Category Archives: Mutiara Salaf

Rasa Harap Yang Sebenarnya

Al Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 H) rahimahullahu Ta’ala berkata,

فمن كان رجاؤه هاديا له إلى الطاعة و زاجرا له عن المعصية فهو رجاء صحيح و من كانت بطالته رجاء و رجاؤه بطالة و تفريطا فهو المغرور.

Siapa saja yang rasa harapnya membimbingnya untuk berbuat ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan, maka ini adalah bentuk rasa harap yang benar.

Namun siapa saja yang kemaksiatannya sebagai harapan dan harapannya itu menyebabkan ia berani untuk berbuat dosa serta menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal, maka dia adalah orang yang tertipu.

و مما ينبغى أن يعلم أن من رجا شيئا استلزم رجاؤه ثلاتة أمور: أحدها محبة ما يرجوه الثانى خوفه من فواته الثالث سعيه فى تحصيله بحسب الإمكان.

Termasuk perkara yang semestinya disadari, bahwa siapa yang berharap akan sesuatu, mesti di dalamnya ada tiga perkara :

1. Mencintai yang dia harapkan.

2. Khawatir hilangnya sesuatu yang dia harapkan.

3. Berusaha untuk menggapai yang dia harapkan semaksimal mungkin.

و أما رجاء لا يقارنه شيء من ذلك فهو من باب الأمانى و الرجاء شيء و الأمانى شيء آخر فكل راج خائف.

Adapun rasa harap yang tidak diiringi oleh salah satu dari perkara ini, maka itu hanyalah adalah bentuk angan-angan belaka.

Rasa harap adalah sesuatu sedangkan angan-angan adalah sesuatu yang lain. Dan setiap orang yang berharap, pasti dia akan khawatir.

(Al Jawaabul Kafi – 63-64)

Bekal Berharga Bagi Manusia

Ibnul Jauzi (w. 597 H) rohimahullahu Ta’ala berkata,

فَإِنِّي رَأَيْتُ الْعُمْرَ بِضَاعَةً لِلآدَمِيِّ، فَعَجِبْتُ مِنْ تَفْرِيطِ النَّاسِ فِيهِ، كَأَنَّهُمْ مَا عَلِمُوا أَنَّ الدُّنْيَا مَيْدَانُ شِقَاقٍ، وَأَنَّ غَايَةَ الْعُمْرِ الْغَايَةُ، إِلا أَنَّ التَّفَاضُلَ فِي السِّبَاقِ عَلَى مِقْدَارِ الْهَمِّ، وَتَفَاوُتَ الْهِمَمِ عَلَى قَدْرِ الإِيمَانِ بِالآخِرَةِ، فَمَنْ صَدَقَ يَقِينُهُ جَدَّ، وَمَنْ تَيَقَّنَ طُولَ الطَّرِيقِ اسْتَعَدَّ، وَمَنْ قَلَّتْ مَعْرِفَتُهُ تَثَبَّطَ، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْمَقْصُودَ تَخَبَّطَ.

Sesungguhnya aku melihat bahwa umur merupakan bekal berharga bagi manusia.

Maka dari itu aku heran melihat sikap manusia yang menelantarkannya, seakan-akan mereka tidak mengerti bahwa dunia merupakan medan yang sulit, dan maksud utama dari umur adalah tujuan akhir.

Hanya saja manusia bertingkat-tingkat dalam berlomba (meraih kebahagiaan akhirat) sesuai kadar niatnya, dan semangat yang berbeda sesuai kadar keimanan kepada hari akhir.

Maka :
– siapa yang jujur keyakinannya, dia akan bersungguh-sungguh, dan
– siapa yang menyakini akan perjalanan yang panjang, dia pasti melakukan persiapan, dan
– siapa yang pengetahuannya sedikit maka dia akan lambat, dan
– siapa yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, maka tidak akan terarah jalan hidupnya.

(Hifzhul ‘Umur – Ibnul Jauzi : 30)

Diantara Keutamaan Hari Jum’at

● Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

فـيوم الجمـعة يـوم عـبادة ، وهـو فـي الأيـام كشـهر رمضـان فــي الشـهور ، وسـاعة الإجـابة فيـه كليلـة الـقدر في رمـضان

“Hari Jum’at adalah hari ibadah , dia dibandingkan hari-hari yang lain seperti bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan yang lainnya dan waktu pengabulan do’a padanya seperti malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan..”

(Zadul Ma’ad – 1/398)

● Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhahullahu Ta’ala berkata,

يـوم الجمـعة فيـه فضـل عظيـم :
فهـو سـيد اﻷيـام وهـو عيـد اﻷسبـوع .وقـد اختـاره الله لهـذه اﻷمـة . وأضـل عـنه مـن كـان قـبلها مـنن اﻷمـم : فلليـهود يـوم السـبت .وللنـصارى يـوم الأحـد .فـيوم الجمـعة هـو أفـضل اﻷيـام .

Hari Jum’at memiliki keutamaan yang agung yaitu,

1. Merupakan hari yang paling mulia
2. Hari raya dalam sepekan
3. Allah Ta’ala memilihnya untuk umat Islam ini dan telah dipalingkan dari hari tersebut umat yang sebelumnya, yakni hari raya kaum Yahudi pada hari Sabtu dan kaum Nasrani pada hari Ahad. Hari Jum’at adalah hari yang paling utama.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خيرُ يومٍ طلعت عليه الشَّمسُ ، يومُ الجمعةِ . فيه خُلِق آدمُ . وفيه أُدخل الجنَّةَ . وفيه أُخرج منها . ولا تقومُ السَّاعةُ إلَّا في يومِ الجمعةِ

“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at..” (HR. Muslim nomor : 854)

(Tashilul Ilmam – 1/hal,501)

Introspeksi Sebelum Tidur Malam

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

ومن أنفعها أن يجلس الرجل عندما يريد النوم لله ساعة يحاسب نفسه فيها على ما خسره وربحه في يومه ثم يجدد له توبة نصوحا بينه وبين الله فينام على تلك التوبة ويعزم على أن لا يعاود الذنب إذا استيقظ ويفعل هذا كل ليلة فإن مات من ليلته مات على توبة وإن استيقظ استيقظ مستقبلا للعمل مسرورا بتأخير أجله حتى يستقبل ربه ويستدرك ما فاته وليس للعبد انفع من هذه النومة ولا سيما إذا عقب ذلك بذكر الله واستعمال السنن التي وردت عن رسول الله عند النوم

Diantara amalan paling bermanfaat adalah seseorang duduk sesaat ketika ia hendak tidur untuk introspeksi diri, apa saja kerugian dan keuntungan yang ia dapat pada siang harinya. Sehingga dia bisa memperbaharui taubat yang jujur antara dirinya dengan Allah.

Kemudian dia tidur dalam keadaan telah bertaubat .. dan hendaknya dia bertekad untuk tidak mengulangi dosanya kembali setelah ia bangun tidur.

Hendaknya amalan ini dikerjakan setiap malam, karena seandainya dia meninggal pada malam itu, maka dia meninggal dalam keadaan bertaubat.

Jika terbangun dari tidurnya, maka dia bangun dalam keadaan semangat untuk beramal dan bergembira karena umurnya masih tersisa, sehingga ketika ia berjumpa dengan Robbnya, ia pun dapat mengejar kebaikan-kebaikan yang terluput dari dirinya.

Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hamba dari tidur yang seperti ini. Terlebih jika hal itu diiringi dengan dzikir kepada Allah (sebelum tidur) dan mengerjakan amalan-amalan sunnah sebelum tidur yang disebutkan dari Rosulullah sholallahu ‘alaihi wasallam.

(Ar Ruuh – 79)

=======
MENGAPA ADA BANYAK DZIKIR SEBELUM TIDUR..?

simak video penjelasan ringkasnya dan silahkan download beberapa poster dzikir dan do’a sebelum tidur dalam artikel berikut ini :

https://bbg-alilmu.com/archives/39314

Perbedaan Pergaulan Antara Mukmin Dan Munafik

Seorang ahli hikmah berkata,

المؤمن من يعاشرك بالمعروف ويدلك على صلاح دينك ودنياك. والمنافق من يعاشرك بالمماذعة ويدلك على ما تشتهيه. والمعصوم من فرق بين الحالين.

Seorang mukmin adalah yang :
– bergaul denganmu dengan cara yang baik,
– menunjukimu kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Sedangkan orang munafik adalah yang :
– bergaul denganmu dengan (pujian palsu dan dusta),
– menunjukimu pada apa yang engkau inginkan.

Dan orang yang terjaga, adalah yang bisa membedakan antara dua perkara tersebut.

(Adabul ‘Isyrah, hlm. 19)

Kisah Antara Ubadah Dengan Imam Masjid

Khalifah Al Mutawakkil (w. 247 H) pernah bertanya kepada Ubadah (salah satu jama’ah yang ikut sholat),

بلغني أنك ضربت إمام مسجد، وإن لم تأتِ بعذرٍ أدّبتُك.

Telah sampai kepadaku berita yang mengabarkan bahwa engkau memukul salah seorang Imam masjid. Bila engkau tidak mendatangkan alasan yang dapat diterima, maka aku akan memberikan pelajaran kepadamu.

Ubadah pun berkata,

يا أمير المؤمنين، مررتُ بمسجد، فأقام المؤذن، ودخلنا في الصلاة، فابتدأ الإمام فقرأ الفاتحة، وافتتح سورة البقرة،

Wahai Amirul Mu’minin .. aku mendapati sholat di sebuah masjid, ketika muadzin mengumandangkan iqomat, kami pun sholat bersama mereka. Kemudian imam memulai sholatnya dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Baqoroh.

فقلت: لعله يريد أن يقرأ آياتٍ من هذه السورة، فانتهى إلى آخرها في الركعة الأولى!

Maka aku berkata kepada diriku, ‘sepertinya dia ingin membaca beberapa ayat saja dari surat ini..’ namun ternyata dia menyelesaikan sampai ayat terakhir pada roka’at pertama.

ثم قام إلى الثانية، فلم أشك في أنه يقرأ مع الفاتحة سورة الإخلاص. فافتتح سورة آل عمران حتى أتمها!

Kemudian dia bangkit, melakukan roka’at kedua. Maka aku tidak ragu bahwa dia akan membaca surat Al-Ikhlash setelah membaca surat Al-Fatihah. Namun ternyata dia membaca surat Aali Imron sampai selesai.

ثم أقبل بوجهه على الناس، وقد كادت الشمس تطلع.

Selesai sholat, dia menghadap ke arah jama’ah, dan matahari hampir saja terbit, lantas ia berkata,

أعيدوا صلاتكم -رحمكم الله-، فإني لم أكن على طهارة.

Mohon diulangi kembali sholat kalian semuanya, semoga Allah merahmati kalian, karena sesungguhnya tadi aku sholat dalam keadaan belum bersuci.

فقمتُ إليه وصفعتُه. فضحك المتوكل من ذلك! .

Lantas aku pun bangkit lalu menamparnya. Maka khalifah al-Mutawakkil pun tertawa dengan sebab itu.

(Natsrud Duur, 18 – 2/101)

Kewajiban Meninggalkan Dosa

Yahya Bin Mu’adz (w. 258 H) rohimahullahu Ta’ala berkata,

لست آمركم بترك الدنيا ، آمركم بترك الذنوب ، ترك الدنيا فضيلة ، وترك الذنوب فريضة ، وأنتم إلى إقامة الفريضة أحوج منكم إلى الحسنات والفضائل.

Tidaklah aku memerintahkan kalian untuk meninggalkan dunia -secara keseluruhan-, namun yang aku perintahkan adalah meninggalkan dosa.

Meninggalkan dunia merupakan sebuah keutamaan sedangkan meninggalkan perbuatan dosa merupakan kewajiban .. dan menegakkan kewajiban itu yang lebih dibutuhkan -didahulukan- daripada mengejar kebaikan dan keutamaan.

(Sifatush Shofwah – 2/hal. 297)

Janganlah Lalai Dari Mengingat Allah Saat Dalam Keadaan Lapang

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن سرَّه أن يَستَجيبَ اللهُ له عند الشَّدائدِ والكُربِ فليُكثِرِ الدُّعاءَ في الرَّخاءِ.

“Siapa yang ingin Allah mengabulkan do’anya ketika dalam kesulitan dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyak do’a ketika dalam keadaan lapang..”

(HR. At Tirmidzi no. 3382- Hadits Hasan)

● Adh-Dhahhak bin Qais rohimahullahu Ta’ala berkata,

اذكروا الله في الرخاء يذكركم في الشدة، إن يونس عليه الصلاة والسلام كان يذكر الله تعالى، فلما وقع في بطن الحوت قال الله تعالى

Ingatlah Allah di saat keadaan senang, niscaya Allah akan mengingat kalian ketika keadaan susah. Sesungguhnya nabi Yunus ‘alaihissalam dahulu selalu mengingat Allah subhanahu wa Ta’ala. Maka ketika beliau masuk ke dalam perut ikan, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ (١٤٣ ) لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ (١٤٤)

“Kalaulah sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit..” (ash-Shoffat: 143—144)

● Sahabat Salman al-Farisi rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إذا كان للرجل دعاء في السراء فنزلت به ضراء فدعا الله تعالى قالت الملائكة صوت معروف فشفعوا له.

Jika seseorang banyak berdo’a di waktu senang, maka ketika kesusahan menimpanya dan dia berdo’a kepada Allah Ta’ala, maka para malaikat berkata, “Ini adalah suara yang dikenal..” .. maka mereka pun memberikan syafaat untuknya.

(Jaami’ul Uluum wal Hikaam, hal.189)

Membersihkan Hati Dari Sifat Bangga Diri Dan Ingin Dipuji

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullahu ta’ala mengatakan,

والإخلاصُ يا إخواني صعبٌ والإنسانُ لا يخلو من رياءٍ ولو يسيرًا ، ولا يخلو من إعجابٍ بنفسِهِ ولو يسيرًا أعـاذنا اللهُ وإيَّاكُم من ذلك. فطهِّر قلبك ، وٱجعل عملَكَ خالصًا للهِ تعالى ، فأنتَ عبدُ الله ، لستَ عبدًا للخلق ، والذي ينفعُكَ ويضرُّك الله ، والذي يدخلكَ ‏الجنةَ وينجيك من النَّارِ الله ، والذي بيدِهِ ملكوتُ كل شيءٍ الله

Ikhlas merupakan sesuatu yang sulit wahai saudaraku.

Manusia tidak pernah terlepas :
– dari keinginan untuk riya’ (beramal agar dipuji orang lain) dan,
– dari sifat kagum terhadap diri sendiri walaupun kecil.

Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari hal itu.

Maka bersihkanlah hatimu dan jadikanlah semua perbuatan yang engkau lakukan ikhlas karena mengharapkan ridho Allah.

Engkau adalah hamba Allah, bukan hamba makhluk..!!

– Yang bisa memberi manfaat dan menimpakan bahaya kepadamu hanyalah Allah.

– Yang bisa mengkaruniakan Surga kepadamu serta yang menyelamatkanmu dari neraka hanyalah Allah.

Dzat yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu ialah Allah.

(Syarah al-Misykah – 1/143)

Teliti Sebelum Menyebarkan Suatu Berita

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

يجب على الإنسان أن يتثبت فيما يقول ويتثبت فيمن ينقل إليه الخـبر ، هل هو ثقة أو غير ثقة.

Semestinya bagi setiap orang untuk memastikan terlebih dahulu suatu berita yang hendak diucapkan dan memastikan dari mana sumber berita tersebut. Apakah berita itu bersumber dari orang yang terpercaya ataukah tidak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ}

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu..” [Qs. Al-Hujurat : 6]

ولاسيما إذا كثرت الأهواء وصار الـناس يتخبّطـون ويكثرون من الـقيل والـقال بلا تثبت ولا بيّنة ، فإنه يكون الـتثبت أشد وجوبـًا ، حتى لا يقع الإنسان في المهلـكة

Terlebih lagi ketika hawa nafsu telah tersebar luas, dan banyak yang tidak peduli dan lebih mementingkan “qiila wa qoola” (katanya dan katanya) tanpa mau terlebih dahulu untuk memastikan kebenaran berita tersebut dan tanpa adanya kejelasan.

Maka memastikan (sebuah kebenaran berita) dalam kondisi seperti ini lebih ditekankan hukumnya, agar manusia tidak terjatuh ke dalam jurang kebinasaan.

(Syarh Riyadhush Sholihin – 6/187)