All posts by BBG Al Ilmu

Rezeki Tidak Akan Tertukar

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لِيَمُوتَ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ: أَخْذِ الْحَلَالِ، وَتَرْكِ الْحَرَامِ

“Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya.

Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram..”

(HR. Abdurazzaq dalam Al Mushannaf, Ibnu Hibban no. 3239 – Syaikh Al-Albani rohimahullah men-shohihkan hadits ini dalam kitab Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shohiihah No. 2607)

📌 Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

“Wahai anak Adam.. sesungguhnya engkau tidak dapat mendahului ajalmu, dan tidak ada yang dapat menghalangimu dari rezeki yang telah ditetapkan untukmu, dan (engkau juga) tidak akan diberi rezeki yang bukan bagianmu.

Lantas, mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga lalai dari Allah)..?! atas dasar apa engkau membinasakan dirimu..?!”

( Mawaizh Lil Imam Al Hasan al-Bashri – 91 )

📌 Abu Hazim Salamah bin Dinar rohimahullah berkata,

“Aku memikirkan tentang rezeki temyata aku mendapatinya dua macam.

Satu untukku yang pada saatnya akan aku dapatkan, maka aku tidak bisa menyegerakannya walaupun aku berusaha mendapatkannya dengan kekuatan langit dan bumi .. dan yang satunya lagi untuk orang lain. Jadi apa yang telah lalu tidak akan aku dapatkan, maka aku hanya mencari yang masih tersisa.

Rezekiku tidak akan dimiliki oleh orang lain sebagaimana rezeki orang lain tidak akan dimiliki oleh diriku. Lantas untuk yang mana aku akan menghabiskan umurku..?!”

( Hilyatul Auliya’ – 7/44 )

Kalau Begitu, Engkau Adalah Istriku

Berikut adalah kisah Syu’aib bin Harb rohimahullah, seorang Ulama besar dari generasi Tabi’ut Tabi’in.

102 – Ia (perawi) berkata,

Syu’aib bin Harb berniat untuk menikahi seorang wanita.

Maka ia berkata kepada wanita tersebut, “Sesungguhnya aku ini orang yang temperamental (mudah marah)..”

Wanita itu menjawab, “Yang lebih buruk darimu adalah orang yang membuatmu menjadi mudah marah..”

Mendengar jawaban bijak itu, Syu’aib berkata, “Kalau begitu, engkaulah istriku..”

(Taariikh Baghdad – 9/240)

📌 Wanita tersebut menyadari bahwa sifat mudah marah sering kali merupakan reaksi terhadap provokasi, kurangnya pengertian dari pasangan, atau karena tekanan dari luar. Secara tidak langsung wanita tersebut berkata, ‘Aku tidak akan melakukan hal-hal yang dapat memicu sifat temperamentalmu (mudah marah)..”

Mendengar jawaban tersebut, Syu’aib bin Harb rohimahullah menyadari bahwa wanita di hadapannya adalah sosok yang cerdas, yang siap melengkapi kekurangannya, dan mampu menjadi penenang di kala marahnya memuncak.

Maka tanpa ragu, Syu’aib bin Harb rohimahullah mengunci pilihannya saat itu juga dengan berkata, “Kalau begitu, engkaulah istriku..”

Diantara Hak Hak Para Ulama

Berikut adalah poin-poin ringkas mengenai kewajiban memuliakan serta menjaga hak-hak para ulama (berdasarkan perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu) :

1. KEUTAMAAN MENGHORMATI ULAMA

* Bagian dari Sunnah : Menghargai ulama merupakan perkara yang diperintahkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam} dan termasuk bagian dari Sunnah (sebagaimana perkataan Thawus bin Kaisan).

* Bentuk Pengagungan Kepada Allah : Memuliakan ulama karena ilmu dan Al-Qur’an yang ada pada diri mereka pada hakikatnya adalah bentuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

2. HAK-HAK ULAMA DAN ADAB SAAT BERINTERAKSI

* Membatasi Pertanyaan : Tidak berlebihan atau terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang tidak perlu kepada mereka.

* Tidak Membantah Jawaban : Menghindari sikap mendebat atau menyanggah ketika ulama sedang memberikan jawaban.

* Memahami Kondisi Ulama : Tidak terus-menerus mendesak dengan pertanyaan apabila melihat ulama tersebut sedang dalam kondisi lelah atau malas.

* Menjaga Sikap Fisik : Tidak memegang pakaian atau baju mereka ketika mereka hendak bangkit berdiri.

* Menjaga Rahasia : Wajib menyembunyikan dan tidak menyebarluaskan rahasia atau privasi para ulama.

* Melarang Ghibah : Tidak menggunjing (ghibah) atau membicarakan keburukan orang lain di hadapan mereka.

* Memaafkan Kekeliruan : Jika ulama melakukan kesalahan atau kekeliruan dalam ijtihad, hendaklah dimaafkan dan diterima alasannya.

* Mendahulukan Kebutuhan Mereka : Segera membantu atau memenuhi keperluan ulama sebelum mendahului kepentingan orang lain.

3. ADAB MENGHADIRI MAJELIS ULAMA

* Memberi Salam Khusus :  Mengucapkan salam secara khusus kepada ulama tersebut saat datang, lalu salam secara umum kepada jemaah majelis yang lain.

* Posisi Duduk : Duduk dengan sopan tepat di hadapan mereka.

* Menjaga Pandangan & Isyarat : Tidak menunjuk-nunjuk dengan tangan dan tidak menggerak-gerakkan mata (berwajah sinis/meremehkan) di hadapan mereka.

* Tidak Membanding-bandingkan Pendapat : Tidak bersikap tidak sopan dengan mengatakan “Si Fulan (ulama lain) memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapatmu..” di depan mereka.

📌 KESIMPULAN
Menghormati ulama digambarkan seperti posisi seseorang di bawah pohon kurma yang basah; kita harus sabar menanti ilmu berharga yang senantiasa runtuh dan berjatuhan dari mereka untuk kemaslahatan kita.

ref : https://almanhaj.or.id/60194-menghormati-dan-menghargai-ulama-2.html

Bagaikan Burung Unta

Syaikh bin Baz rohimahullah berkata,

“Banyak dari para suami yang bersikap bagaikan singa di hadapan istrinya, namun menjadi seperti burung unta jika berhadapan dengan orang lain selain istrinya..”

(Syarah Riyaadhus Shoolihiin 1/543)

📌 Perumpamaan ‘burung unta’ dalam pepatah Arab sering digunakan untuk menggambarkan sifat pengecut atau penakut (karena kebiasaan burung unta yang menyembunyikan kepalanya saat merasa terancam).

Maksud dari ucapan beliau rohimahullah adalah menyindir para suami yang hanya berani dan keras kepada istrinya sendiri di rumah, namun mendadak menjadi penakut dan tidak berdaya ketika menghadapi orang lain di luar rumah.

Diantara Keutamaan Mengajarkan Tauhid

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Ketika seekor anjing sedang berputar putar di sekitar sumur dan hampir mati karena kehausan, tiba tiba seorang wanita pezina dari kaum Bani Israil melihatnya. Maka wanita itu melepas sepatunya (khuff), lalu mengambilkan air dengan sepatu itu dan memberi minum si anjing. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalnya itu..”

(HR. Al Bukhari no. 3467)

📌 Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah berkata,

“Jika memberi minum untuk menghilangkan rasa haus seekor anjing saja bisa menjadi sebab diampuninya seorang wanita (pezina) oleh Allah, maka apalagi dengan orang yang menghilangkan dahaga manusia dengan (mengajarkan mereka) Tauhid..!”

(Syarah Kitab At Tauhid)

Lima Nasehat

‘Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkata,

1. Janganlah berbicara tentang hal yang tidak bermanfaat bagimu (bukan urusanmu).

2. Kenalilah musuhmu dan waspadalah terhadap temanmu, kecuali orang yang terpercaya (amanah).

3. Tidak ada orang yang benar-benar terpercaya, kecuali orang yang takut kepada Allah.

4. Janganlah engkau berteman dengan orang yang gemar berbuat buruk/maksiat (faajir) karena ia dapat mempengaruhimu dengan keburukannya, dan janganlah engkau membuka rahasiamu kepadanya

5. Ketika engkau meminta saran orang lain dalam urusanmu, bermusyawaralah hanya dengan orang-orang yang takut kepada Allah.

(Shifatush Shofwah – 1/149)

Yakin Namun Tidak Ada Persiapan

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rohimahumallah berkata,

“Aku tidak pernah melihat suatu keyakinan yang lebih menyerupai keraguan seperti keyakinan manusia terhadap kematian.

Mereka yakin bahwa kematian pasti datang, tetapi mereka tidak mempersiapkan diri untuknya..!”

(Tafsir Al Qurthubi, 10/64)

📌 Maksud ucapan beliau rohimahumallah adalah bahwa manusia pada umumnya mengakui dan meyakini bahwa kematian adalah suatu kepastian yang tidak dapat dihindari.

Namun, perilaku mereka sering kali justru seperti orang yang meragukannya :
– lalai dari taubat,
– menunda amal sholeh, dan
– terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Karena itulah beliau mengungkapkan keheranannya bahwa sebuah keyakinan yang seharusnya paling kuat justru tampak dalam tindakan seakan-akan merupakan sebuah keraguan.

Tingkat Keridhoan Dan Penyerahan Diri Yang Tinggi Kepada Allah

Berkumpullah Sufyan Ats-Tsauri, Wuhaib bin al-Ward, dan Yusuf bin Asbath, rohimahumullah.

Lalu Sufyan berkata,
‘dahulu aku tidak menyukai kematian yang datang secara tiba-tiba .. adapun hari ini, aku justru berharap aku sudah meninggal..’

Maka Yusuf bertanya, ‘mengapa demikian..?’

Sufyan menjawab, ‘karena fitnah-fitnah yang aku kawatirkan..’

Yusuf berkata,
‘namun aku tidak membenci panjangnya umur .. barangkali aku akan menjumpai suatu hari di mana aku dapat bertaubat dan beramal sholeh..’

Lalu dikatakan kepada Wuhaib, ‘bagaimana pendapatmu..?’

Ia menjawab,
‘aku tidak memilih apa pun .. apa yang lebih dicintai Allah, itulah yang lebih aku cintai..’

Mendengar itu, Sufyan Ats Tsauri mencium keningnya (di antara kedua matanya) seraya berkata:
‘ini adalah ruuhaaniyyah demi Robb Ka’bah..!’”

(Tafsir Ibnul Qoyyim, jilid 2, hlm. 216)

📌 Makna perkataan Sufyan Ats Tsauri rohimahullah, “Ruuḥaaniyyah” adalah kekaguman terhadap kedalaman iman, keridhoan, dan penyerahan diri Wuhaib rohimahullah atas kehendak Allah.

Sebab beliau tidak memilih antara ingin hidup lama atau ingin segera meninggal. Keinginannya mengikuti apa yang Allah cintai dan pilihkan baginya. Sikap ini menunjukkan tingkat keridhoan dan penyerahan diri yang tinggi kepada Allah.

Enam Pertanyaan Saat Muncul Keinginan Untuk Melakukan Perbuatan Maksiat

Dalam kitab Roudhotul Muhibbiin, Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah membawakan kisah tentang Ubaid bin Umair rohimahumallah saat menghadapi godaan seorang wanita cantik ( baca kisahnya dalam link berikut https://bbg-alilmu.com/archives/74314 )

Ubaid bin Umair rohimahumallah tidak menceramahi wanita tersebut dengan kemarahan, melainkan mengajak akalnya untuk berpikir panjang tentang berbagai konsekuensi dari perbuatannya tsb kelak setelah kematiannya.

Enam pertanyaan yang diajukan kepada wanita cantik tsb adalah salah satu cara self-reminder (muhaasabah) yang efektif bagi siapa pun yang hendak melakukan perbuatan dosa. Enam pertanyaan tsb :

1. Seandainya Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawamu, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

2. Seandainya kamu telah dikubur dan dimintai pertanggung-jawaban, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

3. Seandainya catatan amal manusia telah dibagikan dan kamu tidak tahu apakah akan menerima catatanmu dengan tangan kanan atau tangan kirimu, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

4. Seandainya kamu hendak melewati jembatan (shiroth) dan tidak tahu apakah akan selamat atau tidak, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

5. Seandainya timbangan (mizan) telah berada dihadapanmu, sementara kamu tidak tahu apakah timbangan kebaikanmu akan ringan atau berat, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

6. Seandainya kamu berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggung-jawaban, apakah kamu akan senang dengan perbuatanmu ini..?

📌 Setiap kali bisikan maksiat itu datang dan terasa manis di pikiran, luangkanlah waktu sebentar untuk menanyakan enam pertanyaan di atas ke dalam hatimu sendiri.

Semoga Allah menjaga kita semua, aamiin.

Kisah Ubaid bin Umair Dan Godaan Wanita Cantik

Abu al-Faraj dan yang lainnya menyebutkan bahwa ada seorang wanita cantik di Makkah yang memiliki seorang suami.

Suatu hari, wanita itu melihat wajahnya di cermin, lalu berkata kepada suaminya, “Apakah menurutmu ada orang yang melihat wajah ini dan tidak tergoda karenanya..?”

Suaminya menjawab, “Ya, ada..”
Wanita itu bertanya, “Siapa..?”

Suaminya menjawab, “Ubaid bin Umair..”

Wanita itu berkata, “Kalau begitu, izinkan aku mendatanginya agar aku bisa mengujinya (menggodanya)..”

Suaminya berkata, “Aku izinkan..”

Maka wanita itu pun mendatangi Ubaid bin Umair dengan berpura-pura seperti orang yang ingin meminta fatwa. Ubaid kemudian menemui wanita itu di salah satu bagian Masjidil Haram. Wanita itu lalu membuka cadarnya hingga tampaklah wajah yang indah laksana belahan bulan.

Ubaid berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, tutuplah kembali wajahmu..!”

Wanita itu berkata, “Sesungguhnya aku telah jatuh cinta padamu..”

Ubaid menjawab, “Aku akan menanyakan beberapa hal kepadamu. Jika kamu menjawabku dengan jujur, maka aku akan mempertimbangkan urusanmu ini..”

Wanita itu berkata, “Tidaklah engkau menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku akan menjawabnya dengan jujur..”

1. Ubaid bertanya, “Beritahu aku, seandainya Malaikat Maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu (syahwatmu) ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

2. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu telah dimasukkan ke dalam kuburmu dan didudukkan untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

3. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya catatan amal manusia telah dibagikan dan kamu tidak tahu apakah akan menerima catatanmu dengan tangan kanan atau tangan kirimu, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

4. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu hendak melewati jembatan (shiroth) dan kamu tidak tahu apakah kamu akan selamat atau tidak, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar.”

5. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya timbangan (mizan) telah didatangkan dan kamu dihadirkan di sana, sementara kamu tidak tahu apakah timbangan kebaikanmu akan ringan atau berat, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

6. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”

Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”

Ubaid lalu berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena Dia telah memberikan nikmat dan berbuat baik kepadamu..”

Wanita itu pun pulang kembali kepada suaminya. Suaminya bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan..?”

Wanita itu menjawab, “Engkau adalah orang yang menyia-nyiakan hidup, dan kita selama ini adalah orang-orang yang lalai..”

Setelah kejadian itu, sang wanita berbalik sepenuhnya untuk mendirikan sholat, berpuasa, dan beribadah. Sampai-sampai suaminya mengeluh, “Ada apa antara aku dan Ubaid bin Umair..?! Dia telah merusak istriku. Dahulu setiap malam dia bagaikan pengantin baru, namun sekarang Ubaid telah mengubahnya menjadi seorang ahli ibadah yang menjauhi dunia..”

(Roudhotul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaqiin / Taman Orang Orang Yang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu – hlm. 340 – Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah)