Zuhud

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

AKHI UKHTI…

HAMMAD BIN ZAID MENCERITAKAN BAHWA pernah pada suatu hari datang seseorang kepada MUHAMMAD BIN WASI’ (seorang tabi’in yang sangat mulia) lalu berkata:
“Berikanlah kepadaku petuah!
Maka Ibn Wasi’ berkata kepadanya,

أوصيك أن تكون ملكا في الدنيا والآخرة

“AKU BERWASIAT KEPADAMU AGAR KAMU MENJADI RAJA DI DUNIA DAN DI AKHIRAT”

Maka lelaki itu tertengun dan menanyakan perihal wasiatnya, “Bagaimana caranya?”

Bagaimana caranya seseorang menjadi raja tidak hanya di dunia tapi di akhirat juga

Perhatikan jawaban Ibn Wasi’

“ADA SATU CARA AGAR KAU MEJADI RAJA

Menjadi ORANG TERKAYA DI MUKA BUMI INI…

TANPA HARUS BERLETIH-LETIH DIBURU AMBISI

DARI PAGI SAMPAI MALAM
DARI KECIL SAMPAI TUA…

Caranya m u d ah..” Muhammad bin Wasi’ berkata

“BERLAKULAH ZUHUD DI DUNIA”…(lihat siyar a’lam nubala’6/120)

Subhanallah… hanya satu kata

Z U H U D niscaya engkau menjadi Raja di dunia dan akhirat

(meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat)

Selamat mencoba

Cara Setan Dan Para Pengikutnya Dalam Menyebarkan Keburukan

1. MENGHIASI keburukan dengan sebutan yang indah dan kata-kata yang manis.

Diantara contohnya:

– menamai RIBA dengan nama bunga
– menghias GHIBAH dengan istilah nasehat atau menjaga agama
– memakai nama ‘madzhab cinta’ untuk menutupi kebencian mereka kepada para sahabat Nabi-
– memelihara kesyirikan, bid’ah, dan tahayul atas nama memelihara dan melestarikan adat leluhur
– menutupi budaya asusila barat dengan nama budaya modern
– enamai akidah kufur ‘membenarkan semua agama dan keyakinan’ dengan istilah pluralisme… dst.

2. MEMBERI KESAN dan JULUKAN BURUK kepada hal-hal baik yang menjadi lawan keburukan yang diperjuangkan.

Diantara contohnya:

– mengesankan Islam identik dengan teroris
– menamai orang yang memperjuangkan tauhid dan Sunnah sebagai wahabi
– mengatakan bahwa jilbab itu hanyalah budaya arab, mengekang kebebasan, dan terbelakang
– menamai amar ma’ruf nahi mungkar dengan julukan membuat onar dan meresahkan masyarakat
– menjuluki Ahlussunnah yang menetapkan sifat bagi Allah sebagai mujassimah, hasyawiyyah, musyabbihah, dll.

3. MENYANDARKAN keburukan tersebut kepada orang atau sesuatu yang TERHORMAT.

Diantara contohnya:

– kaum Syiah yang menyandarkan agama mereka kepada keluarga Nabi, untuk menjual ritual syirik, bid’ah, dan khurofat yang mereka bawa
– tarekat-tarekat sufi yang menyandarkan tarekatnya kepada beberapa sahabat Nabi agar pengikutnya yakin dengannya
– mengatakan bahwa ritual ibadah tertentu pernah dilakukan oleh Imam Syafi’i -rohimahulloh- atau Imam lainnya
– menyandarkan ilmu hitam tertentu kepada Sunan Kalijaga atau sunan lainnya
– menyandarkan kesesatan atau khurofat tertentu kepada kota Makkah, atau Madinah, dst.

[Tiga hal di atas telah disinggung oleh Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, sebagaimana disebutkan dalam kitab Mukhtashor Showa’iq Mursalah 78-80].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

1315. Menyewakan Rumah Ke Non-Muslim

1315. BBG Al Ilmu – 33

Tanya :
Apakah diperbolehkan seorang muslim menyewa rumah dmana pemilik rumah itu non muslim? dan bagaimana hukumnya ?

Jawab :
Ust. Abu Hudzaifah Al Atsary, حفظه الله تعالى

Boleh saja, sewa-menyewa itu halal dilakukan baik oleh sesama muslim atau antara muslim dengan non-muslim selama yang disewakan adalah barang/jasa yang manfaatnya bersifat mubah, seperti menyewakan untuk tempat tinggal/tempat usaha yang halal.
والله أعلم بالصواب

Ref:
http://basweidan.com/idealisme-pengusaha-muslim/

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Ingatlah Ketika Kau Mati

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Bismillah.

1. Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzani, namun tanpa disholati.
Dan ketika engkau mati, engkau disholati (jenazahmu), namun tanpa adzan.

2. Ketika engkau dilahirkan (di dunia ini), engkau tidak tahu siapakah yang mengeluarkanmu dari dalam perut ibumu.

Demikian pula, ketika engkau mati, engkau tidak tahu siapakah yang akan memikul (jenazah)mu di atas pundak-pundak mereka.

3. Ketika engkau dilahirkan, engkau dimandikan dan dibersihkan.

Demikian pula, ketika engkau mati, engkau dimandikan dan dibersihkan.

4. Ketika engkau dilahirkan, kedua orang tuamu dan keluargamu merasa bergembira dengan (kelahiran)mu.
Namun, ketika engkau mati, kedua orang tuamu dan keluargamu menangisi (kematian)mu.

5. Wahai anak cucu Adam, engkau diciptakan dari tanah. Maka, Maha Suci Allah yang telah menjadikanmu dikubur di dalam tanah (pula) sesudah kematianmu.

6. Ketika engkau berada di dalam perut ibumu, engkau berada di tempat yang sangat sempit nan gelap gulita.

Dan ketika engkau mati, engkau berada di tempat yang sangat sempit nan gelap gulita pula (yakni di dalam liang kubur).

7. Ketika engkau dilahirkan, engkau ditutupi dengan kain (pakaian), agar orang-orang menutupi (tubuh dan aurat)mu.

Dan ketika engkau mati, engkau ditutupi dengan kain kafan, agar mereka menutupi (tubuh dan aurat)mu pula.

8. Ketika engkau dilahirkan dan telah menjadi dewasa, orang-orang bertanya kepadamu tentang ijazah (pendidikan)mu dan pengalaman/keahlianmu.

Namun, ketika engkau mati, engkau tidak akan ditanya selain tentang amalan sholihmu saja.

» Oleh karena itu, BEKAL APA yang telah engkau siapkan untuk kehidupan sesudah kematianmu?

(*) Diterjemahkan oleh Muhammad Wasitho Abu Fawaz Asy-Syirboony dari kitab Kafaa Bil-Mauti Waa’izhon, karya DR. Badr Abdul Hamid Humaisah, hal.29.

Batas Minimal Dan Maximal Bilangan Roka’at Sholat Dhuha

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Tanya:
Assalamualaikum.
Afwn mau tanya, kalo shalat dhuha minimal dan maksimal berapa rokaat? Syukron atas jawabannya.

Jawab:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Para ulama Fiqih yang menyatakan disunnahkannya sholat Dhuha telah sepakat bahwa jumlah minimal roka’at sholat Dhuha adalah 2 roka’at.

(*) Hal ini berdasarkan hadits SHOHIH berikut ini:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Kekasihku (yakni Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) telah berwasiat kpdaku dengan 3 perkara (yaitu): agar aku berpuasa 3 hari pada setiap bulan,  mengerjakan sholat Dhuha 2 roka’at, dan mengerjakan sholat witir sebelum tidur.” (HR.Bukhari & Muslim).

Sedangkan berkaitan dengan batas maksimal bilangan roka’at sholat Dhuha, maka telah terjadi perbedaan pendapat di antara mereka.

» Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa jumlah maksimal roka’at sholat sunnah Dhuha adalah 8 roka’at.

» Sebagian lain berpendapat bahwa jumlah maksimal roka’at sholat sunnah Dhuha adalah 12 roka’at.

» Dan ada pula yang berpendapat bahwa jumlah maksimal sholat sunnah Dhuha adalah TANPA BATASAN bilangan roka’at tertentu. Maksudnya BOLEH bagi seorang muslim dan muslimah melaksanakan sholat sunnah Dhuha lebih dari 8 atau 12 roka’at sesuai yang ia mampui dan kehendaki.

(*) PENDAPAT YANG ROJIH:

Dan pendapat yang nampak kuat dan benar adalah pendapat terakhir, Tidak ada Batas tertentu untuk jumlah maksimal roka’at sholat sunnah Dhuha.

» Hal ini berdasarkan riwayat Mu’adzah Al-’Adawiyyah, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha, ‘Apakah dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengerjakan sholat Dhuha?’ Jawab Aisyah: “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan sholat Dhuha 4 roka’at dan (terkadang) lebih dari itu sesuai yang beliau kehendaki.” (HR.Muslim dan Ibnu Majah).

Wallahu a’lam bish-showab.

Ilmu Dan Kasih Sayang…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Do’a malaikat pemikul arasy..
wahai Rabb kami, sungguh ilmu dan kasih sayangmu meluasi segala sesuatu..
surat ghafir: 7..

Renungkanlah ayat ini..
Ilmu hendaknya selalu disertai kasih sayang..
Agar memberi pesona keindahan..
Kasih sayang kepada manusia..
agar mereka mendapat hidayah..

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata..
“Ahlussunnah adalah yang paling mengetahui kebenaran..
dan paling sayang kepada manusia..”

Namun..
Ketika ilmu tidak disertai kasih sayang..
Lisan seringkali menjadi tajam..
Vonis seringkali menjadi tujuan..
Mata pun jeli melihat kesalahan..
Baginya sifat lembut adalah kehinaan..
Sikap arogan dianggap keperkasaan..

Allahul Musta’an..

Utsman bin Affan berkata..
“Penyakit umat ini adalah..
orang orang yang lisannya suka mencela..
dan mencari cari aib manusia..”

Benarkah Nabi Tidak Memiliki Bayangan?

Ustadz Ammi Nur Baits, Lc,  حفظه الله تعالى

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bayangan, disampaikan oleh Muhammad as-Sholihi (w. 942 H) dalam kitabnya Subul al-Huda wa ar-Rasyad. Beliau menukil beberapa riwayat dari ulama, diantaranya Ibnu Sab’ dalam Khasais Nabi dan ad-Dzakwan.

Ibnu Sab’ mengatakan,

إن ظله صلى الله عليه وسلم كان لا يقع على الأرض وأنه كان نوراً، وكان إذا مشى في الشمس أو القمر لا يظهر له ظل

“Bayangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menempel di tanah. Karena beliau adalah cahaya. Apabila beliau berjalan di bawah terik atau di malam purnama, tidak nampak bayangannya.”

Kemudian keterangan lain dari seorang tabiin bernama ad-Dzakwan, beliau mengatakan,

لم ير لرسول الله صلى الله عليه وسلم ظل في شمس ولا قمر.

Tidak terlihat bayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah matahari maupun purnama.

Ada sebgian yang memberi alasan, agar bayangan beliau tidak diinjak oleh orang kafir, sehingga mereka bisa merendahkan beliau. (Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 2/90)

Hanya saja keterangan ini dinilai lemah oleh para ulama karena beberapa alasan berikut,

Pertama, Allah menegaskan dalam banyak ayat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara fisik adalah manusia biasa seperti umumnya manusia. Hanya saja beliau diberi wahyu dan mendapat penjagaan dari Allah.

Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” (QS. al-Kahfi: 110)

Allah juga berfirman menjelaskan semua karakter nabi,

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَداً لا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

“Tidaklah Kami jadikan untuk mereka (para nabi) tubuh-tubuh yang tidak makan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.” (QS. al-Anbiya: 8).

Allah juga mengingkari keheranan orang kafir terhadap status nabi sebagai manunsia biasa,

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأَسْوَاقِ

Mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” (QS. al-Furqan: 8)

Semua ayat di atas menunjukkan bahwa karakter fisik para nabi, tidak berbeda dengan umatnya. Artinya, mereka sama-sama manusia.

Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bani Adam yang diciptakan dari tanah. Sementara yang diciptaan dari cahaya hanyalah malaikat. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan golongan Malaikat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُلِقَت المَلائِكَةُ مِن نُورٍ ، وَخُلِقَ إِبلِيسُ مِن نَارِ السَّمومِ ، وَخُلِقَ آدَمُ عَلَيهِ السَّلامُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم

“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.” (HR. Muslim 2996).

Andai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu cahaya, tentu beliau akan dikelompokkan dalam kategori malaikat dan dikecualikan dari hadis ini.

Ketika menjelaskan hadis ini, penulis as-Silsilah as-Shahihah mengatakan,

وفيه إشارة إلى بطلان الحديث المشهور على ألسنة الناس : ( أول ما خلق الله نور نبيك يا جابر ) ! ونحوه من الأحاديث التي تقول بأنه صلى الله عليه وسلم خلق من نور ، فإن هذا الحديث دليل واضح على أن الملائكة فقط هم الذين خلقوا من نور ، دون آدم وبنيه ، فتـنبّه ولا تكن من الغافلين

Hadis ini mengisyaratkan kesalahan ungkapan yang masyhur di masyarakat, bahwa yang pertama kali diciptakan adalah cahaya nabimu. Atau hadis-hadis yang semisalnya, yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya. Karena hadis ini merupakan dalil tegas bahwa hanya malaikat yang diciptakan dari cahaya, bukann Adam dan keturunannya. Perhatikan ini, dan jangan ikutan menjadi orang lalai. (as-Silsilah as-Shahihah, keterangan no. 458).

Ketiga, kehadiran beliau merupakan cahaya bagi umat. Karena beliau menjadi sumber yang menyampaikan petunjuk dari Allah. Konsekuensi hal ini, fisik beliau harus bisa dilihat dengan sempurna, sehingga para sahabat bisa meniru perbuatan beliau.

Untuk itu, jika fisik beliau berupa cahaya, justru ini menghalanngi kesempurnaan beliau untuk menjadi pelita bagi umat. Karena masyarakat akan kesulitan untuk untuk menyaksikan aktivitas beliau, melihat gerakan beliau ketika ibadah, dst.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas mimbar, dan beliau turun untuk sujud di tanah. Alasannya, agar para sahabat bisa melihat bagaimana cara shalat beliau.

Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي»

Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami di atas mimbar. Beliau takbiratul ihram dan jamaahpun ikut takbir di belakang beliau, sementara beliau di atas mimbar. Kemudian, ketika beliau i’tidal, beliau mundur ke belakang untuk turun, sehingga beliau sujud di tanah. Lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar, hingga beliau menyelesaikan shalatnya. Kemudian beliau menghadap kepada para sahabat, dan bersabda,

”Wahai para sahabat, aku lakukan ini agar kalian bisa mengikutiku dan mempelajari shalatku.” (HR. Bukhari 377, Muslim 544, Nasai 739, dan yang lainnya).

Keempat, orang kafir kehilangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang.

Orang kafir sangat antusias untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama ketika perang berkecamuk. Meskipun demikian, ada beberapa pasukan kafir yang kesulitan mengenali beliau di tengah  hiruk pikuk perang. Andai tubuh beliau berupa cahaya, mereka akan dengan lebih mudah menjadikan beliau sebagai sasaran utama.

Ketika perang Uhud, Kesedihan menyelimuti kaum muslimin atas musibah ini. Allah menguji mereka dengan wafatnya puluhan saudara mereka. Namun ada musibah yang lebih besar dari itu semua. Di tengah mereka kerepotan menghadapi musuh dari depan dan belakang, tiba-tiba Ibnu Qamiah, salah satu pasukan musyrik berteriak, “Aku telah membunuh Muhammad…” “Aku telah membunuh Muhammad…”.

Seketika hiruk pikuk perang yang sedang berkecamuk langsung berhenti. Kesedihan makin mendalam dialami para sahabat. Membuat mereka lupa akan kesedihan yang pertama. Sementara orang musyrik begitu bangga karena sasaran utama mereka telah terbunuh.

Abu Sufyan yang kala itu memimpin pasukan musyrikin Quraisy, naik ke atas bukit dan meneriakkan,

“Apakah Muhammad masih hidup?”

“Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?”

“Apakah Umar bin Khatab masih hidup?”

Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para sahabat untuk diam. Akan tetapi, Umar tidak bisa menahan emosinya dan meneriakkan,

يا عدو الله، إن الذين ذكرتهم أحياء، وقد أبقي الله ما يسوءك

“Wahai musuh Allah, orang-orang yang kau sebutkan semua masih hidup. Allah akan tetap membuatmu sedih.”

Kemudian Abu Sufyan memanggil Umar untuk menemuinya, Nabi-pun menyuruhnya untuk menghadap.

“Jawab dengan jujur wahai Umar, apakah kami telah berhasil membunuh Muhammad?” tanya Abu Sufyan.

“Demi Allah, tidak. Beliau juga mendengarkan ucapanmu saat ini.”

Komentar Abu Sufyan,

أنت أصدق عندي من ابن قَمِئَة

“Bagiku Kamu lebih jujur dari pada Ibnu Qamiah.”

Seketika, wajah kegembiraan menghiasi para sahabat. Melupakan semua musibah yang mereka alami dengan ‘kekalahan’ mereka di perang Uhud. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 250).

Andai tubuh beliau berupa cahaya, tentu Abu Sufyan tidak akan bertanya-tanya hal itu, karena beliau badannya berbeda dengan manusia umumnya. Namun kenyataanya, mereka tidak bisa mengenali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah hiruk pikuk peperangan.

Untuk itu, tidak benar jika dinyatakan bahwa jasad Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cahaya, sehingga belia tidak memiliki bayangan. Allahu a’lam.

Ref : http://www.konsultasisyariah.com/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-memiliki-bayangan/#

 

Beberapa Tips Mudah Dalam MENGHAPAL…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Syeikh Abdul Karim Alu Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:

“WAKTU yang paling cocok untuk menghapal adalah waktu tenang, waktu yang kosong dari kesibukan, dan setelah rehat yang sempurna, karena otak membutuhkan istirahat sebagaimana badan. Maka hendaklah menghapal itu di akhir malam atau di waktu dini hari.

Jika seseorang ingin menghapal, hendaknya dia MENGERASKAN dan mengangkat suaranya. Berbeda bila dia ingin memahami, maka hendaknya dia memelankan suaranya.

Dan TEMPAT yang cocok untuk menghapal adalah tempat yang terbatas dan sempit, berbeda dengan tempat yang cocok untuk memahami, dia membutuhkan tempat yang lapang. Dan pengalaman menunjukkan hal ini.

Bagi yang mengeluhkan kelemahan hapalannya, maka dia harus banyak MENGULANG-NGULANG”.

[Syeikh adalah salah seorang anggota hai’ah kibar ulama di Negara Tauhid Saudi Arabia, beliau terkenal dengan keluasan ilmu dan hapalannya].

Menebar Cahaya Sunnah