Category Archives: Mutiara Salaf

Termasuk Perbuatan Durhaka

Ada pertanyaan kepada Syaikh Sholih al-Fauzan حفظه الله تعالى terkait interaksi dengan orangtua.

PERTANYAAN

بالنسبة لعدم الاستجابة لنصائح الوالدين والرفض لطلباتهم هل يعتبر هذا من عقوق الوالدين؟

“Terkait sikap tidak memenuhi nasehat kedua orangtua dan menolak permintaan mereka, apakah ini termasuk durhaka kepada dua orangtua..?”

JAWABAN

نعم، إذا كان هذا مما أباحه الله ومما شرعه الله وخالفتهما هذا عقوق ومعصية لله عز وجل أما إذا كان ما يأمران به أنه معصية لله فلا تجوز طاعتهما، لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. نعم.

“Ya.. jika hal itu adalah perkara mubah yang Allah perbolehkan dan perkara yang Allah syariatkan, lalu engkau menyelisihi keduanya. Ini termasuk perbuatan durhaka dan bermaksiat kepada Allah Taala.

Adapun jika perkara yang orangtua perintahkan adalah berupa kemaksiatan kepada Allah maka tidak boleh mentaati keduanya. Tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Pencipta. Na’am..”

ref : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14427

MUTIARA SALAF : Memberi Maaf Lebih Utama Dalam Persoalan Pribadi

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah memberikan jawaban ketika ditanya tentang sikap yang lebih utama ketika menghadapi pihak yang menzholimi kita.

Beliau berfatwa,

إذا كانوا قد ظلموك وأحببت العفو عنهم فأنت مأجور ولك خير عظيم وفضل كبير؛ لأن الله جل وعلا يقول: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]، ويقول النبي ﷺ: ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزاً، ويقول جل وعلا: فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]، فأنت على خير عظيم فإذا ظلموك في غيبة أو مال أو سب أو نحو ذلك وعفوت عنهم فأنت مأجور جزاك الله خيراً

“Apabila sekelompok orang berbuat zholim kepadamu, sementara engkau berkeinginan memaafkan mereka, engkau akan memperoleh pahala. Engkau juga akan meraih kebaikan yang agung dan keutamaan yang besar..

Sebab, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]،

“Adapun sikap kalian memberi maaf itu lebih menerapkan ketakwaan..” (Al-Baqoroh: 237)

Demikian pula Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزا

“Allah tidak akan mengaruniai seorang hamba yang memberi maaf selain tambahan kemuliaan..”

Begitu pula firman Allah Jalla wa ‘Alaa,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]

“Barang siapa memberi maaf dan berbuat baik, pahalanya Allah yang menanggungnya..” (Asy-Syura: 40)

Jadi, engkau memperoleh kebaikan yang besar..

Oleh karena itu, apabila mereka berbuat zholim kepadamu dalam bentuk gunjingan, harta, cercaan, atau semisalnya, kemudian engkau (justru) memaafkan mereka, sungguh engkau akan memperoleh pahala dan balasan kebaikan dari Allah..”

ref :
https://binbaz.org.sa/fatwas/12681/فضاىل-العفو-وطريقته

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Nasihat Mulia

Asy Sya’bi rohimahullah mengatakan bahwa Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata..

“Wahai sekalian manusia, ambillah kalimat-kalimat ini dariku. Seandainya kalian menaiki binatang tunggangan hingga mencelakainya, kalian belum tentu mendapati yang semisalnya.

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدًا إِلاَّ رَبَّهُ، وَ يَخَافَنَّ إِلاَّ ذَنْبَهُ، وَ يَسْتَحِي إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَنْ يَتَعَلَّمَ، وَلاَيَسْتَحِي إِذَا سُئِلَ عَمَّا يَعْلَمُ أَنْ يَقُولَ: لا أَعْلَمُ؛ وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، وَ خَيْرَ فِي الْجَسَدِ رَأْسَ لَهُ

Hendaknya seorang hamba benar-benar :

● tidak berharap selain kepada Robbnya,

● tidak kawatir selain terhadap dosanya,

● tidak malu untuk belajar ketika tidak tahu,

● tidak malu untuk menjawab, ‘Aku tidak tahu..’ ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya,

Dan ketahuilah, kedudukan sabar bagi iman layaknya kepala bagi jasad tidak ada kebaikan pada jasad yang tidak berkepala..”

[ Shifatush Shofwah – 121 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Masalah

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridho dan ihtisaab (mengharapkan pahala dari-Nya)..

Kalaupun sikap ridho tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisaab. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut..

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridho dan tidak pula ihtisaab. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan)..

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya,

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan..”

(Qs an-Nisaa/4:104)

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala..”

[ Ighootsatul Lahfaan – hal 421-422 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Nasihat Dalam Mencari Istri

Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah berkata,

“Jika seorang pria melamar seorang wanita, hendaklah menanyakan kecantikannya lebih dahulu..

Jika wajahnya cantik baru dia tanyakan tentang agamanya, kalau agamanya baik hendaklah menikahinya, kalau tidak baik maka dia menolak karena sebab agamanya..

Dan jangan sampai dia menanyakan agamanya terlebih dahulu, kalau baik baru menanyakan kecantikannya, lalu kalau ternyata dia tidak cantik dia tolak, sehingga menolaknya karena si wanita tidak cantik, bukan disebabkan karena agamanya yang kurang baik..”

(Al Inshaaf – 12/206)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kuatnya Hidayah Seiring Dengan Kuatnya Iman Seseorang

Allah Ta’ala berfirman,

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

”maka Allah memberi hidayah orang orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Dan Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus..” (Al Baqoroh: 213)

Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

“Diantara faidah ayat ini adalah bahwa keimanan seorang hamba bila semakin kuat maka ia lebih dekat kepada kebenaran. Karena Allah berfirman yang artinya, “maka Allah memberi hidayah orang orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..”

Karena Allah menggantungkan hidayah kepada keimanan. Maka hidayah itu semakin kuat dengan kuatnya iman dan semakin lemah dengan lemahnya iman.

Oleh karena itu para shahabat lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan generasi setelahnya; baik dalam tafsir, hukum, dan akidah. Karena tidak diragukan lagi bahwa para shahabat adalah generasi yang paling kuat imannya.

Rosul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sebaik baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya. Kemudian setelahnya..”

Oleh karena itu madzhab imam Ahmad adalah bahwa pendapat shahabat adalah hujjah selama tidak bertabrakan dengan nash..”

(Tafsir Syaikh ‘Utsaimin 3/35)

Semakin hati dipenuhi keimanan kepada Allah..
Maka ia semakin mendapat hidayah kepada jalan kebenaran..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Dua Sumber Segala Fitnah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وأصل كل فتنة إنما هو من تقديم الرأي على الشرع، والهوى على العقل

“Sumber segala fitnah (keburukan) adalah..

1.  Mendahulukan akal pikiran daripada syariat,

2.  Mendahulukan hawa nafsu daripada akal sehat.

فالأول:أصل فتنة الشبهة، والثاني: أصل فتنة الشهوة.

Adapun yang pertama adalah sumber fitnah syubhat (kerancuan berpikir dalam agama) dan yang kedua adalah sumber fitnah syahwat.

ففتنة الشبهات تدفع باليقين، وفتنة الشهوات تدفع بالصبر، ولذلك جعل سبحانه إمامة الدين منوطة بهذين الأمرين،

Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan (ilmu), sedangkan fitnah syahwat bisa ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kepemimpinan dalam agama ini di atas dua hal ini.

Allah berfirman,

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin- pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka sabar dan yakin dengan ayat-ayat kami..’

فدل علي أنه بالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين.

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, akan diperoleh kepemimpinan dalam agama ini..”

[ Ighotsatul-Lahafan 1/167 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Panduan Ringkas Dalam Interaksi Sosial

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

ﻣﻌﺎﻣﻠﺔ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺃﻥ ﺗﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﻟﻠﻪ، ﻓﺘﺮﺟﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﻭﻻ‌ ﺗﺮﺟﻮﻫﻢ في ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺗﺨﺎﻓﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﻭﻻ‌ ﺗﺨﺎﻓﻬﻢ في ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺗﺤﺴﻦ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺭﺟﺎﺀ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ‌ ﻟﻤﻜﺎﻓﺄﺗﻬﻢ، ﻭﺗﻜﻒ ﻋﻦ ﻇﻠﻤﻬﻢ ﺧﻮﻓًﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ‌ ﻣﻨﻬﻢ

“Muamalah dengan dengan orang lain (yang benar) adalah engkau bermuamalah dengan mereka karena Allah..

●  Engkau mengharapkan pahala kepada Allah dalam bermuamalah dengan mereka, dan tidak berharap kepada mereka dalam bermuamalah dengan Allah.

●  Engkau takut kepada Allah dalam bermuamalah dengan mereka, dan tidak takut kepada mereka dalam bermuamalah dengan Allah.

●  Engkau berbuat baik kepada mereka dalam rangka mengharap pahala Allah, bukan balasan dari mereka.

●  Engkau tidak berbuat zholim kepada mereka karena takut kepada Allah, bukan karena takut kepada mereka..”

[ Majmu’ Fatawa – 1/51 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Pentingnya Menjaga Waktu

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

إن هذه الدنيا كلها تمضي، وكل شيءٍ فيها فإنه عبرة، إن نظرت إلى الشمس تخرج في أول النهار ثم تأفل في آخر النهار وتزول، هكذا وجود الإنسان في الدنيا يخرج ثم يزول.

”Sesungguhnya dunia ini semuanya akan berlalu, segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan pelajaran yang berharga.

Jika engkau melihat matahari keluar di pagi hari, kemudian tenggelam di sore hari, lalu menghilang.. demikian juga wujudnya seorang insan di dunia, ia muncul ke dunia kemudian akan sirna.

إن نظرنا إلى القمر كذلك يبدو أول الشهر هلالاً صغيرًا، ثم لا يزال ينمو ويكبر فإذا تكامل؛ بدأ بالنقص حتى عاد كالعرجون القديم.

Demikian pula jika kita melihat rembulan, ia muncul di awal bulan dalam bentuk bulan sabit kecil, kemudian terus bertambah membesar. Maka jika telah sempurna, iapun mulai mengecil sampai kembali seperti sedia kala.

Demikian juga kalau kita perhatikan bulan demi bulan, engkau dapati seorang insan memandang kalau bulan depan masih lama datangnya. Misalnya ia mengatakan, ‘Kita sekarang ada di bulan dua belas, bulan ramadhan masih delapan bulan lagi, maka alangkah lamanya..!’

Tiba-tiba ia telah melewati ramadhan dengan cepatnya. Tak terasa seolah-olah (kedatangan ramadhan) itu seperti waktu sesaat di siang hari.

هكذا العمر أيضًا -عمر الإنسان- تجده يتطلع إلى الموت تطلعًا بعيدًا ويؤمِّل وإذا بحبل الأمل قد انصرم، وقد فات كل شيء! تجده يحمل غيره على النعش ويواريه في التراب ويفكر: متى يكون هذا شأني؟ متى أصل إلى هذه الحال؟ وإذا به يصل إليها وكأنه لم يلبث إلا عشية أو ضحاها!

Demikian juga umur.. umur seorang insan. Engkau dapati ia memandang kamatian itu masih lama datangnya, ia masih memiliki angan-angan, tiba-tiba tali angan-angannya telah terputus. Maka sungguh telah terluput darinya segala sesuatu. Engkau dapati ia telah dipikul orang lain diatas keranda mayat, lalu iapun dikuburkan dalam tanah.

Ia berfikir,
– kapan terjadinya keadaanku ini..?
– kapan aku sampai pada keadaan ini..
dan tiba-tiba ia telah sampai kepada (ajal)nya, seolah-olah tidaklah ia hidup di dunia ini kecuali baru sore tadi atau waktu dhuhanya.

أقول هذا من أجل أن أحمل نفسي وأحمل إخواني على المبادرة باغتنام الوقت، وألا نضيع ساعة ولا لحظة إلا ونحن نعرف حسابنا فيها، هل تقربنا إلى الله بشيء؟ هل نحن ما زلنا في مكاننا؟ ماذا يكون شأننا؟ علينا أن نتدارك الأمور قبل فوات الأوان، وما أقرب الآخرة من الدنيا!

Aku mengatakan ini agar bisa memotivasi diriku sendiri dan saudara-saudaraku untuk bersegera memanfaatkan waktu, agar tidak menyia-nyiakan waktu, biarpun sedikit, kecuali dalam keadaan kita mengetahui perhitungan kita padanya.

– apakah kita sudah mendekatkan diri kita kepada Allah dengan suatu ibadah..?
– ataukah kita tetap di tempat-tempat kita..?
– apa jadinya keadaan kita..?

Wajib bagi kita bersegera melakukan perkara-perkara yang bermanfaat sebelum hilang kesempatan.

وكان أبو بكر -رضي الله عنه- يتمثل كثيرًا بقول الشاعر:
وكلنا مصبحٌ في أهله ※ والموت أدنى من شراك نعله

Betapa dekatnya akhirat dari dunia. Dahulu Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu sering mempermisalkan (hal ini) dengan ucapan penyair,

”Setiap kita selalu berada didekat keluarganya, sementara kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya..”

أسأل الله لي ولكم حسن الخاتمة، وأن يجعل مستقبل أمرنا خيرًا من ماضيه، وأن يعيننا على ذكره وشكره وحسن عبادته

Aku memohon kepada Allah untukku dan kalian husnul khotimah.. 

Semoga Allah menjadikan urusan kita kelak lebih baik dari yang telah berlalu.. 

Semoga Allah menolong kita untuk bisa selalu mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya dan memperbagus peribadatan kepada-Nya.. “

[ Liqo Al Baabul Maftuuh 2/179 ]

MUTIARA SALAF : Tiga Macam Manusia

Abdullah bin Syaqiq rohimahullah berkata,

الرجال ثلاثة:
‏١-رجل عمل حسنة فهو يرجو ثوابها.
‏٢-ورجل عمل سيئة ثم تاب فهو يرجو المغفرة.
‏٣-والثالث: الرجل الكذاب يتمادى في الذنوب ويقول أرجو المغفرة.
‏ومن عرف نفسه بالإساءة ينبغي أن يكون خوفه غالبا على رجائه”.

“Manusia itu ada tiga :

1. Orang yang beramal soleh berharap pahalanya.

2. Orang yang melakukan dosa kemudian bertaubat, maka ia berharap ampunan.

3. Orang pendusta yang terus menerus berbuat dosa sementara ia berkata, “Aku berharap ampunan..”

Maka siapa yang tahu dirinya selalu berbuat dosa, semestinya rasa takutnya (akan adzab Allah) lebih dominan daripada rasa harapnya (akan ampunan Allah)..”

(Syu’abul Iman 2/324)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL