Silahkan save gambar di bawah yang ukurannya sudah disesuaikan dengan DP BBM.
Jenggotan Kayak Bandot, Celana Cingkrang Kayak Kebanjiran…
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى
Banyak kalangan yang begitu benci dengan lelaki yang memanjangkan jenggotnya. Bahkan setelah disampaikan bahwa memanjangkan jenggot adalah ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mereka tetap saja dengan darah dingin mencibirkan jenggot, dan memperolok-oloknya. Diantara tuduhan keji yang sering dilontarkan kepada orang yang memanjangkan jenggot ialah : jenggotan kayak bandot (kambing).
Mereka merasa bahwa dengan tuduhan ini, dirinya sebagai orang cerdas lagi berpendidikan, padahal kenyataannya tidak demikian. Ucapannya itu cermin dari kemalasan berpikir, dan sempitnya nalar pikirannya.
Betapa tidak, mereka merasa bahwa orang yang berjenggot menyerupai kambing yang sebagian jenisnya memiliki jenggot atau yang sering disebut dengan kambing bandot. Namun ia lupa bahwa setiap orang mengetahui bahwa hewan yang tidak berjenggot, baik yang halal atau yang haram dimakan kebanyakannya tidak berjenggot.
Yang memendekkan celananya di atas mata kaki dicemooh dengan ucapan: celana cingkrang kayak kebanjiran.
Namun demikian, anehnya kalau yang mengenakan celana cingkrang bahkan separuh betis dan bahkan separuh paha adalah wanita cantik, mata mereka melotot menikmati pemandangannya, sambil bersuit suiiit, seakan mereka lupa pernah mencibirkan pemakai celana cingkrang kayak kebanjiran. Padahal wanita yang mengenakan rok mini lebih pantas untuk dicibirkan : kebanjiran.
Sobat! Fenomena ini membuktikan bahwa cibiran-cibiran semacam di atas sejatinya hanyalah luapan dari sikap menuruti hawa nafsu dan kebodohan.
Andai mereka bertanya dengan santun atau mempelajari dengan benar, niscaya mereka mengetahui bahwa memanjangkan jenggot bagi lelaki adalah wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Panjangkanlah jenggotmu dan pendekkanlah kumismu.” (Bukhari dan Muslim)
Dan beliau juga bersabda tentang kewajiban memendekkan pakaian di atas mata kaki bagi kaum pria:
مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ
“Semua pakaian pria yang melebihi kedua mata kaki maka tempatnya di neraka.” (Riwayat Bukhari)
Punya Suami Idaman, Makan Hati, Susah Deh..!
Ustadz DR.Muhammad Arifin Badi, MA, حفظه الله تعالى
Kata orang: Hidup di dunia ini memang serba susah, gini salah gitu salah. Mereka bilang: Punya uang masalah bahkan pusing, bingung nyimpan dan menginvestasikannya. Ndak punya uang juga buat kepala puyeng.
Memiliki kendaraan bermasalah tidak memiliki kendaraan juga bermasalah.
Punya istri cantik, seakan nyepake tanggane (nyiapkan untuk tetangga). Punya suami guanteng juga repot, makan hati; karena sering jadi godaan banyak wanita. Namun punya istri atau suami jelek juga susah, gini masalah, gitupun masalah, repot.
Aisyah radhiallahu anha mengisahkan: suatu malam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam secara diam diam keluar dari rumahku. Maka sikap beliau ini menjadikan aku merasa cemburu. Sekembalinya beliau dari luar rumah, beliau memahami sikapku yang sedang hanyut dalam rasa cemburu. Segera beliau bertanya kepadaku: apakah engkau sedang ditimpa rasa cemburu?
Mendapat pertanyaan seperti ini, Aisyah menjawab:
وما لي لا يغار مثلي على مثلك؟
“Mana mungkin wanita seperti aku tidak terus ditimpa rasa cemburu karena memiliki suami seperti engkau (suami idaman setiap wanita)?” (Riwayat Muslim)
Pada kisah lain, suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pulang ke rumah Aisyah radhiallahu anha seusai mengiringi jenazah ke kuburan Baqi’. Kala itu Aisyah sedang mengeluhkan rasa pening di kepalanya, sehingga Aisyah berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: aduh, peningnya kepalaku. Namun ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengeluhkan hal yang sama dan bersabda: aku juga merasakan pening di kepalaku.
Selanjutnya beliau seakan ingin mencairkan suasana, dan mencandai istrinya dengan bersaba:
«ما ضرك لو مت قبلي، فغسلتك وكفنتك، ثم صليت عليك، ودفنتك؟»
“Apa salahnya bila engkau meninggal duluan sebelumku, maka aku sendirilah yang akan memandikanmu, lalu mengkafanimu, selanjutkan menyolatimu, dan aku pula yang akan menguburkanmu.”
Mendengar candaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini, Aisyah berkata:
لكأني بك، والله لو فعلت ذلك لقد رجعت إلى بيتي فأعرست فيه ببعض نسائك،
“Sungguh aku mengira, bila hal itu terjadi, maka aku sudah bisa bayangkan bahwa sepulangmu ke rumahku dari menguburkanku niscaya engkau segera bersenang senang dengan sebagian istrimu yang lainnya di rumahku ini.”
Mendengar jawaban Aisyah ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersenyum-senyum. (Ahmad dan lainnya)
Demikianlah sobatku, memiliki suami seperti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah satu kebahagiaan dan kebanggaan. Namun dari sisi lain, membutuhkan jiwa besar dan lapang dada, karena ternyata istri-istri beliau sering dirundung kekawatiran (kecemburuan) kalau kalau suaminya diambil orang, alias menikah lagi dengan wanita lainnya.
Betapa bahagianya Aisyah Radhiallahu Anha yang telah mendapat karunia menjadi salah satu istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bahkan menjadi istri beliau yang paling beliau cintai, sampai-sampai tatkala beliau meninggal dunia, beliau menghembuskan nafas akhirnya di pangkuan Aisyah radhiallahu anha.
INNA LILLAAHI WA INNA ILAYHI ROOJI’UN… Kapan Di Sunnahkan Membacanya?
Kajian.
Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilayhi Rooji’uun
Ketika menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.”
Kata-kata إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” inilah, dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini, bahwa mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu (amalan baik) yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kata-kata itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan penjagaan bagi orang-orang yang sedang diuji. Karena kata-kata itu mengandung makna yang penuh berkah.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (إِنَّا لِلَّهِ) ini mengandung nilai tauhid dan pengakuan penghambahaan diri, dan di bawah kepemilikan Allah.
Sedangkan firmanNya (وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) mengandung makna pengakuan terhadap kehancuran yang akan menimpa manusia, dibangkitkan dari kubur, serta keyakinan bahwa segala urusan kembali kepada Allah.
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
“(Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya)”.
Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Dzat yang mengatur alam semesta ini.
Kata Imam al Qurthubi rahimahullah : “Ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud “shalawat” dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata “rahmat” diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan”.
Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah (ampunan). Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“(dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk)”.
Disamping karunia yang telah disebutkan, mereka juga termasuk golongan orang-orang muhtadin (yang menerima hidayah), berada di atas kebenaran. Mengatakan ucapan yang diridhai Allah, mengerjalan amalan yang akan membuat mereka menggapai pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam konteks ini, yaitu keberhasilan mereka bersabar karena Allah.
Ayat ini menunjukkan pula balasan bagi orang yang tidak mampu bersabar. Yaitu akan mendapat balasan dalam bentuk celaan, hukuman dari Allah, kesesatan dan kerugian.
Ref : http://almanhaj.or.id/content/2881/slash/0/sabar-saat-tertimpa-bencana-meluruskan-aqidah/
Nasihat Tentang Kiamat…
Kajian.
Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata:
“Berapa tahun usiamu?”
Lelaki itu menjawab: “60 tahun.”
Beliau rahimahullah berkata: “Berarti sudah 60 tahun kamu menempuh perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla; dan mungkin saja kamu hampir sampai.”
Lelaki itu menjawab:
“Inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun”
(Sesungguhnya kita ini milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya)
Maka beliau rahimahullah berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata bahwa “aku milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya;”
Beliau melanjutkan:
Barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya pada hari kiamat.
Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua perbuatannya di dunia.
Barangsiapa yang mengetahui akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya.”
Maka lelaki itu bertanya: “Lantas bagamana caranya untuk menyelamatkan diri ketika itu?”
Beliau rahimahullah menjawab: “Caranya mudah”
Lelaki itu bertanya lagi: “Apa itu?”
Beliau rahimahullah berkata:
“Perbaikilah dirimu pada sisa umurmu, maka Allah Azza wa Jalla akan mengampuni dosamu di masa lalu, karena jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, maka kamu akan disiksa (pada hari Kiamat) karena dosamu di masa lalu dan pada sisa umurmu.”
[Jami’ul ‘Ulumi Wal Hikam” hal. 464]
Ref : http://almanhaj.or.id/content/3365/slash/0/perjalanan-menuju-akhirat/
1317. Mayyit Dimakamkan 1 Minggu Setelah Wafatnya
1317. BBG Al Ilmu – 81
Tanya :
Ustadz, teman ana sekarang domisili di australia (muslim). Ada kerabatnya meninggal, baru bisa di makamkan 1 minggu kemudian karena baru ada tempat untuk di makam kan, bagaimana menurut Islam ?
Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى
Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.
Jika pemakaman tertunda dengan tanpa sengaja maka tidak mengapa dan tidak berdosa, dikarenakan Allah Ta’ala tidak membebani seseorang hamba kecuali apa yang ia mampu.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Sepenggal Nasihat Bagi Yang Belum Berjilbab…
Kajian.
Muhammad Ali.. adalah seorang Muslim dan mantan petinju legendaris dunia yang terkenal dengan gaya bertinju “kupu-kupu”… itulah sosok Muhammad Ali yang selalu dikenal dan dikenang oleh publik.
Namun ada satu lagi fakta dari seorang Muhammad Ali yang mungkin belum banyak diketahui oleh publik yaitu pemahamannya tentang syari’at Islam yang patut diteladani. Berikut ini adalah salah satu kisahnya.
Dalam buku karya salah seorang putrinya, Hana Yasmin Ali, yang berjudul: “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan, Pelajaran kehidupan Muhammad Ali di mata putri-putrinya), Hana menceritakan tentang nasihat yang diberikan Muhammad Ali kepada putrinya mengenai wanita yang shalihah, hikmah mengenakan pakaian jilbab, menutup aurat, perhiasan wanita. Berikut adalah kisahnya ketika putrinya itu tiba di rumah Muhammad Ali mengenakan pakaian yang kurang menutup aurat :
Ketika telah sampai, Pak sopir mengantarkan Laila, adikku, dan aku ke kamar ayah. Seperti biasa, ia bersembunyi di balik pintu untuk mengejutkan kami. Kami saling berpelukan dan saling melepas kerinduan seharian itu. Ayahku memperhatikan kami dengan seksama. Kemudian ia mendudukkanku di pangkuannya dan mengatakan sesuatu yang tak akan pernah kulupakan. Dengan pandangan yang dalam ke kedua bola mataku, ia berkata
“Hana, segala sesuatu yang ALLAH ciptakan dan jadikan berharga di dunia ini SEMUANYA DISEMBUNYIKAN DAN SULIT UNTUK DIJANGKAU. Di mana engkau menemukan permata ? Jauh di dalam tanah, tersembunyi dan terlindungi. Di mana engkau menemukan mutiara ? Jauh di dasar samudera, tertutup dan terlindungi oleh cangkang yang indah. Di mana engkau menemukan emas ? Jauh di dalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis batuan. Engkau harus berusaha keras untuk bisa mendapatkan mereka.” Ia memandangku dengan tatapan serius. “Tubuhmu suci. Engkau lebih berharga dibandingkan dengan permata dan mutiara, dan dirimu (tubuhmu) HARUS DITUTUPI juga.”
Ref : http://www.islamcan.com/islamic-stories/muhammad-alis-advice-to-his-daughters.shtml#.VLMlAHtmNBS
Semoga kita dapat memetik faedah dari kisah diatas, yaitu bagaimana seorang ayah berusaha menasihati dan menjelaskan dengan penuh hikmah, kelembutan dan kasih sayang kepada putrinya tentang ajaran dan perintah dari Allah untuk menutup aurat dan berjilbab.
Perintah mengenakan jilbab diterangkan dalam ayat,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1467), an-Nasa-i (VI/69), Ahmad (II/168), Ibnu Hibban (no. 4020 -at-Ta’liqaatul Hisaan) dan al-Baihaqi (VII/80) dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma).
MAASYA ALLAH… Kapan Di Sunnahkan Membacanya?
Muslimah.or.id
Maasya Allah
Yang satu ini, seringkali penulis dengar dilafalkan bukan pada tempatnya. Masya Allah memiliki makna “Atas kehendak Allah”. Lafadz ini diucapkan ketika kita takjub melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, baik berupa harta, kondisi fisik atau yang lainnya. Dalam surat Al Kahfi, terdapat tambahan,
“Maasya Allah Laa Quwwata Illa Billah”
“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah.”
Lafadz ini juga berkaitan dengan penyakit ‘ain. Dengan melafadzkan “Maasya Allah” ketika kita mengaggumi kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi baik kita sengaja ataupun tidak.
Nah…yang sering menarik pandangan seseorang adalah tingkah dan fisik anak kecil yang menggoda. Pipinya yang lucu, matanya yang nakal dan lain sebagainya. Lalu datanglah pujian dari sanak, saudara atau teman sekitar kita. Namun kita mungkin lupa, bahwa anak juga merupakan anugrah yang dapat terkena ‘ain. Maka, ingatkanlah orang-orang sekitar untuk mengucapkan ‘maasya Allah‘ ketika memberikan pujian kepada anak kita. Begitupula dengan kita sendiri ketika memuji anak atau benda milik seseorang, maka ucapkanlah ‘maasya Allah’ ini.
Ref: http://muslimah.or.id/fikih/lafadz-lafadz-yang-ringan-di-lidah.html
ASTAGHFIRULLAH… Kapan Di Sunnahkan Membacanya?
Muslimah.or.id
Astaghfirullah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Pujian yang paling tinggi adalah “La ilaha illallah“, sedangkan doa yang paling tinggi adalah perkataan “Astaghfirullah.” Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesakan Allah dan memohon ampunan bagi diri sendiri dan bagi orang-orang mukmin.”
Memohon ampunan dengan lafadz ini sunnah diucapkan sebanyak 3 kali setelah selesai salam dari sholat wajib. Kita juga dapat memohon ampunan sebanyak-banyaknya, sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan hal ini. Begitupula dari contoh perbuatan Rasululllah shallallahu’alaihi wa sallam (padahal beliau sudah diampuni dosanya yang telalu lalu dan akan datang). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohn ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)
Kita sebagai wanita juga diperintah untuk memperbanyak istighfar, sebagaimana dalam hadits berikut,
“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka!”
Seorang wanita dari mereka bertanya, “Wahai Rasululllah, mengapa kami menjadi kebanyakan penghuni neraka?”
Beliau menjawab, “Kalian terlalu banyak melaknat dan ingkar (tidak bersyukur) terhadap (kebaikan) suami, aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya bisa mengalahkan lelaki yang berakal kecuali kalian.”
Ia bertanya, “Apa maksudnya kurang akal dan agama?”
Beliau menjawab, “Persaksian dua orang wanita sama dengan seorang laki-laii dan wanita berdiam diri beberapa hari tanpa shalat.”
(HR. Muslim)
Ref : http://muslimah.or.id/fikih/lafadz-lafadz-yang-ringan-di-lidah.html
LAA ILAAHA ILLALLAH… Kapan Di Sunnahkan Membacanya?
Muslimah.or.id
Laa ilaha illallah
Alhamdulillah, kita semua tentu telah melafadzkan ini karena inilah salah satu pembeda antara muslim dengan kafir. Tentu saja pelafalan lafadz laa ilaha illallah harus disertai dengan keyakinan hati dan pemaknaan yang benar, bahwa tidak ada ilah atau sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang lafadz ini dalam haditsnya,
“Sebaik-baik dzikir adalah ada لا اله الا الله (tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah).” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)
Dan sungguh manis ganjaran orang yang yang melafadzkan dzikir ini, sebagaimana dijelaskan oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa mengucapkan laa ilaah illallah, maka ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di Surga.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)
Saudariku tentu juga mengetahui, pernah menjadi tren ‘latah’ yang menyebar di berbagai kalangan. Salah satu ciri latah ini adalah jika seseorang dikagetkan atau terkejut, maka akan keluar kata-kata yang tidak dia sadari. Atau bahkan ia bisa dikontrol oleh orang yang mengejutkannya sehingga berkata-kata atau bertingkah laku yang tidak-tidak. Padahal untuk urusan yang terlihat kecil ini, ternyata telah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz ‘laa ilaha illallah’. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan Muslim IV/22208)
Ref : http://muslimah.or.id/fikih/lafadz-lafadz-yang-ringan-di-lidah.html
