Category Archives: Hadits

HADITS : Kabar Gembira

Uqbah bin Amir rodhiyallahu ‘anhu berkata,

خَرَجَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ وَنَحْنُ في الصُّفَّةِ، فَقالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَومٍ إلى بُطْحَانَ، أَوْ إلى العَقِيقِ، فَيَأْتِيَ منه بنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ في غيرِ إثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يا رَسولَ اللهِ، نُحِبُّ ذلكَ، قالَ: أَفلا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إلى المَسْجِدِ فَيَعْلَمُ، أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِن كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ له مِن نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ له مِن ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ له مِن أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإبِلِ.

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam keluar dan saat itu kami berada di Shuffah.

Beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang mau pergi ke Buthan atau ke Aqiq lalu pulang membawa dua ekor unta betina yang besar tanpa melakukan dosa dan memutuskan silaturahim..?”

Kami berkata, “Kami menyukai itu wahai Rosulullah..”

Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian pergi ke Masjid lalu ia berilmu atau membaca :
– dua ayat dari kitabullah ‘azza wajalla itu lebih baik dari dua ekor unta betina,
– tiga ayat lebih baik dari tiga (ekor unta betina),
– empat ayat lebih baik dari empat (ekor unta betina),
– dan sesuai jumlah ayat yang ia baca lebih baik dari unta..”

(HR. Muslim no 803)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) Buthan dan Aqiq adalah nama dua pasar perdagangan unta di Madinah.

(*) Unta merupakan kendaraan dan harta yang sangat istimewa di zaman Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

MUTIARA SALAF : Jagalah Lisan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (yang artinya),

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat..” (HR. Muslim no. 2988)

• Imam Nawawi rohimahullah, tatkala menjelaskan hadits ini, mengatakan,

“Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda (yang artinya),

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah..” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap.. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya..”

(Syarh Muslim : 18 – 117)

• Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Ucapan adalah tawananmu.. bila ia keluar dari mulutmu maka engkaulah yang menjadi tawanannya, dan Allah akan mencatat ucapan setiap orang..”

(Ad-Daa’ Wad Dawaa’ – 249)

Do’a Nabi Yunus ‘Alayhissalaam

Simak Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى tentang beberapa kalimat yang kita dianjurkan mengucapkannya sebagai pembuka awal do’a :

DO’A NABI YUNUS ‘ALAYHISSALAM

• Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Do’a Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah,

LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH-ZHOOLIMIIN

(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya)

Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo’a dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya..”

(HR. At Tirmidzi no. 3505)
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

• Do’a Nabi Yunus ‘alayhissalam ini juga disebutkan dalam ayat,

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَۚ ۝٨٧

(Ingatlah pula) Dzun Nuun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdo’a dalam kegelapan yang berlapis-lapis :

LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH-ZHOOLIMIIN

(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya)

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـنْجِى الْمُؤْمِنِيْنَ ۝٨٨

Kami lalu mengabulkan (do’a)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.

(Qs Al Anbiyaa 87-88)

Setiap Amalan Tergantung Akhirnya

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya..”

[ HR. Al Bukhari no. 6493 ]

sekarang kita berada di hari-hari terakhir bulan Ramadhan 1445 H

untuk mereka yang giat beribadah sejak hari pertama Ramadhan, jangan lengah.. justru inilah saatnya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, kenapa demikian..?! karena setiap amalan tergantung pada akhirnya.

dan untuk mereka yang baru serius ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan, jangan pula sedih dan kecil hati.. karena, sekali lagi, setiap amalan tergantung pada akhirnya.. belum terlambat untuk memohon dan meraih ampunan Allah.

as the saying goes.. it’s not how you start, it’s how you finish..

HADITS : Sampai Di Masjid Namun Sholat Berjama’ah Sudah Selesai

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian dia menuju masjid, ternyata dia jumpai jama’ah sholat telah selesai, maka Allah akan berikan untuknya seperti pahala orang yang mengikuti sholat jama’ah itu dan menghadirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun..”

(HR. Ahmad 9182, Abu Daud 564, Nasa’i 863 – Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

• Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhohullah mengatakan,

والمراد: أنه يؤجر ويثاب على ذلك؛ لأن إسباغه الوضوء، ثم خروجه من بيته يريد الصلاة لا تخرجه إلا الصلاة يرفع له بكل خطوة يخطوها درجة، ويحط عنه بها خطيئة، فإذا أدرك الناس وصلى معهم حصل ما ذهب إليه، وإن فاتته فإنه على نيته وقصده وحرصه ورغبته، لكن هذا فيما إذا لم يكن ذلك عن تقصير منه وتهاون

“Maksud hadits, dia diberi pahala untuk perbuatan yang dia kerjakan.

Karena wudhu dengan sempurna, kemudian keluar dari rumah untuk melaksanakan sholat, niat dia keluar hanyalah untuk sholat, maka Allah akan mengangkat derajatnya bersamaan dengan langkahnya dan Allah hapuskan.

Jika dia masih menjumpai jama’ah dan sholat bersama mereka, berarti dia mendapatkan tujuan dia berangkat ke masjid. Namun jika dia ketinggalan, maka dia mendapatkan pahala sesuai niatnya, tujuannya, semangatnya, dan harapannya.

Namun ini berlaku jika telat itu terjadi bukan karena kesengajaan atau sikap meremehkan..”

(Syarh Sunan Abi Daud, 3/484).

Menjaga Hubungan Persahabatan Lama Adalah Termasuk Keimanan

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata,

“Datang seorang nenek kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu beliau di rumahku.

Maka Nabi bertanya, “Siapakah kamu..?”
Ia menjawab, “Namaku Jatsamah Al Muzaniyah..”

Beliau bersabda, “Tapi namamu adalah Hassanah Al Muzaniyah. Bagaimana keadaan dan kabar kalian..? Bagaimana kalian sepeninggal kami..?”

Ia menjawab, “Bikhoir demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya wahai Rosulullah..”

Ketika ia keluar, aku berkata, “Wahai Rosulullah, mengapa engkau memperlakukan nenek itu dengan penuh kegembiraan..?”

Beliau bersabda, “Dahulu ia selalu mengunjungi kami di zaman Khodijah. Dan sesungguhnya husnul ‘ahdi termasuk keimanan..”

(HR. Al Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah hadits shohih 1/424)

• Ibnul Atsir rohimahullah berkata,

“Makna hadits ini adalah bagus dalam menjaga persahabatan dan menjaga ikatan yang telah lama..”

• Imam Assakhowi rohimahullah berkata,

“Maknanya adalah menjaga hubungan yang telah lama dengan orang yang mencintaimu, atau mencintai orang yang mencintaimu..”

Demikianlah kecintaan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang amat besar kepada Khodijah rodhiyallahu ‘anha..
Hingga beliau tak pernah melupakan teman dan sahabatnya..
Bahkan tetap menjaga hubungan dengan mereka..
Dan itu termasuk keimanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyambung Silaturrohim

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ليس الواصل بالمكافئ، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها

“Bukanlah menyambung silaturrohim itu dengan membalas kunjungan. Akan tetapi menyambung silaturrohim itu adalah apabila diputuskan hubungan ia segera menyambungnya..”

(HR. Al Bukhari)

Menyambung hubungan yang diputus oleh saudara kita adalah berat..
Membutuhkan kesabaran dan dada yang lapang..

Seringnya kita adalah marah dan tak peduli lagi..
Namun keburukan itu hendaknya dibalas dengan kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Dzikir Yang Ringan Setelah Sholat Fardhu Dan Sebelum Tidur Namun Sedikit Yang Mengamalkannya

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam beliau bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ يَعْنِي الشَّيْطَانَ فِي مَنَامِهِ فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أَنْ يَقُولَهُ وَيَأْتِيهِ فِي صَلَاتِهِ فَيُذَكِّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ أَنْ يَقُولَهَا

“Ada dua hal yang tidaklah seorang hamba muslim menjaganya kecuali ia akan masuk surga. Keduanya adalah ringan tapi yang mengamalkannya sedikit, yaitu:

(PERTAMA)
Setelah selesai sholat fardhu :
– bertasbih (subhaanallah) 10 kali,
– bertahmid (alhamdulillah) 10 kali,
– bertakbir (Allahu Akbar) 10 kali.
Itu (nilainya) adalah 150 di lisan dan 1,500 di timbangan.

(KEDUA)
Dan ketika akan tidur di pembaringannya membaca :
– takbir (Allahu Akbar) 34 kali,
– tahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan
– tasbih (subhaanallah) 33 kali.
Itu (nilainya) adalah 100 di lisan dan 1,000 di timbangan .. (‘Abdullah bin ‘Amr berkata), “aku melihat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menghitung dengan jarinya.

(Para Sahabat bertanya), “wahai Rosulullah bagaimana amalan itu disebut ringan dan yang mengamalkannya sedikit..?”

Beliau bersabda, “syaithan mendatangi kalian pada saat akan tidur dan menidurkan kalian sebelum mengucapkan kalimat itu dan syaithan mendatangi kalian pada waktu sholat dan mengingatkan dengan keperluannya sebelum (sempat) ia mengucapkan dzikir itu..”

(HR. Abu Dawud no. 5065 dan Ahmad)
Dishohihkan oleh Syaikh al-Albany

HADITS : Andaikan Dahulu Kami Muslim

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا اجتمع أهلُ النارِ في النارِ ومعهم مَن شاء اللهُ من أهلِ القِبلةِ يقولُ الكفارُ : أَلَمْ تكونوا مسلمينَ ؟ قالوا : بلى قالوا : فما أَغْنَى عنكم إسلامُكم و قد صِرْتُم معنا في النارِ ؟ قالوا : كانت لنا ذنوبٌ فأُخِذْنا بها فيَسْمَعُ ما قالوا فأَمَر بمَن كان من أهلِ القِبلةِ فأُخْرِجُوا فلما رأى ذلك أهلُ النارِ قالوا : يالَيْتَنا كنا مسلمينَ فنخرجُ كما خَرَجُوا قال : و قرأ رسولُ اللهِ الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَ قُرْآنٍ مُبِينٍ رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

“Apabila penduduk api neraka telah berkumpul di Neraka dan bersama mereka siapa yang Allah kehendaki dari ahli kiblat.

Orang-orang kafir berkata, “bukankah dahulu kalian muslim..?”

Mereka menjawab, “benar..”

Orang-orang kafir berkata, “apa manfaat ke-islaman kalian jika kalian bersama kami di Neraka..?”

Mereka berkata, “kami dahulu melakukan dosa, maka kami diadzab karenanya..”

Allah mendengar perkataan mereka. Maka Allah memerintahkan agar semua ahli kiblat dikeluarkan dari Neraka.

Saat kaum kafir melihat itu mereka berkata, “andaikan dahulu kami muslim, maka kami akan keluar sebagaimana mereka keluar..”

Lalu Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah yang artinya,

“Alif Laam Raa. Itulah ayat-ayat al kitab dan qur’an yang nyata. Orang-orang kafir itu berharap seandainya mereka dahulu menjadi muslim..”

(HR Al Hakim dan Al Baihaqi)
Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Ketakwaan Kepada Allah Adalah Sumber Keselamatan

Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Bersabarlah .. karena tidaklah datang suatu zaman pun kecuali zaman setelahnya lebih buruk dari zaman sebelumnya..” (HR. Al Bukhori)

Demikianlah Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam mengabarkan..
Namun orang yang bahagia adalah yang ketakwaannya tak berubah walaupun fitnah semakin berat..

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Ketahuilah, zaman itu tak akan menetap di atas satu keadaan ..
– terkadang fakir, terkadang kaya,
– terkadang mulia, terkadang terhina,
– terkadang membuat tertawa orang yang mencintai kita, dan terkadang membuat tertawa orang yang memusuhi.

Namun orang yang bahagia itu adalah yang selalu berpegang kepada satu pokok dalam setiap keadaan .. yaitu takwa kepada Allah ‘Azza wajalla.

– jika ia kaya maka ketakwaan menghiasinya.
– jika ia fakir, ketakwaan membuka pintu pintu kesabaran.
– jika ia sehat, sempurnalah kenikmatannya.
– jika ia sakit, ia tetap tabah menerimanya.

Tidak membahayakannya saat memburuknya zaman, atau membaik, atau kelaparan atau musim kenyang..
Karena semua itu akan pergi dan berubah..
Ketakwaan adalah sumber keselamatan dan penjaga yang tak pernah tidur..”

(Shoidul Khothir 1/39)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى