Dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Harga barang melonjak mahal pada masa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, lalu orang-orang berkata, ‘Wahai Rosulullah, patoklah harga (pasar) untuk kami..!’
Maka beliau shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah :
– yang menentukan harga,
– yang menyempitkan,
– yang melapangkan, dan
– yang memberi rezeki.
Dan sungguh aku berharap dapat menemui Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku atas suatu kezholiman dalam urusan darah (nyawa) maupun harta..’
(HR. Abu Dawud no. 3451)
Syaikh Al Albani rohimahullah berkata hadits shohih – dalam beberapa kitab takhrijnya, seperti Irwa’ al-Gholil (no. 1325) dan Shohih Sunan Abi Dawud.
“Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya.
Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram..”
(HR. Abdurazzaq dalam Al Mushannaf, Ibnu Hibban no. 3239 – Syaikh Al-Albani rohimahullah men-shohihkan hadits ini dalam kitab Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shohiihah No. 2607)
📌 Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,
“Wahai anak Adam.. sesungguhnya engkau tidak dapat mendahului ajalmu, dan tidak ada yang dapat menghalangimu dari rezeki yang telah ditetapkan untukmu, dan (engkau juga) tidak akan diberi rezeki yang bukan bagianmu.
Lantas, mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga lalai dari Allah)..?! atas dasar apa engkau membinasakan dirimu..?!”
( Mawaizh Lil Imam Al Hasan al-Bashri – 91 )
📌 Abu Hazim Salamah bin Dinar rohimahullah berkata,
“Aku memikirkan tentang rezeki temyata aku mendapatinya dua macam.
Satu untukku yang pada saatnya akan aku dapatkan, maka aku tidak bisa menyegerakannya walaupun aku berusaha mendapatkannya dengan kekuatan langit dan bumi .. dan yang satunya lagi untuk orang lain. Jadi apa yang telah lalu tidak akan aku dapatkan, maka aku hanya mencari yang masih tersisa.
Rezekiku tidak akan dimiliki oleh orang lain sebagaimana rezeki orang lain tidak akan dimiliki oleh diriku. Lantas untuk yang mana aku akan menghabiskan umurku..?!”
“Ketika seekor anjing sedang berputar putar di sekitar sumur dan hampir mati karena kehausan, tiba tiba seorang wanita pezina dari kaum Bani Israil melihatnya. Maka wanita itu melepas sepatunya (khuff), lalu mengambilkan air dengan sepatu itu dan memberi minum si anjing. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalnya itu..”
(HR. Al Bukhari no. 3467)
📌 Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah berkata,
“Jika memberi minum untuk menghilangkan rasa haus seekor anjing saja bisa menjadi sebab diampuninya seorang wanita (pezina) oleh Allah, maka apalagi dengan orang yang menghilangkan dahaga manusia dengan (mengajarkan mereka) Tauhid..!”
Dalam hadits (no. 770) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullah, Ummul Mu’minin, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ketika bangun di malam hari, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam akan memulai sholatnya (do’a istiftah) dengan kalimat kalimat ini :
ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MIIKAA-IILA WA ISROO-FIILA,
INNA-KA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM-MUSTAQIIM
(HR. Muslim no. 770)
====================
DO’A DAHSYAT YANG KITA BUTUHKAN ( BAGIAN – 2 )
(berikut adalah rangkuman terjemahan penjelasan Syaikh ‘Abdurrozzaq al-Badr حفظه الله تعالى mengenai do’a istiftah d poster)
Syaikh menjelaskan bahwa kita semua sangat membutuhkan do’a ini dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah rohimahullah selalu berwasiat dan sangat menganjurkan untuk terus memohon kepada Allah menggunakan do’a penuh berkah ini, yang diajarkan langsung oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.
Jika seseorang terus-menerus mendesak (memohon) kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya agar diberi petunjuk menuju kebenaran di tengah perselisihan, maka Allah akan memudahkan urusannya.
Pintu-pintu kebaikan akan dibukakan, dan tanda-tanda sunnah akan tampak jelas baginya.
Seseorang yang mungkin terjerumus dalam bid’ah, khurafat, atau amalan yang jauh dari tuntunan sunnah, akan mendapati Allah memberikan kemudahan baginya untuk menjauhi hal-hal tersebut setelah ia berdo’a memohon petunjuk.
Setiap dari kita perlu bersungguh-sungguh dan tulus bersandar kepada Allah dengan mengulang-ulang do’a ini
📌 Waktu yang paling utama untuk membacanya adalah sebagai do’a istiftah ketika membuka atau memulai sholat malam (tahajud)
Di akhir video, Syaikh mengajak untuk berserah diri kepada Allah dan menutupnya dengan mengulang-ulang potongan do’a tersebut :
INNA-KA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM-MUSTAQIIM
“Yaa Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dalam apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa pun yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus..”
📌📌 NB :potongan do’a di atas ini bisa dibaca kapan saja, namun ketika kita mau membacanya sebagai do’a istiftah saat mulai sholat malam, maka bacalah do’a istiftah versi panjangnya sebagaimana yang ada di poster (HR. Muslim no 770)
‘Maukah kalian aku beritahukan tentang wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni surga..?’
‘Yaitu wanita yang :
– penyayang (kepada suaminya),
– subur (banyak keturunan), dan
– selalu kembali (kepada suaminya) yaitu wanita yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti olehnya (dalam riwayat lain disebutkan, ‘jika suaminya marah kepadanya’) maka ia mendatangi suaminya, memegang tangannya, dan berkata,
‘Demi Allah, aku tidak akan merasakan tidur sampai engkau ridho..’
(HR. An-Nasa’i no. 257, dan Ath-Thabrani dalam Al Ausath no. 201, Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohiihah no. 287)
“Di antara hak suami atas istrinya adalah sang istri bersungguh sungguh untuk tidak membuat suaminya marah dan tidak menjadi marah kepadanya .. dan jika sang istri marah kepada suaminya atau ia membuat suaminya marah, maka ia segera kembali kepada suaminya untuk berusaha membuatnya ridho..”
(Huquuq az-Zawjain – hal. 36)
📌 Seorang istri yang sholehah tidak bersaing dengan suaminya, ia menjaga kedamaian rumah tangga, dan mencari ridho Allah melalui hal tersebut.
Bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku menyiapkan untuk hamba hamba-Ku yang sholeh sesuatu yang :
– tidak pernah dilihat mata,
– tidak pernah didengar telinga, dan
– tidak pernah terlintas dalam hati manusia..’
Kebenaran hal itu dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan..” (As-Sajdah/32: 17)
(HR. Al Bukhari – 3244, Muslim – 2824)
📌 Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,
“Tidak ada sesuatu pun di surga yang menyerupai apa pun dari kehidupan dunia, kecuali sekedar nama saja (yang serupa)..!”
Dari Ath Thufail bin Ubay bin Ka’ab, suatu ketika ia mendatangi ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, kemudian ia berjalan bersamanya ke pasar.
Ath Thufail berkata, ‘Setiap kali ia bertemu dengan tukang loak (pedagang barang bekas), pedagang, orang miskin, atau siapa saja, ia selalu mengucapkan salam..’
Ath Thufail melanjutkan, ‘Suatu hari aku datang lagi ke rumah Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, lalu ia ingin ikut menemaniku ke pasar..’
Aku pun bertanya, ’Apa yang engkau kerjakan di pasar sedangkan engkau tidak berjual beli, tidak menanyakan harga barang-barang, dan tidak pula mau duduk-duduk di pasar..’
Aku melanjutkan, ‘Sebaiknya kita duduk-duduk saja disini sambil bercakap-cakap..’
Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa langsung menjawab, ‘Wahai Abu Bathn (*), sesungguhnya kita pergi ke pasar semata-mata hanya ingin mengucapkan salam saja, yaitu kita ucapkan salam kepada kaum Muslimin mana saja yang kita jumpai..’
(HR. Malik – al-Muwaththo’ no. 912)
Hadits ini dishohihkan oleh Syu’aib al-Arna-uth. Lihat Riyaadush Shoolihîn no. 848
(*) panggilan untuk Ath Thufail karena perutnya besar.
=====
Amalan yang dilakukan oleh sahabat Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa dalam hadits di atas, adalah sesuai dengan sabda Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sbb :
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhumaa bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, ‘Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik..?’
Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (Muslim) yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal..’
Seorang laki-laki datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam lalu bertanya,
“Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik..?”
Beliau menjawab: “Ibumu..”
Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa..?”
Beliau menjawab: “Ibumu..”
Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa..?”
Beliau menjawab: “Ibumu..”
Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa..?”
Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu..”
(HR. Al Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548)
===== Penjelasan Singkat
Para ulama (seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Hajar al-Asqolani -rohimahumallah-) menjelaskan mengapa ibu disebut tiga kali lebih banyak daripada ayah. Hal ini disebabkan karena ibu mengalami TIGA KESULITAN BESAR yang tidak dialami oleh ayah, yaitu:
– MASA KEHAMILAN (mengandung dengan susah payah).
– PROSES MELAHIRKAN (perjuangan antara hidup dan mati).
– MASA MENYUSUI (dan merawat di masa kecil).
Meskipun ayah juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, hadits ini menekankan bahwa porsi kasih sayang, perhatian, dan bakti seorang anak kepada ibu haruslah lebih besar.
● Ibnu Batthol rohimahullah berkata,
“Jika kedua orang tuamu memerintahkanmu untuk melakukan dua hal yang berbeda (dalam waktu yang bersamaan), maka penuhilah perintah ibumu karena haknya (untuk ditaati) adalah tiga kali lipat lebih besar (daripada ayahmu)..”
“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena :
– hartanya,
– keturunannya,
– kecantikannya, dan
– agamanya
maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung..”
(HR. Al Bukhari no. 5090)
📌 apa makna kalimat ‘niscaya engkau beruntung’ ?
● Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,
“Pilihlah yang agamanya baik karena wanita yang taat beragama akan :
– menjaga kehormatan dirinya,
– harta suaminya,
– mendidik anak-anaknya dengan baik, dan
– membantumu dalam urusan akhirat..”
(Syarh Shohih Muslim)
Para ulama salaf merinci apa saja “keberuntungan” yang didapat jika memprioritaskan faktor agama saat mencari pasangan hidup :
● Keberuntungan Dunia: Rumah tangga akan diliputi ketenangan (sakinah). Istri yang beragama tidak akan banyak menuntut hal-hal materi yang di luar kemampuan suami (tidak serakah harta) dan tidak menyakiti dengan lisannya.
● Keberuntungan Akhirat: Ia menjadi mitra dalam ketaatan. Jika suami lupa, ia mengingatkan. Jika suami malas, ia memotivasi untuk ibadah.
● Keberuntungan Nasab: Ia adalah madrosatul uula (sekolah pertama) bagi anak-anak. Menikahi wanita sholehah berarti telah memberikan hak anak-anak untuk mendapatkan ibu yang baik.
“Dan Hadis ini, seandainya seseorang menjadikannya sebagai cahaya penuntun di depan matanya, niscaya banyak masalah akan terselesaikan.
Telah diriwayatkan secara shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa beliau bersabda, ‘Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci salah satu tabiatnya, niscaya ia akan ridha dengan tabiatnya yang lain..’
Para ulama mengatakan bahwa manusia dalam menerapkan Hadis ini terbagi menjadi tiga golongan:
Dua golongan yang berlebih lebihan sehingga mereka salah, dan satu golongan yang berada di pertengahan sehingga mereka berbuat baik.
Adapun dua golongan yang salah tersebut adalah :
GOLONGAN PERTAMA : Laki-laki yang hanya melihat pada keburukan pasangannya saja. Barangsiapa yang hanya melihat keburukan dan melupakan kebaikan, maka laki-laki tersebut tidak akan merasa bahagia dalam pernikahannya dan hidupnya tidak akan tenang, bahkan seluruh hidupnya akan dipenuhi dengan keluh kesah.
GOLONGAN KEDUA : Golongan yang membanding-bandingkan antara sifat yang baik dan buruk. Orang ini pun salah, namun sebenarnya kesalahannya tidaklah fatal karena penyimpangannya dari kebenaran lebih sedikit. Laki-laki ini, jika ia menimbang antara sifat baik dan buruk wanita tersebut, maka ia akan memperlakukannya dengan adil, namun hal ini pun belum dianggap baik.
Adapun sifat kesempurnaan adalah: GOLONGAN KETIGA : Orang yang fokus pada sifat-sifat baik istrinya dan melihat pada kesempurnaan akhlak yang dimilikinya. Ia memuji istrinya atas hal-hal tersebut dan mengabaikan kekurangannya. Maka, inilah orang yang paling sempurna di antara ketiganya.
🎙️Syaikh Prof. Dr. Abdussalam Asy-Syuwai’ir حفظه الله تعالى
– Pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
– Murid dari Syaikh Bin Baz rohimahullahu Ta’ala
====
Hadits yang disebutkan di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullah (no. 1469) dari sahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.