Sama Saja…

Renungan.

Sebahagian muslim mengadopsi kalimat “Happy Holixxxx” untuk menggantikan ucapan “Merry Chrxxxxxx” dan “Happy Nxx Yxxx”… Padahal… Tujuan dan spiritnya sama yaitu memberikan ucapan selamat kepada non-muslim yang merayakan hari raya mereka di bulan Desember.

Apakah mereka tidak tahu bahwa di negara barat ucapan “Happy Holixxxx” hanya diucapkan di bulan Desember ? Bukankah itu sudah cukup jelas “Holixxxx” siapa yang dimaksud.

Jika mereka katakan bahwa kalimat “Happy Holixxxx” tidak mengapa karena tidak ada kata-kata “Chrxxxxxx”, maka kami katakan bentuk dan tujuannya tetap sama yaitu memberikan ucapan selamat… hewan babi akan tetap menjadi hewan babi meskipun dipakaikan baju dan diganti namanya menjadi sapi…

Allahul musta’aan…

Menjual Surga Demi Membeli Dunia…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Khutbah Pertama.
Kaum muslimin, sesungguhnya dunia adalah rendah dan fana, adapun akhirat mulia dan kekal. Kita diingatkan oleh ayat-ayat yang mulia dan penuh berkah, maka sungguh beruntung orang yang mendengar dengan seksama nasehat-nasehat yang bermanfaat dan wejangan-wejangan yang mengena. Lalu ia merenungkannya dengan akalnya, memahaminya dengan pikirannya, dan melaksanakannya dengan perkataan dan perbuatannya.

Baca kelanjutan pembahasan di atas yang aslinya merupakan khutbah Jum’at di Masjid Nabawi, diterjemahkan dan ditulis kembali oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

KLIK:
http://firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/843-menjual-surga-demi-membeli-dunia

Setan Merah Di Dada Dan Bangga ?

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Setan itu dihinakan, bukan dibanggakan, bukan didukung. Mari kita ambil pelajaran dari hadits yang membicarakan sujud sahwi berikut.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Jika salah seorang di antara kalian memiliki keragu-raguan dalam shalatnya, ia tidak tahu, apakah sudah melaksanakan shalat tiga ataukah empat raka’at, maka buanglah jauh-jauh keragu-raguan tersebut dan berpeganglah dengan yang yakin. Kemudian lakukanlah sujud sahwi dengan dua kali sujud sebelum salam. Jika shalatnya jadinya lima raka’at, maka sujud sahwi tersebut untuk menggenapkan. Jika shalatnya ternyata sudah sempurna, maka tujuan sujud sahwi adalah untuk menghinakan setan.” (HR. Muslim no. 571).

hadits di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Sudah sepantasnya manusia itu menghinakan dan merendahkan setan. Hal ini untuk menjalankan perintah Allah sebagaimana yang sudah disebutkan dalam hadits ‘sujud sahwi tersebut untuk menghinakan setan’.”

Beliau rahimahullah juga menyatakan, “Menghinakan setan dan para pendukungnya termasuk perkara yang dicintai oleh Allah Ta’ala.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Maram, 4: 61-62)

Nah kalau ada yang bangga dengan lambang setan merah di dadanya, sungguh jauh dari apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Setan itu dihinakan, bukan diagungkan dan dibela.

Selengkapnya:
http://rumaysho.com/aqidah/muslim-kok-bangga-dengan-setan-merah-9804

Temanmu… Agamamu

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman..
“Pada hari orang zalim menggigit dua tangannya.. seraya berkata: andaikan aku mengambil jalan bersama Rasul.. aduh.. andai aku tidak menjadikan fulan sebagai teman dekatku.. sungguh.. ia telah menyesatkan aku dari peringatan.. padahal peringatan itu telah datang kepadaku..”
(Al Furqan : 27-29)

Itulah penyesalan penduduk neraka.
Penyesalan yang sudah tak berguna..
Renungkanlah ayat ini..
Pilah dan pilihlah siapa temanmu..

