Category Archives: Firanda Andirja

Sombong Tidak Mengenal Batasan

Sombong itu bukan hanya pada perkara dunia…

Seseorang bisa sombong karena ilmunya,
bisa karena gelarnya,
bisa karena sanadnya,
bisa karena gurunya,
bisa karena masjidnya, majelis taklimnya, tajwidnya, sedekahnya… dll

Jangan sampai ibadahmu, yang seharusnya menjadikanmu semakin tawadu, malah menjerumuskanmu dalam kesombongan dan menilai rendah selainmu.
.
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA,  حفظه الله تعالى

#COVID_19 : Ampuni dan Sayangilah Kami Ya Ghofuur Ya Rohiim

Sedih tidak bisa berjabat tangan dengan sesama muslim..
Tidak bisa berjumpa dengan mereka di masjid…
Tidak bisa mencium kening orang tua..
Tidak bisa bersimpuh di masjid..

Tapi tentu lebih sedih lagi kalau virus semakin menjalar..
Para perawat semakin berguguran…
Kaum muslimin semakin berjatuhan…
Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami…
Dosa lisan kami, pandangan kami tulisan dan komentar kami..
Semua ini karena dosa dosa kami…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Waspadalah !

Jika seseorang mendatangimu lalu menggibahi dan menjatuhkan saudaramu di hadapanmu maka waspadalah. bisa jadi engkau adalah korban berikutnya..

Sebaliknya, jika engkau mendapati seseorang memujimu dengan pujian yang berlebihan yang tidak pantas dengan hakekat dirimu maka waspadalah.. suatu hari jika ia membencimu maka ia akan merendahkanmu juga dengan perendahan yang berlebihan pula.

Maka janganlah terpedaya dengan pujiannya..!

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Semua Pernah Berdosa

Wahai saudaraku..
kita semua pernah berdosa, baik dosa yang dilihat orang banyak, baik dosa yang diketahui orang lain, atau dosa yang hanya kita sendiri yang tahu, hanya Allah yang melihat kita, hanya malaikat yang mencatat dosa-dosa kita.

Maka janganlah ragu, saya dan anda jangan ragu untuk kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala,nuntuk bertaubat untuk meneteskan air mata mengakui dosa-dosa kita. Sesungguhnya Rabb kita Allah Subhanahu wata’ala sangat sayang dan gembira jika kita kembali kepadaNya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

#COVID_19 : Penjelasan Hadits Tentang Berlindung ke Masjid Ketika Wabah

Hadits tersebut adalah hadits dari sahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda:

إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ

“Jika penyakit dari langit diturunkan maka penyakit tersebut dipalingkan dari para pemakmur masjid-masjid”.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi (di Syúabul Iman no 2686), Ibnu Ádiy (di Al-Kaamil fi Dhuáfaa’ al-Rijaal 4/205 pada biografi no 725 Zafir bin Sulaiman), dan Ibnu Ásaakir (di Tarikh Dimasyq 17/11 no 1999)

Semuanya dari Jalur Zafir bin Sulaiman dari Abdullah bin Abi Shalih dari Anas bin Malik radhiallahu ánhu.

Hadits ini dinilai lemah (dhoíf) oleh banyak ulama, diantaranya Ibnu Ádiy (Al-Kaamil 4/205), As-Suyuthi (Jamúl Jawaami’ 2/139), dan Al-Albani (Ad-Dhoífah 4/332 no 1861).

Adapun sebab lemahnya hadits ini adalah sebagai berikut :

⚉ PERTAMA : Pada sanadnya ada dua perawi yang lemah.

Yang pertama adalah Zafir bin Sulaiman. Ibnu Ádiy menilainya sebagai parawi yang dhoíf karenanya dimasukan dalam bukunya “Al-Kaamil fi Dhuáfaa’ ar-Rijaal” yaitu buku yang menjelaskan para perawi yang dhoíf. Dan hadits Anas ini beliau riwayatkan dalam buku tersebut melalui jalur Zafir bin Sulaiman untuk memberi contoh tentang hdaits-hadits dhoíf yang diriwayatkan oleh Zafir. Beliau berkata secara khusus tentang Zafir :

