Kaidah Ushul Fiqih Ke-53 : Setiap Yang Telah Diketahui…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-52) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 53 🍀

👉🏼  Setiap yang telah diketahui ada atau tidak adanya, maka pada asalnya ditetapkan sesuai yang telah diketahui tersebut.

⚉  Bila yakin adanya wudlu namun ragu apakah berhadats setelahnya atau tidak, maka tidak perlu berwudlu kembali karena telah diketahui adanya wudlu.

⚉  Ketika sahur, kita ragu apakah sudah masuk waktu shubuh atau belum, maka boleh terus bersahur karena pada asalnya malam masih ada sampai yakin bahwa waktu shubuh telah benar benar masuk.
Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Makan sahurlah selama kamu ragu sampai tidak ragu.”

⚉  Bila merasa ragu apakah sudah mengqodlo sholat apa belum, maka wajib ia mengqodlo karena pada asalnya ia belum melakukan.

⚉  Bila ragu apakah telah jatuh talaq apa belum, maka pada asalnya pernikahan itu ada dan talaq tidak ada.

Dan contoh-contoh lainnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Sujud Syukur…

Apabila seseorang mendapatkan kenikmatan atau dipalingkan dari marabahaya maka disunahkan untuk sujud, karena sujud merupakan perbuatan kebaikan.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman QS Al Hajj : 77

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”

⚉   Dan dari Abu Bakroh rodhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapatkan hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

⚉   Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam pernah diberi khabar gembira tentang suatu keperluan maka beliaupun segera sujud. (HR Ibnu Majah)

⚉   Dan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam juga pernah sujud ketika datang kepadanya surat dari Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu tentang keislaman Hamdan (khabilah).

⚉   Dari Thoriq bin Ziad rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu sujud ketika mendapatkan yang dikhabarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam tanda tanda khowarij yang beliau perangi. (HR Imam Ahmad)

⚉   Dan dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik

Dari ayahnya ia berkata, ketika Allah memberikan kepadanya taubat, dalam kisah tiga orang yang tidak ikut perang (Mu’tah) yang tidak ikut dalam sebuah peperangan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam kemudian menyuruh untuk meninggalkan tiga orang ini sampai akhirnya Allah Subhaanahu Wata’ala memberikan taubat kepadanya, kata Ka’ab ketika Allah memberikan taubat kepadanya iapun segera sujud. (HR Ibnu Majah)

————————
⚉   Syaikh Albani rohimahullah mentakhrij tentang sujud syukur beliaupun berkata, kesimpulannya :

“Bahwa tidak diragukan akan disyari’atkannya sujud syukur setelah mendapatkan hadits hadits tersebut, terutama itu telah diamalkan oleh salaffushalih. Dan tidak disyaratkan untuk wudhu sebagaimana disyari’atkannya sholat.”
————————

⚉   Disebutkan dalam AlIkhtiyarot hal 60. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulah berkata :

“Sujud syukur itu tidak harus bersuci sebagaimana halnya sujud tilawah.”

Jadi ini adalah merupakan sujud syukur.
.
.
Wallahu a’lam
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Keutamaan Sujud Tilawah…
Apakah Sujud Tilawah Harus Dalam Keadaan Berwudhu..?

Kepada Siapapun Yang Bingung Dan Takut Hidup Miskin…

Nasehat emas dari ulama besar Al Hasan Al Basri rohimahullah :

Kepada orang yang ragu akan rezkinya…..

Kepada seorang pemuda yang ragu melangkah maju untuk menikah, khawatir tidak bisa menghidupkan rumah tangga…….

Kepada orang tua yang membatasi anaknya hanya dua atau tiga saja, karena khawatir miskin….

Kepada suami yang ragu untuk berpoligami, karena takut tidak bisa memberi makan istri kedua dan anak-anaknya….

Kepada istri pertama, yang tidak mau memberikan izin kepada suaminya untuk berpoligami karena khawatir jatuh miskin, atau tidak mendapatkan nafkah dari suami karena dibagi kepada istri kedua….

Kepada siapapun yang bingung hidup… takut miskin,….

Kepada orang yang selalu mengeluh kesusahan hidup…. dll….

Simaklah perkataannya :

قال الحسن البصري: قرأت في تسعين موضعا من القرآن أن الله قدر الأرزاق وضمنها لخلقه ، وقرأت في موضع واحد ” الشيطان يعدكم الفقر” : فشككنا في قول الصادق في تسعين موضعا ، وصدقنا قول الكاذب في موضع واحد “

Hasan Basri berkata:

“Aku telah membaca di sembilanpuluh tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Qur’an, bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan (mentaqdirkan) rezki dan menjamin rezki itu untuk makhluk-Nya, dan aku membaca (hanya) pada satu tempat syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran…

Lantas, (apakah layak) kita ragu terhadap perkataan yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong (hanya) di satu tempat ?”

