Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,
“Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia mengilhaminya untuk memohon kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya .. dan Dia menjadikan (tindakan) meminta pertolongan serta memohon kepada-Nya itu sebagai sarana untuk mendapatkan kebaikan yang telah Dia tetapkan baginya, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Al-Khattab rodhiyallahu ‘anhu,
‘Aku tidak merisaukan apakah (do’aku) akan dikabulkan dan dikaruniai (oleh Allah) .. satu-satunya yang menjadi perhatianku adalah tentang (kemampuan) memanjatkan do’a itu sendiri. Karena kapan pun aku diilhami untuk memohon kepada-Nya, sesungguhnya pengabulan dan karunia-Nya akan datang menyertainya..’
(Iqtida’ Ash-Shirooth Al-Mustaqiim – 2/229)
📌 Beberapa poin penting dan hikmah mendalam dari nasihat Imam Ibnu Taimiyyah rohimahullah :
DO’A ADALAH TANDA KASIH SAYANG ALLAH
Ketika Anda digerakkan untuk berdo’a, itu adalah sinyal bahwa Allah sedang merencanakan kebaikan untuk Anda. Keinginan untuk meminta bukan datang dari diri sendiri, melainkan “ilham” atau petunjuk langsung dari Allah.
IBADAH DO’A SEBAGAI “WASILAH” (SARANA)
Allah telah menetapkan takdir kebaikan bagi hamba-Nya, namun Dia menjadikan do’a sebagai kunci atau sebab (perantara) untuk membuka pintu takdir baik tersebut.
FOKUS PADA PROSES BERDO’A, BUKAN HASIL
Nasihat Umar bin Al-Khattab rodhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa tugas seorang hamba hanyalah meminta. Kekhawatiran kita seharusnya bukan pada “apakah Allah akan mengabulkan..?”, melainkan pada “apakah saya masih diberikan hidayah untuk mau meminta..?”.
