Apabila ada khilafiyah dalam suatu perkara, bagaimana kita menyikapinya ? mana yang kita pilih ?
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Apabila ada khilafiyah dalam suatu perkara, bagaimana kita menyikapinya ? mana yang kita pilih ?
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى
Bismillah. Bershodaqoh kapan pun itu baik, berpahala, dan mendatangkan keberkahan pada rezeki, umur dan keluarga bagi pelakunya jika niatnya ikhlas karena Allah semata dan berasal dari harta dan profesi yang halal, serta disalurkan untuk kepentingan Islam dan muslimin, dan untuk mendukung kegiatan dan program yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Akan tetapi, bershodaqoh pada hari Jumat atau malam Jumat pahala dan keutamaannya lebih utama dan agung dibanding hari-hari selainnya. Hal ini dikarenakan keagungan hari Jumat itu sendiri dibanding hari2 dalam sepekan.
» Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah ketika menjelaskan beberapa keistimewaan hari Jumat, ia berkata:
الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا،
(Keistimewaan Hari Jumat Yang Kedua Puluh Lima):
“Sesungguhnya shodaqoh pada hari Jum’at itu memiliki kelebihan dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Shodaqoh pada hari itu dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan seperti shodaqoh pada bulan Romadhon jika dibandingkan dengan seluruh bulan lainnya. Dan aku pernah menyaksikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, semoga Allah menyucikan ruhnya, jika berangkat menunaikan sholat Jum’at, beliau membawa apa saja yang ada di dalam rumahnya, baik itu roti atau yang lainnya untuk dia shodaqohkan selama dalam perjalanannya itu secara sembunyi-sembunyi.” (Lihat Zaadul Ma’aad I/407).
Demikian Faedah Ilmiyah yg dapat kami sampaikan pd pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Amiin.
Things to ponder upon..
Ternyata hanya 1,5 jam saja kita hidup di dunia ini..
Mari kita baca firman Allah ‘azza wa jalla dalam Al-Qur’an..
1 hari akhirat = 1000 tahun .. (QS. Al-Hajj:47)
24 jam akhirat = 1000 tahun
3 jam akhirat = 125 tahun
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun
Apabila umur manusia itu rata-rata 62-63 tahun, maka kehidupan manusia ini hanyalah 1,5 jam saja dari waktu akhirat. Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.
Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka.
(QS. Fathir:15, An-Nisa:170)
Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah. (QS. Al-Muddaththir:7, At-Thur:48, Az-Zumar:10)
Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dengan sunnah-Nya. (QS. Yusuf:53, Al-Ahzab:38)
“Satu Setengah Jam” sebuah perjuangan yang teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridho Allah. (QS.At-Tawbah:72, Al-Bayyinah:8, An-Nisa:114)
Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti. (QS. Al-Hashr:18, Ash-Shura:20, Ali-Imron:148, Al-Qashas:77)
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui..” (QS. Al-Mu’minuun:114)
Semoga bermanfaat..
Sobat..! Orang bersemangat muda banyak ditemukan di masyarakat, namun orang bijak adalah sesuatu yang langka adanya. Kehadiran dan sikapnya sering kali ditentang bahkan dibenci oleh banyak orang.
Di sisi lain, orang orang pandir atau dangkal pikiran dan ilmunya biasanya berada pada barisan terdepan dari barisan penentang orang orang bijak. Mereka menduga bahwa orang orang bijak bersikap aneh, bahkan gila seakan kehilangan akal pikirannya. Walau demikian halnya, orang orang bijak kembali membuktikan kebijakan dan kearifannya kepada semua orang.
Walau dimusuhi dan ditentang, Orang orang bijak tetap saja sabar dan menghadapi segala kondisi dengan ilmu dan kearifannya bukan dengan emosi dan perasaannya. Karena itu, belajarlah untuk bersabar bila menghadapi orang orang berilmu dan pendapat pendapatnya. Bisa jadi saat ini, daya nalar anda belum mampu mengikuti pemikiran mereka, namun percayalah bahwa suatu saat nanti anda akan termanggut manggut karena kagum mengakui betapa dalamnya ilmu dan nalar mereka.
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan harta kepada sekelompok orang, sedangkan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas duduk menyaksikan pembagian tersebut. Betapa terkejutnya sahabat Sa’ad, karena menyaksikan ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memberi seseorang yang menurutnya lebih mulia dibanding orang orang yang mendapat pembagian.
Segera sahabat Sa’ad bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberi si fulan, padahal sungguh demi Allah, aku meyakininya sebagai seorang (mukmin) yang benar benar beriman..?
Rasulullah shallallah alaihi wa sallam menimpali ucapan sahabat Sa’ad dengan bersabda: mungkin yang lebih tepat dia adalah seorang muslim.
Sahabat Sa’ad untuk sesaat terdiam, namun karena tidak kuasa menahan rasa herannya, maka tidak selang berapa lama sahabt Sa’ad kembali mengulang pertanyaannya dan berkata: Wahai Rasulullah, mengapa engkau melewatkan si fulan, padahal sungguh demi Allah, aku meyakininya sebagai seorang (mukmin) yang benar benar beriman..?
Namun, lagi lagi Rasulullah bersabda: mungkin yang lebih tepat dia adalah seorang muslim.
Kembali, Sahabat Sa’ad terdiam sejenak, namun karena tidak kuasa menahan rasa herannya, maka kembali lagi sahabat Sa’ad mengulang pertanyaannya, dan lagi lagi Rasulullah mengulang jawabannya, lalu bersabda:
«يَا سَعْدُ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ فِي النَّارِ» البخاري
“Wahai Sa’ad, sesungguhnya aku memberi harta kepada seseorang padahal orang lain yang tidak aku beri lebih aku cintai dibanding dia ( yang aku beri), karena aku kawatir orang yang aku beri tersebut tersungkur dalam api neraka ( karena lemah imannya, ia menggadaikan imannya demi mencari harta)..” (Riwayat Bukhari).
Ya Allah, karuniakanlah kebijakan dan kearifan kepada para juru dakwah dan ulama’ kami agar dakwah islam ini maju dengan pesat dan persatuan ummat dapat terrajut erat. Amiin.
Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
Bagi para wanita yang memiliki anak kecil/bayi, hampir seluruh waktu yang ada tersita untuk perawatan sang anak/bayi sehingga mengurangi waktu untuk beribadah kepada Allah. Bagaimana menyikapinya ?
Simak jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
MUI Pusat telah menerbitkan buku panduan tentang penyimpangan ajaran syi’ah di Indonesia. Seberapa pentingkah kita mempelajari keburukan syi’ah dan keburukan lainnya pada umumnya ?
Simak jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah Al-Fawzan, حفظه الله تعالى mendapatkan pertanyaan sebagai berikut :
SOAL
Wahai Fadhilatusy-Syaikh, semoga Allah memberi taufik kepada engkau, apakah bilangan ganjil juga dianjurkan pada segala hal yang mubah, seperti minum kopi dan selainnya atau hanya sebatas pada perkara yang ditunjukkan oleh dalil..?
JAWAB
Ganjil pada segala hal itu bagus.
Ganjil pada jumlah batu ketika membersihkan diri dari buang air. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam hanya menggunakan jumlah yang ganjil ketika membersihkan diri dari buang air dengan batu.
Beliau makan kurma basah dengan mengganjilkannya. Demikianlah..
Maka pada seluruh ucapan dan perbuatan bisa mengganjilkannya, itu sunnah.
Itu termasuk dari sunnah, di bejana tempat minum, ketika engkau minum hendaknya bernafas tiga kali. Inilah ganjil, bukan dengan dua kali nafas.
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2370
http://alfawzan.net/fatwa/jumlah-bilangan-ganjil-pada-segala-hal-yang-mubah
Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang istimewa
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“ROBBANAGH-FIRLII WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMININA YAUMA YAQUUMUL HISAAB..” [QS. Ibrohim: 41]
“Ya Robb kami, ampunilah aku, dan kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)..”
PERBANYAKLAH BER-ISTIGHFAR SEPERTI INI, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.
1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.
2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.
3. Dengannya kita akan mendapatkan do’a malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]
4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]
*) Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang memohonkan ampun kepada Allah untuk kaum mukminin dan mukminah, niscaya allah akan mencatat baginya SATU PAHALA DARI SETIAP MUKMIN DAN MUKMINAH..”
( HR. ath Thobroni dan Imam Al Bukhori dalam Adab Mufrod dishohihkan oleh syekh Al Albani )
Bila jumlah orang-orang yang beriman baik yang masih hidup atau yang sudah wafat mencapai 1 milyar, maka Allah akan memberikan 1 milyar pahala SETIAP kali kita ber-istighfar
5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].
6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]
7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]
Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

jangan lupa salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan :
.
▪️memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh) : yaa Hayyu yaa Qoyyuum..
.
▪️lalu membaca sholawat (contoh) : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad..
.
▪️lalu mulailah berdo’a..
Berbagai jenis sosial media kini digunakan untuk dakwah. Bagi mereka yang baru mempelajari agama, bagaimana cara menyikapi dan mengatasi ‘kecanduan’ sosial media ini ?
Simak jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :