Salman al-Farisī menulis surat kepada Abu Ad Darda’ rodhiyallahu ‘anhumaa,
“Sesungguhnya engkau tidak akan pernah mendapatkan apa yang engkau inginkan kecuali dengan meninggalkan apa yang engkau dambakan (dengan nafsu), dan engkau tidak akan pernah mencapai apa yang engkau harapkan kecuali dengan bersabar terhadap apa yang engkau benci.
Maka, jadikanlah :
– bicaramu sebagai dzikir,
– diammu sebagai tafakur (renungan), dan
– pandanganmu sebagai ibrah (pelajaran).
Ketahuilah, bahwa selemah-lemahnya manusia adalah ia yang memperturutkan hawa nafsunya namun tetap mengharapkan Allah mengabulkan angan-angan kosongnya.
Dan orang yang paling bijaksana di antara mereka adalah ia yang menundukkan nafsunya (dalam ketaatan) dan beramal untuk kehidupan setelah kematian..”
(Bahjat al-Majaalis wa Uns al-Majaalis karya Ibnu ‘Abdil Barr)