Category Archives: Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr

Kapankah Kalimat Mulia Ini Diucapkan..?

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan tentang kalimat mulia “Hasbunallaah wa Ni’mal Wakiil”

Kapankah kalimat ini diucapkan..? Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)

Kebanyakan orang mengira bahwa kalimat ini hanya diucapkan saat menghadapi kesulitan, musibah, atau kesusahan. Memang benar, ini adalah salah satu kondisi di mana kalimat tersebut diucapkan.

Namun, petunjuk dan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa kalimat ini diucapkan (pada 2 kondisi) :

1. saat memohon/mendapatkan kenikmatan, dan
2. saat menolak keburukan/bencana

📌 Kalimat ini diucapkan dalam kondisi mendatangkan kenikmatan, dan juga diucapkan dalam kondisi menolak keburukan serta bencana.

Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

‘Jika mereka sungguh-sungguh ridho dengan apa yang diberikan Allah dan Rosul-Nya kepada mereka, dan berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami’, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rosul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah..’ (Qs. At-Taubah: 59)

Ini dalam kondisi apa..? Ini adalah kondisi memohon/mendapatkan kenikmatan

Sebagaimana kalimat ini juga diucapkan dalam kondisi menolak bencana/keburukan, yaitu pada firman Allah :

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

‘(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’ maka perkataan itu justru menambah iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung..’ (Qs. Aali ‘Imran: 173)

========

KESIMPULAN

Kalimat “Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil” tidak hanya dibaca ketika tertimpa musibah atau kezholiman, tetapi juga sangat dianjurkan dibaca saat mengharapkan karunia, rezeki, dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Agama Islam Berporos Pada Tiga Hadits

Syaikh Prof Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Agama (Islam) itu berporos pada tiga hadits, yaitu :

1. Hadits Umar rodhiyallahu ‘anhu :

“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya..”

2. Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha :

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak..”

3. Hadis An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu :

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar)..”

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Agama Islam itu intinya adalah melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan menjaga diri dari perkara yang samar (syubhat). Hal ini telah dijelaskan dalam hadis An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu.

Perkara tersebut tidak akan sempurna kecuali jika bentuk lahiriah dari amalan tersebut sesuai dengan sunnah (tuntunan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam). Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Aisyah rodhiyallahu ‘anha.

Serta bagian batin dari manusia (hati) haruslah menginginkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ikhlas) melalui amalan tersebut. Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Umar rodhiyallahu ‘anhu : “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya..”

Diantara Tolok Ukur Dalam Mencari Menantu Pria

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohumallah berkata,

“Sekarang .. jika seseorang ingin menikahkan anak perempuannya, hal pertama yang harus dia tanyakan adalah tentang sholat.

Dia (ayah anak perempuan) harus pergi ke jama’ah di lingkungan sekitar pelamar tersebut dan bertanya kepada orang-orang di lingkungan tersebut mengenai bagaimana pelaksanaan sholatnya.

Ini adalah tolok ukur harian.

Jika mereka memberitahunya bahwa pelamar tersebut jarang terlihat di masjid kecuali sedikit, dan dia tidak pernah menghadiri sholat Shubuh, misalnya, maka dia (ayah anak perempuan) harus menghindari pelamar tersebut.

Dia harus menghindarinya karena sholat adalah tolok ukur.

Sholat adalah tolok ukur harian yang melaluinya .. seseorang dapat menilai dirinya sendiri, dan juga menilai orang lain..”

Diantara Keutamaan Sholat Malam

Syaikh Abdurrozzaq al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan tentang keutamaan sholat malam (qiyaamul lail), beliau berkata :

“Dan sesungguhnya di dalam sholat malam terdapat manfaat yang besar serta buah yang agung, yang akan dipetik oleh seorang hamba jika ia diberi taufik untuk menjaga ibadah ini.

Dari Bilal rodhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena ia adalah :
– kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kalian,
– sarana pendekatan diri kepada Allah,
– pencegah dari perbuatan dosa,
– penghapus kesalahan-kesalahan, dan
– pengusir penyakit dari tubuh..”

(HR. At-Tirmidzi)

● Sabda beliau ‘hendaklah kalian melakukan sholat malam..’, maksudnya adalah sholat tahajud di malam hari.’

● Sabda beliau ‘karena ia adalah kebiasaan orang-orang sholeh..’, maksudnya adalah adat, tabiat, dan jalan hidup mereka.

● Sabda beliau ‘sarana pendekatan diri kepada Allah.’, maksudnya adalah perkara terbesar yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah.

● Sabda beliau ‘pencegah dari perbuatan dosa..’, maksudnya mencegah dari melakukannya. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk..’

Dan Dia (Allah) juga berfirman, ‘Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar..’

● Dan sabda beliau ‘penghapus kesalahan-kesalahan..’, maksudnya adalah pelebur bagi dosa-dosa dan penutup baginya.

● Dan sabda beliau ‘dan pengusir penyakit dari tubuh..’, maksudnya menolak dan menjauhkan penyakit dari jasmani (badan).

Ikatan Iman Adalah Ikatan Terkuat

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohumallah berkata,

“Allah telah menciptakan para malaikat. Sebagaimana kita ketahui, para malaikat adalah makhluk yang berbeda dari manusia. Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan anak Adam (manusia) diciptakan dari tanah liat.

Meskipun berasal dari jenis yang berbeda, Allah berfirman, ‘Malaikat-malaikat yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya, mereka beriman kepada-Nya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman. (Seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari adzab neraka Jahanam..”

Ini adalah do’a dari mereka (para malaikat) dan bentuk rasa cinta dari malaikat kepada orang-orang beriman.

Mengapa demikian..?! Karena adanya ikatan itu, yaitu ikatan iman.

Walaupun malaikat dan manusia berasal dari jenis yang berbeda—yang satu diciptakan dari cahaya dan yang lain dari tanah liat—mereka mencintai orang-orang beriman karena adanya ikatan yang menyatukan mereka.

Ikatan itu adalah ikatan iman.

Dan ikatan iman adalah ikatan yang paling kuat di antara seluruh ikatan..”

Kendali Harimu Ada di Waktu Pagi

Terjemahan :

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohumallah berkata,

“Jadi, jika Allah memuliakanmu dan :
– engkau mendengar adzan Shubuh,
– lalu engkau mengucapkan seperti yang diucapkan (muadzin),
– berangkat ke Masjid lebih awal,
– berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
– melaksanakan sholat sunnah kemudian sholat wajib,
– lalu engkau membaca dzikir—dzikir pagi setelah sholatmu..

Tahukah engkau apa yang baru saja engkau lakukan..?

Engkau baru saja melakukan sesuatu yang sangat luar biasa..! Engkau kini telah memegang kendali penuh atas harimu dengan memanfaatkan waktu pagi hari ini.

Salah seorang ulama Salaf berkata, “Harimu itu seperti untamu. Jika engkau memegang bagian awalnya (kepalanya), maka bagian akhirnya akan mengikutinya..”

Sisa harimu akan tunduk padamu dalam kebaikan dan keberkahan.

Ibnul Qoyyim rohimahullah memiliki perkataan yang indah dan bagus. Beliau berkata,

“Awal siang (hari) adalah masa mudanya, dan akhir siang adalah masa tuanya. Dan barangsiapa yang tumbuh besar di atas sesuatu, maka ia akan menjadi tua di atas hal tersebut..”

Artinya, jika seseorang berdzikir di pagi hari, maka dzikir itu akan menyertainya di sisa harinya. Jika dia malas di pagi hari, kemalasan itu akan terus bersamanya sampai akhir hari. Namun, jika dia bersemangat, semangat itu akan terus bersamanya sampai akhir hari.

Pagi hari adalah kendali hari tersebut. Jika engkau berhasil mengendalikannya, maka seluruh harimu akan terkendali.

📌 Dengarkan cerita ini yang terdapat dalam Shohih Muslim:

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, sahabat yang mulia, didatangi oleh sekelompok sahabatnya di rumahnya pada pagi hari setelah sholat Shubuh. Ketika mereka masuk dan duduk di majelisnya, beliau sedang bertasbih.

Beliau bertanya, “Apakah matahari sudah terbit..?”

Mereka menjawab, “Belum..”

Maka beliau lanjut bertasbih. Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah matahari sudah terbit..?” Mereka menjawab, “Ya..”

Beliau kemudian berucap, “Segala puji bagi Allah, yang telah memaafkan kita pada hari kita ini dan tidak menghukum kita karena dosa-dosa kita..”

Kapan beliau mengucapkan ini..?

Tepat saat matahari baru saja terbit. Padahal harinya belum berakhir, beliau masih berada di awal hari, namun beliau sudah memuji Allah karena telah dimaafkan.

Apa yang bisa engkau pelajari dari sini..?

Bahwa barangsiapa yang memegang kendali di awal hari, maka seluruh harinya akan dimaafkan dan akan menjadi baik baginya. Inilah pemahaman para Sahabat rodhiyallahu ‘anhum.

Jika engkau menjaga awal harimu dengan dzikir, (maka) :

● Harimu akan menjadi baik sepenuhnya.

● Seluruh harimu akan berada dalam kendalimu.

● Dan engkau berada dalam perlindungan Allah.

Bagaikan Dedaunan Kering Yang Berjatuhan Dari Pohon

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya.. lalu beliau melewati pohon yang dedaunannya telah kering dan memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya maka daun-daun yang kering itu berguguran.

Dan saat para sahabat melihat dedaunan pohon itu berguguran di depan mereka, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“sesungguhnya kalimat :

SUBHAANALLAH
WALHAMDULILLAH
WALAA ILAAHA ILLALLAH
WALLAHU AKBAR

menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran..”

( HR. at-Tirmidzi – shohih )

Maka sudah seharusnya seseorang itu mengucapkan EMPAT KALIMAT ini sesering mungkin sepanjang hari dan malamnya .. sungguh terdapat padanya pahala yang sangat besar.

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى

Kisah Yang Akan Membuat Seseorang Mengurungkan Niat Buruknya

Ibnu Rojab rohimahullah mengisahkan dalam sebagian kitabnya tentang seorang laki laki badui yang menggoda wanita badui di padang pasir.

Laki Laki itu berkata, ‘kita ada di tempat yang hanya bintang bintang yang melihat kita, apa yang engkau takutkan..?’

Wanita itu menjawab, ‘lalu dimana Pencipta bintang bintang itu..?’ Laki laki tersebut langsung mengurungkan niatnya.

Beliau rohimahullah juga mengisahkan ada laki laki yang memaksa seorang wanita untuk berzina. Laki laki itu berkata, ‘tutuplah semua pintu..’ wanita itu pun menutupnya.

Laki laki itu berkata lagi, ‘sudahkah engkau menutup semua pintu..?’

Wanita tersebut menjawab, ‘sudah.. kecuali satu pintu..’

‘Pintu yang mana..?’ tanya laki laki tersebut.

‘Pintu antara kita dan Allah .. pintu yang tidak mungkin ditutup..’ Laki laki tadi pun tidak jadi berzina.

Begitulah, setiap kali seorang hamba menyadari bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengetahui dan memperhatikan gerak geriknya, maka itu akan menjadi faktor terbesar yang menghentikannya dari perbuatan dosa.

Dikisahkan oleh,
Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى

Mendo’akan Hidayah Bagi Anak

Kisah ini disampaikan oleh seorang pensiunan penjaga Ka’bah di bagian Hajar Aswad.

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى bertanya padanya,

“Selama puluhan tahun engkau bertugas, adakah kisah yang menakjubkan yang engkau alami..?”

Lelaki itu kemudian menjawab,

“Ada.. suatu hari, ketika itu aku baru bertugas selama beberapa bulan lamanya. Tiba-tiba aku mendengar di antara jama’ah umroh, seorang lelaki dari Afrika Barat bagian Utara ( Maroko, Aljazair, Tunis – beliau lupa tepatnya) sedang berdo’a,

“Ya Allah, teman-temanku seluruhnya telah engkau beri anak. Saudara-saudaraku seluruhnya telah engkau beri anak. Sedangkan aku, belum punya anak. Segala cara telah aku tempuh, namun belum berhasil. Maka berikanlah aku anak ya Allah..”

Lelaki itu berdo’a dengan sungguh-sungguh dan khusyuk. Hingga Allah jadikan aku mengingat wajahnya, dan mengingat suaranya.

Kemudian waktu berlalu hingga belasan atau 20an tahun lamanya. Ketika itu aku sedang kembali bertugas di dekat Ka’bah, dan tiba-tiba aku mendengar suara yang sama dengan 20 tahun lalu yang aku dengar. Lelaki yang sama datang dan kembali berdo’a. Namun do’anya kali ini berbeda.

“Ya Allah, cabutlah nyawa anakku. Matikanlah anakku. Anakku ini memalukan aku dan keluargaku. Dia durhaka kepadaku..” dan lelaki ini terus menyebutkan kenakalan anaknya.

Aku lihat orang itu dan aku sadar, ini adalah orang yang dulu, yang 20 tahun lalu meminta agar ia diberi anak. Maka akupun berjalan kepadanya dan menariknya keluar dari kerumunan.

“Engkau yang 20 tahun lalu berdo’a di sini, berdoa meminta anak. Iya kan..??”

“Iya..” ujarnya dengan penuh kaget.

“Dengar, sungguh engkau telah berbuat zholim pada anakmu 2 kali. Aku mendengar do’amu 20 tahun yang lalu, dan engkau hanya meminta kepada Allah anak. Engkau tidak meminta anak yang sholeh. Engkau hanya bilang ‘semua orang Engkau beri anak, maka berikanlah kepadaku anak..’

Engkau tidak bilang ‘ya Allah berikanlah aku anak yang sholeh..’ Kau telah zholim pada anakmu..

Yang kedua, kenapa engkau tak berdo’a agar Allah memberikan hidayah pada anakmu..?? Ini adalah kezholimanmu yang kedua..”

Dan subhanallah, orang itu terperanjat.

“Sini ikut aku, dan engkau berdo’a lagi kepada Allah agar Allah beri hidayah kepada anakmu..”

Maka lelaki itupun berdo’a dengan sungguh-sungguh hingga menangis, berharap Allah berikan hidayah pada anaknya dan menyesali perbuatannya.

Kemudian keduanya pun berpisah..

Setahun berjalan, maka sang lelaki itupun kembali datang ke tanah suci, dan kali ini ia membawa anaknya.

Kali ini sang anak sudah tampak padanya bahwa ia telah hijrah. Telah menjadi anak yang taat dan penurut, dan telah menjadi anak yang sholeh. Singkat cerita, kami bertiga pun bertemu. Maka akupun bertanya kepadanya,

“Bagaimana ceritanya engkau bisa berubah..?”

Maka pemuda itupun menjawab,

“Suatu ketika aku mendengar adzan di waktu Ashar, dan aku tidak tahu mengapa, Allah jadikan hatiku sangat ingin datang sholat berjama’ah di masjid. Yang biasanya aku malas, tiba-tiba muncul keinginan untuk berubah. tiba-tiba aku ingin ke Masjid..”

“Kapan tepatnya kejadian itu..?”

Pemuda itupun menjawab dengan lebih detail, dan setelah dicocokkan dengan waktu Saudi, itulah hari dan jam yang sama ketika sang ayah berdo’a kepada Allah agar anaknya diberi hidayah.

Maasyallah. Tepat di saat sang ayah berdo’a agar anaknya diberi hidayah, saat itu juga Allah beri hidayah kepada anaknya. Padahal lokasi mereka jauh terpisah..

Inilah di antara kisah menakjubkan dari terkabulnya do’a. Mau anak senakal apapun, atau bagaimanapun, apabila itu maslahat, maka Allah akan kabulkan..”

Dikisahkan oleh,
Ustadz Dr. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Diposting oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى