Category Archives: Kitab Fiqih MAUSU’AH MUYASSAROH

KITAB FIQIH – Qodho’ Sholat Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Surat Yang Dibaca Dalam Sholat Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. masih tentang sholat Ied

⚉ MENGQODHO’ SHOLAT IED

Dari Abu Umair bin Anas bin Malik ia berkata, bercerita kepadaku pamanku/bibiku dari Anshor dari sahabat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mereka berkata, pernah pernah terjadi mendung sehingga tidak terlihat hilal syawal, maka pada waktu pagi kamipun berpuasa, lalu datanglah beberapa kafilah diakhir siang dan mereka bersaksi kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bahwa mereka melihat hilal kemarin, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berbuka puasa saat itu dan agar keesokan harinya keluar menuju sholat ied..” (HR Imam Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan jika ternyata terjadi keadaan seperti itu tidak melihat hilal kemudian setelah itu berpuasa kemudian diperjalanan ada orang yang bersaksi bahwa ia melihat hilal lalu imam menerima persaksiannya maka pada waktu itu diqodho’ sholat Iednya pada hari keesokannya.

Ini menunjukkan juga bahwa orang yang melihat hilal tidak boleh ia langsung mengumumkan tapi hendaklah ia melaporkannya kepada pemimpin kaum muslimin maka pemimpinlah yang mengumumkan dan merekalah yang berhak untuk mengumumkan kapan Ramadhan dan kapan Iedul fitr.

Jadi pengumuman kapan Ramadhan dan Iedul fitr itu bukan hak kelompok tertentu dan bukan hak individu akan tetapi ia adalah hak dari pemerintah karena untuk menjaga persatuan kaum muslimin dinegeri tsb.

⚉ BAGAIMANA JIKA TERLUPUT SHOLAT IED SECARA BERJAMA’AH ?

➡ Imam Bukhori berkata dalam shahihnya dalam bab, “apabila seorang terluput sholat ied secara berjama’ah maka hendaklah ia sholat dua roka’at, demikian pula para wanita dan orang orang yang ada dirumah dan dipedesaan..”

Berdasarkan sabda Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, “ini adalah hari raya kita al islam..”

➡ Dan Anas bin Malik memerintahkan maulanya, yaitu Ibnu Abi ‘Uthbah yang ada di Zawiyah dimana ia menyuruh untuk mengumpulkan keluarganya dan anak-anaknya untuk sholat Ied seperti halnya orang kota melakukan sholat Ied, bertakbirnyapun juga sama.

Maksudnya atsar Anas ini bahwa, mereka yang berada di Zawiyah yang jauh dari perkotaan sehingga tidak bisa ikut berjama’ah sholat Ied, maka Anas tetap menyuruh mereka untuk sholat dirumah/ditempat mereka sama halnya sholat seperti biasa namun tanpa ada khutbah,

➡ Berkata Ikrimah, mereka yang berada dipedesaan (pedesaan di Saudi itu paling berisi 3 kepala rumah tangga/3 keluarga lebih sedikit berbeda dengan desa di Indonesia. Pent) mereka yang berada dipedesaan tetap mereka diperintahkan berkumpul untuk sholat Ied dan sholat dua roka’at sebagaimana dilakukan oleh imam.

➡ Berkata ‘Atho’, “apabila ada orang yang terluput dari sholat Ied secara berjama’ah tetaplah ia sholat dua roka’at. Ini pendapat jumhur..”

➡ Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berpendapat, “bahwa orang yang terluput dari sholat Ied maka ia tidak disyari’atkan untuk mengqodhonya tidak pula sholat sendirian dirumahnya..”

Mengapa demikian ?
Karena beliau memandang sholat Ied itu sama dengan sholat Jum’at, akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur bahwa mereka yang terluput dari sholat berjama’ah hendaklah ia sholat walaupun ia sholat sendirian.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Surat Yang Dibaca Dalam Sholat Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sifat Sholat 2 Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. masih tentang sholat Ied

⚉ SURAT APA YANG DIBACA DALAM SHOLAT IED ?