Apakah setelah ini, kita masih ragu terhadap rezki kita yang telah ditetapkan Allah untuk kita ?

Bersemangatlah……, maju…. Langkahkanlah kaki anda untuk maju ke depan…..

Ustadz Muhammad Elvi Syam MA, حفظه الله تعالى

 

da0512130943

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-20

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 19) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 20 🌿

Kita masuk ke penghalang berikutnya yaitu…

⚉   dimana kebathilan di campur dengan kebenaran… sehingga menjadi samarlah kebathilan tersebut.. dan akhirnya banyak orang yang terhalang dari kebenaran.

⚉   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab Al Istiqomah jilid 2 hal 178 , dalam kitab Daru’ at-ta’aaru bil ’aqli wannaql 7/170

‎الباطل لا يظهر لكثير من الناس أنه باطل لِما فيه من الشبهة؛ فإن الباطل الْمَحض الذي يظهر بطلانه لكلَّ أحد؛ لا يكو ن قولاً و مذهبًا لطائفة تذبُّ عنه

“Kebathilan yang tidak tampak kepada kebanyakan manusia sebagai sebuah kebathilan itu akibat daripada adanya kesamaran, karena kebathilan yang murni yang tampak dengan jelas kebathilannya kepada setiap orang, tidak akan ada orang yang mau berpegang dengannya akan tetapi ketika kebathilan itu dicampuri dengan kebenaran, maka pada waktu itu banyak orang yang tertipu.”

Sebagaimana Allah berfirman [QS Ali ‘Imran : 71]

‎لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

“Mengapa kalian mencampurkan kebenaran dengan kebathilan”

‎وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan kalian menyembunyikan kebenaran dalam keadaan kamu mengetahuinya”

Oleh karena itulah orang-orang yang berusaha untuk melariskan kebathilan akan berusaha untuk mencampurkannya dengan sedikit kebenaran. Supaya apa..? Supaya ia laris di kalangan manusia/ditengah-tengah manusia.

⚉   Ibnu Taimiyah rohimahullah juga berkata dalam kitab Majmuu’ Fatawa 35/190

‎و لا ينفق الباطل فِي الو جو د إلا بِشَو بٍ من الحق

“Kebathilan itu tidak laris di dunia ini kecuali apabila dicampur dengan kebenaran”

Sebagaimana ahli kitab mereka mencampur adukkan antara haq dengan kebathilan, lalu akhirnya merekapun berhasil menyesatkan banyak manusia…. kenapa..?
Karena ada sedikit kebenaran yang ada pada mereka tersebut.

Maka dari itulah.. kewajiban kita adalah untuk jangan sampai tertipu dengan kebathilan yang tercampur dengan kebenaran tersebut .
Tapi berusaha untuk memilah dengan ilmu, mana haq dan mana bathil. Dan kita tidak mencampur adukkan antara kebathilan dan kebenaran tersebut.

⚉   Syaikh Al Mu’alimii berkata:

يسعى فِي التمييز بين معد ن الحجج، و معدن الشبهات

“Hendaknya seseorang itu berusaha membedakan antara kebenaran dengan syubhat”

Maka kalau dia mampu itu mudah bagi dia untuk membedakannya dan mengikuti kebenaran.
Beda (kata Beliau), apabila itu dicampuri dengan syubhat kesamaran.

Kata beliau:

لكن أهل الأهو اء قد حاو لوا التشبيه ولتمو يه

“Para pengikut hawa nafsu ini berusaha menyamarkan kebenaran”

Dimana, dengan cara apa itu ?
Mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebathilan tersebut.

فالواجب على الرَّاغب فِي الحق ألا ينظر إلَى ما يجيئه من معدن الحق من وراء ز جاجاتِهم الملو نة

“Maka kewajiban orang yang mencari kebenaran.. jangan sampai ia mendatangi tempat-tempat yang tercampur antara haq dengan bathil tersebut..” akan tetapi hendaklah ia betul-betul mendatangi tempat-tempat yang memang benar-benar diatas haq murni dan ilmu yang kuat tentunya. Supaya kita selamat.

⚉   Imam Asy-Syaatibii rohimahullah juga mengatakan demikian. Kata beliau:

‎إذ المتشابه لا يُعطي بيانًا شافيًا

“Sesuatu yang samar itu tidak bisa memberikan penjelasan yang jelas.”
Sehingga akhirnya banyak orang yang tergelincir di situ.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran. Karena di zaman ini kebathilan dan kebenaran betul-betul bercampur aduk sehingga banyak orang yang tersamar kepadanya kebenaran.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Kaidah Ushul Fiqih Ke-52 : Istidamah Lebih Kuat Dari Ibtida…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-51) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 52 🍀

👉🏼  Istidamah lebih kuat dari ibtida.

