All posts by BBG Al Ilmu

#COVID_19 : Musibah Menghapus Dosa…

Akhi, ukhti…

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita
Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya
Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.

Sekarang coba bayangkan, dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan
Kita tidak pernah menghitungnya, kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung…
sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…

Lepas dari semua itu, Allah, Ar Rahman Ar Rahiem…
Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…
Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no.5641 dan Muslim no. 2573)

Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya
Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah

Salah satu ulama’ salaf berkata:

لولا مصائب الدنيا لوردنا الآخرة مفلسين

“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”.

Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah…
saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa…
Dengan menata hati
Bersabar
Meridhoi takdir Ilahi
Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

da3112161341

#COVID_19 : Bahagia Itu Bila Orientasi Anda Akherat…

Ibnu Hazm -rohimahulloh- mengatakan:

Aku dapati orang yang ‘beramal untuk akherat’, jika dia diuji dengan sesuatu yang dibenci di jalannya itu; dia tidak sedih, bahkan dia malah bahagia, karena harapannya terhadap apa yang akan diterimanya (di akherat) itu menjadi penolong baginya pada hal yang dia inginkan, dan itu melebihi target yang dia inginkan.

Dan aku dapati bila dia terhenti langkahnya oleh sesuatu hal di jalannya itu; dia tidak sedih, karena dia (tahu) tidak disalahkan karena itu, sehingga hal tersebut tidak berpengaruh terhadap apa yang dia inginkan (di akherat).

Aku melihat bila dia dijadikan sasaran gangguan; dia bahagia. Bila ditimpa kesulitan; dia bahagia. Dan bila dia lelah karena apa yang dijalani; dia gembira, sehingga dia dalam keadaan bahagia selamanya…

Dan ketahuilah, bahwa yang diinginkan (oleh manusia) hanyalah satu; MENGUSIR KESEDIHAN, dan tidak ada jalan untuk itu melainkan satu jalan, yaitu: beramal karena Allah ta’ala.

[Al-Akhlaq was Siyar, Ibnu Hazm, hal: 15-16].

——-

Inilah yang jauh hari telah disinggung oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya adalah kebaikan, dan itu tidaklah ada melainkan pada diri seorang mukmin.

Bila dia menerima nikmat; dia bersyukur, sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa ujian, dia bersabar, sehingga itu menjadi kebaikan pula baginya“. [HR. Muslim: 2999].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

da230115-0516

Orang Yang Lebih GEMBIRA Dan Lebih BUTUH Terhadap Pahala Sedekah

Seandainya ‘orang yang bersedekah’ sadar bahwa sedekahnya itu SAMPAI di tangan Allah sebelum sampai ke tangan si miskin, tentunya orang yang memberi akan lebih GEMBIRA dengan pemberiannya daripada orang yang mengambil pemberian.

Seandainya ‘orang yang memberi’ tahu bahwa dia itu BUTUH terhadap pahala sedekahnya melebihi kebutuhan si miskin terhadap sedekahnya, tentunya tangannya menjadi lebih RINGAN dalam memberi daripada tangan si miskin dalam menerima pemberiannya.

Seandainya ‘orang yang memberi’ tahu bahwa MANFAAT sedekahnya untuk dirinya jauh lebih besar daripada manfaat sedekah itu untuk si miskin, tentunya dia ingin MEMPERBANYAK sedekahnya melebihi keinginan si miskin untuk mendapatkan pemberian yang banyak.

Mari bantu orang yang membutuhkan di sekitar kita…

Kita selalu semangat dalam mencari harta dan berpikir bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas… maka harusnya kita juga semangat dan berpikir demikian dalam masalah pahala, bahkan harusnya lebih semangat lagi, wallohul musta’an…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2610162043

Tenanglah Bersama Allah… Karena Allah Melebihi Segalanya…

Tenanglah bersama Allah… karena Allah melebihi segalanya…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika orang-orang merasa kaya dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa kaya dengan Allah..

Jika mereka merasa senang dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa senang dengan Allah..

Jika mereka merasa akrab dengan teman-teman karib mereka, maka jadikanlah keakrabanmu itu dengan Allah..

Jika mereka mencari kenalan para penguasa dan pembesarnya, dan orang-orang mendekati mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi… maka kenalkan dirimu kepada Allah dan carilah kasih sayang-Nya, niscaya kamu raih dengannya puncak kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.

[Kitab: Al-Fawaid, hal: 118].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1411150627

Masalah Hidup…

Orang yang hidup di dunia, pasti akan menghadapi banyak masalah, Allah telah menegaskan hal ini dalam Alqur’an:

“Dialah Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian, untuk menguji kalian, siapakah diantara kalian yang paling baik amalannya”. [Al-Mulk: 2].

Jangankan kita, para Nabi saja -‘alaihimussalam- menghadapi banyak masalah hidup, bahkan Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang yang paling baik (setelah mereka), kemudian orang yang paling baik (setelah mereka). Orang akan diuji sesuai dg tingkatan agamanya”. [HR. Attirmidzi 2398, dishohihkan oleh Sy. Albani dalam Silsilah Shohihah: 143].

Kita tidak mungkin lari dari masalah, bahkan ketika kita ingin lari dari masalah dengan mengakhiri hidup (baca: bunuh diri); justru kita sebenarnya malah menjerumuskan diri ke masalah yang jauh lebih besar!

Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam

“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga dia membunuh dirinya, maka dia nanti di neraka jahannam menjatuhkan dirinya (dari gunung) secara terus menerus dan selama-lamanya.

Siapa yang menelan racun hingga membunuh dirinya, maka nanti di neraka racun itu akan berada di tangannya, dia menelannya, secara terus menerus dan selama-lamanya.

Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka nanti di neraka senjata tajam itu akan di tangannya, dia menusukkannya ke perutnya, secara terus menerus dan selama-lamanya”. [HR. Bukhari: 5442 dan Muslim: 109].

Jika masalah tidak mungkin lagi dihindari, maka menghadapinya adalah sebuah keniscayaan.

Dalam menghadapinya kita harus tahu, bahwa masalah hidup, tidak keluar dari dua keadaan:
a- masalah yang solusinya ada di tangan kita.
b- masalah yang solusinya ada di tangan Allah.

Jika solusinya ada di tangan kita, maka berusahalah untuk menyelesaikannya semampu mungkin.

Jika solusinya ada di tangan Allah, maka mintalah solusinya dari Allah.

Jika kita telah tahu hakekat ini, maka tidak perlu ada rasa gundah dan sedih yang berkelanjutan karena masalah kita yang tak kunjung clear.

Jika memang solusinya hanya di tangan Allah, harusnya kita sabar dan selalu meminta kepada Allah agar Dia selesaikan masalah tersebut.

Kita juga harusnya menyerahkan masalah itu kepada Allah, dan tidak perlu banyak memikirkannya, karena dengan kita pikir pun, masalah tidak akan selesai, karena solusinya hanya ada di tangan Allah.

Intinya, hadapi dengan sabar, banyak berdoa, menyerahkannya kepada Allah, husnuzhon kepada-Nya, dan mengharap pahala dari Allah dari ujian tersebut.

InsyaAllah, dengan demikian, kita akan dapat mewujudkan keajaiban diri seorang mukmin, “jika mendapatkan kemudahan, bisa bersyukur, dan jika menemui kesulitan, bisa bersabar”, dan dua-duanya akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

E-book (PDF) DZIKIR PAGI & SORE… Dengan TEXT Lebih Besar… Silahkan Download Apapun Smartphone Anda…

Alhamdulillah alladzii bi-ni’matihi tatim-mush shoolihaat… (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua urusan menjadi baik)

Bagi yang masih belum hafal dzikir pagi dan sore, kini kami hadirkan untk smartphone anda (ios maupun android) dalam bentuk PDF dengan TEXT LEBIH BESAR dan FAEDAH DZIKIR. 

Sengaja kami pisah e-book dzikir pagi sendiri dan e-book dzikir sore sendiri agar lebih memudahkan untuk membacanya…

Dzikir ini berdasarkan hadits-hadist shohih sebagaimana yang dilantunkan di Radio Rodja setiap pagi dan sore.

Silahkan klik link berikut untuk download DZIKIR PAGI

Panduan DZIKIR PAGI v.3.0

Silahkan klik link berikut untuk download DZIKIR SORE

Panduan DZIKIR PETANG v.3.0

======================
Yang berikut ini adalah VERSI CETAK sudah dalam format booklet. Download dan bawa ke printing shop untuk di JILID. Silahkan diperbanyak dan disebar luaskan dengan sampul Majelis Taklim atau Masjid anda (silahkan boleh pakai sampul sendiri atau pakai sampul yang dibawah)

Panduan DZIKIR PAGI dan PETANG – CETAK v.3.0

Dzikir Pagi Petang – sampul depan

======================
Sedangkan untuk Dzikir setelah Sholat Fardhu, silahkan download di artikel di bawah ini :

E-Book (updated version) – Panduan DZIKIR Setelah Sholat Fardhu (Wajib)… Apapun Smartphone Anda…

Semoga bermanfaat… Baarakallahu fiikum

da011215

Dana Riba… Mengapa Dikumpulkan dan Dimanfa’atkan..?

Yang pertama harus diketahui, bahwa para ulama sepakat bahwa RIBA merupakan dosa besar, karena adanya ancaman khusus padanya, bahkan Allah sangat keras mengecam dosa riba ini dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah, dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian tidak melakukan (hal itu), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”. [Albaqoroh: 278-279.

Begitu pula Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau sangat keras mengecam dosa riba ini, diantaranya dalam sabdanya:

الربا اثنان وسبعون بابا، أدناها مثل إتيان الرجل أمه

“Riba itu ada 70 pintu, pintu yang paling ringan seperti jika seseorang menggauli (menzinahi) ibunya”. [HR. At-Thabarani: 7151, disahihkan oleh Sy Albani dalam As-Shahihah: 1871.

Jika demikian, mengapa masih ingin mengumpulkan harta riba ?

Sungguh tidak ada maksud dari kami untuk menganjurkan manusia agar menghasilkan harta riba sebanyak-banyaknya. Bahkan kami ingin tidak ada harta riba sedikit pun di dunia ini, karena harta riba adalah harta haram.

Yang kami lakukan dalam program pengumpulan harta riba hanyalah usaha kami untuk memberikan solusi bagi mereka yang memiliki harta riba, mau dikemanakan harta tersebut, mengingat harta riba seperti itu dianggap tidak ada pemiliknya secara syariat, karena larangan riba itu berhubungan dengan hak Allah.

Apabila harta tersebut dibiarkan, tentu mudharatnya lebih besar, karena kita diperintah untuk membebaskan diri dari harta yang diharamkan… belum lagi sangat dimungkinkan pihak bank akan memanfaatkannya untuk kegiatan mereka.

Apabila harta dibuang atau dibakar, tentu mudharatnya juga lebih besar, karena akan banyak uang negara yang hilang di pasaran, dan itu akan mengganggu kebutuhan orang banyak.

Apabila diberikan kepada orang atau lembaga yang tidak baik, juga mudharatnya akan lebih besar, karena itu hanya akan menguatkan posisi mereka.

Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali mengumpulkannya untuk tujuan kemaslahatan kaum muslimin secara umum, seperti pembangunan jalan, penerangan jalan, pembangunan taman, penghijauan, pembuatan wc umum, pengadaaan lapangan, dan yang semisalnya.

Adapun hal-hal yang berhubungan dengan ibadah, seperti: masjid, mushaf, kegiatan dakwah, dan yang semisalnya, maka sudah sepantasnya dijauhkan dari harta riba ini… karena itu merupakan hal-hal yang Allah sucikan, maka sudah selayaknya kita juga mensucikannya dari harta yang kotor tersebut, wallohu a’lam.

Mungkin masih ada yang mengganjal dalam hal ini, bagaimana harta riba yang diharamkan boleh kita pakai dan kita manfaatkan ?

Ini telah dijawab oleh sebagian ulama, dengan mengatakan, bahwa keburukan harta riba BUKANLAH pada dzatnya, namun pada cara mendapatkannya, sehingga tidak dibenarkan untuk membuangnya atau merusaknya.

Hal ini sebagaimana harta rampasan perang, dibolehkan dalam islam untuk memanfaatkannya, padahal sumber harta orang kafir bisa jadi dari penjualan babi, minuman keras, judi, riba, dan sumber-sumber yang diharamkan oleh Islam, namun begitu setelah menjadi harta rampasan perang boleh digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Begitu pula halnya dalam masalah upah dari perzinaan, atau perdukunan, atau pekerjaan haram lainnya.. harta tersebut tidak boleh dirusak atau dibuang, karena yang buruk bukan dzat hartanya, namun cara mendapatkannya.. Maka solusi yang tepat dalam harta yang demikian adalah dengan membebaskan diri dari harta tersebut, dan menyalurkannya untuk kemaslahatan manusia secara umum, wallohu a’lam.

Untuk menguatkan kesimpulan di atas, maka di sini kami bawakan beberapa fatwa dari para ulama ahlussunnah yang berkaitan dengan masalah ini:

Fatwa Lajnah Daimah (komite tetap untuk fatwa) Saudi Arabia:

“Keuntungan (bunga) yang kamu ambil sebelum tahu haramnya bunga tersebut; kami berharap Allah mengampunimu dalam hal itu. Adapun bunga yang kamu ambil setelah tahu keharamannya, maka yang diwajibkan kepadamu adalah membebaskan dirimu darinya, dan menginfakkannya dalam jalan-jalan kebaikan: seperti diberikan kepada orang-orang fakir, para mujahidin fi sabilillah. Dan juga harus bertaubat kepada Allah dari tindakan melakukan riba setelah tahu (keharamannya)”. [Kitab: Fatawa Lajnah Da’imah 1, jilid 13/352].

Fatwa Syeikh Binbaz -rohimahulloh-:

“Adapun keuntungan (bunga) yang diberikan bank kepadamu, maka jangan kamu kembalikan kepada bank, dan juga jangan kamu makan, tapi gunakanlah untuk jalan-jalan kebaikan, seperti memberikannya kapada para fakir miskin, memperbaiki toilet, dan membantu orang-orang yang punya tanggungan dan tidak tidak mampu membayar hutangnya”. [Kitab: Fatawa Islamiyah 2/407].

Fatwa Syaikh Shalih Al-Munajjid -hafizhahullah-:

Menempatkan uang di bank dengan imbalan keuntungan (bunga) adalah riba, dan itu termasuk dosa besar… Apabila seorang muslim terpaksa menempatkan uangnya di bank, karena dia tidak menemukan sarana untuk menyimpan uangnya kecuali menempatkannya di bank, maka hal tersebut-insyaAllah- tidak mengapa dengan dua syarat:
1. Dia tidak mengambil imbalan bunga yang diberikan.
2. Transaksi Bank tersebut tidak seratus persen riba, tapi ada sebagian kegiatan (transaksi) nya yang mubah (dibolehkan) untuk mengembangkan uangnya.

Dan tidak boleh mengambil manfaat dari bunga riba yang diberikan bank kepada para nasabah, tapi mereka wajib membebaskan dirinya dari bunga riba itu (dengan menyalurkannya) pada jalan-jalan kebaikan yang bermacam-macam”. [Sumber: https://islamqa.info/ar/23346].

Demikian penjelasan ini kami buat, semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Merutinkan Baca Surat Al Mulk dan Surat As Sajadah Di Setiap Malam

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da170116

Sebab-Sebab Munculnya Cinta…

Pernahkah anda mencintai ?? Bila ya, coba tanya mengapa anda mencintai..??

Ada beberapa sebab yang memunculkan cinta di hati…

1. Keelokan jasad.
Bila kita melihat pemandangan yang indah, atau sesuatu yang cantik dan elok, hati kita akan tertambat kepadanya.. Namun akan segera sirna tatkala keelokan itu pudar atau kebosanan menghantui diri…

2. Keindahan agama dan akhlak.
Walaupun wajahnya biasa saja, atau mungkin di bawah nilai 6, namun akhlaknya yang mulia dan agamanya yang kokoh memberi pesona tersendiri…
Cinta ini muncul dari keimanan… Dan ia lebih merekat di hati… Bahkan akan kekal abadi… Berjumpa setelah mati…

3. Harta yang melimpah…
Cinta karena ketamakkan dan kerakusan.. Yang menunjukkan kepada kekerdilan jiwa dan cinta dunia..
Seperti orang yang berangan menjadi si qorun, lalu ditegur oleh temannya yang shalih: “Celaka kamu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar”. (QS 28 : 80).

Sebab ini memang fitrah manusia yang cinta harta, namun ia adalah cinta yang tidak mulia.

4. Fitrah manusia.
Seperti seorang ayah yang mencintai anaknya, dan juga sebaliknya, cinta ini tidak berhubungan dengan walaa dan baraa…

Dan cinta ini menjadi ancaman tatkala lebih didahulukan dari mencintai Allah RasulNya.

Cobalah periksa.. Karena apa kita mencintai..??

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da240514-1340