KITAB FIQIH – Menjama’ Dua Sholat

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sholat Sunnah Dalam Safar  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita melanjutkan..

⚉ MENJAMA’ DUA SHOLAT

Keadaan – keadaan yang membolehkan untuk menjama’ dua sholat.

Kata beliau boleh menjama’ antara zhuhur dan ‘ashar baik jama’ takdim maupun jama’ takhir demikian pula antara maghrib dan isya’.

Ada beberapa keadaan berikutnya ini

1️⃣ Menjama’ di Arofah dan Musdalifah, berdasarkan hadits Abu Ayub Al Anshori bahwa, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika haji wada’ menjama’ maghrib dengan isya’ di Musdalifah.”

2️⃣ Ketika Safar, dan ini haditsnya banyak yang menunjukkan pada hal itu. Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sa’at Safar menjama’.
Diantaranya adalah hadits Mu’adz bin Jabal bahwa,
“Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika perang Tabuk, apabila berangkat sebelum matahari tergelincir beliau mengakhirkan zhuhur dan dijama’ diwaktu ‘ashar, dan apabila berangkat setelah tergelincir matahari beliau sholat zhuhur dan ‘ashar secara jama’ diwaktu zhuhur kemudian baru berangkat, dan apabila beliau berangkat sebelum maghrib beliau akhirkan maghrib sampai sholat isya’ diwaktu isya (jama’ takhir) dan apabila berangkat setelah maghrib beliau mempercepat isya di waktu maghrib (yaitu jama’ takdim).” (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya)

Ini menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam senantiasa meng-qoshor demikian pula menjama’ sa’at Safar.

3️⃣ Sa’at hujan, diperbolehkan untuk menjama’ dua sholat. Disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas bahwa,
“Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat dikota Madinah 7 atau 8 hari zhuhur dan ‘ashar, maghrib dan isya yaitu di malam hujan.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas juga bahwa, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah menjama’ antara zhuhur dan ‘ashar, maghrib dan isya di Madinah tanpa ada rasa takut dan tanpa ada hujan.”

Kata tanpa ada hujan menunjukkan bahwa diperbolehkan untuk menjama’ dua sholat karena adanya hujan.

4️⃣ Sa’at sakit, apabila sakitnya berat dan menyusahkan ia kalau ia sholat pada waktunya masing masing, boleh pada waktu itu untuk menjama’ (disebutkan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa jilid 24 hal 28 atau sebaliknya 28 hal 24)

Menurut Imam Ahmad demikian pula Imam Malik dan sebagian AsSyatiri, Imam Syafi’i, boleh menjama’ untuk orang yang sakit juga.

5️⃣ Ada keperluan yang mendadak maka yang seperti ini boleh juga menjama’

Dari Salim bin Abdillah dari ayahnya ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Apabila hadir kepada kalian suatu urusan yang ia khawatir terluput maka silahkan ia sholat dengan menjama’ dua sholat” (HR Imam Nasa’i)

Ini menunjukkan apabila ada keperluan mendadak, boleh kita untuk menjama’.

Menjama’ tidak khusus ketika dalam perjalanan saja bahkan ketika sudah sampai ditempat Safar misalnya kita pergi ke Bandung dua hari disana boleh disana kita menjama’

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari jilid 2 hal 583 berkata, dan dalam hadits Anas terdapat sunnahnya pembedaan/pemisahan saat jama’ yaitu ;

dibedakan antara ketika dalam perjalanan ketika kita sudah sampai dan tinggal ditempat safar, dimana sebagian ulama kata beliau berdalil bahwa jama’ itu khusus ketika dalam perjalanan

Akan tetapi dalam hadits Mu’adz bin Jabal dalam kitab Muwathok Imam Malik ada hal yang tidak sesuai dengan pendapat tsb yaitu bahwa,
“Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mengakhirkan sholat diperang Tabuk kemudian beliau keluar untuk sholat zhuhur dan ‘ashar secara jama’ kemudian beliau masuk lagi, kemudian beliau keluar lagi untuk sholat maghrib dan isya secara jama’.”

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al Umm ucapan beliau disini bahwa, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam masuk kemudian keluar, pasti itu bukan keadaan dalam perjalanan, maka orang yang musafir boleh menjama’ baik dalam perjalanan maupun bukan dalam perjalanan.”

Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “ini dalil bantahan kepada orang yang berkata bahwa jama’ ada pada sa’at perjalanan saja.”
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.