ISTIDAMAH artinya: berlangsung dari awal sebelum melakukan ibadah.
IBTIDA artinya : memulai melakukan sesuatu ketika sedang ibadah.

Contohnya:
⚉  Orang yang memakai minyak wangi sebelum ihrom dan wanginya tersisa sampai ketika umroh, maka ini tidak berpengaruh apapun.
Tetapi jika ia memakai minyak wangi di saat sedang ihrom, maka hukumnya haram.

Contoh lainnya :
⚉  Orang yang sedang ber-ihrom lalu mantalaq istri. Kemudian ia rujuk lagi di saat ihrom. Maka ini boleh.
Berbeda jika ia melakukan aqad nikah di saat ihrom, maka ini dilarang.

Sebagaimana hadits,

لا ينكح المحرم ولا ينكح ولا يخطب

“Orang yang sedang berihrom tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan melamar.” (HR Muslim).
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

Kaidah ke 3:

👉🏼  Dalam memberikan udzur dengan kebodohan tidak ada bedanya antara masalah aqidah atau ushul atau masalah parsial.

Pembedaan antara masalah ushul dengan cabang dimana kebodohan dalam masalah parsial dimaafkan sedangkan dalam masalah ushul tidak dimaafkan sama sekali tidak berdasarkan dalil dan tidak pula atsar.

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Adapun masalah aqidah, banyak manusia mengkafirkan orang yang jatuh dalam kesalahan padanya. Pendapat ini tidak diketahui asalnya dari para shahabat dan tidak pula tabi’in dan tidak juga para imam kaum muslimin. Akan tetapi ia berasal dari pendapat ahlul bid’ah yang mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka seperti khowarij, mu’tazilah dan jahmiyah…” (lihat Minhajussunnah 5/239-240).

Diantara dalil yang menunjukkan kepada kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ada seorang ayah yang berwasiat kepada anak anaknya agar kelak mayatnya dibakar dan abunya sebagian dibuang ke laut dan sebagian lagi dibuang ke darat. ia berkata, “Jika Allah mampu membangkitkan aku, pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang amat berat.”
Lalu Allah membangkitkannya dan bertanya kepadanya: “mengapa kamu lakukan itu ?” ia menjawab: “Karena aku takut kepadamu.” Maka Allah memaafkannya.

⚉  Syaikhul Islam rahimahullah berkata:
“Ini adalah keraguan terhadap kemampuan Allah dan kebangkitan, bahkan ia mengira tidak akan dibangkitkan..”
(Majmu Fatawa 23/346-347)

Namun Allah memaafkannya karena kebodohannya. Padahal meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan adalah masalah yang sangat pokok.
ini menunjukkan bahwa pembedaan masalah pokok dengan masalah cabang dalam pemberian udzur dengan kejahilan adalah tidak benar.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…

 

da1110161628

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…

Kaidah ke 2:

👉🏼  Seorang muslim tidak boleh dikafirkan karena perbuatan atau perbuatan atau keyakinan kecuali setelah ditegakkan hujjah padanya dan dihilangkan syubhat darinya.

⚉  Allah berfirman:

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

“Dan tidaklah Kami mengadzab sampai kami utus rosul kepada mereka.” (Al Isro : 15).

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan seorang muslim yang bersalah sampai ditegakkan padanya hujjah. Barang siapa yang telah islam secara yakin, maka tidak boleh dihilangkan keislamannya dengan alasan yang meragukan. Tidak hilang keislamannya sampai ditegakkan hujjah dan dihilangkan darinya syubhat.”
(Majmu Fatawa 12/465-466).

Dalam kisah Muadz bin Jabal yang pulang dari Syam lalu sujud kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu bertanya alasan mengapa Muadz sujud kepada beliau. Muadz menjslaskan bahwa ia melihat kaum ahlul kitab sujud kepada pendeta mereka. Muadz berfikir bahwa kaum muslimin lebih berhak sujud kepada Nabi. Namun Nabi mengingkari dan mengatakan bahwa bila boleh sujud kepada manusia, beliau akan menyuruh istri sujud kepada suaminya. HR Ahmad.
Dalam hadits tersebut, Nabi tidak langsung memvonis, tetapi beliau menghilangkan syubhat dan membimbing kepada sikap yang benar.

⚉  Kapankah disebut tegak hujjah ?

Sebagian ulama berpendapat bahwa sebatas sampainya alqur’an kepada seseorang maka telah tegak hujjah.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa sebatas sampainya alqur’an belum tegak hujjah sampai ia memahami dengan benar hujjah yang disampaikan kepadanya. Inilah pendapat yang paling kuat. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Dawud tentang empat orang yang akan mengemukakan alasannya pada hari kiamat. Diantaranya adalah orang tua yang pikun. ia berkata, “Ya Allah islam datang dalam keadaan aku telah pikun dan tidak faham.”

Kaidah ini menunjukkan bahwa yang berhak memvonis kafir terhadap muslim yang jatuh kepada perbuatan kufur adalah para ulama yang kokoh keilmuannya. Karena menegakkan hujjah dan menghilangkan syubhat bukanlah pekerjaan para penuntut ilmu yang dangkal ilmunya.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

 

da0810161707

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…

Kaidah Pertama:

👉🏼  Memvonis kafir adalah hukum syari’at dan hak murni untuk Allah Ta’ala.

Bukan milik suatu organisasi atau jama’ah tertentu dan tidak diserahkan kepada akal atau perasaan atau fanatisme.

⚉  Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya vonis kafir itu adalah bersifat sam’iy (berdasar syariat) saja. Tidak diserahkan kepada akal. Dan dalil yang menunjukkan kekafiran sesuatu adslah syariat yang qoth’iy (pasti). Tidak ada perselisihan dslam masalah ini.” (Al Awashim wal Qowashim 4/178).

⚉  Imam Ghozali rahimahullah berkata, “Kufur itu adalah hukum syariat sama dengan status budak dan merdeka. Karena maknanya adalah penghalalan darah dan menghukumi kekal di neraka. Maka dasarnya harus syari’at baik dengan nash atau qiyas.” (Faishol tafriqoh bainal islam wazandaqoh hal 128).

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ini tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh sebagian orang seperti Abu Ishaq Al Isfirooyini dan para pengikutnya yang mengatakan: “Tidak ada vonis kafir kecuali yang kami kafirkan.”

Karena vonis kafir itu bukan hak mereka, akan tetapi ia adalah hak Allah saja. Seorang manusia tidak boleh mendustakan orang yang mendustakan dirinya. Tidak boleh membalas menzinai istri orang yang menzinai istrinya..
(Minhajussunnah 5/244).

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

 

da0710162247

Teman…

Teman..
lihatlah rumput ilalang yang bergoyang..
seakan membisikan pengalaman..
seraya berkata..
hidupku tak lepas dari terpaan angin..
terkadang aku merunduk..
terkadang pula meliuk liuk..
namun itu tak membuatku tersungkur..

Teman..
itulah kehidupan..
tak lepas dari aral yang melintang..
ujian dan cobaan silih berganti..
menyaring keimanan..
demikian Robb kita berfirman:
alif laam miim..
apakah manusia mengira akan dibiarkan berucap kami beriman sementara ia tidak diuji.. (al ankabut: 1)

Teman..
tidakkah kita ingin setegar batu karang..
yang selalu diterjang ombak samudra..
namun ia tegar tak bergeming..
seakan tersenyum anggun menuai kesabaran..

Teman..
sabar di dunia amat indah..
walau pahit dan getir terasa..
tapi ia sementara dan tak lama..
sedangkan sabar di neraka tak lagi berguna..
dalam masa yang amat panjang..
satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia..
manakah kesabaran yang engkau pilih..

Teman..
sabarlah di atas jalan Rabbmu..
sabarlah tuk menaati Nabimu..
sampai kita berjumpa dengan-Nya..
Nabi bersabda..
bersabarlah.. sampai berjumpa denganku di telaga haudl..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jatuh Cinta…

kata orang..
jatuh cinta itu lumrah..
sudah fitrah manusia..
tapi menyibukkan hati dari berdzikir..
selalu ingat si dia..
dalam banyak aktivitas..
padahal kata ulama..
mengingat manusia itu penyakit..
sedangkan mengingat Allah itu penawar kegundahan hati..

kata orang..
jatuh cinta itu indah..
tapi membuat mabuk kepayang..
sebetulnya jatuh cinta itu siksaan batin..
tersiksa oleh kekhawatiran..
tersiksa oleh kerinduan..
tersiksa oleh khayalan dan angan angan..
padahal belum tentu jodoh..
apalagi lelaki yang sudah beristri..
ketika jatuh cinta kepada wanita lain..
ia dijadikan lupa kepada yang halal..
dan sibuk dengan yang haram..

bertepuk sebelah tangan.. 
jatuh cinta tak berguna..
menderita di dunia sebelum di akhirat..
bagai mengejar fatamorgana..
padahal ada cinta yang tak kan pernah bertepuk sebelah tangan..
ia adalah cinta kepada Allah..
cinta yang memberi keindahan hidup..
cinta yang tak ada lagi di atasnya cinta..
rindu kepada Ar Rahman..
merasakan kenikmatan batin ketika asyik berduaan denganNya..

untuk itulah kita hidup..
untuk itu pula kita meninggal..
ya Rabb..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah