Audio

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sejarah Munculnya Bid’ah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Haqiiqotul Bid’ah…

Kita sekarang masuk ke…

⚉  Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah

Disini penulis buku mengatakan bahwa sebab-sebab munculnya bid’ah ada dua macam:

1⃣ SEBAB YANG BERSIFAT TAKDIR DARI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.

Artinya bahwa perpecahan itu sudah Allah takdirkan, karena adanya hikmah-hikmah yang besar dibaliknya.

Allah berfirman [QS Hud :118-119]

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
‎إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

‘Kalaulah Allah Robb-mu berkehendak, Allah akan jadikan manusia itu satu aqidah, satu ummat dan mereka akan terus senantiasa berselisih kecuali yang dirahmati oleh Robb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka dan telah sempurna kalimat Robb-mu bahwa Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dari kalangan jin dan manusia seluruhnya.’

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa perpecahan perselisihan itu sudah Allah takdirkan. Dan tentunya adanya perselisihan… banyak sekali hikmah-hikmahnya, diantara hikmah adanya perpecahan, perselisihan akan terlihat orang yang mengikuti dalil dengan orang yang mengikuti hawa nafsu, akan terlihat orang yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan orang yang tidak sungguh-sungguh.

2⃣ SEBAB DARI MANUSIA ITU SENDIRI.

Apa saja ? Ada beberapa macam:

1. Mengikuti hawa nafsu
Oleh karena itulah ahli bid’ah disebut oleh para Ulama sebagai Ahlul hawa (pengikut hawa nafsu) karena mereka beragama sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan mereka saja, bukan sesuai dengan dalil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
‘Sebab munculnya kesesatan yang paling utama adalah mengikuti dugaan dan hawa nafsu’  [dalam kitab Majmu Fatawa jilid 3/ hal. 384]

Dan memang benar bahwa orang yang mengikuti sebatas dugaan-dugaan pendapat tanpa dalil dan hujjah, demikian pula mengikuti hawa nafsu, maka pasti akan tersesat. Tapi orang yang berusaha untuk mengikuti dalil maka ia, in-syaa Allah, akan tertunjuki.

‘Umar bin Khattab rodhiallahu ’anhu berkata sebagaimana dikeluarkan oleh Alalika’i dalam Kitab Syarah Itikod Ahlusunnah wal Jama’ah jilid 1/hal 123, kata ‘Umar:
‘Jauhi oleh kalian orang-orang yang hanya sebatas berpendapat dengan ro’yu (pendapat akal), karena mereka sebenarnya musuh-musuh sunnah, mereka merasa lelah tidak mampu untuk menghafal hadits, maka mereka kemudian berbicara sebatas dengan ro’yu (akal pikirannya saja). Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.’

Disini Beliau mengatakan bahwa orang yang hanya berpendapat dengan ro’yu (pendapat-pendapat akalnya) tanpa melihat dalil dari Al Qur’an dan Hadits pemahaman Salafush-sholih itu pasti akan tersesat.

Kenapa muncul orang yang berpendapat dengan akal ?
👉🏼  Karena mereka malas untuk mencari dalil, untuk mengkaji dalil dan tata cara memahaminya, mereka lebih senang menggunakan akal pikiran mereka saja.
Dan ini adalah merupakan kebiasaan ahli bid’ah. Munculnya kebid’ahan akibat daripada mengedepankan ro’yu daripada dalil, lebih mengedepankan dugaan-dugaan dan hawa nafsu, sehingga munculnya kebid’ahan itu adalah akibat dari itu.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sejarah Munculnya Bid’ah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Tercelanya Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sejarah Munculnya Bid’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kitab Haqiiqotul Bid’ah (Hakikat Bid’ah)

Kita masuk kepada pembahasan…

⚉  Sejarah Munculnya Bid’ah

Ketahuilah bahwa dizaman Rosulullah, demikian pula Abu Bakar, demikian pula ‘Umar, bid’ah belumlah muncul.
Karena dizaman tersebut adalah zaman yang luar biasa terjaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka-mereka yang terus berpegang kepada sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

Munculnya kebid’ahan yang merupakan fitnah, itu setelah zaman ‘Umar bin Khattab rodhiallahu’anhu. Dan ini sudah diisyaratkan dalam sebuah hadits bahwa ketika Umar bertanya kepada para sahabat, “Siapa diantara kalian yang mengetahui hadits tentang fitnah ?”
Kemudian Hudzaifah berkata, “Engkau tidak akan terkena fitnah tersebut hai Umar. Karena antara engkau dan fitnah tersebut ada sebuah pintu.”
Lalu ‘Umar berkata, “Apakah pintu itu akan terbuka atau pecah ?”
Kata hudzaifah: “pecah”
Kata Umar, “Kalau begitu pintu tersebut tidak akan tertutup kembali.”

Ini memberikan kabar bahwa fitnah-fitnah termasuk di dalamnya yaitu munculnya kebid’ahan, yaitu baru muncul setelah dizaman ‘Umar bin Khattab. Tepatnya diakhir zaman ‘Utsman bin Affan, munculnya fitnah khowarij.
Dimana kaum khowarij, mereka akibat daripada hasutan-hasutan orang-orang yang pura-pura masuk Islam, seperti Abdullah bin Saba’ dan kawan-kawannya yang menyebarkan fitnah terhadap ‘Utsman bin Affan yang kemudian terjadilah demo besar-besaran untuk menurunkan ‘Utsman yang berakhir dengan terbunuhnya ‘Utsman bin Affan.

Kemudian digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Dan dizaman Ali terjadi perang antara Ali dan Muawiyah yang disebut dengan perang Shiffiin. Yang kemudian Ali dan Muawiyah bersepakat untuk berdamai. Dimana Ali mengirimkan Abu Musa al-Asy’ari dan Muawiyah mengirimkan Amr bin al-Ash.

Kemudian orang-orang khowarij disinilah muncul karena kedangkalan ilmu mereka, mereka menuduh Ali menyerahkan hukum kepada manusia. Muawiyah menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu kata mereka milik Allah semata. Maka Ali dituduh oleh mereka tidak berhukum dengan hukum Allah.
Sementara orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah itu kafir. Maka merekapun mengkafirkan Ali dan mengkafirkan para pengikut Ali, mengkafirkan Muawiyah dan merekapun juga mengkafirkan para pengikut Muawiyah.
Dan mereka berkumpul disebuah tempat, namanya Haruro’. Mereka kemudian disebut kaum Haruriyyah.

Dan munculnya khowarij ini telah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam kabarkan akan kemunculan mereka, dalam hadits-hadits yang shohih. Diantaranya Rosulullah bersabda,
“Akan muncul sebuah kelompok saat kaum muslimin sedang berperang, berpecah belah
Mereka menghafal Al Qur’an
Namun tidak sampai kekerongkongannya…”
maksudnya karena sangking dangkal mereka pemahamannya.

Itulah kemudian muncul ternyata benar dizaman Ali bin Abi Thalib rodhiallahu ’anhu.

Tadinya Ali tidak mau memerangi mereka. Tapi ketika mereka telah berbuat keonaran dan membunuhi sebagian kaum muslimin, maka Ali bin Abi Thalib pun bermusyawarah dengan para sahabat. Maka bersepakatlah para sahabat bahwa mereka itulah yang dimaksud oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Dan bahwasanya orang yang memerangi mereka akan mendapatkan pahala yang besar sampai hari kiamat.

Rosulullah mengabarkan bahwa tanda diantara mereka adalah ada dilengan salah seorang mereka seperti payudara wanita. Maka Ali pun dengan bertawakal kepada Allah bersama para sahabat memerangi kaum haruro tersebut, dan berhasil ditumpas. Lalu Ali berusaha mencari tanda tersebut dan ternyata mendapatkannya lalu beliaupun sujud sebagai rasa syukur kepada Allah.

Dan tentunya orang-orang khowarij tidak sampai disitu, mereka sisa-sisa mereka yang lari berusaha untuk membalas dendam sampai akhirnya mereka berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib.

Kemudian… ini adalah khowarij dan khowarij pemikirannya adalah intinya mengkafirkan pelaku dosa besar, karena mereka memahami secara pemahaman yang dangkal firman Allah, barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka kafir. Sedangkan pelaku dosa besar tentunya tidak berhukum dengan hukum Allah, jadi menurut mereka kafir.

