Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Renungan

Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan, agar hati kita selalu khawatir.

Dia juga selalu membuka pintu taubat, agar kita selalu punya harapan.

Dan Dia menjadikan penentu status seseorang pada amalan penutup hidupnya, agar tidak seorang pun tertipu dengan amalnya.

Seandainya paras dan ragamu lebih penting dan berharga dari ruhmu, tentunya ruh tidak naik ke langit, sedang raga harus dikubur dalam tanah.

Betapa banyak orang terkenal di muka bumi, namun ia tidak dikenal di penghuni langit.

Sebaliknya, betapa banyak orang tak dikenal dibumi, namun ia dikenal baik oleh penghuni langit.

Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah kekuatan takwa, bukan kekuatan raga.

Maka lihatlah kedudukanmu di sisi Allah, dan tinggalkan penilaian manusia.

[Sumber dari pesan berbahasa arab]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da3001161903

Keadaan Kita Di Akherat Nanti

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- berkata:

“Sungguh, seorang hamba akan mati sebagaimana kebiasaan hidupnya .. dan dia akan dibangkitkan sebagaimana matinya”

[Miftahu Daris Sa’aadah 1/94].

Intinya: keadaan kita di akherat nanti, sesuai keadaan kita di dunia ini .. karena kita dibangkitkan sesuai keadaan kita saat mati .. dan keadaan kita saat mati sesuai kebiasaan hidup kita saat ini.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

EMPAT Amalan Pembuka REZEKI

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Ada empat (amalan) yang dapat mendatangkan rezeki:
(1) Bangun malam (untuk sholat)
(2) Banyak istighfar di waktu sahur
(3) Rutin bersedekah
(4) Berdzikir di awal hari dan di akhirnya

Dan ada empat perkara yang dapat menghalangi rezeki:
(1) Tidur pagi
(2) Sedikitnya sholat
(3) Malas-malasan
(4) Berkhianat (tidak jujur)”

[Sumber: Kitab Zadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim, 4/378]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da3011150513

Yakinlah…

Hidup ini bisa saja tertatih-tatih dan berliku-liku, tapi dia tidak akan berhenti. Cita dan asa bisa saja menjadi kabur, tapi dia tidak akan mati.

Kesempatan bisa saja hilang, tapi dia tidak akan habis. Dan betapapun terasa berat dan sempitnya hidup ini, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.

Ingatlah selalu firman Allah ta’ala (yang artinya): 
Bukankah shubuh itu dekat.
[Hud:81]

Sepanjang apapun kelamnya malam, pasti nantinya akan disusul oleh kemunculan fajar sebagai permulaan terangnya kehidupan…

Maka sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan. [Asy-Syarh:5-6].

Perhatikanlah bagaimana Allah mengulangi redaksi yang sama hingga dua kali, oleh karena itu carilah dengan seksama celah kemudahan itu, saat Anda menghadapi kesulitan dalam hidup ini.

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

da2011142054

Mari Merenungi Hakekat Hidup Ini

Setiap hari sebenarnya semua orang selalu mendapatkan musibah, namun seringkali dia tidak menyadarinya, apalagi mengambil pelajaran darinya.

⚉ Musibah pertama:
Umur yang terus berkurang.

Ironisnya pada hari ketika umurnya berkurang, dia tidak sedih karenanya, tapi apabila uangnya berkurang, dia bersedih.. padahal uang bisa dicari lagi, sedangkan umur tidak mungkin dicari gantinya.

⚉ Musibah kedua:
Setiap hari dia memakan dari rezeki Allah.

Bila rezeki itu haram; dia akan disiksa karenanya.. dan bila rezeki itu halal; dia tetap akan dihisab untuk mempertanggung jawabkannya, dan dia tidak tahu apakah dia akan selamat dalam hisab itu atau tidak.

⚉ Musibah ketiga:
Setiap hari, dia semakin mendekat kepada akherat, dan semakin menjauh dari dunia.

Meskipun begitu, dia tidak memperhatikan akheratnya yang kekal sebagaimana dia memperhatikan dunianya yang fana… padahal dia tidak tahu, pada akhirnya nanti dia akan ke surga ataukah ke neraka.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia, sebagai tujuan terbesar hidup kami dan tujuan akhir ilmu kami..

Ya Allah.. Hindarkanlah kami dari nerakaMu, dan jadikanlah rumah abadi kami adalah surgaMu, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da070415-2116

Katanya..

Katanya: “Jangan jadi Tuhan untuk sesama” .. Maksudnya jangan memvonis atau menilai orang lain salah !

Kita jawab:

a. Bahwa perkataan dia, “Jangan jadi Tuhan untuk sesama”, juga merupakan sikap menyalahkan orang lain .. maka harusnya perkataan itu juga berlaku pada dirinya.

b. Perkataan itu datangnya dari orang-orang liberal, yang meyakini bahwa tidak ada hukum Allah di muka bumi ini .. dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

ذَ ٰ⁠لِكُمۡ حُكۡمُ ٱللَّهِ یَحۡكُمُ بَیۡنَكُمۡۖ وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ

“Itulah hukum Allah, yang Dia tetapkan untuk kalian. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”. [Al-Mumtahanah: 10]

c. Bahwa Allah menginginkan agar sebagian hamba-Nya memberikan penilaian kepada hamba-Nya yang lain, dan itu bentuk ketundukan dia kepada Allah, Tuhannya .. bukan sikap menuhankan dirinya kepada orang lain.

Lihatlah firman-Nya:

وَأَنِ ٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ

“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka (kaum yahudi) dengan apa yang Allah turunkan, dan jangan sampai engkau mengikuti hawa nafsu mereka”. [Al-Maidah: 49]

Dia juga berfirman:

وَإِذَا حَكَمۡتُم بَیۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُوا۟ بِٱلۡعَدۡلِ

“Apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, (Allah memerintahkan) agar kalian menetapkannya dengan adil”
[An-Nisa’: 58]

Seorang ahli ilmu juga boleh menilai perbuatan orang lain, makanya Allah berfirman:

فَاسْألُوا أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Bertanyalah kalian kepada ahli ilmu, bila kalian tidak tahu”. [An-Nahl: 43]

Bahkan selain hakim dan ulama’ pun boleh memberikan penilaian terhadap orang lain, lihatlah firman-Nya:

فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ

“Berjalanlah kalian ke (segenap penjuru) bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. [Ali ‘Imran: 137]

Lihat juga firman-Nya:

كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلله

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) ber-amar makruf nahi mungkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali ‘Imran: 110]

Dan tidaklah seseorang mampu ber-amar makruf nahi mungkar, kecuali setelah dia memberikan penilaian terhadap perbuatan tertentu, apakah itu baik atau buruk.

Apa itu berarti, Allah memerintahkan sebagian manusia menjadi Tuhan atas sebagian yang lain .. tentu tidak demikian.

Wallahu a’lam .. silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Banyak Yang Mengatakan Bahwa Harta Itu Segalanya…

Tidak sadarkah mereka, bahwa banyak nikmat dunia yang tidak bisa diganti oleh uang, apalagi nikmat akhirat.

Memang dengan uang, seseorang bisa membeli obat, atau masuk RS tercanggih.. tapi belum tentu dia bisa sehat, atau sembuh dari sakitnya.. betapa banyak orang kaya yang sakit bahkan tersiksa oleh penyakitnya hingga ajal menjemputnya.. karena sehat tidak bisa dibeli dengan harta.

Memang dengan uang, orang bisa membeli ranjang terhalus dan ternyaman.. tapi itu tidak menjamin dia bisa tidur dengan nyenyak.. betapa banyak orang tidak bisa tidur, padahal dia bermalam di hotel paling mewah dan paling berkelas.. justru, banyak yang bisa tidur nyenyak dengan hanya beralaskan tikar dan beratapkan langit.

Memang dengan uang, orang bisa membeli makanan terlezat dan paling bergizi.. tapi belum tentu dia bisa menikmati rasanya, bahkan bisa jadi makanan sudah di depan matanya, tapi selera makan tiba-tiba hilang entah kemana.. selera makan ternyata tidak bisa dia beli dengan uang.

Memang dengan uang, orang bisa bertamasya dan bersenang-senang.. tapi belum tentu batin dia bahagia, betapa banyak orang yang sudah bergelimang harta, sudah mencari kesenangan hidup, tapi kebahagiaan masih tidak ia temukan.. bahkan ia malah mabuk-mabukan, pertanda banyak masalah dan kepenatan hidup yang ingin dia buang dan lepaskan.

Uang juga tidak akan bisa membeli akhlak, meski orang bisa membeli buku tentang akhlak.. Uang tidak bisa membeli waktu, meski bisa membeli jam paling baik sekalipun.. dan masih banyak lagi.

Intinya, sadarlah bahwa uang bukan segalanya.. tidak benar segalanya membutuhkan uang.. tapi yang benar segalanya membutuhkan pertolongan Allah.. tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi di alam ini kecuali atas kehendak Allah.

Oleh karenanya, mendekatlah kepadaNya, Anda akan mendapatkan semua yang Anda harapkan, bahkan lebih dari yang Anda harapkan.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Tergantung Cara Pandangmu

Nikmat dan musibah, bisa menjadi besar atau kecil tergantung cara pandangmu kepada keduanya.. Nikmat biasa bisa menjadi istimewa.. musibah besar bisa menjadi biasa karenanya..

Seringkali saya melihat, seorang anak merasa sangat bahagia ketika bermain dengan permainan sederhana .. sementara bagi anak lain, permainan itu sangat tidak menarik baginya .. permainannya sama, hanya cara pandang yang berbeda.

Pernah juga melihat ada pria yang sangat bahagia karena berhasil menikah dengan wanita yang cantiknya biasa .. di sisi lain, ada pria yang kurang bahagianya, ketika menikah dengan wanita yang cantik jelita.. Itu yang satu merasa nikmat yang dia dapatkan sangat istimewa .. yang satunya tidak menghargai nikmat tersebut.