وَكَانَ أَحَادِيْثُهُ مَقْلُوْبَةَ الإِسْنَادِ مَقْلُوْبَةَ الْمَتْنِ وَعَامَّةُ مَا يَرْوِيْهِ لاَ يُتَابَعُ عَلَيْهِ وَيُكْتَبُ حَدِيْثُهُ مَعَ ضَعْفِهِ

“Dan hadits-haditsnya terbalik sanadnya, terbalik matannya, dan keseluruhan periwayatannya tidak diikuti dan ditulis haditsnya meskipun dia lemah” (Al-Kaamil fi dhuáfaa ar-Rijaal 4/206)

Para ulama lain yang mendoífkannya adalah Al-Bukhari, an-Nasaai, Abu Zuráh, Ibnu Hibaan, dan al-Uqoili (Lihat Tahriir Taqriib at-Tahdziib 1/409)

Adapun Ibnu Hajar beliau berkata صَدُوْقٌ كَثِيْرُ الأَوْهَامِ “Shoduuq tapi banyak kelirunya” (Taqriib at-Tahdziib hal 213)

Yang Kedua : Abdullah bin Abi Shalih as-Sammaan al-Madani. Ibnu Hajar berkata tentangnya لَيِّنُ الْحَدِيْثِ “Lemah haditsnya” (Taqriib at-Tahdziib hal 308 no 3390)

⚉ KEDUA : Sanadnya terputus. Hal ini karena Abdullah bin Abi Shalih tidak meriwayatkan  dari Anas bin Malik, akan tetapi ia meriwayatkan dari Ayahnya yaitu Abu Shalih dan juga dari Saíd bin Jubair (lihat Tahdziib at-Tahdziib, Ibnu Hajar 5/263).

⚉ KETIGA : Dzahir hadits ini menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا، أَصَابَ العَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ

“Jika Allah menurunkan hukuman/adzab kepada suatu kaum maka adzab tersebut menimpa siapa saja yang bersama mereka, kemudian mereka dibangkitkan sesuai dengan amal mereka.” (HR Al-Bukhari no 7108 dan Muslim no 2879)

Yaitu jika turun hukuman/adzab maka menimpa siapa saja termasuk orang-orang shalih, akan tetapi semuanya akan terbedakan tatkala dibangkitkan. Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan berkata:

أَيْ بُعِثَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى حَسَبِ عَمَلِهِ إِنْ كَانَ صَالِحًا فَعُقْبَاهُ صَالِحَةٌ وَإِلَّا فَسَيِّئَةٌ فَيَكُونُ ذَلِكَ الْعَذَابُ طُهْرَةً لِلصَّالِحَيْنِ ونقمة على الْفَاسِقين

“Yaitu setiap orang dari mereka akan dibangkitkan sesuai amalnya. Jika amalnya shalih maka kesudahannya baik, dan jika tidak maka kesudahannya buruk. Maka adzab tersebut adalah pembersih bagi orang-orang shalih dan hukuman bagi orang-orang fasik” (Fathul Baari 13/60, Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak, sebagiannya disebutkan oleh Ibnu Har di Fathul Baari 13/60. Silahkan lihat juga penjelasan Al-Albani di Ad-Dhoífah 4/332)

Jika telah jelas hadits ini adalah hadits yang lemah maka sepantasnya tidak disebarkan (dan juga tidak ikut menyebarkannya), terutama di saat yang genting seperti ini yang sedang mewabah covid 19. Selain itu perlu dipertimbangkan pula hal-hal berikut:

Pertama: Jika hadits inipun taruhlah shahih maka “penyakit” yang disebutkan dalam hadits Anas ini masih bersifat umum. Adapun penyakit mewabah dan menular maka ada hadits-hadits khusus yang memerintahkan untuk menjauhinya. Seperti :

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ

“Larilah dari orang yang kusta sebagaimana engkau lari dari singa” (HR Ahmad no 9722 dan dishahihkan oleh al-Arnauth dan Al-Albani di As-Shahihah no 783)

لاَ تُورِدُوا المُمْرِضَ عَلَى المُصِحِّ

“Dan janganlah membawa onta yang sakit kepada onta yang sehat” (HR Al-Bukhari no 5774 dan Muslim no 2221)

Dan kita ketahui bahwasanya pemerintah dan para ahli kesehatan telah menyebutkan bahwa tempat-tempat keramaian apalagi saling berdekatan dan bersentuhan maka merupakan potensi tersebarnya covid 19. Apalagi ternyata telah terjadi penyebaran covid 19 di tempat-tempat ibadah.

Baca Berita Antara: Mayoritas dari 190 kasus baru corona Malaysia terkait acara di masjid

Kedua: Hendaknya kita menghormati para ulama dan juga penjelasan pemerintah dan ahli kesehatan dalam hal ini. Jika para ulama di seluruh dunia (di Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Al-Jazair, Maroko, Malaysia dan MUI Indonesia) telah sepakat untuk menutup masjid dan meniadakan jumátan maka tentu mereka tidak sembarang berfatwa. Jika ternyata pendapat kita bertentangan dengan pendapat mereka dan kita merasa kita yang benar dan mereka (para ulama tersebut) yang salah, maka hendaknya kita mengalah dan menghormati keputusan pemerintah dan para ulama tersebut.

Ketiga:  Bisa kita banyangkan jika ternyata semua orang berpendapat bahwa fatwa ulama dan keputusan pemerintah tidak perlu ditaati dan tidak perlu diindahkan maka sudah bisa dipastikan negeri kita bisa cheos seperti yang dialami oleh Italia dan Iran yang di awal muncul covid 19 mereka tidak perduli dan tetap meramaikan tempat ibadah.

Keempat:  Jangan sampai kita nekat sehingga kitapun ikut andil dalam menyebarkan virus, sehingga kita berdosa. Karena kalau seandainya yang mati kita sendiri perkaranya lebih ringan, tapi kalau kita sudah terjangkiti virus, lantas kita sengaja untuk ke tempat keraimaian sehingga orang-orang banyak pada tertular, maka hakikatnya kita telah memberi kemudorotan kepada mereka. Sementara Nabi bersabda :

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan mudorot pada diri sendiri dan juga memudorotkan orang lain.” (HR Ibnu Majah)

Hendaknya kita bersabar dalam dua pekan atau sebulan ini, semoga Allah memudahkan urusan kaum muslimin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Ref: https://bekalislam.com/4109-permasalahan-fikih-terkait-corona.html

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Memberi Udzur Kepada Saudara Yang Bersalah

Ibnu Hibbaan rohimahullah berkata :

الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ..
فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة

“Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara…

Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajjb bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan…”

(Roudhotul ‘Uqolaa’ hal 186)

Orang yang suka memberi udzur apalagi memaafkan saudaranya yang bersalah maka akan mensucikan jiwanya dan membahagiakan hatinya.

Adapun jika tidak suka memberi udzur apalagi suka mencari cari kesalahan dan suka mendendam maka hanya menyiksa hati dan menjadikannya ujub.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA,  حفظه الله تعالى 

da0811160558

Bagaimana Caranya Agar Hati Bisa IKHLAS Terus ..? Adakah Do’anya..?

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

da311215-2125

Bersedekah Dengan Seluruh Gaji-Penghasilan Tiap Bulan…

Permasalahannya hanya tinggal menghadirkan niat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةِ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Tidaklah engkau mengeluarkan biaya dengan mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi ganjaran, bahkan sesuap makanan yang kau suapkan ke mulut istrimu”
(HR Al-Bukhari no 56 dan Muslim no 1628)

Jika seseorang menghadirkan niat..
– tatkala mengatur pengeluarannya..
– tatkala membelikan keperluan keluarga, keperluan sekolah anak-anak…
bahkan menghadirkan niat tatkala membayar tagihan listrik atau membelikan pulsa buat istri…maka semuanya akan bernilai sedekah di sisi Allah.

Yang penting JANGAN LUPA NIAT…
perkaranya sepele akan tetapi sering terlalaikan…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

da100916

Larangan Mencukur Bagi Yang Hendak Berkurban…

عن أم سلمة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال * إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih (kurban) maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya (HR Muslim no 1977)

Dalam riwayat yang lain :

فَلاَ يَمُسُّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Janganlah ia menyentuh rambut dan bulu-bulunya (rambut badannya) sedikitpun (HR Muslim no 1977, lihat penjelasan perbedaan antara sya’ar dan basyr dalam Aunul Ma’buud 7/349)

Dalam riwayat yang lain :

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

Barang siapa yang memiliki hewan sembelihan yang akan ia sembelih maka jika telah nampak hilal bulan Dzulhijjah maka janganlah ia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih (HR Muslim no 1977)

Faedah-Faedah Hadits:

Pertama :  Jika telah masuk malam 1 dzulhijjah (yaitu dengan nampaknya hilal) maka sejak malam tersebut (semenjak terbenamnya matahari) tidak boleh bagi seseorang yang hendak berkurban untuk memotong kukunya atau memangkas rambutnya, demikian juga rambut-rambut yang lain atau bulu-bulu yang lain.

Kedua : Larangan ini berlaku hingga ia menyembelih sembelihannya. Jika ternyata ia hendak menyembelih lebih dari 1 sembelihan, maka ia boleh memotong rambut, bulu, dan kukunya setelah ia memotong hewan yang pertama, meskipun masih ada sembelihan yang lain yang belum dipotong.

Ketiga : Dzohir dari hadits ini bahwasanya larangan memotong dan mencukur tersebut hukumnya adalah haram dan bukan makruh, meskipun ada perselisihan para ulama dalam hal ini. Dan yang lebih kuat adalah hukumnya haram, karena asal dalam larangan adalah haram hingga datang dalil yang memalingkannya menjadi makruh.
Barang siapa yang sengaja memotong kuku atau mencukur rambut dan bulu, maka hendaknya ia beristighfar dan tidak perlu membayar fidyah, dan tidak mempengaruhi tentang keutamaan hewan sembelihan kurbannya.

Keempat : Larangan memotong dan mencukur ini hanya berlaku bagi orang yang hendak menyembelih hewan kurban, tidak berlaku bagi orang lain yang ia wakilkan untuk membelikan atau untuk menyembelih hewan kurbannya. Demikian pula tidak berlaku bagi orang-orang yang ingin ia ikut sertakan mendapatkan pahala sembelihan kurbannya.

Kelima : Barang siapa yang di awal Dzulhijjah tidak berniat ingin menyembelih hewan kurban lalu beberapa hari berikutnya iapun berniat maka ia dilarang untuk memotong kuku dan mencukur rambut dan bulu semenjak ia memasang niatnya tersebut.

Keenam : Barang siapa yang butuh untuk memotong kukunya (misalnya karena kukunya pecah, sehingga ia terganggu atau tersakiti), atau butuh untuk mencukur rambutnya (misalnya karena ingin berobat dengan berbekam di kepalanya) maka tidak mengapa untuk melakukannya. Karena kondisi orang yang hendak berkorban tidaklah lebih agung dan lebih mulia dari pada kondisi seseorang yang sedang ihram (muhrim). Jika seorang muhrim boleh mencukur rambutnya jika ia memerlukannya maka demikian pula boleh bagi seseorang yang ingin berkorban. Hanya saja seorang yang muhrim jika mencukur rambutnya maka wajib baginya untuk membayar fidyah, adapun bagi orang yang ingin berkorban maka tidak perlu membayar fidyah.

Ketujuh : Tidak mengapa bagi seorang yang hendak berkorban untuk mencuci rambutnya, yang dilarang adalah mencukur rambutnya atau bulu-bulunya.

Kedelapan : Barang siapa yang ingin berkorban lalu bertekad untuk melaksanakan haji atau umroh maka hendaknya ia tidak memotong kuku dan tidak mencukur bulu-bulu tatkala hendak ihram, karena memotong kuku dan mencukur bulu-bulu hukumnya sunnah sehingga lebih didahulukan larangan mencukur bulu dan memotong kuku.

Adapun jika ia setelah umroh dan hendak bertahallul maka tidak mengapa ia mencukur rambutnya karena mencukur rambut –menurut pendapat yang rajih/kuat- termasuk salah satu manasik umroh. Demikian pula halnya seseorang yang setelah melempar jumroh ‘Aqobah maka boleh baginya untuk mencukur rambutnya –meskipun hewan sembelihan kurbannya belum dipotong-.
(Faedah-Faedah di atas diringkas dari kitab Ahaadiits ‘Asyr Dzilhijjah karya Abdullah Fauzaan, hal 8-10) 

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT BULAN DZULHIJJAH
Serba-Serbi DZULHIJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Di Bulan Dzulhijjah…
.
.
Ref : https://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/316-larangan-mencukur-bagi-yang-hendak-berkurban