Category Archives: Hadits

Karakteristik Istri Sholehah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‘Maukah kalian aku beritahukan tentang wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni surga..?’

‘Yaitu wanita yang :
– penyayang (kepada suaminya),
– subur (banyak keturunan), dan
– selalu kembali (kepada suaminya) yaitu wanita yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti olehnya (dalam riwayat lain disebutkan, ‘jika suaminya marah kepadanya’) maka ia mendatangi suaminya, memegang tangannya, dan berkata,

‘Demi Allah, aku tidak akan merasakan tidur sampai engkau ridho..’

(HR. An-Nasa’i no. 257, dan Ath-Thabrani dalam Al Ausath no. 201, Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohiihah no. 287)

📌 Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan,

“Di antara hak suami atas istrinya adalah sang istri bersungguh sungguh untuk tidak membuat suaminya marah dan tidak menjadi marah kepadanya .. dan jika sang istri marah kepada suaminya atau ia membuat suaminya marah, maka ia segera kembali kepada suaminya untuk berusaha membuatnya ridho..”

(Huquuq az-Zawjain – hal. 36)

📌 Seorang istri yang sholehah tidak bersaing dengan suaminya, ia menjaga kedamaian rumah tangga, dan mencari ridho Allah melalui hal tersebut.

Kehidupan Di Surga

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan,

Bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku menyiapkan untuk hamba hamba-Ku yang sholeh sesuatu yang :
– tidak pernah dilihat mata,
– tidak pernah didengar telinga, dan
– tidak pernah terlintas dalam hati manusia..’

Kebenaran hal itu dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ [السجدة : ١٧]

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan..” (As-Sajdah/32: 17)

(HR. Al Bukhari – 3244, Muslim – 2824)

📌 Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Tidak ada sesuatu pun di surga yang menyerupai apa pun dari kehidupan dunia, kecuali sekedar nama saja (yang serupa)..!”

(Tafsir Ibn Abi Hatim: 260)

Sunnah Yang Terlupakan : Mengucapkan Salam Kepada Muslim Yang Tidak Kita Kenal

Dari Ath Thufail bin Ubay bin Ka’ab, suatu ketika ia mendatangi ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, kemudian ia berjalan bersamanya ke pasar.

Ath Thufail berkata, ‘Setiap kali ia bertemu dengan tukang loak (pedagang barang bekas),  pedagang, orang miskin, atau siapa saja, ia selalu mengucapkan salam..’

Ath Thufail melanjutkan, ‘Suatu hari aku datang lagi ke rumah Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, lalu ia ingin ikut menemaniku ke pasar..’

Aku pun bertanya, ’Apa yang engkau kerjakan di pasar sedangkan engkau tidak berjual beli, tidak menanyakan harga barang-barang, dan tidak pula mau duduk-duduk di pasar..’

Aku melanjutkan, ‘Sebaiknya kita duduk-duduk saja disini sambil bercakap-cakap..’

Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa langsung menjawab, ‘Wahai Abu Bathn (*), sesungguhnya kita pergi ke pasar semata-mata hanya ingin mengucapkan salam saja, yaitu kita ucapkan salam kepada kaum Muslimin mana saja yang kita jumpai..’

(HR. Malik – al-Muwaththo’ no. 912)
Hadits ini dishohihkan oleh Syu’aib al-Arna-uth. Lihat Riyaadush Shoolihîn no. 848

(*) panggilan untuk Ath Thufail karena perutnya besar.

=====
Amalan yang dilakukan oleh sahabat Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa dalam hadits di atas, adalah sesuai dengan sabda Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sbb :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhumaa bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, ‘Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik..?’

Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (Muslim) yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal..’

(HR. Al Bukhari no. 12/28 dan Muslim no. 39)

Hak Ibu Lebih Besar

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

Seorang laki-laki datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam lalu bertanya,

“Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu..”

(HR. Al Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548)

=====
Penjelasan Singkat

Para ulama (seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Hajar al-Asqolani -rohimahumallah-) menjelaskan mengapa ibu disebut tiga kali lebih banyak daripada ayah. Hal ini disebabkan karena ibu mengalami TIGA KESULITAN BESAR yang tidak dialami oleh ayah, yaitu:

– MASA KEHAMILAN (mengandung dengan susah payah).

– PROSES MELAHIRKAN (perjuangan antara hidup dan mati).

– MASA MENYUSUI (dan merawat di masa kecil).

Meskipun ayah juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, hadits ini menekankan bahwa porsi kasih sayang, perhatian, dan bakti seorang anak kepada ibu haruslah lebih besar.

● Ibnu Batthol rohimahullah berkata,

“Jika kedua orang tuamu memerintahkanmu untuk melakukan dua hal yang berbeda (dalam waktu yang bersamaan), maka penuhilah perintah ibumu karena haknya (untuk ditaati) adalah tiga kali lipat lebih besar (daripada ayahmu)..”

(Asy Syaamilah – 17/227)

Niscaya Engkau Beruntung

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena :
– hartanya,
– keturunannya,
– kecantikannya, dan
– agamanya
maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung..”

(HR. Al Bukhari no. 5090)

📌 apa makna kalimat ‘niscaya engkau beruntung’ ?

● Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

“Pilihlah yang agamanya baik karena wanita yang taat beragama akan :
– menjaga kehormatan dirinya,
– harta suaminya,
– mendidik anak-anaknya dengan baik, dan
– membantumu dalam urusan akhirat..”

(Syarh Shohih Muslim)

Para ulama salaf merinci apa saja “keberuntungan” yang didapat jika memprioritaskan faktor agama saat mencari pasangan hidup :

Keberuntungan Dunia: Rumah tangga akan diliputi ketenangan (sakinah). Istri yang beragama tidak akan banyak menuntut hal-hal materi yang di luar kemampuan suami (tidak serakah harta) dan tidak menyakiti dengan lisannya.

Keberuntungan Akhirat: Ia menjadi mitra dalam ketaatan. Jika suami lupa, ia mengingatkan. Jika suami malas, ia memotivasi untuk ibadah.

Keberuntungan Nasab: Ia adalah madrosatul uula (sekolah pertama) bagi anak-anak. Menikahi wanita sholehah berarti telah memberikan hak anak-anak untuk mendapatkan ibu yang baik.

Inilah hakikat keberuntungan yang sebenarnya.

ARTIKEL TERKAIT
Memilih Istri

Sikap Yang Sempurna Dari Suami Terhadap Istrinya

“Dan Hadis ini, seandainya seseorang menjadikannya sebagai cahaya penuntun di depan matanya, niscaya banyak masalah akan terselesaikan.

Telah diriwayatkan secara shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa beliau bersabda, ‘Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci salah satu tabiatnya, niscaya ia akan ridha dengan tabiatnya yang lain..’

Para ulama mengatakan bahwa manusia dalam menerapkan Hadis ini terbagi menjadi tiga golongan:

Dua golongan yang berlebih lebihan sehingga mereka salah, dan satu golongan yang berada di pertengahan sehingga mereka berbuat baik.

Adapun dua golongan yang salah tersebut adalah :

GOLONGAN PERTAMA : Laki-laki yang hanya melihat pada keburukan pasangannya saja. Barangsiapa yang hanya melihat keburukan dan melupakan kebaikan, maka laki-laki tersebut tidak akan merasa bahagia dalam pernikahannya dan hidupnya tidak akan tenang, bahkan seluruh hidupnya akan dipenuhi dengan keluh kesah.

GOLONGAN KEDUA : Golongan yang membanding-bandingkan antara sifat yang baik dan buruk. Orang ini pun salah, namun sebenarnya kesalahannya tidaklah fatal karena penyimpangannya dari kebenaran lebih sedikit. Laki-laki ini, jika ia menimbang antara sifat baik dan buruk wanita tersebut, maka ia akan memperlakukannya dengan adil, namun hal ini pun belum dianggap baik.

Adapun sifat kesempurnaan adalah:
GOLONGAN KETIGA : Orang yang fokus pada sifat-sifat baik istrinya dan melihat pada kesempurnaan akhlak yang dimilikinya. Ia memuji istrinya atas hal-hal tersebut dan mengabaikan kekurangannya. Maka, inilah orang yang paling sempurna di antara ketiganya.

🎙️Syaikh Prof. Dr. Abdussalam Asy-Syuwai’ir حفظه الله تعالى

– Pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
– Murid dari Syaikh Bin Baz rohimahullahu Ta’ala

====
Hadits yang disebutkan di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullah (no. 1469) dari sahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.

Sunnah Yang Terlupakan : Sunnah Mengangkat Pandangan Ke Langit Saat Berdo’a Ketika Keluar Rumah

SUNNAH MENGANGKAT PANDANGAN KE LANGIT SAAT BERDO’A KETIKA KELUAR RUMAH

Dari Ummul Mukminin, Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Tidaklah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam keluar dari rumahku melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu berdo’a,

اللهم أعوذُبك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ أو أَزِلَّ
أو أُزَلَّ أوأَظْلِمَ أوأُظْلَمَ أو أَجْهَلَ أو يُجْهَلَ عَلَيَّ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
– AN ADHILLA AW UDHOLLA,
– AW AZILLA AW UZALLA,
– AW AZHLIMA AW UZHLAMA,
– AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu :
– dari tersesat atau disesatkan,
– dari tergelincir atau digelincirkan,
– dari menzholimi atau dizholimi,
– atau dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan bodoh..”

(Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Abi Dawud, No. 5094)

📌 Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah berkata,

“Pada awal hadits disebutkan: ‘Melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit..’

maksudnya adalah isyarat akan ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla, karena beliau sedang memohon dan berdo’a kepada Allah…”

Ini adalah salah satu do’a Rosulullah yang mulia shollallahu ‘alayhi wasallam saat keluar dari rumahnya.

Beliau membaca do’a yang agung ini sebagai permohonan keselamatan dari:
– Kesesatan
– Ketergelinciran (kesalahan)
– Kezholiman
– Kebodohan

📌 Kesimpulan: Disyariatkan untuk mengangkat pandangan ke langit saat mengucapkan do’a ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.

(Dikutip dari Kitab Syarah Sunan Abi Dawud karya Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah, Juz 578, hal. 8)

Akhlak Yang Baik

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik .. dan sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata kotor lagi kasar..”

(HR. At Tirmidzi no. 2002 – Ash Shohihah no. 876)

📌 Berikut adalah penjelasan beberapa Ulama -rohimahumullah- terkait kriteria akhlak yang baik.

● Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata,

“Engkau bersabar atas apa yang datang dari manusia (gangguan mereka) dan engkau tidak marah kepada mereka..” (Al-Adab asy-Syar’iyyah – 2/204)

● Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

“Jika engkau ingin ditemani oleh seseorang, maka carilah orang yang memiliki akhlak baik. Karena orang yang berakhlak baik tidak akan melakukan kecuali kebaikan.

Jika engkau berbuat buruk padanya, ia tetap bersabar; dan jika engkau berbuat baik padanya, ia akan bersyukur..” (Hilyatul Auliyaa’ – 8/96)

● Abdullah bin Al Mubarak rohimahullah berkata,

“Akhlak yang baik adalah wajah yang senantiasa ceria, mengerahkan kebaikan (harta/tenaga), dan menahan diri dari mengganggu orang lain..” (Jamii’ul ‘Uluum wal Hikam – 1/454)

📌 Secara umum, para ulama salaf merumuskan akhlak mulia ke dalam tiga pilar utama:

● Ringan tangan dalam membantu sesama,

● Tidak menyakiti orang lain (baik lisan maupun perbuatan),

● Sabar saat diganggu/disakiti orang lain, dan menunjukkan wajah yang ramah dan menyenangkan saat bertemu.

Diantara Bentuk Rasa Malu Kepada Allah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla..”

Para sahabat menjawab, “Kami sudah merasa malu, wahai Rosulullah..”

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi barangsiapa yang benar-benar merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka dia harus :
– menjaga kepala beserta isinya,
– menjaga perut beserta isinya, dan
– dia terus mengingat kematian.
Orang yang menginginkan akherat, dia pasti akan meninggalkan keindahan dunia.

Barangsiapa melakukan ini berarti dia benar-benar merasa malu kepada Allah..”

(HR. Ahmad dan At Tirmidzi)

📌 Dalam hadits di atas, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan dengan gamblang sifat orang yang tertanam rasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam lubuk hatinya. Yaitu dia terus berusaha :
– menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tidak berbuat dosa dan maksiat,
– senantiasa ingat kematian,
– tidak punya keinginan yang muluk-muluk terhadap dunia dan tidak terlena dengan nafsu syahwat.

Orang yang merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia akan menjauhi semua larangan Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala kondisi, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memiliki rasa malu kepada-Nya dengan rasa malu yang sebenarnya, aamiin.

ref : https://almanhaj.or.id/61101-esensi-malu-dalam-kehidupan-2.html

Amalan Amalan Sunnah Terkait Idul Fitri


📌 AMALAN-AMALAN SUNNAH TERKAIT IDUL FITRI

1. BERHIAS DI HARI RAYA

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengenakan jubah merah pada hari raya..” (Silsilah ash-Shohihah no. 1279)

(Catatan: Wanita tidak boleh menampakkan perhiasan mereka di depan laki-laki dan harus mengenakan hijab yang benar).

2. MANDI DI HARI RAYA SEBELUM KELUAR RUMAH

Nafi’ rohimahullah berkata, “Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa biasa mandi pada hari raya sebelum berangkat ke tempat sholat..” (Al-Muwattho’ 384).

3. MEMAKAN KURMA DALAM JUMLAH GANJIL SEBELUM SHOLAT ID

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tidak akan keluar pada hari raya Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya dalam jumlah ganjil..” (Shohih al-Bukhari no. 953).

4. BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT

Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam biasa keluar untuk sholat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki..” (Sunan Ibnu Majah no. 1078).

5. MENGAMBIL JALAN YANG BERBEDA SAAT PERGI DAN PULANG SHOLAT

Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila hari raya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengambil jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang)..” (Shohih al-Bukhari no. 986).

6. MENGUMANDANGKAN TAKBIR SEJAK KELUAR RUMAH HINGGA SHOLAT ID DIMULAI

Al-Zuhri rohimahullah berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar pada hari raya dan terus bertakbir hingga sampai ke tempat sholat. Beliau juga terus bertakbir hingga sholat selesai. Setelah sholat selesai, beliau berhenti bertakbir..” (Silsilah ash-Shohihah 171).

7. MENDENGARKAN KHUTBAH

Abdullah bin al-Sa’ib rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menghadiri sholat Id bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan beliau mengimami kami. Kemudian beliau bersabda, ‘Kami telah menyelesaikan sholat. Barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang ingin pergi maka silakan..’ (Shohiih al-Jaami’ 4376).

8. SALING BERTUKAR UCAPAN SELAMAT

Jubair bin Nufayr rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengucapkan satu sama lain ketika bertemu di hari raya: Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian)..” (Tamaam al-Minnah 354).