Atas dasar inilah mereka menganggap bahwa seluruh pelaku dosa besar itu murtad kafir halal darahnya. Na’udzubillah

Kemudian nanti akan kita jelaskan firqoh yang lainnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Bermusyawarah Di Saat-Saat Penting…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

KITAB FIQIH – Al Istikhlaf…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Ma’mum Sholat Dibelakang Imam Tapi Ada Penghalang…  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kajian fiqihnya… kemudian beliau membawakan sebuah pembahasan, yaitu…

⚉  AL ISTIKHLAF… artinya : IMAM MEMINTA MA’MUM UNTUK MENGGANTIKAN DIRINYA DITENGAH SHOLAT KETKA TERJADI UDZUR.

Ini diperbolehkan atau disyari’atkan seorang imam untuk menarik ma’mum yang ia pandang berhak untuk menjadi imam lalu menyuruhnya untuk menggantikannya sebagai imam.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhori tentang kisah ‘Umar bin Khattab yang ditusuk saat beliau menjadi imam lalu beliau memegang tangan Abdurrahman bin ‘Auf dan menyuruhnya untuk menggantikan beliau menjadi imam.

Kemudian… apabila imam, misalnya diroka’at pertama, ia baru ingat bahwa ia belum mandi junub maka boleh ia beri isyarat kepada ma’mum agar dia (imam) pergi untuk mandi junub lalu kemudian ia melanjutkan kembali sebagai imam.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Bakhrah rodhiallahu ‘anhu, bahwa “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam masuk didalam sholat shubuh kemudian beliau mengisyaratkan dengan tangannya supaya diam ditempat kemudian beliau datang dalam keadaan rambutnya basah lalu beliau kembali mengimami mereka.”
(HR Abu Daud)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam telah mulai bertakbir kemudian setelah selesai sholat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إنما أنا بشر وإني كنت جنبًا [سنن أبي داود : 234

“Aku ini manusia biasa yang bisa lupa dan tadi aku baru ingat dalam sholat kalau aku junub.”

Dalam riwayat yang lain Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam ingatnya sebelum bertakbir.

Dan dari Abu Hurairah bahwasanya, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar sementara sholat telah di-iqomatkan, lalu beliau merapihkan shoff sehingga apabila beliau telah berdiri ditempat sholatnya dan para ma’mum menunggu takbirnya beliau, maka beliaupun kemudian menghadap kepada ma’mum dan berkata, “diamlah ditempat kalian”, kamipun diam ditempat kami sampai kemudian beliaupun keluar dalam keadaan rambutnya basah telah mandi.” (HR Imam Bukhori dan Muslim)

Adapun kalau imam batalnya ditengah sholat maka hendaknya imam menarik ma’mum yang ada dibelakangnya.

Dan apabila imam setelah selesai sholat baru ingat kalau ia belum mandi junub, maka ia wajib untuk mengulang sholatnya, adapun ma’mum maka tidak perlu untuk mengulang sholatnya sebagaimana diriwayatkan dari ‘Umar bahwa beliau pernah mengimami sholat shubuh kemudian beliaupun setelah selesai sholat pergi ke Juruf dan ternyata beliau mendapatkan beliau sedang junub maka beliaupun mengulangilah sholatnya dan orang orang tidak mengulanginya.

Dan diriwayatkan seperti ini juga dari Utsman dan Ali.

⚉  TEMPAT IMAM DAN MA’MUM

Dimana ma’mum berdiri dari imam kalau ma’mumnya sendiri ?

Yaitu ia berdiri disebelah kanan imam sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas ia sholat malam bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam . [HR Imam Bukhori dan Muslim]
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Tercelanya Bid’ah # 3…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Tercelanya Bid’ah # 2…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Tercelanya Bid’ah # 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kitab Haqiiqotul Bid’ah (Hakikat Bid’ah)

Kemudian beliau setelah membawakan dalil-dalil dari Alqur’an dan Hadits tentang tercelanya bid’ah,

Beliau membawakan…

⚉  atsar-atsar dari para sahabat dan para tabi’in dan para Ulama Salaf terdahulu tentang tercelanya bid’ah.

Diantaranya yaitu yang dikeluarkan Abu Dawud dengan sanadnya kepada Mu’adz bin Jabal, bahwa beliau berkata:

‎إن من ورائكم فتناً يكثر فيها المال ويفتح فيها القرآن

‘Sesungguhnya dibelakang kalian nanti akan banyak fitnah, dizaman itu harta akan melimpah, Al Qur’an akan dipelajari oleh mukmin maupun munafik, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang tua, hamba sahaya maupun merdeka.’

‎فيو شك أن يقول قائل : ما للناس لا يتبعوني؟

‘Hampir-hampir akan ada orang berkata begini: “Mengapa orang-orang tidak mau mengikutiku, sementara aku sudah hafal Qur’an, mereka tidak akan mengikutiku sampai aku membuat bid’ah..?”‘

Maka kata Mu’adz, ‘hati-hatilah kalian apa yang ia ada-adakan berupa bid’ah tersebut’

‎فإن ما ابتد ع ضلالة واحذروا زيفة الحكيم

‘Karena yang ia buat-buat berupa bid’ah itu adalah kesesatan, dan hati-hati juga terhadap kesalahan orang yang bijak karena setan terkadang mengucapkan kata-kata yang sesat melalui lisan orang yang bijak dan terkadang orang munafik mengucapkan kata-kata kebenaran’ [dikeluarkan Darimiy dan Ibnu Waddlhoh]

Disini beliau (Mu’adz bin Jabal) mengabarkan bahwa kelak nanti akan banyak fitnah diantaranya juga akan orang semua akan mempelajari Al Qur’an, betul-betul menghafal Alqur’an bahkan mempelajari tajwidnya dengan sungguh-sungguh. Sampai-sampai orang munafik dan orang berimanpun semuanya mempelajarinya. Namun ternyata ada orang yang mempelajarinya karena ingin mendapat pengikut, ternyata ia tidak mendapatkan pengikut, lalu ia berbuat bid’ah agar diikuti oleh orang.

Maka Beliau mengingatkan agar menjauhi orang seperti ini. Beliau juga mengingatkan, terkadang orang yang bijaksana atau orang alim mengucapkan kata-kata yang ternyata tidak sesuai kebenaran. Maka hati-hati juga jangan sampai menipu kita. Terkadang juga orang munafik mengucapkan kata-kata kebenaran, maka jangan juga kita, gara-gara satu kebenaran yang ia ucapkan, menyebabkan kita tertipu oleh kemunafikannya.

Ucapan beliau ini sangat mengena untuk di zaman sekarang terutama.

⚉  Kemudian Beliau membawakan Atsar Hudzaifah Ibnul Yaman, bahwa beliau berkata:

‎يا معشر القراء استقيموا فقد سبقتم سبقا بعيداً، ولئن أخذ تم يميناً أو شمالاً لقد ضللتم ضلالاً بعيداً

‘Wahai para qori, wahai ma’syarol Qura’ (maksudnya disini orang-orang yang senantiasa mempelajari Al Qur’an, senantiasa berusaha untuk mempelajari ilmu)

Kata beliau : ‘istiqomahlah… kalian telah mendahului manusia dengan pahala, dengan mendahului yang jauh sekali.
Kalau kalian tidak istiqomah dan mengambil jalan kanan atau kiri kalian akan sesat sesesat-sesatnya’ artinya kalau kalian tidak mengikuti sunnah Rosul, tidak mengikuti jalan mustaqiim yang lurus yang dipegang oleh Rosul dan para sahabatnya, kalian akan tersesat.

⚉  Kemudian beliau menyebutkan juga Atsar Abul ‘Aliyah yang dikeluarkan oleh Imam Al Ajurri.

Abul ‘Aliyah seorang tabi’in berkata : ‘Pelajarilah Islam, apabila kalian telah mempelajarinya jangan kalian setelah itu malah membencinya.’ Artinya jangan berubah setelah belajar Islam, akibat mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya.

Lalu beliau berkata lagi

‎وعليكم بالصراط المستقيم

‘Hendaklah kalian berpegang kepada jalan yang lurus.
Karena jalan yang lurus itu ada pada Islam, jangan bengkok dari jalan yang lurus itu kekanan atau kekiri’

‎وعليكم بسنة نبيكم
‎والذي عليه أصحابه

‘Dan hendaklah kalian berpegang kepada sunnah Nabi kalian
dan yang di pegang oleh para sahabatnya’

‎فإ نا قد قر أنا القرآن من قبل أن يفعلوا الذي فعلوه خمس عشرة سنة

‘Karena kita sudah membaca Al Qur’an sebelum mereka melakukan yang mereka lakukan, lima belas tahun lamanya. Dan jauhi oleh kalian hawa nafsu-hawa nafsu ini yang bisa menyebabkan permusuhan antara manusia dan menyebabkan kebencian.’

Disini beliau memberikan nasehat agar kita berpegang kepada sunnah Nabi dan apa yang dipegang oleh para sahabat.

⚉  Ibnu ‘Abbas berkata:

‎عليكم بالاستقامة والأثر وإياكم والتبدع

‘Hendaklah kalian istiqomah, berpegang kepada Atsar para sahabat, jauhi oleh kalian perbuatan bid’ah’ [dikeluarkan oleh Ibnu Waddlhoh]
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

KITAB FIQIH – Ma’mum Sholat Dibelakang Imam Tapi Ada Penghalang…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apabila Tempatnya Imam Lebih Tinggi Daripada Tempat Makmum…  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya…

⚉  MA’MUM SHOLAT DIBELAKANG IMAM TAPI ADA PENGHALANG KARENA ADANYA UDZUR.

Berkata Imam Al Bukhari dalam kitab Al Adzan, bab apabila antara imam dan ma’mum ada penghalang berupa tembok dan lainnya.

⚉  Berkata Al Hasan Al Basri,
“tidak mengapa kamu sholat sementara antara kamu dan imam itu ada sungai.”

⚉  Abu Mijlas berkata, “boleh berma’mum kepada imam walaupun antara keduanya ada jalan atau tembok selama ia masih mendengar takbirnya imam.”

⚉  Lalu penulis buku ini Syaikh Hussain ia berkata,
“…dan ini dibawa kepada apabila keadaannya itu dibutuhkan, seperti misalnya karena shof sudah penuh sehingga kita sholat ditempat yang berbeda bangunan seperti yang ada di Mekah misalnya, ketika sudah penuh kita sholat dimasjid yang ada dihotel, maka itu diperbolehkan.”

⚉  HUKUM BERMA’MUM KEPADA IMAM YANG MENINGGALKAN SYARAT ATAU RUKUN SHOLAT

Apabila imam meninggalkan syarat atau rukun secara sengaja, batallah sholat dia dan ma’mum, adapun apabila ma’mum tidak mengetahui maka sholat mereka sah dan dosanya ditanggung oleh imam.

‘Jika imam tidak tahu bahwa ia meninggalkan syarat dan rukun sholat, maka sholatnya imam dan makmum sah— sedangkan dosanya bagi imam ‘dan imam wajib mengulangi sholatnya setelah tahu, dan ma’mum tidak mengulangi.’ (tambahan setelah rekaman).

Berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasalam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يُصَلُّونَ لَكُمْ ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

“Mereka sholat mengimami kami apabila mereka benar (imam itu benar sholatnya) kalian dapat pahala dan apabila mereka salah sholatnya kalian dapat sholat dan dosa atas mereka (atas imam itu).”

⚉  Imam Al Hafidz Ibnu Hajar mengambil faidah dari hadits tersebut berkata, ‘didalam hadits ini terdapat faidah, bolehnya sholat dibelakang imam, baik imam tersebut baik dan sholih ataupun imam yang fajir apabila takut darinya.’

⚉  Dan juga Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah berkata dalam haditsnya terdapat dalil,
“apabila imam sholat dalam keadaan berhadas maka sholat ma’mum itu sah adapun kewajiban imam adalah dia mengulanginya jika dia (misalnya imam tersebut) baru ingat setelah sholat bahwa ia belum mandi junub kemudian dia menjadi imam, maka sholat ma’mum sah.
Setelah itu imam wajib mandi dan mengulangi sholatnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bahwa ia sholat mengimami manusia sa’at sholat shubuh kemudian keluar menuju sebuah tempat yang bernama Juruf dan ternyata beliau ingat beliau belum mandi junub maka beliau segera mengulang sholat dan ma’mum tidak mengulangi.”

Demikian juga Al Atsram meriwayatkan seperti itu demikian pula Utsman dan Ali pernah terjadi pada mereka hal tersebut.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…