Category Archives: Hadits

Niscaya Engkau Beruntung

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena :
– hartanya,
– keturunannya,
– kecantikannya, dan
– agamanya
maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung..”

(HR. Al Bukhari no. 5090)

📌 apa makna kalimat ‘niscaya engkau beruntung’ ?

● Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

“Pilihlah yang agamanya baik karena wanita yang taat beragama akan :
– menjaga kehormatan dirinya,
– harta suaminya,
– mendidik anak-anaknya dengan baik, dan
– membantumu dalam urusan akhirat..”

(Syarh Shohih Muslim)

Para ulama salaf merinci apa saja “keberuntungan” yang didapat jika memprioritaskan faktor agama saat mencari pasangan hidup :

Keberuntungan Dunia: Rumah tangga akan diliputi ketenangan (sakinah). Istri yang beragama tidak akan banyak menuntut hal-hal materi yang di luar kemampuan suami (tidak serakah harta) dan tidak menyakiti dengan lisannya.

Keberuntungan Akhirat: Ia menjadi mitra dalam ketaatan. Jika suami lupa, ia mengingatkan. Jika suami malas, ia memotivasi untuk ibadah.

Keberuntungan Nasab: Ia adalah madrosatul uula (sekolah pertama) bagi anak-anak. Menikahi wanita sholehah berarti telah memberikan hak anak-anak untuk mendapatkan ibu yang baik.

Inilah hakikat keberuntungan yang sebenarnya.

ARTIKEL TERKAIT
Memilih Istri

Sikap Yang Sempurna Dari Suami Terhadap Istrinya

“Dan Hadis ini, seandainya seseorang menjadikannya sebagai cahaya penuntun di depan matanya, niscaya banyak masalah akan terselesaikan.

Telah diriwayatkan secara shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa beliau bersabda, ‘Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci salah satu tabiatnya, niscaya ia akan ridha dengan tabiatnya yang lain..’

Para ulama mengatakan bahwa manusia dalam menerapkan Hadis ini terbagi menjadi tiga golongan:

Dua golongan yang berlebih lebihan sehingga mereka salah, dan satu golongan yang berada di pertengahan sehingga mereka berbuat baik.

Adapun dua golongan yang salah tersebut adalah :

GOLONGAN PERTAMA : Laki-laki yang hanya melihat pada keburukan pasangannya saja. Barangsiapa yang hanya melihat keburukan dan melupakan kebaikan, maka laki-laki tersebut tidak akan merasa bahagia dalam pernikahannya dan hidupnya tidak akan tenang, bahkan seluruh hidupnya akan dipenuhi dengan keluh kesah.

GOLONGAN KEDUA : Golongan yang membanding-bandingkan antara sifat yang baik dan buruk. Orang ini pun salah, namun sebenarnya kesalahannya tidaklah fatal karena penyimpangannya dari kebenaran lebih sedikit. Laki-laki ini, jika ia menimbang antara sifat baik dan buruk wanita tersebut, maka ia akan memperlakukannya dengan adil, namun hal ini pun belum dianggap baik.

Adapun sifat kesempurnaan adalah:
GOLONGAN KETIGA : Orang yang fokus pada sifat-sifat baik istrinya dan melihat pada kesempurnaan akhlak yang dimilikinya. Ia memuji istrinya atas hal-hal tersebut dan mengabaikan kekurangannya. Maka, inilah orang yang paling sempurna di antara ketiganya.

🎙️Syaikh Prof. Dr. Abdussalam Asy-Syuwai’ir حفظه الله تعالى

– Pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
– Murid dari Syaikh Bin Baz rohimahullahu Ta’ala

====
Hadits yang disebutkan di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullah (no. 1469) dari sahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.

Sunnah Yang Terlupakan : Sunnah Mengangkat Pandangan Ke Langit Saat Berdo’a Ketika Keluar Rumah

SUNNAH MENGANGKAT PANDANGAN KE LANGIT SAAT BERDO’A KETIKA KELUAR RUMAH

Dari Ummul Mukminin, Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Tidaklah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam keluar dari rumahku melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu berdo’a,

اللهم أعوذُبك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ أو أَزِلَّ
أو أُزَلَّ أوأَظْلِمَ أوأُظْلَمَ أو أَجْهَلَ أو يُجْهَلَ عَلَيَّ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
– AN ADHILLA AW UDHOLLA,
– AW AZILLA AW UZALLA,
– AW AZHLIMA AW UZHLAMA,
– AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu :
– dari tersesat atau disesatkan,
– dari tergelincir atau digelincirkan,
– dari menzholimi atau dizholimi,
– atau dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan bodoh..”

(Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Abi Dawud, No. 5094)

📌 Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah berkata,

“Pada awal hadits disebutkan: ‘Melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit..’

maksudnya adalah isyarat akan ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla, karena beliau sedang memohon dan berdo’a kepada Allah…”

Ini adalah salah satu do’a Rosulullah yang mulia shollallahu ‘alayhi wasallam saat keluar dari rumahnya.

Beliau membaca do’a yang agung ini sebagai permohonan keselamatan dari:
– Kesesatan
– Ketergelinciran (kesalahan)
– Kezholiman
– Kebodohan

📌 Kesimpulan: Disyariatkan untuk mengangkat pandangan ke langit saat mengucapkan do’a ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.

(Dikutip dari Kitab Syarah Sunan Abi Dawud karya Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah, Juz 578, hal. 8)

Akhlak Yang Baik

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik .. dan sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata kotor lagi kasar..”

(HR. At Tirmidzi no. 2002 – Ash Shohihah no. 876)

📌 Berikut adalah penjelasan beberapa Ulama -rohimahumullah- terkait kriteria akhlak yang baik.

● Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata,

“Engkau bersabar atas apa yang datang dari manusia (gangguan mereka) dan engkau tidak marah kepada mereka..” (Al-Adab asy-Syar’iyyah – 2/204)

● Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

“Jika engkau ingin ditemani oleh seseorang, maka carilah orang yang memiliki akhlak baik. Karena orang yang berakhlak baik tidak akan melakukan kecuali kebaikan.

Jika engkau berbuat buruk padanya, ia tetap bersabar; dan jika engkau berbuat baik padanya, ia akan bersyukur..” (Hilyatul Auliyaa’ – 8/96)

● Abdullah bin Al Mubarak rohimahullah berkata,

“Akhlak yang baik adalah wajah yang senantiasa ceria, mengerahkan kebaikan (harta/tenaga), dan menahan diri dari mengganggu orang lain..” (Jamii’ul ‘Uluum wal Hikam – 1/454)

📌 Secara umum, para ulama salaf merumuskan akhlak mulia ke dalam tiga pilar utama:

● Ringan tangan dalam membantu sesama,

● Tidak menyakiti orang lain (baik lisan maupun perbuatan),

● Sabar saat diganggu/disakiti orang lain, dan menunjukkan wajah yang ramah dan menyenangkan saat bertemu.

Diantara Bentuk Rasa Malu Kepada Allah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla..”

Para sahabat menjawab, “Kami sudah merasa malu, wahai Rosulullah..”

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi barangsiapa yang benar-benar merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka dia harus :
– menjaga kepala beserta isinya,
– menjaga perut beserta isinya, dan
– dia terus mengingat kematian.
Orang yang menginginkan akherat, dia pasti akan meninggalkan keindahan dunia.

Barangsiapa melakukan ini berarti dia benar-benar merasa malu kepada Allah..”

(HR. Ahmad dan At Tirmidzi)

📌 Dalam hadits di atas, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan dengan gamblang sifat orang yang tertanam rasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam lubuk hatinya. Yaitu dia terus berusaha :
– menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tidak berbuat dosa dan maksiat,
– senantiasa ingat kematian,
– tidak punya keinginan yang muluk-muluk terhadap dunia dan tidak terlena dengan nafsu syahwat.

Orang yang merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia akan menjauhi semua larangan Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala kondisi, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memiliki rasa malu kepada-Nya dengan rasa malu yang sebenarnya, aamiin.

ref : https://almanhaj.or.id/61101-esensi-malu-dalam-kehidupan-2.html

Amalan Amalan Sunnah Terkait Idul Fitri


📌 AMALAN-AMALAN SUNNAH TERKAIT IDUL FITRI

1. BERHIAS DI HARI RAYA

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengenakan jubah merah pada hari raya..” (Silsilah ash-Shohihah no. 1279)

(Catatan: Wanita tidak boleh menampakkan perhiasan mereka di depan laki-laki dan harus mengenakan hijab yang benar).

2. MANDI DI HARI RAYA SEBELUM KELUAR RUMAH

Nafi’ rohimahullah berkata, “Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa biasa mandi pada hari raya sebelum berangkat ke tempat sholat..” (Al-Muwattho’ 384).

3. MEMAKAN KURMA DALAM JUMLAH GANJIL SEBELUM SHOLAT ID

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tidak akan keluar pada hari raya Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya dalam jumlah ganjil..” (Shohih al-Bukhari no. 953).

4. BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT

Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam biasa keluar untuk sholat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki..” (Sunan Ibnu Majah no. 1078).

5. MENGAMBIL JALAN YANG BERBEDA SAAT PERGI DAN PULANG SHOLAT

Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila hari raya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengambil jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang)..” (Shohih al-Bukhari no. 986).

6. MENGUMANDANGKAN TAKBIR SEJAK KELUAR RUMAH HINGGA SHOLAT ID DIMULAI

Al-Zuhri rohimahullah berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar pada hari raya dan terus bertakbir hingga sampai ke tempat sholat. Beliau juga terus bertakbir hingga sholat selesai. Setelah sholat selesai, beliau berhenti bertakbir..” (Silsilah ash-Shohihah 171).

7. MENDENGARKAN KHUTBAH

Abdullah bin al-Sa’ib rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menghadiri sholat Id bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan beliau mengimami kami. Kemudian beliau bersabda, ‘Kami telah menyelesaikan sholat. Barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang ingin pergi maka silakan..’ (Shohiih al-Jaami’ 4376).

8. SALING BERTUKAR UCAPAN SELAMAT

Jubair bin Nufayr rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengucapkan satu sama lain ketika bertemu di hari raya: Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian)..” (Tamaam al-Minnah 354).

Belum Berakhir Sampai Benar Benar Berakhir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya malam itu (Laylatul Qodr) malam yang ke 27 atau ke 29. Sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)..“

(HR. Ahmad 2/519 no.10745)
Lihat Shohiih Al Jaami’ no.5473

======================

● Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata,

​Sekelompok ahli ilmu berpendapat bahwa Laylatul Qodr :

– pada setiap bulan Ramadhan jatuh pada malam ke-21,

– yang lain berpendapat pada malam ke-23 di setiap Ramadhan, dan

– yang lain lagi berpendapat pada malam ke-27 di setiap Ramadhan,

sementara yang lainnya berpendapat bahwa malam tersebut berpindah-pindah di setiap malam ganjil pada sepuluh malam terakhir .. dan ini, menurut kami, adalah pandangan yang benar, insyaa Allah.

​(At-Tamhiid – 14/431)

======================

● Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata,

Janganlah kalian menyangka bahwa malam ke-27 adalah akhir dari pencarian Laylatul Qodr.

Sungguh, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda, ‘Carilah ia di malam-malam ganjil..’ dan malam ke-29 termasuk di dalamnya.

Bahkan, malam ke-29 adalah malam ganjil terakhir di bulan ini.

Maka, barangsiapa yang bersungguh sungguh di dalamnya, ia sedang menutup bulannya dengan amalan terbaik.

(Majalis Syahri Ramadhan – 176/178)

======================

📌 Ramadhan masih belum berakhir kawan .. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mencari malam Laylatul Qodr hingga pada malam terakhir .. semoga Allah memberikan kemudahan ..

semangaat..

Jika Tidak Terampuni Di Bulan Ramadhan, Maka Jangan Salahkan Siapapun Kecuali Diri Sendiri

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh terhina seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni..”

(HR. At Tirmidzi & Al Hakim)

📌 Al Imam Ash Shonʿani rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya ini (Ramadhan) adalah bulan di mana dosa-dosa diampuni dan amal ketaatan dilipat-gandakan.

Tidaklah bulan ini berlalu kecuali Allah telah mengampuni mereka yang berbalik menuju ketaatan kepada-Nya dan telah memaafkan perbuatan buruk mereka.

Maka, barangsiapa yang tidak diampuni, ia hanyalah mendatangkan (kerugian) itu pada dirinya sendiri, dan tidaklah ada yang berakhir binasa kecuali orang yang membinasakan dirinya sendiri.

Dengan demikian, ia menjadi layak menerima do’a agar Allah menghinakannya karena kelalaiannya terhadap hak Allah dan karena ia justru berpaling kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diridhoi-Nya..”

(At Tanwir Sharh Al Jaami‘ Ash Shoghiir 6/249)

➡️ Catatan : Ungkapan bahasa Arab dalam hadits tersebut secara harfiah berarti “semoga hidungnya tersungkur ke tanah/debu” .. yang bermakna penghinaan dan perendahan (karena kerugian yang sangat besar).

Posisi Duduk Yang Terlarang

Syariid bin Suwaid rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang punggungku. Beliau bersabda, “apakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang orang yang dimurkai Allah..?”

(HR. Abu Dawud no. 4848)
Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih

● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Duduk dengan bersandar pada tangan kiri disifatkan dengan duduk orang yang dimurkai
Allah.

Adapun meletakkan kedua tangan di
belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan
kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa.

Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana disifati Nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri
tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran.
Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan..”

(Syarh Riyadhus Sholihin)

📌 Saat duduk di lantai sambil membaca Alqur’an atau dzikir setelah selesai sholat.. apakah kebiasaan anda duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang punggung dan menjadikannya sebagai sandaran atau tumpuan..?

 

jika iya, maka rubahlah kebiasaan tersebut.

Bilamana ada pertanyaan, “kenapa sampai duduk seperti itu dilarang ?”

Maka jawabannya, bahwa duduk semacam itu adalah duduknya orang orang yang dimurkai Allah (maghdhuub ‘alaihim) sebagaimana yang disabdakan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dalam haditsnya (lihat poster 1).

Jika sudah disebutkan demikian, maka sikap kita adalah SAMI’NAA WA ATHO’NAA, kami dengar dan taat. Tidak perlu mencari dahulu hikmahnya baru kemudian mengamalkannya..

Memperbanyak Do’a Saat Sedang Berpuasa

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang do’anya tidak tertolak :
– orang yang berpuasa sampai ia berbuka,,
– pemimpin yang adil, dan
– do’a orang yang dizholimi.

(HR. Ahmad 2/305)

Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.

(Al-Majmu’, 6: 273)

Al Imam Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

Do’a orang yang sedang berpuasa mustajab, baik saat ia sedang berpuasa maupun saat ia berbuka puasa.

Oleh sebab itulah sahabat Ibnu Umar dahulu apabila berbuka puasa ia mengucapkan,

اَللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اِغْفِرْ لِيْ

ALLAAHUMMA YAA WAASI’AL MAGHFIROH, IGHFIR LII

“Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Luas Pengampunan-Nya, ampunilah aku..”

(Lathoiful Maa’rif, 1/211)