Bacalah Surat Al Kaafiruun Sebelum Tidur

Abdullah bin Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa menyebutkan dalam Tafsir Surat Al-Kafiruun,

«لیس في القرآن أشد غیظاً لأبلیس لأنھا توحید و bراءة من الشرك.»

“Tidak ada sesuatu pun di dalam Al-Qur’an yang membuat Iblis lebih marah (daripada surat ini), karena (surat ini) adalah Tauhid dan bentuk berlepas diri sepenuhnya dari Syirik..”

(Tafsir Al-Qurtubi 20/199)

=======
📌 silahkan download beberapa poster dzikir dan do’a sebelum tidur di artikel berikut ini :

https://bbg-alilmu.com/archives/39314

Sholawat Dan Salam Di Hari Jum’at Disampaikan Langsung Kepada Rosulullah Shollallahu ‘Alayhi Wasallam

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,

Wahai saudara-saudaraku .. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda mengenai hari Jum’at,

“Sesungguhnya sholawat kalian dihadapkan (ditunjukkan) kepadaku..”

Hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri. Sholawat dan salam kita kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam pada hari-hari biasa disampaikan kepada beliau sebagai sebuah pesan (melalui malaikat).

📌 Adapun pada hari Jum’at, sholawat tersebut disampaikan langsung kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam.

Dan dikatakan kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam,

“Ini adalah sholawat dari si Fulan bin Fulan untukmu..”

Setiap kali kalian bersholawat kepada beliau, sholawat itu akan dihadapkan kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.

Betapa indahnya, wahai saudaraku .. saat namamu dihadapkan kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam,

“Ini adalah sholawat dari si Fulan bin Fulan..”

“Ini adalah sholawat dari si Fulan bin Fulan..”

Demi Allah, orang yang benar-benar merugi adalah orang yang hari Jum’at-nya berlalu begitu saja, namun tidak ada satu pun sholawatnya yang dihadapkan kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.

Dan orang yang bakhil (kikir) adalah orang yang sholawatnya hanya dihadapkan sekali atau dua kali saja.

Padahal urusan ini, wahai saudara-saudaraku .. sangatlah mudah. Sangatlah mudah..!

Namun setan kerap memalingkan kita dari berbagai amal kebaikan. Oleh karena itu, sudah semestinya kita saling mengingatkan tentang hal ini, wahai saudara-saudaraku, dan sebagian dari kita mengingatkan sebagian yang lain.

=====
Catatan :

– bisa ucapkan berulang ulang :
Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

– bila mendengar seseorang mengatakan Nabi, atau Rosulullah atau Nabi Muhammad, maka langsung kita ucapkan ‘shollallahu ‘alayhi wasallam’

courtesy of : https://x.com/abuzakariyya__

.

Diantara Keutamaan Berdzikir Dengan 4 Kalimat Mulia

Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir, حفظه الله تعالى menjelaskan sebagai berikut :

“Menyibukkan diri dengan bertasbih kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik ucapan yang diucapkan oleh seorang hamba setelah membaca Al-Qur’an.

Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan tiga kebaikan bagi orang yang bertasbih di dalam Kitab-Nya.

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman,

Dan amal kebajikan yang abadi (al-baaqiyaatush shoolihaat) itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan..’ (QS. Al-Kahfi: 46)

Dan Dia Jalla wa ‘Alaa juga berfirman,

Dan amal kebajikan yang abadi itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik tempat kembalinya..’ (QS. Maryam: 76)

Amal kebajikan yang abadi (al-baaqiyaatush shoolihaat), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id rodhiyallahu ‘anhu dan hadits lainnya, adalah ucapan :
– Subhaanallaah,
– Walhamdulillaah,
– Walaa ilaaha illallaah,
– Wallaahu akbar.

Dan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam memulai kalimat-kalimat yang abadi tersebut dengan ucapan yang agung ini, yaitu ‘subhaanallah’

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyibukkan diri dengan kalimat ini (tasbih) memiliki pahala yang paling baik. Tidak ada pahala yang lebih utama setelah perkara-perkara wajib dan setelah kalaamullah ‘Azza wa Jalla melainkan kalimat-kalimat ini, dan di antaranya adalah tasbih.

Kalimat ini juga menjadi ‘harapan yang terbaik’. Siapa saja yang mengharapkan :
– suatu impian,
– memiliki sebuah permintaan,
– menginginkan jawaban atas do’anya, atau
– mengkawatirkan suatu urusan,
Lalu dia justru menyibukkan diri dengan bertasbih (daripada sekadar meminta), maka sesungguhnya dia akan diberi apa yang dia inginkan bahkan sebelum dia memintanya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam lalu berkata, ‘Wahai Rosulullah, ajarkanlah kepadaku beberapa kalimat..’

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda: Ucapkanlah :
– Subhaanallaah,
– Walhamdulillaah,
– Walaa ilaaha illallaah,
– Wallaahu akbar.

Orang Badui itu berkata, ‘Ini semua untuk Allah, lalu apa yang untukku..?’

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya jika kamu mengucapkan kalimat-kalimat ini, Allah akan berfirman, Kamu telah meminta, kamu telah berharap, dan apa yang kamu harapkan pasti akan Allah ‘Azza wa Jalla berikan semuanya..’

Dan dalam hadits Abu Sa’id rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i rohimahullah (disebutkan bahwa Allah berfirman),

‘Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta..’

Dan akhir dari kebaikan tasbih itu adalah menjadi ‘tempat kembali yang terbaik’ di sisi Allah..”

=====
📌 Berikut adalah lebih dari 10 keutamaan dari 4 kalimat mulia ini, klik:

https://bbg-alilmu.com/archives/54812

Ikhlas Dalam Beribadah Kepada Allah

Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir, حفظه الله تعالى menjelaskan berikut ini tentang hakikat ikhlas dalam beribadah kepada Allah.

===

“Jadi maknanya adalah bahwa barangsiapa yang mengharapkan pahala dari Allah, maka dia telah mengharapkan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena sebagian orang —dan hal ini dialami oleh sebagian orang yang menaruh perhatian pada bidang ini— mengatakan, ‘Saya tidak tahu apa arti ikhlas yang sebenarnya..’

Bahkan belum lama ini ada seseorang yang berkata kepada saya, ‘Saya melakukan ibadah, tetapi niat saya tidak murni ikhlas..’

Saya bertanya kepadanya, ‘Mengapa bisa demikian..?’

Dia menjawab, ‘Karena saya beribadah dengan mengharapkan Surga..’

Ini adalah sebuah ketidaktahuan.

Dan banyak dari orang-orang yang mencurahkan diri mereka untuk beribadah dan zuhud, justru terjerumus ke dalam kesalahan karena ketidaktahuan mereka terhadap syariat Allah ‘Azza wa Jalla.

Barangsiapa yang melakukan suatu ibadah karena mengharapkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia adalah orang yang ikhlas. Karena pahala itu datangnya dari Allah. Siapa lagi yang memberi Anda pahala selain Allah..?! Berarti, Anda memang bermaksud (beribadah) kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Orang yang melakukan ibadah karena takut akan adzab-Nya Subhanahu wa Ta’ala, juga termasuk orang yang ikhlas.

Orang yang melakukan ibadah karena rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dia juga orang yang ikhlas.

Oleh karena itu :
– kita beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan rasa takut,
– kita beribadah kepada-Nya dengan penuh harap, dan
– kita beribadah kepada-Nya dengan rasa cinta.

Janganlah Anda mengatakan, ‘Saya mencintai-Nya, tetapi saya tidak berharap kepada-Nya dan tidak takut kepada-Nya..’ Ini adalah sebuah kesalahan. Ini adalah ketidaktahuan dari Anda, dan di dalamnya terdapat penyimpangan dari jalan yang telah diperintahkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Oleh karena itu, urusan ikhlas ini sebenarnya sangat sederhana. Dan urusan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla artinya adalah Anda melakukan ibadah tersebut :
– hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,
– mengharapkan pahala-Nya, takut akan siksaan-Nya, dan
– yang ketiga serta yang terakhir adalah mencintai-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan diri untuk beribadah kepada-Nya..”

Hanya Dalam Hal Yang Baik Saja

Ketaatan kepada pemimpin hanya dalam hal yang baik saja .. ini adalah terjemahan dari hadits Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim:

إنما الطاعة في المعروف

Diantara contoh penerapan hadits ini :

Jika aturan demokrasi membolehkan sesuatu, sedangkan syariat (aturan) Allah melarangnya, maka harusnya kita mendahulukan aturan Allah .. bukan menjadikan aturan demokrasi untuk membolehkan sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Misalnya, jika aturan demokrasi membolehkan kita mencela dan merendahkan pemimpin yang sah, sedangkan syariat Allah melarangnya, bahkan memasukkannya ke dalam dosa besar GHIBAH..!

Maka harusnya kita meninggalkannya .. alih-alih membolehkannya dengan dalih aturan demokrasi membolehkannya.

Intinya aturan Allah harus didahulukan daripada aturan makhluk-Nya .. dan itu menuntut kita untuk bersabar.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi, aamiin


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Allah Yang Melapangkan Dan Menyempitkan Rezeki

Dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Harga barang melonjak mahal pada masa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, lalu orang-orang berkata, ‘Wahai Rosulullah, patoklah harga (pasar) untuk kami..!’

Maka beliau shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah :
– yang menentukan harga,
– yang menyempitkan,
– yang melapangkan, dan
– yang memberi rezeki.

Dan sungguh aku berharap dapat menemui Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku atas suatu kezholiman dalam urusan darah (nyawa) maupun harta..’

(HR. Abu Dawud no. 3451)
Syaikh Al Albani rohimahullah berkata hadits shohih – dalam beberapa kitab takhrijnya, seperti Irwa’ al-Gholil (no. 1325) dan Shohih Sunan Abi Dawud.

Ingatlah Hal Ini Ketika Anda Sedang Sendirian

Ibnu Rojab al Hanbali rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang mengetahui :
– bahwa Allah melihatnya di mana pun dia berada, dan
– bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam batin maupun lahirnya, urusan rahasia maupun terangnya

Lalu ia mengingat hal ini ketika sedang sendirian, maka hal ini akan mendorongnya untuk meninggalkan kemaksiatan saat tersembunyi (sepi)..”

(Jaamiʿ al-ʿUluum wal-Ḥikam 2/478)

Berdo’a Kepada Allah Agar Diberikan Suami Yang Sholeh

PERTANYAAN

Apakah diperbolehkan bagi seorang wanita berdo’a memohon suami yang sholeh, dan menentukan kriteria (sifat) yang ia inginkan pada diri calon suaminya..?

Syaikh bin Baz rohimahullah menjawab,

“Ya .. Hal itu diperbolehkan dan bahkan dianjurkan baginya untuk dilakukan. Dia boleh meminta kepada Robb-nya agar dianugerahi suami yang sholeh, sebagaimana seorang laki-laki memohon kepada Robb-nya agar dianugerahi istri yang sholehah.

Ini adalah do’a yang baik dan mulia. Dia boleh meminta kepada Allah agar dimudahkan mendapatkan suami yang sholeh, begitu pula seorang laki-laki boleh meminta kepada Allah agar dimudahkan mendapatkan istri yang sholehah..”

(Fataawaa Nuur ʿalaa ad-Darb – 20/17)

Satu Arah

Abu Hazim Salamah bin Dinar rohimahullah berkata,

“Tidaklah seorang hamba itu memperbaiki hubungannya dengan Allah Ta’ala kecuali Allah juga akan memperbaiki hubungannya dengan sesarna hamba, dan tidaklah dia merusak hubungannya dengan Allah Ta’ala kecuali Allah akan merusak hubungannya dengan sesama hamba.

Melakukan satu arah, tentu lebih mudah daripada melakukan semua arah.

Sesungguhnya jika engkau fokus kepada Allah maka semua arah akan berpihak kepadamu, tapi jika engkau merusak hubunganmu dengan Allah, maka semua arah akan membencimu..”

( Hilyatul Auliya’ – 7/51 )

Menebar Cahaya Sunnah