Category Archives: BBG Kajian

MUTIARA SALAF : Janganlah Menjadikan Faidah Dunia Sebagai Pokok

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

بعض الناس عندما يتكلمون على فوائد العبادات يحولونها إلى فوائد دنيوية ، فمثلا يقولون في الصلاة رياضة وإفادة للأعصاب ، وفي الصيام فائدة إزالة الرطوبة وترتيب الواجبات ، ‏والمفروض ألا نجعل الفوائد الدنيوية هي الأصل، لأن الله لم يذكر ذلك في كتابه ، بل ذكر أن الصلاة : تنهى عن الفحشاء والمنكر ، وعن الصوم أنه سبب للتقوى .

“Sebagian orang ketika berbicara tentang faidah ibadah mereka membicarakan faidah dunia.. seperti ucapan mereka bahwa sholat itu adalah olah raga dan faidah untuk otot. Puasa faidahnya menghilangkan ruthubah..

Padahal seharusnya kita tidak menjadikan faidah dunia sebagai pokok. Karena Allah tidak menyebutkan hal itu dalam kitab-Nya. Tapi menyebutkan bahwa sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, dan puasa menyebabkan ketakwaan..”

 القول المفيد : (138/2)

Diterjemahkan oleh.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 43 – 44 – 45

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

43.

44.

45.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 46 – 47 – 48
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Sampai Kapan Anda Bertaubat..?

Ada seorang ulama ditanya:

“Sungguh ada seorang yang jatuh dalam kesalahan, lalu dia bertaubat… Lalu dia jatuh lagi dalam kesalahan, dan bertaubat lagi… Kemudian dia jatuh dalam kesalahan lagi dan bertaubat lagi… Sampai kapan..?!”

Dia menjawab: “Sampai setan putus asa menggodanya..”

———

Jadikanlah setan putus asa untuk menggoda Anda… Jangan sebaliknya, Anda malah dijadikan putus asa untuk bertaubat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

“Katakanlah: Wahai orang yang melampaui batas terhadap dirinya (dengan dosa), janganlah kalian BERPUTUS ASA dari rahmat Allah (dengan meminta ampun kepadaNya), karena Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia maha pengampun lagi maha penyayang..” [QS. Azzumar: 53].

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda dalam hadits qudsi, bahwa Allah berfirman:

“Wahai hamba-hambaKu, sungguh kalian akan terus melakukan kesalahan, baik di malam hari maupun siangnya, sedang Aku akan mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kalian..” [HR. Muslim: 2577]

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 40 – 41 – 42

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

40.

41.

42.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 43 – 44 – 45
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Semangat Menjalankan Perkara Yang Sunnah

Ah .. itu kan sunnah, boleh dong ditinggalkan..!

=====

Inilah ucapan sebagian orang yang malas-malasan dalam melakukan ketaatan kepada Allah.

Bedakan dengan keadaan para pemuka sahabat Nabi -rodhiallahu ‘anhum- dan orang-orang yang mengikuti mereka .. sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahullah-:

وقد كان صدر الصحابة ومن تبعهم؛
– يواظبون على السنن مواظبتهم على الفرائض،
– ولا يفرقون بينهما في اغتنام ثوابهما

“Dahulu para pemuka sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka:
– merutinkan amalan-amalan sunnah, sebagaimana mereka merutinkan amalan-amalan wajib.
– dan mereka tidak membedakan antara keduanya dalam mengambil manfaat pahalanya..”

[Fathul Bari 3/265]

Dan inilah salah satu sebab jauhnya mereka dari amalan-amalan bid’ah .. karena waktu-waktu mereka sudah terisi dengan amalan-amalan yang disyariatkan.

Berbeda dengan orang-orang yang meremehkan amalan-amalan sunnah .. akhirnya banyak waktu kosong yang ingin mereka isi dengan amalan-amalan bid’ah.

Kata Imam Syafi’i rohimahullah :

نفسك إن لم تشغلها بالحق؛ وإلا شغلتك بالباطل

“Jiwamu, bila tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka dia menyibukkanmu dengan kebatilan..” [Adda’ wad Dawa’, hal 156].

Yang terakhir..
bila hal ini berkaitan dengan perkara yang sunnah, maka gunakan pola pikir yang sama pada perkara yang makruh. Semangatlah dalam meninggalkannya sebagaimana dalam meninggalkan yang haram, untuk mengambil manfaat pahala dari meninggalkannya.

Jangan malah mengatakan: “ah .. itu kan makruh, boleh dong dilakukan..!” Sungguh perkataan seperti ini hanya akan menjadikan kita rugi dengan banyak pahala, bahkan akan menjerumuskan kita kepada yang haram, wallahu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Diantara Nikmat Yang Paling Ajaib

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

ومن أعجب النعـــــــــــم عليه
‏نعمة النسيان
‏فإنه لولا النسيان لما سلا شيئا
‏ولا انقضت له حسرة
‏ولا تعزى عن مصيبة
‏ولا مات لـــــــه حزن
‏ولا بطل لـــــــه حقد
‏ولا استمتع بشيء من متاع
‏الدنيا مع تذكر الآفات.

“Diantara nikmat yang paling ajaib adalah lupa. Karena kalau bukan karena lupa, tentu sesuatu itu tak terasa manis..
– penyesalan tak pernah selesai,
– musibah tak pernah berlalu,
– kesedihan selalu merundung,
– kedengkian tak pernah padam,
– bahkan kenikmatan dunia tak terasa menyenangkan bila selalu mengingat kepedihannya..”

( Miftah Dar Assa’adah 2/887 )

Diterjemahkan oleh.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Pikirkan Ini Sebelum Mengetik

Ketahuilah, tulisan kita akan ditimbang di akhirat kelak, di hari kiamat..

Kita akan mendapatkan apa yang kita tulis, di catatan kita, di rapot kita, di buku kita, di padang masyar nanti.

Maka berusahalah menulis yang bermanfaat, yang engkau akan berbahagia tatkala melihat tulisan itu.

Tatkala engkau ingin berkomentar di jejaring sosial manapun, sebelum menulis yang akan di baca oleh semua manusia, yang akan dicatat oleh malaikat Allāh, bertanyalah pada diri sendiri kira-kira tulisan ini ada manfaatnya enggak..?! kalau tidak urungkan niatmu untuk menulis…!

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

Siapa Yang Berhak Menimbang Antara Maslahat Dan Mafsadah..?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

معيار مقادير المصالح والمفاسد هو بميزان الشريعة؛ فمتى قدر الإنسان على اتباع النصوص لم يعدل عنها، وإلا اجتهد برأيه لمعرفة الأشباه والنظائر، وقلَّ أن تحوز النصوص من يكون خبيراً
بها وبدلالتها

مجموع الفتاوى (28/129).

“Parameter menentukan mashlahat dan mafsadah adalah timbangan syari’at. Kapan saja seorang insan mampu mengikuti nash maka ia tidak boleh menyimpang darinya. Jika tidak, maka ia berijtihad dengan pendapatnya untuk mengenal Al Asybah wan Nazhoir. Dan sedikit yang dicakup oleh nash oleh orang yang sangat berilmu tentangnya dan dilalahnya..” (Majmu’ Fatawa 28/129)

Ini menunjukkan bahwa untuk mempertimbangkan antara mashalahat dan mafsadah membutuhkan pengetahuan yang luas terhadap nash dan ijtihad.

Doktor Asyraf Abdurrahman menyebutkan bahwa syarat-syarat orang yang menimbang antara mashlahat dan mafsadah adalah : berilmu dengan kaidah-kaidah maqashid syari’ah.. mengetahui kaidah-kaidah untuk mentarjih antara mashlahat dan mafsadah.

Adapun orang awam yang tak mampu berijtihad, selama bukan keadaan darurat, kewajiban mereka adalah bertanya kepada para ahli ilmu. Karena itulah yang Allah perintahkan dalam firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui..” (An-Nahl – 43)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 37 – 38 – 39

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

37.

38.

39.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 40 – 41 – 42
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Bolehkah Wanita Muslimah Ziarah Kubur..?

PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Ijin bertanya ustadz, bolehkah perempuan ziarah ke kubur..?

JAWABAN:

Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh

Ada khilaf dalam masalah ini, mayoritas ulama membolehkannya, dan ini yang ana kuatkan, karena banyak dalil yang mendukungnya.

Diantaranya hadits ‘Aisyah Rodhiallahu ‘anha, suatu ketika pernah bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

“Jika aku berziarah kubur, apa yang kubaca..?”

Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bacalah..”

Dalam hadits ini beliau tidak melarang istri beliau dari amalan berziarah, bahkan beliau mengajarinya do’a berziarah.

Ini menunjukkan bolehnya berziarah bagi seorang muslimah.

Namun demikian, ada LARANGAN MEMPERBANYAK ziarah bagi kaum muslimah, yaitu dalam sabda beliau yang lain:

“Laknat Allah atas kaum perempuan yang memperbanyak ziarah kubur..”

Begitu pula jika ziarah itu mendatangkan mudhorat bagi perempuan tertentu, atau menjadi fitnah bagi orang lain, maka ziarah menjadi terlarang baginya, karena mudhorat yang ditimbulkannya tersebut, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى