Yakin Namun Tidak Ada Persiapan

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rohimahumallah berkata,

“Aku tidak pernah melihat suatu keyakinan yang lebih menyerupai keraguan seperti keyakinan manusia terhadap kematian.

Mereka yakin bahwa kematian pasti datang, tetapi mereka tidak mempersiapkan diri untuknya..!”

(Tafsir Al Qurthubi, 10/64)

📌 Maksud ucapan beliau rohimahumallah adalah bahwa manusia pada umumnya mengakui dan meyakini bahwa kematian adalah suatu kepastian yang tidak dapat dihindari.

Namun, perilaku mereka sering kali justru seperti orang yang meragukannya :
– lalai dari taubat,
– menunda amal sholeh, dan
– terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Karena itulah beliau mengungkapkan keheranannya bahwa sebuah keyakinan yang seharusnya paling kuat justru tampak dalam tindakan seakan-akan merupakan sebuah keraguan.

Tingkat Keridhoan Dan Penyerahan Diri Yang Tinggi Kepada Allah

Berkumpullah Sufyan Ats-Tsauri, Wuhaib bin al-Ward, dan Yusuf bin Asbath, rohimahumullah.

Lalu Sufyan berkata,
‘dahulu aku tidak menyukai kematian yang datang secara tiba-tiba .. adapun hari ini, aku justru berharap aku sudah meninggal..’

Maka Yusuf bertanya, ‘mengapa demikian..?’

Sufyan menjawab, ‘karena fitnah-fitnah yang aku kawatirkan..’

Yusuf berkata,
‘namun aku tidak membenci panjangnya umur .. barangkali aku akan menjumpai suatu hari di mana aku dapat bertaubat dan beramal sholeh..’

Lalu dikatakan kepada Wuhaib, ‘bagaimana pendapatmu..?’

Ia menjawab,
‘aku tidak memilih apa pun .. apa yang lebih dicintai Allah, itulah yang lebih aku cintai..’

Mendengar itu, Sufyan Ats Tsauri mencium keningnya (di antara kedua matanya) seraya berkata:
‘ini adalah ruuhaaniyyah demi Robb Ka’bah..!’”

(Tafsir Ibnul Qoyyim, jilid 2, hlm. 216)

📌 Makna perkataan Sufyan Ats Tsauri rohimahullah, “Ruuḥaaniyyah” adalah kekaguman terhadap kedalaman iman, keridhoan, dan penyerahan diri Wuhaib rohimahullah atas kehendak Allah.

Sebab beliau tidak memilih antara ingin hidup lama atau ingin segera meninggal. Keinginannya mengikuti apa yang Allah cintai dan pilihkan baginya. Sikap ini menunjukkan tingkat keridhoan dan penyerahan diri yang tinggi kepada Allah.

Enam Pertanyaan Saat Muncul Keinginan Untuk Melakukan Perbuatan Maksiat

Dalam kitab Roudhotul Muhibbiin, Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah membawakan kisah tentang Ubaid bin Umair rohimahumallah saat menghadapi godaan seorang wanita cantik ( baca kisahnya dalam link berikut https://bbg-alilmu.com/archives/74314 )

Ubaid bin Umair rohimahumallah tidak menceramahi wanita tersebut dengan kemarahan, melainkan mengajak akalnya untuk berpikir panjang tentang berbagai konsekuensi dari perbuatannya tsb kelak setelah kematiannya.

Enam pertanyaan yang diajukan kepada wanita cantik tsb adalah salah satu cara self-reminder (muhaasabah) yang efektif bagi siapa pun yang hendak melakukan perbuatan dosa. Enam pertanyaan tsb :

1. Seandainya Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawamu, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

2. Seandainya kamu telah dikubur dan dimintai pertanggung-jawaban, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

3. Seandainya catatan amal manusia telah dibagikan dan kamu tidak tahu apakah akan menerima catatanmu dengan tangan kanan atau tangan kirimu, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

4. Seandainya kamu hendak melewati jembatan (shiroth) dan tidak tahu apakah akan selamat atau tidak, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

5. Seandainya timbangan (mizan) telah berada dihadapanmu, sementara kamu tidak tahu apakah timbangan kebaikanmu akan ringan atau berat, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

6. Seandainya kamu berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggung-jawaban, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

📌 Setiap kali bisikan maksiat itu datang dan terasa manis di pikiran, luangkanlah waktu sebentar untuk menanyakan enam pertanyaan di atas ke dalam hatimu sendiri.

Semoga Allah menjaga kita semua, aamiin.

Kisah Ubaid bin Umair Dan Godaan Wanita Cantik

Abu al-Faraj dan yang lainnya menyebutkan bahwa ada seorang wanita cantik di Makkah yang memiliki seorang suami.

Suatu hari, wanita itu melihat wajahnya di cermin, lalu berkata kepada suaminya, “Apakah menurutmu ada orang yang melihat wajah ini dan tidak tergoda karenanya..?”

Suaminya menjawab, “Ya, ada..”
Wanita itu bertanya, “Siapa..?”

Suaminya menjawab, “Ubaid bin Umair..”

Wanita itu berkata, “Kalau begitu, izinkan aku mendatanginya agar aku bisa mengujinya (menggodanya)..”

Suaminya berkata, “Aku izinkan..”

Maka wanita itu pun mendatangi Ubaid bin Umair dengan berpura-pura seperti orang yang ingin meminta fatwa. Ubaid kemudian menemui wanita itu di salah satu bagian Masjidil Haram. Wanita itu lalu membuka cadarnya hingga tampaklah wajah yang indah laksana belahan bulan.

Ubaid berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, tutuplah kembali wajahmu..!”

Wanita itu berkata, “Sesungguhnya aku telah jatuh cinta padamu..”

Ubaid menjawab, “Aku akan menanyakan beberapa hal kepadamu. Jika kamu menjawabku dengan jujur, maka aku akan mempertimbangkan urusanmu ini..”

Wanita itu berkata, “Tidaklah engkau menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku akan menjawabnya dengan jujur..”

1. Ubaid bertanya, “Beritahu aku, seandainya Malaikat Maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu (syahwatmu) ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

2. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu telah dimasukkan ke dalam kuburmu dan didudukkan untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

3. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya catatan amal manusia telah dibagikan dan kamu tidak tahu apakah akan menerima catatanmu dengan tangan kanan atau tangan kirimu, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

4. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu hendak melewati jembatan (shiroth) dan kamu tidak tahu apakah kamu akan selamat atau tidak, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar.”

5. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya timbangan (mizan) telah didatangkan dan kamu dihadirkan di sana, sementara kamu tidak tahu apakah timbangan kebaikanmu akan ringan atau berat, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

6. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

Ubaid lalu berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena Dia telah memberikan nikmat dan berbuat baik kepadamu..”

Wanita itu pun pulang kembali kepada suaminya. Suaminya bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan..?”

Wanita itu menjawab, “Engkau adalah orang yang menyia-nyiakan hidup, dan kita selama ini adalah orang-orang yang lalai..”

Setelah kejadian itu, sang wanita berbalik sepenuhnya untuk mendirikan sholat, berpuasa, dan beribadah. Sampai-sampai suaminya mengeluh, “Ada apa antara aku dan Ubaid bin Umair..?! Dia telah merusak istriku. Dahulu setiap malam dia bagaikan pengantin baru, namun sekarang Ubaid telah mengubahnya menjadi seorang ahli ibadah yang menjauhi dunia..”

(Roudhotul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaqiin / Taman Orang Orang Yang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu – hlm. 340 – Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah)

Do’a Dahsyat Yang Kita Butuhkan

DO’A DAHSYAT YANG KITA BUTUHKAN
( BAGIAN – 1 )

Dalam hadits (no. 770) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullah, Ummul Mu’minin, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ketika bangun di malam hari, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam akan memulai sholatnya (do’a istiftah) dengan kalimat kalimat ini :

ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA
WA MIIKAA-IILA WA ISROO-FIILA,

FAATHIROS-SAMAAWAATI WAL-ARDHI
‘AALIMAL-GHOYBI WASY-SYAHAADAH,

ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADI-KA
FII-MAA KAANUU FII-HI YAKHTALIFUUN

IIHDINII LIMAKH-TULIFA FII-HI
MINAL-HAQQI BI-IDZNI-KA,

INNA-KA TAHDII MAN TASYAA-U
ILAA SHIROOTHIM-MUSTAQIIM

(HR. Muslim no. 770)
====================

DO’A DAHSYAT YANG KITA BUTUHKAN
( BAGIAN – 2 )

(berikut adalah rangkuman terjemahan penjelasan Syaikh ‘Abdurrozzaq al-Badr حفظه الله تعالى mengenai do’a istiftah d poster)

Syaikh menjelaskan bahwa kita semua sangat membutuhkan do’a ini dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah rohimahullah selalu berwasiat dan sangat menganjurkan untuk terus memohon kepada Allah menggunakan do’a penuh berkah ini, yang diajarkan langsung oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.

Jika seseorang terus-menerus mendesak (memohon) kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya agar diberi petunjuk menuju kebenaran di tengah perselisihan, maka Allah akan memudahkan urusannya.

Pintu-pintu kebaikan akan dibukakan, dan tanda-tanda sunnah akan tampak jelas baginya.

Seseorang yang mungkin terjerumus dalam bid’ah, khurafat, atau amalan yang jauh dari tuntunan sunnah, akan mendapati Allah memberikan kemudahan baginya untuk menjauhi hal-hal tersebut setelah ia berdo’a memohon petunjuk.

Setiap dari kita perlu bersungguh-sungguh dan tulus bersandar kepada Allah dengan mengulang-ulang do’a ini

📌 Waktu yang paling utama untuk membacanya adalah sebagai do’a istiftah ketika membuka atau memulai sholat malam (tahajud)

Di akhir video, Syaikh mengajak untuk berserah diri kepada Allah dan menutupnya dengan mengulang-ulang potongan do’a tersebut :

ALLAAHUMMAH-DINII
LIMAKH-TULIFA FII-HI
MINAL-HAQQI BI-IDZNI-KA,

INNA-KA TAHDII MAN TASYAA-U
ILAA SHIROOTHIM-MUSTAQIIM

“Yaa Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dalam apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa pun yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus..”

📌📌 NB : potongan do’a di atas ini bisa dibaca kapan saja, namun ketika kita mau membacanya sebagai do’a istiftah saat mulai sholat malam, maka bacalah do’a istiftah versi panjangnya sebagaimana yang ada di poster (HR. Muslim no 770)

Idul Adha Berlangsung Selama 4 Hari Dan Batas Waktu Takbiran

● Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Hari-hari Tasyrik adalah hari hari Eid (hari raya) juga, dan karena inilah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam mengutus orang yang menyerukan bahwa sesungguhnya hari-hari tersebut adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak boleh seorang pun berpuasa pada hari-hari itu..”

(Lathoif al-Ma’aarif – 614)

● Ibnu Qudamah rohimahullah berkata,

“Dan hal itu (takbir hingga Ashar hari ke-13) diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhum. Pendapat ini juga diambil oleh Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Abu Yusuf, dan Muhammad.

Karena hari itu adalah hari terakhir dari hari hari Tasyrik, maka takbiran diakhiri pada waktu Ashar-nya, sebagaimana hari Arofah adalah hari pertamanya, maka takbiran dimulai pada waktu Shubuh-nya..”

(Al Mughni – 2/245)

Perbanyak Do’a Di Hari Arofah

Jangan biarkan hari Arofah berlalu begitu saja seperti hari-hari biasa. Bisa jadi, satu do’a yang tulus akan mengubah arah hidupmu untuk selamanya.

Dan bisa jadi, satu tetes air mata yang jatuh karena Allah akan membukakan pintu-pintu rahmat-Nya untukmu.

Al-Auza’i rohimahullah berkata,

“Aku menyadari bahwa orang orang menyimpan perkara perkara mereka (do’a, kebutuhan, dan keinginan mereka) khusus untuk hari Arofah agar bisa mereka mintakan kepada Allah..”

Dan sebagian dari mereka ada yang berkata, “Selama lima puluh tahun aku selalu berdo’a pada hari Arofah, dan tidaklah tahun tersebut berlalu melainkan aku melihat jawaban dari do’aku terwujud nyata seperti terangnya cahaya shubuh (sejelas fajar menyingsing)..”

(Lathoiful Ma’aarif – 494)

Ibnul Mubarak rohimahullah berkata,

“Aku mendatangi Sufyan ats-Tsauri pada sore hari Arofah ketika beliau sedang bersimpuh sementara air matanya mengalir deras.

Lalu aku bertanya kepadanya: ‘Siapakah di antara perkumpulan orang di sini yang keadaannya paling buruk..?’

Beliau menjawab, ‘Orang yang mengira bahwa Allah tidak mengampuni mereka..’

(Lathoiful Ma’aarif – 287)

 

Bagi Anda Yang Masih Memiliki Ayah

Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata,

“Jika seorang anak melihat ayahnya melakukan sesuatu yang tidak disukainya, hendaknya ia berbicara kepadanya tanpa kekerasan dan tanpa bersikap buruk, serta tidak menggunakan kata-kata yang kasar.

Jika tidak (bisa demikian), maka hendaknya ia meninggalkannya (tidak menegurnya) .. karena seorang ayah tidaklah sama dengan orang lain..”

(Zaadul Musaafir Fii Fiqh ‘Alaa Madzhab al-Imam Ahmad- 4/566)

=======

📌 Diantara poin dari kalimat terakhir, ‘karena seorang ayah tidaklah sama dengan orang lain..’

● Dalam Islam, ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran). Jika kita melihat orang asing atau teman melakukan kesalahan, kita bisa saja langsung menegurnya. Namun, aturan ini berubah total ketika menghadapi orangtua (dalam hal ini ayah). Hubungan darah dan jasa orang tua membuat mereka memiliki hak penghormatan yang sangat tinggi.

● Seorang anak tidak boleh menempatkan dirinya lebih tinggi atau bertindak sebagai “hakim” di depan ayahnya. Cara menegur ayah tidak boleh sama dengan cara kita menegur teman atau orang lain di jalanan.

● Jika situasi tidak memungkinkan untuk menasihati ayah dengan cara yang sangat lembut, santun, dan penuh penghormatan atau jika dikawatirkan nasihat tersebut justru akan menyulut kemarahan sang ayah yang memicu anak menjadi durhaka, maka Imam Ahmad menekankan lebih baik anak tersebut diam dan meninggalkannya, lalu mendo’akan ampunan serta kebaikan bagi sang ayah dalam senyap.

Tak Perlu Galau

Abu Hazm Salamah bin Dinar rohimahullah pernah ditanya,

‘Wahai Abu Hazm, tidakkah engkau melihat bagaimana harga harga barang telah melonjak naik..?’

Beliau menjawab, ‘Lantas apa yang perlu dikawatirkan..?

Sesungguhnya, Ia (Allah) yang memberikan rezeki kepada kita di masa masa harga murah adalah Dzat yang sama yang akan memberikan rezeki kepada kita di masa masa harga mahal..’

(Hilyatul Auliyaa’ 3:239)

Karakteristik Istri Sholehah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‘Maukah kalian aku beritahukan tentang wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni surga..?’

‘Yaitu wanita yang :
– penyayang (kepada suaminya),
– subur (banyak keturunan), dan
– selalu kembali (kepada suaminya) yaitu wanita yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti olehnya (dalam riwayat lain disebutkan, ‘jika suaminya marah kepadanya’) maka ia mendatangi suaminya, memegang tangannya, dan berkata,

‘Demi Allah, aku tidak akan merasakan tidur sampai engkau ridho..’

(HR. An-Nasa’i no. 257, dan Ath-Thabrani dalam Al Ausath no. 201, Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohiihah no. 287)

📌 Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan,

“Di antara hak suami atas istrinya adalah sang istri bersungguh sungguh untuk tidak membuat suaminya marah dan tidak menjadi marah kepadanya .. dan jika sang istri marah kepada suaminya atau ia membuat suaminya marah, maka ia segera kembali kepada suaminya untuk berusaha membuatnya ridho..”

(Huquuq az-Zawjain – hal. 36)

📌 Seorang istri yang sholehah tidak bersaing dengan suaminya, ia menjaga kedamaian rumah tangga, dan mencari ridho Allah melalui hal tersebut.

Menebar Cahaya Sunnah