Category Archives: Mutiara Salaf

Jangan Biarkan Dirimu Terhina

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Jika engkau mengetahui nilai dirimu yang sebenarnya, niscaya engkau tidak akan membiarkan dirimu terhina dengan melakukan maksiat.

Ketika Iblis enggan bersujud kepada ayahmu, Adam, ia (pada hakikatnya) enggan bersujud kepadamu .. lalu mengapa engkau justru berteman dengannya dan meninggalkan Kami..?

Jika memang ada cinta di dalam hatimu, niscaya pengaruhnya akan tampak pada anggota tubuhmu..”

(Al Fawa’id – 118)

Sunnah Yang Terlupakan : Sunnah Mengangkat Pandangan Ke Langit Saat Berdo’a Ketika Keluar Rumah

SUNNAH MENGANGKAT PANDANGAN KE LANGIT SAAT BERDO’A KETIKA KELUAR RUMAH

Dari Ummul Mukminin, Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Tidaklah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam keluar dari rumahku melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu berdo’a,

اللهم أعوذُبك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ أو أَزِلَّ
أو أُزَلَّ أوأَظْلِمَ أوأُظْلَمَ أو أَجْهَلَ أو يُجْهَلَ عَلَيَّ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
– AN ADHILLA AW UDHOLLA,
– AW AZILLA AW UZALLA,
– AW AZHLIMA AW UZHLAMA,
– AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu :
– dari tersesat atau disesatkan,
– dari tergelincir atau digelincirkan,
– dari menzholimi atau dizholimi,
– atau dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan bodoh..”

(Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Abi Dawud, No. 5094)

📌 Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah berkata,

“Pada awal hadits disebutkan: ‘Melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit..’

maksudnya adalah isyarat akan ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla, karena beliau sedang memohon dan berdo’a kepada Allah…”

Ini adalah salah satu do’a Rosulullah yang mulia shollallahu ‘alayhi wasallam saat keluar dari rumahnya.

Beliau membaca do’a yang agung ini sebagai permohonan keselamatan dari:
– Kesesatan
– Ketergelinciran (kesalahan)
– Kezholiman
– Kebodohan

📌 Kesimpulan: Disyariatkan untuk mengangkat pandangan ke langit saat mengucapkan do’a ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.

(Dikutip dari Kitab Syarah Sunan Abi Dawud karya Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah, Juz 578, hal. 8)

Konsisten Beribadah Setelah Ramadhan

📌 Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Salah satu tipu daya setan yang paling besar adalah membuat seseorang beribadah kepada Allah hanya di bulan Ramadhan saja, kemudian meninggalkan ketaatan setelahnya. Ini bukanlah kehambaan yang sejati, karena seorang hamba yang sejati adalah yang istiqomah (konsisten) di setiap waktu..”

(Al-Fawa’id)

📌 Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

“Amalan yang paling utama adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ramadhan mengajarkan kita disiplin, dan disiplin yang sebenarnya adalah melanjutkan amal ibadah setelah bulan tersebut berlalu..”

(Syarah Shohih Muslim)

📌 Al Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“Perintah untuk beribadah kepada Allah ‘sampai datang kepadamu keyakinan (kematian)’ (Al-Qur’an 15:99) bermakna bahwa seorang mukmin harus tetap konsisten dalam ibadahnya sepanjang hidupnya, bukan hanya di bulan Ramadhan saja..”

(Tafsir Ibnu Katsir)

📌 Al Imam Ath Thobari rohimahullah berkata,

“Perintah untuk ‘sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian)’ (Al-Qur’an 15:99) adalah indikasi yang jelas bahwa ibadah tidak terikat pada bulan tertentu, melainkan merupakan kewajiban seumur hidup..”

(Tafsir Ath-Thobari)

📌 Al Imam Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

“Orang-orang beriman adalah mereka yang bersiap untuk bertemu dengan Allah dan tidak meninggalkan ibadah setelah Ramadhan. Puasa, sholat, dan dzikir mereka terus berlanjut sepanjang hidup mereka..”

(Hilyatul Auliyaa’)

Jangan Menunda Taubat

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Segera bertaubat adalah kewajiban setelah melakukan dosa. Tidak diperbolehkan untuk menundanya. Kapan pun seseorang menundanya, maka ia telah melakukan dosa (lainnya) karena penundaan tersebut.

Dalam hal ini, ketika ia bertaubat dari dosa (itu sendiri), masih ada kewajiban taubat lainnya yang tersisa baginya .. yaitu ia harus bertaubat karena telah menunda taubatnya..!”

(Madaarijus Saalikin – 1/487-488)

● Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Orang yang suka menunda taubat itu seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon. Ia dapati pohon itu sudah kokoh dan sulit dicabut. Lalu ia berkata, ‘Aku tunda saja, tahun depan baru aku cabut..’

Padahal ia tahu, semakin lama pohon itu tumbuh (maka) akarnya semakin kuat, sedangkan fisiknya (kekuatannya sendiri) justru semakin melemah..”