Yang dibaca dalam Sholat Ied, terkadang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam membaca di roka’at pertama Surat al-A’la (Sabbihisma Robbikal A’laa..).. dan roka’at kedua Surat Al-Ghosyiyah (Hal Ataaka Hadiitsul ghoosyiah..)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hadits An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu kemudian pula dari Hadits Samurah rodhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya.

Dan Terkadang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam membaca di roka’at pertama Surat Al-Qomar (Qs 54).. dan roka’at kedua Surat Qaf (Qs 50). Itu dalam Hadits Abu Waqid al-Laitsiy rodhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Al Imam Muslim.

⚉ APAKAH DISYARI’ATKAN SHOLAT SUNNAH SEBELUM ATAU SESUDAH SHOLAT IED ?

Jawab : Tidak di syariatkan

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, ”Bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam keluar menuju sholat Idul Fitr dua roka’at. Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak sholat apa pun sebelumnya dan setelahnya..” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Berkata Abu Mualla, “aku mendengar Sa’id dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, Ia tidak menyukai sholat sebelum Sholat Ied”

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahullah dalam Fathul Baari dijilid 2 halaman 476 menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang masalah ini. Dan menjelaskan tentang ada yang berpendapat boleh, ada yang mengatakan tidak boleh, dan ada yang membedakan antara imam dan makmum, dan beliau mengatakan, “Orang yang tidak melaksanakan sholat sunnah sebelum atau setelahnya karena melihat Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak melakukannya.. siapa yang mengikuti Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam tentu dia telah mendapatkan hidayah/petunjuk..”

⚉ DISYARI’ATKAN KHUTBAH IED SETELAH SHOLAT IED

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, dia berkata, ”Aku menyaksikan sholat bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, maka mereka semua melakukan sholat ied sebelum khutbah..” (HR. Muslim)

Artinya Khutbahnya setelah Sholat.

⚉ APAKAH IMAM MEMBUKA KHUTBAHNYA DENGAN TAKBIR ?

Ini terjadi Ikhtilaf para ulama. Pendapat Jumhur ulama dan itu Madzab Imam yang Empat mengatakan bahwa disunnahkan membuka khutbah dengan takbir karena berdasarkan sebuah atsar, Tabi’in yang bernama Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Uthbah yang mengatakan bahwa termasuk sunnah yaitu bahwa untuk khutbah pertama dimulai dengan sembilan kali takbir, dan khutbah kedua dengan Tujuh kali takbir, Akan tetapi ini perkataan Tabi’in.
Adapun perkataan Tabi’in “termasuk sunnah” tidak bisa dinyatakan itu sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Sementara Syaikhul Islam Taimiyyah rohimahullah berpendapat bahwa khutbah ied tidak ada bedanya dengan khutbah yang lainnya, Yaitu dimulai dengan memuji-muji Allah Subhana wa Ta’ala yang disebut dengan khutbatul hajjah, dan tidak ada satupun hadits yang shohih bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memulai khutbah dengan takbir. Ini Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah dan yang dirojihkan oleh Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah yang dipilih oleh Syaikh Albani rohimahullah

Yang jelas mereka yang hendak memulai khutbah dengan takbir ini ada atsar dari Tabi’in, tapi bagi mereka yang memulai khutbah dengan memuji Allah Subhana wa Ta’ala kembali kepada perbuatan Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Sifat Sholat 2 Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Waktu Sholat 2 Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. sekarang pembahasan..

⚉ SIFAT SHOLAT IEDUL FITRI DAN IEDUL ADHA

Kata beliau sholat Ied itu 2 roka’at. Bertakbir padanya setelah takbirotul ihrom 7x takbir dan di roka’at ke dua 5x takbir.

⚉ Dari Abdulllah bin Amr bin Ash ia berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Takbir dalam Iedul fitr 7 diroka’at pertama 5 diroka’at kedua..”

Dan 7 disini tidak termasuk takbirotul ihrom karena takbir-takbir ini disebut para ulama disebut takbir tambahan, sedangkan takbirotul ihrom adalah merupakan takbir asli didalam sholat.

⚉ Dari ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha, “bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bertakbir dalam Iedul fitr dan iedul Adha diroka’at pertama 7x takbir dan diroka’at kedua 5x takbir..” (HR Abu Daud)

Dan hadits dari Abdullah bin Amr Ash tadi dikeluarkan oleh Imam Addaroquthni dan Baihaqi.

