All posts by BBG Al Ilmu

Teguhlah, Jangan Goyah…

Syeikh Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berpesan:

Teguhlah, jangan goyah dengan banyaknya serangan yang diarahkan kepadamu, atau banyaknya celaan atas pendapatmu.
Selama kamu di atas kebenaran, maka teguhlah, karena kebenaran itu tidak mungkin tersingkir.

Setelah itu, belalah dirimu jika posisimu lemah, karena tidak ada keadaan yang lebih rendah dari tindakan membela diri. Adapun jika posisimu kuat, maka seranglah. Dan hari-hari itu akan terus berputar.

Tapi yang paling penting, jika posisimu lemah, kamu harus teguh, dan jangan katakan: manusia, semuanya menyelisihi pendapat itu. Akan tetapi, teguhlah, karena Allah pasti akan menolong agamaNya, kitabNya, dan RasulNya di semua zaman.

Dan memang harus ada gangguan, lihatlah Imam Ahmad, dia diseret di pasar dengan hewan bagal, dan dicambuki, tapi dia tetap sabar dan teguh.

Dan lihatlah Syeikhul Islam, dia diarak di atas gerobak dan dijebloskan dalam penjara, tapi dia tetap teguh.

Selamanya tidaklah mungkin bumi bertabur banyak mawar dan bunga, bagi orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Siapa yang menginginkan hal itu, berarti dia telah menginginkan kemustahilan.

[Syarah Annuniyyah, Syeikh Al-Utsaimin 3/270]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

da170316-0542

Ingin Mendapatkan Pahala Puasa Wajib Selama Satu Tahun..?

29 + 6 = 1..
.
Bingung..?
.
Mari kita simak penjelasannya,
.
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu ia lanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, niscaya ia mendapat pahala seperti puasa 1 tahun penuh.
(HR. Muslim)
.
Dalam HR. An Nasa’i, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menguraikan:
.
“ALLAH menjadikan kebaikan menjadi 10 kali lipat, maka puasa 1 bulan (Ramadhan) bernilai 10 bulan dan puasa 6 hari setelah ‘Iedul Fitri (di bulan Syawwal) menyempurnakannya menjadi 1 tahun.”
.
Sehingga:
29 hari + 6 hari= 1 tahun
.
Saudaraku,
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
“Barangsiapa yang berpuasa SATU HARI di jalan ALLAH, niscaya ALLAH akan jauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 puluh tahun perjalanan.”
(HR. Bukhari dan Muslim) .

JIKA ITU KEUTAMAAN PUASA SATU HARi, MAKA SILAHKAN BAYANGKAN BAGAIMANA PAHALA PUASA SELAMA SATU TAHUN PENUH ??
.
Saudaraku…
Tahukah anda penjelasan banyak ulama (diantaranya ULAMA MADZHAB SYAFI’i) tentang hal ini ?
.
TERNYATA PAHALA PUASA 1 TAHUN PENUH TERSEBUT ADALAH PAHALA PUASA WAJIB.
.
Maksudnya?
Ya, puasa 6 hari di bulan Syawwal merupakan puasa sunnah, NAMUN PAHALANYA SENILAI DENGAN PUASA WAJIB, layaknya puasa Ramadhan.
.
Masih ada banyak waktu… hanya 6 hari dari 29/30 hari…
Bisa di awal atau di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal, bisa berturut-turut atau tidak. .
Pahala puasa 1 tahun penuh itu sudah sangat dimudahkan, saudaraku…
.
.
Referensi:
I’anatut Thaalibiin 2/268, Tuhfatul Habiib 3/155, Tuhfatul Muhtaj 14/69, Fathul Wahhab 2/351, Mughnil Muhtaj 1/447, Nihayatul Muhtaj 3/208, Al Inshaf 3/344, Kasysyaaful Qina’ 2/337 dan lain-lain.
.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

da2006180546

Serba-Serbi Seputar Ibadah Di Bulan Syawwal…

Berikut ini adalah kumpulan artikel audio dan tulisan terkait ibadah di bulan Syawwal. Semoga bermanfaat.

  1. IBADAH Apa Yang Dianjurkan Di Bulan Syawwal…?
  2. Kapan SEBAIKNYA Memulai Puasa Syawal…?
  3. Mengapa Puasa 6 Hari Syawwal Sebaiknya Diakhirkan Setelah Hari-Hari Ied…?
  4. Pendapat PERTAMA : Tidak Boleh Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan…
  5. Pendapat KEDUA : BOLEH Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan…
  6. Apakah Niat Puasa Syawwal Harus Dilakukan di Malam Hari..?
  7. Bolehkah Menggabungkan Niat MEMBAYAR/QODHO Puasa Ramadhan Dengan Niat Puasa Syawal…?
  8. Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Niat Puasa Senin – Kamis…?
  9. Apakah Puasa Syawwal Dilakukan Selang Seling atau Terus Menerus Tanpa Jeda…?
  10. Hukum Menggabung Niat Puasa Syawal Dengan Puasa Senin-Kamis Atau Ayyaamul Biidl…
  11. Janganlah Kita Mulai SYAWAL Dengan Kemaksiatan dan Dosa…

In-syaa Allah, daftar artikel akan bertambah. Silahkan cek dari waktu ke waktu.

 

Indikator di Bulan Syawwal…

Di dunia ini tidak ada yang bisa tahu dengan pasti apakah puasa Ramadhannya diterima atau tidak oleh sang Khaliq.

Namun ada sebuah indikator di bulan Syawwal ini.
Indikator itu bernama puasa 6 hari di bulan Syawwal.”

Sebuah kaidah di tengah para ulama berbunyi:

Balasan dari sebuah kebaikan (yang diterima) adalah kebaikan berikutnya.”

Saudaraku,
Jika puasa Ramadhan anda diterima, niscaya jiwa ini tidak akan kesulitan dalam memilih 6 hari saja dari 1 bulan untuk kembali berpuasa.

Selamat berpuasa…

(Lathaiful Ma’aarif hal. 311 dengan perubahan redaksi)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

da3006171440

Kapan Mulai Takbiran..?

Soal:
Ustadz ana mau bertanya tentang kapan boleh mulai bertakbir di hari raya iedul fithri? Ana masih bingung.

Jawab:
Para ulama berbeda pendapat kapan memulai takbir di hari raya iedul fithri menjadi dua pendapat:

PERTAMA: Mulai malam iedul fithri. Ini adalah pendapat imam Asy Syafii dan dibela oleh syaikhul islam ibnu Taimiyah.
Dasarnya adalah lahiriyah ayat:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

Dan hedaklah kamu sempurnakan bilangan (ramadlan) dan hendaklah kamu bertakbir atas hidayah yang Allah berikan dan agar kamu bersyukur.” 
(Albaqoroh: 185)

Sedangkan malam ied telah sempurna bilangan ramadlan.

KEDUA: Mulai dari keluar rumah di pagi hari menuju lapangan sampai imam naik berkhutbah. ini adalah pendapat Malik, Al Auza’iy dan Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.
Dasarnya adalah hadits ibnu umar: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar di dua hari raya bersama Al Fadll bin Abbas, Abdullah bin Abbas, dan beberapa shahabat lainnya sambil mengangkat suaranya dengan tahlil dan takbir.”
[ HR ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi ]

Namun dalam sanad hadits ini ada tiga cacat:
1. ibnu akhi ibnu wahb namanya Ahmad bin Abdurrahman, ia dlo’if.
2. Abdullah bin Umar Al ‘Umari juga dlo’if.
3. Riwayat yang marfu ini diselisihi oleh perawi lain yang lebih tsiqoh yaitu Abu Hammam Al Waliid bin Syujaa’ yang ditsiqohkan oleh ibnu hajar al asqolani, dimana ia meriwayatkannya secara mauquf dari perbuatan ibnu Umar.
Demikian pula wakie’ bin aljarrooh meriwayatkan dari abdullah bin umar secara mauquf.
Sehingga periwayatan yang marfu adalah syadz.

Sebagian ulama ada yang menghasankan dengan alasan bahwa ada penguatnya dari mursal azzuhri. Namun mursal Azzuhri ini tidak dapat menjadi penguat karena dua alasan:
1. Ia berasal dari periwayatan ibnu abi dziib dari azzuhri. Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa periwayatan ibnu abi dziib dari azzuhri adalah dlo’if.
2. Adanya keguncangan (mudltarib), karena riwayat azzuhri ini diriwayatkan dengan wajah yang berbeda; terkadang dinisbatkan kepada azzuhri, terkadang kepada manusia, dan terkadang kepada nabi shallallahu alaihi wasallam. 
Kesimpulannya hadits ini dlo’if.

Na’am, telah ada beberapa atsar dari sebagian shahabat dan tabi’in bahwa mereka memulai dari pagi hari iedul fithri.
Namun yang menjadi masalah adalah apakah dzahir ayat lebih didahulukan ataukah atsar dari sebagian shahabat ?

Ana lebih condong kepada imam Asy Syafii karena lahiriyah ayat lebih didahulukan.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Memasuki Babak Final Ramadhan…

Saudaraku,
kita memasuki malam puncak dari malam-malam di bulan Ramadhan. Inilah babak Final! Prime Time yang harus kita manfaatkan! Persiapkan diri anda! Ini adalah kelas akselerasi!

10 hari terakhir, diantara malam-malam tersebut ada satu malam dimana kita berkesempatan (jika berhasil) meraih pahala seperti beribadah selama 1000 bulan. Dalam firman Allah disebutkan,

“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)

Dan untuk malam spesial ini, bukan saja pahala berlipat yang akan kita dapatkan, namun juga ampunan, ya ampunan dari dosa-dosa kita.

Sabda Nabi -shalllallahu ‘alaihi wa sallam- yang sangat terkenal:
“Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala, maka Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari)

Dengan demikian, tidak heran jika Aisyah -radhiyallahu ‘anha- bertutur:
“Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersungguh-sungguh dalam beribadah dengan kesungguhan yang tidak pernah terlihat di waktu-waktu yang lain.”
(HR. Muslim)

Renungkanlah…
Jika sosok sekaliber Nabi yang akan membuka pintu Surga pertama kali di hari kiamat masih mencari malam tersebut, lalu bagaimana dengan kita?

Jika Kekasih Allah dan seseorang yang telah diampuni seluruh kekhilafannya masih mencari malam lailatul qadr, lalu apakah kita pantas santai-santai saja ?

Jika Seorang Nabi terbaik bangun untuk menghidupkan malam-malamnya, lalu kita membaca do’a tidur?

Jika Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sibuk membaca Alqur’an, lalu orang seperti kita sibuk nongkrong di luar ?
Lalu kita meremehkan? ?
Sibuk menonton TV acara yang tidak bermanfaat ??

Saudaraku,
Ini 10 hari terakhir, jangan lengah ! Maksimalkanlah ! Usir rasa kantuk itu !
Ingatlah…inilah babak final bulan suci,
Dan ingatlah… kekalahan yang paling menyakitkan adalah kekalahan di sebuah partai final

Semoga ALLAH memberikan taufiq untuk kita semua,
Selamat berjuang!!! Bismillah.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

da2606160221

Mari Perbanyak Shalat Malam Kita di 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan Ini…

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah mengatakan:

“Adapun di sepuluh malam terakhir Ramadhan, kaum muslimin (hendaknya) menambah kerajinan mereka dalam ibadah, karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan untuk mencari lailatul qadar yang lebih utama dari seribu bulan.

Maka orang yang biasanya shalat 23 rekaat di awal ramadhan, mereka bisa membaginya di sepuluh malam akhir, mereka bisa shalat 10 rekaat di awal malam yang mereka namakan shalat teraweh, dan shalat 10 rekaat di akhir malam, mereka memanjangkannya beserta shalat witir 3 reka’at, mereka biasa menyebutnya shalat qiyam.

Ini (sebenarnya) hanyalah perbedaan nama saja, karena semua shalat ini bisa disebut teraweh, bisa juga disebut qiyam.

Adapun orang yang biasanya hanya shalat 11 atau 13 reka’at di awal bulan, dia bisa menambah 10 rekaat lagi di sepuluh malam terakhir yang dilakukan akhir malam dan memanjangkannya, untuk mencari keutamaan 10 malam terakhir dan untuk menambah usaha dalam amal kebaikan.

Orang seperti ini ada contohnya dari para generasi salaf dari kalangan sahabat dan yang lainnya, yang mereka shalat 23 reka’at sebagaimana telah lalu. Dengan demikian mereka bisa menggabungkan dua pendapat, pendapat 13 rekaat di 20 malam pertama, dan pendapat 23 rekaat di 10 malam terakhir.”

[Kitab: Ithaafu ahlil iman bi majalismi syahri romadhon]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1606171717

 

Apakah Laylatul Qodr Hanya Diraih Oleh Mereka Yang I’tikaf Di Masjid Saja..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da210617-2132

Kisah DO’A Laylatul Qodar…

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin hafizhahumallah bercerita:

“Pada suatu malam ke 27 Ramadhan (malam yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qadar), beliau bersama Bapak serta Kakek ingin pergi ke masjid Nabawi untuk sholat malam pada malam itu, kemudian ketika keluar rumah menuju mobil, beliau mendengar suara musik yang begitu keras dinyalakan oleh anak-anak muda, kemudian beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka: “Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah, maka mohon dimatikan suara yang begitu keras ini”, akhirnya mereka mematikannya, kemudian syaikh mengatakan: “Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibul ‘afwa fa’fu ‘anni
(Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah daku).

Lalu seorang yang dekat syaikh mengatakan, “saya belum hafal”, lalu syaikh mengulangi kedua kalinya, lalu si pemuda ini akhirnya dapat melafalkannya.

Setelah enam tahun, Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah ceramah di sebuah kota, kemudian setelah ceramah ada seorang pemuda yang berjenggot dan dari wajahnya terlihat ia ahli keta’atan kepada Allah, pemuda ini berkata: “Syaikh ingatkah engkau kepada para pemuda yang engkau peringatkan untuk mematikan musik di malam ke 27 Ramadhan, lalu engkau mengajari mereka do’a lailatul qadar, maka semenjak malam itu saya selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku, Alhamdulillah akhirnya aku kembali ke jalan-Nya”.

Wahai Saudaraku sebarkanlah DO’A ini! di hari-hari mulia ini, semoga yang membacanya akan melihat kebaikan BAIK DI DALAM RAMADHAN ATAU DI LIUAR RAMADHAN:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibul ‘afwa fa’fu ‘anni
(Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah daku).

Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc,  حفظه الله تعالى