Images

Adab Masuk Kamar Mandi / WC Yang Sering Terlewatkan…

 


.
Alhamdulillah… Banyak dari kaum Muslimin sudah hafal dan mengamalkan do’a masuk dan keluar Kamar Mandi / WC, namun ada satu tambahan bacaan sebelum do’a yang belum banyak diketahui padahal kita mengetahui bahwa Jin senang berada di tempat-tempat najis seperti Kamar Mandi / WC dan mereka bisa memandang aurat kita…

Jika anda marah bila mengetahui bahwa ada manusia lain yang “mengintip” anda di Kamar Mandi / WC, bagaimana bila yang “mengintip” itu Jin..?

Ingatlah bahwa Jin itu ada Jin Laki-Laki dan ada Jin Perempuan. Manusia tidak bisa melihat Jin tapi Jin bisa melihat manusia. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al A’raf – 27 (yang artinya) : “Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.”

Lalu bagaimana caranya agar mereka tidak melihat aurat anda ?

Alhamdulillah… Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah mengajarkan kita caranya, perhatikan hadits berikut ini :

Rosulullah Shollallahu ‘alahi wassalam bersabda:

“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat Bani Adam adalah ketika ada seorang diantara mereka yang masuk kamar mandi maka hendaknya mengucapkan : “BISMILLAH”

Hadits Shohih (HR. at-Tirmidzi no. 606 dan Ibnu Majah no. 297, Hadits ini Shohih sebagaimana dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Gholil no. 50).

Yuk baca “BISMILLAH” sebelum membaca do’a masuk WC mulai sekarang…dan adab-adab lainnya.

Wallahu a’lam

#wc
#kamarmandi
#doa
#sunnahnabi

Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
http://instagram.com/bbg_alilmu

Di Antara Hikmah Al-Muharrom Dijadikan Sebagai Awal Tahun…

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolany rohimahullah berkata:

الْحِكْمَةُ فِي جَعْلِ الْمُحَرَّمِ أَوَّلَ السَّنَةِ أَنْ يَحْصُلَ الِابْتِدَاءُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَيُخْتَمَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَتُتَوَسَّطَ السَّنَةُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَهُوَ رَجَبٌ، وَإِنَّمَا تَوَالَى شَهْرَانِ فِي الْآخِرِ لِإِرَادَةِ تَفْضِيلِ الْخِتَامِ وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.

“Hikmah pada dijadikannya al-Muharrom sebagai awal tahun adalah,
agar tahun diawali dengan bulan suci dan ditutup dengan bulan suci juga,
dan tahun di tengah-tengahnya juga terdapat bulan suci yaitu Rojab,
dan berturut-turutnya dua bulan suci di akhir tahun (Dzulqo’dah dan Dzulhijjah -pent) untuk menunjukkan keutamaan penutup dan bahwasanya amal-amal itu tergantung atau dinilai berdasarkan penutupnya.”

[Fathul Bary, jilid 8, hlm. 108]

Kisah Ulama