Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Ketika Teman Kita Tergelincir Dalam Dosa

Yazid bin Al Ashom rohimahullah berkata,

“Dahulu ada seorang penduduk Syam yang badannya kuat. Ia sering mendatangi ‘Umar bin Khathab..

Suatu ketika ‘Umar kehilangan orang ini. Beliau bertanya, “Kemana Fulan bin Fulan..?”

Mereka berkata, “Wahai amirul mukminin, ia sekarang suka berbuat maksiat dengan minum arak..”

Maka ‘Umar memanggil sekretarisnya dan berkata, “Tolong tulis kepadanya..

من عمر بن الخطاب إلى فلان ابن فلان، سلام عليك، [أما بعد] : فإني أحمد إليك الله الذي لا إله إلا هو، غافر الذنب وقابل التوب، شديد العقاب، ذي الطول، لا إله إلا هو إليه المصير

“Dari ‘Umar bin Al Khathab kepada Fulan bin Fulan. Semoga keselamatan atasmu. Amma ba’du..

Sesungguhnya aku memuji Allah dihadapanmu. Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia. Dialah pengampun dosa, penerima taubat, dan Dia Maha keras siksa-Nya. Pemilik karunia. Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia dan kepada-Nya kita kembali..”

Kemudian ‘Umar berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Do’akanlah ia agar kembali ke jalan yang benar dan agar Allah memberinya taubat..”

Ketika surat ‘Umar sampai kepada laki laki itu, ia membacanya dan mengulang ulangnya..

Ia bergumam, “Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat, dan Dia Maha Keras siksa-Nya. Dia mengancamku dengan siksa-Nya dan menjanjikan ampunan untukku..”

Kemudian iapun menangis dan bertaubat kepada Allah dengan sebaik-baik taubat.

Sampailah berita taubatnya kepada ‘Umar. Beliau berkata, “Demikianlah seharusnya yang kalian lakukan. Apabila melihat saudara kalian tergelincir, maka luruskanlah ia dan bimbinglah. Do’akan agar ia bertaubat. Dan jangan menjadi pembantu-pembantu setan untuk semakin menjauhkannya..”

(Tafsir Ibnu Katsir – Qs Ghafir)

Akibat Menjadikan Agama Sebagai Senda Gurau

Imam Malik berkata kepada Al Qo’nabi,

مهما تلاعبت به مِن شيء فلا تلاعَبَّن بِأمْر دِينك

“Bila kamu suka bersenda gurau maka jangan bersenda gurau dengan urusan agamamu..”

(Syarah I’tiqad Imam Al Lalikai)

Menjadikan agama sebagai senda gurau adalah sifat penduduk neraka.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَهْوًا وَّلَعِبًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۚ فَالْيَوْمَ نَنْسٰىهُمْ كَمَا نَسُوْا لِقَاۤءَ يَوْمِهِمْ هٰذَاۙ وَمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ (٥١)

“(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami..” (Q.S. Al-A’raf ayat 51)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Istiqomah Dalam Setiap Keadaan

Nasehat indah dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah.

PERTANYAAN:

“Alhamdulillah saya istiqomah di atas agama Allah sejak sebulan yang lalu. Saya merasakan kekokohan ketika bersama sebagian ikhwah yang sholih. Ketika saya berpisah dengan mereka karena kesibukan dan pekerjaan saya, saya rasakan iman berkurang. Apa yang anda nasehatkan kepada saya..?”

JAWABAN:

“Kami wasiatkan kepadamu untuk senantiasa bersahabat dengan orang-orang sholih..

Ketika engkau berpisah dengan mereka karena sebagian kesibukanmu, bertakwalah (takut dan taat) kepada Allah subhanahu wata’ala dan ingatlah bahwa Allah senantiasa mengawasimu. Dia lebih agung daripada mereka.

● Allah subhanahu wata’ala berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian..” [Qs. an-Nisa: 1]

● Allah subhanahu wata’ala juga berfiman,

{الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ}{وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ}

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sholat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud..” [Qs. asy-Syu’aro: 218]

● Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,

{لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا}

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita..” [Qs. at-Taubah: 40]

Allah senantiasa mengawasimu, bertakwalah kepada Allah. Ingatlah bahwa engkau di hadapan-Nya. Dia senantiasa melihatmu dalam keadaan apapun, taat maupun maksiat..

Hati-hatilah dari balasan Allah. Jangan berbuat perkara yang menyebabkan Dia murka kepadamu..

● Allah Jalla wa ’Alaa berfirman,

{وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ}

“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya..” [Qs. Aali Imran: 28]

● Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,

{وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ}

“Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk)..” [Qs. al-Baqoroh: 40]

Engkau wajib senantiasa jujur karena Allah, istiqomah di atas agama-Nya ketika sendirian, bersama teman-temanmu, dan di setiap tempat..

Engkau senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Allah. Dia mendengar ucapanmu dan melihat polah tingkahmu. Wajib bagimu untuk malu kepada Allah lebih besar daripada rasa malumu kepada keluargamu maupun selain mereka..”

[ Majmu’ Fatawa Abdul ‘Aziz bin Baz 9/39-40 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Termasuk Perbuatan Durhaka

Ada pertanyaan kepada Syaikh Sholih al-Fauzan حفظه الله تعالى terkait interaksi dengan orangtua.

PERTANYAAN

بالنسبة لعدم الاستجابة لنصائح الوالدين والرفض لطلباتهم هل يعتبر هذا من عقوق الوالدين؟

“Terkait sikap tidak memenuhi nasehat kedua orangtua dan menolak permintaan mereka, apakah ini termasuk durhaka kepada dua orangtua..?”

JAWABAN

نعم، إذا كان هذا مما أباحه الله ومما شرعه الله وخالفتهما هذا عقوق ومعصية لله عز وجل أما إذا كان ما يأمران به أنه معصية لله فلا تجوز طاعتهما، لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. نعم.

“Ya.. jika hal itu adalah perkara mubah yang Allah perbolehkan dan perkara yang Allah syariatkan, lalu engkau menyelisihi keduanya. Ini termasuk perbuatan durhaka dan bermaksiat kepada Allah Taala.

Adapun jika perkara yang orangtua perintahkan adalah berupa kemaksiatan kepada Allah maka tidak boleh mentaati keduanya. Tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Pencipta. Na’am..”

ref : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14427

MUTIARA SALAF : Memberi Maaf Lebih Utama Dalam Persoalan Pribadi

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah memberikan jawaban ketika ditanya tentang sikap yang lebih utama ketika menghadapi pihak yang menzholimi kita.

Beliau berfatwa,

إذا كانوا قد ظلموك وأحببت العفو عنهم فأنت مأجور ولك خير عظيم وفضل كبير؛ لأن الله جل وعلا يقول: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]، ويقول النبي ﷺ: ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزاً، ويقول جل وعلا: فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]، فأنت على خير عظيم فإذا ظلموك في غيبة أو مال أو سب أو نحو ذلك وعفوت عنهم فأنت مأجور جزاك الله خيراً

“Apabila sekelompok orang berbuat zholim kepadamu, sementara engkau berkeinginan memaafkan mereka, engkau akan memperoleh pahala. Engkau juga akan meraih kebaikan yang agung dan keutamaan yang besar..

Sebab, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]،

“Adapun sikap kalian memberi maaf itu lebih menerapkan ketakwaan..” (Al-Baqoroh: 237)

Demikian pula Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزا

“Allah tidak akan mengaruniai seorang hamba yang memberi maaf selain tambahan kemuliaan..”

Begitu pula firman Allah Jalla wa ‘Alaa,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]

“Barang siapa memberi maaf dan berbuat baik, pahalanya Allah yang menanggungnya..” (Asy-Syura: 40)

Jadi, engkau memperoleh kebaikan yang besar..

Oleh karena itu, apabila mereka berbuat zholim kepadamu dalam bentuk gunjingan, harta, cercaan, atau semisalnya, kemudian engkau (justru) memaafkan mereka, sungguh engkau akan memperoleh pahala dan balasan kebaikan dari Allah..”

ref :
https://binbaz.org.sa/fatwas/12681/فضاىل-العفو-وطريقته

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Nasihat Mulia

Asy Sya’bi rohimahullah mengatakan bahwa Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata..

“Wahai sekalian manusia, ambillah kalimat-kalimat ini dariku. Seandainya kalian menaiki binatang tunggangan hingga mencelakainya, kalian belum tentu mendapati yang semisalnya.

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدًا إِلاَّ رَبَّهُ، وَ يَخَافَنَّ إِلاَّ ذَنْبَهُ، وَ يَسْتَحِي إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَنْ يَتَعَلَّمَ، وَلاَيَسْتَحِي إِذَا سُئِلَ عَمَّا يَعْلَمُ أَنْ يَقُولَ: لا أَعْلَمُ؛ وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، وَ خَيْرَ فِي الْجَسَدِ رَأْسَ لَهُ

Hendaknya seorang hamba benar-benar..

● tidak berharap selain kepada Robbnya,

● tidak kawatir selain terhadap dosanya,

● tidak malu untuk belajar ketika tidak tahu,

● tidak malu untuk menjawab, ‘Aku tidak tahu..’ ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, dan

Ketahuilah, kedudukan sabar bagi iman layaknya kepala bagi jasad tidak ada kebaikan pada jasad yang tidak berkepala..”

[ Shifatush Shofwah – 121 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Masalah

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridho dan ihtisaab (mengharapkan pahala dari-Nya)..

Kalaupun sikap ridho tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisaab. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut..

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridho dan tidak pula ihtisaab. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan)..

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya,

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan..”

(Qs an-Nisaa/4:104)

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala..”

[ Ighootsatul Lahfaan – hal 421-422 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Nasihat Dalam Mencari Istri

Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah berkata,

“Jika seorang pria melamar seorang wanita, hendaklah menanyakan kecantikannya lebih dahulu..

Jika wajahnya cantik baru dia tanyakan tentang agamanya, kalau agamanya baik hendaklah menikahinya, kalau tidak baik maka dia menolak karena sebab agamanya..

Dan jangan sampai dia menanyakan agamanya terlebih dahulu, kalau baik baru menanyakan kecantikannya, lalu kalau ternyata dia tidak cantik dia tolak, sehingga menolaknya karena si wanita tidak cantik, bukan disebabkan karena agamanya yang kurang baik..”

(Al Inshaaf – 12/206)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kuatnya Hidayah Seiring Dengan Kuatnya Iman Seseorang

Allah Ta’ala berfirman,

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

”maka Allah memberi hidayah orang orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Dan Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus..” (Al Baqoroh: 213)

Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

“Diantara faidah ayat ini adalah bahwa keimanan seorang hamba bila semakin kuat maka ia lebih dekat kepada kebenaran. Karena Allah berfirman yang artinya, “maka Allah memberi hidayah orang orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..”

Karena Allah menggantungkan hidayah kepada keimanan. Maka hidayah itu semakin kuat dengan kuatnya iman dan semakin lemah dengan lemahnya iman.

Oleh karena itu para shahabat lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan generasi setelahnya; baik dalam tafsir, hukum, dan akidah. Karena tidak diragukan lagi bahwa para shahabat adalah generasi yang paling kuat imannya.

Rosul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sebaik baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya. Kemudian setelahnya..”

Oleh karena itu madzhab imam Ahmad adalah bahwa pendapat shahabat adalah hujjah selama tidak bertabrakan dengan nash..”

(Tafsir Syaikh ‘Utsaimin 3/35)

Semakin hati dipenuhi keimanan kepada Allah..
Maka ia semakin mendapat hidayah kepada jalan kebenaran..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Dua Sumber Segala Fitnah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وأصل كل فتنة إنما هو من تقديم الرأي على الشرع، والهوى على العقل

“Sumber segala fitnah (keburukan) adalah..

1.  Mendahulukan akal pikiran daripada syariat,

2.  Mendahulukan hawa nafsu daripada akal sehat.

فالأول:أصل فتنة الشبهة، والثاني: أصل فتنة الشهوة.

Adapun yang pertama adalah sumber fitnah syubhat (kerancuan berpikir dalam agama) dan yang kedua adalah sumber fitnah syahwat.

ففتنة الشبهات تدفع باليقين، وفتنة الشهوات تدفع بالصبر، ولذلك جعل سبحانه إمامة الدين منوطة بهذين الأمرين،

Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan (ilmu), sedangkan fitnah syahwat bisa ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kepemimpinan dalam agama ini di atas dua hal ini.

Allah berfirman,

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin- pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka sabar dan yakin dengan ayat-ayat kami..’

فدل علي أنه بالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين.

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, akan diperoleh kepemimpinan dalam agama ini..”

[ Ighotsatul-Lahafan 1/167 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL