Category Archives: Mutiara Salaf

Sesuai Sikapnya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مَنْ عامل خلق اللّٰه بصفة عامله اللّه تعالى بتلك الصّفة بعينها في الدُّنيا والآخرة فالله تعالى لعبده على حسب ما يكون العبد لخلقه

“Siapa yang bermu’amalah dengan makhuk Allah dengan suatu sifat, maka Allah pun memperlakukannya dengan sifat tersebut di dunia dan akherat. Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan perlakuan hamba kepada makhluk-Nya..”

(Al Wabil Ash Shoyyib hal 35)

Orang yang menyayangi makhluk Allah maka Allah pun sayang kepada-Nya..

Orang yang menutupi aib saudaranya maka Allah tutupi aibnya di dunia dan akherat..

Orang yang selalu membantu orang lain maka Allah pun selalu membantunya..

Orang yang suka memaafkan kesalahan saudaranya maka Allah pun memaafkan kesalahannya..

Demikianlah Allah memperlakukan hamba hamba-Nya..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kapankah Kalimat Mulia Ini Diucapkan..?

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan tentang kalimat mulia “Hasbunallaah wa Ni’mal Wakiil”

Kapankah kalimat ini diucapkan..? Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)

Kebanyakan orang mengira bahwa kalimat ini hanya diucapkan saat menghadapi kesulitan, musibah, atau kesusahan. Memang benar, ini adalah salah satu kondisi di mana kalimat tersebut diucapkan.

Namun, petunjuk dan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa kalimat ini diucapkan (pada 2 kondisi) :

1. saat memohon/mendapatkan kenikmatan, dan
2. saat menolak keburukan/bencana

📌 Kalimat ini diucapkan dalam kondisi mendatangkan kenikmatan, dan juga diucapkan dalam kondisi menolak keburukan serta bencana.

Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

‘Jika mereka sungguh-sungguh ridho dengan apa yang diberikan Allah dan Rosul-Nya kepada mereka, dan berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami’, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rosul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah..’ (Qs. At-Taubah: 59)

Ini dalam kondisi apa..? Ini adalah kondisi memohon/mendapatkan kenikmatan

Sebagaimana kalimat ini juga diucapkan dalam kondisi menolak bencana/keburukan, yaitu pada firman Allah :

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

‘(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’ maka perkataan itu justru menambah iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung..’ (Qs. Aali ‘Imran: 173)

========

KESIMPULAN

Kalimat “Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil” tidak hanya dibaca ketika tertimpa musibah atau kezholiman, tetapi juga sangat dianjurkan dibaca saat mengharapkan karunia, rezeki, dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Meraih Keberkahan Hidup

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Demi Allah, keberkahan hidup tidak dapat diraih dengan perkara yang melebihi dua hal ini :

– membaca Alqur’an sebanyak-banyaknya, dan
– bersungguh-sungguh dalam berbakti kepada kedua orangtua

Barangsiapa yang senantiasa menjaga untuk membaca Alqur’an setiap hari dan berbakti kepada kedua orangtuanya, maka ia akan senantiasa mendatangkan keberkahan, dan Allah ‘Azza wa Jalla akan mengaruniakan keberkahan kepadanya.

Banyak diantara kita hari ini mengeluhkan kurangnya keberkahan dalam waktu, mereka berkata, ‘Aku tidak bisa menyelesaikan apa pun..’

Jika engkau menginginkannya (keberkahan hidup), solusinya sudah ada :
– bacalah Alqur’an setiap hari, dan
– berupayalah keras untuk berbakti kepada kedua orangtuamu..”

Ketika Duduk Bersama Ayahmu Dan Ibumu

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Di antara bentuk bakti dan adab (kepada orangtua) adalah apabila engkau sedang duduk bersama ayahmu, engkau memandangnya dengan pandangan seseorang yang beradab.

Dan hendaknya engkau tidak memalingkan pandanganmu darinya, baik ke arah kanan maupun ke arah kiri.

Namun hari ini, sebagian dari buruknya adab kita adalah salah seorang dari kita pergi menemui ayahnya atau ibunya, kemudian setelah mengucapkan salam kepada mereka, ia langsung memegang telepon genggamnya (HP).

