Hukum Ajakan Ber-DONASI

Mencarikan donasi untuk saudara yang membutuhkan adalah bentuk kepedulian seorang muslim kepada saudaranya yang sangat dianjurkan.

Masuk dalam keumuman firman Allah:

وتعاونوا على البر والتقوى

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan..”

Masuk dalam keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضهم بعضا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu seperti satu bangunan yang saling menguatkan..”

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu beberapa kali mencarikan donasi untuk sebagian sahabat beliau, diantaranya:

1. Untuk keluarga Ja’far .. beliau mengatakan:

اصنعوا لآل جعفر طعاما، فقد أتاهم ما يشغلهم

“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sedang ada sesuatu (kesedihan karena kematian) yang menyibukkan mereka..”

2. Untuk sekelompok sahabat dari kabilah Mudharr yang sangat miskin .. akhirnya banyak dari para sahabat beliau yang berdonasi untuk mereka. Kemudian beliau bersabda:

من سن في الإسلام سنة حسنة، فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئا.

“Barangsiapa memberikan contoh kebaikan dalam Islam, maka baginya pahala amalan itu dan pahala orang-orang yang mengikuti dia setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali..”

3. Untuk seorang sahabat yang banyak hutangnya, karena rusaknya sebagian besar buah yang telah dia beli .. maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

تصدقوا عليه

“Bersedekahlah kalian kepadanya” .. Dan akhirnya beberapa orang bersedekah kepadanya, hingga bisa mengurangi beban hutang dia..” [HR. Ibnu Majah, shahih].

Inilah beberapa contoh dari Beliau, yang menunjukkan bolehnya mengumpulkan donasi untuk orang yang membutuhkan.

Adapun hadits yang menjelaskan larangan meminta-minta, maka maksudnya adalah meminta-minta untuk diri sendiri.

Adapun mengumpulkan donasi untuk orang lain yang sangat membutuhkan, atau korban bencana, atau untuk dakwah ilallah, atau untuk masjid .. maka ini masuk dalam bab mengajak orang lain untuk bersedekah dan berinfak, dan ini suatu kebaikan dan kemuliaan.

Dua masalah ini harus dibedakan .. agar kita bisa lebih tepat dalam menerapkan dalil-dalil yang ada, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kapan Mulai Takbir Muqoyyad..?

TAKBIR MUQOYYAD DIMULAI SEJAK BESOK SETELAH SHOLAT SHUBUH 9 DZULHIJJAH
.
1️⃣ Dari ‘Umar bin Khotthob rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah sholat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah zhuhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dishohihkan Syaikh Al Albani rohimahullah)
.
2️⃣ Dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah sholat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ‘ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani rohimahullah mengatakan: “Shohih dari ‘Ali rodhiyallahu ‘anhu“)
.
3️⃣ Dari Ibn ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, bahwa beliau bertakbir setelah sholat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani rohimahullah mengatakan: Sanadnya shohih)
.
4️⃣ Dari Ibn Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah sholat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishohihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)
.
.
APAKAH TAKBIR DILAKUKAN LANGSUNG SETELAH SALAM SECARA BERSAMA ATAUKAH SENDIRI-SENDIRI..?
.
Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,
.
“YANG DISYARIATKAN KETIKA SELESAI SHOLAT ADALAH MEMBACA DZIKIR YANG SUDAH DIKENAL, KEMUDIAN BILA ANDA SELESAI BERDZIKIR SILAHKAN BERTAKBIR. Begitu pula disyariatkan supaya orang-orang tidak bertakbir bersama, akan tetapi SETIAP ORANG BERTAKBIR SENDIRI-SENDIRI..
.
Inilah yang disyariatkan sebagaimana di hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu mereka bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam saat haji, diantara mereka ada yang mengeraskan bacaan talbiah, sebagian lagi bertakbir, mereka tidak dalam satu bentuk..”

[ Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 16/261 ]
.

Bersikap Pertengahan Di Masa Pandemi

Sebagai umat Nabi termulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tentu umat Islam dikaruniai oleh Allah banyak keistimewaan yang tidak diberikan pada umat-umat sebelum mereka. Di antara keistimewaan tersebut adalah dijadikannya mereka sebagai umat pertengahan. Tidak ekstrim kanan dan tidak pula ekstrim kiri. Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Artinya: “Begitulah Kami menjadikan kalian sebagai umat pertengahan..” QS. Al-Baqarah (2): 143.

Umat Islam memiliki prinsip pertengahan dalam akidah, ibadah, akhlak dan seluruh aspek kehidupan. Termasuk dalam menyikapi pandemi.

Ekstrim Kanan Vs Ekstrim Kiri

Dalam menyikapi pandemi ini, kita menyaksikan adanya dua kubu yang bertolak belakang. Ekstrim kanan dan ekstrim kiri.

Ekstrim kanan adalah golongan yang terlalu berlebihan dalam bersikap. Sedangkan ekstrim kiri adalah golongan yang bersikap meremehkan dan menyepelekan.

Kaum ekstrim kanan tenggelam dalam kecemasan dan kekhawatiran yang tidak wajar. Hingga taraf mengalami gangguan paranoid atau takut berlebihan. Hal ini dipicu dari terlalu sibuk siang dan malam mengupdate berita yang mengerikan tentang parahnya lonjakan penularan virus.

Sekedar mengetahui secara global kondisi terkini level pandemi tentu penting; untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun tidak boleh berlebihan. Hingga tidak sempat membaca al-Qur’an dan berdzikir. Bahkan saat shalat pun yang dipikirkan adalah situasi terkini pandemi.

Padahal ketenangan hati dan ketentraman jiwa di masa genting seperti ini sangat diperlukan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Adapun golongan ekstrim kiri adalah mereka yang bersikap meremehkan pandemi. Sikap menyepelekan itu bertingkat-tingkat. Ada yang sama sekali tidak percaya adanya Covid-19. Ada yang percaya, namun menganggap bahwa itu penyakit ringan biasa. Adapula yang percaya Covid-19 itu berbahaya, namun malas menerapkan protokol kesehatan. Tidak peduli bahwa sikap cueknya itu bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Keberadaan golongan ini memiliki andil yang cukup besar untuk memicu drastisnya peningkatan kasus positif Covid-19 di dunia belakangan ini.

Sikap Ideal

Yang benar adalah bersikap pertengahan. Yaitu mengambil sikap waspada tanpa ketakutan yang berlebih. Menjalankan protokol ketat kesehatan, setelah mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Dengan cara bertaubat nasuha, menjaga shalat lima waktu, merutinkan dzikir pagi dan petang, memperbanyak istighfar, serta konsisten membaca al-Qur’an setiap hari minimal 1 juz.

Jika sudah maksimal dalam bertawakal dan berikhtiar pencegahan, lalu ditakdirkan tertular, maka tetap mengedepankan optimisme bahwa Allah Maha Kuasa untuk menyembuhkan. Bila ternyata berakhir dengan kematian, maka semoga meraih pahala syahid.

Sungguh kematian adalah sebuah keniscayaan. Yang selamat dari Covid-19 pun akan meninggal dengan sebab lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa wafat dalam keadaan husnul khatimah, bukan su’ul khatimah.

Ditulis oleh,
Ustadz Abdullah Zaen MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Harta Kalian Pada Hakikatnya Bukanlah Milik Kalian

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
.
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar..”
.
[ Qs. Al Hadiid/57 : 7 ]

Al Qurthubi rohimahullah berkata tentang ayat 7 dari Qs Al Hadiid/57,

“Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian pada hakikatnya bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian..”

[ Tafsir Al Qurthubi ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Kematian

Kematian adalah suatu keniscayaan, tidak dengan covid dengan sebab yang lain, orang kan mati, cepat atau lambat, semua kita hanya menunggu giliran.

Bila covid mengganas dan mulai menjemput kematian banyak dari orang yang kita kenal, kita cintai dan sayangi, maka jadikan hal itu pelajaran untuk selalu waspada dan bersiap-siap.

Perbanyak husnuz zhan pada Allah bahwa apa yang dia tentukan dan pilihkan untuk kita maka itulah yang terbaik, pasrah dan tawakkal menjadi kunci ketenangan batin, dengan tetap maksimal menyempurnakan ikhtiar.

Sejak sekarang mari perbanyak amal, tunaikan kan hak Allah dan hak makhluk yang masih nyangkut di kita. Hanya dengan menunaikan dua hak tersebut saja kita kan selamat berjumpa Allah, dan Allah ridho pada kita.

Jangan ada setetes darahpun yang kita tumpahkan, harta orang lain yang tidak kita kembalikan, kehormatan dan nama baik orang kita cemarkan. Bila ada maka segera selesaikan sebelum terlambat.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Para Fakir Miskin.. Sungguh Beruntungnya Mereka, Bila Sabar Menjalaninya

Seringkali orang yang hidup miskin merasa sangat rugi dan kecewa dengan keadaan hidupnya.

Tapi sungguh perasaan itu akan sirna bila dia melihat bagaimana Agama Islam memuliakannya, lihatlah beberapa poin berikut:

1. Keberadaan orang miskin sangat penting dalam masyarakat, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Tidakkah kalian diberi pertolongan dan diberi REZEKI, melainkan dengan orang-orang lemah kalian..” [HR. Bukhori: 2896]. Dan termasuk dalam kriteria orang lemah adalah mereka yang miskin sebagaimana dijelaskan para ulama.

2. Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- berharap hidup miskin dan digiring di akherat bersama para fakir miskin, Beliau dahulu berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Ya Allah hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan giringlah aku pada hari kiamat bersama kelompoknya orang-orang miskin..” [HR. Attirmidzi: 2352 dan yang lainnya, hadits ini dihasankan oleh Syeikh Albani].

3. Mayoritas penduduk SURGA adalah kaum fakir miskin, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Aku telah berdiri di depan pintu surga, maka (kulihat) mayoritas orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin..” [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 6547, Muslim: 2736].

———

Sungguh begitu mulia, para fakir miskin dalam pandangan Islam.

Semoga kita bisa mensyukuri hidup ini apapun keadaannya… dan bisa memanfaatkan kehidupan ini untuk mengumpulkan bekal akherat dengan sebaik-baiknya… amin. Ingatlah selalu firmanNya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Carilah bekal, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan..” [QS. Albaqoroh: 197].

Ketakwaan adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/12777

Serba-Serbi DZULHIJJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Kurban dan Ibadah Di Bulan Dzulhijjah

Untuk memudahkan pencarian, berikut adalah daftar SERBA SERBI DZULHIJJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Kurban dan Ibadah Di Bulan Dzulhijah yang pernah kami posting dari berbagai sumber.

SERBA SERBI DZULHIJJAH – Daftar Isi LENGKAP

  1. Larangan Mencukur Bagi Yang Hendak Berkurban… 
  2. Amalan Apa Saja Di Awal Bulan Dzulhijjah… (audio) 
  3. Lebih Utama… 
  4. Berkurban ? Ah, Sayang Uangnya..!
  5. Bolehkah Kurban Atas Nama Organisasi..?
  6. Kurban Giliran Dalam Keluarga…
  7. Kurban Atas Nama Istri Karena Niat Berkurban Tapi Dari Uang Suami, Siapa Yang Tidak Potong Rambut dan Kuku..?
  8. Ingin Kurban Tapi Masih Punya Hutang…
  9. Peringatan Bagi Yang Akan Ber-Kurban Termasuk Panitia Kurban… (audio)
  10. Pahala Kurban Untuk Siapa Saja..? (audio) 
  11. Bolehkah Suami dan Istri Sama-Sama Berkurban..? (audio)
  12. Apakah Boleh Menyatukan Niat Aqiqah Dengan Niat Ber-Kurban…?? (audio)
  13. Sunnah Yang Terlupakan Di Hari-Hari Awal Dzulhijjah… 
  14. Berkurban Untuk Orangtua Yang Sudah Meninggal… (audio)
  15. E-Book Panduan Kurban Praktis…
  16. Rancu Antara Batas Iuran dan Batas Pahala per Hewan Kurban… (audio)
  17. Takbir Di Hari-Hari Awal Dzulhijjah… 
  18. Beredarnya Hadits PALSU Terkait Keutamaan 10 HARI PERTAMA Bulan DZUL-HIJJAH… 
  19. Hadits Dhoif Seputar Dzulhijjah… 
  20. Tentang Derajat Hadits Puasa Tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah… (audio)
  21. Jangan Dekati Masjid Kami..!! 
  22. Bolehkah Puasa Arafah Dan Puasa Awal Dzulhijjah Namun Masih Memiliki Utang Puasa..? 
  23. Belasan Jam Untuk 2 Tahun… 
  24. Hari Arofah… 
  25. Daging Kurban Tercampur…
  26. Amalan di Hari-Hari Tasyrik (11-12-13 Dzulhijjah)… 
  27. Mengapa Dilarang Puasa Di Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah)..? 
  28. Puasa Ayyamul Biidh Tanggal 13 Dzulhijjah..?
  29. Satu Kurban untuk Satu Keluarga, Apa Maksud Satu Keluarga..?
  30. Memotong Rambut Dengan Sengaja, Apakah Sah Kurbannya..?

Takbir Di Hari-Hari Awal Dzulhijjah

Mengenai TAKBIR di awal bulan DZUL-HIJJAH… Takbir Muqoyyad artinya Takbir yang sudah ditentukan waktunya oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam…

Lafal takbir

Terdapat beberapa macam lafal takbir Idul Fitri dan Idul Adha yang diriwayatkan dari para sahabat.

Pertama:

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ، وَ الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، و للهِ الحَمدُ

ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, WA-LILLAHILHAMD(U)

Lafal takbir ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. (HR. Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Kedua:

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ، وَ الله ُأَكبَرُ ، و للهِ الحَمدُ

ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR, WA-LILLAHILHAMD(U)

Lafal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Ketiga:

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، و للهِ الحَمدُ ، الله ُأَكبَرُ و أَجَلُّ ، الله ُأَكبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, WA-LILLAHILHAMD(U), ALLAHU AKBARU WA AJALLU, ALLAHU AKBARU ‘ALAA MAA HADZAANAA

Takbir ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu. (HR. Al Baihaqi, dalam As-Sunan Al-Kubra; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Keempat:

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ  كَبِيراً

ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBARU KABIIRON

Lafal ini diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu. (HR. Abdur Razaq; sanadnya dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar)

Ref :  https://konsultasisyariah.com/7301-takbir-idul-fitri.html

Menebar Cahaya Sunnah