Meraih Keutamaan Zakat, Infaq Dan Shodaqoh

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Membayar Zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqoh merupakan ibadah agung yang memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat banyak bagi pelakunya di dunia dan di akhirat, di antaranya:

(1) KEUTAMAAN PERTAMA:
Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang baik yang akan menjadi penghuni Surga.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19).

(2) KEUTAMAAN KEDUA:
Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak diberi rahmat (kasih sayang dan kebaikan) oleh Allah Ta’ala.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. (QS. At-Taubah: 71).

(3) KEUTAMAAN KETIGA:
Orang yang membayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan harta (zakat)nya akan ditumbuh kembangkan oleh Allah.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah: 276).

» Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji Kurma dari penghasilan yang baik (halal) –dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal)-, maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Al-Bukhari II/511 no.1344, dan Muslim II/702 no.1014).

(4) KEUTAMAAN KEEMPAT:
Membayar Zakat merupakan salah satu sebab dihapuskannya kesalahan dan dosa.

» Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

Artinya: “Dan sedekah itu dapat menghapuskan dosa (kesalahan) sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi V/11 no.2616, dan Ahmad V/231 no.22069).

(5) KEUTAMAAN KELIMA:
Membayar Zakat akan mensucikan harta dan jiwa pelakunya, menumbuh-kembangkan harta (Zakat)nya, dan menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki. Dan yang jelas berkahnya akan melimpah.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

» Dan diriwayatkan dari Abu Gharzah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada para pedagang dengan sabdanya:

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ الْحَلِفُ وَاللَّغْوُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

Artinya: “Wahai para pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah oleh karena bersihkanlah ia dengan shadaqah.” (HR. Ahmad IV/6 no.16179, Nasai VII/14 no.3797, dan Ibnu Majah II/726 no.2145. Dan dinyatakan Shahih oleh syaikh Al-Albani).

» Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya: “Sedekah (atau Zakat) itu tidak akan mengurangi harta benda.” (HR. Muslim IV/2001 no.2588).

(*) KEUTAMAAN KEENAM:
Membayar Zakat merupakan sebab datangnya segala kebaikan. Sedangkan meninggalkan kewajiban Zakat akan mendatangkan keburukan dan menyebabkan terhalangnya
kebaikan-kebaikan.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

Artinya: “Dan tidaklah mereka meninggalkan kewajiban (membayar) zakat harta benda mereka melainkan hujan tidak akan diturunkan kepada mereka. Kalau sekiranya bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan (yakni mereka ditimpa kekeringan, pent).” (HR. Ibnu Majah II/1332 no.4019, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.105).

(*) KEUTAMAAN KETUJUH:
Orang yang membayar Zakat (atau mengeluarkan infaq dan sedekah) dengan niat ikhlas karena Allah akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.

» Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ, وذكر فيه :… وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ …

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari (Kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari I/234 no.629, dan Muslim II/715 no.1031).

Maksudnya bersedekah dan berinfaq secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh orang lain, sehingga lebih mudah untuk ikhlas dan jauh dari riya’.

(*) KEUTAMAAN KEDELAPAN:
Membayar Zakat, infak/sedekah dapat mencegah & mengobati
berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shodaqoh.” (Shohih At-Targhib wa At-Tarhib).

» Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya:

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Jika engkau ingin melunakkan hatimu, maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad II/263 no.7566, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, namun hadits ini dinyatakan Dho’if (lemah) oleh syaikh Syu’aib Al-Arnauth karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang majhul (tidak jelas identitasnya)).

(*) KEUTAMAAN KESEMBILAN:
Orang yang berinfaq/bersedekah akan didoakan kebaikan oleh malaikat setiap hari.

» Hal ini bedasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Artinya: “Tidaklah seorang hamba berada pada suatu hari melainkan akan turun dua malaikat yang salah satunya mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan”, dan malaikat yang lain mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah pada orang yang bakhil/kikir kebinasaan (pada hartanya).”. (HR. Bukhari II/522 no.1374, dan Muslim II/700 no.1010, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

(*) KEUTAMAAN KESEPULUH:
Membayar Zakat, Shodaqoh/infaq merupakan indikasi kebenaran iman seorang hamba.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

Artinya: “Shodaqoh merupakan bukti (keimanan).” (HR.Muslim I/203 no.223).

(10) KEUTAMAAN KESEPULUH:
Mengeluarkan Zakat, infaq & shodaqoh dapat melindungi pelakunya dari siksa api neraka.

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

» Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau bersabda: “Wahai kaum wanita, bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka…”. (HR.Bukhari)

(11) KEUTAMAAN KESEBELAS:
Membayar Zakat, Shodaqoh dan infaq merupakan bukti kebenaran iman seorang hamba.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

Artinya: “Shodaqoh merupakan bukti (keimanan).” (HR. Muslim)

(12) KEUTAMAAN KEDUA BELAS:
Menunaikan Zakat, shodaqoh dan infaq merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup kaum fakir miskin.

(13) KEUTAMAAN KETIGA BELAS:
Menunaikan Zakat, shodaqoh dan infaq bisa mengurangi kecemburuan sosisal, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah pada umumnya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jika harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.

(14) KEUTAMAAN KEEMPAT BELAS:
Membayar zakat, infaq dan shodaqoh berarti memperluas peredaran harta benda/uang. Ini karena ketika harta dibelanjakan, maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil manfaat.

Demikian keutamaan Zakat, shodaqaoh dan infaq. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, dan semakin memotivasi kita untuk mengamalkannya. Amiin.

Nasehat Ulama : Tips Mendidik Anak Tentang Aqidah Yang Lurus

Muslimah.or.id

السؤال: ‎

كيف نعلم أبناءنا العقيدة الصحيحة

الجواب: تدريسهم كتب العقيدة الصحيحة وهي كثيرة ولله الحمد وميسورة، إن كنت من ‎العلماء تدرسهم أنت إياها، وإن كنت لست من العلماء تختار لهم مدارس طيبة أو مدرسين ‎طيبين يحفظونهم هذه العقائد ويشرحون لهم ويبينون لهم.‎

Pertanyaan:

Bagaimana cara kita mengajarkan kepada anak-anak kita tentang aqidah yang benar?

Syaikh Sholih Al Fawzan -hafidzahullaahu- menjawab:

Ajarkanlah kepada mereka kitab-kitab aqidah yang benar (lurus), dan kitab sejenis ini banyak jumlahnya, mudah diperoleh, alhamdulillah. Jika anda adalah seorang ulama, maka ajarkanlah sendiri kitab-kitab tersebut. Namun jika anda bukan seorang ulama, pilihkanlah bagi mereka sekolah-sekolah yang baik, atau pengajar-pengajar yang baik, yang (membantu) mereka untuk menjaga mereka dengan aqidah benar tersebut, menjelaskannya, dan menerangkannya kepada mereka.

—–

Sumber:
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14660

Diterjemahkan oleh tim muslimah.or.I’d

Ref: http://muslimah.or.id/nasehat-ulama/tips-mendidik-anak-tentang-aqidah-yang-lurus.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Emang Gua Pikirin…!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى

Emang gua pikirin…!

Mungkin ucapan di atas telah menjadi slogan dan peta pikiran sebagian kita. Ucapan yang memancarkan akan sikap acuh tak acuh, egois alias “ndableg”, hanya mikir diri sendiri. Segala urusan hanya ia ukur dengan dirinya sendiri. Apapun urusannya, asal ia suka, bisa atau terbiasa maka tanpa ragu sedikitpun ia makukannya.

Masalah orang lain celaka atau paling kurang tidak suka maka itu sama sekali tidak mereka pikirkan.

Bisa anda bayangkan, betapa susahnya hidup anda bila memiliki pasangan hidup, teman, tetangga, guru atau murid yang bersikap semacam itu.

Sebagai contoh: Bila imam di masjid anda memiliki sikap dan cara pikir semacam itu, tentu jamaahnya ditimpa banyak masalah. Ia sholat sesukanya, memanjangkan, memendekkan menunda dan menyegerakan sholat semaunya. Semua itu ia lakukan hanya mempertimbangkan dirinya tanpa sedikitpun peduli dengan kondisi jamaahnya.

Imam itu hanya berpikir: ah saya saja kuat untuk sholat puanjaaang, masak kalian tidak kuat? Ego banget

Anda ingin tahu, bagaimana pola pikir dan sikap Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika menjadi imam? Temukan jawabannya pada riwayat berikut:

إني لأقوم في الصلاة أريد أن أطول فيها، فأسمع بكاء الصبي فأتجوز في صلاتي، كراهية أن أشق على أمه

“Sungguh kadang kala ketika shalat, aku hendak memanjangkan shalatku, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka akupun memendekkan sholatku kawatir aku memberatkan ibu anak kecil yang menangis tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam dakwah juga demikian, juru dakwah yang ego bagaikan katak dalam tempurung akan bersikap serupa. Ia akan berkata: saya saja sudah tahu masak kalian belum? Saya saja bisa masak kalian tidak bisa? Saya saja sudah paham masak kalian belum paham? ….. Ego dan sarat dengan kesan sombong.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering kali mengurungkan niatkan atau melakukan sesuatu hanya karena mempertimbangkan daya nalar, kemampuan ummatnya. Bahkan bukan sembarang orang, ummatnya yang masih lemah iman dan pemahaman yang beliau jadikan pertimbangan dalam mengambil tindakan.

Anda tidak percaya? Renungkan hadits berikut:

لولا أن قومك حديث عهد بجاهلية لهدمت الكعبة وجعلت لها بابين

“Kalaulah bukan karena kaummu (quraisy) yang baru masuk islam dan meninggalkan kekafirannya, niscaya aku memugar Ka’bah dan aku buat memiliki dua pintu.” ( Abu Dawud dll)

Andai beliau bersikap ego, dan berkat Quraisy sudah kalah perang, kenapa masih ditakuti?

Ketahuilah; bukan karena takut kepada Quraisy, namun beliau kawatir bila quraisy salah memahami pemugaran Ka’bah dan akhirnya murtad kembali.

Jalan Keselamatan Untuk AGAMA Kita

AMBILLAH agama Anda dari Alqur’an dan Assunnah, dan PAHAMILAH keduanya sesuai pemahaman para sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Kembalikanlah praktek agama Anda kepada zaman Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau -rodhiallohu ‘anhum-.

Lalu TINGGALKAN perdebatan dengan orang yang menentangnya, karena biasanya orang seperti itu hanya ingin menggoyahkan Anda dari jalan Anda yang sudah lurus dan benar.

Suatu saat Hasan Bashri -rohimahulloh- didatangi seseorang dan dia mengatakan: “Aku ingin berdebat denganmu dalam urusan agama..”

Maka beliau mengatakan kepadanya: “Aku sudah tahu agamaku. Jika agamamu hilang darimu, maka pergi dan carilah dia..!”

[Syarhus Sunnah, Albarbahari, hal 126]

Dan jika Anda dipusingkan dengan retorika mereka, maka katakanlah:

“Jika memang konsekuensi yang kamu sebutkan benar, maka konsekuensi dari sebuah kebenaran adalah benar… Tapi jika konsekuensi yang kamu sebutkan salah, maka tidak ada gunanya perdebatan ini..!”

[Mukhtashor Showaiq Mursalah, lbnul Qoyyim, hal: 471]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Gurindam Tentang Kesesatan Rafidhah

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Sungguh mulia siapa terjaga
Dari kelamnya Rafidhah durjana

Mengaku Ali titisan Tuhan
Jibril khianat sampaikan pesan

Agama buatan manusia terlaknat
Abdullah bin Saba’ si Yahudi pengkhianat

Pembawa fitnah penumpah darah
Penyebab Utsman tewas di rumah

Bila Rafidhah dustakan Quran
Jadilah Syetan sebagai pimpinan

Bila Sunnah tiada dihirau
Syiah gembira agamapun kacau

Bila Abu Bakar dan Umar dihina
Runtuhlah Islam jangan ditanya

Bila Aisyah dan Hafsah dicerca
Nabi Mulia ikut tercela

Bila mut’ah jadi syariat
Pastilah Aids melanda masyarakat

Bila taqiyyah pilar agama
Dusta dan nifaq jadi idola

Bila Husein dijadikan berhala
Alamat akhirat jadi merana

Bila sahabat dianggap kafir
Runtuhlah hadis tak dapat dipungkir

Bila Ka’bah tiada diziarah
Jadilah Karbala tempat berhaji berumrah

Bila suka darah Sunni bersimbah
Itulah ciri agama Syiah Rafidhah

Bila Syiah di negeri ini subur
Tunggulah NKRI segera kan hancur

Sakitnya Terasa Di Hati – Bag 1 – Beratnya Memaafkan

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Dizolimi merupakan perkara yang menyakitkan, sakitnya sampai di hati…sementara tabi’at manusia adalah enggan memaafkan dan ingin melampiaskan dendam terhadap orang yang menyakitinya. Jika ia telah melampiaskannya maka iapun puas dan lega. Akan tetapi syari’at yang indah ini menganjurkan kita untuk memaafkan, meskipun terasa sangat berat.

Diantara hal yang membuat susah untuk memaafkan adalah persangkaan bahwa jika ia memaafkan maka:
(1) haknya akan hilang dan
(2) ia akan jatuh terhina serta
(3) akan meninggikan derajat orang yang menzoliminya, ini semua persangkaan secara lahiriah. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Tidaklah seorang hamba memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya” (HR Muslim no 2588)

Memang Allah tidak melarang untuk membalas kejahatan dan kezoliman dengan balasan setimpal, akan tetapi memaafkan lebih baik. Allah berfirman :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS 42:40)

Pahala orang yang memaafkan atas tanggungan Allah, ini menunjukkan besarnya pahala memaafkan, maka :

–         jika anda membalas maka memang ada kepuasan hati, akan tetapi tidak ada manfaatnya sama sekali di akhirat

–         kalau keburukan selalu dibalas dengan keburukan, maka kapan akan berakhir?

–         pahala minimal memaafkan orang lain adalah diampuni oleh Allah (balasan sesuai amalan), bagaimana lagi dengan pahala yang Allah jamin nanti di akhirat??

Yang lebih hebat adalah bukan hanya memaafkan, akan tetapi bahkan berbuat baik kepada orang yang menyakiti hatimu.

Tentunya jika memaafkan kepada yang jahat saja berat apalagi berbuat baik kepadanya??. Karenanya Allah menyebutkan bahwa hanya orang-orang yang hebat yang mendapatkan keuntungan yang besar yang mampu mengalahkan nafsunya sehingga bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Allah berfirman

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (QS Fushhilat : 34-45)

Marilah kita sama-sama belajar memaafkan…, memang sakitnya tuh di sini…, akan tetapi surga dan ampunan Allah lebih kita sukai dari pada hanya sekedar melampiaskan kemarahan…

Bersambung…

Menebar Cahaya Sunnah