Category Archives: Hadits

HADITS : Apabila Allah Menginginkan Kebaikan Kepada Seorang Hamba

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا عَلَيْكُمْ أَنْ تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ؟ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمُرِهِ -أَوْ: بُرهَة مِنْ دَهْرِهِ -بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ لَدَخَلَ الْجَنَّةَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ، لو مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ: قَالَ: “يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Jangan merasa kagum kepada amal seseorang hingga kamu lihat ia meninggal di atas apa..

Karena ada orang yang beramal sholih dalam hidupnya jika ia wafat di atasnya, ia masuk surga. Tapi ia berubah lalu beramal keburukan..

Dan ada lagi hamba yang beramal keburukan dalam hidupnya jika ia wafat di atasnya, ia masuk neraka. Kemudian ia berubah dan beramal sholih..

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikan ia beramal sebelum wafatnya..”

Mereka berkata, “Bagaimana dijadikan beramal..?”

Beliau bersabda, “Yaitu Allah memberinya taufik kepada amal sholih kemudian ia wafat di atasnya..”

(HR. Ahmad)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akhlak Yang Baik – 1

Dalam beberapa hadits terkait akhlak yang baik, akhlak yang mulia, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian..”

(HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shohih Al-Jaami’ no. 2201)

“Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan (amal) lebih berat dari akhlak yang mulia.. sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin sholat..”

(HR. At Tirmidzi no. 2134. Al-Abani mengatakan bahwa hadits ini shohih. Lihat Shohih Al Jaami’ no. 5726)

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan sholat malam dengan sebab akhlaknya yang baik..”

(HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shohih oleh Al-Albani dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643)

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya..”

(HR. At Tirmidzi no. 1162. Dinilai shohih oleh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no. 284)

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya tentang sebab terbanyak yang memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab,

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik..”

(HR. At Tirmidzi dan di hasankan oleh Al-Albani dalam Shohih At Tirmidzi 2/194)

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya..”

(HR. Bukhari)

“Janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik sedikit pun, meskipun engkau berjumpa saudaramu dengan wajah berseri-seri..”

(HR. Muslim)

Jangan Tergesa Meninggalkan Tempat Sholat

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Malaikat mendo’akan salah seorang dari kalian, selama..
– ia tetap di tempat sholatnya, dan
– tidak berhadats..

Mereka mendo’akan, ‘Ya Allah ampunilah ia.. Ya Allah, rahmatilah ia..”

[ HR. Bukhori no. 445 ]

● Ibnu Baththol rohimahullah berkata,

“Siapa yang banyak dosanya dan ingin agar Allah menghapus (dosa tsb) tanpa ia bersusah payah, maka hendaknya ia memperbanyak menetap di tempat sholatnya setelah sholat, agar malaikat banyak mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya..”

[ Syarh Shohih Al Bukhori – Ibnu Baththol 2 hal. 95 ]

Nasihat Bagi Para Orangtua

Hendaknya para orangtua berhati-hati dalam berucap terutama saat dalam keadaan marah kepada anak. Jangan sampai keluar kata-kata buruk sehingga hal itu berakibat buruk pula pada anak-anak.

Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhumaa meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لا تُوافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةَ يُسأَلُ فِيهَا عَطَاءً، فَيَسْتَجِيبَ لَكُم

“- janganlah kalian mendo’akan kejelekan untuk diri kalian..
– janganlah kalian mendo’akan kejelekan untuk anak-anak kalian..
– janganlah kalian mendo’akan kejelekan untuk harta kalian..

Jangan sampai kalian berdo’a seperti itu menepati suatu waktu yang jika Allah dimintai sesuatu maka akan dikabulkan..”

[ HR. Muslim no. 5328 ]

Hukuman Yang Disegerakan Adalah Tanda Kebaikan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

(( إذا أرادَ اللَّهُ بعبدِه الخيرَ عجَّلَ لَه العقوبةَ في الدُّنيا ، وإذَا أرادَ اللَّهُ بعبدِه الشَّرَّ أمسَك عنهُ بذنبِه حتَّى يوافيَ بِه يومَ القيامة ))

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan menyegerakan hukuman untuknya di dunia..

Namun, jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia menangguhkan hukuman untuk dosanya, hingga dia datang dengan dosanya hari kiamat..”

[ HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Apabila hukuman disegerakan, Allah menggugurkan dosa dari hamba tersebut. Dia pun datang kepada Allah tanpa membawa dosa. Musibah dan bencana telah membersihkannya.

Ini adalah nikmat. Karena, siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa di akhirat..”

