Iri dan Dengki…

Akhi..
Ternyata kelebihan yang dimiliki seseorang tidak bisa mencegah dirinya dari iri dan dengki kepada orang yang di bawahnya sekalipun.

Tidak sedikit orang kaya yang tidak bahagia dan hatinya sesak hanya karena melihat pembantu dapat rezeki umrah gratis dan lebih dicintai oleh warga di sekitar rumahnya.

Tidak sedikit orang terkenal yang dadanya sesak dan hatinya sakit ketika ada temannya yang mulai agak dikenal oleh sebagian fans nya.

Tidak sedikit dan tidak sedikit..
Orang yang lebih hebat iri dan dengki kepada orang yang berada di bawahnya.

Walaupun dia akan mengelak dengan mengatakan: ” untuk apa saya iri sama dia? Saya lebih kaya, saya lebih terkenal, lebih banyak penggemar, dan bla bla bla..”

Hasad (iri dan dengki) adalah sifat tercela yang banyak menjerumuskan orang kepada api neraka.

Hasad bukan hanya menginginkan nikmat Allah hilang dari seseorang, bahkan sekedar tidak suka nikmat tersebut dimiliki orang pun sudah termasuk hasad.

Tidak menyampaikan pujian orang lain kepada saudara kita pun bisa sebagai tanda terjangkiti hasad.

Bagi anda yang merasa terjangkiti hasad (iri dan dengki) saya sarankan agar segera bertaubat dan membersihkan diri dari kotoran hati tersebut. Selain anda akan sangat berdosa karena tidak rela dengan pembagian Allah, anda juga tidak akan pernah bahagia. Iya, anda tidak akan pernah bahagia karena tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi nikmat Allah kepada seseorang. Setiap kali nikmat itu Allah berikan kepada saudaramu maka dadamu semakin sesak dan engkau semakin merana.

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat hasad yang begitu hina ini.

Cileungsi, Muharram 1438 H
Saudaramu yang membutuhkan ampunan Rabbnya

Abu Jafar Cecep Rahmat,  حفظه الله تعالى 
Posted by Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Hukum Menamai Al Qur’an Dengan “Mushaf Silvi” atau Yang Serupa…

Komersial, ya komersial itulah alasan yang sangat kental dan nampak dengan jelas tersirat bahkan tersurat dari penamaan-penamaan semacam ini. Demikian pula dengan pemilihan warna, dekorasi, dan lainnya, tujuannya ialah membuka segmen pasar baru dan loyal bagi Al Qur’an yang ia cetak.

Namun sangat dimungkinkan bahwa keputusan memberi nama baru kepada Al Qur’an dengan nama “Mushaf SIlvi, atau susi, atau Chodijah, atau Laila, atau Ja’far, atau Salman” atau yang serupa tanpa pertimbangan dari aspek hukum syari’atnya.

Dahulu, para ulama’ terutama para pakar penulis Al Qur’an sedari awal sejak zaman para sahabat begitu hati-hati dari membubuhkan apapun selain Al Qur’an. Tujuanya demi menjaga keutuhan Al Qur’an dan agar tidak ada celah bagi siapapun untuk menyisipkan tambahan kepada Al Qur’an.

Dari sisi lain, dahulu di kalangan para ahli fiqih juga terjadi kontroversi seru tentang hukum menjual belikan Al Qur’an. Nah kini Al Qur’an benar-benar sedang dikomersialisasikan dengan berbagai metode marketing, semisal pemberian nama-nama nyentrik seperti ini. Barang kali para penerbit mengira bahwa hal seperti ini tidak bermasalah, padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Penamaan Al Qur’an dengan Mushaf Laila atau yang serupa bisa dikatakan sebagai bentuk inovasi dalam hal agama atau lebih tegasnya bisa disebut sebagai bentuk bid’ah yang tidak pernah dilakukan sepanjang 14 abad.

Apalagi dari sisi lain, bisa jadi ini membuka pintu lebar bagi kaum syi’ah untuk menyusupkan Al Qur’an fiktif mereka yang disebut dengan “Mushaf Fatimah” atau minimal mulai membuka jalan bagi mereka, sehingga suatu saat ketika mereka benar-benar telah mengedarkan mushaf fiktif mereka dengan sebutan “Mushaf Fatimah” dengan mudah diterima oleh masyarakat atau minimal selamat dari kecurigaan masyarakat. Apa anda berharap menjadi pembuka jalan bagi sekte syi’ah untuk menyebarkan mushaf fiktif mereka? Dan bila benar-benar terjadi, apa anda siap menanggung dosa tersebarnya kesesatan dan mushaf fiktif?

Saudaraku! Para penerbit dan juga para ustadz kiyai, juru dakwah, mari kita bentengi agama kita dan agama masyarakat kita dari berbagai hal yang dapat merusak atau menodai kesucian dan kesempurnaan agama kita ini.

Wallahu Ta’ala a’alam bisshowab.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Lebih Ringan…

Sufyan ats-Tsaury berkata :

إن لقيت الله تعالى بسبعين ذنبًا فيما بينك وبين الله تعالى؛ أهون عليك من أن تلقاه بذنب واحد فيما بينك وبين العباد

“Jika engkau bertemu dengan Allah membawa 70 dosa antara engkau dan Allah, lebih ringan daripada engkau bertemu denganNya dengan satu dosa antara engkau dengan hamba-hambaNya”

(Tanbihul Gofilin karya as-Samarqondi hal 380)

Firanda Andirja

Tentang MIMPI…

Jika ada orang yang bertanya kepada Ibnu Sirin rahimahullah (yang beliau adalah ahli tafsir mimpi) tentang mimpinya maka Ibnu Sirin berkata kepadanya :

” ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻻ ﻳﻀﺮﻙ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ »

“Bertakwalah engkau kepada Allah tatkala engkau sedang terjaga, maka apa yang kamu lihat dalam mimpimu tidak akan memberi kemudorotan kepadamu”
(Lihat : Hilyatul Auliyaa 2/273)

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah