Category Archives: Hadits

Belum Berakhir Sampai Benar Benar Berakhir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya malam itu (Laylatul Qodr) malam yang ke 27 atau ke 29. Sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)..“

(HR. Ahmad 2/519 no.10745)
Lihat Shohiih Al Jaami’ no.5473

======================

● Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata,

​Sekelompok ahli ilmu berpendapat bahwa Laylatul Qodr :

– pada setiap bulan Ramadhan jatuh pada malam ke-21,

– yang lain berpendapat pada malam ke-23 di setiap Ramadhan, dan

– yang lain lagi berpendapat pada malam ke-27 di setiap Ramadhan,

sementara yang lainnya berpendapat bahwa malam tersebut berpindah-pindah di setiap malam ganjil pada sepuluh malam terakhir .. dan ini, menurut kami, adalah pandangan yang benar, insyaa Allah.

​(At-Tamhiid – 14/431)

======================

● Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata,

Janganlah kalian menyangka bahwa malam ke-27 adalah akhir dari pencarian Laylatul Qodr.

Sungguh, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda, ‘Carilah ia di malam-malam ganjil..’ dan malam ke-29 termasuk di dalamnya.

Bahkan, malam ke-29 adalah malam ganjil terakhir di bulan ini.

Maka, barangsiapa yang bersungguh sungguh di dalamnya, ia sedang menutup bulannya dengan amalan terbaik.

(Majalis Syahri Ramadhan – 176/178)

======================

📌 Ramadhan masih belum berakhir kawan .. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mencari malam Laylatul Qodr hingga pada malam terakhir .. semoga Allah memberikan kemudahan ..

semangaat..

Jika Tidak Terampuni Di Bulan Ramadhan, Maka Jangan Salahkan Siapapun Kecuali Diri Sendiri

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh terhina seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni..”

(HR. At Tirmidzi & Al Hakim)

📌 Al Imam Ash Shonʿani rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya ini (Ramadhan) adalah bulan di mana dosa-dosa diampuni dan amal ketaatan dilipat-gandakan.

Tidaklah bulan ini berlalu kecuali Allah telah mengampuni mereka yang berbalik menuju ketaatan kepada-Nya dan telah memaafkan perbuatan buruk mereka.

Maka, barangsiapa yang tidak diampuni, ia hanyalah mendatangkan (kerugian) itu pada dirinya sendiri, dan tidaklah ada yang berakhir binasa kecuali orang yang membinasakan dirinya sendiri.

Dengan demikian, ia menjadi layak menerima do’a agar Allah menghinakannya karena kelalaiannya terhadap hak Allah dan karena ia justru berpaling kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diridhoi-Nya..”

(At Tanwir Sharh Al Jaami‘ Ash Shoghiir 6/249)

➡️ Catatan : Ungkapan bahasa Arab dalam hadits tersebut secara harfiah berarti “semoga hidungnya tersungkur ke tanah/debu” .. yang bermakna penghinaan dan perendahan (karena kerugian yang sangat besar).

Posisi Duduk Yang Terlarang

Syariid bin Suwaid rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang punggungku. Beliau bersabda, “apakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang orang yang dimurkai Allah..?”

(HR. Abu Dawud no. 4848)
Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih

● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Duduk dengan bersandar pada tangan kiri disifatkan dengan duduk orang yang dimurkai
Allah.

Adapun meletakkan kedua tangan di
belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan
kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa.

Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana disifati Nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri
tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran.
Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan..”

(Syarh Riyadhus Sholihin)

📌 Saat duduk di lantai sambil membaca Alqur’an atau dzikir setelah selesai sholat.. apakah kebiasaan anda duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang punggung dan menjadikannya sebagai sandaran atau tumpuan..?

 

jika iya, maka rubahlah kebiasaan tersebut.

Bilamana ada pertanyaan, “kenapa sampai duduk seperti itu dilarang ?”

Maka jawabannya, bahwa duduk semacam itu adalah duduknya orang orang yang dimurkai Allah (maghdhuub ‘alaihim) sebagaimana yang disabdakan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dalam haditsnya (lihat poster 1).

Jika sudah disebutkan demikian, maka sikap kita adalah SAMI’NAA WA ATHO’NAA, kami dengar dan taat. Tidak perlu mencari dahulu hikmahnya baru kemudian mengamalkannya..

Memperbanyak Do’a Saat Sedang Berpuasa

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang do’anya tidak tertolak :
– orang yang berpuasa sampai ia berbuka,,
– pemimpin yang adil, dan
– do’a orang yang dizholimi.

(HR. Ahmad 2/305)

Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.

(Al-Majmu’, 6: 273)

Al Imam Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

Do’a orang yang sedang berpuasa mustajab, baik saat ia sedang berpuasa maupun saat ia berbuka puasa.

Oleh sebab itulah sahabat Ibnu Umar dahulu apabila berbuka puasa ia mengucapkan,

اَللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اِغْفِرْ لِيْ

ALLAAHUMMA YAA WAASI’AL MAGHFIROH, IGHFIR LII

“Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Luas Pengampunan-Nya, ampunilah aku..”

(Lathoiful Maa’rif, 1/211)

Beberapa Dzikir & Do’a Saat Mengalami Kesedihan & Kesulitan

Diantara do’a dan dzikir yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam saat menghadapi kesedihan dan kesulitan, seperti yang terkait dengan :

– musibah banjir bandang,
– tanah longsor,
– kehilangan orang yang dicintai,
– kehilangan harta benda,
– ekonomi,
– penyakit,
– masalah rumah tangga, dll

qoddarallah wa maa syaa-a fa’al.

jangan lupa adab sebelum berdo’a

Do’a Memohon Perlindungan Allah Dari Keburukan Malam, Waktu, Teman Dan Tetangga

mari kita hafalkan lafazhnya dan pahami maknanya sehingga dapat bersungguh-sungguh saat memanjatkan do’a ini, terutama di waktu-waktu mustajab seperti saat hujan, 1/3 malam terakhir, Jum’at sore, saat sujud dan sebelum salam (dalam sholat).

jangan lupa sebelum berdo’a :

– puji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh) : yaa Hayyu yaa Qoyyuum..

– lalu baca sholawat (contoh) : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

– mulailah berdo’a

Sedekah Darimu Untuk Dirimu

● Dari Abu Dzar rodhiyallahu ’anhu beliau berkata,

يا رسول الله! أرأيت إن ضعفت عن بعض العمل ؟
قال : (تكف شرك عن الناس، فإنها صدقة منك على نفسك).

“Wahai Rosulullah, bagaimana menurut pandangan anda jika aku lemah (tidak mampu) untuk melakukan sebagian amal..?”

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pun bersabda,

“Engkau menahan diri (untuk tidak) melakukan keburukan terhadap manusia, sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri..”

(HR. Al Bukhari dan Muslim)

● Ibrahim bin Adham rohimahullah berkata,

“Siapa yang tidak dapat membantu manusia dengan harta, makanan dan minuman, maka setidaknya ia tersenyum kepada mereka dan berakhlak mulia..”

(Hilyah Auliyaa – 7/389)


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Agar Rasa Takjub Tidak Mendatangkan Bencana

Dari Abu Umamah rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‏ (( إذا رأى أحدكم من أخيه ما يعجبه ، فليدع له بالبركة ))

“Apabila seseorang dari kalian melihat pada saudaranya yang membuatmu kagum maka do’akanlah ia dengan keberkahan..”

(HR Ibnu Majah no 3509 dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

● Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolany rohimahullah berkata,

ﻭإﻥَّ ﺍﻟﻌﻴْﻦ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻊ ﺍﻹﻋﺠﺎﺏ ﻭﻟﻮ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﺴﺪ، ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻤﺤﺐ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺒﺎﺩﺭ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﺬﻱ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﺑﺎﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺭﻗﻴﺔ ﻣﻨﻪ.

“Sesungguhnya ’ain (musibah akibat pandangan mata) bisa terjadi menyertai kekaguman :
– walaupun tanpa adanya hasad,
– walaupun munculnya dari seseorang yang mencintai dan dari orang yang sholeh.

Maka seseorang yang takjub hendaknya segera mendo’akan barokah terhadap sesuatu yang membuatnya takjub tersebut, dan hal itu menjadi ruqyah darinya..”

(Fathul Bary, – 10 / 205)

=======
📌 ketika kita takjub/kagum kepada saudara kita, maka kita ucapkan untuknya: Allaahumma baarik LAHU (L) / LAHAA (P) .. (*)

(*) bagaimana bila jumlah orangnya lebih dari satu, bagaimana mengucapkannya..?

baca tambahan penjelasannya berikut ini :
https://t.me/bbg_alilmu/15431

=======
📌 DUA DO’A MELINDUNGI DIRI DAN ANAK DARI ‘AIN – PENGARUH MATA JAHAT

https://bbg-alilmu.com/archives/35100

Semoga bermanfaat, baarokallahu fiikum.

Diantara Keutamaan Kalimat Subhaanallah Dan Alhamdulillah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam  bersabda,

– bersuci itu separuh dari iman,
– ucapan ALHAMDULILLAH (segala puji bagi Allah) itu memenuhi timbangan
– ucapan SUBHANALLAH (Mahasuci Allah) dan ALHAMDULILLAH (segala puji bagi Allah), keduanya memenuhi antara langit dan bumi
– sholat adalah cahaya,
– sedekah adalah bukti keimanan,
– kesabaran adalah sinar,
– Alqur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang melawanmu.
– setiap pagi manusia menjual dirinya, ada yang untuk menyelamatkan dirinya (dari api neraka) atau membinasakan dirinya (dalam api neraka).

(HR. Muslim, no. 223)

======
ARTIKEL TERKAIT

Keutamaan 4 Kalimat Mulia

Jangan Menyebarkan Hadits Palsu Tentang Amalan Khusus Di Bulan Rojab

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku .. barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka..”

(HR. Al Bukhari no 1291, Muslim no 4)

● Al Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyyah rohimahullahu Ta’ala berkata,

“Dan semua hadits yang berbicara tentang puasa Rojab dan sholat pada sebagian malamnya adalah
dusta yang diada-adakan..”

(Al-Manaarul Muniif, 96)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Tentang puasa, tidak ada satu pun hadits shohih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam atau sahabatnya tentang keutamaan puasa Rojab secara khusus..”

(Lathoif al-Maarif – 140)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Adapun tentang sholat, tidak ada hadits yang shohih tentang sholat tertentu yang dilakukan pada bulan Rojab. Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan sholat roghoib pada malam Jum’at pertama bulan Rojab adalah bohong, batil dan tidak sah..”

(Lathoif al-Maarif – 140)