Pernah juga melihat, ada yang terkena musibah besar, tapi dia tetap tenang dan sangat mampu menghadapinya, seakan musibah itu sangat kecil baginya .. sementara ada orang lain terkena musibah yang sama, sampai menjadikannya setres dan gila .. musibahnya sama, tapi karena cara pandangnya beda, maka beda pula rasanya.

Oleh karenanya, seringkali kita dengar perkataan “bahagia itu sederhana, tidak harus mahal”

Dan memang itulah kenyataannya, bahagia itu ketika kita mampu menjadikan hati kita menganggap istimewa apa yang kita dapatkan.. baik sesuatu itu besar atau kecil menurut orang lain.

Ditulis dalam beberapa status/komentar oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah

Kunci Sukses…

Kunci sukses: “Ciptakan rutinitas sederhana, lalu pertahankan“.

=====

Keberhasilan itu bukan dari kuantitas usaha kita.. tapi dari kedisiplinan kita dalam merutinkan usaha.

Keberhasilan itu bukan dari besarnya usaha, atau tingginya cita-cita.. tapi dari kemampuan kita untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa dilakukan sepanjang umur.

Tentunya, ini semua setelah taufiq dari Allah.

Maka, dari sekarang, putuskanlah untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa mengantarkanmu kepada kesuksesan.. jangan terbebani oleh terciptanya kesuksesan itu sendiri.

Jangan sibukkan pikiranmu dengan menghapal Al Qur’an dari awal sampai akhir.. Tapi, sibukkan saja dirimu dengan menghapal setengah halaman setiap hari.

Jangan sibukkan diri memikirkan bagaimana mendapatkan bentuk badan yang atletis.. Tapi, khususkan saja waktu seperempat jam tiap hari untuk olahraga.

Jangan sibukkan dirimu dengan target mahir dalam disiplin ilmu tertentu.. Tapi, khususkan saja sedikit waktu tiap hari untuk membaca beberapa halaman tentang disiplin ilmu tersebut.

Jangan sibuk memikirkan diet yang ideal, atau target turun 30 kilo dalam dua bulan.. Tapi, buat saja kebiasaan makan sehat yang mudah dijalani sepanjang hidup.

Ingatlah, bahwa umur itu akan berjalan dengan sangat cepat.. oleh karenanya, ketika kita sudah menjalankan sebuah rutinitas dengan baik meski sederhana, maka setelah berjalan setahun atau dua tahun, kita akan mampu meraih apa yang menjadi target kita, atau bahkan melebihi target kita.. dan mungkin saja kita akan kagum sendiri dengan capaian itu.

Saya misalkan Anda memutuskan untuk mengkhususkan waktu:
1. 30 menit untuk menghapal Al Qur’an.
2. 15 menit untuk olahraga.
3. 15 menit untuk membaca kitab atau buku tentang disiplin ilmu yang anda inginkan.

Tentu setelah berjalan beberapa tahun yang tidak lama (bisa saja terasa seperti kedipan mata), Anda akan kaget sendiri, ternyata Anda sudah hapal Al Qur’an, sudah memiliki badan yang atletis, dan telah selesai membaca puluhan kitab atau buku.. padahal itu hanya dengan menyisihkan waktu 1 satu jam saja.. tentu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktu 23 jam yang banyak tersia-siakan setiap harinya.

Intinya sangat sederhana, untuk meraih sukses: “ciptakan rutinitas sederhana“.. itu akan berakhir dengan menumpuknya banyak hasil, dan terwujudnya apa yang kita cita-citakan, atau bahkan lebih dari itu.

Oleh karena itulah, sejak dahulu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- telah menyabdakan:Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling dirutinkan, meski hanya sedikit“. [HR. Bukhari: 6464, Muslim: 783].

[Dari pesan berbahasa arab dengan beberapa penyesuaian]

Silahkan dishare… semoga bermanfaat..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Hati Yang Bening…

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia… Dialah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendo’akannya agar diberkahi.”

Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri sholihah, keturunan yang baik), saya mendo’akan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’“.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiapkali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga Dia menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiapkali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudoakan dia agar mendapat hidayah”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Robb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zholim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu.

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.

Suatu malam, Hasan Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang men-zholimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d… Sungguh, malam ini aku mendengar engkau berdo’a untuk kebaikan orang yang men-zholimimu, sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang men-zholimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya ?
Beliau menjawab: “Firman Allah (yang artinya):

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah”. [Q.S. Asy-Syuuro: 40].

[Kitab Syarah Shohih Bukhori, karya Ibnu Baththol, 6/575-576]

Sungguh, itulah hati yang dijadikan sholih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka.

Janganlah engkau bersedih meratapi kebaikanmu. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.

Hidup kita ini bagai bunga mawar. Padanya terdapat keindahan yang membuat kita bahagia, namun padanya juga terdapat duri yang menyakiti kita.

Apapun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah !

Sebaliknya apapun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu!

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya. Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan.

[Terjemahan dari status berbahasa arab].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

 

da0509150030