Category Archives: Kitab HAKIKAT BID’AH dan HUKUM-HUKUMNYA

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Perbuatan Bid’ah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Pembagian Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Perbuatan Bid’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan hakikat bid’ah nya…

Fasa selanjutnya yaitu bid’ah yang berhubungan dengan perbuatan melakukan dan perbuatan meninggalkan.

Adapun yang dimaksud dengan perbuatan melakukan yaitu ada 2 macam :
1⃣ Perbuatan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam
2⃣ Perbuatan ummatnya yang mukallaf, yaitu yang baligh dan berakal.

Adapun perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam , maka ini bermacam-macam hukumnya, ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang mubah.

Dan Syaikh Utsaimin rohimahullah membagi perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam menjadi 6 :

1⃣ Perbuatan Rosulullah yang bersifat tabi’at, seperti masalah selera makan, maka ini bila kita tidak ikutipun tidak mengapa.

2⃣ Perbuatan Rosulullah yang berhubungan dengan adat kebiasaan (adat-istiadat), maka kata Syaikh Utsaimin, yang lebih utama kita mengikuti adat setempat (adat kaum muslimin setempat) selama tidak bertabrakan dengan syari’at.

3⃣ Perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam yang hanya perbuatan tanpa ada perintah, maka ini hukumnya sunnah.

4⃣ Perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dalam mempraktekkan perintah Allah yang wajib. Maka ini hukumnya sesuai dengan hukum perintah tersebut. Bila hukum perintah tersebut sifatnya wajib, maka perbuatan Rosulullah menjadi wajib, tapi bila perintah tersebut hukumnya sunnah, maka perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam itu sunnah.

5⃣ Perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam yang merupakan khusus untuk Rosul tidak untuk ummatnya. Seperti misalnya menikah lebih dari empat, berpuasa terus-menerus, ini adalah merupakan kekhususan untuk Rosul ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

6⃣ Perbuatan Rosulullah yang masih diperselisihkan oleh para Ulama, apakah ini termasuk sunnah ataukah sebatas kebiasaan.
Sebuah contoh misalnya, Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam rambutnya sampai ke pundaknya, apakah ini termasuk kebiasaan atau perkara yang Rosulullah sunnahkan untuk ummatnya, jumhur ulama mengatakan itu termasuk kebiasaan saja.

Dan masuk didalam makna sunnah juga yaitu yang diamalkan oleh para sahabat Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dan mempunyai dasar. Artinya tidak bertabrakan dengan Alquran dan Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, bahkan kalau terjadi ijma’ mereka itu menjadi hujjah tentunya.

Ini yang berhubungan dengan perbuatan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

Adapun yang ke-2, itu perbuatan melakukan yang dilakukan oleh ummatnya. Yaitu yang dilakukan oleh hati mereka, tulisan mereka atau badan mereka, baik itu sifatnya ibadah ataupun mu’amalaah ataupun kebiasaan, maka semua perbuatan ini tidak boleh keluar dari batasan-batasan syari’at, karena semua perbuatan itu pasti akan dihisab oleh Allah. Allah berfirman dalam Surat Al-Qiyaamah Ayat 36 :

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia akan dibiarkan sia-sia tanpa diberikan perintah dan larangan ?” Tentu tidak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, pokok yang dibangun oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dari para Ulama dalam mazhab-mazhab mereka, bahwa perbuatan mahluk itu ada 2 macam:

1⃣ Ibadat yang mereka jadikan sebagai sebuah agama, dan mereka berharap manfaatnya diakhirat.

2⃣ Sifatnya duniawiyah atau adat istiadat yang mereka ambil manfaatnya dalam kehidupan mereka didunia.

Adapun yang pertama berhubungan dengan ibadat, maka pada asalnya tidak disyari’atkan sampai ada dalil yang menunjukkan kepadanya.

Adapun yang kedua, yang berhubungan dengan adat kebiasaan manusia pada asalnya boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. (Demikian dalam kitab I’tidal Shirotolmustaqim jilid 2, halaman 581-582.)

Maka dengan melihat dua perkara inilah kita melihat atau menimbang semua perbuatan-perbuatan manusia, maka dari itu perbuatan manusia kalau ternyata bertabrakan dengan syari’at atau tidak sesuai dengan syari’at itupun juga tidak lepas dari dua keadaan.

1⃣ Keadaan yang pertama, dia melakukan perbuatan yang menyimpang itu tidak bermaksud dalam rangka bertaqorrub kepada Allah, maka ini masuk didalam kategori maksiat, seperti mendengarkan musik, minum arak, berzina dan yang lainnya.

2⃣ (Keadaan) yang kedua, melakukan penyimpangan tersebut dalam rangka taqorrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, maka inilah yang dianggap sebagai bid’ah, baik itu dalam ibadah ataupun mu’amalah atau kebiasaan. Demikian pula baik dalam aqidah, keyakinan ataupun perbuatan badan dan lisan.

Adapun contoh ibadah, misalkan mengamalkan hadits-hadits palsu atau membuat ibadah-ibadah yang tidak ada dalilnya sama sekali. Contoh, sholat Rogho’ib, sholat nifsyu sya’ban demikian pula membuat-buat wirit-wirit tertentu yang bid’ah seperti yang dilakukan kaum sufi dan yang lainnya.

Adapun dalam masalah mu’amalah, contoh misalnya, ada orang yang beribadah kepada Allah dengan cara melihat anak-anak kecil yang ganteng. Ini juga termasuk bid’ah, maka ini bisa bukan hanya bid’ah tapi juga masih maksiat.

Contoh lagi misalnya, beribadah kepada dengan cara mendengarkan nyanyian dan musik, yang mereka anggap itu bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Majmu’ Fatawa jilid 5, halaman 83-84).

