itu..!”

15. Mengaku kalau pengurus masjid bukan dari ormasnya, maka akan salah semua..!

16. Mengaku mendapat tongkat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan masih banyak lagi yang lainnya .. Sungguh kesombongan yang terlihat oleh orang awam, karena dibungkus oleh agama.
Padahal kesombongan sangatlah dimurkai oleh Allah, sampai-sampai Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan: “Tidak masuk surga, orang yang di hatinya ada kesombongan, meski hanya sekecil dzarrah (semut merah yang sangat kecil)..”

Saudaraku seiman, waspadalah terhadap kesombongan, semoga Allah jauhkan kita semua darinya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Apakah Ada Tidur Di Alam Kubur..?

Pertanyaan ini datang, karena ada yang mengatakan bahwa di alam kubur tidak ada tidur.
Alasannya: karena yang ada di alam kubur hanya nikmat atau adzab.. dan karena nama alam itu adalah “hayah barzakhiyyah” (kehidupan barzakh).. sehingga tidak ada tidur di alam itu.

Jawaban:
Ada beberapa jawaban untuk masalah ini:

1. Bila kita melihat dalil-dalil yang shahih, maka ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa di alam kubur itu ada tidur. Diantaranya:

A. Firman Allah ta’ala tentang orang yang mendustakan hari akhir:

يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا

“Celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)..?!” [Yasin: 52]

⚉ Imam Thabari -rahimahullah- ketika menafsiri ayat ini mengatakan:

قال هؤلاء المشركون لما نفخ في الصور نفخة البعث لموقف القيامة فردت أرواحهم إلى أجسامهم، وذلك بعد نومة ناموها

“Kata-kata itu dikatakan oleh kaum musyrikin ketika sangkakala ditiup untuk kebangkitan makhluk menuju padang mahsyar, maka ruh-ruh mereka dikembalikan ke jasad-jasad mereka, dan itu terjadi setelah tidur yang mereka lakukan..” [Tafsir Thabari 20/531].

⚉ Syeikh Assi’di -rahimahullah- juga menyampaikan hal yang senada dengan ini:

أي: من رقدتنا في القبور، لأنه ورد في بعض الأحاديث، أن لأهل القبور رقدة قبيل النفخ في الصور

“Maksudnya: (siapa yang membangkitkan kami) dari tidur kami di alam kubur..?!, karena telah datang dalam sebagian hadits, bahwa para ahli kubur itu memiliki masa tidur sebelum sangkakala ditiup..” [Tafsir Assi’di 697].

B. Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang perkataan malaikat Munkar dan Nakir kepada ruh seorang mukmin setelah selesai menjalani fitnah kubur dengan baik:

نم كنومة العروس الذي لا يوقظه إلا أحب أهله إليه، حتى يبعثه الله من مضجعه ذلك

“Tidurlah seperti tidurnya pengantin baru, yang tidak ada yang berani membangunkannya kecuali keluarga yang paling dia cintai, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya itu..” [HR. Attirmidzi: 1071, Hasan].

C. Perkataan sahabat Abu Hurairah tentang ruh orang mukmin di alam kubur:

فيقال: انظر إلى مقعدك، ثم يتبعه نوم كأنما كانت رقدة

“Lalu dikatakan kepadanya: ‘lihatlah kepada tempatmu (di surga) itu’. Kemudian ia tertidur, dan seakan-akan ia hanya tidur sejenak..”

Sedangkan tentang ruh musuh Allah, sahabat Abu Hurairah mengatakan:

ثم يقال له : نم كما ينام المنهوش .. الذي تنهشه الدواب والحيات

“Kemudian dikatakan kepadanya: ‘tidurlah seperti tidurnya orang yang manhusy’ .. yakni tidurnya orang yang digigiti banyak hewan dan ular..” [HR. Albazzar dalam Musnadnya 9760, dan Abdullah bin Ahmad dalam Assunnah 1446, dengan sanad yang Hasan].

2. Adapun perkataan bahwa di alam kubur itu yang ada hanya nikmat atau azab saja, maka ini tidak menafikan adanya masa tidur untuk ahli kubur.. karena seseorang tetap bisa merasakan nikmat atau azab, meski dia dalam tidurnya.

3. Adapun alam kubur disebut “kehidupan barzakh”, maka ini juga tidak menafikan adanya masa tidur untuk ahli kubur.. hal ini sebagaimana “kehidupan dunia”, tetap ada masa tidur meski namanya “kehidupan dunia.”

Demikian, wallahu ta’ala a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sedekah Di Hari Jum’at Yang Mulia

Diantara dalil yang menguatkan bahwa sedekah di hari Jum’at lebih dianjurkan, adalah:

1. Atsar yang disebutkan oleh Imam Abdurrozzaq dengan sanad yang shahih dari sahabat Ibnu ‘Abbas -rodhiallahu ‘anhuma-, dari Ka’ab -rohimahullah-:

وَالصَّدَقَةُ فِيهِ أَعْظَمُ مِنْ سَائِرِ الْأَيَّامِ

“Dan sedekah di hari Jum’at lebih agung daripada sedekah di hari lain..” [Mushonnaf Abdurrozzaq 5558].

2. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hari Jum’at adalah hari yang sangat mulia, dan amal kebaikan akan menjadi semakin mulia bila dilakukan di waktu yang mulia.

Diantara dalil yang menunjukkan kemuliaan hari Jum’at adalah hadits Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam-:

خيرُ يومٍ طَلعَتْ فيه الشَّمسُ يومُ الجُمُعة

“Hari terbaik yang matahari terbit di dalamnya adalah hari Jum’at..” [HR. Muslim: 17]

Oleh karenanya, banyak ulama yang berpendapat bahwa sedekah di hari Jum’at lebih mulia, diantaranya:

a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullah-, Ibnul Qoyyim mengatakan tentang beliau:

وَشَاهَدْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْجُمُعَةِ يَأْخُذُ مَا وَجَدَ فِي الْبَيْتِ مِنْ خُبْزٍ أَوْ غَيْرِهِ فَيَتَصَدَّقُ بِهِ فِي طَرِيقِهِ سِرًّا

“Aku telah menyaksikan Syaikhul Islam -qaddasallahu ruhah- apabila keluar menuju shalat Jum’at, beliau mengambil dari rumahnya roti atau yang lainnya, kemudian beliau bersedekah dengannya di jalan (menuju masjid) secara sembunyi-sembunyi..” [Zadul Ma’ad 1/395]

b. Ibnul Qoyyim -rohimahullah-:

إنَّ لِلصَّدَقَةِ فِيهِ مَزِيَّةً عَلَيْهَا فِي سَائِرِ الأَيَّامِ، وَالصَّدَقَةُ فِيهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى سَائِرِ أَيَّامِ الأُسْبُوعِ كَالصَّدَقَةِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى سَائِرِ الشُّهُورِ.

“Sungguh, sedekah di hari Jum’at memiliki keutamaan atas sedekah di hari-hari lainnya. Bahkan sedekah di dalamnya apabila dibandingkan dengan sedekah di hari-hari lainnya dalam sepekan, itu seperti sedekah di bulan Ramadhan bila dibandingkan dengan sedekah di bulan-bulan lainnya..” [Zadul Ma’ad 1/394]

c. Abul Baqo’ Addamiri Asy-Syafii (w 808 H) -rohimahullah-:

ويستحب كثرة الصدقة وفعل الخير في ليلتها ويومها.

“Dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan melakukan kebaikan, baik di malam hari Jum’at ataupun di siang harinya..” [Annajmul Wahhaj 2/498].

Hal senada juga disebutkan oleh Al-Khotib Asy-Syirbini, Ibnu Hajar Al-Haitamy, dan ulama-ulama lainnya.

Demikian, wallahu a’lam.. Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Salah Sangka..!

Banyak orang menyangka:
– Sedekah mengurangi harta..
– memaafkan kezaliman orang, menjadikan orang terlihat lemah, karena tidak mampu membalas.. dan
– merendah, menjadikan orang hina.

Padahal semuanya telah dibantah oleh Nabi kita -shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam satu haditsnya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta sama sekali.. Tidaklah Allah menambah untuk seorang hamba dari sikap memaafkan, melainkan kekuatan.. dan Tidaklah seseorang bersikap merendah (tawadhu’), melainkan Allah akan memuliakannya..” [HR. Muslim: 69].

Sungguh ini menunjukkan ke-mahakuasa-an Allah.. Dia bisa menjadikan sesuatu yang terlihat bertentangan menjadi sesuatu yang berhubungan sebab akibat.

Sedekah, Allah jadikan penyebab bertambahnya harta.. padahal harusnya harta menjadi berkurang karenanya.
Memaafkan, Allah jadikan penyebab kekuatan.. padahal harusnya menjadikan seseorang tampak lemah.
Merendah, Allah jadikan penyebab kemuliaan.. padahal harusnya menjadikan dirinya rendah.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya, misalnya:
– Api mendatangkan dingin untuk Nabi Ibrahim.. [Al-Anbiya’: 69].
– Air mendatangkan api.. [At-Takwir: 6].
– Menjadikan api dari pohon yang hijau.. [Yasin: 80].
– Mendatangkan kehidupan dari kematian.. [Alu Imron: 27]
– Mendatangkan kematian dari kehidupan.. [Al-An’am: 95] .. dst.

Oleh karenanya, jangan dahulukan akal, ketika syariat mengatakan lain.. karena “Allah-lah yang tahu, sedangkan kalian tidak tahu..” [Al-Baqarah: 216].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mengapa..?

Mengapa seringkali seseorang berat menjalankan syariat Islam, padahal katanya Islam itu ajaran yang ringan dan sesuai dengan fitrah manusia..?!

=====

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini :

1. Sesuai dengan fitrah, tidak harus ringan, bisa jadi terasa berat tapi masih wajar..

misalnya: bekerja mencari nafkah, itu sesuai fitrah, tapi tidak harus ringan.. ada juga orang-orang yang harus berjuang keras dalam mencari nafkahnya. Sesuai dengan fitrah, maksudnya fitrah manusia bisa menerimanya dan tidak menentangnya.

2. Yang berat menjalankan syariat, biasanya orang-orang yang fitrahnya sudah berubah karena dirusak oleh setan.. Seandainya masih lurus fitrahnya, tentu dia akan ringan menjalankan syariat.

Lihatlah anak kecil, ketika diminta menjalankan sebagian syariat, dia akan ringan menjalankannya.. begitu pula dengan orang dewasa yang fitrahnya masih lurus .. apalagi jika dia memiliki kesadaran bahwa dia sangat membutuhkan ibadahnya.

3. Bisa jadi seseorang sudah terbiasa menjalankan sesuatu yang ringan tapi salah, dan itu dianggap baik-baik saja.

Orang yang seperti ini bila dituntut menjalankan syariat yang lebih berat dari kebiasaannya, tentu akan merasa berat, karena sudah terbiasa dengan yang ringan.

4. Keberatan menjalankan syariat juga sering dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak baik.. apalagi bila lingkungan sekitar memusuhinya saat menjalankan syariat.

Jadi bukan syariatnya yang berat, tapi karena lingkungan yang buruk, dia berat menjalankan syariat.

5. Kejahilan terhadap syariat Islam.

Dan ini efeknya sangat banyak.. bisa jadi sebenarnya bukan bagian syariat, dia anggap bagian syariat, padahal berat untuk dilakukan.. bisa jadi sebenarnya bukan wajib, dia anggap wajib.. bisa jadi sebenarnya ada banyak solusinya, dia tidak tahu.. bisa jadi sebenarnya boleh, dia anggap tidak boleh.. dst.

Wallahu a’lam.

Diposting oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Pesan Terbaik

(Pesan terbaik yang kubaca hari ini)

Jangan kabarkan kepada orang-orang, berapa hapalan Quran-mu.
Jangan pula kau kabarkan kepada mereka, bahwa engkau telah me-mutqin-kan 1 juz, atau telah menghapal 1 hizb, atau telah memurojaah 10 juz.

Biarkan mereka melihat Quran itu ada pada dirimu .. di perkataanmu yang baik, akalmu yang berbobot, kemuliaan pada anggota badan dan hatimu.. di semangatmu berbuat baik kepada orang lain, kebijaksanaanmu, dan ketenanganmu dalam bersikap.

Jangan sampai tujuanmu agar disebut sebagai orang yang telah hapal Al-Quran .. tapi berusahalah agar menjadi orang yang berakhlak dengan Al-Quran.

Diposting oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى