Category Archives: Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr

Jika Ada Pilihan Maka Rahasiakan Amalan Anda

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan,

Diriwayatkan dalam sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Basri rohimahullahu ta’ala, bahwasanya beliau berkata:

– Dahulu ada seorang laki-laki yang telah menghafal seluruh Al-Qur’an—dengan sempurna, tajwid/hafalan yang kuat, dan presisi—namun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari hal tersebut.

– Dan ada seorang laki-laki yang telah menguasai ilmu fikih yang sangat banyak, namun orang-orang pun tidak menyadarinya.

– Dan ada pula seorang laki-laki yang melakukan sholat yang sangat panjang di rumahnya sementara di sisinya terdapat para tamu, namun mereka (tamu-tamu tersebut) tidak menyadari sholat panjangnya.

– Dan sungguh kami telah menjumpai orang-orang (generasi terdahulu) -dan ini adalah poin utamanya- di mana tidak ada suatu amal pun di bumi ini yang sanggup mereka kerjakan secara tersembunyi/rahasia, melainkan mereka tidak akan pernah memilih untuk menampakkannya (secara terang-terangan) sama sekali..”

Kaum muslimin terdahulu bersungguh-sungguh dalam berdo’a, namun tidak terdengar suara sedikit pun dari mereka. Tidak ada yang terdengar melainkan bisikan antara diri mereka dengan Robb mereka.

Hal itu karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Robbmu dengan rendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..” (QS. Al-A’raf: 55)

Dan ini masih bagian dari perkataan Al-Hasan rohimahullah,

“Hal itu karena Allah menyebutkan dan memuji seorang hamba yang sholeh atas perbuatannya, lalu Allah berfirman : ‘(Yaitu) ketika dia berdo’a kepada Robbnya dengan suara yang lembut (tersembunyi)..’ (QS. Maryam: 3)

Allah memujinya karena ia berdo’a kepada Robbnya dengan suara yang lembut/rahasia.

Berdo’a Setiap Hari Dengan Sebaik Baik Do’a

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan sebagai berikut :

“Banyak dari kalangan awam kaum Muslimin yang membaca Surah Al-Fatihah sepanjang hidupnya, namun tidak menghayati bahwa Surah ini adalah sebuah do’a.

Oleh karena itu, para ulama menyampaikan bahwa hendaknya masyarakat awam diingatkan bahwa Al-Fatihah ini adalah do’a yang di-ijabah (dikabulkan) saat seseorang memohonnya.

Hendaknya seorang Muslim menghayati setiap kali ia membaca Al-Fatihah, ‘apa yang sedang ia lakukan..?’ Bahwa ia sedang berdo’a kepada Allah dengan sebaik-baik do’a.

Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah menyampaikan,

‘Aku memperhatikan dan merenungkan do’a apa yang paling bermanfaat, dan aku mendapati bahwa itu ada di dalam Al-Fatihah..’

Hal ini menunjukkan bahwa do’a paling agung adalah do’a yang Allah wajibkan atas kita untuk memohonnya sebanyak 17 kali setiap hari dan malam dalam sholat-sholat fardhu. Hal seperti ini tidak ada pada do’a do’a lainnya.

Do’a ini adalah sebuah kewajiban.

Dalam sehari semalam, sebanyak 17 kali Anda berdo’a:

IH-DINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM
(tunjukilah kami jalan yang lurus).

Setiap kali Anda membaca Al-Fatihah, hendaklah Anda menghayati bahwa dari firman-Nya ‘Ih-dinash shirooth’ hingga akhir surah, ini adalah do’a yang pasti dikabulkan .. (Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi) : ‘Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta..’ (HR. Muslim 395)

Memperbanyak Dzikir Membantu Seseorang Dalam Melakukan Ketaatan Dan Ibadah

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan

“Dzikir membantu seseorang dalam melakukan ketaatan dan melembutkan/memudahkan ibadah.

Semakin banyak engkau berdzikir mengingat Allah, hal itu menjadi sebab dimudahkannya ibadah bagimu.

Seseorang pernah datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan ia merasa kesulitan/keberatan dalam menjalankan syariat Islam (merasa berat melakukan amal-amal ibadah wajib dan kewajiban Islam).

Ia berkata, ‘Sesungguhnya syariat Islam telah terasa banyak/berat bagiku, maka berilah aku nasihat..’

Lelaki ini ketika datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan menyampaikan bahwa syariat Islam terasa berat baginya, apa sebenarnya yang ia inginkan..?

Apakah ia ingin agar beban ibadahnya dikurangi..?

Ataukah ia menginginkan sesuatu yang dapat membantunya dan memudahkan amal-amal tersebut baginya..? Yang mana dari kedua hal itu..?

Apakah ketika ia berkata ‘syariat ini terasa berat/banyak bagiku..’ apakah ia ingin Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berkata kepadanya, ‘Baiklah, engkau boleh meninggalkan sebagian sholat atau sebagian puasa Ramadhan..’ Apakah itu yang diinginkannya..? Apakah ia ingin amalnya dikurangi atau dihapus sebagian..?

Jawabannya, Tidak..!

Ia menginginkan sesuatu yang dapat melembutkan hatinya dan memudahkan amal-amal ibadah tersebut baginya. Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam membimbingnya untuk memperbanyak dzikir. Beliau bersabda, ‘Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berdzikir mengingat Allah..’

=======
KUMPULAN DO’A & DZIKIR yang bisa diamalkan setiap saat.

https://bbg-alilmu.com/archives/73456

semoga Allah menjaga kita dalam keadaan penuh keselamatan dan keimanan, aamiin.

Keutamaan Memperbanyak Istighfar

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Jika seseorang melihat adanya kekurangan pada dirinya—baik dalam hal :
– kesehatannya,
– rezekinya, atau
– kondisi-kondisi lainnya

Maka hendaknya ia senantiasa memohon ampunan (istighfar) dan memperbanyak istighfar dengan mengucapkan :
ASTAGHFIRULLAH ..
ASTAGHFIRULLAH ..

atau bentuk-bentuk istighfar lainnya.

Sebab, istighfar datang dengan banyak cara/lafazh .. dan lafazh yang paling sempurna serta paling agung adalah apa yang diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam sebagai SAYYIDUL ISTIGHFAR (Induk Istighfar) yaitu hendaknya engkau mengucapkan (lihat poster di bawah)

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku senantiasa berada dalam perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat diampuni dosanya kecuali Engkau..”

=====

Dua Hal Yang Mendatangkan Keberkahan Yang Sempurna Di Rumah Rumah Kaum Muslimin

📌 Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan :

“Dua hal yang jika keduanya berkumpul pada diri manusia di rumah-rumah mereka, niscaya keberkahan akan makin sempurna di dalam rumah tersebut dan setan-setan akan pergi keluar dari rumah (yaitu) :

1. Membaca At-Tasmiyah saat hendak masuk : ketika dia membuka pintu untuk masuk, dia mengucapkan BISMILLAH

2. Mengucapkan salam saat bertemu penghuni rumah : Dan jika dia telah sampai/bertemu dengan penghuni rumah, dia mengucapkan ASSALAAMU ‘ALAYKUM

======
DALILNYA

1. MENGUCAPKAN BISMILLAH

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Jika seseorang memasuki rumahnya lalu dia menyebut nama Allah (mengucapkan BISMILLAH) ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam..’

Namun jika dia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap..’ Dan jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam..’

(HR. Muslim no. 2018)

2. MENGUCAPKAN SALAM
– Assalaamu ‘alaykum, atau
– Assalaamu ‘alaykum warohmatullah, atau
– Assalaamu ‘alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda kepada Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu,

“Wahai anakku, jika engkau masuk menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam. Niscaya salam itu akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi penghuni rumahmu..”

(HR. At Tirmidzi no. 2698)

Senantiasa Berbaik Sangka Kepada Allah

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq Al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Jika engkau adalah seorang yang berbuat dosa dan lalai, maka berbaik sangkalah (husnu-zhon) kepada Allah.

Jangan biarkan dosa-dosa, kemaksiatan, dan kesalahan-kesalahan menguasai dirimu, lalu engkau berkata, ‘Dosa-dosaku terlalu banyak..’ serta membiarkan rasa putus asa menguasaimu.

Janganlah seperti itu..!

Berbaik sangkalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa Dia (Maha Suci Dia) mengampuni dosa-dosa betapapun besarnya dan betapapun banyaknya.

Dan Dialah (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia) yang berfirman,

‘Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri..! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang..’ (Qs. Az-Zumar: 53)

Demikian pula, jika rezekimu sedikit/sempit dan engkau sedang dalam kekurangan, maka berbaik sangkalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa karunia-Nya Maha Luas, perbendaharaan-Nya penuh, dan Dia Maha Agung Karunia-Nya.

Katakanlah (pada dirimu), ‘Ini mungkin karena kekurangan yang ada pada diriku, atau bentuk kasih sayang-Nya kepadaku, atau kelembutan-Nya kepadaku..’

Maka berbaik sangkalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika seseorang berada dalam kemiskinan dan kekurangan rezeki, hendaklah ia berbaik sangka kepada Allah. Berbaik sangka kepada Allah bahwa karunia-Nya sangat luas, jalan keluar/pertolongan dari-Nya sudah dekat, kemudahan dari-Nya akan datang, dan bahwa rezeki ada di tangan-Nya.

Kapankah Kalimat Mulia Ini Diucapkan..?

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan tentang kalimat mulia “Hasbunallaah wa Ni’mal Wakiil”

Kapankah kalimat ini diucapkan..? Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)

Kebanyakan orang mengira bahwa kalimat ini hanya diucapkan saat menghadapi kesulitan, musibah, atau kesusahan. Memang benar, ini adalah salah satu kondisi di mana kalimat tersebut diucapkan.

Namun, petunjuk dan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa kalimat ini diucapkan (pada 2 kondisi) :

1. saat memohon/mendapatkan kenikmatan, dan
2. saat menolak keburukan/bencana

📌 Kalimat ini diucapkan dalam kondisi mendatangkan kenikmatan, dan juga diucapkan dalam kondisi menolak keburukan serta bencana.

Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

‘Jika mereka sungguh-sungguh ridho dengan apa yang diberikan Allah dan Rosul-Nya kepada mereka, dan berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami’, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rosul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah..’ (Qs. At-Taubah: 59)

Ini dalam kondisi apa..? Ini adalah kondisi memohon/mendapatkan kenikmatan

Sebagaimana kalimat ini juga diucapkan dalam kondisi menolak bencana/keburukan, yaitu pada firman Allah :

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

‘(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’ maka perkataan itu justru menambah iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung..’ (Qs. Aali ‘Imran: 173)

========

KESIMPULAN

Kalimat “Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil” tidak hanya dibaca ketika tertimpa musibah atau kezholiman, tetapi juga sangat dianjurkan dibaca saat mengharapkan karunia, rezeki, dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Agama Islam Berporos Pada Tiga Hadits

Syaikh Prof Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Agama (Islam) itu berporos pada tiga hadits, yaitu :

1. Hadits Umar rodhiyallahu ‘anhu :

“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya..”

2. Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha :

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak..”

3. Hadis An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu :

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar)..”

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Agama Islam itu intinya adalah melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan menjaga diri dari perkara yang samar (syubhat). Hal ini telah dijelaskan dalam hadis An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu.

Perkara tersebut tidak akan sempurna kecuali jika bentuk lahiriah dari amalan tersebut sesuai dengan sunnah (tuntunan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam). Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Aisyah rodhiyallahu ‘anha.

Serta bagian batin dari manusia (hati) haruslah menginginkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ikhlas) melalui amalan tersebut. Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Umar rodhiyallahu ‘anhu : “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya..”

Diantara Tolok Ukur Dalam Mencari Menantu Pria

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohumallah berkata,

“Sekarang .. jika seseorang ingin menikahkan anak perempuannya, hal pertama yang harus dia tanyakan adalah tentang sholat.

Dia (ayah anak perempuan) harus pergi ke jama’ah di lingkungan sekitar pelamar tersebut dan bertanya kepada orang-orang di lingkungan tersebut mengenai bagaimana pelaksanaan sholatnya.

Ini adalah tolok ukur harian.

Jika mereka memberitahunya bahwa pelamar tersebut jarang terlihat di masjid kecuali sedikit, dan dia tidak pernah menghadiri sholat Shubuh, misalnya, maka dia (ayah anak perempuan) harus menghindari pelamar tersebut.

Dia harus menghindarinya karena sholat adalah tolok ukur.

Sholat adalah tolok ukur harian yang melaluinya .. seseorang dapat menilai dirinya sendiri, dan juga menilai orang lain..”

Diantara Keutamaan Sholat Malam

Syaikh Abdurrozzaq al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan tentang keutamaan sholat malam (qiyaamul lail), beliau berkata :

“Dan sesungguhnya di dalam sholat malam terdapat manfaat yang besar serta buah yang agung, yang akan dipetik oleh seorang hamba jika ia diberi taufik untuk menjaga ibadah ini.

Dari Bilal rodhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena ia adalah :
– kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kalian,
– sarana pendekatan diri kepada Allah,
– pencegah dari perbuatan dosa,
– penghapus kesalahan-kesalahan, dan
– pengusir penyakit dari tubuh..”

(HR. At-Tirmidzi)

● Sabda beliau ‘hendaklah kalian melakukan sholat malam..’, maksudnya adalah sholat tahajud di malam hari.’

● Sabda beliau ‘karena ia adalah kebiasaan orang-orang sholeh..’, maksudnya adalah adat, tabiat, dan jalan hidup mereka.

● Sabda beliau ‘sarana pendekatan diri kepada Allah.’, maksudnya adalah perkara terbesar yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah.

● Sabda beliau ‘pencegah dari perbuatan dosa..’, maksudnya mencegah dari melakukannya. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk..’

Dan Dia (Allah) juga berfirman, ‘Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar..’

● Dan sabda beliau ‘penghapus kesalahan-kesalahan..’, maksudnya adalah pelebur bagi dosa-dosa dan penutup baginya.

● Dan sabda beliau ‘dan pengusir penyakit dari tubuh..’, maksudnya menolak dan menjauhkan penyakit dari jasmani (badan).