Category Archives: Mutiara Salaf

Seuntai Nasihat

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

‎تدبير الحق عز وجل لك خير من تدبيرك ، وقد يمنعك ما تهوىٰ ابتلاء ، ليبلو صبرك ، فأره الصبر الجميل ، تر عن قرب ما يسر

“Rencana Allah padamu lebih baik dari rencanamu.. terkadang Allah menghalangi rencanamu untuk menguji kesabaranmu..

maka perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah. Tak lama kamu akan melihat sesuatu yang menggembirakanmu..”

(Shaidul Khathir 1/205)

Kita hanya bisa berencana..
Tapi Allah lah yang menentukan..

Maka janganlah terlalu berharap kepada rencana kita..
Tapi berharaplah yang terbaik di sisi-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kurang Dari 6 Bulan Lagi Insyaa Allah

Sebagian ulama salaf mengatakan,

”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan..

Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya..”

[ Lathooiful Ma’arif – 232 ]

Alhamdulillah, malam rabu ini kita masuk malam ke 2 bulan Robii’ul Awwal, yaitu bulan ke 3 Hijriyah.

artinya, kurang dari 6 bulan lagi insyaa Allah bulan Romadhon 1444 akan tiba.

bagi yang ada hutang puasa Romadhon 1443, maka mulailah segera mengatur dan melunasi hutang tsb sebelum datangnya Romadhon 1444.

semoga Allah mempertemukan kembali kita dengan bulan Romadhon 1444.. aamiiin
.

Dua Macam Ilmu

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

العلم علمان:
‏علم في القلب، وعلم على اللسان
‏فعلم القلب هو العلم النافع
‏وعلم اللسان حجة الله على عباده

“Ilmu itu ada dua macam:
– ilmu yang masuk ke hati, dan
– ilmu yang sebatas di lisan..

Adapun ilmu yang masuk ke hati adalah ilmu yang bermanfaat, dan adapun ilmu yang sebatas di lisan maka itu adalah hujjah Allah atas hamba-hambaNya..”

(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 13/235)

Ilmu yang masuk ke hati dan menimbulkan rasa takut kepada Allah..
Lalu menimbulkan amal sholih dan ketakwaan..
Itulah ilmu yang bermanfaat..

Adapun ilmu yang sebatas di lisan..
Hanya pandai menyampaikan dan membawakan banyak riwayat..
Namun tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah..
Tidak pula menimbulkan amal sholih..
Adalah ilmu yang tidak bermanfaat dan menjadi kebinasaan untuknya kelak..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Senantiasa Berniat Kepada Kebaikan

Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar menulis surat kepada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, rohimahumullah,

*”فإن نويت الحقّ وأردته أعانك الله عليه، وأتاح لك عمالاً، وأتاك بهم من حيث لاتحتسب، فإن عون الله على قدر النيّة، فمن تمت نيته في الخير تم عون الله له، ومن قصرت نيته قصر من العون بقدر ما قصر منه. والسلام”*

“Apabila kamu berniat kebenaran dan menginginkannya, maka Allah akan membantumu kepada kebenaran tsb dan memberimu orang-orang yang akan membantumu kepada kebenaran tsb, karena bantuan Allah itu sesuai niatmu..

Siapa yang berniat kepada kebaikan maka Allah akan membantunya, dan siapa yang kurang niatnya kepada kebaikan maka berkurang juga bantuan Allah sesuai kekurangan niatnya..”

[ Az Zuhd Lil Ahmad bin Hanbal ]

Menjaga niat adalah perkara yang tak mudah..
Namun pengaruhnya amat besar dalam kehidupan..

Seseorang akan berbuat sesuai dengan niatnya..

Siapa yang niatnya lurus maka akan menimbulkan perbuatan yang baik..
Sebaliknya perbuatan-perbuatan yang buruk, adalah akibat dari niat-niat yang buruk..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Meratapi Dunia

Berkata Ibnu Muflih Al-Hambali -semoga Allah merahmatinya-dalam kitabnya al-Aadab As-Syariyyah :

من عجيب
ما رأيت ونقدت من أحوال النَّاس : كثرة ما ناحوا على خراب الدِّيار ، وموت الأقارب والأسلاف ، والتَّحسُّر على قلة الأرزاق ، وذمِّ الزَّمان وأهله ، وذكر نكد العيش فيه ، والحديث عن غلاء اﻷسعار ، وجور الحكام ، وقد رأوا من انهدام الإسلام ، والبعد عن المساجد ، وموت السُّنن ، وتفشي البدع ، وارتكاب المعاصي، فلا أجد منهم من ناح على دينه ، ولا بكى على تقصيره ، ولا آسى على فائت دهره ، وما أرى لذلك سببا إلاَّ قلَّة مبالاتهم بدين اﻹسلام ، وعظم الدُّنيا في عيونهم».
باالله_عليكم_أليس_هذا_
حال_أهل_زماننا.
• المصدر: [الآداب الشَّرعية) (240/3)

“Hal aneh yang kulihat dan ku kritisi dari kondisi manusia sekarang, yaitu banyaknya orang-orang yang meratapi petaka yang menghancurkan negeri-negeri..
kematian yang melanda kaum kerabat dan nenek moyang..
Keluhan rezeki yang merosot..
Menghujat zaman dan orang-orang yang hidup padanya..
Kegalauan karena susahnya penghidupan..
Perbincangan seputar naiknya harga barang kebutuhan..
Upatan atas kezaliman penguasa..

Tapi tak kulihat adanya orang yang meratap atas runtuhnya Islam..
Jauhnya manusia dari masjid-masjid..
Matinya sunnah-sunnah Nabi..
Tersebarnya berbagai bid’ah..
Merajalelanya kemaksiatan..

Tak kutemukan orang yang meratapi perkara agamanya yang hilang..
Menangisi diri atas kemalasannya beramal..
Merasa menyesal atas amalan-amalan yang terluput..
Habis digilas roda zaman..

Kusimpulkan bahwa itu terjadi karena tidak perdulinya mereka terhadap Islam..
Dan karena besarnya dunia di mata mereka..”

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Akibat Beban Dosa

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

وإذا ثَقُل الظهر بالأوزار منع القلب من السير إلى الله، والجوارح من النهوض في طاعته، وكيف يقطع مسافة السفر مُثْقل بالحمل على ظهره؟! وكيف ينهض إلى الله قلب قد أثقلته الأوزار؟! فلو وضعت عنه أوزاره لنهض وطار شوقا إلى ربه، ولانقلب عسره یسرا.

“Punggung yang berat dengan menanggung dosa, menghalangi perjalanan hati menuju Allah, dan membebani badan untuk mentaati-Nya..

Orang yang membawa beban yang amat berat bagaimana mungkin dapat menyelesaikan perjalanannya..?!

Jika ia meletakkan beban-beban dosa dari dirinya, tentu hatipun akan terbang penuh rindu kepada Rabbnya. Dan kesulitanpun berubah menjadi ringan..” (Bada’i Tafsir 3/223)

Saat hati berat kepada ketaatan..
Itu akibat ia menanggung beban dosa..
Sehingga membuat langkahnya tertatih..
Bahkan terhenti tak mampu melanjutkan perjalanan..

Demikianlah kelak di hari akherat..
Ia akan membawa dosa dosanya itu di punggungnya..

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu..!” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu..” (Al-An’am – 31)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Sabar Sebentar Hingga Sampai Kebahagiaan Yang Abadi

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

ولا بد للمؤمن من صبر قليل حتى يصل به إلى راحة طويلة فإن جزع ولم يصبر فهو كما قال ابن المبارك من صبر فما أقل ما يصبر ومن جزع فما أقل ما يتمتع

“Seorang mukmin haruslah bersabar sebentar, hingga sampai ke kedamaian yang panjang..

Kalau dia guncang dan tidak sabar, maka sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Mubarok, “Siapa yang sabar, maka betapa pendeknya masa kesabaran itu.. namun siapa yang guncang, maka betapa sedikitnya dia menikmatinya (dia senantiasa merasa kesusahan, dan ketidaksabarannya itu tidak membuat hidupnya ringan, justru semakin tambah berat)..”

[ Bayan Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala Ilmil Kholaf – 97 ]

Taubat Secara Umum

Taubat tidak harus untuk dosa tertentu, bisa juga untuk dosa-dosa secara umum.

=====

Syeikhul Islam -rohimahullah- mengatakan:

والناس في غالب أحوالهم لا يتوبون توبة عامة مع حاجتهم إلى ذلك،
– فإن التوبة واجبة على كل عبد في كل حال؛
– لأنه دائمًا يظهر له ما فرط فيه من ترك مأمور،
– أو ما اعتدى فيه من فعل محظور، فعليه أن يتوب دائمًا.

“Mayoritas keadaan manusia tidak bertaubat dengan taubat yang umum (untuk semua dosanya), padahal mereka sangat membutuhkan taubat ywng demikian..

– Karena taubat itu diwajibkan kepada seluruh hamba di semua keadaan.
– Karena selalu terjadi pada dirinya; tindakan melalaikan apa yang diperintahkan kepadanya.
– atau tindakan melakukan kezaliman dengan melakukan sesuatu yang diharamkan padanya..

Oleh karenya, sudah seharusnya ia selalu bertaubat kepada-Nya..”

[Majmu’ Fatawa 6/175]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sungguh-Sungguh Waktu Muda.. Tua Memetik Buah

Al-Qurthubiy rohimahullah berkata :

إن الإنسان إذا عمّر في الدنيا و هرم لفي نقص و ضعف و تراجع، إلا المؤمنين، فإنهم تكتب لهم أجورهم التي كانوا يعملونها في حال شبابهم

“Sesungguhnya manusia itu apabila diberi umur panjang, dan menjadi tua renta, sungguh (pada hakikatnya) ia dalam keadaan berkurang, kelemahan, dan dalam kemunduran, kecuali orang-orang yang beriman, dicatat untuk mereka pahala mereka, dari amalan yang mereka lakukan dahulu di masa muda..”

(Al-Jami’ li-ahkamil-Qur’an: 20/180).

Waktu berjalan dan berlalu terus tidak akan pernah menunggu kita, orang yang paling bahagia adalah yang mengisi waktunya dengan mentauhidkan Allah, dengan ibadah dan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat..

Jangan tertipu dengan angan-angan, dan ungkapan “bersenang-senang dengan maksiat mumpung masih muda, tua tinggal bertaubat..”

Justru yang harus kita ingat adalah isilah waktu kita dengan hal-hal yang mendatangkan ridho Allah ta’ala, dan ketika tua renta tinggal memetik buah-buah pahala kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Akhlak Yang Baik – 3

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Wajah yang berseri-seri dapat membuat orang menjadi senang, dapat merekatkan kasih sayang dan dapat pula menjadikan dirimu dan orang yang kamu jumpai menjadi berlapang dada..

Tetapi jika engkau bermuka masam, maka orang lain akan menjauhimu, tidak merasa nyaman duduk bersamamu, apalagi untuk berbincang-bincang denganmu..

Orang yang tertimpa penyakit berbahaya, yaitu depresi (tekanan jiwa), dapat sembuh dengan resep yang sangat ampuh, yaitu berlapang dada dan wajah yang berseri-seri..

Oleh karena itu para dokter menasehati orang-orang yang tertimpa penyakit depresi untuk menghindari hal-hal yang membuatnya marah atau emosi, karena hal tersebut akan memperparah penyakitnya..

Adapun lapang dada dan wajah yang berseri-seri dapat menghilangkan penyakit tersebut, sehingga ia akan dicintai dan dihormati oleh orang lain..”

(Makarimul Akhlaq – hal: 29-30)