Sunnah Yang Terlupakan : Mengucapkan Salam Kepada Muslim Yang Tidak Kita Kenal

Dari Ath Thufail bin Ubay bin Ka’ab, suatu ketika ia mendatangi ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, kemudian ia berjalan bersamanya ke pasar.

Ath Thufail berkata, ‘Setiap kali ia bertemu dengan tukang loak (pedagang barang bekas),  pedagang, orang miskin, atau siapa saja, ia selalu mengucapkan salam..’

Ath Thufail melanjutkan, ‘Suatu hari aku datang lagi ke rumah Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, lalu ia ingin ikut menemaniku ke pasar..’

Aku pun bertanya, ’Apa yang engkau kerjakan di pasar sedangkan engkau tidak berjual beli, tidak menanyakan harga barang-barang, dan tidak pula mau duduk-duduk di pasar..’

Aku melanjutkan, ‘Sebaiknya kita duduk-duduk saja disini sambil bercakap-cakap..’

Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa langsung menjawab, ‘Wahai Abu Bathn (*), sesungguhnya kita pergi ke pasar semata-mata hanya ingin mengucapkan salam saja, yaitu kita ucapkan salam kepada kaum Muslimin mana saja yang kita jumpai..’

(HR. Malik – al-Muwaththo’ no. 912)
Hadits ini dishohihkan oleh Syu’aib al-Arna-uth. Lihat Riyaadush Shoolihîn no. 848

(*) panggilan untuk Ath Thufail karena perutnya besar.

=====
Amalan yang dilakukan oleh sahabat Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa dalam hadits di atas, adalah sesuai dengan sabda Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sbb :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhumaa bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, ‘Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik..?’

Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (Muslim) yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal..’

(HR. Al Bukhari no. 12/28 dan Muslim no. 39)

Bagaikan Bejana Yang Halus

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Wanita itu ibarat bejana yang halus .. suasana hati dan kondisinya berubah-ubah seiring waktu. Barangsiapa yang bersabar menghadapinya, maka dialah orang yang memiliki akal yang sempurna..”

(Shoydul Khoothir)

PENJELASAN SINGKAT

● Ibnul Jauzi rohimahullah mengibaratkan sifat dasar wanita bagaikan bejana yang halus .. lembut namun mudah retak/terluka jika tidak ditangani dengan hati-hati.

● Beliau rohimahullah mengingatkan bahwa kondisi hati dan emosi seorang wanita berubah ubah seiring berjalannya waktu, seperti saat ia sedang haidh, hamil, nifas dan menopause .. dan tanda kecerdasan dan kedewasaan seorang pria yang sesungguhnya bukan dilihat dari kekuatannya, melainkan dari sejauh mana ia mampu bersabar dan bijaksana dalam menyikapi sifat sifat tersebut yang ada pada anak perempuannya dan/atau istrinya.

Saudara Sejati

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

“Saudaramu adalah orang yang senantiasa :
– menasihatimu,
– mengingatkanmu, dan
– memberikan peringatan kepadamu.

Saudaramu bukanlah orang yang mengabaikanmu, berpaling darimu, atau berbicara kepadamu dengan kata-kata manis namun hampa dari kebenaran dan ketulusan yang nyata.

Melainkan, saudaramu yang sesungguhnya adalah dia yang :
– menasehatimu,
– memberimu peringatan, dan
– mengingatkanmu.

Ia mengajakmu kepada Allah, terus menerus menjelaskan kepadamu jalan keselamatan dengan jelas hingga engkau mengikutinya, dan memperingatkanmu dari jalan kebinasaan—ia terus menjelaskan kepadamu betapa buruk kesudahannya hingga engkau menjauhinya..”

(Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah – 14/21)

Mereka Yang Patut Merasa Kawatir

Ibrahim Al Taymi rohimahullah berkata,

Setiap orang yang tidak merasa takut (akan adzab Allah) patut merasa kawatir bahwa ia mungkin bukan termasuk golongan penghuni surga, karena mereka (para penghuni surga) kelak akan berkata (satu sama lain di dalam surga),

إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah tengah keluarga kami, merasa takut (akan adzab Allah)..’ [QS. Ath-Thuur/52: 26]

(Hilyatul Auliyaa’ – 4/212)

Pernikahan Membuka Pintu Rezeki

Allah Ta’ala berfirman,

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan (kekayaan) kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui..” (Qs An Nuur : 32)

=======

Ibnu Katsir rohimahullah (Tafsir Ibnu Katsir 6/51) mengutip perkataan tiga sahabat mulia :

● Abu Bakar Ash Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Taatilah Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadamu mengenai pernikahan, niscaya Dia akan melaksanakan janji-Nya kepadamu berupa kekayaan..”

● Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Aku heran kepada orang yang tidak mencari kekayaan (kecukupan) melalui pernikahan, padahal Allah telah berfirman: ‘Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya’..”

● Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Allah memerintahkan umat Islam untuk menikah, dan menjanjikan kekayaan kepada mereka..”

=======

● Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah berkata,

“Jika engkau menikah, Allah akan membukakan pintu rezeki bagimu sehingga engkau dapat menafkahi istrimu. Dan pernikahan itu bukanlah penyebab kemiskinan..”

(Fath Dzi al-Jalal wal Ikram – 11/25)

Hak Ibu Lebih Besar

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

Seorang laki-laki datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam lalu bertanya,

“Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu..”

(HR. Al Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548)

=====
Penjelasan Singkat

Para ulama (seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Hajar al-Asqolani -rohimahumallah-) menjelaskan mengapa ibu disebut tiga kali lebih banyak daripada ayah. Hal ini disebabkan karena ibu mengalami TIGA KESULITAN BESAR yang tidak dialami oleh ayah, yaitu:

– MASA KEHAMILAN (mengandung dengan susah payah).

– PROSES MELAHIRKAN (perjuangan antara hidup dan mati).

– MASA MENYUSUI (dan merawat di masa kecil).

Meskipun ayah juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, hadits ini menekankan bahwa porsi kasih sayang, perhatian, dan bakti seorang anak kepada ibu haruslah lebih besar.

● Ibnu Batthol rohimahullah berkata,

“Jika kedua orang tuamu memerintahkanmu untuk melakukan dua hal yang berbeda (dalam waktu yang bersamaan), maka penuhilah perintah ibumu karena haknya (untuk ditaati) adalah tiga kali lipat lebih besar (daripada ayahmu)..”

(Asy Syaamilah – 17/227)

Apa Yang Harus Dilakukan Seseorang Ketika Tertimpa Takdir Yang Tidak Disukai

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

Jika sebuah takdir yang tidak disukai menimpa seseorang, maka ia hendaknya memiliki enam pandangan (pertimbangan) :

1. Pandangan Tauhid : Menyadari bahwa Allah-lah yang telah menetapkan takdir itu baginya, menghendakinya, dan menciptakannya. Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa pun yang tidak Allah kehendaki tidak akan pernah terjadi.

2. Pandangan Keadilan : Menyadari bahwa takdir itu terjadi atas perintah Allah. Hal itu adalah adil dalam rangka memenuhi keadilan Allah.

3. Pandangan Rahmat : Menyadari bahwa rahmat (kasih sayang) Allah dalam apa yang telah ditetapkan secara umum lebih dahulu ada daripada kemarahan dan balasan-Nya. Rahmat-Nya tetap ada di sana, namun tersembunyi dan tidak tampak secara lahiriah.

4. Pandangan Hikmah : Menyadari bahwa Hikmah Allah —Subhanahu— meniscayakan takdir tersebut. Allah tidak menetapkan ini dengan sia-sia atau memerintahkannya tanpa alasan.

5. Pandangan Pujian : Menyadari bahwa segala pujian yang sempurna adalah milik Allah atas takdir yang ditetapkan ini, dari sudut pandang mana pun engkau melihatnya.

6. Pandangan Penghambaan (Ubudiyah) : Menyadari bahwa seseorang adalah murni hamba Allah dari segala sisi. Ketentuan-ketentuan Tuannya (Allah) berlaku atasnya dan dijalankan karena ia adalah milik dan hamba Tuannya. Maka, Allah mengaturnya di bawah hukum-hukum takdir-Nya sebagaimana Allah mengaturnya di bawah hukum-hukum agama (syariat). Oleh karena itu, seorang hamba harus tunduk dan menjalani ketentuan-ketentuan tersebut.

(Al Fawaid – 93-94)

Rasa Cinta Semakin Kuat Dengan Bersholawat

Ibnu al-Qoyyim rohimahullah berkata,

“Bersholawat kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam membuat cinta kepada beliau tetap hidup, semakin kuat, dan terus bertambah.

Karena semakin sering seseorang mengingat orang yang dia cintai, menghadirkannya dalam hati, serta mengingat kebaikan kebaikan dan sifat sifatnya, maka cintanya akan semakin besar, rindunya semakin kuat, hingga memenuhi seluruh hatinya..”

(Jala’ul Afham: 525)

Semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jiwa Yang Penuh Syukur

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Setan daripada seorang mukmin yang bersedih..”

(Thoriiq al-Hijrotain – 1/418)

Kekhawatiran akan masa lalu atau ketakutan terhadap masa depan hanyalah akan merampas kemampuan kita untuk mensyukuri nikmat di masa sekarang.

Setan membisikkan kesedihan ke dalam hati kita, namun jiwa yang penuh syukur tidak akan berputus asa; sebab dalam hidup kita, terhampar begitu banyak nikmat yang bagi orang lain, mereka bersedia memberikan segalanya demi meraihnya.

Sandarkanlah tawakalmu kepada Allah dan serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya. Sebab, ketakutan dan kesedihan hanyalah bisikan yang bertujuan membuat kita lupa akan karunia Allah yang begitu melimpah, yang sesungguhnya telah mengelilingi kita dari segala penjuru.

ref : https://t.me/ibnqayyim/2649

Mengaku Mencintai Allah Namun ..

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Jika seseorang mencintai seseorang namun ia tidak mengetahui apa yang membuat (kekasihnya) ridho dan tidak berusaha mencarinya, bahkan ia bertindak berdasarkan apa yang ia kira sebagai tuntutan cinta, meskipun hal itu didasari oleh kebodohan dan kesalahan, maka hal itu justru menjadi sebab orang yang ia cintai membencinya, berpaling darinya, bahkan menghukumnya.

Banyak orang yang mengaku mencintai Allah terjatuh ke dalam berbagai bentuk kebodohan dalam agama: dengan melampaui batas-batas yang telah Allah tetapkan, menelantarkan hak-hak-Nya, atau membuat klaim-klaim batil yang tidak memiliki dasar..”

(Al ‘Ubudiyyah, hlm. 114)

Menebar Cahaya Sunnah