Simak penjelasan ringkas haditsnya oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
All posts by BBG Al Ilmu
Tentang Maulid
Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,
“Orang-orang yang merayakan Maulid, mereka berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang memulai sunnah yang baik (Sunnah Hasanah) dalam Islam..’
Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, Umar, Utsman, dan Ali -rodhiyallohu ‘anhum- .. Di manakah mereka dari sunnah yang baik ini..?! Yang kalian klaim bahwa itu adalah hal yang baik .. di manakah mereka (apakah mereka merayakannya)..?!
Padahal mereka adalah orang orang yang paling besar rasa cintanya dan paling semangat terhadap kebaikan dibanding kita. Paling besar rasa cintanya kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan paling semangat terhadap kebaikan dibanding kita.
Orang orang yang merayakan Maulid, begitu pula orang-orang yang tidak merayakannya, semuanya sepakat bahwa perayaan Maulid ini tidak ada pada zaman para sahabat. Tidak pernah ada pada zaman para sahabat.
Dan semuanya sepakat bahwa para sahabat itu lebih baik dari kita dalam hal ilmu, amal, dan ibadah.
Jika hal itu tidak ada pada zaman mereka -berdasarkan kesepakatan orang yang merayakannya maupun yang tidak merayakannya—dan para sahabat lebih baik serta lebih utama dari kita dalam hal ilmu dan amal -ini semua diakui oleh orang yang merayakan maupun yang tidak merayakan-..
Apakah tidak cukup bagi kita apa (amal baik) yang telah mencukupi Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan seluruh sahabat..?!
Mereka berkata, ‘Kami ingin mengungkapkan kegembiraan kami atas kelahiran beliau shollallahu ‘alayhi wasallam..’
– apakah engkau lebih semangat terhadap kegembiraan ini melebihi Abu Bakar..?!
– apakah engkau mengira bahwa engkau bisa mencapai rasa cinta yang lebih besar dari cintanya Abu Bakar..?! Atau kebaikan yang lebih besar dari kebaikannya, atau ilmu yang lebih besar dari ilmunya..?!
Yang mana Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda tentang beliau, bahwa beliau (Abu Bakar) adalah orang yang paling terdepan menuju kebaikan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam. tidaklah ada suatu amalan kebaikan melainkan Abu Bakar telah mendahuluinya.
Maulid ini, jika itu adalah kebaikan, niscaya Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu telah mendahului kita melakukannya, karena beliau adalah orang yang selalu terdepan dalam setiap kebaikan.
Kalian mengatakan itu adalah sunnah yang baik (Sunnah Hasanah), sedangkan Abu Bakar tidak melakukannya, Umar tidak, Utsman tidak, dan Ali pun tidak. Maka ini adalah bid’ah yang sesat .. Perayaan Maulid ini adalah bid’ah yang sesat.
Hadits tersebut memiliki bagian lain yang juga mencakup perkara Maulid ini, yaitu sabda beliau, ‘dan barangsiapa yang memulai sunnah yang buruk dalam Islam..’
Di sinilah perayaan Maulid itu masuk, ‘barang siapa yang memulai sunnah yang buruk dalam Islam..’ .. di sinilah posisi perayaan Maulid tersebut..”
Orang Yang Berakal Sehat
Sahabat yang mulia, Abu ad-Darda’ʾ rodhiyallahu ‘anhu berkata,
“Maukah aku beritahukan kepada kalian bagaimana cara mengenali orang yang berakal sehat..?
● Ia tawadhu (rendah hati) kepada orang yang berada di atasnya, dan tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.
● Ia berpegang teguh pada keutamaan, bergaul dengan manusia sesuai dengan tabiat/akhlak mereka, dan
● Ia menjaga keimanan batinnya tetap menjadi rahasia antara dirinya dengan Robb-nya Yang Mahaperkasa lagi Mahagung.
Oleh karena itu, ia menjalani hidup dengan ketakwaan dan kehati-hatian..”
(Akhbaar al-Adzkiyaa’ – Ibnul Jauzi)
Kewajiban Menyampaikan Dakwah
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..” (Qs. Al-Qasas: 56)
📌 Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahullah menjelaskan,
“Kita tidak dibebani kewajiban untuk memasukkan hidayah ke dalam hati manusia yang kita ajak kepada kebenaran .. melainkan kita hanya dibebani kewajiban untuk menyampaikan dakwah..”
(Silsilah al-Huda wan-Nuur no. 730)
Jangan Lewatkan Waktu Berdo’a Pada Jum’at Sore
Syaikh ‘Abdurrazzaq al-Badr hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,
“Dan waktu terakhir setelah ‘Ashar pada hari Jum’at — yaitu rentang waktu setelah ‘Ashar hingga terbenamnya matahari — dahulu sebagian ulama salaf, apabila mereka telah selesai melaksanakan sholat ‘Ashar pada hari Jum’at, mereka tetap berdiam di tempat sholatnya hingga waktu Maghrib.
Mereka berusaha mengejar dan mencari kesempatan di waktu tersebut (waktu dikabulkannya do’a). Mereka tidak keluar meninggalkan masjid agar tidak tersibukkan oleh berbagai urusan, pekerjaan, atau kepentingan duniawi, sehingga tidak terlewat kesempatan yang sangat berharga ini, yaitu waktu yang sangat diharapkan dikabulkannya do’a..”
Pintu Sedekah Sangatlah Luas
Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,
“Pintu sedekah itu sangat luas.
Bahkan disebutkan dalam sebagian hadits, hingga sesuap makanan yang ditaruh seseorang di mulut istrinya, ketika ia mencandainya dan bersenang-senang dengannya, lalu ia menyuapkan makanan ke mulut istrinya..
Niscaya hal itu dicatat baginya dalam timbangan kebaikannya sebagai sedekah dan pahala yang diberi balasan di sisi Allah.
Maka karunia Allah Subhanahu wa Ta’aala itu sangat luas.
Setiap pergerakan dan aktivitas manusia, jika ia niatkan karena mengharap pahala di sisi Allah, maka jadilah ia bergerak dalam sedekah-sedekah yang tak terbatas dan tak terhitung, serta pahala pahala yang tak terhitung banyaknya.
Oleh karena itu, hendaknya bagi seseorang —dan hal ini sudah pernah kita ingatkan sebelumnya— hendaknya bagi seseorang untuk mengharapkan pahala (ihtisab) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala atas :
● Nafkah yang ia keluarkan untuk dirinya sendiri, baik pada makanan maupun minumannya.
● Nafkah yang ia keluarkan untuk anaknya.
● Nafkah yang ia keluarkan untuk istrinya.
● Ia mengharapkan pahala saat bercanda/bersenda gurau dengan anaknya dan saat mendidik mereka.
● Ia mengharapkan pahala saat bercanda dengan keluarganya.
Semua perbuatan yang baik, thoyyib (bagus), bermanfaat, dan berguna.. semuanya..
Jika ia niatkan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala, maka akan dicatat baginya sebagai sedekah yang diberi balasan pahala di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala..”
Dua Hal Yang Meredam Kemarahan
Syaikh Abdurrozzaq al-Badr, hafizhohullah menjelaskan,
Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah memberi petunjuk kepada orang yang sedang marah tentang dua hal :
– perkataan (lisan), dan
– perbuatan (tindakan)
● Adapun hal yang berkaitan dengan perkataan, telah shohih dari Nabi kita shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa beliau bersabda,
“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam..”
Hendaklah ia diam, yakni menahan diri dari seluruh perkataan. Karena perkataan di saat marah itu tidak terkontrol dan tidak seimbang. “Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam..” — artinya menahan dirinya dari berbicara sama sekali. Ini adalah hal yang berkaitan dengan perkataan.
● Adapun yang berkaitan dengan perbuatan, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits shohih lainnya,
“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum reda, hendaklah ia berbaring..”
Duduk ini, lalu berbaring jika marahnya belum juga reda, bertujuan agar seseorang tidak meluapkan emosi atau tindakan gegabah yang muncul dalam dirinya akibat rasa marah tersebut. Karena jika ia tetap bertindak saat marah, tindakannya tidak akan lurus dan tidak akan terkontrol.
Coba bacalah tentang kehidupan masyarakat. Bacalah banyak kejadian, hal-hal yang terjadi di penjara, kasus-kasus pembunuhan, dan permusuhan. Semuanya terjadi karena pada saat itu mereka bertindak dalam puncak kemarahan.
Saya teringat dulu pernah melihat seorang pria di rumah sakit bersama putranya yang berusia 4 tahun. Tangan anak kecil itu patah/cedera parah. Lalu saya katakan kepada ayahnya, “Semoga lekas sembuh, ada apa..?”
Ayahnya menjawab, “Sungguh, ini karena marah. Marah itu tidak ada kebaikannya..”
Saya katakan, “Insya Allah ada hikmahnya..”
Dia bercerita, “Anak ini tidur, lalu aku katakan padanya ‘bangun’ .. aku bangunkan tapi dia tidak bangun bangun. Maka aku tarik tangannya dengan keras hingga terkilir/patah..”
Hal seperti ini sangat banyak terjadi dalam realitas kehidupan manusia, dalam interaksi di rumah, di luar rumah, di sekolah-sekolah, maupun sikap para guru dan lainnya. Banyak sekali yang terjadi akibat keteledoran dan emosi jiwa ini.
Oleh karena itu, salah satu pilar terpenting dalam bab adab dan akhlak adalah hendaknya seseorang tidak menuruti emosi jiwanya. Jika jiwanya mulai dikuasai oleh emosi —terutama karena marah— hendaklah ia :
– menenangkan diri,
– beristirahat,
– tidak berbicara, dan
– tidak terburu buru melakukan tindakan apa pun.
Setelah tenang, ia akan mendapati bahwa jika ia berbicara, perkataannya akan terkontrol, dan jika ia bertindak, tindakannya pun akan terukur.
Jadwal Puasa Ayyaamul Biidh – Robii’ul Awwal 1448
1 Robii’ul Awwal 1448 H jatuh pada hari Jum’at 14 Agustus 2026 M (dimulai sejak maghrib malam Jum’at tanggal13 Agustus 2026) berdasarkan hasil rukyah.
Kurang dari 6 bulan lagi insyaa Allah bulan Ramadhan 1448 akan tiba .. semoga Allah mempertemukan kita kembali dengannya, aamiiin.

====
BAGAIMANA BILA ADA WANITA MUSLIMAH YANG BELUM QODHO PUASA RAMADHAN SEJAK DARI SMP..?
yuuk baca pembahasannya berikut ini
Tulisanmu Akan Dihisab
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hafizhohullah mengingatkan,
“Ketika engkau berbicara atau menulis menggunakan media media modern yang bermunculan di zaman ini —yang begitu beragam dan sangat banyak— dan telah menjadi hal yang tak terpisahkan bagi banyak orang dalam partisipasi harian mereka, bahkan berkali-kali dalam sehari.
Maka, apa yang ditulis ini merupakan bagian dari ucapanmu yang akan dihisab oleh Allah kelak pada hari ketika engkau berdiri di hadapan-Nya.
Meskipun sebagian orang mungkin menulis melalui media-media ini menggunakan nama anonim (disamarkan) dari pandangan manusia, hal itu tidaklah tersembunyi bagi Robb semesta alam:
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)..” (QS. Qaf: 18)
Sekiranya ia bersembunyi dari manusia dengan nama anonim, Allah tetap Maha Melihat dirinya dan Maha Mengetahui apa yang ia (tulis dan) katakan.
Ia kelak akan melihat menuai (hasil dari) apa yang telah ia tulis dan ucapkan pada hari ketika ia berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Teman Yang Paling Disukai
Kholid bin Shofwan rohimahullah ditanya,
‘siapakah temanmu yang paling engkau sukai..?’
Ia berkata,
– yang suka memaafkanku,
– mau menerima kekuranganku, dan
– menutupi kesalahanku.
(Kitab Mujaalasah – Ad Dinawari)