Ia membaca dan mengetik di HP-nya. Ia duduk selama satu jam, namun ia sibuk dengan HP-nya, bukan sibuk dengan ayahnya. Kemudian ia mengklaim dan berkata, ‘Demi Allah, aku tadi sudah mengunjungi ayahku selama satu jam..’

Engkau sebenarnya hanya mengunjungi ayahmu sesaat, lalu setelah itu engkau sibuk memikirkan hal lain (selain ayahnya). Hal ini sama sekali tidak termasuk ke dalam adab..”

====
ARTIKEL TERKAIT
1. Bagi Anda Yang Masih Memiliki Ayah

2. Salah Satu Bentuk Bakti Kepada Ayah Meskipun Ia Sudah Tiada

3. Ambillah Pelajaran Dari Perjalanan Hidup Ini

Nasihat Bagi Para Wanita Muslimah

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Dan di antara perkara yang benar-benar aku peringatkan dengan PERINGATAN YANG KERAS yaitu :

📌 SIKAP BERMUDAH-MUDAHAN (MEREMEHKAN) ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM SALING BERKOMUNIKASI (MENGOBROL) MELALUI MEDIA-MEDIA (SOSIAL) INI.

Karena sesungguhnya, hal tersebut termasuk di antara jerat jerat syetan yang paling besar pada hari ini, dan bagian dari langkah-langkah syetan.

Dan aku memandang bahwa realita yang ada memaksa kita untuk mengatakan: sesungguhnya tidak boleh bagi seorang laki-laki berbicara dengan seorang perempuan di media media ini .. tidak boleh pula bagi perempuan berbicara dengan laki laki di media media tersebut, kecuali dalam kondisi darurat.

📌 BAHKAN, JIKA SEORANG PEREMPUAN MEMILIKI PERTANYAAN UNTUK DIAJUKAN KEPADA SEORANG SYAIKH (GURU/ULAMA), aku memandang seyogianya ia memberitahu suaminya atau memberitahu saudara laki-lakinya agar dialah yang berbicara dengan Syaikh tersebut.

Kecuali jika memang dalam kondisi darurat dan pertanyaannya adalah jenis perkara yang tidak bisa ia perlihatkan kepada orang lain (laki-laki kerabatnya) atau yang semisalnya, itu pun harus dengan sikap kehati-hatian yang sangat tinggi.

Karena realitanya, wahai saudara-saudaraku, hal ini telah menjadi jerat perangkap, bahkan bagi sebagian orang-orang yang sholeh.

Percakapan dimulai dengan saling menasihati, mengingatkan kepada Allah,
– wahai ukhti (saudariku) bertakwalah kepada Allah
– wahai ukhti bertaubatlah kepada Allah

namun setelah itu si perempuan mengirimkan emotikon bunga mawar.

Lalu setelah beberapa waktu, barangkali si laki-laki berganti mengirimkan emotikon bunga mawar. Akhirnya syetan pun berhasil menjerat keduanya.

📌 MAKA JANGANLAH SESEORANG TERPEDAYA DENGAN KEBAIKAN YANG ADA PADA DIRINYA (MERASA AMAN DARI FITNAH), melainkan sudah sepantasnya ia menjauhkan diri dari segala sarana dan pintu-pintu (yang dapat mengantarkan pada keburukan).”

Bersegera Untuk Hadir Awal Pada Sholat Jum’at

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Apabila hari Jum’at tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat setiap orang yang datang dari yang pertama, lalu berikutnya dan berikutnya. Hingga ketika Imam telah naik di mimbarnya para malaikat pun menutup catatan-catatannya, lalu mereka ikut mendengarkan khutbah..”

(HR. Al Bukhari 3211)

📌 Al Hafizh Ibnu Hajar rohimahullah menjelaskan maksud hadis di atas,

“Yang dimaksud malaikat menutup catatan ketika khotib naik mimbar adalah catatan berkaitan dengan keutamaan bersegera menuju Jum’atan, dan bukan catatan amal lainnya.

Sementara amal mendengarkan khutbah, melaksanakan sholat, dzikir, berdo’a, khusyu ketika ibadah atau semacamnya, semuanya dicatat oleh dua malaikat pencatat amal..”

(Fathul Bari, 2/367)

➡️ Maka pada sholat Jum’at, ada 3 malaikat yang mencatat amal manusia.

1/ Dua malaikat pencatat amal baik dan buruk, yang selalu menyertai manusia

2/ Malaikat yang berjaga di pintu masjid, mencatat setiap mereka yang datang sebelum khotib naik mimbar, sesuai urutannya.

Ketika seseorang datang terlambat dan khotib sudah naik mimbar, maka orang yang terlambat tsb tidak mendapatkan catatan jenis yang kedua, yaitu catatan dari malaikat yang berjaga di depan pintu masjid. Namun setiap amalnya tetap dicatat malaikat pencatat amal, wallaahu a’lam.

Agama Islam Berporos Pada Tiga Hadits

Syaikh Prof Dr. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Agama (Islam) itu berporos pada tiga hadits, yaitu :

1. Hadits Umar rodhiyallahu ‘anhu :

“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya..”

2. Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha :

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak..”

3. Hadis An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu :

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar)..”

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Agama Islam itu intinya adalah melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan menjaga diri dari perkara yang samar (syubhat). Hal ini telah dijelaskan dalam hadis An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu.

Perkara tersebut tidak akan sempurna kecuali jika bentuk lahiriah dari amalan tersebut sesuai dengan sunnah (tuntunan Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam). Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Aisyah rodhiyallahu ‘anha.

Serta bagian batin dari manusia (hati) haruslah menginginkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ikhlas) melalui amalan tersebut. Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Umar rodhiyallahu ‘anhu : “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya..”

Enam Dzikir Yang Mudah Diamalkan Setiap Saat

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى berkata,

“Enam dzikir yang paling mulia setelah Kitabullah Subhaanahu wa Ta’ala. Alangkah mudahnya (untuk diamalkan) :

Subhanallaah (Maha Suci Allah)

Walhamdulillaah (Segala puji bagi Allah)

Walaa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah)

Wallaahu akbar (Allah Maha Besar)

Walaa hawla walaa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Wa shollallaahu ‘alaa Muhammad (Dan semoga Allah melimpahkan sholawat kepada Muhammad)

Alangkah sederhananya .. tidak membutuhkan usaha berat dan tidak ada hal yang bisa mengalihkan darinya.

Seseorang bisa mengucapkannya :
– saat berada di dalam mobil, atau
– bisa mengucapkannya ketika sedang menunggu sesuatu.

Dan kami mendapati sebagian dari masyaikh (guru) kami yang tidak pernah berhenti berdzikir, seperti Syaikh bin Baz rohimahullah.

Bahkan ketika beliau sedang mendengarkan pertanyaan, di sela-sela mendengarkan pertanyaan tersebut beliau tetap berzikir kepada Allah, “Astaghfirullaah .. Subhaanallaah..”

Dan barangkali sebagian dari kalian, jika pernah mendengarkan program Nuur ‘alaa ad-Darb bersama Syaikh bin Baz rohimahullah, akan menyadari hal ini.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang banyak berdzikir mengingat-Nya..”

Diantara Tanda Tanda Yang Harus Diperhatikan Dalam Memilih Teman

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman al-Ruhayli حفظه الله تعالى berkata,

“Jangan berteman dengan orang yang durhaka (kepada orangtuanya) .. jangan berteman dengan orang yang durhaka (kepada orangtuanya)

Seorang sahabat .. ketika dia berteman, dia menginginkan kebaikan (kesetiaan) dari sahabatnya, (namun) jika orang ini saja tidak berbakti kepada ibu dan ayahnya,
– bagaimana mungkin dia akan berbuat baik (setia) kepadamu..?
– bagaimana mungkin kebaikan akan datang kepadamu darinya..?

Oleh karena itu, wahai saudara saudara, di antara tanda tanda yang harus diperhatikan dalam memilih teman adalah bagaimana keadaan/sikap teman tersebut terhadap kedua orangtuanya.

Jika dia berbakti kepada kedua orangtuanya, maka pegang erat-eratlah (pertahankan) pertemanan dengannya. Karena sesungguhnya jika engkau membutuhkannya, engkau akan menemukannya (dia akan membantumu).

Adapun jika dia tidak berbakti kepada kedua orangtuanya, maka berhati-hatilah (waspadalah) terhadapnya, dan jangan jadikan dia sebagai teman dekat bagaimanapun kondisinya.

Karena sesungguhnya, barangsiapa yang tidak menunaikan hak kedua orangtuanya, maka dia tidak akan pernah menunaikan hak hak orang lain di antara manusia..”