Jahatnya Hasad…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Diantara jahatnya hasad, orang yang hasad tidak ingin naik menyamaimu tapi ia mau kau yang turun agar sama rendah dengannya, jika kamu turun barulah ia puas dan bahagia.

Diantara jahatnya hasad, ia merusak amal sholeh sebagaimana api membakar kayu, sangat panas dan cepat dalam membakar.

Iblis dahulu sangat rajin beribadah bertahun-tahun, sehingga disebutkan dalam jajaran para malaikat, namun tatkala datang pendatang baru…Adam… yang dimuliakan Allah dengan ilmu, sehingga malaikat dan iblis diperintah sujud kepadanya, rupanya iblis tak kuasa melihat pendatang baru yang dimuliakan.

Ia merasa dialah yang lebih utama untuk dimuliakan, ia lebih dahulu ada dan lebih dahulu beribadah, iapun hasad dan protes terhadap keputusan Allah. Ia rela kafir, rela masuk neraka, daripada sujud kepada pendatang baru,

Itulah hasadnya iblis, ia bukan mau upgrade seperti Adam akan tetapi ia mau Adam untuk rendah terhina seperti dirinya dalam neraka jahannam. Saking jahatnya hasad, iblis belum puas hanya dengan Adam, bahkan ia mau seluruh keturunan Adam (termasuk saya dan anda) juga bersamanya dibakar neraka.

Seluruh amal ibadah iblis, yang dikerjakan begitu lama, pun lenyap karena hasad, begitu cepat, karena membaranya api hasad yang membakar amal ibadahnya.

Hasad adalah dosa pertama kali di langit, yang menjerumuskan iblis pada kesengsaraan abadi karena cemburu dengan pendatang baru…

Maka waspadalah jangan sampai anda hasad kepada pemain baru, apakah pedagang baru, atau dokter baru, ustadz baru, dll. Semoga Allah menjauhkan hasad dari kita.

** Dikumpulkan dari tweets Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Jadilah Mukmin Sejati Walau Kekacauan Mulai Melanda Negri Ini

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, berusah menjadi mukmin sejati memang terasa berat. Mukmin sejati berani memperjuangkan keyakinannya dengan segala resiko yang harus ia pikul. Dan kalaupun belum berhasil maka mukmin sejati tidak akan pernah mengkambing hitamkan orang lain.

Mukmin sejati selalu meyakini bahwa kegagalan hari ini sepahit apapun, maka sepenuhnya itu adalah kehendak ilahi yang harus dijalani dengan dada lapang. Namun demikian bukan berarti diam dan berputus asa, atau hanyut dalam meratapi kegagalannya.

Mukmin sejati harus kembali bangkit dan berjuang sesuai kondisi dan potensi yang ada. Bila kemaren hidup terasa nyaman dan kini semuanya telah berubah sehingga dipenuhi dengan kekawatiran dan ancaman, maka semua itu pantang mengikis keimanannya kepada pertolongan ilahi. Apa yang terjadi sejatinya hanyalah ujian dan tantangan ilihi yang harus ia hadapi.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan biji bijian dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.”

Mukmin sejati hanya percaya kepada kehendak ilahi dan pertolongan-Nya:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang orang yang bila ditimpa musibah mereka berkata: sejatinya kami adalah milik Allah dan sejatinya kami hanya kepada-Nya akan kembali.” ( al Baqarah 155-156)

Fokuslah Pada Al Qur’an Dan Sunnah Sesuai Pemahaman Salaf Dalam DAKWAH Anda… Walaupun Sedikit Yang Nge-LIKE..

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Syeikh Sholeh Fauzan -hafizhohulloh- mengatakan:

Lihatlah Syeikhul Islam ini, dia disiksa dan meninggal di penjara, namun dakwahnya berhasil setelah itu, mengapa?

Karena dakwahnya kokoh, berlandaskan kepada Al Qur’an dan Sunnah. (Hal ini) sebagaimana Firman Allah ta’ala:

“Adapun yang berupa buih, ia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun sesuatu yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan MENETAP di bumi”. [Arro’d: 17]

Para dai kesesatan -walaupun didukung ratusan ribu orang-, maka itu hanyalah buih seperti buih di air bah.

Jadi, dakwah yang benar akan LANGGENG kebaikan dan pengaruhnya hingga turun temurun.

Adapun dakwah yang tidak benar, atau dakwah yang mempunyai tujuan lain yang tersembunyi, maka dakwah seperti ini, walaupun diikuti oleh manusia di masa tertentu, namun dakwah tersebut tidak akan ada berkahnya, tidak akan ada kebaikannya, dan tidak akan berpengaruh baik pada manusia.

[Kitab I’anatul Mustafid Syarah Kitab Tauhid, hal 159-160].

Harum Tapi Haram…

Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Wanita sering diumpamakan bagaikan BUNGA , terlihat indah mempesona…

Namun sebagaimana bunga bisa didatangi oleh semua kumbang, demikan pula wanita bisa dipandang oleh semua lelaki..

Wahai wanita perhatikanlah ini, bolehkah seorang wanita mengharumkan tubuhnya dengan parfum? tahukah dampaknya bila tetap dilakukan?

Semoga video SINGKAT ini dapat diambil manfaatnya.

Klik :  https://www.youtube.com/watch?v=d-7irsJ97NQ

 

Susahnya Jadi Orang Islam

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sahabatku, betapa banyak orang islam yang berkata: “susahnya menjadi orang Islam, gini haram gitu haram”. Ada pula yang berkata: apa nilai lebih yang saya dapat dari Islam? Ada pula yang berkata: “kapan ummat Islam bisa maju, kalau kita masih sibuk ngurusi qunut sunnah atau bid’ah, bunga bank haram, …..?

Mungkin anda pernah mendengar atau bahkan pernah mengucapkan kata kata semisal di atas.

Ketahuilah sahabatku sekalian, sejatinya pemikiran semisal di ataslah yang menjadikan ummat Islam mundur dan terus mundur. Ucapan di atas dengan berbagai teks dan modelnya sejatinya adalah gambaran nyata tentang rendahnya mental dan keinginan kita.

Sahabatku; sadarilah bahwa Islam tidak butuh kepada kehadiran saya dan tidak pula anda. Namun saya dan andalah yang butuh kepada Islam. Islam akan tetap eksis dan jaya dengan saya dan anda ataupun tanpa saya dan juga tanpa anda.

Karena itu, tidak pantas bagi anda untuk berkata: kapan Islam bisa menjadikan saya berjaya atau kaya. Namun katakanlah kapan dan bagaimana saya bisa berkorban demi tegaknya Islam.

Sahabat Syaddad bin Al Haad radhiallahu anhu mengisahkan: suatu hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam peperangan, datanglah seorang arab baduwi. Ia datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengutarakan keislamannya.

Tidak beberapa lama, kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sllam segera membagikan rampasan perang kepada seluruh pasukan.

Lelaki baduwi tersebut walau belum sempat ikut berperang , namun demikian ia turut mendapat bagian dari rampasan perang.

Walau mendapat bagian, lelaki baduwi tersebut enggan untuk menerima bagian tersebut, dan ia mengutarakan alasan dari sikapnya dengan berkata:

ما على هذا بايعتك، إنما بايعتك على أن أرم في سبيل الله بسهم هاهنا فأقتل فأدخل الجنة

“Bukan karena ini aku berbaiat kepadamu. Aku berbaiat kepadamu agar leherku ini terkena anak panah di jalan Allah sehingga aku terbunuh lalu masuk surga.”

Nabi shallahu alaihi wa sallam menimpali ucapan lelaki baduwi ini dengan bersabda:

إن تصدق الله يصدقك

“Jika engkau jujur maka Allah pasti mengabulkan ucapanmu.”

Tidak selang beberapa lama, peperangan kembali berkecamuk, dan lelaki baduwi itupun turut berperang melawan musuh. Dan kemudian lelaki baduwi itu dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan leher yang telah ditembus anak panak, tepat di tempat yang ia tunjuk ketika berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkafani lelaki itu dengan jubbah beliau, lalu menshalatinya.

Diantara ucapan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk lelaki itu ialah:

اللهم هذا عبدك خرج مهاجرا في سبيلك فقتل شهيدا أنا شهيد على ذلك

“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu datang untuk berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sebagai seorang syahid, dan aku sebagai saksinya.” ( An Nasai dan lainnya)

Demikianlah sobat, mereka masuk Islam bukan agar dapat hidup, maju, untung atau sukses. Namun sebaliknya, mereka hidup agar Islam jaya. Kalaupun kejayaan Islam harus ditebus dengan hidupnya maka mereka rela mengorbankan hidupnya demi kejayaan Islam.

Kesalahan Dalam Memahami Doa Nabi

Ustadz Ferry Nasution, Lc, حفظه الله تعالى

Ikhwan sekalian yang saya hormati, pada pagi ini saya akan menjelaskan sebuah do’a dari Nabi kita yang mulia Shallallahu alaihi wasallam yang telah disalah fahami oleh sebagian kaum muslimin tentang doa tersebut. 

Sehingga sebagian dari saudara-saudara kita tidak mau mengamalkannya atau hati mereka merasa heran kenapa Nabi yang mulia menyuruh umatnya untuk miskin???

Berikut do’anya:

Allahumma ahyinii miskiinan, wa amitnii miskiinan, wahsyurnii fii jumratil masaakiin”.

Artinya : Yaa ALLAH ! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no. 4126) dari jalan Abu said Al-Khudriy 

Kesalahpahaman sebagian kaum muslimin pada doa ini yaitu pada Lafadz “Miskin” mereka memahami bahwa miskin disini dalam arti yang biasa dikenal yaitu: Orang-orang yang tidak berkecukupan di dalam hidupnya atau orang-orang yang kekurangan harta. 

Padahal yang betul maksud miskin di dalam do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ialah:

Orang yang khusyu dan mutawaadhi (orang yang tunduk dan merendahkan diri kepada ALLAH Subhanahu wa ta’ala). 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : Hidupkanlah aku” dalam keadaan khusyu’ dan tawadlu’. 
[Majmu’ Fatawa 18/382]

Inilah bahayanya memahami sebuah nash tanpa melihat keterangan para ulama ahlus sunnah

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari berburuk sangka kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya Rabb, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu dan tawadhu, dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu serta kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu dan tawadhu”.

Semoga memberikan manfaat…

KHUSYU’ Karena Suara Yang INDAH Dan Merdu…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

زينوا القرآن بأصواتكم، فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا

“Hiaslah Alqur’an dengan suara kalian, karena suara yang indah itu bisa menambah indahnya Alqur’an”. [Silsilah Shohihah: 771]

Imam Ibnul Arobi -rohimahulloh- mengatakan:

“Hati akan khusyu’ dengan suara yang indah, sebagaimana dia akan luluh dengan wajah yang mempesona.

Dan sesuatu yang bisa menjadikan hati terpengaruh karenanya dalam ketakwaan, maka pahalanya menjadi lebih agung, lebih dapat melembutkan hati dan lebih dapat menghilangkan kekerasannya…

SUARA YANG INDAH adalah nikmat dari Allah, kelebihan dalam ciptaan, serta karunia (dari-Nya).

Dan sesuatu yang paling pantas mengenakan pakaian berharga dan karunia mulia ini adalah KITABULLAH.

Maka, nikmat Allah bila telah disalurkan untuk ketaatan, berarti kewajiban dari nikmat tersebut telah ditunaikan”.

[Ahkamul Qur’an 4/5].

Hukum Mengumandangkan Adzan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, عَفْوًا, ada pertanyaan dari member Grup BB Majlis Hadits Akhwat 22 tentang hukum Adzan di telinga bayi yang baru lahir, berkaitan dengan broadcast ustadz kemarin tentang ‘INGATLAH KETIKA ENGKAU MATI’ :

1. Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzani, namun tanpa disholati.

Utk point nomer 1 tentang di adzani saat dilahirkan adakah haditsnya? Ustadz

شكرا ustadz. بارك الله فيك ..
 
Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ummu Salsabila yang semoga dirahmati Allah,

Bismillah. Berkaitan dengan masalah adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir, ada dalilnya dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi para ulama hadits berselisih pendapat tentang derajatnya.

Ada diantara mereka yang menilai derajatnya Dho’if, seperti syaikh Al-Albani, syaikh Ibnu Utsaimin, dll.

Dan ada pula yang menilai derajat haditsnya HASAN (Hasan Lighorihi), seperti imam At-Tirmidzi, imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah, dll.

» Bagi siapa yang memandang haditsnya Dho’if, maka janganlah ia mengamalkannya.

» Dan bagi siapa yang menilai derajat haditsnya HASAN, karena mengikuti para ulama hadits yang meng-Hasan-kannya, maka ia boleh mengamalkannya.

Dan bagi yang mengumandangkan adzan pada telinga bayi yang baru lahir, maka ia tidak boleh diingkari dan dicela, sebagaimana fatwa sebagian ulama Sunnah seperti syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah dan Komite Tetap untuk Fatwa dan Riset Ilmiyah di Arab Saudi. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

(*) Berikut ini kami sertakan Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkaitan dengan Hukum Adzan di Telinga Bayi yang Baru Lahir.

(*) Pertanyaan:
Tentang adzan di telinga kanan bayi dan iqomah di telinga kiri bayi, apa hukumnya?

(*) Jawaban Syaikh Bin Baz rahimahullah:

هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات،

Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik, karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.

والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد،

Hadits tentang masalah ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab dan beliau adalah perawi yang memiliki kelemahan, namun terdapat sejumlah riwayat yang menguatkannya.

وقد فعل النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية إبراهيم، ولم يحفظ عنه أنه أذن لما ولد له إبراهيم، سماه إبراهيم ولم يحفظ عنه أنه أذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى، وهكذا الأولاد الذين يؤتى بهم إليه من الأنصار ليحنكهم ويسميهم لم أقف على أنه أذن في أذن واحد منهم وأقام،

Ketika Nabi memberi nama untuk anaknya Ibrahim, tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa beliau mengumandangkan adzan di telinga kanan Ibrahim dan mengumandangkan iqomah di telinga kirinya. Demikian pula bayi-bayi dari kalangan sahabat Anshor yang dibawa ke hadapan Nabi untuk ditahnik dan diberi nama, tidak kujumpai riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengumandangkan adzan dan iqomah pada telinga bayi tersebut.

ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس.

Akan tetapi jika ada orang yang melakukannya menimbang hadits-hadits yang telah kusebutkan, maka tidak mengapa karena riwayat-riwayat yang ada sebagiannya menguatkan sebagian yang lain [sehingga berstatus HASAN lighairihi, pent].

(*) Ringkasnya ada kelonggaran dalam masalah ini. Jika ada yang mengamalkannya, maka itu baik, mengingat hadits-hadits dalam masalah ini sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Tidak melakukannya juga tidak mengapa”.

(*) SUMBER:

http://binbaz.org.sa/mat/9646

Menebar Cahaya Sunnah