Kholid bin Shofwan rohimahullah ditanya,
‘siapakah temanmu yang paling engkau sukai..?’
Ia berkata,
– yang suka memaafkanku,
– mau menerima kekuranganku, dan
– menutupi kesalahanku.
(Kitab Mujaalasah – Ad Dinawari)
Kholid bin Shofwan rohimahullah ditanya,
‘siapakah temanmu yang paling engkau sukai..?’
Ia berkata,
– yang suka memaafkanku,
– mau menerima kekuranganku, dan
– menutupi kesalahanku.
(Kitab Mujaalasah – Ad Dinawari)
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahullah berkata,
(Ghibah) termasuk dosa-dosa besar yang tidak dapat dihapuskan oleh sholat, sedekah, puasa, maupun amal-amal sholeh lainnya, melainkan (dosanya) akan tetap ditimbang pada hari penimbangan amal (al-muwazanah).
Sabda Nabi ‘alaihis sholaatu wassalam ketika mendefinisikannya, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang tidak ia sukai..”
ini mencakup apa yang tidak ia sukai baik berupa :
– aib fisik (khilqi), maupun
– aib akhlak/perilaku (khuluqi).
Oleh karena itulah dinamakan ghibah, karena dilakukan saat orang tersebut tidak ada (ghoib).
Maka ketahuilah, barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah, Allah akan membongkar aibnya meskipun di dalam rumahnya sendiri.
Dan hendaknya kita menyadari bahwa setiap kata yang menjadi ghibah terhadap seseorang, sejatinya itu mengurangi kebaikan kebaikan kita dan menambah kebaikan bagi orang yang telah dizholimi tersebut.
Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,
“Ketahuilah—semoga Allah membimbingmu menuju keberhasilan—bahwa orang yang mati rasa tidak akan pernah merasakan sengatan. Hanya orang yang selalu bermuhasabah (mengintrospeksi diri)-lah yang dapat menyadari perbedaannya ketika terjadi perubahan pada dirinya.
Oleh karena itu, kapan pun engkau mendapati kehidupanmu terusik dan berubah, maka ingatlah :
– nikmat yang belum engkau syukuri kepada Allah,
atau
– dosa yang pernah engkau lakukan sebelumnya..”
(Ṣhoydul Khooṭhir – 88)
Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,
“Orang yang mencintaimu, ia akan memberikan nasihatnya baik di depanmu maupun di belakangmu karena rasa cintanya kepadamu.
Adapun orang yang takut denganmu, boleh jadi ia memberikan nasihatnya jika engkau di hadapannya karena rasa takutnya kepadamu, tapi ketika engkau tidak ada di hadapannya, dia akan meng-khianatimu dan enggan menasehatimu..”
(Jaami’ul Ulum wal Bayan – Bab Hadits 7/225-226)
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
لا يؤمر الناس بترك الدنيا، فإنهم لا يقدرون على تركها، لكن يؤمر الناس بترك الذنوب،
فترك الدنيا فضيلة، وترك الذنوب فريضة.
فإن صعب عليهم ترك الذنوب، حبب إليهم ربهم بذكر إنعامه وإحسانه وصفات كماله
فإذا تعلقت القلوب بالله، هان عليها ترك الذنوب.
“Manusia tidak diperintahkan untuk meninggalkan dunia karena mereka tidak akan mampu meninggalkan dunia.
Namun mereka diperintahkan untuk meninggalkan dosa. Walaupun meninggalkan dunia itu keutamaan tapi meninggalkan dosa adalah kewajiban.
Jika meninggalkan dosa bagi mereka terasa sulit, maka jadikanlah mereka mencintai Allah.. dengan mengingatkan kepada mereka :
– nikmat nikmat-Nya,
– kebaikan-Nya, dan
– sifat sifat-Nya yang sempurna.
Karena apabila hati telah bergantung kepada Allah, maka mudah baginya meninggalkan dosa..”
(Al Fawaid hal. 247)
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Q0NA’AH dengan rezeki tersebut..”
)HR. Ibnu Majah no. 4138)
Syaikh Al Albani rohimahullah berkata : hadits ini shohih.
📌 Ibnu Batthol rohimahullah menjelaskan,
“Hakikat kekayaan adalah kekayaan jiwa, yaitu orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, QONA’AH (puas), ridho, dan tidak berambisi menambahnya .. dan kekayaan jiwa itu tumbuh dari RIDHO terhadap ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya, karena mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal..”
(Fathul Baari – 11/272)
📌 KESIMPULANNYA: hakikat kekayaan (yang sejati) bukanlah banyaknya harta benda, melainkan :
– merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah
– ridho kepadanya,
– serta tidak tamak untuk terus menambahnya.


Orang yang lapang kehidupannya tetap harus bersabar .. sebaliknya orang yang sempit kehidupannya tetap harus bersyukur.
Lapang dan sempitnya kehidupan, semuanya adalah ujian, bahkan ujian berupa lapangnya kehidupan lebih sulit dihadapi.
======
Syaikhul Islam -rahimahullah- mengatakan,
“Kemiskinan cocok bagi banyak orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi lebih sedikit orang.
Oleh karena itu, kebanyakan orang yang masuk surga adalah orang-orang miskin, karena ujian kemiskinan lebih ringan.
(Namun sebenarnya) kedua keadaan tersebut—kemiskinan dan kekayaan—sama-sama membutuhkan sabar dan syukur.
Akan tetapi, karena :
– dalam kelapangan terdapat kenikmatan, sedangkan
– dalam kesusahan terdapat penderitaan,
maka :
– penyebutan syukur menjadi lebih dikenal dalam keadaan lapang, dan
– penyebutan sabar lebih dikenal dalam keadaan susah.
maka :
– orang yang berada dalam kelapangan lebih membutuhkan syukur, sedangkan
– orang yang berada dalam kesusahan lebih membutuhkan sabar.
Sabar bagi orang yang berada dalam kesusahan itu wajib. Apabila ia meninggalkannya, ia berhak mendapatkan hukuman. Demikian pula syukur bagi orang yang berada dalam kelapangan.
Adapun orang yang berada dalam kelapangan, sabar baginya terkadang bersifat sunnah, yaitu ketika ia menahan diri dari syahwat yang mubah. Dan terkadang sabar bersifat wajib baginya. Akan tetapi, karena ia telah menunaikan syukur, maka sebagian kekurangannya (dalam sabar) dapat diampuni.
Demikian pula orang yang berada dalam kesusahan. Syukur baginya terkadang bersifat sunnah, yaitu rasa syukur yang dengannya ia masuk dalam golongan orang-orang yang terdepan dalam kebaikan dan didekatkan kepada Allah. Sedangkan kekurangannya dalam syukur, maka bisa jadi diampuni karena ia telah menunaikan sabar dengan baik.
Sungguh berkumpulnya sabar dan syukur secara bersamaan (pada diri seseorang) merupakan perkara yang sulit bagi banyak orang..”
(Majmu’ul Fatawa 14/305)
✍
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
مَنْ عامل خلق اللّٰه بصفة عامله اللّه تعالى بتلك الصّفة بعينها في الدُّنيا والآخرة فالله تعالى لعبده على حسب ما يكون العبد لخلقه
“Siapa yang bermu’amalah dengan makhuk Allah dengan suatu sifat, maka Allah pun memperlakukannya dengan sifat tersebut di dunia dan akherat. Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan perlakuan hamba kepada makhluk-Nya..”
(Al Wabil Ash Shoyyib hal 35)
Orang yang menyayangi makhluk Allah maka Allah pun sayang kepada-Nya..
Orang yang menutupi aib saudaranya maka Allah tutupi aibnya di dunia dan akherat..
Orang yang selalu membantu orang lain maka Allah pun selalu membantunya..
Orang yang suka memaafkan kesalahan saudaranya maka Allah pun memaafkan kesalahannya..
Demikianlah Allah memperlakukan hamba hamba-Nya..
✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan tentang kalimat mulia “Hasbunallaah wa Ni’mal Wakiil”
Kapankah kalimat ini diucapkan..? Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)
Kebanyakan orang mengira bahwa kalimat ini hanya diucapkan saat menghadapi kesulitan, musibah, atau kesusahan. Memang benar, ini adalah salah satu kondisi di mana kalimat tersebut diucapkan.
Namun, petunjuk dan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa kalimat ini diucapkan (pada 2 kondisi) :
1. saat memohon/mendapatkan kenikmatan, dan
2. saat menolak keburukan/bencana
📌 Kalimat ini diucapkan dalam kondisi mendatangkan kenikmatan, dan juga diucapkan dalam kondisi menolak keburukan serta bencana.
Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ
‘Jika mereka sungguh-sungguh ridho dengan apa yang diberikan Allah dan Rosul-Nya kepada mereka, dan berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami’, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rosul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah..’ (Qs. At-Taubah: 59)
Ini dalam kondisi apa..? Ini adalah kondisi memohon/mendapatkan kenikmatan
Sebagaimana kalimat ini juga diucapkan dalam kondisi menolak bencana/keburukan, yaitu pada firman Allah :
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
‘(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’ maka perkataan itu justru menambah iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung..’ (Qs. Aali ‘Imran: 173)
========
KESIMPULAN
Kalimat “Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil” tidak hanya dibaca ketika tertimpa musibah atau kezholiman, tetapi juga sangat dianjurkan dibaca saat mengharapkan karunia, rezeki, dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,
“Demi Allah, keberkahan hidup tidak dapat diraih dengan perkara yang melebihi dua hal ini :
– membaca Alqur’an sebanyak-banyaknya, dan
– bersungguh-sungguh dalam berbakti kepada kedua orangtua
Barangsiapa yang senantiasa menjaga untuk membaca Alqur’an setiap hari dan berbakti kepada kedua orangtuanya, maka ia akan senantiasa mendatangkan keberkahan, dan Allah ‘Azza wa Jalla akan mengaruniakan keberkahan kepadanya.
Banyak diantara kita hari ini mengeluhkan kurangnya keberkahan dalam waktu, mereka berkata, ‘Aku tidak bisa menyelesaikan apa pun..’
Jika engkau menginginkannya (keberkahan hidup), solusinya sudah ada :
– bacalah Alqur’an setiap hari, dan
– berupayalah keras untuk berbakti kepada kedua orangtuamu..”