Category Archives: Kitab FIQIH MAUSU’AH MUYASSAROH

KITAB FIQIH – Adakah Wajib Zakat Pada Barang Dagangan..?

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Zakat Perhiasan  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. beliau berkata sebuah faidah yang penting..

ما لم يرد فيه نص في زكاته كالدور المؤجرة والخضراوات ونحو ذالك؛ فإن الزكاة لا تجب فيها إلا إذا جلّبَت مالا بلغ النصاب، وحال عليها الحول.

Apa-apa yang tidak ada dalilnya dan dimana tidak ada dalil akan wajibnya zakat pada sesuatu tersebut, seperti :
➡ Rumah yang disewakan
➡ Sayur mayur dan sebagainya.

Maka tidak wajib padanya zakat, kecuali apabila dia menghasilkan uang, maka yang dikeluarkan zakatnya adalah uangnya, karena uang itu sebanding dengan emas atau perak, sehingga apabila telah sampai nishobnya dan telah haul maka wajib padanya dikeluarkan zakat.

➡ Adapun Rumah yang disewakan, tidak ada zakatnya demikian pula sayur-mayur tidak ada zakatnya dan Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan bahwa kudapun tidak ada zakatnya.

⚉ Kemudian beliau membawakan semua pembahasan tentang apakah barang-barang dagangan itu ada padanya zakat..? artinya kalau misalnya ada orang yang jualan kelontong, maka apakah kelontongan-kelontongan itu ada padanya zakat..? kalau ada orang yang jualan sesuatu, apakah barang dagangan itu ada padanya zakat atau tidak..?

Ikhtilaf para ulama.. Jumhur ulama bahkan mereka menganggap ini ijma bahwa barang dagangan itu diwajibkan padanya zakat.

➡ Beberapa dalil diantaranya dalil dari Samuroh bin Jundub bahwa “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan untuk mengeluarkan zakat dari apa-apa yang kami siapkan untuk dijual belikan..” Namun Syaikh al-Albani menganggap hadits ini DHO’IF, tidak bisa dijadikan hujjah..

Sedangkan sebagian ulama dari pendapat Atho bin abi Robbah dan beberapa ulama salaf sebagaimana dinukil oleh Abu ‘Ubaid dalam kitabnya Al- Amwaal dari sebagian fuqoha bahwa barang-barang dagangan itu tidak ada zakatnya,

➡ Adapun klaim telah terjadi Ijma wajibnya zakat pada barang-barang dagang ini tidaklah benar.. Pendapat ini dirojihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullahu dan merupakan pendapat Ibnu Hazm, Az Zhohiri, Daud Az Zhohiri, alasannya :

1️⃣ Kata Syaikh al-Albani, “tidak ada satupun hadits yang shohih yang menyebutkan tentang wajibnya zakat barang dagangan..”
Adapun hadits-hadits yang dijadikan hujjah oleh jumhur semua dho’if, tidak bisa dijadikan hujjah.. sementara untuk mengatakan suatu hukum itu wajib atau tidaknya harus berdasarkan dalil yang shohih.. dan ternyata haditsnya dho’if semuanya, demikian pula atsar ‘Umar bin Khotthob yang dijadikan hujjah oleh jumhur juga dho’if.

➡ Dan ada sebuat atsar dari Ibnu ‘Umar tentang barang dengan zakat bahwasanya barang dagang itu ada padanya zakat, Namun Syaikh al-Albani rohimahullah mengatakan bahwa tidak ada satupun nishob dalam Al-Quran dan Hadits tentang barang-barang dagang apalagi para sahabat banyak sekali yang berdagang padahal Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sudah menjelaskan tentang nishobnya emas, perak, demikian pula unta, kambing, sapi tapi tidak ada satupun dalil yang shohih yang Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam menyebutkan tentang nishobnya berapa.. apakah harus haul atau tidak, tidak ada sama sekali.

Sementara dizaman Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam banyak yang jualan, yang berbisnis, berarti kata Syaikh al-Albani tidak ada satupun dalil yang memberikan nishob maka dari itu seorang pedagang, dia mengeluarkan zakat tanpa ada nishob artinya sesuai dengan  sesuai yang diridhoi oleh jiwanya saja.
Karena sama sekali tidak ada dalil, sebab kalau Qiyas tersebut, misalnya di Qiyaskan kepada emas dan perak benar, tentu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sudah menyebutkan adanya nishob, karena dizaman Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pun juga yang namanya jual beli ada, barang dagang ada..

➡ Dan pendapat, wallahu a’lam, yang saya condong kepadanya adalah pendapat Syaikh al-Albani ini, karena tidak ada satupun dalil-dalil yang shohih dari hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam yang menunjukkan akan wajibnya zakat barang dagangan

2️⃣ Bahwasanya atsar-atsar yang menyebutkan tentang wajibnya zakat dari sebagian para sahabat pun tidak ada nishobnya, maka barang dagang dikeluarkan zakat sesuai dengan yang diridhoi oleh pemiliknya.

➡ Kemudian ada sebuah atsar, bahwa para pedagang datang dari Syam kepada ‘Umar bin Khotthob rodhiyallahu ‘anhu mereka membawa kuda, yang kuda tersebut memang diperjual belikan, lalu mereka berkata, “Wahai Amirul mukminin, ambil dari kami zakatnya..” ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata, “sesungguhnya dua sahabatku tidak melakukannya..” yaitu Rosul shollallahu ‘alayhi wa sallam dan Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, maka mereka ngeyel dan minta sementara disitu ada ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu maka ‘Ali berkata, “wahai Amirul mukminin ambil saja seperti sedekah sunnah..” maka kemudian ‘Umar pun mengambilnya sebagai sedekah sunnah.

➡ Disini padahal kuda-kuda tersebut diperjualbelikan dan sebagai barang dagang tapi ternyata ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu tidak mau mengeluarkan Zakatnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Zakat Perhiasan

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Zakat Emas Dan Perak Dan Kaitannya Dengan Zakat Uang  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya..

⚉ ZAKAT PERHIASAN

Para ulama berselisih pendapat apakah perhiasan berupa emas dan perak yang dijadikan perhiasan oleh wanita wajib dikeluarkan zakatnya atau tidak.

➡ Pendapat yang paling kuat adalah wajib dikeluarkan padanya zakat apabila telah sampai nishob dan haul.

⚉ Dari Ummu Salamah ia berkata, aku pernah memakai (audhoh) sejenis perhiasan dari perak yang terbuat dari emas, lalu aku berkata, “wahai Rosulullah apakah ini termasuk menumpuk-numpuk yang dilarang..?” Maka Rosulullah bersabda, “apa-apa yang telah sampai untuk dikeluarkan zakatnya maka bukanlah menumpuk-numpuk yang dilarang..” (HR Abu Daud)

⚉ Dari ‘Abdullah bin Syadad bin Alhad ia berkata,

دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى فِي يَدَيَّ فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ فَقُلْتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ قُلْتُ لَا أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ

Kami masuk kepada ‘Aisyah istri Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam masuk kepadaku dan melihat ditanganku yaitu cincin-cincin besar dari perak, lalu beliau bersabda, “apa ini wahai ‘Aisyah..?” maka aku berkata, “sengaja aku buat untuk berhias untukmu wahai Rosulullah..”, kata Rosulullah, “apakah kamu mengeluarkan zakatnya..?” Aku berkata, “tidak..”, maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “cukup buatmu dari api neraka..” (HR Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan bahwa, zakat perhiasan itu wajib, maka kata Al Khotthobi, “yang paling kuat dari al Qur’an menunjukkan pada pendapat yang mewajibkannya, demikian pula haditspun mendukungnya..”

⚉ Ibnu Hazm juga mengatakan, “berdasarkan nash-nash tadi, bahwa wajib mengeluarkan zakat pada setiap emas, yaitu baik yang diperjual belikan maupun yang dijadikan perhiasan saja..”

Masuk padanya perhiasan yang haram, misalnya ada laki-laki yang menggunakan perhiasan emas dan tentunya diharamkan untuk laki-laki karena emas itu hanya boleh untuk wanita.

Kalau ada laki laki mempunyai perhiasan berupa emas dan telah sampai nishob, walaupun itu haram untuk laki laki tsb, tetap wajib dikeluarkan padanya zakat.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Zakat Emas Dan Perak Dan Kaitannya Dengan Zakat Uang

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Mengeluarkan Zakat Ketika Telah Sampai Nishob Tapi Belum Haul  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. sekarang kita masuk..

⚉ ZAKAT EMAS DAN PERAK

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat emas dan perak, dengan siksa yang pedih yaitu, dijadikan setrikaan pada hari kiamat

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan dalam Quran Surat At-Taubah Ayat 34

وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih..”

Quran Surat At-Taubah Ayat 35

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu disetrikakan ke dahi mereka, rusuk dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu..”

➡ Adapun nishob emas maka itu dua puluh (20) Dinar yaitu sama dengan delapan puluh lima (85) gram jika dua puluh empat (24) karat, maka dikeluarkan 2,5% nya.

Dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

عن علي -رضي الله عنه- قال: ((…….فإذا كانت لك مائتا درهم، وحال عليها الحول؛ فعليها خمسة دراهم، وليس على شيء -يعني في الذهب- حتى يكون لك عشرون دينارا، فإذا كان لك عشرون دينارا وحال عليها الحول؛ ففيها نصف دينار)) ((صحيح سنن أبي داود))

“Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikit pun –maksudnya zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar, dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. Dan setiap kelebihan dari (nishob) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu..”

Kalau sudah sampai Dua puluh (20) dinar dan sudah haul maka dikeluarkan 1/2 Dinar (Diriwayatkan oleh abu daud)
Dan ini menjadi ijma para ulama kota madinah

➡ Adapun nishob perak yaitu Dua Ratus (200) dirham sekitar Lima Ratus Sembilan puluh lima (595) gram, yang 1.000 karat. Ini berdasarkan Hadits :

عن علي رضي الله عنه قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ((…..فإذا بلغت مائتين ففيها خمسة دراهم)) أخرجه أبو داود

“Apabila perak telah sampai 200 dirham maka yang dikeluarkan adalah 5 Dirham (2,5%) nya..”

➡ Kemudian tentang masalah uang, Para ulama berbeda pendapat apakah uang itu dikonversikannya dengan emas atau dengan perak.

⚉ Sebagian mengatakan dengan perak yaitu 595 gram karena alasan mereka bahwa zakat itu adalah untuk memperhatikan orang-orang Fakir miskin. Maka mereka yang telah sampai uangnya 595 gram perak dan sudah haul maka wajib dikeluarkan padanya 2,5%.

⚉ Sementara sebagian ulama mengatakan dikonversikan dengan emas alasannya bahwa kalau kita perhatikan zakat-zakat yang lainnya itu senilai hampir senilai demikian. Contoh misalnya kambing Nishobnya 40 ekor, contoh lagi misalnya Unta nishobnya 5 ekor, 1 unta itu harganya 2.000-5.000 riyal. Demikian pula kalau kita melihat zakat tanaman nishobnya sekitar 750 kwintal..

➡ Maka kalau kita perhatikan, ini semua mirip dengan emas. maka dari itu mereka merojihkan zakat uang itu sama dengan emas dan ini yang lebih mudah sedangkan islam itu mudah dan In-syaa Allah pendapat yang paling kuat.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Mengeluarkan Zakat Ketika Telah Sampai Nishob Tapi Belum Haul

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Wajib Zakat Namun Berhutang  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya..

⚉ BOLEH MENGELUARKAN ZAKAT KETIKA TELAH SAMPAI NISHOB TAPI BELUM HAUL

Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhori dari Ali bin Abi Tholib, “bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mempercepat dari ‘Abbas sedekahnya untuk dua tahun..”

➡ Artinya, kalau kita sudah sampai nishobnya, tapi belum setahun (belum haul).. tapi kita ingin mengeluarkan zakatnya, maka boleh.. seperti ini diperbolehkan.

Kata Syaikhul Islam (dalam Majmu’ Fatawa – jilid 25 hal 85), “adapun mempercepat pengeluaran zakat sebelum haulnya, tapi sudah sampai nishobnya, maka boleh menurut jumhur ulama.. dan ini pendapat Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad..”

Kemudian kata beliau (penulis kitab) bahwa..
⚉ MENGIRIMKAN AMIL ZAKAT UNTUK MENGAMBIL ZAKAT SUATU KAUM, ITU KHUSUS UNTUK HARTA YANG SIFATNYA TAMPAK.. seperti zakat binatang ternak, unta, sapi, kambing. Demikian pula zakat pertanian.

Adapun harta yang sifatnya tersembunyi dan disembunyikan oleh pemiliknya, seperti emas dan perak. Maka Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengirimkan Amil untuk mengambil zakat dari harta sejenis ini.

Syaikh al-Albani rohimahullah berkata (dalam kitabnya Tamaamul Minnah halaman 383), “Aku belum menemukan dalil dari sunnah bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mengirimkan orang, yaitu Amil, untuk mengambil zakat dari harta yang bersifat batinah (tersembunyi), seperti emas dan perak..”

Bahkan kata beliau, “Ibnul Qoyyim rohimahullah tegas bahwa tidak ada sama sekali tentang hal itu..”

Berarti pengiriman Amil dari pihak pemerintah itu khusus untuk mengambil zakat harta yang bersifat zhohiroh (yang bersifat tampak) seperti zakat binatang ternak, demikian pula zakat tanaman dan buah-buahan.

Dan demikian pula kata Ibnul Qoyyim, “aku belum pernah menemukan dari Khulafa yang tiga (Abu Bakar, Umar, Utsman) melakukan perbuataan itu..”

Dan bahkan Abu Ubaid dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said Maqburi, dia berkata, “aku hendak mendatangi ‘Umar bin Khoththob, lalu aku berkata wahai Amirul Mukminin ini adalah zakat hartaku, lalu aku membawa 200 dirham, lalu Umar berkata, “apakah kamu sudah dimerdekakan wahai kaisan..?” Aku berkata, “iya..” Umar berkata. “pergi dan bagilah sendiri..” Sanadnya jayyid (baik).

➡ Artinya, untuk zakat yang bersifat harta tersembunyi, seperti emas dan perak, yang membagikannya pemiliknya sendiri. Adapun yang sifatnya tampak, maka ini diambil oleh Amil yang dikirim oleh pemerintah.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Wajib Zakat Namun Berhutang

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adakah Kewajiban Zakat Pada Harta Anak Kecil Dan Orang Gila..?  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. kata beliau

⚉ ORANG YANG PUNYA UANG UNTUK DI ZAKATKAN TAPI IA BERHUTANG

➡ Kata Beliau (penulis kitab), “Orang yang punya uang ditangannya dan wajib Zakat tapi ia punya hutang pada orang lain, hendaklah Ia membayarkan hutang-hutangnya tersebut.. lalu sisanya di zakati jika memang telah sampai nishob, adapun setelah (dibayarkan hutangnya) tidak sampai nishob maka tidak ada zakat baginya..”

➡ Beliau berkata Syaikh Albani Rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang memiliki nishob tapi dia punya utang yang menghabiskan nishobnya, maka dia wajib bayar zakat. Kata Syaikh Albani rohimahullah, “selama uang itu ada ditangannya dan telah sampai nishobnya dan telah haul, ia wajib mengeluarkan zakat..”

Kalau memang Ia berniat tidak mengeluarkan zakat hendaknya ia membayar utang-utangnya tersebut. Jikalau memang utangnya itu telah dibayar sehingga nishobnya berkurang maka tidak ada zakat baginya.

⚉ ORANG YANG MENINGGAL DALAM KEADAAN PUNYA KEWAJIBAN BAYAR ZAKAT

Siapa yang meninggal dan dia wajib mengeluarkan zakat setahun, atau dua tahun atau lebih maka tetap wajib dikeluarkan, Dan ini lebih didahulukan daripada wasiat dan warisan.

➡ Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ – قَالَ – فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى »

“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam kemudian dia berkata, “Wahai Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki hutang puasa selama sebulan apakah aku harus mempuasakannya..?” Kemudian Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan..” (HR Bukhari dan Muslim)

➡ Imam Ahmad rohimahullah berkata. “siapa yang meninggal dalam keadaan Ia wajib mengeluarkan zakat, maka diambil dari harta peninggalannya tersebut, walaupun Ia tidak berwasiat..”

➡ Dan ini kata beliau (penulis kitab) adalah pendapat Imam Syafi’i demikian pula Abu Sulaiman dan ashhabnya.

⚉ WAJIB MEMBAYAR ZAKAT APABILA TELAH DATANG WAKTUNYA DAN TIDAK BOLEH DI TUNDA-TUNDA

Dari Uqbah bin harist dia berkata aku sholat bersama nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat ‘ashar, setelah beliau salam beliau segera bangkit dengan cepat, dan masuk kerumah sebagian istrinya, kemudian keluar. Sementara Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam melihat orang-orang merasa heran, Maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “aku ingat didalam sholat tadi ada emas yang belum dikeluarkan zakatnya, maka aku tidak ingin masuk disore hari atau malam hari dalam keadaan belum dikeluarkan zakatnya (atau shadaqohnya) maka akupun memerintahkannya untuk membagi-bagikannya..” (HR Bukhari)
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Adakah Kewajiban Zakat Pada Harta Anak Kecil Dan Orang Gila..?

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Wajib Zakat Dan Nishob  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. Lalu beliau berkata,

⚉ APAKAH HARTA ANAK KECIL DAN ORANG GILA WAJIB DIKELUARKAN ZAKATNYA APABILA TERPENUHI SYARTA-SYARTANYA ?

Ikhtilaf para ulama.., jumhur ulama, kebanyakan ulama berpendapat bahwa harta anak kecil demikian pula orang gila, selama telah sampai pada nishobnya dan haulnya maka wajib dikeluarkan padanya zakatnya.

Alasannya karena :
➡ Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Ambilah dari harta mereka..” Allah menyebutkan harta, berarti zakat itu berhubungan dengan harta, ini umum mencakup semua yang memiliki harta.

➡ Demikian juga hadits, bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman dimana Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Kalau mereka menta’atimu untuk melaksanakan sholat maka kabarkan kepada mereka, bahwasanya pada harta mereka terdapat zakat, yaitu yang diambil dari hak orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang orang fakir mereka..”

Disini Nabi mengatakan kabarkan kepada mereka bahwa pada harta mereka terdapat zakat dan sedekah.. berarti itu berhubungan dengan harta.

➡ Sementara Abu Hanifah mengatakan anak kecil, hartanya tidak ada zakatnya, kecuali kalau itu berhubungan dengan zakat buah buahan atau tanaman demikian juga binatang ternak.. akan tetapi pendapat Abu Hanifah ini sangat lemah apalagi pembedaan zakat tanaman, binatang ternak dengan yang lainnya sama sekali tidak ada dalilnya.

Maka pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah pendapat jumhur yaitu pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad rohimahumullah.

Namun penulis buku ini yang sedang kita bahas merojihkan pendapat Syaikh Albani rohimahullah bahwa zakat itu berhubungan dengan orangnya yang baligh dan berakal.

Karena kata beliau yang namanya zakat itu ibadah sedangkan yang namanya ibadah itu disyariatkan padanya baligh dan berakal. Maka harta anak kecil tidak ada kewajiban untuk dikeluarkan zakat.

➡ Akan tetapi.. wallahu a’lam saya condong akan pendapat jumhur karenakan zakat itu berhubungan dengan harta. Maka jika harta mereka telah sampai pada nishobnya atau melebihi nishobnya atau telah haul maka tetap wajib dikeluarkan padanya zakat.. Allahu a’lam

Ini juga merupakan fatwa Syaikh Binbaz dan juga Syaikh Utsaimin, Lajna Da’imah dan banyak lagi para ulama dizaman ini.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Wajib Zakat Dan Nishob

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Zakat  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya..

⚉ ATAS SIAPA WAJIB ZAKAT ?

Wajib atas setiap muslim merdeka dan memiliki Nishob, dan adapun orang kafir, maka tidak wajib karena zakat itu adalah untuk mensucikan, sementara orang kafir tidak bisa disucikan oleh zakat.

➡ Syaikh Albani rohimahullah berkata,
“Bagaimana zakat diambil dari orang-orang kafir sementara mereka diatas kesyirikan dan kesesatan mereka, maka zakat tidak mensucikan mereka.. akan tetapi zakat mensucikan orang yang beriman yang mensucikan dirinya dari kesyirikan..”

➡ Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat At-Taubah : 103

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui..”

➡ Ini menunjukkan bahwa orang kafir tidak ada kewajiban zakat.

⚉ APA YANG DISYARI’ATKAN DALAM NISHOB ?

Perlu diketahui nishob adalah batasan harta untuk dikeluarkan Zakatnya.

Contoh :
Emas nishabnya adalah 85 gram itu sama dengan 25 dinar.
Dan perak yaitu 200 dirham, demikian pula yang lainnya seperti, misalnya kambing 40 ekor, itu namanya nishob

➡ Apa yang disyaratkan dalam nishob ?

1. Yaitu melebihi kebutuhan yang sifatnya primer dimana seseorang sangat membutuhkannya, seperti, makanan, pakaian dan sebagainya.

2. Yaitu sudah lewat 1 tahun, 1 haul.. sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah, “Tidak ada zakat pada harta sampai menunggu setahun”

➡ Namun untuk zakat tanaman maka itu tidak ada haul, akan tetapi dikeluarkan pada saat panen kalau ternyata sampai nishobnya, berdasarkan firman Subhaanahu wa Ta’ala dalam surat Al-An’am : 141

وَءَاتُوا۟ حَقَّهُۥ يَوْمَ حَصَادِهِۦ ۖ

“Dan keluarkanlah haknya itu, zakatnya itu pada hari panen nya”

⚉ KALAU TERNYATA NISHOBNYA BANYAK, BAGAIMANA CARA MENZAKATINYA ?

maksudnya nishob yang banyak pada harta ini. Nishobnya bulan muharrom, yang satu lagi harta yang sama nishobnya bulan dzulhijjah, sehingga kalau setiap harta dihitung tentu memberatkan. Bagaimana ini..?

➡ Syaikh Albani rahimahullah ditanya tentang masalah ini. Beliau berkata, “Para ulama berbeda pendapat, dalam masalah ini menjadi dua pendapat :

1. Yaitu bahwa semua itu dihitung dijadikan satu saja, satu nishob kemudian dipotong 2,5% dikeluarkan padanya zakatnya.

2. Masing-masing harta dikeluarkan sesuai dengan nishobnya masing-masing dan haulnya masing-masing.

➡ Syaikh Albani rohimahullah berkata, “kalau kita melihat kaidah pemberian kemudahan saya lebih condong merojihkan pendapat yang pertama karena, kata beliau, kalau kita harus memperhatikan setiap harta atau nishobnya masing-masing tentu itu akan sangat sulit sekali..” kata beliau. Untuk menunggu haulnya masing-masing itu sangat sulit sekali, maka kata beliau, “yang lebih mudah adalah jadikan semuanya dari harta yang serupa itu jadi satu nishob..”

Misalnya kita punya uang nishobnya sama dengan 85 gram emas, atas pendapat yang paling kuat, misalnya haulnya bulan muharrom tapi ditengah jalan kita dapat uang lagi, dapat uang lagi.. kalau misalnya uang yang baru ini harus dihitung nishobnya yang baru dan haul yang baru tentu akan sangat merepotkan kata syaikh Albani.
Maka pada waktu itu uangnya dijadikan satu saja semuanya dengan nishob yang pertama lalu kemudian dikeluarkan dengan haul yang telah dihitung dari nishob yang pertama tersebut.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Zakat

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Takbir Idul Fitri dan Takbir Idul Adha  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. sekarang kita masuk ke Kitaabuz Zakah.. permasalahan yang berhubungan dengan..

⚉ ZAKAT

Zakat secara bahasa artinya bertambah atau juga berarti thaharoh/suci.

Zakat secara istilah yaitu wajibnya mengeluarkan harta kepada harta tertentu untuk pemilik tertentu.

⚉ Zakat adalah merupakan salah satu dari rukun islam, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun diatas lima ;
1. Syahadat laa ilaaha-illallah muhammadarrosulullah.
2. Mendirikan sholat
3. Membayar zakat
4. Berpuasa dibulan ramadhan
5. Berhaji ke baitullah.

Allah subhanahuwata’ala senantiasa memerintahkan dan menganjurkan agar hamba-hambanya mengeluarkan zakat, demikian juga sedekah sedekah-sedekah sunnah lainnya.

⚉ Bahkan Allah seringkali memuji orang orang yang demikian juga didalam al qur’an seperti Allah berfirman menyebutkan tentang sifat orang yang bertaqwa yang masuk kedalam surga dalam surat Adz dzaariat 15 sd 19

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)

“Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga dan mata air yang mengalir, mereka mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka dari kenikmatan surga, sesungguhnya dahulu mereka di dunia termasuk orang orang yang berbuat ihsan, dahulu mereka sedikit tidur diwaktu malam, dan mereka memohon ampunan kepada Allah diakhir malam diwaktu sahar dan pada harta mereka terdapat hak untuk orang yang meminta, dan orang yang terhalangi (yaitu orang orang fakir miskin)..”

⚉ Dan zakat sama sekali tidak mengurangi harta.. bahkan ia memberkahinya. Kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sedekah itu sama sekali tidak mengurangi harta. Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda

مَنْ أَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدْ ذَهَبَ عَنْهُ شَرُّهُ

“Siapa yang membayar zakat hartanya maka telah hilang keburukan harta tsb darinya..” (HR Thobroni)

⚉ Dan orang yang tidak mengeluarkan zakat hartanya ia diancam oleh Allah dimana hartanya tsb akan dipanaskan dalam neraka jahanam kemudian disetrikakan pada punggung mereka demikian pula jidat dan rusuk mereka. Allah berfirman pada surat At Taubah: 34-35

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ.

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Dan orang orang yang menumpuk-numpuk emas dan perak dan tidak mengeluarkan infak dan zakat mereka dijalan Allah berikan kabar gembira mereka dengan azab yang pedih pada hari harta mereka dipanaskan dineraka jahanam dan disetrikakan pada jidat mereka, pada rusuk mereka dan punggung mereka sampai dikatakan inilah yang dahulu kalian tumpuk untuk diri kalian rasakanlah apa yang kalian tumpuk tsb..”

⚉ Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa unta yang yang tidak dikeluarkan zakatnya kelak pada hari kiamat ia akan menginjak-injaknya.. demikian pula sapi dan kambing, itu akan menyiksanya sebelum ia dihisab, sebelum ditentukan apakah ia disurga atau dineraka, dia sudah disiksa oleh binatang-binatang ternaknya tsb.. nas’alullah as-salamah wal ‘afiyah (hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon keselamatan)

⚉ Demikian juga Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan harta yang tidak dikeluarkan zakatnya akan berubah menjadi ular yang sangat beracun yang akan membelit dia dan mematuknya.. demikian yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

➡ Hendaklah takut orang-orang yang mempunyai harta dan pelit untuk mengeluarkan zakatnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Takbir Idul Fitri dan Takbir Idul Adha

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Keutamaan Beramal Sholih Di 10 hari Pertama Dzulhijjah  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kajian kita.. fiqih.. masih tentang Hari Raya..

⚉ DI SUNAHKAN UNTUK MEMBERIKAN SELAMAT HARI RAYA

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.” (Dikeluarkan oleh ad-darimi dalam sunahnya dan sanadnya hasan)

➡ Bolehkah kita mengucapkan dengan kata-kata yang lain..?
Contoh, “Kullu ‘aam wa antum bi khoyr”, atau di indonesia “Minal aidin wal faizin”. Ini terjadi ikhtilaf bagi para ulama. Sebagian mengatakan Tidak boleh, cukup dengan apa yang diucapkan oleh para sahabat saja, karena mereka memandang ini ibadah.

Sementara kebanyakan para ulama mereka berpendapat Boleh, karena kata mereka tah-niah itu bukan dari jenis ibadah.
Akan tetapi tah-niah mengucapkan selamat itu dari jenis kebiasaan atau adat. Maka apa saja yang menunjukkan kepada kata-kata tah-niah itu diperbolehkan, dan itu yang dirojihkan oleh hampir semua masyaikh di saudi, seperti, Syaikh Bin Baz, Syaikh Sholeh Utsaimin, Syaikh Fauzan, Syaikh Albani dan yang lainnya.

⚉ BERTAKBIR DI HARI RAYA

Allah Subhanahu Wa ta’ala Berfirman dalam surat Al- Baqoroh :185

وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hendaklah kalian menyempurnakan jumlah bilangan Ramadhan dan hendaklah kalian bertakbir kepada Allah atas hidayah yang diberikan kepada kalian agar kalian bersyukur”

IDUL FITRI

Maka disyariatkan takbir dihari raya Idul Fitr dari semenjak malam idul fitr sampai pagi hari, sampai imam naik mimbar atas pendapat imam Syafi’i dan banyak ulama yang lainnya, sementara sebagian ulama berpendapat disyariatkan takbir Idul Fitr dari semenjak pagi keluar rumah sampai menuju lapangan, sampai imam naik mimbar, sampai imam sholat.
Namun yang rojih diperbolehkan dari semenjak malam Idul Fitr berdasarkan Firman Allah, “Agar kalian menyempurnakan bilangan dan agar kalian bertakbir” Sementara malam Ied sudah sempurna bilangan Ramadhan.

Adapun ada Hadits yang menyebutkan bahwa Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mulai bertakbir dari semenjak pagi itu haditsnya Dhoif tidak Shohih.

IDUL ADHA : Takbirnya ada 2 macam

1. TAKBIR MUTLAK : yaitu takbir kapan saja dan dimana saja maka ini disyariatkan dari semenjak tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah diwaktu ‘ashar.

Disebutkan di suatu hadits (dalam riwayat Al Bukhari) berkata:

وكان ابن عمر، وأبو هريرة يخرجان إلى السوق في أيام العشر، فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما

“Ibnu Umar dan Abu Hurairah senantiasa keluar ke pasar-pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Mereka bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir karena mendengar takbir dari mereka berdua..”
Ini menunjukan Takbir Mutlak boleh/disyariatkan dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah (perbanyak takbir)

2. TAKBIR MUQOYYAD : yaitu takbir yang disyariatkan setelah selesai sholat Fardhu, maka ini dimulai dari tanggal 9 Dzulhijjah sholat shubuh sampai tanggal 13 Dzulhijjah sholat ‘ashar
Sebagaimana ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib demikian pula Ibnu ‘Abbas dan Syaikh Albani rohimahullah mengatakan shohih.

Maka ini takbir yang ada di Idul Fitri dan Idul Adha.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

KITAB FIQIH – Keutamaan Beramal Sholih Di 10 hari Pertama Dzulhijjah

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Keringanan Untuk Bermain Saat Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya..

⚉ KEUTAMAAN BERAMAL SHOLIH DI 10 HARI PERTAMA DARI BULAN DZULHIJJAH

➡ Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada hari-hari yang amalan sholih sangat dicintai oleh Allah dari hari-hari ini yaitu 10 awal dibulan dzulhijjah, mereka berkata, “hai Rosulullah tidak juga berjihad dijalan Allah..?” Kata Rosulullah, “tidak juga berjihad dijalan Allah kecuali seseorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak pulang lagi (mati syahid)..” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya hari-hari 10 awal di bulan dzulhijjah, sampai sampai Allah bersumpah dengannya (Qs Al Fajr 1-2),

وَالۡفَجۡرِۙ , وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ

“Demi waktu fajar dan demi 10 malam..” Para ulama tafsir menafsirkan yang dimaksud 10 malam yaitu 10 awal bulan dzulhijjah.

Maka kita sangat dianjurkan untuk banyak beramal sholih karena Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan bahwa hari-hari tsb amalan sholih sangat dicintai Allah Subhaanahu Wata’ala

➡ Kata Sa’id bin Jubair rohimahullah, apabila masuk 10 awal dibulan dzulhijjah maka beliau bersungguh-sungguh luar biasa untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu Wata’ala dan amalan yang paling utama adalah banyak berdzikir dan bertakbir..

➡ Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa ketika mentafsirkan firman Allah, “..dan mereka berdzikir kepada Allah dihari-hari yang diketahui..” 
Yaitu, kata beliau, 10 awal bulan dzulhijjah. Berarti dihari-hari tsb kita dianjurkan untuk banyak berdzikir kepada Allah, banyak beramal sholih seperti memperbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, sedekah dan amalan-amalan sholih yang lainnya tentu pahalanya luar biasa.

➡ ‘Umar bin Khottob rodhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah riwayat, beliau ketika ramadhan ada hari yang beliau harus qodho beliau menunggu sampai diawal bulan dzulhijjah lalu beliau mengqodhonya dihari-hari tsb karena keutamaannya yang besar disisi Allah Subhaanahu Wata’ala

Maka kita sebentar lagi akan masuk di 10 awal bulan dzulhijjah jangan disia siakan karena ini hari yang sangat luar biasa dimata Allah Subhaanahu Wata’ala.. terlebih tanggal 9 hari arofah dan tanggal 10, karena disebutkan dalam hadits bahwa hari yang paling besar kata Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam yaitu hari Qorr (tanggal 10 bulan dzulhijjah).

Ini merupakan hari yang sangat agung disisi Allah Subhaanahu Wata’ala.. maka perbuatan maksiatpun juga dihari-hari tsb menjadi besar dimata Allah Subhaanahu Wata’ala. Hendaklah kita bersungguh sungguh.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah