All posts by BBG Al Ilmu

Jangan Sibukkan Diri Dengan Tindakan Mencela Orang Lain…

Suatu hari, Hasan Al-Bashri -rohimahulloh- mendengar orang mencela Hajjaj yang terkenal dengan kezalimannya yang luar biasa, maka beliau pun mendatanginya dan mengatakan:

“Heh.. Wahai lelaki, seandainya kamu telah menemui akheratmu, maka dosamu yang paling kecil pun, akan lebih memberatkanmu, daripada dosa Hajjaj yang paling besar sekalipun.

Dan ketahuilah, bahwa Allah itu hakim yang maha adil, jika Dia nanti mengambil dari Hajjaj hak orang-orang yang dizaliminya, maka Dia juga akan mengambilkan haknya Hajjaj dari orang-orang yang menzaliminya.

Maka jangan sekali-kali menyibukkan diri dengan perbuatan mencela seseorang !

[Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashfahani, 2/270]

———–

Daripada engkau mencela kegelapan, lebih baik engkau menghidupkan cahaya, sehingga kegelapan itu hilang dengan sendirinya.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

da1504162256

Amalan Di Bulan Sya’ban…

Fadhilatusy Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى

Definisi Sya’ban
Sya’ban adalah nama untuk bulan kedelapan dari penanggalan arab yang jatuh diantara bulan Rojab dan Ramadhan. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Itulah bulan yang dilalaikan oleh manusia yang jatuh diantara bulan Rojab dan Ramadhan (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan dishahihkan oleh pentahqiq kitab Al-Musnad).

Kata “Sya’ban” itu sendiri bermakna berpencar. Ada dua pendapat ulama tentang sebab penamaan ini:

1. Dahulu orang-orang arab berpencar di bulan ini karena mencari air atau untuk berperang. Ibnu Faris berkata: “Dinamakan bulan Sya’ban karena mereka (orang arab) berpencar untuk mencari air.” Imam An-Nawawi rohimahullahu berkata: “Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar di bulan ini disebabkan banyaknya peperangan.”

2. Ada pula yang mengatakan dinamakan Sya’ban karena muncul diantara bulan Rojab dan Ramadhan. Tsa’lab berkata: “Sebagian mengatakan sebab dinamakan Sya’ban karena muncul diantara bulan Ramadhan dan Rojab.”

Amalan Yang Disyariatkan di Bulan Sya’ban

⚫ MEMPERBANYAK PUASA

Di dalam hadits disebutkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dahulu banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban bahkan beliau lebih banyak berpuasa dibanding bulan-bulan selainnya. Diriwayatkan oleh Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau pernah berkata: Dahulu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Tidak pernah aku melihat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Dan beliau tidak pernah memperbanyak puasa selain di bulan Sya’ban.” (Shahih Bukhari bersama Fathul Bari 4/213 no.1969 dan Shahih Muslim 2/810 no.1156)

Di dalam riwayat lain dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha beliau berkata: Tidak pernah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Bahkan beliau puasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari 4/213 no.1970)

Imam Tirmidzi menukil ucapan Abdullah bin Mubarak rahimahumallahu, beliau mengatakan:Di dalam bahasa Arab diperbolehkan untuk mengatakan dia berpuasa sebulan penuh jika dia banyak berpuasa di bulan tersebut.” Imam Tirmidzi mengatakan: “Abdullah bin Mubarak bermaksud menggabungkan kedua hadits di atas.” (Sunan Tirmidzi 3/105)

Hadits ini menunjukkan akan kekhususan bulan Sya’ban untuk memperbanyak puasa di dalamnya dibanding bulan-bulan lain. Ini menunjukkan akan keutamaan puasa di dalamnya dibanding puasa di bulan lain.

Ibnu Rojab rohimahullahu berkata: Puasa di bulan Sya’ban lebih utama dibanding puasa di bulan-bulan haram. Dan sebaik-baik ibadah sunnah adalah jika telah mendekati bulan Ramadhan baik sebelum atau sesudahnya. Perumpamaannya seperti ibadah sunnah rawatib yang mengiringi ibadah wajib sebelum atau sesudahnya. Dan hal ini untuk menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib. Demikian pula dengan puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Sebagaimana ibadah sunnah rawatib itu lebih afdhal daripada ibadah sunnah yang mutlak seperti dalam shalat maka puasa sebelum dan sesudah Ramadhan itu lebih afdhal daripada puasa yang jauh darinya.” (Lathaif Al-Ma’arif hal. 129)

Ibnu Rojab rohimahullah diatas menyebutkan bahwa puasa Sya’ban itu seperti sunnah qobliyah Ramadhan dan puasa Enam hari Syawwal seperti sunnah ba’diyah Ramadhan. Dari sini nampak hikmah syariat dalam mensyariatkan untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagaimana dalam banyak riwayat.

Diantara yang paling shahih apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadits Usamah bin Zaid dia berkata: “Wahai Rosulullah, aku tidak pernah melihat anda banyak berpuasa (sunnah) lebih dari Sya’ban”. Beliau menjawab: Itulah bulan yang manusia melalaikannya yang jatuh diantara bulan Rojab dan Ramadhan. Itulah bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Allah Robb semesta alam. Dan aku suka amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i serta dihasankan oleh pentahqiq kitab Musnad)

Bid’ah yang terjadi di Bulan Sya’ban

1. Bid’ah sholat alfiyah. Ini adalah bid’ah di malam pertengahan Sya’ban yaitu melaksanakan shalat seratus roka’at dengan berjamaah. Sang imam membaca surat Al-Ikhlas 10 kali disetiap roka’at. Atau sepuluh roka’at tapi Imam membaca surat Al-Ikhlas 100 kali setelah membaca Al-Fatihah. Ini adalah bid’ah yang mungkar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullahu berkata: Adapun hadits marfu’ kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang sholat (alfiyah) ini maka ini dusta dan palsu menurut kesepakatan ulama ahli hadits.

Ibnu Al-Qayyim rohimahullahu berkata: Yang aneh adalah orang-orang yang pernah mencium bau ilmu tentang sunnah tapi tertipu dengan lelucon ini dan dia pun mengerjakan sholat tersebut.”

2. Mengkhususkan malam Nisfu/pertengahan Sya’ban dengan mengerjakan sholat dan melaksanakan puasa di siang harinya. Mereka berdalil dengan hadits “Apabila telah datang malam Nisfu Sya’ban maka kerjakanlah sholat dan berpuasalah pada waktu siangnya”. Ini adalah hadits yang tidak ada asalnya. Kita tidak boleh mengamalkan kecuali yang shahih haditsnya. Maka jelas kebid’ahan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Kalau ada orang berpuasa pada tanggal 15 Sya’ban dengan niat menghidupkan Nisfu Sya’ban maka ini adalah bid’ah. Adapun jika dia berpuasa tanggal 15 tersebut dengan meniatkan untuk puasa Ayyaam Al-Biidh (13,14 dan 15 disetiap bulan hijriah) dengan didahului oleh puasa dua hari sebelumnya (13 dan 14) maka ini adalah sunnah yang telah dijelaskan dalam hadits-hadits shahih. Akan tetapi puasa Ayyaam Al-Biidh bukan hanya di Bulan Sya’ban saja tapi disyariatkan di setiap bulannya.

3. Sholat 6 roka’at di malam Nisfu Sya’ban dengan tujuan untuk mencegah bala’ serta memperpanjang usia. Dengan membaca surat Yaasin dan do’a. Ini adalah bid’ah yang tidak berdasarkan dalil dari syariat bahkan ulama telah menjelaskan akan kebid’ahannya.

Imam An-Nawawi rohimahullahu berkata: Sholat yang dikenal dengan sholat Roghoib yaitu 12 roka’at dikerjakan antara maghrib dan isya’ di malam Jumat pertama bulan Rojab dan sholat malam Nisfu Sya’ban 100 roka’at. Kedua sholat tersebut merupakan bid’ah dan perbuatan mungkar yang jelek. Jangan sampai tertipu dengan disebutkannya kedua sholat tersebut dalam kitab “Quut Al-Quluub” dan “Ihya’ Ulumuddin”. Dan jangan pula tertipu dengan hadits yang menyebutkan kedua sholat tersebut, karena haditsnya batil. Dan jangan tertipu dengan sebagian fatwa ulama yang ditulis di lembaran-lembaran kertas tentang sunnahnya kedua sholat tersebut. Karena ini adalah suatu kesalahan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56)

Ustadz Abdurrahman Thoyyib Lc, حفظه الله تعالى

[1] Makalah ini diterjemahkan dengan sedikit ringkasan oleh Abu Nafisah Abdurrahman Thoyyib dari www.al-rehaili.net.

[2] Maqaayis Al-Lughah 3/192.

[3] Tahrir Alfaadz At-Tanbiih hal.120.

[4] Lisan Al-Arab 1/502.

[5] Iqtidha’ shirat Al-Mustaqim li mukhalafati ashhabil jahiim 2/146.

[6] Al-Manaar Al-Muniif hal.99

[7] Al-Majmu’ Syarhu Al- Muhadzdzab 4/56

da1804181025

Yang Paling Berjasa…

Sehebat apapun anda…
Sekuat apapun anda…
Setinggi apapun jabatan anda…
Setenar apapun anda…
Sekaya apapun anda…

Ingatlah – ba’dallah – ada yang paling berjasa bagi anda…
Dia yang sering mengingat anda yang mungkin anda lupa…
Dia yang merindukan kehadiran anda yang mungkin anda tidak tidak menyadarinya…

Robb kita mewasiatkan untuk berbuat baik kepadanya…
Dia sedang menunggu anda, ya sedang menunggu…
Dialah Ibumu… ya Ibumu…
Tanggalkan seluruh keangkuhan…
Datangilah ia, raihlah surga Allah dengan perantaraannya…
Patahkan kayu kesibukan yang selalu menghalangi anda untuk bertemu melihat wajahnya, lihatlah dia semakin tua, dan semakin lemah, sampai kapan anda sibuk…

Datangilah sebelum terlambat…
Berbaktilah sebelum menyesal, dengan penyesalan yang tidak berujung…
Dalam berbakti ada kebahagiaan…
Durhaka menimbulkan kesengsaraan dan kehinaan…

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi Lc, حفظه الله تعالى.

* kata ba’dallah meliputi sesudah Allah dan Rosul-Nya.

 
da2803162032

Orang Yang Paling Lemah… Dan Paling Pelit…

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

أعجز الناس من عجز عن الدعاء، وأبخل الناس من بخل بالسلام

“Manusia paling LEMAH adalah orang yang untuk berdoa saja tidak mampu.

Dan manusia paling PELIT adalah orang yang untuk bersalam saja dia bakhil”.

[Di shohihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah: 601].

——–

Oleh karenanya, perbanyaklah berdo’a, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Itulah amalan yang sangat ringan, namun dia itulah hakekat dari semua ibadah, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Doa, itulah ibadah”. [HR. Abu Dawud: 1329 shohih].

Dan semangatlah untuk menyampaikan salam kepada orang lain, tidak maukah Anda menjadi lebih baik dari orang yang Anda salami meski hanya sesaat ?!

Sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Yang TERBAIK dari keduanya adalah orang yang memulai menyapa dengan salam”. [HR. Bukhori Muslim].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da1701152357

Kemampuan dan Kesempatan…

Abul Fath Al-Busti rohimahullah berkata :

زيادةُ المرءِ في دنياه نقصانُ وربحُه غيرَ محضِ الخير خسرانُ

Tambahan dunia seseorang adalah kekurangan…. Dan keuntungannya pada selain murni kebaikan adalah kerugian

أَحْسِنْ إلى النَّاسِ تَسْتَعبِدْ قلوبَهم فطالما استعبدَ الإنسانَ إِحسانُ

Berbuat baiklah kepada manusia, maka engkau akan menundukan hati mereka….sungguh betapa perbuatan baik menundukan hati manusia…

مَن جادَ بالمالِ مالَ النَّاسُ قاطبةً إليه والمالُ للإنسانِ فتَّانُ

Barang siapa yang dermawan dengan hartanya maka seluruh manusia akan condong kepadanya, dan harta adalah pembawa fitnah bagi manusia…

أَحْسِنْ إذا كان إمكانٌ ومَقْدِرَةٌ فلن يدومَ على الإنسان إِمكانُ

Berbuat baiklah jika engkau memiliki kemampuan dan kesempatan…karena kesempatan dan kemampuan tidak selamanya bersama manusia…

حيَّاك مَن لم تكنْ ترجو تحيَّتَه لولا الدَّراهمُ ما حيَّاك إنسانُ

Orang yang tidak kau harapkan salamnya akan menyapa dan menyalamimu….kalau bukan karena dirham (duit) tak seorangpun akan menyapamu…

Faidah dari sya’ir di atas :

1) Tambahan itu dituntut untuk perkara akhirat, adapun kalau yang bertambah adalah perkara dunia sementara perkara akhiratnya tidak ada peningkatan, maka tambahan dunia itu pada hakekatnya adalah kekurangan…

2) Sebagaimana untung jika bukan pada kebaikan, maka untung itu tentu pada perkara yang tidak baik atau yang kurang baik, atau pada yang tidak bermanfaat, maka dari situ keberuntungan tersebut pada hekakatnya adalah kerugian

3) Barang siapa yang dermawan maka otomatis akan didekati oleh banyak orang, bahkan orang yang tidak diharapkan kedatangannya dan sapaannya akan segera datang mendekat dan menyapa serta menyalami. Namun seandainya sang dermawan tidak memiliki uang, maka orang-orang tersebut akan segera menjauh, bahkan tatkala lewat dihadapannya tidak akan memberi salam

4) Berbuat baik kepada orang lain merupakan kunci untuk menarik dan menundukan hati orang lain…bahkan orang yang tadinya benci bisa tertunduk hatinya dengan perbuatan baik.

5) Bersegeralah untuk berbuat kebaikan, karena untuk bisa berbuat kebaikan harus memenuhi dua persyaratan,

(a) kemampuan (harta dan semisalnya), dan

(b) kesempatan untuk berbuat baik. Karena betapa banyak orang yang memiliki kemampuan namun tidak berksempatan untuk berbuat baik, dan sebaliknya terlalu banyak orang yang memiliki kesempatan untuk menolong tapi tidak memiliki kemampuan untuk menolong.

Dan ternyata kedua perkara ini (kemampuan dan kesempatan) tidak selalu ada pada seseorang, oleh karenanya tatkala keduanya lagi berkumpul pada seseorang maka segeralah untuk berbuat kebaikan.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da2304140718

Ayat Yang Sangat Indah Dan Halus Dalam Menjelaskan HARUSNYA Kita Meninggalkan SEMUA Bid’ah Dalam Agama…

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian”. [QS. Alu Imron: 31].

Renungkanlah kandungan ayat ini:

1. Ayat ini berkenaan tentang cinta kepada Allah, yang harusnya menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. [QS. Albaqoroh: 165].

Itu saja dalam mengejewantahkannya harus mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, apalagi bila cinta itu kepada makhluk-Nya.

Sehingga dalam mencintai Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- kita LEBIH wajib mengikuti cara dan tuntunan beliau, begitu pula dalam mecintai keluarga beliau, ka’bah, Alqur’an, dst…

2. Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- SAJA dalam mengejewantahkan cinta kita kepada Allah.

Sehingga kita tidak boleh mencintai Allah dengan cara para NABI selain beliau, apalagi cara para ulama, apalagi cara kita sendiri, jika cara-cara tersebut tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

3. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mencintai kita jika kita mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dalam mengejewantahkan cinta kita kepada-Nya.

Maka sebaliknya Allah akan menjadi MURKA, bila kita mengejewantahkan cinta tersebut dengan mengikuti tuntunan dari selain beliau.

———-

Semoga Allah memberikan TAUFIQ kepada kita, sehingga kita dapat mencintai Dia, Nabi, para ulama, dan yang lainnya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da0901151655

Berangan-Anganlah Kebaikan…

Berbicara tentang angan-angan atau cita-cita kita yang baik dan indah sudah mendatangkan kebahagiaan…,

Maka bagaimana lagi jika terwujudkan angan-angan dan cita-cita tersebut…?

Berangan-anganlah dan bercita-citalah kebaikan, karena pada cita-cita tersebut pahala yang menanti.

Jika engkau belum mampu beramal kebajikan maka berniatlah untuk mengamalkannya, karena niat baik dicatat pahala oleh Allah…

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da2304140731

 

 

Hafalkanlah..!

Dari Abu Kabsyah Al Anmaari rodliyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, aku akan sampaikan, maka hafalkanlah !

⚉  Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.
⚉  Tidaklah seorang hamba di zalimi, lalu ia bersabar kecuali Allah akan tambahkan kemuliaan untuknya.
⚉  Tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allah akan membukakan untuknya pintu kefaqiran.

Aku akan menyampaikan sebuah hadits, hafalkanlah ! Dunia itu untuk empat orang :

⚉  Seorang hamba yang diberikan oleh Allah rizki berupa harta dan ilmu, dengannya ia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahim dan melaksanakan hak Allah. Ini adalah kedudukan yang paling utama.

⚉  dan hamba diberikan oleh Allah ilmu dan tidak diberikan harta, namun niatnya benar, ia berkata: jika aku mempunyai harta, aku akan berinfaq seperti si fulan, maka dengan niatnya ia mendapat pahala yang sama dengannya.

⚉  dan hamba yang diberikan harta dan tidak diberikan ilmu, ia habiskan hartanya dengan tanpa ilmu, tidak bertaqwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak melaksanakan hak Allah, maka ini kedudukan yang paling buruk.

⚉  dan hamba yang tidak diberikan harta tidak juga ilmu, dan ia berkata: jika aku mempunyai harta aku akan beramal (buruk) seperti si fulan, maka dengan niatnya tersebut ia mendapat dosa yang sama dengannya.” 

[HR Ahmad dan at Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani dalam shahih targhib no 16]

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da2612131905

Menilai Seseorang…

Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya….

Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam…
jauh dari sunnah…
jauh dari hidayah…
tenggelam dalam dunia yang menipu…
terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista…

Bukankah banyak sahabat rodhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan…, peminum khomr…, bahkan pelaku kesyirikan…?

Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

Bisa jadi anda salah satu dari mereka para akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam… yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam anda.

Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam anda… maka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk…

Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang… kondisinya tatkala akan meninggal, bukan masa lalunya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Amalan-amalan itu tergantung akhirnya”

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

da0107140607

Imbangilah Ilmu Agama Anda Dengan Amal…

Ilmu agama bukan untuk dibanggakan, atau hanya untuk pengetahuan… Tapi dia menuntut Anda untuk diamalkan.

Dalam sebuah tulisannya, Tajuddin Assubki -rohimahulloh- yang wafat tahun 771 H / 1370 M seakan menjelaskan keadaan sebagian penuntut ilmu di masa kita ini, beliau mengatakan:

“Diantara mereka (yang berilmu agama), ada segolongan orang yang memang tidak meninggalkan amal-amal wajib, tapi senang ilmu dan PERDEBATAN, dia senang bila dikatakan: “si fulan sekarang adalah pakar fikih di daerah ini”, kesenangannya terhadap hal-hal itu sampai mendarah daging, hingga kesibukannya untuk itu menghabiskan sebagian besar waktunya.

Dan dia pun menyepelekan AlQur’an, lupa dengan hapalan Qur’annya, tapi meski seperti itu dia tetap bangga, dan mengatakan: “Kamilah para ulama.”

Apabila dia mendirikan sholat fardhu, dia memang sholat 4 reka’at, tapi tidaklah dia mengingat Allah di dalam sholatnya kecuali sedikit, sholatnya dicampuri dengan memikirkan permasalahan dalam bab haidh dan jinayat yang pelik…

Lalu bila kamu menanyakan kepada salah seorang dari mereka: “Apakah kamu sudah sholat Sunnah Zhuhur ?” Dia akan mengatakan kepadamu: “Imam Syafi’i telah mengatakan: menuntut ilmu lebih afdhol daripada sholat sunnah.

Atau bila kamu mengatakan kepadanya: “Khusyu’ kah kamu dalam sholatmu ?”. Dia akan mengatakan: “Khusyu’ tidaklah termasuk syarat sah sholat.”

Atau bila kamu katakan kepadanya: “Kamu lupa hapalan Qur’anmu ?”. Dia akan mengatakan kepadamu: “Tidak ada yang berpendapat bahwa melupakan hapalan Qur’an itu dosa besar, kecuali penulis kitab Al-‘Uddah, dan mana dalil pendapatnya itu ?!”.

Maka katakanlah kepadanya: “Wahai pakar fikih, memang perkataan itu benar, tapi untuk tujuan kebatilan”, karena Imam Syafi’i tidaklah menginginkan dari perkataannya itu apa yang kau inginkan… dan dikhawatirkan orang yang keadaannya seperti ini, akan keluar total dari agamanya.

[Kitab: Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqom, Tajuddin Assubki, hal: 84-85].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0703152132