Category Archives: BBG Kajian

Syarah Kitab Tauhid : 34 – 35 – 36

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

34.

35.

36.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 37 – 38 – 39
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Pahala Ibadah Anak Kecil Untuk Siapa..?

PERTANYAAN:

Apakah pahala seluruh amalan anak-anak kecil yang belum baligh, seperti shalat, haji, dan membaca al-Quran, akan kembali kepada kedua orangtuanya atau dia juga ikut mendapatkan bagian..?

Syeikh bin Baz rohimahullah menjawab,

“Pahala amalan anak kecil yang masih belum baligh –yang dimaksud di sini adalah amal sholih– adalah untuk dirinya, bukan untuk orangtuanya atau untuk orang lain..

Orangtuanya mendapatkan pahala karena telah mengajarinya, memberikan pengarahan kepadanya untuk mengamalkan kebajikan, serta menolongnya untuk melakukan perbuatan tersebut..

Hal ini berdasarkan riwayat dalam Shohih Muslim, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, bahwa ada seorang wanita yang menunjukkan anaknya yang masih kecil kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada saat hujjatul wada`.

Wanita itu bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah anak kecil ini bisa mendapatkan pahala haji..?” Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, dan karenanya engkau juga mendapatkan pahala..”

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa pahala haji itu adalah untuk anak kecil tersebut, namun ibunya turut mendapatkan pahala karena ikut berhaji bersamanya.

Demikian juga, selain orangtua juga bisa mendapatkan pahala karena kebajikan yang dilakukannya, seperti mengajari anak-anak yatim yang diasuhnya, karib kerabat, pelayan, atau yang lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kebajikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya..” (HR. Muslim, dalam kitab Shohih-nya)

Alasan lainnya adalah karena perbuatan itu berarti kerjasama dalam melakukan kebajikan dan ketakwaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan memberikan pahala atas perbuatan itu..”

Sumber: Fatawa Syekh Bin Baz Jilid 1, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Pustaka at-Tibyan.

Ref : https://konsultasisyariah.com/1747-amal-anak-kecil-pahalanya-untuk-dirinya-atau-orang-tuanya.html

Berharap Wajah Allah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من تصدق بعدل تمرة من كسب طيب – ولا يصعد إلى الله إلا الطيب – فإن الله يتقبلها بيمينه ثم يربيها لصاحبها، كما يربي أحدكم فلوه حتى تكون مثل الجبل

“Siapa yang bersedekah dengan sebutir kurma dari usaha yang halal dan tidak naik kepada Allah kecuali yang halal maka sesungguhnya Allah menerimanya dengan tangan kanannya kemudian membesarkannya sebagaimana seseorang dari kalian membesarkan anak kudanya hingga menjadi sebesar gunung..” (HR Al Bukhari)

Imam Ibnul Jauzi rohimahullah berkata

فإنّ الحسنة إذا طلب بها وجه الله تصير التمرة كالجبل العظيم

Sesungguhnya kebaikan itu apabila hanya berharap wajah Allah maka sebutir kurma bisa menjadi gunung yang besar..”

(At Tadzkirah 196)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ditentang Dan Diperkarakan

Ditentang dan diperkarakan .. berarti dakwahnya tidak hikmah..!
=====
Sebagian orang mengatakan, “harusnya kalian introspeksi diri, seandainya kalian sudah benar cara dakwahnya, harusnya tidak ada pertentangan dari masyarakat..!”

Sanggahan:

1. Kita menyadari bahwa hikmah dalam berdakwah harus diterapkan.. kita juga menyadari bahwa hikmah dalam berdakwah akan menjadikan dakwah mudah diterima.

2. Tapi harus diketahui juga, bahwa setelah menerapkan hikmah dalam berdakwah, bukan berarti otomatis tidak akan ada rintangan dalam dakwah. Karena hikmah dalam berdakwah itu usaha agar dakwah diterima dengan baik, dan usaha tidak harus mendatangkan hasil sesuai yang diharapkan.

3. Kalau hikmah dalam berdakwah harus menjadikan dakwah diterima dengan baik tanpa rintangan, tentunya yang paling pantas dengan hasil itu adalah Nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Tapi ternyata dakwah beliau penuh dengan tantangan dan rintangan, sampai kota Makkah ketika itu menjadi “gueger bin ruame” karena dakwah beliau. Sampai ada pemboikotan terhadap para pengikut beliau hingga bertahun-tahun .. sampai beliau dan para sahabatnya harus berhijrah .. ada beberapa sahabat beliau yang disiksa, bahkan sampai terbunuh karena siksaan itu .. bahkan sampai beliau hampir dibunuh .. dst.

Apa kita akan katakan, beliau tidak bisa hikmah dalam berdakwah..?!

Lihat pula banyaknya ulama ahlussunnah dalam sejarah yang dipenjara karena dakwah mereka, bukan karena yang lain .. apakah kita akan katakan mereka tidak menerapkan hikmah dalam berdakwah..?!

4. Yang perlu diingat pula, bahwa semakin besar dan banyak pengikut suatu dakwah, maka semakin berat pula arus pertentangannya .. ibarat pohon yang semakin tinggi, maka semakin kuat dan banyak pula angin yang menerpanya.
Semakin besar dan semakin banyak pengikut suatu dakwah, maka semakin banyak yang hasad terhadapnya .. dan semakin banyak yang merasa terganggu dan dirugikan olehnya, apalagi itu akan bersinggungan dengan asap dapurnya.
Sehingga BISA JADI tidak diganggunya suatu dakwah adalah akibat kecilnya pengaruh suatu dakwah, sehingga tidak diperhitungkan .. bukan karena sudah menerapkan hikmah dalam berdakwah dngane baik.

5. Ingatlah, bahwa di sana ada orang-orang yang khawatir eksistensinya menjadi luntur karena adanya dakwah ilallah ini .. sehingga apapun yang dilakukan seorang pendakwah tidak akan mampu menenangkan hatinya, kecuali bila pendakwah itu mengikuti keinginannya.

Inilah kehidupan dunia .. harus ada perang eksistensi antara yang haq dengan yang batil .. sehingga kita harus bersabar dan terus berusaha memperjuangkan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sampai kita bertemu beliau di telaga-Nya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mari Terus Belajar

Bedakan antara :
* berdakwah,
* mengingkari kemungkaran, dan
* mengubah kemungkaran.

● Berdakwah itu ketika kita mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan dari kemungkaran.

● Mengingkari kemungkaran itu ketika ada perbuatan haram yang dilakukan atau ada kewajiban yang ditinggalkan, lalu kita mengingkarinya.

● Mengubah kemungkaran itu ketika kita berusaha menghilangkan kemungkaran yang sedang terjadi.

– Dalam berdakwah, yang penting kita tahu bahwa yang kita sampaikan sesuai dengan dalil.

– Dalam mengingkari kemungkaran, kita harus tahu bahwa yang kita ingkari adalah kemungkaran, bahwa pelaku benar-benar melakukannya, dan bahwa pengingkaran itu tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

– Adapun mengubah kemungkaran, maka ini hanya untuk mereka yang punya kapasitas dalam melakukannya.. karena kalau tidak demikian, maka itu akan menimbulkan kekacauan dan kegaduhan.

[Faidah dari Syeikh Al-Utsaimin -rohimahullah- dalam Syarah Riyadhus Sholihin]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 31 – 32 – 33

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

31.

32.

33.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 34 – 35 – 36
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Diantara Kelembutan Hati Seorang Mukmin

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

من دلائل رقة قلب المؤمن،
أن يتوجع لعثرة أخيه المؤمن
إذا عثر،
حتى كأنه هو الذي عثر بها، ولا يشمت به.

“Diantara tanda kelembutan hati mukmin adalah merasa sedih ketika saudaranya tergelincir seakan ia sendiri yang tergelincir.. dan ia tidak bergembira dengan ketergelincirannya..”

(Madarijussalikin 1/436)

Karena kaum mukminin satu sama lainnya bagaikan satu badan..

Mukmin ingin agar ia dan saudara-saudaranya seiman dapat bersama masuk jannah dan selamat dari jahannam..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 28 – 29 – 30

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

28.

29.

30.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 31 – 32 – 33
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Belum Habis Kesempatan Berbakti

Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, belum habis kesempatan untuk berbakti.

Banyaklah memintakan AMPUN untuknya.

Karena Nabi tercinta Shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sungguh, ada seseorang DINAIKKAN DERAJATNYA di surga, sehingga dia bertanya: “Dari mana ini..?” Maka dikatakan padanya: “Itu karena PERMINTAAN AMPUN ANAKMU untukmu..”

[HR. Ibnu Majah: 3660]
dihasankan oleh Syeikh Albani]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 25 – 26 – 27

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

25.

26.

27.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 28 – 29 – 30
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL