Tj Nikah Dengan Niat Talak

192. BBG Al Ilmu

Pertanyaan:
Ana dapat tlsn ini dr teman. Apa bisa di percaya isi nya? Menurut teman, sejata syiah Berikut FATWA SYEKH BIN BAZ “NIKAH DENGAN NIAT TALAK” yang dikutip dari buku “Majmuk Fatawa”-nya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah, Jilid 4
hal 29-30.

-NIKAH DENGAN NIAT (AKAN) DI TALAQ-
Pertanyaan:

Saya mendengar bahwa anda berfatwa kepada salah seorang polisi bahwa diperbolehkan nikah di negeri rantau (negeri tempat merantau), dimana dia bermaksud untuk mentalak istrinya setelah masa tertentu bila habis masa tugasnya. Apa perbedaan nikah semacam ini dengan nikah mut’ah? Dan bagaimana kalau si wanita melahirkan anak? Apakah anak yang dilahirkan dibiarkan bersama ibunya yang sudah ditalak di negara itu? Saya mohon penjelasanya.

Jawab :

Benar… Telah keluar fatwa dari “Lajnah Daimah”, di mana saya adalah ketuanya, bahwa dibenarkan nikah dengan niat (akan) talak sebagai
urusan hati antara hamba dan Tuhannya. Jika seseorang menikah di negara lain (di rantau) dan niat bahwa kapan saja selesai dari masa belajar atau tugas kerja, atau lainnya, maka hal itu dibenarkan menurut jumhur para ulama. Dan niat talak semacam ini adalah urusan antara dia dan Tuhannya, dan bukan merupakan syarat dari sahnya nikah. Dan perbedaan antara nikah ini dan nikah mut’ah adalah dalam nikah mut’ah disyaratkan masa tertentu, seperti satu bulan, dua bulan, dan semisalnya. Jika masa tersebut habis, nikah tersebut gugur dengan sendirinya. Inilah nikah mut’ah yang batil itu. Tetapi jika seseorang menikah, di mana dalam hatinya berniat untuk mentalak istrinya bila tugasnya berakhir di negara lain, maka hal ini tidak merusak akad nikah. Niat itu bisa berubah-ubah, tidak pasti, dan bukan merupakan syarat sahnya nikah. Niat semacam ini hanyalah urusan dia dan Tuhannya. Dan cara ini merupakan salah satu sebab terhindarnya dia dari
perbuatan zina dan kemungkaran. Inilah pendapat para pakar (ahl al-ilm), yang dikutip oleh penulis Al-Mughni Muwaffaquddin bin Qudamah
rahimahullah.

 

Jawaban:
Sepertinya fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah tidak disajikan utuh, inilah kutipan akhir fatwa beliau:
“Akan tetapi meninggalkan niat ini lebih utama karena berhati-hati terhadap agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ulama. Dan karena ia tidak membutuhkan niat ini, dan karena pernikahan tidak dilarang bercerai apabila ia melihat kebaikan dalam hal itu, sekalipun ia tidak berniat saat menikah. (Syaikh Bin Baz –Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 5/41-43)

Berikut Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa 18/448-449, yang beliau pimpin:
‫‫ ‬‬”Nikah dengan niat talak adalah menikah dalam batas waktu tertentu, dan menikah yang ditentukan masanya adalah pernikahan yang batil, karena ia adalah nikah mut’ah dan mut’ah diharamkan secara ijma’. Menikah yang benar adalah: bahwa ia menikah dengan niat tetap berada dalam ikatan perkawinan. Jika istrinya cocok baginya dan sesuai niscaya ia tetap bersamanya dan jika tidak ia menceraikannya. Firman Allah
subhanahu wa ta’ala:‬‬
“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (Qs 2/229)
والله أعلم بالصواب

Untuk ulasan lengkap, silahkan buka link berikut:
http://almanhaj.tohaboy.web.id/content/2420/slash/0/permasalahan-orang-yang-menikah-dengan-niat-akan-menceraikan/index.html

http://www.alsofwa.com/4530/658-fatwa-hukum-menikah-di-luar-negeri-dengan-niat-talak-dan-bedanya-dengan-nikah-mutah.html

http://almanhaj.tohaboy.web.id/content/1421/slash/0/menikah-dengan-niat-talak/index.html‬

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

 

——-*******Fatwa yang utuh********__________

Pertanyaan 2:

Sebagian kaum muslimin ada yang pergi untuk belajar dan yang lainnya ke luar negeri, bolehkah ia menikah dengan niat talak? Apakah perbedaan antara nikah tersebut diatas dan nikah mut’ah? Saya mengharapkan penjelasan tentang hal ini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepadamu.

    Jawaban 2:

Menikah di luar negeri mempunyai bahaya yang besar, oleh karena itu, tidak boleh safar ke luar negeri kecuali dengan beberapa syarat penting, dan karena safar ke luar negeri bisa membawa kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maksiat kepada -Nya seperti meminum arak, berzinah dan berbagai perbuatan keji lainnya. Karena alasan ini, para ulama berfatwa haram safar ke negeri kufur, karena mengamalkan hadits:

قال رسول الله  : (أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ)

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang menetap di tengah-tengah orang kafir.”  maka menetap di antara mereka sangat berbahaya, sama saja untuk rekreasi, atau belajar, atau berdagang, atau keperluan lainnya. Para pelajar dari tingkat SMA dan SMP, atau belajar di universitas di luar negeri berada dalam bahaya besar. Negara harus menyediakan sarana pendidikan di dalam negeri dan tidak mengijinkan mereka safar ke luar negeri, karena mengandung bahaya besar.

    Dari perbuatan itu muncul bahaya yang sangat banyak seperti murtad dan menganggap remeh perbuatan maksiat, seperti zinah, minum arak dan yang lebih berat dari itu adalah meninggalkan shalat. Sebagaimana sudah jelas bagi orang yang memperhatikan orang yang safar ke luar negeri kecuali yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka sangat sedikit. Wajib menghalangi mereka dari hal itu dan tidak boleh safar kecuali orang-orang yang dikenal kuat agama, iman, dan ilmunya, dan keutamaannya apabila untuk dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau untuk keperluan khusus yang dibutuhkan negara Islam.

    Kepada orang yang safar dan dikenal punya ilmu dan iman, harus tetap istiqamah sehingga ia berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan ilmu yang ia dalami dan dikirim karenanya. Dan apabila ada ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan  dan tidak ada yang mengajarkannya dan tidak bisa mendatangkan orang yang bisa mengajarkannya, maka hendaknya yang diutus adalah orang yang dikenal taat beragama, iman yang kuat, berilmu dan mempunyai keutamaan-keutamaan seperti yang telah kami sebutkan.

    Adapun menikah dengan niat talak, maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama: di antara mereka ada yang membenci hal itu seperti Auza’i dan jama’ah, dan mereka berkata: sesungguhnya ia menyerupai mut’ah, maka ia tidak boleh menikah dengan niat talak menurut pendapat mereka. Dan mayoritas ulama berpendapat –seperti yang dikatakan al-Muwaffaq Ibnu Quddamah dalam al-Mughni: kepada bolehnya hal itu apabila niatnya adalah di antara dia dan Rabb-nya saja dan bukan syarat. Seperti ia safar untuk belajar, atau pekerjaan yang lain dan merasa khawatir terhadap dirinya, maka ia boleh menikah sekalipun ia berniat menceraikannya apabila tugasnya sudah selesai. Ini adalah pendapat yang kuat –apabila hal itu di antara dia dan Rabb-nya saja, tanpa syarat, tanpa memberitahukan istri dan tidak pula walinya. Mayoritas ulama berkata: tidak mengapa dengan hal itu –seperti telah dijelaskan- dan bukan termasuk nikah mut’ah, karena hanya di antara dia dan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ada persyaratan dalam hal itu.

    Adapun nikah mut’ah: ia mengandung syarat selama satu bulan, atau dua bulan, atau setahun, atau dua tahun di antara dia dan keluarga istri, atau di antara dia dan istri. Nikah ini dinamakan nikah mut’ah, dan hukum haram secara ijma’ dan tidak ada yang membolehkan kecuali rafhidhah. Hukumnya boleh di permulaan Islam kemudian dinasakh  dan diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala hingga hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Nabi .

    Adapun ia menikah di negari yang dia safar untuk belajar, atau sebagai duta besar, atau karena sebab yang lain yang ia boleh safar ke negeri kafir –maka ia boleh menikah dengan niat talak apabila ia ingin kembali seperti yang telah dijelaskan apabila ia ingin menikah karena khawatir terhadap dirinya. Akan tetapi meninggalkan niat ini lebih utama karena berhati-hati terhadap agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ulama. Dan karena ia tidak membutuhkan niat ini, dan karena pernikahan tidak dilarang bercerai apabila ia melihat kebaikan dalam hal itu, sekalipun ia tidak berniat saat menikah.

Syaikh Bin Baz –Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 5/41-43.

 

Pertanyaan 3:

Banyak terjadi di kalangan anak muda trend safar ke luar negeri untuk menikah dengan niat talak. Dan nikah adalah tujuan dalam safar karena berpegang terhadap fatwa dalam masalah ini. Kebanyakan orang memahami fatwa tersebut secara keliru, bagaimanakah hukumnya?

Jawaban 3:

Nikah dengan niat talak adalah menikah dalam batas waktu tertentu, dan menikah yang ditentukan masanya adalah pernikahan yang batil, karena ia adalah nikah mut’ah dan mut’ah diharamkan secara ijma’. Menikah yang benar adalah: bahwa ia menikah dengan niat tetap berada dalam ikatan perkawinan. Jika istrinya cocok baginya dan sesuai niscaya ia tetap bersamanya dan jika tidak ia menceraikannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (Qsal-Baqarah:229)

Wabillahittaufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa 18/448-449.

Hukum Nikah Dengan Niat Talak

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.