Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Saatnya Kita Super Hati-Hati…

Dalam situasi seperti sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama

⚉ Imam Adz-Dzahabi -rohimahulloh- mengatakan:

“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” [Siyaru A’lamin Nubala’ 7/261].

Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini… oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:

⚉ Sahabat Ibnu Abbas -rodhiallohu ‘anhuma-:

“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dengan seksama.

Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yang liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yang tidak mereka kuasai dengan baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yang kami ketahui (sebelumnya).” [Muqoddimah Shahih Muslim 1/13].

⚉ Imam Ibnu Sirin -rohimahulloh-:

“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima.” [Muqoddimah Shahih Muslim 1/15].

Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:

“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian.” [Muqoddimah Shahih Muslim 1/14].

⚉ Imam Ibrohim An-Nakho’i -rohimahulloh-:

“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah.” [Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29].

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2201171742

Diantara Tanda Dekatnya “Hari Akhir” Adalah Munculnya Ustadz-Ustadz “Akhir Zaman”

Diantara tanda dekatnya “hari akhir” adalah munculnya ustadz-ustadz “akhir zaman”

=======

Fenomena munculnya ustadz-ustadz “akhir zaman” ini, sebenarnya sangat merugikan Islam dan kaum muslimin .. berikut beberapa alasannya:

🇦 Mereka tidak peduli dengan sumber dalil yang kuat .. apapun dipakai dalil oleh mereka, selama sesuai dengan cok-galicoknya.

⚉ hadits-hadits lemah, bahkan palsu dipakai sebagai dalil.

⚉ cerita teman, dipakai sebagai dalil.

⚉ bahkan kata orang yahudi, dipakai juga sebagai dalil.

🇧 Mereka memaknai hadits dengan seenaknya, sehingga banyak hadits yang dipelintir dan dipaksakan, agar menunjukkan bahwa peristiwa tertentu yang terjadi akhir-akhir ini adalah peristiwa yang dimaksud Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya.

⚉ Ini sangat berbahaya bagi ustadz-ustadz tersebut, karena bisa saja masuk ke dalam tindakan berdusta atas nama Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

⚉ Ini juga berbahaya bagi pendengar, karena mereka akan mengira mendapatkan kebenaran padahal itu kebatilan.

⚉ dan ini juga akan mencoreng nama Islam, karena akan banyak prediksi-prediksi yang tidak sesuai dengan fakta .. sehingga banyak orang menuduh Islam telah mengabarkan hal-hal yang salah .. padahal yang salah adalah pemahaman orang yang menyampaikannya.

🇨 Akan banyak orang yang tertipu dengan perkataan mereka, dan mengeluarkan materi yang tidak sedikit karenanya .. dan nantinya mereka akan merasa dirugikan oleh Islam.

⚉ Seperti, ajakan untuk hidup di gunung .. karena dajjal katanya akan masuk ke kota-kota saja, tidak akan masuk ke desa-desa ! .. sehingga dia mengajak manusia untuk bersiap-siap beli tanah di gunung dan segera bangun .. kemudian dia yang akan mengelola dengan alasan agar rumah itu terjaga dengan baik dan dipakai untuk kebaikan.

Tentu yang seperti ini adalah pemahaman yang aneh, dan tidak pernah dipahami oleh para ulama generasi salaf.

Para ulama salaf juga meyakini dekatnya kiamat, tapi tidak melakukan apa yang mereka lakukan.

Ustadz-ustadz “akhir zaman” ini seakan-akan ingin agar kiamat segera terjadi .. sehingga hal-hal yang terjadi saat ini, harus dihubung-hubungkan dengan tanda datangnya kiamat, disertai dengan menyebutkan dalil-dalil yang dipaksakan, wallahul musta’an.

Sungguh, jika bukan karena kesadaran wajibnya amar ma’ruf nahi munkar, maka tulisan ini tidak akan ada.

Saudaraku kaum muslimin yang saya cintai karena Allah .. hati-hatilah dalam mengambil ilmu agama, agar kita selamat .. selamat dunia kita dan juga akherat kita.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Ikuti Arusnya .. Tapi Teguhlah Di Atas Agama-Nya

Jangan ikuti arusnya .. Tapi teguhlah di atas Agama-Nya.

