Dunia Konspirasi…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat, di dunia ini penuh dengan konspirasi. Para penjahat menyusun berbagai strategi atau konspirasi untuk menjebak orang orang baik terutama yang lugu agar akhirnya mereka memenangkan persaingan.

Demikianlah ketetapan yang berlaku di dunia ini. Karena itu sudah sepatutnya kita waspada dan tidak menilai berbagai masalah hanya dari satu sudut pandang.

Namun demikian, percayalah bahwa pada akhirnya nanti, kehendak Allah-lah yang pasti unggul dan orang orang yang berimanlah yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Mereka menyusun konspirasi dan Allah membalas konspirasi (tipu daya) mereka sedangkan Allah adalah Sebaik baik pembalas konspirasi.” (Ali Imran 54)

Sobat! Kembalikan sepenuhnya semua urusan anda kepada Allah, niscaya semuanya berakhir dengan baik.

Kalaulah anda meyakini bahwa kenaikan BBM adalah suatu konspirasi jahat sebagian pihak untuk mengeruk keuntungan buesaar saat ini, dan agar dapat menurunkannya kembali bila dirasa perlu dan pada momentum yang dirasa tepat, maka percayalah Allah pasti membalas konspirasi jahat tersebut, asalkan anda beriman dan menyerahkan urusan anda kepada Allah. Percayalah dengan cara ini maka akhirnya nanti andalah yang memetik keuntungan dari kenaikan ini, sehingga buat apa risau?

Apalagi bila anda berkhusnuzzon dengan kenaikan harga BBM maka sudah barang tentu anda patut bersyukur bukan malah risau.

Demikianlah sepatutnya kita menyikapi segala kondisi yang terjadi, agar kita selalu beruntung dan tetap hidup bahagia.

Hiburan Bagi Yang Sakit…

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Anda lagi sakit?

Semoga sakit anda menghapus dosa-dosa anda baik yang anda sadari maupun tidak.

Dalam hadits :

لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَم كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ

“Janganlah engkau mencaci demam, karena demam bisa menghilangkan dosa-dosa bani Adam sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran besi.” (HR Muslim no 2575)

Faedah :
1) Demam tidak hanya menghilangkan satu dosa, tapi dosa-dosa,

2) jika demam -yang merupakan penyakit sepele- menghilangkan dosa-dosa, maka bagaimana lagi yang lebih dari itu?

3) Kita tidak berharap sakit, akan tetapi jika Allah mentaqdirkan sakit maka hendaknya kita bersabar dan rido dengan keputusan Rob kita yang memberikan terbaik bagi kita,

4) dosa ibarat kotoran, semakin banyak kita maksiat maka semakin kotor jiwa kita,

5) ada kotoran yang kita sadari dan yang tidak kita sadari serta dosa yang telah kita lupakan,

6) terkadang kotoran tersebut langsung hilang dengan istighfar, terkadang harus dengan penyakit dan musibah, mungkin istighfar kita kurang bermutu, atau untuk menghilangkan kotoran yang tidak kita sadari atau kita lupakan,

7) Penyakit yang mendatangkan pahala adalah jika si sakit bersabar menghadapinya,

8) ingatlah masih banyak orang yang sakitnya lebih parah dari sakit anda

Do’a ketika dipuji orang lain…

Untuk download, klik :

http://pic.twitter.com/t9ydjqNJ7z

Kita perlu hati-hati ketika dipuji orang karena pujian ini bisa membuat diri kita semakin ujub dan sombong. Oleh karenanya, sahabat yang mulia Abu Bakr Ash Shiddiq, yang terbaik setelah Rasul kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah agar dirinya lebih baik dari pujian tersebut. Ia pun meminta pada Allah agar tidak disiksa karena sebab pujian tersebut. Karena Allah lebih tahu isi hati kita, juga diri kita lebih tahu lemahnya diri kita dibanding orang lain. Jadi jangan terlalu merasa takjub dengan sanjungan orang apalagi diucapkan di hadapan kita.

Ketika dipuji, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berdo’a,

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.(lihat picture)

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.”

Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas.

Ringkasnya, do’a di atas telah menjadi amalan para salaf karena mereka tidak suka akan pujian dan mereka khawatir amalan mereka jadi terhapus karena selalu mengharap pujian.

Ref: http://rumaysho.com/amalan/doa-ketika-dipuji-orang-lain-3207

Adab Islami Sederhana Sebelum Tidur

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama: Tidurlah dalam keadaan berwudhu.

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Kedua: Tidur berbaring pada sisi kanan.

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.

Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Semoga kajian kita kali ini bisa kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Ref : http://rumaysho.com/amalan/adab-islami-sederhana-sebelum-tidur-1097

3 Pintu Utama Masuk Neraka

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

قال الحافظ ابن القيم رحمه الله : “دخل الناس النار من ثلاثة أبواب:

1) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله.

2) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته.

3) وباب غضب أورث العدوان على خلقه”.

انظر: الفوائد – ص105

» Al-Hafizh Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu (yaitu):

1. Pintu SYUBHAT (pemikiran yang rancu lagi menyesatkan) yang dapat menimbulkan keraguan terhadap (kebenaran) agama Allah.

2. Pintu SYAHWAT (gejolak nafsu) yang akan mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Allah dan upaya menggapai ridho-Nya.

3. Pintu AMARAH (emosi) yang akan menimbulkan permusuhan (dan kezholiman) terhadap orang lain.”

(Lihat kitab Al-Fawa-id, karya imam Ibnul Qoyyim hal.105).

Bolehkah Orangtua Memeriksa HP Anaknya?

Ustadz Ammi Nur Baits, Lc, حفظه الله تعالى

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Memeriksa hp orang lain, anaknya atau temannya, dst. Untuk mencari tahu apa yang dia rahasiakan, termasuk bentuk tajassus (memata-matai). Allah melarang perbuatan semacam ini dilakukan kepada sesama kaum muslimin.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain… (QS. al-Hujurat: 12)

Lalu bagaimana dengan tanggung jawab orang tua terhadap anak, yang harus selalu diawasi.

Berikut keterangan dari lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah,

فلا يجوز التجسس على الولد، ولا على أحد من المسلمين، ولا تتبع عوراتهم، إلا في حالات خاصة وضيقة، تحقيقا لمصلحة أو دفعا لمفسدة ـ إذا لم يمكن فعل ذلك إلا بالتجسس.

“Tidak boleh memata-matai anak, atau kaum muslimin secara umum. Tidak boleh mencari-cari aib mereka. Kecuali dalam kondisi tertentu dengan batasan ketat, yang tujuannya untuk kemaslahatan atau menghindari madharat, sementara untuk mewujudkan tujuan itu kecuali dengan cara memata-matai.”

فإذا رأى الوالد من ولده ريبة، وخشي عليه من الوقوع في ما لا تحمد عقباه، ولم يجد وسيلة لتقويمه إلا بمعرفة ما خفي من حاله، فيمكنه التجسس عليه في حدود الحاجة دون زيادة

“Ketika orang tua melihat gelagat mencurigakan pada anaknya, dan dia khawatir anaknya terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak terpuji, sementara tidak ada cara lain untuk menegurnya kecuali dengan mencari tahu keadaan yang dia sembunnyikan, maka boleh dilakukan tajassus, dalam batas yang dibolehkan, dan tidak lebih.”

Sumber:

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=212821

http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-ortu-memeriksa-hp-anaknya/#

Menjaga Diri Dari Kemaksiatan

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

Akhi Ukhti…
Pernah berbuat dosa?

Saya yakin, karena kita adalah manusia yang memang sudah kodratnya berbuat dosa

Sebagaimana di dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

« كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ».

“Setiap anak Aadam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat” (HR Ahmad dan-Tirmidziy)

Tahukan engkau bahwa ternyata ada dosa-dosa yang mengantarkan pelakunya ke dalam surga?

Sesungguhnya taubatnya hamba dari perbuatan dosa seringkali melahirkan penyesalan yang dalam.

Perasaan berdosa yang selalu menghantuinya…
Ketika ia berjalan, duduk dan rebahan…
Ketika sendirian dan di kerumanan orangpun, dosa itu selalu menghantuinya
Sehingga menimbulkan Perasaan hina dan remuknya jiwa di hadapan sang Pencipta

Akhirnya ia berusaha untuk menjaga diri dari kemaksiatan
Banyak beristigfar
Banyak berbuat kebajikan
Dan tentunya itu lebih baik dari apa yang dilahirkan oleh amal kebajikan yang tekadang membuat sebagian orang sombong dan ujub. Dan itu menghantarkannya ke dalam neraka.

