Bersama Yang Ia Cintai…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..
“Seseorang itu bersama yang ia cintai..”
HR Muslim..

Coba tanya..
Selama ini siapa yang kita cintai dan idolakan..
Karena cinta berpengaruh kepada tingkah laku dan keinginan..

Mencintai pemain bola misalnya..
akan menimbulkan keinginan menyerupai dia..
dalam gaya dan tata cara..

Mencintai ulama..
menimbulkan ketaatan..
dan keinginan untuk menyerupai mereka..

Itu di dunia..
Di akhirat ia akan dikumpulkan bersama yang ia cintai..
kalau idolanya fir’aun..
ya lumayan.. berkumpul bersama fir’aun..
makanya..
jangan sepelekan masalah cinta..

Itu berpengaruh untuk dunia dan akhirat kita..

Jika Ada Yang Mengaku Bertemu Nabi Khidlir ‘Alaihissalam… Jangan Dipercaya!

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:

“JIN juga banyak mendatangi manusia di beberapa tempat, dan mengatakan bahwa dia adalah Khidhir, sehingga orang itu meyakini bahwa memang itu Khidlir, padahal dia hanyalah jin.

Oleh karena itu, setan tidak berani mengatakan kepada seorangpun dari SAHABAT NABI bahwa dia itu Khidhir, dan tidak seorangpun dari sahabat Nabi mengatakan bahwa saya telah melihat Khidhir. Namun hal ini hanya terjadi setelah zaman sahabat, dan semakin akhir zamannya, semakin banyak kejadiannya.

Bahkan jin biasa mendatangi kaum yahudi dan nasrani, dan mengatakan bahwa dia Khidhir. Sehingga kaum yahudi punya sinagok yang dikenal dengan Sinagok Khidhir, begitu pula banyak gereja kaum nasrani dikunjungi oleh Khidhir ini.

Dan Khidir yang mendatangi orang ini berbeda dengan khidhir yang mendatangi orang itu, oleh karenanya diantara mereka ada yang mengatakan bahwa setiap wali itu memiliki Khidhir (sendiri-sendiri), padahal sebenarnya itu hanyalah JIN yang bersamanya”.

[Kitab: Annubuwwat, Syeikhul Islam, hal: 1056-1058].

Syeikhul Islam -rohimahulloh- juga mengatakan:

“Tidak ada Sahabat Nabi yang mengatakan bahwa dia didatangi oleh Khidhir, karena sesungguhnya Khidhir (yang bersama) Musa telah WAFAT…

Dan Khidhir yang banyak mendatangi manusia, itu hanyalah jin yang menyerupakan dirinya dengan rupa manusia, atau manusia pendusta.

Dan tidak mungkin itu malaikat dengan perkataannya “saya adalah Khidir”, karena malaikat itu tidak akan berdusta, tapi yang berdusta hanyalah jin dan manusia… dan Para Sahabat Nabi itu LEBIH ALIM untuk digoda dengan tipuan semacam ini”.

[Majumu’ul Fatawa 1/249].

Hutang… Oh Hutang…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy radliyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam duduk ketika diletakkan Jenazah, lalu beliau mendongakkan kepalanya ke atas, kemudian menundukkannya, dan meletakkan tangannya di jidatnya seraya bersabda,

“Subhanallah! Subhanallah! Perkara yang berat apakah yang diturunkan!”

Kami merasa takut dan kamipun diam.
Keesokan harinya aku berkatanya kepada beliau, “Apakah perkara yang berat yang turun itu?”

Beliau bersabda, “Tentang hutang, demi Dzat yang diriku di tanganNya..
Kalaulah seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian hidup lagi kemudian terbunuh lagi kemudian hidup lagi kemudian terbunuh lagi sementara ia mempunyai hutang, IA TIDAK DAPAT MASUK SURGA SAMPAI HUTANGNYA TERBAYAR.”

HR An Nasai.
(Shahih Targhib no 1804).

Inilah Orang Cerdas Yang Sebenarnya

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

1. Bismillah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya).

2. Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan DHO’IF oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).

3. Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Ibnu Hibban).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Potret Tingginya Perhatian Ulama Terhadap NIAT…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Lahham -rohimahulloh- mengatakan:

Suatu saat Syeikh (Ibnu Rojab) menjelaskan kepada kami sebuah masalah, dan dia menjelaskannya dengan panjang lebar (sangat rinci), maka aku pun takjub dengan penjelasan tersebut dan kekuatan ilmunya dalam masalah itu.

Lalu setelah itu, aku masuk dalam majelis yang dihadiri para pemuka berbagai madzhab dan yang lainnya, tapi dia tidak bicara sepatah kata pun (dalam masalah itu).

Maka ketika dia berdiri (dari majelis itu), aku mengatakan kepadanya: “Bukankah kamu telah berbicara dalam masalah itu dengan penjelasan (yang panjang lebar dan sangat menakjubkan)?!”

Dia menjawab: “Aku hanya berbicara dengan pembicaraan yang aku harapkan pahalanya, dan aku takut bicara dalam majelis ini”.

[Dzail Thobaqot Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi, hal 39]

———

Subhanalloh… Ulama dahulu, untuk berkata yang baik saja, masih memikirkan niatnya…

Adapun sebagian orang di zaman ini… Pertama: Mereka bukan ulama tapi menganggap dirinya sebagai ulama…

Kedua: Mereka tanpa segan mengatakan atas nama AGAMA walaupun itu kebatilan…

Ketiga: Seringkali niat dunia melatar belakangi statemen-statemen mereka itu.

Wallohu yahdihim wa yarudduhum ilal haq.

Semoga kita bisa selalu menjaga diri dan NIAT kita dalam setiap gerak dan langkah kita, amin.

Menebar Cahaya Sunnah