======

Saudaraku kaum muslimin yang saya cintai karena Allah.

Sadarlah .. bahwa kita akan terus digiring untuk menjauhi apa yang dinilai buruk oleh musuh-musuh Islam .. dan digiring untuk melakukan apa yang dinilai baik oleh mereka.

Contohnya: Jauhi wahabi, radikal, teroris, takfiri, ekstrim, kaku, kolot, jumud, dst .. tapi standarnya dari mereka, bukan dari Islam.

Contohnya lagi: Jadilah orang yang rahmatan lil ‘alamin, bijak, toleran, hormat kearifan lokal, moderat, maju, dst .. tapi standarnya dari mereka, bukan dari Islam.

Jika hal ini kita ikuti sesuai standar mereka, maka jelas lama-lama Islam, hanya tinggal nama .. kelihatannya berlabel Islam, tapi sejatinya hanyalah mengikuti apa yang mereka inginkan.

Perkataan imam kita, Imam Syafi’i -rohimahullah- telah lama membantah mereka, beliau mengatakan:

آمنت بالله وبما جاء عن الله، على مراد الله. وآمنت برسول الله، وبما جاء عن رسول الله، على مراد رسول الله

“Aku beriman kepada Allah, dan apapun yang datang dari Allah, sesuai yang diinginkan Allah.

Aku juga beriman kepada Rosulullah, dan apapun yang datang dari Rosulullah, sesuai yang diinginkan oleh Rosulullah”

Standarnya adalah apa yang diinginkan oleh Allah dan Rosul -shollallahu ‘alaihi wasallam- .. bukan apa yang diinginkan mereka (musuh-musuh Islam).

Oleh karena itu, bersabarlah untuk tetap teguh dengan Alquran dan Assunnah, sebagaimana dipahami oleh para Salaful Ummah .. meski akan banyak ujian yang kita alami dan hadapi.

Inilah jalan yang menjadikan Islam kita terjaga, tetap seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rosulnya .. inilah jalan keselamatan .. inilah jalan yang lurus menuju surga Allah ta’ala.

Teruslah mengingat, bahwa semakin berat suatu amalan, maka semakin berat juga timbangannya .. semoga Allah memberikan keteguhan kepada kita hingga husnul khotimah, amin.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Aku Sangat Mencintaimu, Ya Rosulullah…

Ketika mereka mengajak untuk melestarikan ajaran nenek moyang, aku memilih melestarikan ajaran yang engkau bawa, karena menurutku engkaulah NENEK MOYANGKU yang paling mulia… engkaulah nenek moyang yang paling kucinta.

Ketika mereka mengajak untuk memuliakan kyai, sehingga seringkali mereka memelintir sabdamu agar sesuai dengan perkataan kyai… aku lebih memilih engkau sebagai MAHA KYAI, kubenarkan semua sabdamu, dan kuterima dengan apa adanya sebagaimana dipahami para sahabatmu… sungguh akan kuplintir perkataan siapapun yang menyelisihi sabdamu… karena sabdamu adalah barometer untuk perkataan semua kyai, siapapun dia dan darimanapun asalnya.

Ketika banyak kalangan menyuruh atau bahkan mengharuskan untuk menghidupkan tradisi dalam masyarakat… aku lebih memilih untuk menghidupkan TRADISI yang kau bawa, tradisi yang telah diperaktekkan oleh masyarakatmu, para sahabatmu… memang tradisi yang tidak bertentangan dengan tradisimu akan kutolerir… bukan aku membenci tradisi daerahku, tapi karena aku lebih mencintaimu dan tradisimu melebihi siapapun, melebihi tradisi manapun.

Ketika mereka mengajak beribadah dengan ritual sesepuh yang sudah mendarah daging… aku lebih memilih dan mencintai RITUAL ibadah yang kau ajarkan, tidak akan kutambah karena tidak mungkin aku atau siapapun lebih pintar darimu… dan tidak ingin kukurangi, karena itu akan mengurangi pahalaku… bahkan andai ritual ibadah sesepuh itu sudah mendarah daging pada diriku, aku rela untuk mengganti darah dan daging itu, karena aku memang sangat mencintaimu, engkaulah SESEPUHKU yang paling sempurna.

Ketika banyak orang merasa bangga dengan budaya barat, aku memilih untuk bangga dengan BUDAYAMU, karena budayamu itu mengumpulkan kesucian, kemuliaan, kewibawaan, keindahan, kebahagiaan, dan sifat penyempurna lainnya… aku mencintaimu, oleh karenanya aku merasa bangga dengan budayamu.

Saking besarnya cintaku kepadamu, aku ikrarkan sebagaimana perkataan para sahabatmu: “Demi engkau kurelakan bapak ibu kami sebagai tebusan“.

Semoga Allah meneguhkanku di atas jalanmu dan para sahabatmu… merekalah para salafku… hanya dengan itulah aku pantas berharap; semoga nanti dikumpulkan bersama mereka, di dalam FirdausNya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da140915-0634

Orang Yang Lebih GEMBIRA Dan Lebih BUTUH Terhadap Pahala Sedekah

Seandainya ‘orang yang bersedekah’ sadar bahwa sedekahnya itu SAMPAI di tangan Allah sebelum sampai ke tangan si miskin, tentunya orang yang memberi akan lebih GEMBIRA dengan pemberiannya daripada orang yang mengambil pemberian.

Seandainya ‘orang yang memberi’ tahu bahwa dia itu BUTUH terhadap pahala sedekahnya melebihi kebutuhan si miskin terhadap sedekahnya, tentunya tangannya menjadi lebih RINGAN dalam memberi daripada tangan si miskin dalam menerima pemberiannya.

Seandainya ‘orang yang memberi’ tahu bahwa MANFAAT sedekahnya untuk dirinya jauh lebih besar daripada manfaat sedekah itu untuk si miskin, tentunya dia ingin MEMPERBANYAK sedekahnya melebihi keinginan si miskin untuk mendapatkan pemberian yang banyak.

Mari bantu orang yang membutuhkan di sekitar kita…

Kita selalu semangat dalam mencari harta dan berpikir bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas… maka harusnya kita juga semangat dan berpikir demikian dalam masalah pahala, bahkan harusnya lebih semangat lagi, wallohul musta’an…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2610162043

Agar Mata Hati Terbuka

Agar mata hati terbuka, sehingga kita bisa melihat hal ihwal dunia dengan lebih jernih.. dan berkata-kata dengan mutiara hikmah.

======

Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan:

“Siapa yang ingin Allah bukakan hatinya, dan Allah berikan hikmah kepadanya; maka hendaklah dia berkholwat (menyendiri dengan ibadah), mengurangi makan, dan tidak bergaul dengan orang-orang yang bodoh dan sebagian ulama yang tidak memiliki sikap obyektif dan tidak memiliki adab”

[Manaqib Imam Syafi’i lil Baihaqi 2/172].

———

Ibarat pandangan seseorang kepada sesuatu yang sangat besar, semakin dia jauh dari benda itu, maka semakin menyeluruh pula pandangan dia terhadap sesuatu tersebut.

Begitu pula pandangan kita terhadap dunia, semakin kita menjauh dari dunia, kita akan dapat memandang hakekat dunia itu dengan lebih menyeluruh.

Apalagi bila Allah memberikan kita setitik ilmu-Nya karena kedekatan kita dengan-Nya, tentu akan semakin jelas pandangan mata hati kita terhadap dunia ini dan semakin lengkap pengetahuan kita tentangnya, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2211161312

Sakit Hati

Sakit hati, mengapa terus dipelihara ?!… Tidakkah anda segera mengobatinya ?!

Tidak seperti ketika sakit di badannya… seringkali seseorang malah ‘memelihara’ sakit hatinya, padahal harusnya dia bisa segera mengobati lara hatinya itu, sebagaimana dia bisa segera mengobati sakit badannya.

Dan diantara OBAT pelipur lara hati yang PALING AMPUH adalah dengan MEMAAFKAN kesalahan orang yang menyakiti kita… karena itulah sumber dan sebab utama sakitnya hati kita, oleh karenanya ketika sumber sakitnya sudah teratasi, maka tentunya sakit hati kita akan hilang dengan sendirinya.

Seringkali seseorang tidak mau, atau gengsi, atau merasa rugi untuk memaafkan orang lain, padahal sebenarnya dengan begitu dia akan rugi sendiri, karena hatinya akan sakit, tersiksa, dan TERBEBANI terus-menerus.

Seringkali seseorang TIDAK INGIN memaafkan kesalahan orang lain, kecuali bila orang tersebut yang meminta maaf kepadanya, padahal apakah dia akan melakukan hal yang sama saat badannya disakiti orang lain ?! Apakah dia mau menunggu hingga orang lain mau mengobati sakit di badannya?! Tentunya tidak.

Maafkanlah kesalahan orang lain… karena dia sama sekali tidak akan mampu mengubah TAKDIR tanda…

Maafkanlah dia… karena Allah menjanjikan pahala yang tiada tara kepada Anda: “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya itu Allah (yang menentukannya)” [QS. Asy-Syuro: 40].

Maafkanlah dia… karena Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda: “Maafkanlah, dan berlapang dadalah ! Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian ?!” [QS. Annur: 22].

Maafkanlah dia… bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan Anda lebih tinggi darinya… Anda yang disalahi, bukan anda yang menyalahi…

Maafkanlah dia, agar sakit hati Anda segera hilang… Agar hati Anda menjadi lapang, ringan, dan bahagia…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2501152045

Nasihati Aku.. Jangan Permalukan Aku

Syair Imam Syafi’i rohimahullah:

تعَمَّدْني بِنُصْحك فِي انفرادي *** وجَنِّبْني النصيحةَ في الجماعَةْ

فإنَّ النُّصحَ بين الناسِ نوعٌ *** من التوبيخ لا أرضَى اسْتِماعَهْ

وإنْ خالفْتَني وعصيْتَ قولي *** فلا تجزعْ إذا لم تُعطَ طاعَةْ

“Sengajalah menasehatiku saat ku sendiri.. jauhkan aku dari nasehat di depan khalayak ramai..
Karena nasehat di tengah manusia itu bentuk mempermalukan dan aku tidak rela untuk mendengarkan..
Dan jika perkataanku ini tidak engkau ikuti, maka jangan kaget bila nasehatmu tidak ditaati..”

(Diwan Imam Syafi’i, hal: 96)

Sekelas Imam Syafi’i rohimahullah saja, tidak mau mendengarkan nasehat yang disampaikan di hadapan manusia, maka bagaimana orang yang jauh di bawah beliau ketakwaan dan keikhlasannya, akan mau mendengarkannya ?

Sebagian orang menampakkan diri sebagai penasehat sebagai penjaga benteng agama sebagai orang yg peduli untuk menjaga masyarakat dari kesesatan,dst. Tapi sayang terselip di hati kecilnya, disengaja atau tidak, rasa ingin menjatuhkan saudaranya.

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2403162113

Kiamat Benar-Benar Sudah Dekat

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

“Sungguh, di hadapan hari kiamat akan ada:
(1) Mengucapkan salam kepada orang khusus.
(2) Merebaknya perdagangan, hingga seorang isteri membantu suaminya dalam berdagang.
(3) Memutus tali persaudaraan.
(4) Persaksian dusta.
(5) Menyembunyikan persaksian yang benar.
(6) Mengemukanya pena (tulisan)

[HR. Ahmad: 3870, Syeikh Albani -rohimahulloh- mengatakan: “Sanadnya shohih, sesuai syaratnya Imam Muslim”, lihat di silsilah shohihah: 647].

———

Coba perhatikan 6 poin yang disebutkan dalam hadits di atas… Subhanallah, seakan Beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam- sedang menggambarkan keadaan di zaman kita ini, wallohul mustaan.

Sungguh betapa banyak kaum muslimin yang mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalnya saja.

Betapa merebaknya perdagangan, apalagi bisnis online.

Betapa banyak kasus putus hubungan saudara, hanya karena masalah sepele.

Persaksian dusta yang menjadi permainan di mahkamah, sudah bukan rahasia lagi… bahkan persaksian yang benar, seakan dikubur dan tidak boleh dibuka.

Dan yang terakir, mengemukanya pena… Ya, setiap orang bebas menuliskan uneg-unegnya… lihatlah status FB, WA, dst.

———

Sungguh ini merupakan tanda kenabian, yang sekaligus menjadi lampu merah bagi kita agar tetap berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya, hingga ajal menjemput kita… semoga kita semua husnul khotimah… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2404151449