Itulah makna pernyataan sebagian salaf:

قد يعمل العبد الذنب فيدخل به الجنة . ويعمل الطاعة فيدخل بها النار

“Terkadang seorang hamba berbuat dosa dan dengannya ia masuk surga
Dan terkadang berbuat ketaatan dan dengannya masuk neraka” (disadur dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam madarijussalikin 1/307)

YA ALLAH MASUKKAN HAMBA KE SURGA DAN HINDARKAN HAMBA DARI NERAKA

5 Macam Tipe Anak

Ustadz Abu Haidar As Sundawi, Lc, حفظه الله تعالى

كتب الشيخ د/عبد الرزاق العباد البدر – حفظهما الله تعالى – :
الأبناء خمسة :
١. بعضهم -هداهم الله- لا يفعلون ما يأمرهم به والداهم. وهاؤلاء عاقون.
٢. يفعلون ما يؤمرون به وهم كارهون. فهاؤلاء لا يؤجرون
٣. وبعضهم يفعلون ما يؤمرون به ويتبعون بالمن والأذى والتأفف ورفع الضوت. فهاؤلاء يؤزرون
٤. وبعضهم يفعلون ما يؤمرون به بطيبة نفس. فهاؤلاء مأجورون وهم قليلون.
٥. وبعضهم يفعلون ما يريده الوالدان قبل أن يؤمروا به. فهاؤلاء هم البارون الموفقون وهم نادرون.
�فلا تسأل عن بركة أعمارهم وسعة أرزاقهم وانشراح صدورهم وتيسير أمورهم وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله ذو الفضل العظيم
~~~~~~~~~

Syaikh Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr – Hafidzahumallah- :

Ada 5 Macam Tipe Anak ;

1. Anak yang -semoga Allah memberi hidayah kepada mereka- tidak melaksanakan apa yang diperintahkan kedua orangtuanya. Merekalah Anak Durhaka.

2. Anak yang melaksanakan apa yang diperintahkan orangtuanya dengan terpaksa. Mereka tidak akan memperoleh pahala.

3. Anak yang melaksanakan perintah orangtua tapi diikuti dengan suka menyakiti baik dengan lisan ataupun perbuatan berkata ‘Ah’ dengan suara yang tinggi. Mereka akan memperoleh dosa.

4. Anak yang melaksanakan apa yang diperintahkan orangtuanya dengan senang hati. Mereka akan memperoleh pahala. Tapi jumlah mereka sedikit.

5. Anak yang melaksanakan apapun yang dinginkan oleh orangtuanya sebelum diperintahkan. Merekalah anak-anak yang berbakti yang telah memperoleh taufiq. Tipe seperti ini sangat jarang.

** Jangan anda tanyakan tipe anak mana yang akan diberkati umurnya, diluaskan rizkinya, dilapangkan dadanya, dan dimudahkan urisannya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah-lah pemilik karunia yang agung.

Tertipu Oleh Kepintaran

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ada Kisah seorang ikhwah..
Yang amat mencintai istrinya. .
Namun istrinya tak mencintainya. .
Ia mengharapkan lelaki lain. .
Yang lebih darinya. .

Wanita itu telah pandai Bahasa Arab. .
Sementara suaminya. .
Hanya memahami Bahasa Indonesia. .

Wanita itu telah lama mengaji. .
Sementara suaminya. .
Sibuk membanting tulang mencari nafkah. .
Tuk membahagiakan kekasihnya. .

Wanita itu telah banyak menghafal al-Qur’an. .
Sementara suaminya tak banyak bisa menghafal. .

Mungkin. .
Kini suaminya sudah tak berharga di matanya. .
Mungkin. .
Kini cintanya telah pudar di hatinya. .
Karena tak sesuai harapannya. .

Demikianlah. .
Kisah cinta yang bertepuk sebelah. .
Karena istrinya tertipu oleh kepintarannya. .

Ilmu tak membuatnya semakin sayang pada
suaminya. .
Ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada
suaminya. .
Ilmu membuatnya angkuh. .
Tak ada lagi cinta dihatiku, kilahnya. .

Saudariku. .
Engkau boleh lebih berilmu dari suamimu. .
Tapi mungkin suamimu lebih takut kepada Allaah darimu. .

Engkau boleh punya banyak kelebihan di atas
suamimu. .
Tapi, suamimu. .
Mungkin lebih dicintai oleh Robbmu karena
ketawadhu’annya. .

Al Hasan Al Bashri rohimahullaah berkata. .
“Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal
riwayat. Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allaah.”

Dimanakah hadits yang telah engkau hafal,
“Suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu..”

Ya Robb. .
Berilah kami ilmu yang bermanfaat…

Menebar Cahaya Sunnah