[ Syarh Riyadhus Sholihin 1 – 258 ]

Biasakanlah Berterima Kasih

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia..”

[ HR. Abu Daud no. 4811 ]
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Siapa yang biasa tidak tahu terima kasih pada manusia yang telah berbuat baik padanya, maka ia juga amat sulit bersyukur pada Allah.

2. Allah tidaklah menerima syukur hamba sampai ia berbuat ihsan (baik) dengan berterima kasih pada orang yang telah berbuat baik padanya.

3. Perintah untuk pandai bersyukur.

4. Pemberi nikmat hakiki adalah Allah dan manusia yang berbuat baik adalah sebagai perantara dalam sampainya kebaikan.

Jadilah manusia yang pandai berterima kasih, lebih-lebih pada orang tua, guru dan setiap yang telah memberikan berbagai kebaikan pada kita.

ref : https://rumaysho.com/3406-tidak-tahu-berterima-kasih.html

● Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Barangsiapa diberi suatu kebaikan, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut, ‘jazaakallahu khoyron (*), maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya..”

[ HR. at-Tirmidzi ]
Shohiih at-Targhib wat-Tarhib 969

(*) artinya: “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”

● ‘Umar bin Al Khoththob rodhiyallahu’anhu mengatakan,

“Seandainya salah seorang dari kalian mengetahui apa yang dia dapatkan ketika mengucapkan kepada saudaranya ‘jazaakallahu khoyron’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),
niscaya sebagian kalian akan banyak mengucapkannya kepada yang lain..”

[ Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 27050 ]

Kalimat terima kasih serta do’anya dalam syari’at itu berbeda tergantung gender dan jumlah, sbb :

jazaakallahu khoyron – kepada satu pria

jazaakillahu khoyron – kepada satu wanita

jazaakumallahu khoyron – kepada 2 laki atau 2 wanita

jazaakumullohu khoyron – kepada lebih dari 2 pria

jazaakunnallahu khoyron – kepada lebih dari 2 wanita

contoh:
– saat ayah/suami memberikan nasehat/uang belanja, atau saat anak laki mengerjakan perintah kita, maka ucapkanlah ‘jazaakallahu khoyron..’

– saat ibu/istri/anak perempuan kita menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dll, maka ucapkanlah ‘jazaakillahi khoyron..’

namun janganlah dipotong jadi “jazaakallahu” saja karena:

1. kalimat tsb belum lengkap dan belum sesuai yang diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang terdapat dalam hadits yaitu mengucapkan “jazaakallahu khoyron” yang artinya “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan/khoyron”

2. kalimat “jazaakallah” saja itu artinya “semoga Allah membalasmu..” tapi membalasmu itu dengan apa..? keburukan atau kebaikan.. tentunya kita ingin mendo’akan kebaikan, maka ucapkanlah sesuai yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, yaitu “jazaakallahu khoyron..”

Lalu bagaimana kalimatnya bila orang yang berbuat baik sama kita TIDAK berada dihadapan kiita..? kita ucapkan (do’akan) sbb :

jazaahullahu khoyron – kepada satu pria

jazaahallahu khoyron – kepada satu wanita

jazaahumallahu khoyron – kepada 2 laki atau 2 wanita

jazaahumullohu khoyron – kepada lebih dari 2 pria

jazaahunnallahu khoyron – kepada lebih dari 2 wanita

Wallaahu ta’ala a’lam

 

 

 

Merutinkan Mengucapkan Sholawat Dan Salam Setiap Hari

Dalam Qs al ahzab/56, Allah memerintahkan kita untuk SENANTIASA bersholawat dan memberikan salam kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, maka mari kita biasakan untuk sholawat dan salam SETIAP HARI dari pagi hingga malam..

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak ber-sholawat kepadaku..”

[ HR. at-Tirmidzi ]

selain itu, untuk SETIAP SATU sholawat yang kita ucapkan, maka Allah Ta’ala akan memberikan balasan berupa 10 kali sholawat, yaitu pujian dan sanjungan kepada kita di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya, menghapus 10 dosa kita dan meninggikan 10 derajat/tingkatan kita di surga kelak, berdasarkan hadits berikut:

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali maka Allah akan bersholawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)..”

[ HR. an-Nasa’i no. 1297 ]

Maka dengan demikian bila kita mengucapkan :

10 kali sholawat =
100 kali pujian dan sanjungan Allah
100 kesalahan (dosa) digugurkan
100 tingkatan surga ditinggikan

50 kali sholawat =
500 kali pujian dan sanjungan Allah
500 kesalahan (dosa) digugurkan
500 tingkatan surga ditinggikan

100 kali sholawat =
1,000 kali pujian dan sanjungan Allah
1,000 kesalahan (dosa) digugurkan
1,000 tingkatan surga ditinggikan

dan demikianlah seterusnya, subhaanallah.. 

Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad..

Do’a Yang Mengumpulkan Seluruh Perkara Kebaikan

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahullahu ta’ala mengatakan,

ومن دعاء النبي صلى الله عليه وسلم: “اللهم إني أسألك الهدى والتقى، والعفاف والغنى” فجمع الخير كله في هذا الدعاء.
فالهدى: هو العلم النافع. والتقى: العمل الصالح، وترك المحرمات كلها. وهذا صلاح الدين.
وتمام ذلك بصلاح القلب، وطمأنينته بالعفاف عن الخلق، والغنى بالله. ومن كان غنيا بالله فهو الغني حقا، وإن قلت حواصله. فليس الغني عن كثرة العرض، إنما الغنى غنى القلب. وبالعفاف والغنى يتم للعبد الحياة الطيبة، والنعيم الدنيوي، والقناعة بما آتاه الله.

“Di antara do’a yang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam panjatkan adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLAAHUMMA INNII
AS ALUKAL-HUDAA
WAT-TUQOO WAL ‘AFAAFA
WAL-GHINAA

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu al-Hudaa (petunjuk), at-Tuqoo (ketakwaan), al-‘Afaaf (terjaganya kehormatan), dan al-Ghinaa (rasa cukup)..”

Sungguh, Nabi sholallahu ‘alayhi wa sallam telah menghimpun seluruh perkara kebaikan dalam do’a ini :

al-Hudaa adalah ilmu yang bermanfaat.

at-Tuqoo adalah beramal saleh dan meninggalkan seluruh perkara yang haram.

Dua hal tersebut adalah kebaikan bagi agama seseorang.

Kebaikan agama akan sempurna jika dilengkapi dengan kebaikan dan ketentraman kalbu yang diraih dengan :

Al-‘Afaaf (menjaga kehormatan) dari bergantung kepada makhluk), dan

Al-Ghinaa (merasa cukup dengan pemberian Allah).

Barang siapa merasa cukup dengan pemberian Allah, dia adalah orang kaya secara hakiki, walaupun pemasukannya sedikit.. 

Tidaklah kekayaan itu dinilai dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah rasa cukup dalam kalbu.. 

Dengan sifat al-‘Afaaf dan al-Ghinaa seorang hamba akan sempurna kebahagiaan hidupnya, kenikmatan duniawinya, dan merasa cukup dengan pemberian Allah..

[ Bahjah Quluub al-Abror wa Qurrotu ‘Uyuun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar – 116 ]

NB :

jangan lupa salah satu adab sebelum berdo’a adalah :

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh): yaa Hayyu yaa Qoyyuum

● lalu membaca sholawat (contoh): Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a..

Pahala Haji Yang Sempurna

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Siapa yang berangkat ke masjid (dan) yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya..”

[ HR. Ath-Thobroni – Al Mu’jam Al Kabir 8/ 94 ]

Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan shohih, lihat Shohih At-Targhiib wat-Tarhiib, no. 86

MUTIARA SALAF: Salah Satu Cara Agar Bisa Qona’ah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian (dalam masalah dunia, -pent.) dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Hal ini akan lebih mendorong kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kalian..” (HR. Bukhari dan Muslim)

● Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

فما من فقير إلا وهناك من هو أفقر منه، وما من مريض إلا وهناك من هو أشد مرضا منه، وما من ذي جاه إلا وهناك من هو أقل جاها منه، وهكذا المسائل الأخرى، إذا نظر إلى من دونه عرف قدر نعمة الله عليه، وكان هذا من أسباب شكره لها، وهذا في أمور الدنيا.

“Tidak ada seorang fakir pun kecuali pasti ada yang lebih fakir daripada dirinya..

Tidak ada orang yang sakit, kecuali pasti ada orang yang lebih parah sakitnya daripada dirinya..

Tidak ada orang yang memiliki kedudukan, kecuali pasti ada orang yang lebih rendah kedudukannya daripada dirinya.. demikian seterusnya.. 

Ketika melihat orang yang lebih rendah daripada dirinya, dia akan mengetahui besarnya nikmat Allah yang ada padanya sehingga dia mensyukurinya. Melihat orang yang di bawah ini berlaku dalam urusan duniawi..”

[ Syarh Kitaabul Jaami’ min Bulugh al-Maram hal. 32 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL