Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahullah memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai fenomena mengendurnya semangat ibadah setelah berlalunya bulan Ramadhan.
Berikut adalah poin-poin inti dari nasihat beliau dalam pertemuan tersebut:
1. ISTIQOMAH ADALAH TANDA DITERIMANYA AMAL
Syaikh menekankan bahwa tanda diterimanya amal sholeh seseorang di bulan Ramadhan adalah adanya perubahan positif dan keistiqomahan setelah bulan tersebut berakhir. Beliau mengingatkan bahwa Allah yang disembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama yang disembah di bulan-bulan lainnya.
2. BAHAYA APABILA HANYA MENJADI ‘HAMBA RAMADHAN’
Beliau memberikan peringatan keras terhadap sikap seseorang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan namun langsung meninggalkan ketaatan begitu Syawwal tiba. Beliau menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja.
📌 Ibadah bukanlah musiman, melainkan kewajiban sepanjang hayat hingga maut menjemput.
3. KONSISTENSI DALAM AMAL YANG SEDIKIT
Beliau menasihati agar seseorang tidak memaksakan diri melakukan amalan sebanyak di bulan Ramadhan jika memang tidak sanggup, namun yang terpenting adalah kontinuitas (keajegan). Beliau mengutip hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan meskipun sedikit.
4. MENJAGA PUASA SUNNAH DAN SHOLAT MALAM
Sebagai solusi praktis agar iman tidak merosot tajam, beliau menyarankan untuk melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal (Puasa Syawwal).
Tetap menjaga sholat Witir dan sholat malam, meskipun tidak sepanjang sholat Tarawih.
📌 Tetap menjaga interaksi dengan Al-Qur’an walau hanya beberapa lembar sehari.
5. DO’A MEMOHON KETEGUHAN HATI
Syaikh mengingatkan jama’ah untuk senantiasa berdo’a memohon keteguhan hati. Beliau menjelaskan bahwa hati manusia berada di antara jari-jemari Allah, maka memohon perlindungan dari sifat malas setelah semangat adalah hal yang sangat penting.

Nasihat ini beliau tutup dengan mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan singkat, dan perlombaan yang sesungguhnya adalah bagaimana kita mengakhiri hidup dalam keadaan taat.
(Al-Liqo’ asy-Syahri, Pertemuan ke-43)
=====