(Tadzkirah al-Arib fii Tafsir al-Gholrib)

● Qotadah rohimahullah berkata,

“Ketahuilah bahwa setiap penundaan (dalam taubat) adalah satu langkah menjauh dari ampunan Allah. Dan siapa yang menunda taubat hingga nyawanya di kerongkongan, maka tidak ada lagi taubat baginya..”

(Tafsir At-Thobari – 8/95 – Tafsir An-Nisaa’ ayat 18)

Kendali Harimu Ada di Waktu Pagi

Terjemahan :

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohumallah berkata,

“Jadi, jika Allah memuliakanmu dan :
– engkau mendengar adzan Shubuh,
– lalu engkau mengucapkan seperti yang diucapkan (muadzin),
– berangkat ke Masjid lebih awal,
– berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
– melaksanakan sholat sunnah kemudian sholat wajib,
– lalu engkau membaca dzikir—dzikir pagi setelah sholatmu..

Tahukah engkau apa yang baru saja engkau lakukan..?

Engkau baru saja melakukan sesuatu yang sangat luar biasa..! Engkau kini telah memegang kendali penuh atas harimu dengan memanfaatkan waktu pagi hari ini.

Salah seorang ulama Salaf berkata, “Harimu itu seperti untamu. Jika engkau memegang bagian awalnya (kepalanya), maka bagian akhirnya akan mengikutinya..”

Sisa harimu akan tunduk padamu dalam kebaikan dan keberkahan.

Ibnul Qoyyim rohimahullah memiliki perkataan yang indah dan bagus. Beliau berkata,

“Awal siang (hari) adalah masa mudanya, dan akhir siang adalah masa tuanya. Dan barangsiapa yang tumbuh besar di atas sesuatu, maka ia akan menjadi tua di atas hal tersebut..”

Artinya, jika seseorang berdzikir di pagi hari, maka dzikir itu akan menyertainya di sisa harinya. Jika dia malas di pagi hari, kemalasan itu akan terus bersamanya sampai akhir hari. Namun, jika dia bersemangat, semangat itu akan terus bersamanya sampai akhir hari.

Pagi hari adalah kendali hari tersebut. Jika engkau berhasil mengendalikannya, maka seluruh harimu akan terkendali.

📌 Dengarkan cerita ini yang terdapat dalam Shohih Muslim:

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, sahabat yang mulia, didatangi oleh sekelompok sahabatnya di rumahnya pada pagi hari setelah sholat Shubuh. Ketika mereka masuk dan duduk di majelisnya, beliau sedang bertasbih.

Beliau bertanya, “Apakah matahari sudah terbit..?”

Mereka menjawab, “Belum..”

Maka beliau lanjut bertasbih. Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah matahari sudah terbit..?” Mereka menjawab, “Ya..”

Beliau kemudian berucap, “Segala puji bagi Allah, yang telah memaafkan kita pada hari kita ini dan tidak menghukum kita karena dosa-dosa kita..”

Kapan beliau mengucapkan ini..?

Tepat saat matahari baru saja terbit. Padahal harinya belum berakhir, beliau masih berada di awal hari, namun beliau sudah memuji Allah karena telah dimaafkan.

Apa yang bisa engkau pelajari dari sini..?

Bahwa barangsiapa yang memegang kendali di awal hari, maka seluruh harinya akan dimaafkan dan akan menjadi baik baginya. Inilah pemahaman para Sahabat rodhiyallahu ‘anhum.

Jika engkau menjaga awal harimu dengan dzikir, (maka) :

● Harimu akan menjadi baik sepenuhnya.

● Seluruh harimu akan berada dalam kendalimu.

● Dan engkau berada dalam perlindungan Allah.

Diantara Keutamaan Memperbanyak Sholawat Di Hari Jum’at

Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah berkata,

“Janganlah engkau jadikan hari Jum’atmu sama seperti hari-hari lainnya .. hanya sekedar waktu untuk tidur atau beristirahat fisik. Jadikan ia hari untuk ‘mencuci’ hatimu dengan sholawat.

Jika engkau merasa beban hidupmu berat dalam sepekan, maka ringankanlah ia di hari Jum’at dengan mengadukannya kepada Allah dan bersholawat kepada utusan-Nya. Sholawat itu melapangkan dada yang sempit..”

(Shuwar wa Khawaathir – 214)

*) bisa baca berulang ulang : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

Mata Yang Khianat

Allah Ta’ala berfirman,

﴾يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ﴿

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati..” (Qs. Ghoofir: 19)

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa menjelaskan,

“(Yaitu) seorang laki-laki yang sedang berada di tengah kumpulan orang banyak, lalu ada seorang wanita lewat di hadapan mereka.

Ia memperlihatkan kepada orang-orang itu bahwa ia menundukkan pandangannya dari melihat wanita tersebut.

Namun, ketika ia melihat mereka sedang lengah (tidak memperhatikan), ia pun mencuri pandang kepada wanita tersebut.

Jika ia takut mereka akan menyadarinya, ia kembali menundukkan pandangannya.

Padahal, Allah telah melihat di dalam hatinya bahwa ia berhasrat untuk bisa melihat aurat (bagian tubuh) wanita tersebut..!”

(Az-Zuhd – Hanad bin al-Sari No. 1428)

📌 Nasihat ini sangat mendalam, terutama dalam mengingatkan kita untuk menjaga kejujuran batin di masa di mana pandangan mata begitu mudah tergoda.

Beberapa poin renungan dari nasihat Ini:

MATA YANG KHIANAT: Istilah “khianat mata” merujuk pada pandangan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi saat manusia lain tidak melihat, padahal di depan orang lain seseorang tampak sholeh atau menjaga diri.

PENGAWASAN ALLAH (MUROQOBAH): Nasihat ini menekankan bahwa meski kita bisa menipu penilaian manusia, kita tidak pernah bisa menipu Allah yang mengetahui getaran hati dan niat yang paling dalam.

INTEGRITAS HATI: Kesholehan sejati bukan hanya apa yang tampak di depan publik, tetapi konsistensi antara tindakan lahiriah dengan apa yang disembunyikan dalam dada.

Ketika Allah Menghendaki Kebaikan Bagi Seorang Hamba

Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

“Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia mengilhaminya untuk memohon kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya .. dan Dia menjadikan (tindakan) meminta pertolongan serta memohon kepada-Nya itu sebagai sarana untuk mendapatkan kebaikan yang telah Dia tetapkan baginya, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Al-Khattab rodhiyallahu ‘anhu,

‘Aku tidak merisaukan apakah (do’aku) akan dikabulkan dan dikaruniai (oleh Allah) .. satu-satunya yang menjadi perhatianku adalah tentang (kemampuan) memanjatkan do’a itu sendiri. Karena kapan pun aku diilhami untuk memohon kepada-Nya, sesungguhnya pengabulan dan karunia-Nya akan datang menyertainya..’

(Iqtida’ Ash-Shirooth Al-Mustaqiim – 2/229)

📌 Beberapa poin penting dan hikmah mendalam dari nasihat Imam Ibnu Taimiyyah rohimahullah :

DO’A ADALAH TANDA KASIH SAYANG ALLAH

Ketika Anda digerakkan untuk berdo’a, itu adalah sinyal bahwa Allah sedang merencanakan kebaikan untuk Anda. Keinginan untuk meminta bukan datang dari diri sendiri, melainkan “ilham” atau petunjuk langsung dari Allah.

IBADAH DO’A SEBAGAI “WASILAH” (SARANA)

Allah telah menetapkan takdir kebaikan bagi hamba-Nya, namun Dia menjadikan do’a sebagai kunci atau sebab (perantara) untuk membuka pintu takdir baik tersebut.

FOKUS PADA PROSES BERDO’A, BUKAN HASIL

Nasihat Umar bin Al-Khattab rodhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa tugas seorang hamba hanyalah meminta. Kekhawatiran kita seharusnya bukan pada “apakah Allah akan mengabulkan..?”, melainkan pada “apakah saya masih diberikan hidayah untuk mau meminta..?”.

Akhlak Yang Baik

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik .. dan sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata kotor lagi kasar..”

(HR. At Tirmidzi no. 2002 – Ash Shohihah no. 876)

📌 Berikut adalah penjelasan beberapa Ulama -rohimahumullah- terkait kriteria akhlak yang baik.

● Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata,

“Engkau bersabar atas apa yang datang dari manusia (gangguan mereka) dan engkau tidak marah kepada mereka..” (Al-Adab asy-Syar’iyyah – 2/204)

● Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

“Jika engkau ingin ditemani oleh seseorang, maka carilah orang yang memiliki akhlak baik. Karena orang yang berakhlak baik tidak akan melakukan kecuali kebaikan.

Jika engkau berbuat buruk padanya, ia tetap bersabar; dan jika engkau berbuat baik padanya, ia akan bersyukur..” (Hilyatul Auliyaa’ – 8/96)

● Abdullah bin Al Mubarak rohimahullah berkata,

“Akhlak yang baik adalah wajah yang senantiasa ceria, mengerahkan kebaikan (harta/tenaga), dan menahan diri dari mengganggu orang lain..” (Jamii’ul ‘Uluum wal Hikam – 1/454)

📌 Secara umum, para ulama salaf merumuskan akhlak mulia ke dalam tiga pilar utama:

● Ringan tangan dalam membantu sesama,

● Tidak menyakiti orang lain (baik lisan maupun perbuatan),

● Sabar saat diganggu/disakiti orang lain, dan menunjukkan wajah yang ramah dan menyenangkan saat bertemu.

Perubahan Hati

​‘Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Iman bermula sebagai sebuah bintik putih kecil di dalam hati. Semakin bertambah iman seseorang, maka semakin putihlah hatinya. 

Namun, semakin bertambah kemunafikan seseorang, maka semakin hitam pula hatinya hingga ketika orang tersebut telah menjadi munafik sepenuhnya, hatinya menjadi (benar-benar) hitam..”

(Majmu’ al-Fatawa karya Ibnu Taimiyyah – 7/191)