Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-48) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 49 🌼
⚉ Dan mereka meyakini bahwa tidak akan sempurna keinginan kepada kehidupan akhirat kecuali dengan zuhud dalam kehidupan dunia.
Ahlussunnah mempunyai keyakinan bahwa siapapun yang ingin mencintai akhirat hendaklah ia mengurangi cintanya kepada dunia. Karena cinta dunia dengan cinta akhirat tidak akan bersatu.
Apabila cinta akhirat kuat dihati seorang hamba, maka cinta dunia akan lemah. Demikian pula cinta dunia itu ketika kuat dihati seorang hamba maka cinta akhiratpun akan lemah karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mengumpamakan hati itu seperti bejana. Bejana kalau diisi air akan pergilah selainnya, ketika diisi dengan tanah, airpun akan pergi dan hilang.
Ibnul Qayyim rohimahullah berkata tidak akan lurus zuhud dalam dunia kecuali dengan melihat dua penglihatan yang benar. Apa itu?
1⃣ Melihat kepada hinanya dunia, dan bahwasanya dunia itu adalah fana, dan bahwasanya kesenangan (di dunia) itu tidak lepas dari kesusahan, kelelahan, kesedihan, ketakutan dan bahwasanya ia tidak akan pernah kekal selama-lamanya.
2⃣ Yaitu dengan melihat kepada kehidupan akhirat. Bagaimana kekekalannya akhirat, bagaimana kesenangannya yang tak pernah ada henti-hentinya.
Maka apabila seorang hamba melihat dua perkara ini dengan akal pikirannya, lalu ia menimbang dan melihat bahwasanya ternyata kesenangan dunia sangatlah sedikit di bandingkan dengan kesenangan akhirat. Maka pada waktu itu keinginan kepada kehidupan akhiratpun menjadi besar, menjadi kuat dan menjadi zuhudlah ia dalam kehidupan dunia.
⚉ Apa itu Zuhud ?
Hakikat zuhud kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah yaitu
ترك ما لا ينفع في الآخرة
“yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhiratnya“
Maka semua yang sifatnya tidak ada manfaatnya untuk kehidupan akhirat ia tinggalkan, itu adalah ZUHUD. Dan juga agar zuhud di dunia itu dengan cara melihat, membaca ayat-ayat dalam Alqur’an, dalam hadits bagaimana Allah mensifati dunia :
⚉ dimana dunia itu kesenangan yang menipu,
⚉ dunia itu sesuatu yang fana,
⚉ dunia itu lebih hina dari bangkai anak kambing,
⚉ dunia itu lebih hina daripada sayap seekor nyamuk,
⚉ bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mengumpamakan dunia itu bagaikan kotoran manusia.
👉🏼 Maka dari itu ketika seorang hamba betul-betul menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah ia mengosongkan hatinya dari tertipu dengan dunia, dari mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Seperti sebuah kapal yang berlayar diatas lautan, ia akan tetap bisa berlayar apabila kapal itu kosong dari air laut. Tapi ketika air laut telah memenuhi kapal pasti akan tenggelam.
👉🏼 Maka apabila kita ingin bisa berlayar dalam kehidupan dunia dan selamat sampai kepada kehidupan akhirat, janganlah penuhi hati kita dan jangan sampai hati kita tenggelam dalam syahwat dan hawa nafsu.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-47) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 48 🌼
⚉ Merupakan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu bergaul, bermuamalah dengan akhlaq, kejujuran, penuh amanah dan nasehat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS An Nisaa : 81]
“Mereka orang-orang munafik itu berkata: kami taat, apabila mereka keluar dari sisimu, diantara mereka ada yang tidak jujur, artinya mengucapkan apa yang tidak ada pada hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka tersebut, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai wakil.”
Berkata orang-orang kepada Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, sesungguhnya kami masuk kepada penguasa kami dan kami mengucapkan kepada mereka tidak sesuai dengan apa yang ada di hati kami, ketika kami keluar dari sisi penguasa. Artinya ketika ketemu dengan penguasa Ucapannya A tapi keluar dari mereka ucapannya B.
Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa mengatakan kami dahulu menganggap itu adalah sikap munafik [dikeluarkan oleh Imam Bukhori].
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Seorang mukmin apabila berada diantara orang-orang kafir dan orang-orang yang jahat, sementara ia tidak mampu untuk menjihadi mereka dengan tangannya karena dia tidak mampu, tapi apabila ia mampu ia dengan menjihadi mereka dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan ia tidak pernah berdusta dan mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya atau ia memperlihatkan agamanya, atau ia menyembunyikan agamanya.”
Namun bukan berarti dia menyesuai agama mereka, akan tetapi sama halnya dengan mukmin di zaman Fir’aun dan istri Fir’aun yang tidak menyetujui agamanya Fir’aun. Namun mereka tidak berdusta, tidak juga mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada di hatinya. Bahkan mereka menyembunyikan imannya karena takut. Dan menyembunyikan agama itu sesuatu yang lain. Beda dengan memperlihatkan agama yang bathil, karena itu perkara yang berbeda.
👉🏼 Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membolehkan, memperlihatkan ucapan yang bathil atau kekufuran. Kecuali kalau dipaksa, dimana di bolehkan berucap kekufuran, karena terpaksa. Karena waktu itu Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhumaa dipaksa, disiksa akhirnya terpaksa ia mengucapkannya, maka Allah mema’afkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara munafik dan orang yang di paksa. Sementara ahli bid’ah jenis mereka sama dengan orang-orang munafiqin, seperti halnya orang syi’ah. Mereka berbicara didepan Ahlussunnah tidak sesuai dengan apa yang ada dihati mereka. Di depan ahlussunnah berbicaranya “A” tapi dibelakang mereka bicaranya “B”.
Demikian pula keadaan ahli bid’ah yang lainnya, mereka itu terkadang bermuka dua. Kata beliau ( Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى ): “Adapun orang-orang rafidhoh, orang syi’ah, ia tidaklah bergaul dengan seseorang terutama dari kalangan Ahlussunnah, kecuali pasti menggunakan sikap nifaq (kemunafikan), karena agama mereka rusak. Mereka menganggap dusta itu halal.” Mereka menganggap dusta itu bahkan bagian dari agama mereka, sehingga dusta itu menjadi syi’ar mereka. Itulah orang-orang syi’ah dan rafidhoh.
👉🏼 Maka sungguh sangat aneh orang-orang yang percaya kepada orang-orang syi’ah rofidhoh. Karena mereka adalah kaum yang menghalalkan dusta, terutama terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-46) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 47 🌼
. ⚉ Ahlussunnah wal Jama’ah mempunyai keyakinan bahwa diantara tanda ahli bid’ah yang paling tampak adalah at Talawwun wat Tanaqqul yaitu yang tidak kokoh di atas sunnah, diatas kebenaran, dia akan mengukuti hawa nafsunya sesuai dengan keinginan hawa nafsu bukan diatas hidayah, tidak pula berusaha untuk menggigit dengan gigi gerahamnya.
Karena memang demikian bid’ah itu menyebabkan seseorang itu bersikap memandang bahwasanya sunnah itu hanya sebatas alternatif saja, bukan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.
👉🏼 Sementara Ahlussunnah menganggap bahwa sunnah itu harga mati, dalam artian tidak ada jalan lain kecuali sunnah Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam*
👉🏼 Dimana jalan menuju Allah dan menuju syurga hanya melalui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, tidak mungkin melalui pemikiran barat ataupun filsafat ataupun ilham dan pikiran-pikiran manusia.*
Maka dari itu Ahlussunnah wal Jama’ah menganggap bahwa inilah jalan yang paling harus ditempuh satu-satunya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman para Salafusholih.
Berkata Abul Faroj Al Hamdani; aku mendengar al-Marwazi berkata Imam Ahmad ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam
إن الله احتجز التوبة صاحب بدعة
“sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku bid’ah.”
Apa maksudnya ? kata Imam Ahmad, artinya ia tidak di berikan oleh Allah taufiq dan tidak di mudahkan untuk bertaubat, akibat daripada mereka menganggap baik bid’ah.
Kalau orang sudah menganggap (bid’ah) baik, maka bagaimana akan bertaubat, bertaubat itu kalau biasanya ia seseorang telah menganggapnya buruk, baru ia akan bertaubat dan kembali, tapi ketika selama ia menganggap itu perbuatannya baik dan bagus, sesuai dengan akal pikirannya, maka ia tidak akan bertaubat, dan pasti akan dipersulit taubatnya. Artinya tidak akan diberi taufiq untuk bertaubat.
Oleh karena itu disebutkan oleh Al Imam Ibnul Qayyim, dalam Ibnu Taimiyyah – Majmu Fatawa jilid 10 halaman 9 (atau jilid 9 halaman 10) dimana beliau berkata :
“Oleh karena itu para Ulama Islam seperti Sofyan as-Tsaury dan yang lainnya berkata :
“Sesungguhnya bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada maksiat,“
لا يُتاب منها
“karena perbuatan bid’ah menjadikan seseorang itu tidak akan bertaubat.”
والمعصية يُتاب منها
“Sedangkan orang berbuat maksiat memandang itu buruk sehingga ada kemungkinan kuat untuk bertaubat.”
Kemudian beliau berkata, “…dan perkataan para ulama bahwa bid’ah itu tidak diberikan padanya taubat artinya orang ahli bid’ah yang mengambil agamanya dengan sesuatu yang Allah tidak syari’atkan dan tidak pula Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam syariatkan, itu telah dihiaskan kepadanya amalannya tersebut sehingga ia menganggapnya baik, dan tidak mungkin ia bertaubat selama ia menganggapnya baik….”
At-Taubat itu awalnya di mulai dari seseorang menganggap sesuatu itu buruk, maka demikian orang yang berbuat bid’ah dia akan menganggap baik semua perkara yang ternyata TIDAK PERNAH disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam. Sehingga orang seperti ini bagaimana akan kokoh diatas sunnah, diatas jalan Salafush-sholih.
👉🏼 Maka dia akan Talawwun (berganti-ganti aqidah), Tanaqqul (berpindah-pindah) sehingga ia tidak diberikan oleh Allah keistiqomahan, akibat daripada terkena syubhat-syubhat yang menyebabkan akhirnya ia tidak bisa istiqamah diatasnya.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj