Cinta Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam Itu WAJIB

Cinta Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu WAJIB, dan lebih mencintai beliau bukan berarti tidak mencintai para ulama, ataupun orang tua.

======

Hal ini bisa kita simpulkan dari sabda beliau:

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian, hingga aku lebih dia cintai melebihi orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhori dan Muslim].

Hadits ini juga menunjukkan bahwa harus ada derajat CINTA yang berbeda-beda di hati manusia. Dan beliau mengurutkannya sesuai dengan urutan yang semestinya: Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, lalu orang tua, lalu anak, baru orang lain.

Bila mereka sepakat dalam memerintahkan sesuatu, maka itulah yang harusnya dilakukan, contohnya: perintah berbakti kepada orang tua.

Namun bila perintahnya bertentangan, maka di sinilah manfaat mengetahui derajat cinta yang berbeda tersebut, misalnya:

Apabila Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melarang kita untuk membuat perkara yang baru dalam agama, apapun bentuknya.. Lalu ada sebagian ulama atau orang tua menganjurkan untuk melakukan ‘maulid’ yang jelas termasuk perkara yang baru dalam agama.. Maka, manakah yang harusnya kita dahulukan..?!

Jika CINTA kita kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- lebih tinggi, tentu kita akan lebih mendahulukan larangan beliau dan tidak melakukan ‘perayaan maulid’.. dan inilah bentuk cinta yang sesungguhnya.

Sungguh tidak pantas, orang yang melanggar larangannya mengaku mencintai beliau.. Apalagi sampai menuduh orang yang ingin menerapkan larangan beliau dengan tuduhan ‘tidak cinta’ kepada beliau.

Salah seorang penyair mengatakan:

“Jika cintamu itu tulus, tentunya kau telah mentaatinya.. Karena pecinta sejati itu akan mentaati orang yang dicintainya..”

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Bagaikan Lebah

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
Perumpamaan Mukmin bagaikan lebah..
Memakan yang bermanfaat..
Mengeluarkan yang bermanfaat..
Bila hinggap..
Tidak membuat ranting patah..
Tidak pula merusak..
HR Ahmad..

Perumpamaan yang indah..
Lebah memakan yang bermanfaat..

Demikian pula mukmin, ia hanya memakan yang halal dan bermanfaat..

Lebah mengeluarkan manfaat..
Madu..
Propolis..
dan lainnya yang bermanfaat untuk kehidupan manusia..

Demikian pula mukmin..
Ucapannya bermanfaat..
Ilmunya, amalnya, bahkan bercandanya bermanfaat..

Lebah bila hinggap..
Tak membuat kerusakan..

Demikian pula mukmin..
Dimanapun ia berada tak pernah berbuat kerusakan..
Ia selalu memberi warna kebaikan..

Lebah amat suka kebersamaan..
Gotong royong tak kenal lelah..

Demikian pula mukmin..
mereka bagaikan satu tubuh..

Lebah tak pernah kenal putus asa..
Pekerja yang ulet dan gagah berani..
Itulah perumpamaan mukmin yang amat indah..

Akankah lebah lebih baik dari kita..??

Ditulis oleh,
Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Shalat Malam Dalam Keadaan Ngantuk

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Seringkali kita melakukan shalat malam dalam keadaan ngantuk. Apa baiknya jika dalam keadaan capek dan ngantuk, kita memilih istirahat ataukah melanjutkan shalat malam (shalat tahajud)?

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّى فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

“Jika salah seorang di antara kalian dalam keadaan mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang ngantuknya. Karena jika salah seorang di antara kalian tetap shalat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ternyata ia malah mencela dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 212 dan Muslim no. 786).

Ibnu Hajar memberikan faedah untuk hadits di atas, “Hadits di atas menuntun kita untuk khusyu’ dalam shalat dan menghadirkan hati ketika melakukan ibadah. Hadits tersebut juga mengajarkan untuk menjauhi setiap yang dimakruhkan dalam shalat. Juga bolehnya berdoa dengan doa apa pun tanpa mesti mengkhususkan dengan doa tertentu.” (Fathul Bari, 1: 315)

Imam Nawawi juga menjelaskan, “Hadits di atas mengandung beberapa faedah. Di antaranya, dorongan agar khusyu’ dalam shalat dan hendaknya tetap terus semangat dalam melakukan ibadah. Hendaklah yang dalam keadaan ngantuk untuk tidur terlebih dahulu supaya menghilangkan kantuk tersebut. Kalau dilihat ini berlaku umum untuk shalat wajib maupun shalat sunnah, baik shalat tersebut dilakukan di malam maupun siang hari. Inilah pendapat madzhab Syafi’i dan jumhur (mayoritas) ulama. Akan tetapi shalat wajib jangan sampai dikerjakan keluar dari waktunya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata bahwa Imam Malik dan sekelompok ulama memaksudkan hadits tersebut adalah untuk shalat malam. Karena shalat malam dipastikan diserang kantuk, umumnya seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 67-68).

Syaikh Musthofa Al Bugho menyatakan bahwa hadits di atas menjelaskan terlarangnya memaksakan diri dalam ibadah dan bersikap berlebih-lebihan. Jika seseorang berlebih-lebihan dalam ibadah, ia tidak bisa menggapai tujuan, malah dapat yang sebaliknya, yaitu mendapatkan dosa. (Nuzhatul Muttaqin, hal. 88).

Baca selengkapnya :
http://rumaysho.com/shalat/shalat-malam-dalam-keadaan-ngantuk-8430

Belajar Dari Abu Bakar As Shiddiq, Radhiallahu ‘Anhu…

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Semasa hidupnya Umar radhiallahu ‘anhu selalu berharap agar dapat menyaingi Abu Bakar. Hingga suatu hari menjelang perang Tabuk Rasulullah menyampaikan khutbah dan memotivasi sahabat-sahabatnya untuk berinfaq. Mendengar hal itu Umar berkata dalam hatinya, “Hari ini aku pasti dapat mengalahkan Abu Bakar. Umar mempunyai, Diapun membagi hartanya yang terdiri dari emas dan perak menjadi dua bagian, separoh untuk keluarganya dan separoh lagi untuk Allah. Melihat hal tersebut Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu.?
“Aku tinggalkan sebanyak ini juga”, jawab Umar.

Umar duduk sejenak menunggu kedatangan Abu Bakar.
Tiba-tiba datanglah Abu bakar dengan harta yang sangat melimpah lalu meletakkannya di hadapan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.

Melihat hal itu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bertanya: “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu..?
Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”.
Umar lalu menatap Abu Bakar dan berkata:
“Demi Allah.. Aku tidak akan bersaing dengan Abu Bakar lagi setelah hari ini”. ( HR. Tirmidzi )

Ibroh:
Di dalam Al-Qur’an Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya:

“Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”(QS: Ali’ Imran : 133).

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan:

“Ketika suatu kaum mendengar seruan, ”Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan”, juga seruan, ”Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa”, mereka memahami bahwa maksud dari ayat ini adalah, “hendaknya mereka bersungguh-sungguh agar setiap dari mereka menjadi pemenang menuju kemuliaan itu. Maka dahulu, perlombaan mereka pada tingkatan-tingkatan akhirat. Kemudian datanglah sesudah mereka kaum yang berlomba-lomba dalam hal-hal duniawi dengan segala bagiannya yang begitu cepat sirna”. (Lathaaiful maarif).

Dalam surat al Muthaffifiin, tatkala Allah menggambarkan kenikmatan penghuni surga, diakhir ayat ke 26 Dia menegaskan kepada kita agar melakukan perlombaan itu, sebagaimana tertulis:

”Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

”Begegaslah kalian dalam melakukan amal shaleh, sebelum terjadi berbagai fitnah (yang datang) bagaikan potongan-potongan malam gulita” (HR. Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi).

Ayat-ayat dan hadits di atas setidaknya menegaskan kepada kita, bahwa beradu cepat dalam kebaikan, adalah nafas dan naluri kehidupan seorang mukmin.

Kisah diatas juga mengajari kita tentang arti kongkrit kekokohan iman. Seringkali kita menganggap bahwa kitalah yang mengatur hidup ini.

Kita sering lupa bahwa Allah sajalah satu-satunya Pengatur alam semesta dan seisinya.
Kehendak-Nya yang berlaku.
Dan Abu Bakar mengajari kita tentang itu.

Lalu timbul pertanyaan, “Bolehkan kita menginfakkan seluruh harta yang kita miliki di jalan Allah tanpa menyisahkannya sedikitpun untuk keluarga..?

Jawabannya: “Boleh, jika iman kita sama seperti imam Abu Bakar”

Kehidupan Dunia…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du; 

Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang semu, sesuatu yang dirasa nikmat tidak lain adalah cobaan dan ujian, hidup didalam nya adalah beban, perjalanan mengarungi nya sangat terasa cepat, tidak pernah akan lepas dari suka yang lenyap, duka yang datang, angan-angan yang kosong. 

Betapa kasihan orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, di setiap perkara halal nya terdapat hisab dan perhitungan, barangsiapa yang menerjang haram nya mendapatkan siksa, orang yang serakah pada nya ia akan terfitnah, orang yang senantiasa butuh pada nya pasti ia akan merana, barangsiapa yang cinta pada nya akan terhina, barangsiapa yang menoleh pada nya ia akan terlena. 

Allah Ta’ala memberikan suatu gambaran tentang kehidupan dunia dalam firman Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang turun menguyur tanam-tanaman sehingga mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “. ( QS Al Hadid 20 ).

Didalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah memberikan gambaran tentang kehidupan duniawi yang mana para manusia saling berebut dan berkorban untuk nya, banyak yang terfitnah pada nya, digambarkan bahwasanya kehidupan tersebut tidak lebih dari suatu permainan yang tidak menghasilkan kecuali kelelahan, perbuatan sia-sia yang menyibukkan dari perkara yang lebih penting, perhiasan yang tidak akan merubah takdir seseorang, kemegahan yang tidak pernah membahagiakan pemilik nya, dibalik itu semua kehidupan ini sangatlah cepat berlalu, segera berubah dan berpindah, ibarat guyuran air hujan yang menimpa biji-bijian sayuran yang telah ditebarkan oleh para petani, sehingga menjadi tumbuh dan berkembang dengan cepat, lebat, hijau, rimbun, kemudian menguning, layu, dan membusuk.

Hal ini adalah gambaran terang tentang hakikat dunia yang mungkin seseorang berumur puluhan tahun didunia ibarat tumbuhan yang segera layu yang tidak akan bertahan lebih dari satu tahun bahkan separuh nya.

Gambaran cepat berlalu nya kehidupan ini adalah sebagai peringatan agar kita tidak tergiur dan bernafsu untuk menguasai nya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi yang didalam nya tidak pernah terlihat pandangan mata, terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terpikirkan oleh jiwa manusia.

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak akan bermanfaat harta benda dan keturunan, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, hari itu setiap manusia akan lari dari saudara nya, dari ayah dan ibunya, anak dan istrinya, masing masing memiliki urusan yang akan menyibukkan diri nya.

Manusia dalam mengarungi dunia ini terdapat dua kelompok;

Pertama :
adalah orang-orang yang sadar akan nilai kehidupan dunia sehingga ia tidak terlena, tidak menyibukkan urusan dunia dari ketaatan Tuhan nya, tidak menerjang batas dan rambu halal haram nya, ia akan lebih giat berbekal untuk akhirat nya dari dunia nya, orang-orang ini senantiasa takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sehingga surgalah tempat kembalinya.

Kedua :
adalah orang-orang yang tidak kenal Tuhan nya, lalai akan batas dan rambu halal haram nya, mengutamakan dunia memenuhi nafsu dan syahwat nya, dan tidak berharap perjumpaan dengan Sang Pencipta nya, maka sesungguhnya neraka Jahannam merupakan tempat kembali bagi nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupannya itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” ( QS Yunus 7-9 ).

Muhasabah…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du; 

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS Al Hashr 18-19).

Didalam tafsir ayat ini dikatakan, ” Hendaknya setiap jiwa diantara kalian melihat apa yang ia siapkan untuk hari kiamat dari amalan sholih sehingga dapat menyelamatkan atau bahkan keburukan yang akan membinasakan….? 

Imam Qotadah rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memberikan gambaran tentang datangnya hari kiamat dan dinamakan hari esok. Sehingga baiknya hati manusia dengan bermuhasabah, dan buruk nya hati dengan meninggalkan dan menunda-nunda untuk bermuhasabah.” 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Muhasabah ada dua jenis, yaitu sebelum beramal dan sesudah beramal. 

Adapun sebelum beramal, yaitu hendaknya ia menimbang dan berfikir secara mendalam terhadap perbuatan yang hendak ia lakukan, sehingga jelas akan manfaat yang ia dapatkan dari mudhorot yang dihasilkan sehingga sepantasnya untuk ditinggalkan.” 

Al Hassan Al Basry rahimahullah berkata, “Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada seorang hamba berfikir dan merenung tatkala ia menghendaki sesuatu, jika dilakukan karena Allah, maka ia lanjutkan, dan apabila tidak karena Allah Maka ia berhenti.” 

