Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir, حفظه الله تعالى menjelaskan berikut ini tentang hakikat ikhlas dalam beribadah kepada Allah.
===
“Jadi maknanya adalah bahwa barangsiapa yang mengharapkan pahala dari Allah, maka dia telah mengharapkan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena sebagian orang —dan hal ini dialami oleh sebagian orang yang menaruh perhatian pada bidang ini— mengatakan, ‘Saya tidak tahu apa arti ikhlas yang sebenarnya..’
Bahkan belum lama ini ada seseorang yang berkata kepada saya, ‘Saya melakukan ibadah, tetapi niat saya tidak murni ikhlas..’
Saya bertanya kepadanya, ‘Mengapa bisa demikian..?’
Dia menjawab, ‘Karena saya beribadah dengan mengharapkan Surga..’
Ini adalah sebuah ketidaktahuan.
Dan banyak dari orang-orang yang mencurahkan diri mereka untuk beribadah dan zuhud, justru terjerumus ke dalam kesalahan karena ketidaktahuan mereka terhadap syariat Allah ‘Azza wa Jalla.
Barangsiapa yang melakukan suatu ibadah karena mengharapkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia adalah orang yang ikhlas. Karena pahala itu datangnya dari Allah. Siapa lagi yang memberi Anda pahala selain Allah..?! Berarti, Anda memang bermaksud (beribadah) kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Orang yang melakukan ibadah karena takut akan adzab-Nya Subhanahu wa Ta’ala, juga termasuk orang yang ikhlas.
Orang yang melakukan ibadah karena rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dia juga orang yang ikhlas.
Oleh karena itu :
– kita beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan rasa takut,
– kita beribadah kepada-Nya dengan penuh harap, dan
– kita beribadah kepada-Nya dengan rasa cinta.
Janganlah Anda mengatakan, ‘Saya mencintai-Nya, tetapi saya tidak berharap kepada-Nya dan tidak takut kepada-Nya..’ Ini adalah sebuah kesalahan. Ini adalah ketidaktahuan dari Anda, dan di dalamnya terdapat penyimpangan dari jalan yang telah diperintahkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam.
Oleh karena itu, urusan ikhlas ini sebenarnya sangat sederhana. Dan urusan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla artinya adalah Anda melakukan ibadah tersebut :
– hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,
– mengharapkan pahala-Nya, takut akan siksaan-Nya, dan
– yang ketiga serta yang terakhir adalah mencintai-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan diri untuk beribadah kepada-Nya..”