1316. Biaya Haji Dari Hasil Menang Undian

1316. BBG Al Ilmu – 249

Tanya:
Bagaimana hukumnya naik haji dengan hasil undian (menang undian dari maskapai penerbangan) ?

Jawab :
Berkaitan dengan hukum undian yang hadiahnya bisa berupa biaya ibadah haji/umroh, mobil, hp dll, silahkan baca pembahasannya sbb:

http://pengusahamuslim.com/hukum-undian-berhadiah/#.VS265fmUfXo

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Andai Semua Orang Jadi Seperti Aku

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Demikianah kira kira fakta kehidupan kita, saling tarik menarik dan pengaruh mempengaruhi. Siapapun diri anda, biasanya anda merasa bahwa anda adalah orang baik dan anda ingin agar orang lain menjadi seperti anda.

Lebih parah lagi, dalam banyak kesempatan, kita menjadikan diri kita sebagai standar penilaian. Sering kali kita merasa, bahwa kalau saya bisa, berarti semua orang pasti bisa. Dan sebaliknya bila saya tidak mampu berarti semua orang juga tidak mampu.

Lebih jauh lagi, betapa sering kita merasa tidak rela bila ada orang yang lebih baik dari kita. Demikianlah sikap “katak terperangkap dalam tempurung”, yang tanpa kita sadari sering menjangkiti kita.

Kondisi semacam ini bukan hanya berlaku pada urusan dunia dan kekayaan semata bahkan dalam urusan agama juga terjadi. Betapa sering kita yang menyalahkan orang lain hanya karena pengalaman pribadi kita, sudut pandang kita, padahal potensi kita sudah barang tentu berbeda dengan potensi orang lain, sudut pandang orang lain bisa jadi berbeda.

Betapa bijaknya pepatah orang arab yang berkata:
رحم الله امرأً عرف قدر نفسه

“Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya sendiri.”

Sobat! Marilah kita membiasakan diri untuk menyadari bahwa saudara kita memiliki kemampuan dan sudut pandang yang berbeda dari kemampuan dan sudut pandang kita. Selama perbedaan tersebut memiliki alasan yang kuat, mengapa kita tolak dan bahkan kita musuhi?

Sebagai contohnya: dalam urusan makan ikan, bisa jadi anda lebih memilih untuk membeli ikan di pasar, cepat dan praktis. Namun salahkah bila saudara anda lebih memilih untuk pergi ke laut dan memancing ikan sendiri?

Dalam urusan dakwah juga demikian, sah sah saja anda memilih untuk berdiam diri di belakang garis aman, sehingga berdakwah di kalangan sendiri. Boleh boleh saja anda memilih untuk menjauhi setiap pihak yang bersebrangan karena anda merasa tidak mampu untuk memberikan pengaruh. Namun itu tidak cukup sebagai alasan untuk mengharuskan orang lain bersikap yang sama.

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu mengisahkan: dahulu di saat musim haji di padang Arafah, (semasa fase dakwah di Makkah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan diri beliau kepada masyarakat. Beliau berkata kepada mereka:

)أَلاَ رَجُلٌ يَحْمِلُنِى إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِى أَنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّى(

“Adakah lelaki yang sudi membawaku kepada kaumnya, karena sejatinya Quraisy telah menghalang-halangiku dari menyampaikan wahyu Tuhan-ku.” (Abu Dawud dan Lainnya)

Demikianlah, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam agresif menawarkan diri kepada kabilah kabilah yang ada dengan tujuan mendapatkan peluang untuk menyampaikan Islam. Bahkan beliau juga mengutus para sahabat untuk pergi ke berbagai kabilah arab untuk berdakwah. Dan sudah barang tentu kabilah kabilah yang di datangi oleh utusan utusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dalam kondisi musyrik. Namun demikian beliau optmis bahwa bila beliau diberi kesempatan untuk berdakwah, maka segalanya dapat berubah atas izin Allah Azza wa Jalla.

Sobat bisa anda bayangkan! Andai Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya bersikap menjauh, maka siapa yang akan mendakwahi kaum musyrikin kala itu? Bila saat ini anda yang berilmu menjauhi masyarakat hanya karena mereka berbeda dengan anda, maka siapa yang akan mendakwahi mereka?

Dan kalau anda berkilah: saya tidak mau mendatangi mereka karena kawatir saya terpengaruh oleh kebodohan mereka, maka sepenuhnya saya memaklumi dan menerima sikap anda ini. Namun tentu tidak bijak bila kemudian semua orang harus bersikap demikian. Pendek kata, betapa indahnya pepatah di atas:

رحم الله امرأً عرف قدر نفسه

“Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya sendiri.”

Nasehat Bagi Para Penasehat

Asy-Sya’bi rohimahullah berkata :

يُشْرِفُ أَهْلُ الجنة في الجنة على قوم فِي النار فيقولون ماَ لَكُم في النارِ؟ وإِنما كنا نعمل بما تُعَلِّمُوْنَا !، فيقولون : إِنَّا كُنَّا نُعَلِّمُكم ولا نَعْمَلُ بِهِ

“Penghuni surga di surga melihat sebuah kaum di neraka, maka penghuni surga berkata kepada mereka, “Kenapa gerangan kalian di neraka..? padahal kami dahulu beramal sholeh dengan apa yang kalian ajarkan kepada kami..!”

Maka kaum penghuni neraka berkata, “Kami dahulu mengajari kalian akan tetapi kami tidak mengamalkan apa yang kami ajarkan..”

(Kitab Az-Zuhud karya Al-Imam Ahmad hal 369)

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Awas! Ada Setan Di Sisi Anda…..Hii

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! Bayangkan di tengah malam yang sunyi senyap dan gelap gulita, hujan turun rintik rintik, tiba tiba anda terjaga dari tidur. Anda berusaha untuk tidur kembali namun ternyata mata anda seakan enggan untuk dipejamkan, akibatnya anda gelisah.

Atau barangkali anda sedang asyik berselancar di dunia maya membuka buka situs yang memajang gambar “toples” atau “ayam kampus”.

Dalam kondisi semacam itu, tiba tiba anda mendengar suara seseorang yang memanggil anda: “fulaaan, engkau susah tidur ya? Fulan, apa yang engkau tonton? Fulan, segera lakukan ini dan itu, pikirkan ini dan itu ….”

Anda penasaran dengan suara itu, sehingga anda menoleh ke kanan atau kekiri, untuk mengetahui siapakah yang memanggil anda. Namun anehnya, walau lampu di kamar anda terang benderang, ternyata tak seorangpun ada di kamar anda selain anda sendiri.

Walau demikian, bisikan suara itu tetap saja terdengar oleh anda, bahkan semakin banyak kata kata yang anda dengar dan seakan semakin keras.

Sobat, kira kira apa yang anda lakukan bila mengalami kondisi semacam ini? Anda menjerit meminta pertolongan? Atau anda segera melarikan diri keluar kamar untuk meminta pertolongan? Ataukah anda akan segera kembali ke kasur anda untuk meneruskan tidur anda? Atau melanjutkan perselancaran anda di dunia maya?

Mungkin anda berkata: aduuh, kok ustadz nakut nakuti saya siih! Ngerii, takuut, hiiiii……..sereeem

Sobat! Tahukah anda bahwa sejatinya kondisi tersebut benar benar telah anda alami dan akan terus anda alami.

Anda tidak percaya? simak sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

{ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الملائكة وقرينه من الجن. قالوا: وإياك يا رسول الله قال: وإياي إلا أن الله أعانني عليه فأسلم وفي رواية فلا يأمرني إلا بخير}

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali ia didampingi selalu oleh qariin (teman dekat) dari bangsa Malaikat dan qariin dari bangsa jin.”

“Spontan para sahabat bertanya: apakah engkau juga demikian ya Rasulullah? Beliau menjawab: termasuk aku, hanya saja Allah menolongku, sehingga pendampingku (dari bangsa jin) masuk islam, dan ia tiada membisikkan kepadaku kecuali kebaikan.” (Muslim)

Sobat! Sadarkah anda apa yang selama ini terjadi pada diri anda? Selama ini Betapa sering dan betapa banyak anda hanyut dalam bisikan setan, terlebih lagi di saat anda berada di tempat sunyi atau jauh dari keramaian orang.

Ketahuilah bahwa ide ide nakal yang terdengar oleh batin anda sejatinya adalah seruan seruan setan. Masihkah anda merasa aman dari gangguan setan di saat anda dalam kesunyian? Adakah anda masih merasa bahwa anda bebas dari pengaruh atau godaan setan?

Jika Meruqyah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Jika MERUQYAH… cukuplah dengan membaca ayat suci Alqur’an dan doa yang diajarkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-… Itu sudah cukup… Tidak perlu banyak DIALOG yang kemungkinan besar BANYAK dustanya.

======

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda tentang setan yang mendatangi Abu Huroiroh: “Dia telah jujur kepadamu, padahal dia itu BANYAK BERDUSTA, itulah setan”. [HR. Bukhori 3275].

———

Syeikh Albani -rohimahulloh- mengatakan:

Sekarang ini, sebagian Kaum Muslimin malah terjatuh dalam kesesatan “meminta bantuan jin” dengan kedok agama, karena memang Rosul -alaihissalam- terbukti pernah membacakan beberapa ayat kepada sebagian orang yang kerasukan jin, maka Allah menyembuhkan mereka; ini benar.

Namun mereka memulai dari titik ini, kemudian membesarkan lingkarannya hingga sampai pada pembicaraan: “Apakah kamu muslim? Apa agamamu? Nasrani, Yahudi, Budha?”.

Dan setelah itu mereka mengatakan kepadanya: “Masuklah islam agar kamu selamat!”.

Kemudian dia mengatakan: “asyhadu Alla ilaaha Illallah, wa asyhadu anna muhammadan rosululloh”, orang tersebut yakin dengan perkataan jinnya, padahal mereka tidak melihatnya dan tidak merasakannya sama sekali.

Kita sekarang ini hidup bertahun-tahun lamanya, dan kita berinteraksi dengan orang yang sejenis dengan kita, manusia dengan manusia, itu pun setelah bertahun-tahun bisa jadi kamu melihat orang yang dulunya kau ajak berinteraksi ternyata menipumu! Lalu bagaimana kamu ingin berinteraksi dengan salah seorang dari jin yang tidak kamu ketahui hakekatnya (sama sekali)?!

Lalu dia mengatakan kepadamu: “Aku sudah masuk islam”… “Aku seorang mukmin”, “Aku siap melayanimu”, “Apa yang kau mau dariku”, “Saya hadir”, dan ini kita banyak mendengarnya, subhanalloh.

Dari sinilah masuknya kesesatan kepada Kaum Muslimin, sebagaimana dikatakan: “tidaklah api yang besar, melainkan dari percikan yang kecil”…

Dan nasehatku… seorang muslim TIDAK BOLEH menambah lebih dari ruqyah dalam mengobati orang yang dirasuki jin, (yaitu dengan) dia membacakan kepadanya ayat-ayat dari Kitabullah yang dia kehendaki dan doa-doanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- yang shahih, dan ITU SUDAH CUKUP.

Adapun MENAMBAH lebih dari ruqyah, (seperti): ada sebagian dari mereka yang menggunakan kemenyan, ada juga dari mereka yang menggunakan minyak… dan hal-hal lain yang sangat banyak dan aneh. Ini semuanya adalah pengelabuhan terhadap manusia dan usaha agar terlihat berbeda dengan yang lain dalam profesinya itu, karena kalau masalahnya hanya sebatas membaca ayat-ayat, maka semua orang bisa membaca sebagian ayat-ayat dan ternyata jinnya juga akan keluar.

Mereka mengatakan: Jangan, kita ingin mengemasnya dengan sedikit tipuan dan kerahasiaan, sehingga dia menjadi special hanya untuk kalangan tertentu saja.

Aku ingatkan (mereka) kepada firman Allah ta’ala:

“Bahwasanya ada beberapa orang dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin, maka jin-jin itu menambahkan ketakutan kepada mereka”. [Aljin: 6].

Kita memohon kepada Allah -azza wajall- semoga Dia menjaga kita, sehingga kita tidak meminta bantuan kepada jin.

Menebar Cahaya Sunnah