Ini adalah merupakan contoh-contoh perkara yang menyimpang dan diinginkan kepadanya taqorrub kepada Allah.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Pembagian Bid’ah # 3…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Pembagian Bid’ah # 2) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Pembagian Bid’ah # 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita melanjutkan kajian kita tentang hakikat bid’ah…

Masih pembahasan tentang ‘bid’ah ‘idhofiyah’, dimana Al Imam asy-Syatibi rohimahullah juga memasukan macam-macam yang lainnya, yang beliau menganggapnya Itu termasuk ‘bid’ah ‘idhofiyah’,

1⃣ Sesuatu yang samar.

Apakah ia termasuk bid’ah atau bukan ? Karena sesuatu yang samar itu perkara yang harus dijauhi dan kaidah dalam masalah bid’ah pada asalnya adalah tidak boleh dilakukan sampai ada dalil yang menunjukan akan kebolehannya.

⚉ Contoh misalnya, kalau terjadi ikhtilaf para ahli ijtihad, apakah Itu termasuk sunnah atau bid’ah, dan kita tidak bisa untuk menggabungkan dalil-dalil mereka dan belum jelas kepada kita mana yang paling kuat, maka pada saat itu kita tinggalkan, karena pada asalnya ibadah itu tidak boleh dilakukan sampai jelas kepada kita bahwa perkara itu perkara yang disyari’atkan.

⚉ Contoh lagi kata beliau, masalah yang berhubungan dengan ‘tabaruk’, ngalap berkah dengan badan orang sholeh. Karena sebagian Ulama hal ijtihad ada yang mengatakan boleh untuk selain Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, dan mereka mengqiyaskannya kepada perbuatan sahabat kepada Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam . Sementara sebagian Ulama lagi mengatakan tidak boleh dan tidak bisa diqiyaskan, karena itu kekhususan Rosulullah sebagai Nabi dan tidak bisa Beliau diqiyaskan dengan orang-orang sholeh selain Nabi, karena bagaimana akan disamakan derajat Nabi dengan derajat yang lainnya.

Dan itu juga yang dipahami oleh para sahabat Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, dimana para sahabat mereka hanya bertabaruk dengan bekas-bekas peninggalan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam saja, mereka tidak pernah ‘tabaruk’ dengan Abubakar, padahal beliau manusia yang paling utama setelah Rosulullah, tidak pula para tabi’in bertabaruk dengan bekas-bekas para sahabat, walaupun memang diriwayatkan dari mereka namun semua riwayatnya itu tidak shohih adanya mereka yang bertabaruk kepada yang lainnya, bahwa itu semua tidak dibenarkan. Maka dari itu para sahabat tidak pernah bertabaruk kepada yang lainnya.

Kalaulah pemahaman bahwa diqiyaskan kepada Nabi itu orang-orang sholeh itu benar, tentu para sahabat yang pertama kali yang melakukannya.

Kemudian diantara perkara yang dimasukan oleh Imam asy-Syatibi dalam kategori bid’ah ‘idhofiyah yang kedua…

2⃣ Pokok ibadahnya disyari’atkan akan tetapi kemudian keluar dari pokok per syari’atannya dengan tanpa dalil.

Seperti didalam tata caranya atau jumlahnya atau waktunya atau tempatnya.

⚉ Contoh misalnya, berpuasa adalah sesuatu yang disyari’atkan dan asal daripada hukum puasa itu memang disyari’atkan, tapi kemudian mengkhususkan puasa pada hari tertentu, seminggu misalnya pada hari Rabu saja tanpa dalil, ini jelas masuk dalam ‘bid’ah ‘idhofiyah’. Adapun puasa hari Senin dan Kamis maka itu sesuatu yang di tunjukkan oleh dalil dan tidak termasuk bid’ah.

Zikir misalnya, yaitu pada asalnya disyari’atkan, tapi kemudian seseorang mengkhususkan zikir pada hari kelahirannya saja misalnya, pada hari tertentu saja tanpa hari yang lainnya, maka itu termasuk bid’ah ‘idhofiyah.

3⃣ Menyampaikan kepada manusia ilmu yang mereka tidak fahami

Dimana seseorang menyampaikan kepada orang-orang awam perkara-perkara yang sangat detil, yang pemahaman mereka tidak sampai kepadanya. Yang berakibat akhirnya malah menjadi fitnah atau salah paham, maka beliau (Imam asy-Syatibi) menganggap ini termasuk perkara yang bid’ah juga.

Ali bin Abi Tholib berkata

‎حدثوا الناس بما يعر فون أَتُحبون أن يكذَّب اللّٰه ورسوله

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan pemahaman mereka, apakah kalian suka Allah dan Rosul-Nya didustakan ?!”

Abdullah bin Mas’ud juga berkata

‎ما أنت بمحدث قو ماً حديثاً لا تبلغه عقو لهم إلا كان لبعضهم فتنة

“Tidaklah engkau menyampaikan suatu ilmu kepada suatu kaum yang tidak sampai akal mereka untuk memahaminya kecuali akan menjadi fitnah untuk sebagian mereka.”

Maka ini perkara yang beliau (Imam asy-Syatibi) anggap termasuk yaitu ‘bid’ah ‘idhofiyah’.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Pembagian Bid’ah # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Pembagian Bid’ah # 1) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Pembagian Bid’ah # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. kajian hakikat bid’ah nya…

Kemarin sudah kita sebutkan bahwa bid’ah tebagi menjadi 2…

Bid’ah Haqiqiyah : yaitu bid’ah yang sama sekali tidak ada asalnya dari syari’at.
Bid’ah ‘Idhofiyah : yaitu bid’ah yang ditambahkan pada perkara yang disyari’atkan

Contoh : sholat disyari’atkan lalu kemudian ditambahkan padanya bacaan-bacaan atau gerakan-gerakan yang tidak ada asalnya dari syari’at.

Al Imam asy-Syatibi membagi bid’ah ‘Idhofiyah menjadi 2 macam:

1⃣ Bid’ah ‘Idhofiyah yang mendekati bid’ah Haqiqiyah.
Contohnya : adalah orang yang tidak mau memakai pakaian yang bagus, dimana ia menganggap memakai pakaian yang bagus itu cinta dunia, atau dalam rangka melatih jiwa dan ia tidak mau makan-makanan yang enak karena takut tertipu dengan dunia misalnya, atau takut ujub dan yang lainnya.

Makanya yang seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah, Rosulullah tetap makan makanan yang biasa, yang enak, memakai pakaian yang bagus namun tidak mewah. Adapun kemudian beribadah kepada Allah dengan cara meninggalkan pakaian yang bagus dan baik, atau meninggalkan makanan yang enak, yang baik, yang sehat tentu ini adalah perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

2⃣ Bid’ah ‘Idhofiyah yang mendekati sunnah, sampai-sampai dikira itu sunnah, padahal bukan.

Contoh : adalah terus menerus melakukan suatu ibadah sunnah yang Nabi tidak mendawamkannya, karena perbuatan ibadah sunnah itu ada 2:

ada yang didawamkan oleh Nabi, seperti sholat tahajud, sholat qobliyah shubuh, sholat witir, sholat sunnah rowatib.
ada lagi sholat yang tidak di dawamkan oleh Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dari ibadah-ibadah yang sifatnya sunnah, seperti sholat qobliyah magrib, sholat sunnah mutlak dan yang lainnya.

Ketika kita mendawamkan dan terus-menerus sesuatu yang Nabi tidak dawamkan itu bisa saja menjadi bid’ah.

Sebuah contoh misalnya Syaikhul Islam, menyebutkan bahwa tidak baik membaca terus menerus di shubuh hari Jum’at, (surat) Assajadah terus, sehingga akhirnya dikira oleh orang, bahwa itu hukumnya wajib. Maka yang seperti inipun tidak bagus.

Sofyan ats-Tsauriy juga pernah ditanya tentang orang yang memperbanyak membaca Al Ikhlas dan tidak membaca surat yang lainnya, pokoknya dalam sholat dia hanya membaca Al Ikhlas saja diulang-ulang, maka Sofyan ats-Tsauriy tidak menyukainya dan berkata

‎إنما أنتم متبعون فاتّبعوا الأولين

“kalian itu harusnya ittiba’, maka ikutilah orang-orang pertama

‎ولم يبلغنا عنهم نحو هذا

dan tidak pernah sampai kepada kami ibadah seperti itu

‎وإنما أنزل القرآن ليُقرأ ولا يُخص شيء

Alqur’an diturunkan untuk dibaca semuanya, tidak dikhususkan suatu surat tanpa surat yang lainnya”

(Dalam Kitab Al-Bida’ Wannahyu ‘Anha halaman 43)

Maka ini adalah diantara contoh bid’ah ‘Idhofiyah yang dikira oleh orang itu sunnah, padahal ternyata itu tidak sunnah, tapi masuk dalam kategori yaitu bid’ah ‘Idhofiyah.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Pembagian Bid’ah # 1…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 5…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Pembagian Bid’ah # 1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. kitab ‘Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa’.. Kita masuk jilid 2.., yaitu tentang..

⚉ PEMBAGIAN BID’AH

Pembagian bid’ah itu dilihat dari berbagai macam sisi
Kata Beliau, “Bid’ah dilihat dari zatnya, itu terbagi menjadi dua:
Bid’ah Haqiqiyah
Bid’ah ‘Idhofiyah

➡ Apa itu ‘BID’AH HAQIQIYAH’ ? yaitu bid’ah yang benar-benar tidak didasarkan kepada dalil yang mu’tabar (yang dianggap oleh syari’at).

Imam asy-Syatibi mendefinisikan ‘bid’ah haqiqiyah’, “yaitu yang sama sekali tidak ditunjukkan oleh dalil syari’at, tidak dari Alqur’an, tidak pula dari sunnah, tidak pula ijma’, tidak pula pendalillan yang dianggap menurut para Ulama (pendalillan yang diterima disisi para Ulama) baik secara global maupun secara terperinci.” [Dilihat Al’itishom jilid 1 – 286]

Disini Beliau mengatakan bahwa ‘bid’ah haqiqiyah’ adalah bid’ah yang sama sekali tidak di tunjukkan oleh dalil, artinya tidak ada asalnya sama sekali dari syari’at.

Kemudian disini Beliau membahas tentang masalah..

⚉ DALIL YANG DIGUNAKAN OLEH AHLI BID’AH

Kata Beliau dalil yang digunakan oleh ahli bid’ah untuk membenarkan kebid’ahan mereka itu ada dua:

1⃣ Dalil-dalil yang tidak diterima dalam syari’at dan tidak dianggap dalil secara syari’at, ini ada dua macam

Macam yang pertama, yaitu dalil-dalil yang rusak secara asalnya.
Contoh misalnya berdalil dengan sebatas dengan perasaan atau dengan akal saja, seperti yang dilakukan kaum mu’tazilah, atau dengan kasyaf seperti yang dilakukan oleh orang-orang sufi, atau berdalil dengan mimpinya wali dan yang lainnya.

Yang kedua, yaitu dalil-dalil yang sanadnya dho’if jiddan, atau bahkan palsu, yang asanadnya lemah, tidak bisa dijadikan hujjah.
Maka yang seperti ini tidak bisa dijadikan dalil

Ini yang pertma, artinya bagian yang pertama yaitu dalil-dalil yang tidak diterima secara syari’at.

2⃣ Dalil-dalil yang bisa diterima secara syari’at tapi dipahami dengan pemahaman yang tidak benar.

Contoh misalnya orang-orang syi’ah punya keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib itu ada di awan. Mereka menafsirkan firman Allah Qs Yusuf : 80

‎فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي

dan aku tidak akan meninggalkan bumi hingga ayahku mengizinkan aku atau Allah menghukumi aku”

‎وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Kata orang syi’ah maksudnya Ali, padahal ayat ini berhubungan dengan kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya. Tidak ada hubungan sama sekali dengan Ali bin Abi Thalib, tapi pemahamannya dipaksakan oleh mereka. Maka ini jelas dalil yang bathil, walaupun ayatnya benar.

Jadi ‘bid’ah haqiqiyah’ adalah bid’ah yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam dan tidak ada asalnya. Contoh misalnya perayaan maulid Nabi, perayaan Isro’ Mi’roj, demikian pula sholat-sholat yang berdasarkan hadits palsu, seperti sholat nifsu sya’ban, sholat roghoib.

➡ Kemudian ada lagi ‘BID’AH ‘IDHOFIYAH’, yaitu bid’ah yang ditambahkan dari perkara yang disyari’atkan.

Contoh misalnya sholat adalah disyari’atkan dalam Islam, namun ditambah-tambah seperti ditambah dengan mengucapkan usholli fardho, dikeraskan niatnya, demikian pula ketika salam, assalamu’alaikum ke kanan sambil telapak tangannya dibuka.
Ini namanya ditambahkan dari perkara yang disyari’atkan, maka ini disebut dengan ‘bid’ah ‘idhofiyah’.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Hasanah # 5…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 4…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Hasanah # 5 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab tentang mengenal bid’ah…

Kemudian diantara perkara yang dijadikan dalil oleh orang-orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah, itu adanya perkataan-perkataan Ulama yang membagi bid’ah kepada bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk. Seperti perkataan Imam Syafi’i dan yang lainnya.

Yang harus kita pahami terlebih dahulu bahwa dalil dari Alqur’an dan Hadits itulah yang menjadi sandaran kita. Karena pendapat siapapun apabila bertabrakan dengan Alqur’an dan Hadits maka lebih dahulukan Alqur’an dan Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman, 

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rosul-Nya” [QS. Al Hujurat – 1]

Maka kewajiban siapapun baik Ulama, Mufti berhukum dengan dalil, tidak boleh mereka membuat-buat hukum atau pembagian-pembagian yang tidak ada dalilnya dari Alqur’an dan Sunnah serta Ijma’.

Maka dari itu, perkataan-perkataan para Ulama yang bertabrakan dengan Alqur’an dan Hadits, wajib kita tolak bukan karena kita tidak menghormati Ulama tapi Allah dan Rosul-Nya kita lebih kedepankan daripada mereka.

Diantara perkataan Ulama yang dijadikan hujjah dalil oleh orang-orang yang meng-klaim adanya bid’ah hasanah yaitu perkataan Imam Syafi’i rohimahullah.

⚉ Dimana Imam Syafi’i rohimahullah berkata dalam Kitab Ar-risaalah,

“Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Adapun yang sesuai dengan sunnah maka itu bid’ah yang terpuji, dan yang tidak sesuai dengan sunnah maka itu tercela.” [Ini di keluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ jilid 9 halaman 113]

⚉ Dan dalam riwayat Ibnu Asakir, Imam Syafi’i berkata, “Yang dibuat-buat dalam perkara yang diada-adakan itu ada dua macam,

  1. yang dibuat-buat dan menyelisihi kitab atau sunnah atau atsar atau ijma’ maka ini bid’ah sesat,
  2. Adapun apabila tidak berseberangan dengan Alqur’an atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’ maka ini tidak tercela.”

Maka kita katakan,

1⃣ Bahwa Imam Syafi’i sudah memberikan kepada kita penjelasan yang tegas, apa yang dimaksud dengan bid’ah yang tercela yaitu yang bertabrakan dengan sunnah, dan apa itu yang dimaksud dengan bid’ah yang terpuji, yaitu yang sejalan dengan Alqur’an atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’.

Makanya yang seperti ini tidak disebut dengan bid’ah secara istilah tapi bid’ah secara bahasa saja.

2⃣ Bahwa yang dimaksud oleh Imam Syafi’i adalah perkara-perkara yang baru muncul yang tidak ada dalilnya dari Alqur’an dan sunnah, namun setelah kita lihat dalil-dalilnya ternyata ia sesuai dengan dalil dari Alqur’an, hadits, demikian pula ijma’ serta kaidah-kaidah syari’at.

Makanya yang seperti ini tidak disebut bid’ah secara syari’at walaupun bid’ah secara bahasa.

3️⃣ Kemudian kalau kita perhatikan juga bagaimana penjelasan Imam Syafi’i dalam Kitab Al Umm tentang tidak boleh kita berdalil dengan ‘istihsan’ (menganggap baik) sesuatu perbuatan sebatas dengan perasaan atau pendapat.

Dapat kita ketahui, tidak mungkin Imam Syafi’i rohimahullah menghukumi suatu bid’ah hanya sebatas bid’ah itu sesuatu yang baik, hanya sebatas dengan perasaan menurut pendapat kita, tapi harus bersumber kepada hujjah yang kuat.

Itu adalah bid’ah dalam artian perkara yang baru ada dan ternyata tidak bertabrakan dengan Alqur’an dan Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

⚉ Imam Syafi’i rohimahullah berkata dalam Kitab Ar-risaalah halaman 25, kata beliau,

“Dan ini menjelaskan, haram atas seseorang berpendapat dengan sebatas menganggap baik secara akal, apabila penganggapan baik itu bertabrakan dengan dalil/khobar, dimana khobar yang berasal dari Alqur’an dan Sunnah itu harus diikuti seorang mustahid berusaha untuk memahami maknanya agar sesuai dengannya.”

⚉ Imam Syafi’i juga berkata dalam Kitab Ar-risaalah

“menganggap baik itu hanya sebatas menganggap bahwa itu sesuatu lezat menurut diri kita”

Artinya bahwa sebatas menurut kita, perasaan kita bahwa itu baik, belum tentu itu baik. Maka hanya sebatas berhujjah itu menganggap baik jadi baik, “Itu tidak boleh”, kata Imam Syafi’i rohimahullah.

Oleh karena itulah kalau kita perhatikan, Imam Syafi’i berapa banyak menganggap bid’ah perkara-perkara yang dianggap baik/bid’ah hasanah di zaman ini, contoh,

➡ Imam Syafi’i mengatakan tentang Sama’ (Sama’ itu adalah ibadah orang-orang tasawuf dengan cara memukul rebana, bernyanyi, lalu menari-nari). Imam Syafi’i menganggap itu bid’ah, tapi di zaman sekarang malah dianggap sebagai bid’ah hasanah.

➡ Imam Syafi’i menganggap ma’tam (berkumpul di pura kematian atau disebut dengan tahlilan) itu bid’ah yang tercela, tapi dizaman sekarang dianggap sebagai bid’ah yang terpuji.

Maka dari itulah secara praktek ternyata tidak sesuai dengan perkataan Imam Syafi’i, itu menunjukkan bahwa mereka membawakan perkataan Imam Syafi’i itu hanya sebatas perisai saja.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Hasanah # 4…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Hasanah # 4 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kajian kita Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya nya…

Kemudian diantara hujjah atau argumen yang dibawakan oleh orang-orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah, yaitu perkataan sebagian sahabat yang mensifati bid’ah itu bagus.

Contoh misalnya perkataan Umar bin Khottab tentang sholat taraweh berjama’ah, ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini.’

➡ Maka kita jawab :
bahwa perkataan Umar bin Khottab ini dibawa kepada makna bid’ah secara bahasa bukan secara syari’at, karena sholat taraweh itu pernah dilakukan oleh Rosulullah ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam namun Beliau tidak melakukan setiap malam, karena takut diwajibkan.

Sementara di zaman Umar, ‘takut diwajibkan‘ itu sudah tidak mungkin lagi diwajibkan. Maka Umar melihat bahwa untuk menghidupkan sholat taraweh itu boleh karena penghalangnya sudah hilang di zaman Umar.

Oleh karena itulah banyak Ulama mengatakan bahwa perkataan salaf terdahulu dikalangan sahabat dan yang setelahnya yang memutlakan adanya bid’ah yang bagus, itu maksudnya secara makna bahasa saja.

⚉ Diantara Ulama tersebut diantaranya Ibnu Rojab Alhambali. Beliau mengatakan, “Adapun yang ada perkataan Salaf terdahulu menganggap bagus sebagian bid’ah, begitu maksudnya bid’ah secara bahasa saja, bukan secara syari’at. Diantara contohnya yaitu perkataan Umar ketika mensifati sholat taraweh berjama’ah, ‘sebaik-baik bid’ah itu adalah ini.’

[Demikian beliau ucapkan dalam kitab beliau, Jami’ Al’ulum wal hikam Syarah al arba’in an-nawawiyah]

⚉ Kemudian diantaranya juga perkataan Al Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kata beliau, “bid’ah itu ada dua macam, terkadang mempunyai makna bid’ah secara syari’at, yaitu contohnya sabda Rosulullah,

‎فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة

“Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”

Dan terkadang bid’ah itu secara bahasa saja. Seperti perkataan Umar bin Khottab, yang mengumpulkan orang-orang untuk sholat taraweh berjama’ah.”

[Dalam tafsir Ibnu Katsir, jilid 1 halaman 282]

⚉ Demikian pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. Dimana beliau menyebutkan tentang masalah ini, kata beliau,

“Penamaan Umar tentang sholat taraweh secara berjama’ah itu sebagai bid’ah yang baik adalah penamaan secara bahasa bukan penamaan secara syari’at. Karena bid’ah secara bahasa itu adalah segala sesuatu yang baru diada-adakan yang sebelumnya tidak ada.

Sementara melakukan sholat taraweh setiap malam itu baru dilaksanakan oleh Umar, dan Umar melihat bahwa Rosulullah tidak melakukan setiap malam karena ada penghalangnya, yaitu takut diwajibkan, sementara di zaman Umar sudah tidak mungkin diwajibkan lagi.”

[Ibnu Taimiyyah menyebutkan yaitu dalam kitab Majmu Fatawa dalam Kitab Iqtidho Alshirotolmustaqim di jilid 2 halaman 589]
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Hasanah # 3…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 2…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Hasanah # 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah nya…

Dan diantara dalil yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan adanya bid’ah hasanah yaitu hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam,

‎مَنْ سَنً فِي اﻹِْسْلاَم سُنَّةً حَسَنَةً

“Barangsiapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam,

‎فَلَهُ أَجْرُهَا

maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya,

‎وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءُ

tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun juga.”

Dimana mereka mengatakan disini, ‘Nabi mengatakan ada sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah, berarti kalau begitu ada bid’ah hasanah dan bid’ah yang sayyi’ah (yang dholalah).’

➡ Maka kita katakan bahwa Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam yang mengatakan,

‎كل بدعة ضلالة

“Setiap bid’ah itu sesat”

Tidak mungkin bertabrakan dengan sabda Nabi sendiri yang mengatakan

‎مَنْ سَنً فِي اﻹِْسْلاَم سُنَّةً حَسَنَةً

“Siapa yang memberikan contoh yang baik..”
(kata penulis buku).. ‘maka memberikan contoh yang baik, demikian pula berdakwah kepada kebaikan semua itu harus dibatasi dengan batasan-batasan syari’at, berdasarkan nash-nash yang banyak.’

Berarti yang dimaksud dengan

‎من سن سنة حسنة

“Siapa yang membuat sunnah yang baik (artinya yang sesuai dengan yang disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya bukan dengan membuat-buat sendiri), dan siapa yang memberikan contoh yang buruk (yaitu buruk menurut syari’at bukan menurut kita), maka tentu berdalil dengan hadits ini untuk mengatakan adanya bid’ah hasanah jelas pendalillan yang SANGAT LEMAH sekali.
Kenapa?
Karena hadits-hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak saling bertabrakan satu sama lainnya.

Diantara dalil yang dijadikan hujjah oleh orang-orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah yaitu Hadits
Wabisho bin ma’bad, bahwa Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‎استفت قلبك

“Coba kamu minta fatwa kepada hatimu,

البر ما اطمأنت إليه النفس، واطمأن إليه القلب،

karena kebaikan itu yang membuat hatimu tenang dan jiwamu tentram,

والإثم ما حاك في النفس، وتردد في الصدر، وإن أفتاك الناس وأفتوك

sementara dosa itu, yang dihatimu itu tidak tentram dan membuat dadamu juga gelisah, walaupun manusia berfatwa apapun juga.”
(HR. Imam Ahmad dan yang lainnya).

Kata mereka, ‘Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh untuk meminta fatwa kepada hati.’

➡ Maka kita katakan bahwa pertama Hadits ini harus dijelaskan oleh dalil-dalil yang lainnya.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan segala macam perselisihan kepada Alqur’an dan Hadits.

Maka wajib kita mengembalikan segala macam perkara apalagi masalah agama ini kepada Alqur’an dan Hadits dulu. Karena agama ini milik Allah bukan milik siapapun.
Maka Allah sudah menjelaskan, Rosul pun juga sudah menjelaskan
Allah berfirman: [An-Nisaa’ : 59]

‎ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Jika kalian berselisih maka kembalikan kepada Allah dan Rosul.”

Dan kewajiban orang awam untuk BERTANYA kepada ahlinya.

Adapun maksud Hadits ini adalah ketika seseorang awam atau seseorang telah sampai sudah melihat dalil-dalilnya dan melihat pendapat-pendapat Ulamanya, ternyata masih juga dia bingung mana yang paling kuat maka lihat mana yang lebih menentramkan hatinya, silahkan diamalkan.

Dan perlu diketahui bahwa Nabi bersabda ini kepada seorang sahabat yang hatinya sangat bening dan ilmunya luas, maka tidak disamakan tentunya dengan orang yang hatinya kotor, maksiat dan syahwat dan ilmunya dangkal.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Hasanah # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 1: Antara Bahasa dan Istilah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Hasanah # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. 

Diantara dalil yang digunakan oleh orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, bahwa Beliau bersabda

‎إن اللّٰه نظر في قلوب العباد ، فو جد قلبَ محمد صلى اللّٰه عليه وسلم- خير قلوب العباد ، فاصطفاه لنفسه فا بتعثه بر سالته ، ثم نظر في قلو ب العباد ، بعد قلب محمد ، فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد ، فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه ، فما رأى المسلمون حسناً فهو عند اللّٰه حسن ، وما رأوا سيئاً فهو عند اللّٰه سيء

“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, lalu Allah menemukan hati Muhammad sebaik-baik hati hamba-Nya, maka Allah memilihnya untuk Diri-Nya dan Allah pun mengutus dengan membawa risalah-Nya, kemudian melihat hati para hamba, setelah hati Muhammad ternyata Allah mendapati hati para Sahabatnya adalah hati yang paling baik daripada hamba-hamba-Nya. Maka Allah jadikan mereka sebagai sahabat-sahabat Nabi-Nya yang berperang atas agama-Nya, maka apa-apa yang dilihat oleh kaum muslimin baik maka ia disisi Allah juga baik, dan apa yang mereka lihat buruk maka disisi Allah juga buruk.”

Kita jawab hadits ini;

Pertama Hadits ini tidak sah dari sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam justru ia palsu dari sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama, seperti Al Imam Adz-Dzahabiy dalam Almiyzan I’tidal,
Bahwa didalam sanadnya ada Abu Daud An Nafakhi yaitu Sulaiman bin Amr, Dia (kata Imam Ahmad) suka memalsukan hadits , sehingga hadits ini palsu.

Demikian pula dikatakan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyah.

Demikian pula Ibnul Qayyim rahimahullah, Beliau berkata dalam kitab Alfuruwsiyah halaman 82

ﷺ ‎ليس من كلام رسول اللّٰه ‎

“Ia bukanlah dari sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam”

Yang benar bahwa ini adalah dari ucapan Abdullah bin Mas’ud. Karena demikian dalam riwayat-riwayat jalan-jalan yang kuat itu adalah dari ucapan Beliau.

Kemudian.. apa yang dimaksud oleh Abdullah bin Mas’ud dari ucapannya ‘apa-apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik, maka itu disisi Allah baik’

1⃣ Harus kita pahami bahwa Abdullah bin Mas’ud sahabat yang menentang bid’ah secara keseluruhan. Dan Beliau tidak pernah menyatakan adanya bid’ah hasanah.

Beliau berkata:

‎اتبعوا ولا تبتدعوا ، فقدكُفيتم كل ضلالة

“Ikutilah, jangan berbuat bid’ah, kalian telah dicukupi, semua sesat.
(artinya semua bid’ah itu sesat) (dikeluarkan oleh Imam Ad Darimi)

Kemudian Beliau juga mengingkari suatu kelompok yang berkumpul untuk berdzikir dengan kerikil di masjid Kufah. Lalu Ibnu Mas’ud berkata,

‎لقد أحد ثتم بد عةً ظلماً

“Kalian telah mengada-ada bid’ah yang gelap, yang zholim”

Ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud mengingkari kebid’ahan. Dan Beliau tidak pernah membagi bid’ah menjadi baik dan menjadi hasan atau sayyi’ah dholalah.

2⃣ Bahwa kalau yang dimaksud ‘apa yang dipandang oleh kaum muslimin itu baik’, artinya bahwa yang dimaksud ini adalah yang dianggap baik oleh seorang ahli ijtihad/seorang alim, itu sebagai kebaikan itu baik, ini sama saja menyaingi Allah dalam Uluhiyah.

Allah berfirman [Surat Asy-Syura Ayat 21]

‎أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang men syari’atkan tuk mereka dari agama ini sesuatu yang Allah tidak izinkan”

Imam Syafi’i berkata, “ini menunjukkan bahwasanya tidak boleh seorangpun selain Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam untuk mengatakan dengan tanpa dalil, hanya sebatas dengan menganggap baik saja”

Karena kata Beliau (Imam Syafi’i)

‎فإن القول بما استحسن شيء يُحدثه لا على مثال سبق

“Karena hanya berpendapat dengan istisan saja/menganggap baik saja, itu perkara yang diada-adakan” [Imam Syafi’i dalam Kitab Arrisaalah halaman 25]

3⃣ Bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Mas’ud dalam perkataan Beliau ini, ‘apa-apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik maka itu baik’ itu maksudnya para sahabat, karena Beliau sedang menceritakan tentang para sahabat, lihat saja diawalnya.

Dimana Ibnu Mas’ud mengatakan ‘lalu Allah melihat setelah hati Nabi Muhammad, hati para hamba ternyata yang terbaik adalah hati para sahabat. Lalu Allah jadikan para sahabat sebagai pembela-pembela Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.’

Maka ‘apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin’, maksudnya para sahabat, terlebih Beliau berbicara saat itu tentang khalifah Abubakar rodhiyallahu ‘anhu.

Maka ini tidak bisa dijadikan hujjah sama sekali akan adanya bid’ah hasanah.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Hasanah # 1: Antara Bahasa dan Istilah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Terjatuh Dalam Kebid’ahan # 2…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Hasanah 1: Antara Bahasa dan Istilah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. pembahasan Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa

⚉  Apakah ada yang namanya bid’ah hasanah ?

Ketahuilah bid’ah hasanah secara bahasa BERBEDA dengan bid’ah hasanah secara istilah.

➡ Adapun secara bahasa sebagaimana pernah kita bahas, bahwa bid’ah adalah segala sesuatu yang baru ada yang sebelumnya tidak ada.

Maka bid’ah yang sifatnya bahasa seperti ini bisa saja disifati dengan baik. Seperti contohnya misalnya dikatakan oleh ‘Umar bin Khattab ketika Beliau mengumpulkan orang-orang taraweh setiap malam , Beliau mengatakan

‎نعمة البدعة هذه

“Sebaik-baik bid’ah itu ini” (maksudnya Bid’ah secara bahasa).

Demikian pula perkataan Imam Syafi’i, bid’ah ada dua macam: bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.

Demikian pula sebagian Ulama terdahulu dari kalangan salaf yang membagi bid’ah. Kata Al Imam Ibnu Rojab dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, bahwa semua perkataan Ulama Salaf yang membagi bid’ah menjadi bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk itu adalah secara bahasa, bukan secara istilah syari’at.

➡ Adapun bid’ah secara istilah syari’at semuanya buruk, karena itu yang ditunjukan oleh sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

‎كل بدعة ضلالة

“Setiap bid’ah itu adalah sesat”

Dan sudah kita sebutkan bahwa bid’ah secara istilah adalah segala sesuatu yang dibuat-buat dalam agama, yang menyerupai syari’at yang diinginkan darinya yaitu bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berarti bid’ah secara istilah itu adalah yang berhubungan dengan masalah agama dan ibadah, atau masalah dunia yang dianggap ibadah.

Maka apakah ada bid’ah hasanah dari sisi bid’ah secara istilah ? Jawab: TIDAK ADA.

Namun mereka yang melakukan bid’ah hasanah.. mereka sendiri tidak bisa memberikan definisi yang benar, yang berakibat akhirnya semua orang menganggap baik bid’ahnya yaitu menjadi boleh. Ini sama saja membuka pintu bid’ah selebar-lebarnya. Yang berakibat akan hilangnya sunnah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

Berikut ini beberapa dalil yang dijadikan dalil oleh orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah:

1⃣ Dalil yang pertama, yaitu Hadits Bilal bin al Harits.
Dimana Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda

‎إنه من أحيا سنة من سنتي قد أُميتت بعدي، فإن له من الأجر مثل من عمل بها من غير أن ينقص من أجورهم شيئاً، ومن ابتد ع بدعةَ ضلالةٍ لا تُر ضى اللّٰه ورسوله، كان عليه مثل آثام من عمل بها

“Sesungguhnya orang yang menghidupkan sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan setelah aku, maka ia mendapatkan pahala seperti yang ia amalkan dan orang-orang mengamalkannya tanpa dikurangi dari pahala mereka, dan siapa yang melakukan bid’ah yang sesat, yang tidak membuat Allah ridho dan Rosul-Nya maka ia mendapatkan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dari dosa mereka.”
(HR. Imam at-Tarmidzi).

Pertama.. hadits ini didalam sanadnya ada perawi yang dhoif, yaitu Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf, dimana Ibnu Hajar dalam taqribnya berkata dhoif. Sehingga penghasanan Imam Tarmidzi terhadap Hadits ini tidak bisa diterima. Terlebih para Ulama seperti Adz dzahabi dan lainnya menyatakan bahwa tashihnya Tarmidzi itu sangat longgar, maka karena hadits ini dhoif tidak bisa dijadikan hujjah.

Adapun kalaupun hadits ini diterima atau hujjah atau misalnya shohih.. tidak bisa juga dijadikan dalil. Karena perkataan Nabi:
Siapa yang melakukan bid’ah yang sesat yang tidak meridhokan Allah dan Rosul-Nya itu adalah mafhum sifat namamya.

Sama dengan firman Allah contohnya

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan riba berkali-kali lipat”

Apakah berarti kalau tidak berkali lipat jadi boleh ? Tentu tidak. mafhum seperti ini disebut oleh para Ulama mafhum sifat, ini namanya mafhum yang sangat lemah ditolak oleh para Ulama Ushul Fiqih.

Maka perkataan Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam,
Siapa yang berbuat bid’ah yang sesat yang tidak meridhokan Allah dan Rosul-Nya, karena pasti semua yang bid’ah yang sesat tidak akan membuat Allah ridho.

Dan tidak ada mafhum dan tidak bisa diambil mafhum dari hadits ini, ada bid’ah yang tidak sesat yang membuat Allah dan Rosul-Nya ridho, TIDAK… karena mafhum ini bertabrakan dengan mantuq hadits lain, yaitu

كل بدعة ضلالة

“Setiap bid’ah itu sesat”

Dan kaidah Ushul Fiqih mengatakan apabila mafhum bertabrakan dengan mantuq, maka mantuq lebih dahulukan, ini kalau haditsnya shohih.
Bagaimana ini ternyata haditsnya dhoif.

Nanti kita akan lanjutkan kembali pada pertemuan yang akan datang.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sebab-Sebab Terjatuh Dalam Kebid’ahan # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Terjatuh Dalam Kebid’ahan # 1…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sebab-Sebab Terjatuh Dalam Kebid’ahan # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. Haqiiqotul Bid’ah nya…

⚉  Diantara sebab-sebab terjatuh dalam perbuatan bid’ah..

4⃣ Membuat-buat kaidah-kaidah atau hasil pendapat akal, atau perasaan, atau karena tujuan politik tertentu yang dijalankan oleh ahli bid’ah.

Contoh:
⚉  Orang-orang sufi membuat kaidah bahwa agama itu terbagi menjadi : hakikat dan syariat, dan bahwasanya orang yang wajib menjalankan syariat adalah yang masih pada fase syariat. Adapun kalau sudah sampai hakikat, katanya, tidak perlu lagi menjalankan syariat.. Jelas ini kesesatan.

⚉  Kaum asy’ariyyah memberikan kaidah bahwa sifat Allah itu ada yang ’Wajib’, ada yang ’Boleh’ dan ada yang ’Mustahil’. Dan mereka tetapkan itu dengan akal-akal belaka.
Dimana mereka mewajibkan 20 sifat, membolehkan sifat lain yang menurut akalnya boleh, dan memustahilkan.. sesuai dengan akalnya.
Padahal masalah menetapkan sifat tidak boleh dengan akal, akan tetapi dengan dalil dari alquran dan hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.

⚉  Demikian pula dengan kaum syi’ah yang membuat kaidah-kaidah tentang masalah yang berhubungan dengan ke-ma’shum-an para wali dan imam-imam mereka, dan lainnya.

⚉  Kaum mu’tazilah mempunyai kaidah bahwa akal lebih tinggi daripada dalil

⚉  Kaum khowarij yang memberikan kaidah bahwa pelaku dosa besar itu kafir, dan yang lainnya.

Ini adalah merupakan kaidah-kaidah yang dibuat-buat oleh ahli bid’ah yang mereka pegang kuat-kuat dan dianggap sebagai kaidah yang tidak boleh disalahi.

5⃣ Mengikuti nenek moyang dan masyaikh (tuan guru mereka, ajengan-ajengan, kyai atau sejenisnya).

Contoh:
⚉  Orang-orang syi’ah meyakini bahwa imam mereka ma’shum dan tidak mungkin salah. Sehingga atas dasar itu ucapan imam mereka tidak mungkin salah bagaikan dalil, bagaikan wahyu yang turun dari Allah, sama dengan para Nabi.. naudzubillah

⚉  Demikian juga kaum sufi yang berkeyakinan; orang yang sudah sampai derajat wali maka ucapannya tidak mungkin salah, ia terpelihara. Sehingga seringkali mendahulukan ucapan wali daripada ucapan Rosulullah dan para sahabatnya.

⚉ Demikian pula banyak lagi orang-orang yang lebih mendahulukan nenek moyang mereka, adat istiadat kampungnya, dibandingkan degan apa yang Allah turunkan dalam alquran dan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

6⃣ Buruknya pemahaman mereka terhadap alquran dan hadits, dan tidak mau mengikuti pemahaman salafush-sholih.

⚉  Seperti orang-orang sufi yang memahami Ayat Surat Al Kahfi : 65

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“dan yang telah Kami ajarkan kepadanya (Khidir) ilmu dari sisi Kami.”

mereka mengatakan maksud ‘ilmu’ disini adalah ‘ilmu ladunni’ , yaitu ilmu yang didapat tanpa harus belajar.
Sehingga mereka kaum sufi melakukan perenungan, bertapa di tempat-tempat sepi untuk mendapatkan ilmu ladunni tersebut.
Jelas ini adalah sebuah penafsiran yang amat jauh dari kebenaran.

⚉  Demikian pula kaum khowarij yang menafsirkan ayat Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS. Al A’raf : 8-9

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

8. “maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”

9. “Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”

Kata mereka, yang dimaksud dengan ayat ini bahwa yang ‘timbangannya ringan’ itu orang kafir. Padahal.. yang dimaksud oleh para sahabat, dan ditafsirkan oleh para Ulama, yang dimaksud dengan orang yang ‘timbangannya ringan’ adalah pelaku dosa besar.

Sehingga atas dasar penafsiran ini.. apa yang terjadi ?
Mereka menganggap bahwa pelaku dosa besar itu kafir.. na’udzubillah

Dan banyak lagi penafsiran-penafsiran yang sesuai dengan akal dan pemahaman mereka tanpa merujuk kepada pemahaman para salafush-sholih.

Dan kita lanjutkan sebab-sebab yang lain pada pertemuan yang akan datang. In syaa Allah..
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP