Category Archives: Display Picture Dakwah

Dosa bani Adam…

 

dosa anak adam

Dosa ibnu adam yang paling banyak terdapat pada lisannya….

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang berisi perintah agar menjaga lisan.

Lisan kita merupakan anggota tubuh yang kecil, namun sangat banyak digunakan.

Sehingga,kita diperintahkan untuk selalu menjaga anggota tubuh tersebut agar tidak terjerumus ke dalam neraka dikarenakan dosa-dosa yang ditimbulkan oleh lisan.

Sebagaimana Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda

“Bukankah yang banyak menyebabkan tersungkurnya wajah-wajah manusia di dalam neraka adalah lisan-lisan mereka?!”

Dosa-dosa yang sering dilakukan dengan lisan diantaranya adalah berdusta, ghibah, mencela orang, memfitnah orang, dan lain-lain. Semua itu adalah perbuatan dosa yang wajib kita tinggalkan.

Oleh karena itu, Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah sesuatu yang baik. Atau jika tidak, maka diamlah.”

و الله تعالى أعلم.

Ust Riki, حفظه الله تعالى

Courtesy : JODOH

Dzikir ketika terjaga tengah malam…

dzikir terjaga tengah malam

Ustadz Abdullah Taslim, حفظه الله تعالى

Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه

“Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca (zikir tersebut di atas):

لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ

[Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qodiir. Alhamdulillah wa subhanallah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah] Segala puji bagi Allah Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, maha suci Allah, tiada sembahan yang benar kecuali Allah, Allah maha besar, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, kemudian dia mengucapkan:

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي

“Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku“, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” [HSR al-Bukhari (no. 1103), Abu Dawud (no. 5060), at-Tirmidzi (no. 3414) & Ibnu Majah (no. 3878)].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang berzikir ketika terjaga di malam hari, kemudian dia berdoa kepada Allah atau melakukan shalat [Lihat kitab “Shahih Ibni Hibban” (6/330) dan “al-Washiyyatu biba’dhis sunani syibhil mansiyyah” (hal. 185).]

Imam Ibnu Baththal berkata: “Allah menjanjikan melalui lisan (ucapan) nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang terjaga dari tidurnya (di malam hari) dalam keadaan dia lidahnya selalu mengucapkan (kalimat) tauhid kepada Allah, tunduk pada kekuasaan-Nya, dan mengakui (besarnya limpahan) nikmat-Nya yang karenanya dia memuji-Nya, serta mensucikan-Nya dari (sifat-sifat) yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih (menyatakan kemahasucian-Nya), tunduk kepada-Nya dengan bertakbir (menyatakan kemahabesaran-Nya), dan berserah diri kepada-Nya dengan (menyatakan) ketidakmampuan (dalam segala sesuatu) kecuali dengan pertolongan-Nya, sesungguhnya (barangsiapa yang melakukan ini semua) maka jika dia berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, dan jika dia melaksanakan shalat akan diterima shalatnya. Maka bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala“ [Dinukil oleh imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Baari” (3/41)].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Imam Ibnu Hajar berkata: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah (mampu dilakukan) oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir (kepada Allah), sehingga zikir tersebut menjadi ucapan (kebiasaan) dirinya sewaktu tidur dan terjaga, maka Allah Ta’alamemuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya” [ Kitab “Fathul Baari” (3/40)].

– Keutamaan mengucapkan zikir ini juga berlaku bagi orang yang terjaga di malam hari kemudian dia mengucapkan zikir ini (berulang-ulang) sampai dia tertidur. Imam an-Nawawi berkata: “Orang yang terjaga di malam hari dan ingin tidur (lagi) setelahnya, dianjurkan baginya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai dia tertidur. Zikir-zikir yang dibaca (pada waktu itu) banyak sekali yang disebutkan (dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), di antaranya … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas [Kitab “al-Adzkaar” (hal. 79 – cet. Darul Manar, Kairo, 1420 H)].

– Di antara para ulama ada yang menjelasakan bahwa peluang dikabulkannya doa dan diterimanya shalat pada saat setelah mengucapkan zikir ini lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya [Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/254)].

Tenanglah Dan Jangan Gelisah

Rasa gelisah tidak akan menghilangkan kemungkinan terjadinya apa yang engkau takutkan di masa depan.. padahal rasa gelisah itu telah mencuri kebahagiaanmu di hari ini.

Sehingga praktis rasa gelisah itu tidak mendatangkan manfaat sedikitpun, oleh karena itu Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menuntun kita untuk berdo’a:

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari perasaan gelisah dan bersedih..” [HR. Bukhori: 2893]

Maka, buanglah rasa gelisah dari hatimu dan tumbuhkanlah rasa tawakkal, serahkan semua urusan kepada Allah, setelah melakukan usaha yang engkau mampui.

Dan jangan lupa, iringilah usahamu dengan banyak berdo’a. Lalu syukurilah nikmat yang ada di tanganmu.. insya-Allah rasa tenang dan bahagia akan selalu menghiasi hatimu..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Perkataan “Seandainya…” Membuka Pintu Syaitan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

tidak disenangi

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لَأَنْ أَعُضَّ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تَبْرُدَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُوْلَ لِشَيْءٍ قَدْ قَضَاهُ اللهُ : لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ

“Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : “Seandainya tidak terjadi”
(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)

Dalam hadits :

فَإِنَّ لَو تَفتح عمل الشيطان

“Sesungguhnnya perkataan “seandainya” membuka amalan syaitan”

Diantara amalan syaitan :
– Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan “seandainya” sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai

– Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : “Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali”. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil

– Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifitas.

Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah “Qoddarollahu wa maa syaa-a fa’ala”
(ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”

Mari semangat beraktifitas…, yang berlalu biarlah berlalu…, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita…

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