Sebagian Ahli Ilmu memberikan keterangan, “Apabila seseorang tergerak hatinya untuk melakukan suatu amalan maka hendaknya ia menimbang dan mencermati, apakah perbuatan tersebut mampu ia kerjakan atau tidak, sekiranya ia tidak mampu maka hendaknya ia meninggalkan nya, dan sekiranya mampu untuk dilakukan, maka ia berfikir, apakah perbuatannya mendatangkan kebajikan atau keburukan, jika ternyata membawa dampak buruk maka ia tinggalkan, jika membawa manfaat dan mendatangkan kebaikan maka ia menimbang kembali, apakah niat yang mendorong untuk melakukannya adalah karena Allah Ta’ala semata atau karena semata keinginan duniawi dan pujian manusia, jika sekiranya bukan karena Allah Ta’ala maka hendaknya ia meninggalkan nya, dan sekiranya ia mengerjakan perbuatan tersebut karena Allah Ta’ala semata, maka hendaknya ia melihat, apakah perbuatan baik ini membutuhkan penolong dan dilakukan secara bekerja sama atau tidak, sekiranya membutuhkan dan tidak dijumpai rekanan untuk saling bahu membahu maka hendaknya ia menunggu kesempatan hingga ia mendapatkan nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam untuk berjihad di Makkah sehingga memiliki kekuatan yang memadai dan pasukan yang kokoh.

Adapun muhasabah setelah selesai nya suatu amalan, maka disana terdapat tiga bagian;

@. Muhasabah dalam perkara ketaatan yang ia lalai dan terbengkalai sehingga tidak dikerjakan secara maksimal, dan dalam perkara ini mencakup enam perkara, yaitu ikhlas dalam beramal, memurnikan tujuan hanya kepada Allah Ta’ala, mutabaah kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, bertepatan dengan perilaku ihsan, sejalan dengan ridho Allah Ta’ala, dan senantiasa melakukan koreksi diri.

@. Muhasabah dalam perkara yang sekiranya ditinggalkan lebih utama daripada mengerjakan nya, yaitu suatu perkara fudhuli yang melebihi batas kewajaran, sehingga jikalau perkara tersebut dihindari dan dijauhi niscaya lebih utama dan sempurna.

@. Muhasabah dalam perkara perkara yang mubah.

Beratnya Ilmu Agama…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Hilal bin ‘Alaa’ mengatakan:

“MENUNTUT ilmu (agama) itu berat, MENGHAPALNYA lebih berat dari menuntutnya, MENGAMALKANNYA lebih berat dari menghapalnya, dan menjadi orang yang SELAMAT dengan ilmu agama itu lebih sulit dari mengamalkannya”.

[Alkabair, Adz Dzahabi]

———

Lalu kapan rasa ujub menghinggapi seorang penuntut ilmu, bila dia selalu mengingat pesan ini.

Inilah obat bagi penuntut ilmu agama yg mengeluhkan rasa ujub dlm dirinya.

Do’a Untuk Memperbaiki Urusan Agama, Dunia Dan Akhirat…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa sebagai berikut: “Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin” [Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan!] (HR. Muslim no. 2720). An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab “Berlindung dari sesuatu yang telah diamalkan dan apa-apa yang belum diamalkan”.

Faedah Hadits

  1. Islam adalah benteng yang melindungi seseorang agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan ketergelinciran serta menjaga dari kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu.
  2. Seorang muslim beramal untuk dunianya seakan-akan ia hidup selamanya dan dia beramal untuk akhiratnya seakan-akan ia akan mati besok.
  3. Seharusnya umur panjang seorang muslim dijadikan sebagaimana sarana untuk menambah amalan kebaikan dan ketaatan.
  4. Kematian adalah kebebasan dari segala kejelekan. Maksudnya, boleh jadi seseorang di dunia hidup lama, namun hanya kerusakan yang ia perbuat. Oleh karenanya, kematian itulah yang menyebabkan ia terbebas dari banyak kejelekan.
  5. Karena hidup yang sementara dan kematian yang pasti datang, maka hendaklah setiap hamba memperbaiki ibadahnya dan mengokohkan amalannya, bertawakkal dan selalu meminta tolong pada Allah.

Sebagai renungan !

Dari Abu Bakroh, ia berkata,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang baik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa manusia yang jelek?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya namun jelek amalnya” (HR. Tirmidzi no. 2330 dan Ad Darimi no. 2742, shahih lighoirihi)

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dan bisa diamalkan oleh kaum muslimin sekalian.

**** NB: Silahkan save gambar di bawah yang ukurannya sudah disesuaikan dengan DP BBM.

doa perbaiki urusan agama - bbm

Ref : http://rumaysho.com/amalan/doa-untuk-memperbaiki-urusan-agama-dan-dunia-986

Menebar Cahaya Sunnah