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Seseorang itu di atas agama temannya.. hendaklah ia melihat.. dengan siapa ia berteman..”
(HR Abu Dawud)

Sakitnya Terasa Di Hati – Bag 2- Anda Marah Karena Allah?

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Marah adalah pekerjaan yang mudah, tinggal melampiaskan isi hati, apakah dengan perbuatan, atau ucapan, atau dengan tulisan. Terlebih lagi tatkala marah tersebut timbul karena hati kita yang tersakiti…apalagi disakiti oleh orang yang dekat…, apalagi disakiti oleh orang yang kita sangat cintai…!!

Ternyata orang yang marah itu ada 4 model, ada yang terbaik dan ada yang terburuk…

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَالنَّاسُ فِي الْبَابِ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ: مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَصِرُ لِنَفْسِهِ وَلِرَبِّهِ وَهُوَ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ دِينٌ وَغَضَبٌ. وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَنْتَصِرُ لَا لِنَفْسِهِ وَلَا لِرَبِّهِ وَهُوَ الَّذِي فِيهِ جَهْلٌ وَضَعْفُ دِينٍ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَقِمُ لِنَفْسِهِ؛ لَا لِرَبِّهِ وَهُمْ شَرُّ الْأَقْسَامِ. وَأَمَّا الْكَامِلُ فَهُوَ الَّذِي يَنْتَصِرُ لِحَقِّ اللَّهِ وَيَعْفُو عَنْ حَقِّهِ

“Manusia dalam hal ini (marah dan membela) ada 4 golongan,

(1) diantara mereka ada yang membela dirinya dan membela Robnya, yaitu orang yang memiliki agama (yang kuat) disertai kemarahan,

(2) diantara mereka ada yang tidak membela dirinya dan tidak pula membela Robnya, dan ia adalah orang yang jahil dan lemah agamanya,

(3) diantara mereka ada yang membela dirinya sendiri, bukan untuk membela Robnya, dan ini adalah golongan yang terburuk.

(4) Adapun yang sempurna adalah orang yang membela hak Robnya dan memaafkan yang berkaitan dengan haknya” (Majmuu’ Al-Fataawa 30/369)

Nah…, sekarang coba renungkan, termasuk golongan manakah kita?. Ada orang yang marah atau membantah dengan mengatas namakan agama…, seakan-akan ia sedang membela dan memperjuangkan sunnah…, akan tetapi ternyata ia sedang membela dirinya sendiri, sedang tidak ingin pamornya jatuh…mengharuskan ia untuk membantah, marah, dan bila perlu mencaci lawannya. Dan ini adalah termasuk golongan yang terburuk –sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah diatas-.

Seseorang bisa merasakan perbedaan antara marah karena Allah ataukah marah karena pribadi namun dibungkus dengan “karena Allah”.

Orang yang marah karena Allah, berarti ia telah melakukan ibadah yang mulia, maka setelah ia melakukan ibadah tersebut maka pasti ia akan merasakan tambahan iman, tenangnya hati, lebih khusyuk sholatnya dan tilawah al-Qur’annya. Karena ini semua adalah dampak positif dari beribadah kepada Allah, diantaranya adalah “marah karena Allah”.

Berbeda jika seseorang marah karena hawa nafsunya dan bukan karena Allah, dan ia sengaja membungkus kemarahannya dengan “karena Allah’, maka setelah ia melakukannya ia akan merasakan sesaknya hati, sholatpun tak khusyuk, sulit untuk menangis karena hati telah membatu.

Contoh sederhana, adalah ghibah, perbuatan yang terkadang merupakan dosa besar, namun terkadang menjadi ibarat jihad. Para ulama yang sering membicarakan dan membantah ahlul bid’ah –seperti Al-Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, dll-, maka kalau kita membaca tentang ibadah mereka, tentang kekhusyu’an mereka, maka sungguh kita mendapatkan keajaiban tentang khusyuknya ibadah mereka. Padahal mereka sedang berghibah ria, akan tetapi ghibah yang mereka lakukan dan  mereka torehkan dalam tulisan-tulisan mereka adalah jihad di jalan Allah, untuk membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bandingkan dengan diri kita atau sekelompok saudara kita yang berghibah –dengan berdalih membela agama Allah- ternyata ghibah tersebut adalah hanya dibangun di atas dugaan, hasad, meningkatkan pamor, demi membela harga diri sendiri, dan sebab-sebab dunia lainnya. Maka hasilnya, kepala menjadi pening, hati menjadi keras dan membatu, sulit untuk meneteskan air mata, dll. Wallahul Musta’aan.

Yang merupakan ujian terberat adalah tatkala seseorang dirinya dizolimi oleh orang lain dan sekalian juga orang tersebut juga melakukan kemungkaran. Maka yang terbaik –sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah diatas- yaitu ia marah karena hak Allah, dan ia memaafkan orang tersebut yang berkaitan dengan hak pribadinya. Disinilah teruji keikhlasan seseorang…tuduhan dan celaan yang mengenai dirinya ia maafkan dan ia hanya marah dalam rangka membela hak Allah. Hal ini tidaklah mudah…bahkan sangatlah sulit…terlebih lagi “..sakitnya terasa di hati …”!!. Marah karena Allah begitu mudah tercampur dengan marah karena urusan pribadi. Hanya orang yang ikhlas dan bisa menata hatinya yang bisa selalu membedakannya…

Bila Kita Menemukan Air Namun Tidak Tahu Apakah Air Itu Suci Atau Najis, Bolehkah Kita Menanyakannya ?

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc, حفظه الله تعالى

Bila kita mendapatkan air namun kita tidak tahu apakah air tersebut suci atau najis, apa yang kita lakukan menurut qaidah fiqih ? Bolehkah kita mencari tahunya ?

Simak jawaban Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc, حفظه الله تعالى  berikut ini:

Syi’ah Rofidhoh Adalah Manusia Paling Pendusta Di Muka Bumi

Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

Bismillah. Berdusta adalah termasuk dosa besar yang membinasakan dan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, karena ia merupakan salah satu ciri dan sifat orang munafik.

Sebesar-besar kedustaan adalah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Golongan orang munafik yang paling berani berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang menganut agama Syi’ah Rofidhoh, La’natullahi ‘Alaihim. Oleh karenanya, mereka lebih berani untuk berdusta kepada manusia terlebih khusus kepada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

» Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Para ulama Islam telah sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa Rofidhoh (Syi’ah) adalah kelompok paling pendusta. Dan kedustaan pada mereka sudah ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama Islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” (Lihat Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, I/59).

» Ibnu Taimiyah rahimahullah juga  mengatakan, “Pokok-pokok dasar dari bid’ah orang-orang Syi’ah Rofidhoh adalah kekufuran mereka yang tersembunyi dan penyekutuan kepada Allah. Kedustaan adalah hal biasa bagi mereka, bahkan mereka sendiri mengakuinya, dengan mengatakan bahwa agama kami adalah taqiyyah, yaitu ucapan seseorang dengan lisannya yang bertolak-belakang dengan keyakinannya. Inilah kedustaan dan kemunafikan, mereka dalam hal ini seperti ucapan pepatah, “Melempar orang lain tapi kena dirinya sendiri.” (Lihat Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, I/68).

» Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Maka dalil-dalil itu bisa dalam bentuk dalil naqli (berupa ayat Al-Quran dan Al-Hadits) dan bisa dalam bentuk dalil akal. Dan kaum Syi’ah mereka adalah manusia paling dusta dalam penukilan dan manusia paling bodoh dalam pendalilan dengan akal”. (Lihat Al-Muntaqo Min Minhaj Al-I’tidal hal.18).

» Yazid bin Harun berkata: “Bisa diterima riwayat seorang pelaku bid’ah, selama tidak mengajak kpd kebid’ahannya, kecuali (kelompok Syi’ah) Rofidhoh, selamanya tidak bisa diterima riwayatnya dikarenakan mereka pendusta.”

» Syarik bin Abdillah mengatakan, “Saya menimba ilmu (hadits) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali orang Rofidhoh (Syi’ah). Karena mereka suka memalsukan hadits Nabi dann menjadikannya sebagai aturan agama.” (Lihat Tadribur Rowi karya As-Suyuthi I/327).

» Asyhab (ulama Malikiyah) mengatakan, “Imam Malik pernah ditanya tentang orang-orang Rofidhoh (Syi’ah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”

» Harmalah (murid Imam Asy-Syafii) mengatakan, “Saya mendengar As-Syafi’i mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi Rofidhoh (Syi’ah).” (Lihat An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah karya Az-Zarkasyi, III/399, dan Tadribur Rowi karya As-Suyuthi I/327).

» Muhammad bin Hazm dalam kitabnya tentang aliran-aliran dan kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada islam mengatakan, “(Kelompok Syi’ah) Rofidhoh adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis dengan Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Lihat Al-Fisholu Fi Al-Milal wa Al-Ahwa’ wa An-Nihal, Ibnu Hazm I/176).

Demikian perkataan para Ulama Sunnah tentang penganut agama Syi’ah Rofidhoh yang paling pendusta di muka bumi ini. Semoga Allah melindungi kita dari kedustaan dan kemunafikan mereka. Dan semoga kita selalu istiqomah di atas Aqidah Tauhid dan As-Sunnah hingga akhir hayat.Amiin.

Bila Istri Tidak Bersedia Di Ajak Pindah Luar Kota

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Tanya :
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, ustadz, gimana hukumnya bila istri tidak mau diajak suaminya menemaninya di luar daerah, dimana suaminya bekerja, maaf sekalian kalau ada hadistnya.
Terima kasih Ustadz
Baarakallahu fiykum

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Pada dasarnya seorang istri wajib taat dan patuh terhadap perintah dan ajakan suaminya, baik dalam perkara-perkara agama yang hukumnya wajib, sunnah, maupun dalam hal-hal yang bersifat mubah seperti suami mengajaknya makan bersama di luar rumah, jalan-jalan ke luar kota untuk refreshing, atau menemaninya di tempat kerjanya.

» Hal ini dikarenakan kedudukan suami dalam agama Islam sangat tinggi, sehingga dalam suatu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لو كنت آمرا لأحد أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها

“Lau Kuntu Sampurno Ahadan An Yasjuda Li Ahadin La-Amartul Mar’ata an Tasjuda Li Zaujiha”

Artinya: “Kalau sekiranya aku (diizinkan Allah) memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri agar sujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

» Dan dalam hadits yang lain, beliau bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad).

Hadits-hadits ini menunjukkan betapa wajibnya seorang istri melayani, menghormati dan mentaati suami dalam setiap kebaikan.

» Dengan demikian, seorang istri jika menolak ajakan suaminya untuk menemaninya bekerja di luar kota tanpa alasan syar’i apapun, dan tanpa alasan yang dapat diterima secara akal, maka ia telah berbuat dosa karena meninggalkan kewajiban taat dan patuh kepada suami. Dan ini termasuk kedurhakaan kepada suami yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.

» Adapun jika istri menolak ajakan suaminya dan tidak bersedia menemaninya pergi ke luar kota di tempat kerjanya karena adanya alasan-alasan syar’i seperti sakit berat yang menyulitkannya pergi jauh, atau lingkungan di sekitar tempat kerja suami sangat buruk yang bisa mengkhawatirkan akan merusak agama dan akhlak dirinya dan keluarganya, dan alasan selainnya, maka ia tidak berdosa dan bukan termasuk bentuk kedurhakaan kepada suami. Bahkan sudah semestinya seorang suami memaklumi dan menyayanginya serta tidak mengajaknya secara paksa pergi ke luar kota karena adanya alasan-alasan syar’i tersebut.

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

Menebar Cahaya Sunnah