⚉ DIPERBOLEHKAN TAKBIR 4X TAKBIR

⚉ Dari Al Qoshim bin Abi Abdirrohman ia berkata,
“bercerita kepadaku sebagian sahabat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, ia berkata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat mengimami kami pada hari raya maka beliau bertakbir 4 roka’at pertama 4 diroka’at kedua, kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami setelah selesai sholat dan beliau bersabda, “jangan kamu lupakan takbir” Maka takbir janaiz sebagai mana halnya takbir sholat jenazah.”
(HR Imam Atthohawi dan dihasankan oleh Syaikh Albani rohimahullah.

⚉ APAKAH 4x TAKBIR INI DIBOLEHKAN ?

⚉ Kata Syaikh Albani rohimahullah, “yang benar/haq perkara ini boleh semuanya, boleh kedua-duanya karena ada dalil dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, demikian pula diamalkan oleh sebagian sahabat seperti Abu Musa berkata, “adalah beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam bertakbir 4 sebagaimana bertakbirnya sholat jenazah.” Huzaifah berkata, “benar sekali”, dan Abu Musa mengamalkan itu..”

Berarti boleh rok’at pertama 4 (takbir) dan roka’at kedua 4 (takbir) dan boleh juga roka’at pertama 7 (takbir) dan roka’at kedua 5 (takbir), dan ini yang paling banyak riwayatnya.

Makanya Syaikh Albani mengatakan, “bahwa 7, 5 lebih saya sukai karena riwayatnya lebih banyak..”

Akan tetapi yang perlu dipahami takbir-takbir yang tadi 7-5 dan 4-4 adalah sunnah hukumnya dimana kalau ditinggalkan karena lupa adapun karena sengaja itu tidak membatalkan sholat sama sekali.

⚉ Ibnu Qudamah mengatakan, “aku tidak mengetahui adanya perselisihan ulama dalam masalah ini..”

⚉ Dan jika ia lupa, kata Imam Syaukani, tidak perlu sujud sahwi, sebagaimana ia menyebutkan dalam kitab Addarari al muddiyah.

⚉ DISYARI’ATKAN DISELA-SELA TAKBIR ITU UNTUK MEMUJI ALLAH SUBHAANAHU WATA’ALA DAN MENYANJUNGNYA

⚉ Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud berkata, “diantara dua takbir hendaklah ia memuji Allah dan menyanjungnya..”

Boleh kita membaca, “subhanallah.. alhamdulillah..”

Demikian pula yang diriwayatkan dari Huzaifah, Abu Musa, Al Ashari, yang jelas ini dibolehkan.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Waktu Sholat 2 Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sholat 2 Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. masih pembahasan tentang hari raya.. beliau berkata..

⚉ WAKTU SHOLAT IED

Waktu Sholat Idul Fitri masuk ketika matahari telah meninggi yaitu sekitar matahari DUA TOMBAK kata beliau.
Sementara Idul Adha sekitar SATU TOMBAK.. artinya kalau Idul Adha ketika matahari sedang terbit maka ini waktu yang dilarang.. Ketika mulai tinggi maka segera sholat (Idul Adha).. kemudian mulai tinggi lagi dua kali lipat dari Idul Adha itu adalah waktu sholat Idul Fitr.

Dari ‘Abdullah Bin Busr rodhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Dia pergi bersama yang lainnya pada hari Idul Fitri atau Idul Adha (keraguan perawi), lalu beliau mengingkari seorang imam yang datang terlambat. Beliau berkata, “Sesungguhnya dahulu kami telah selesai melakukan pada saat-saat ini..” yaitu ketika masuk waktu At-Tasbih (yaitu masuknya waktu Sholat Dhuha).” (HR. Abu Dawud : 1135, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1317)

⚉ TIDAK ADA ADZAN DAN IQOMAH UNTUK SHOLAT IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

Kemudian tidak ada adzan dan tidak ada pula iqomah untuk sholat idul fitri dan idul adha. Dari Atha dari Ibnu ‘Abbas dan dari Jabir bin Abdillah Al-Anshori, beliau berkata, “Tidak ada adzan pada hari raya Idul fitri dan tidak juga di hari raya Idul Adha.”

Kemudian aku pernah bertanya setelah itu tentang masalah ini maka beliau mengabarkan kepadaku Jabir bin ‘Abdillah, “bahwa tidak ada adzan untuk sholat Idul Fitr ketika imam telah keluar, tidak pula iqomah..” (HR. Bukhari Muslim)

Dan Ibnu ‘Abbas juga mengirimkan seseorang kepada Abdullah bin Jubair saat pertama kali Ibnu Jubair di baiat, “bahwasanya tidak ada adzan untuk Idul Fitr maka ibnu jubair pun tidak melakukan adzan..” Kemudian juga Ibnu ‘Abbas mengirimkan (seseorang) lagi, “bahwa khutbah itu hendaknya setelah selesai sholat, bukan sebelum sholat..” (HR. Muslim)

Dari Jabir bin Samurah berkata, “Aku sholat dua hari raya bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqomat..” (HR. Muslim)

Maka dari itu siapa yang melakukan adzan dan iqomah untuk Idul fitri dan Idul Adha maka telah melakukan kebid’ahan
Karena kalau itu perbuatan yang baik tentu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sudah melakukannya, karena pendorong untuk melakukan adzan dan iqomah ada dizaman Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, Penghalangnya pun tidak ada.
Ketika Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam  tidak lakukan itu menunjukan tidak disyariatkan.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Sholat 2 Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Berkumpulnya Hari Raya dan Jum’at Di Satu Hari  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

⚉ SHOLAT 2 HARI RAYA

Kata beliau (penulis kitab), “sholat 2 hari raya hukumnya wajib..”

Alasannya apa ?
Karena Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam senantiasa melakukannya, dan Nabi memerintahkan laki laki dan wanita semuanya untuk keluar menuju lapangan.

Dari Ummu ‘Atiyah ia berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan para wanita dihari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha baik itu wanita pingitan, wanita haidh, wanita yang masih gadis. Adapun wanita haidh kata beliau, mereka meninggalkan sholat (artinya tidak sholat) namun tetap menyaksikan kebaikan dan menyaksikan seruan kaum muslimin, lalu aku berkata kepada Rosulullah, “salah seorang dari kami hai Rosulullah tidak mempunyai jilbab..?” Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “hendaklah saudarinya memakaikan dari jilbabnya..”  (HR. Bukhori)

➡️ Hadits ini menunjukkan bahwa sholat Ied hukumnya wajib.

Kenapa ?
Karena Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh semua orang untuk keluar bahkan wanita haidh pun diperintahkan untuk keluar, bahkan wanita yang tidak punya jilbabpun tidak diberikan udzur oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bahkan memerintahkan supaya saudarinya meminjamkannya.

Memang para ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat Ied. Jumhur mengatakan hukumnya sunnah mu’akkadah, madzhab Syafi’iyah mengatakan hukumnya wajib fardhu kifayah dan sebagian ulama mengatakan fardhu ‘ain dan saya condong kepada pendapat bahwa hukumnya fardhu ‘ain.

Kenapa ?
Karena seperti disebutkan hadits tadi, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk seluruhnya semuanya untuk keluar, kalaulah fardhu kifayah tentu wanita-wanita haidh tidak perlu untuk menyaksikan.. demikian pula wanita wanita yang tidak punya jilbab.. karena sudah dicukupi oleh yang lain.. tapi ketika Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan semuanya untuk keluar itu menunjukkan hukumnya fardhu ‘ain dan bukan fardhu kifayah.

⚉ ADAB ADAB HARI RAYA

1️⃣ Memakai pakaian yang indah/bagus. Dari Ibnu Abbas ia berkata, “adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pada hari Ied beliau memakai baju burdah berwarna merah..” (HR Atthabroni dengan sanad jayid)

2️⃣ Disunahkan saat Iedul fitri untuk makan terlebih dahulu, adapun diwaktu Iedul Adha maka tidak disunnahkan untuk makan terlebih dahulu, karena demikian dalam hadits Anas bin Malik. (HR Bukhori)

3️⃣ Keluar menuju lapangan, dimana sholat Ied disunnahkan dilapangan dan Nabi tidak pernah melakukannya dimasjid (kecuali jika tidak ada lapangan) dan disunnahkan berjalan kaki tidak berkendara, disunnahkan juga melalui jalan yang berbeda pada saat berangkat dan pulang, berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah, “adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam melalui jalan yang berbeda pada hari raya..” (HR Bukhori)
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Berkumpulnya Hari Raya dan Jum’at Di Satu Hari

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #12  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. fiqihnya..

⚉ BERKUMPULNYA JUM’AT DAN HARI RAYA DI SATU HARI

⚉ Dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syami ia berkata, “aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arkom, “apakah engkau menyaksikan bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam dua Ied bertemu di satu hari ?” Kata Zaid, “iya,.” kata Mu’awiyah, “lalu apa yang dilakukan oleh Rosulullah ?” Kata beliau, “beliau sholat Ied kemudian memberikan keringanan untuk Jum’at, beliau bersabda, “siapa yang mau sholat Jum’at silahkan,.” (HR Imam Abu Daud)

⚉ Dan dari hadits Abu Hurairoh, dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda,

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Telah berkumpul pada kalian ini dua hari raya maka siapa yang sholat Ied maka itu sudah mencukupi dari sholat jum’at (artinya – jika ia tidak jum’atan tidak mengapa), adapun kami (kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam) tetap melaksanakan sholat jum’at..” (HR Abu Daud)

➡️ Hadits ini menunjukkan bahwa apa bila hari raya dan hari jum’at bertemu maka jum’atnya tidak wajib atas pendapat yang rojih, adapun pihak dkm masjid tetaplah menyelenggarakan dan mengadakan jum’atan.

Kenapa ?
Karena Rusulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan dalam hadits ini, “adapun kami, kami tetap melaksanakan sholat jum’at..”

Adapun yang dilakukan sebagian masjid mereka mengumumkan jum’atnya libur ini tidak benar.. akan tetapi hendaklah pihak masjid tetap melaksanakan sholat jum’at, dan bagi mereka yang tidak jum’atan maka mereka tetap diwajibkan sholat Zhuhur, walaupun ada sebagian kecil ulama mengatakan bahwa kalau jum’atan tidak wajib maka Zhuhur pun tidak wajib.

Namun yang rojih dari pendapat hampir seluruh ulama bahwa ia TETAP sholat Zhuhur.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Adab Sholat Jum’at #12

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #11  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. masih tentang sholat Jum’at

⚉ KALAU SESEORANG MASBUK DAN HANYA MENDAPATKAN SATU ROKA’AT SAJA, apa yang ia lakukan?

⚉ Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Siapa yang mendapatkan dari sholat jum’at satu roka’at maka hendaklah ia tambahkan satu roka’at lagi..” (HR Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan satu roka’at berarti ia cukup menambahkan satu roka’at lagi.

Adapun jika ia mendapatkan imam misalnya sedang sujud diroka’at yang kedua maka hendaklah ia sholat 4 roka’at Zhuhur.

⚉ Ini berdasarkan atsar Ibnu Mas’ud ia berkata, “Siapa yang mendapatkan sholat Jum’at satu roka’at hendaklah ia tambahkan satu roka’at lagi, dan siapa yang terluput dari dua roka’at maka hendaklah ia sholat 4 roka’at..”  (HR Imam Baihaqi dan begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar)

⚉ SHOLAT DALAM KEADAAN SANGAT SESAK/ PADAT

⚉ Dari Umar bin Khottob ia berkata, “apabila sangat padat hendaklah seseorang sujud diatas punggung temannya..”

⚉ Dari Ibnu Munzir dalam al-Awsath ia berkata dan dengan pendapat ‘Umar bin Khottob, “inilah kami berpendapat (yaitu seseorang sujud sesuai kemampuannya sa’at sangat padat)..”

⚉ ADAKAH QOBLIYAH JUM’AT ?

Khilaf para ulama, namun yang shohih dan rojih bahwa qobliyah Jum’at itu tidak ada, yang ada adalah sholat intidhor, berdasarkan hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Siapa yang mandi jum’at kemudian mendatangi jum’at lalu ia sholat sesuai yang ditakdirkan kepadanya kemudian ia mendengarkan khutbah sampai selesai kemudian sholat bersama imam maka akan diampunilah dosanya antara jum’at itu dengan jumat berikutnya ditambah 3 hari..”  (HR Imam Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,
“adapun Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam maka sesungguhnya beliau tidak pernah sholat sebelum jum’at setelah adzan jum’at sama sekali, tidak pula ada sahabat yang menukilnya
karena Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika duduk diatas mimbar Bilal segera adzan, ketika Bilal selesai beliau segera khutbah sehingga tidak ada kesempatan untuk sholat qobliyah..”

Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad jilid 1 hal 432 beliau berkata,
“bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam keluar dari rumahnya segera naik mimbar, segeralah Bilal adzan jum’at, apabila beliau telah selesai adzan Nabi segera khutbah.. kalau seperti itu kapan waktunya para sahabat sholat sunnah ?”

Maka ini menunjukkan tidak ada qobliyah walaupun sebagian kecil ulama dari mazhab Syafi’i dan Hambali mengatakan disunnahkan qobliyah Jum’at, tetapi pendapat mereka lemah karena tidak ada dalil atau kalau kita lihat bertabrakan dengan dalil yang telah disebutkan Ibnul Qoyyim tadi.

Adapun ba’diyahnya maka dibolehkan 2 roka’at, 4, roka’at bahkan boleh 6 roka’at

▪️Adapun 2 roka’at disebutkan dalam hadits Ibnu Umar, bahwasanya, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat jum’at kemudian pulang kerumahnya lalu sholat dirumahnya dua roka’at.. (HR Imam Muslim)

▪️Adapun 4 roka’at disebutkan dalam hadits, kata Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, “siapa yang sholat jum’at hendaklah sholat setelahnya sholat 4 roka’at..” (HR Imam Muslim)

▪️Adapun 6 roka’at dari Ibnu ‘Umar, “adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam apabila ada di Mekah beliau sholat jum’at.. setelah selesai sholat jum’at beliau maju lalu sholat 2 roka’at kemudian beliau maju lagi lalu beliau sholat 4 roka’at, namun kalau beliau sholat di Madinah beliau sholat jum’at kemudian pulang kerumahnya dan sholat 2 roka’at dirumahnya, dan beliau berkata demikianlah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam melakukannya..”  (HR Abu Daud)
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Adab Sholat Jum’at #11

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #10  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. fiqihnya..

⚉ MA’MUM BOLEH BICARA APABILA IMAM BELUM BERKHUTBAH WALAUPUN IMAM SUDAH DUDUK DIATAS MIMBAR

⚉ Dari Sya’labah bin Abi Malik, “bahwasanya dahulu para sahabat berbicara ketika ‘Umar bin Khoththob telah duduk diatas mimbar sampai mu’adzzin selesai, apabila ‘Umar telah mulai berkhutbah tidak ada seorangpun yang berbicara sampai menyelesaikan dua khutbahnya.” (HR Imam Malik, At Thohawi)

⚉ PERINTAH UNTUK TAHIYAT DALAM KHUTBAH JUM’AT

Artinya apabila seseorang telah masuk masjid dan ia tidak sholat tahiyat masjid hendaklah khotib mengingatkan dan menyuruhnya untuk sholat tahiyat.

⚉ Dari Jabir bin Abdillah ia berkata, “Sulaik Al Ghothofani masuk kemasjid pada hari jum’at dan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sedang berkhutbah maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada Sulaik, “sholatlah dua roka’at dan jangan kamu mengulangi perbuatanmu itu” (HR Ibnu Hiban, Addaaruqutni dan lainnya)

Artinya Sulaik masuk kemasjid langsung duduk tidak sholat dua raka’at masuk masjid.

➡️ Pelajaran hadits ini.. hadits ini menunjukkan bahwa:
▪️ seorang khotib hendaklah mengingatkan kesalahan yang dilakukan oleh seorang ma’mum.
▪️ sholat tahiyat masjid itu sangat ditekankan sekali.
▪️ hadits ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa orang yang masuk masjid dalam keadaan imam sedang khutbah jum’at hendaklah ia langsung duduk dengan alasan mendengarkan khutbah itu wajib, sementara sholat tahiyat masjid itu hukumnya sunnah.

Dikatakan benar secara kaedah demikian, namun masalahnya kaedah manapun kalau bertabrakan dengan dalil tidak boleh diamalkan.

➡️ Disini Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan seorang sahabat yang bernama Sulaik Al Ghothofani untuk sholat tahiyat masjid padahal beliau sedang berkhutbah.

⚉ KHOTIB JUM’AT DIANJURKAN UNTUK TIDAK TERLALU PANJANG DALAM BERKHUTBAH

⚉ Dari Jabir bin Samuroh Suwa’i, “adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak memanjangkan khutbah pada hari jum’at, akan tetapi adalah kalimat-kalimat yang pendek namun berisi.” (HR Abu Daud)

⚉ Dari Abu Uwa’il ia berkata, “Ammar bin Yasir pernah berkhutbah dan beliaupun meringkaskannya, ketika beliau telah turun kami berkata, “wahai Abal Yakdzon engkau telah menyampaikan dan engkau telah meringkasnya sementara kami berkhutbahnya panjang maka Ammar berkata, “sesungguhnya aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, sesungguhnya panjangnya sholat seseorang dan pendeknya khutbah seseorang tanda akan kefaqihannya, maka panjangkan sholat dan pendekkan khutbah, sesungguhnya diantara penjelasan itu ada yang menyihir.” (HR Imam Muslim)

Maksudnya menyihir disini ketika seseorang menjelaskan dengan sangat bagus sehingga banyak orang yang terkesima dengannya.

➡️ Ini menunjukkan bahwa.. yang sunnah yang sesuai dengan yang dilakukan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam itu yaitu memendekkan khutbah.. kecuali kata para ulama kalau ada perkara yang memang sangat dibutuhkan untuk dijelaskan dan membutuhkan kepada waktu sedikit banyak karena kalau ternyata sangat pendek dikhawatirkan menimbukan fitnah misalnya.. maka tentu menolak mudhorot lebih didahulukan daripada mendatangkan maslahat.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Adab Sholat Jum’at #10

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #9  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. kemudian beliau berkata..

⚉ KHUTBAH JUM’AT ITU 2x

Berdasarkan beberapa hadits diantaranya sbb ;
⚉ Dari Nafi’ dari Abdullah bin ‘Umar ia berkata, “adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam beliau khutbah jum’at 2x dan beliau duduk diantara keduanya” (HR Imam Bukhori)

⚉ Dari Jabir bin Samuroh ia berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam berkhutbah 2x, beliau duduk diantara keduanya, dalam khutbahnya beliau membaca al qur’an dan mengingatkan manusia”
(HR Imam Muslim)

⚉ KHOTIB HENDAKNYA BERDIRI DAN TIDAK DUDUK

⚉ Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa ia berkata, “adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam berkhutbah pada hari jum’at berdiri kemudian beliau duduk” (HR Bukhori dan Muslim)

⚉ Dari Simak ia berkata, mengabarkan kepadaku Jabir bin Samuroh, “bahwasanya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam berkhutbah sambil berdiri kemudian beliau duduk kemudian beliau berdiri dan berkhutbah sambil berdiri, siapa yang memberi tahu kamu bahwa Rosulullah khutbahnya sambil duduk sungguh ia telah berdusta, demi Allah aku sholat bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam lebih dari 2,000 sholat” (HR Muslim)

⚉ IMAM BOLEH MEMUTUSKAN KHUTBAHNYA KARENA ADA URUSAN YANG TIBA-TIBA

⚉ Dari Buraidah ia berkata, “adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam berkhutbah lalu datanglah Hassan dan Hussein keduanya memakai 2 pakaian yang berwarna merah, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam turun dari mimbar dan memutuskan khutbahnya lalu Nabi menggendong keduanya dan kembali ke mimbar lalu beliau bersabda, “shodaqollah (benar firman Allah), sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu ujian” (HR Imam Ahmad dan Abu Daud)

➡️ Ini menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memutuskan khutbahnya karena ada keperluan.

⚉ Dari Abu Rifa’ah ia berkata, “aku sampai kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam yang sedang berkhutbah lalu aku berkata, ‘wahai Rosulullah aku orang asing datang untuk bertanya’ (tentang agamanya karena tidak tahu tentang agamanya), maka Nabi pun menghadap kepadaku dan meninggalkan khutbahnya sampai Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pun didatangkan/dibawakan kepada beliau kursi kemudian Nabi pun duduk dan mengajarkan aku dari apa yang Allah ajarkan kepadanya, kemudian Nabi kembali berkhutbah dan menyelesaikan khutbahnya” (HR Imam Muslim)

⚉ MAKMUM HARAM BERBICARA KETIKA IMAM BERKHUTBAH

⚉ Dari Abu Hurairah, “bahwasanya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘kalau kamu berkata kepada temanmu pada hari jum’at ‘diamlah’ sementara imam sedang berkhutbah sungguh kamu telah berbuat sia-sia” (HR Bukhori dan Muslim)

➡️ Ini menunjukkan bahwa ucapan “diamlah” ini saja sudah membuat kita tidak mendapatkan pahala jum’at, dan beliau (penulis kitab) menyebutkan beberapa hadits yang lain yang menunjukkan haramnya berbicara saat imam berkhutbah.

➡️ Lalu bagaimana menjawab bersin ?
Imam Nawawi rohimahullah merojihkan haramnya menjawab orang yang bersin. Syaikh al-Albani rohimahullah berkata, “ini pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran in-syaa Allah”
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Adab Sholat Jum’at #9

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #8  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. masih tentang..

⚉ KHUTBAH JUM’AT

⚉ Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiallahu ‘anhu ia berkata, adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Apabila berkhutbah matanya memerah, suaranya tinggi dan marahnya terlihat, ia sangat berapi api, seakan-akan beliau memberi peringatan akan datangnya pasukan musuh seakan beliau mengatakan, “musuh menyerang kalian diwaktu pagi dan petang” dan beliau berkata, “sesungguhnya sebaik baik ucapan adalah firman Allah/kitabullah dan sebaik baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam seburuk buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat” (HR Imam Muslim dalam shohihnya)

Ini yang selalu Nabi ucapkan dalam khutbah jum’at namun sayang di zaman ini ucapan “kullu bid’atin dholalah” dijadikan perkara yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat, dan bahkan dianggap radikal, padahal ini sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Dalam riwayat Muslim juga adalah khutbah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pada hari jum’at dengan memuji Allah dan menyanjungnya, kemudian setelah itu menyampaikan khutbah dalam keadaan suara meninggi.

⚉ Kata Syaikh Al Uwaisyah (penulis buku ini), “hadits ini merupakan dalil disunnahkan untuk khotib meninggikan suaranya saat khutbah dan menyampaikan khutbah yang padat dan dalam maknanya, dan berisi targhib (memotivasi agar beramal) dan tarhib (ditakut-takuti dari api neraka agar tidak bermaksiat)”

Dalam hadits yang shohih bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “setiap khutbah yang tidak ada padanya tasyahud “asyhadu an-laa ilaaha illallah, was asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh” bagaikan tangan yang terputus”
(HR Imam Ahmad dalam musnadnya Abu Daud)

Isi ceramah yang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sampaikan adalah tentang kaedah-kaedah islam dan syari’atnya, dan juga perintah dan larangan dan Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh agar manusia bertaqwa kepada Allah dan memotivasi mereka dalam melakukan amalan-amalan sholih dengan surga dan neraka..

Ini semua adalah isi ceramah jum’at Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, tidak seperti yang dilakukan oleh banyak khotib dizaman ini isinya tidak lain adalah tentang politik, ekonomi.. yang sama sekali tidak menghidupkan hati manusia padahal tujuan khutbah adalah untuk menghidupkan hati.

Pendapat yang shohih, khutbah jum’at itu boleh dengan bahasa apapun karena tujuannya adalah untuk memberikan peringatan. Misalnya di Indonesia, khutbah dengan bahasa Indonesia dan masing-masing negeri berkhutbah dengan bahasanya masing-masing yang dipahami karena itu merupakan tujuan dari pada khutbah dan yang khutbah jum’at.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah