Sakaratul Mautnya Sang Kholifah dan Isbalnya Seorang Pemuda…

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang shahih:

Bahwa ketika Khalifah Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu ditikam, kaum muslimin mendatangi dan merebahkan beliau. Lalu, seorang pemuda dari Quraisy menemui beliau dan mulailah pemuda tersebut menyebutkan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Umar. Tatkala pemuda itu keluar, ‘Umar radhiallahu ‘anhu melihat kepadanya…..saat itu, Umar banyak mengeluarkan darah karena luka tikaman.

Umar berkata, “Bawalah pemuda itu kepadaku”

Umar melakukan itu, Sebab beliau melihat pakaian pemuda tsb panjang dan isbal ke bawah melebihi mata kaki…

setelah sang pemuda ada di hadapannya, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

ابن أخي ارفع ثوبك فإنه أنقى لثوبك وأتقى لربك

(H.R Bukhari: 3497)

atau dalam lafadz kitab Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, hadits nomor 24.185

يا بن أخي ارفع إزارك فإنه أتقى لربك وأنقى لثوبك

Artinya sama:
“Wahai anak saudaraku, Angkatlah pakaianmu, karena itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih mendatangkan ketaakwaan kepada Rabbmu

Semoga Allah meridhoimu sang kholifah…di gerbang kematianmu dan darah mengucur dari tubuhmu…engkau sempat mendidik kami untuk menaati perintah rasulmu…..

Wahai pemuda ….. bukankah engkau mencintai Umar sang kholifah ????

Kenapa engkau campakkan wasiat terakhirnya??? padahal Dia lebih mengutamakan kebaikan untukmu di sela- sela hitungan detik menjelang kepergiannya meninggalkamu….

Radhiyallahu ‘anhu wa ardhoh

Fadlan Fahamsyah,  حفظه الله تعالى 

Mereka Tinggalkan Negrinya Demi Beriman, Bukan Demi Lapangan Pekerjaan…

Para sahabat terusir dari Makkah ke negri Habasyah (Etiopia) agar bisa mempertahankan imannya, kemudian mereka terusir kembali ke Madinah untuk tujuan yang sama. Kampung halaman, rumah, harta dan segala kepentingan mereka di Makkah mereka Tinggalkan demi tegaknya iman.

الذين إخرجوا من ديارهم بغير حق الا أن يقولوا ربنا الله

Orang orang yang diusir dari Negrinya tanpa alasan yang benar selain karena mereka berkata: Tuhan kami hanyalah Allah. ( Al Haj 40)

Kemudian selang beberapa tahun mereka kembali ke Makkah bukan untuk mengambil kembali kekayaannya dan bukan pula karena terbuka lapangan pekerjaan yang untuk mereka. Mereka kembali untuk mengibarkan bendera Islam, dan menyingkirkan berhala dan berbagai praktek kesyirikan.

Mereka menjual dunianya demi mendapatkan akhiratnya, bukan sebaliknya menjual agamanya demi mendapatkan kekayaan atau pekerjaan.

Merekalah para sahabat Radhiallahu anhum, atas izin Allah kemudian berkat perjuangan mereka, kini Anda masih menikmati indahnya Islam. Bersyukurlah dan cintailah m, bukan sekedar slogan namun pembuktian. Ikuti jejak mereka dan teruskan perjuangan mereka, karena mereka adalah generasi terbaik dan bahkan telah mendapat jaminan masuk surga. 

أولئك الذين هدى الله فبهداهم اقتده

Merekalah orang orang yang telah mendapat petunjuk, maka dengan petunjuk merekalah hendaknya engkau mengambil teladan. ( Al An’am 90)

Ya Allah, satukan kami dengan para sahabat Nabi-Mu di dalam jannah-Mu, walau kami sadar terlalu kecil bekal kami untuk dapat menyamai kedudukan mereka, namun karnia-Mu sangat luas untuk kami.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Harta = Standar Kecintaan Allah..?!

Sungguh inilah pemahaman kapitalis yang sejak dulu diingkari oleh Islam.. Hal itu, telah Allah tegaskan dalam banyak ayat dalam Alqur’an.

Allah berfirman (yang artinya):

“Tidaklah harta-harta dan anak-anak kalian itu dapat mendekatkan kedudukan kalian di sisi Kami.” [QS. Saba’: 37]

Di ayat lain Allah berfirman (yang artinya):

“Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian).” [QS. Attaghobun:15]

Allah juga berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa menghendaki (nikmat dunia) yang disegerakan, maka Kami segerakan baginya di dunia itu nikmat yang kami kehendaki untuk siapapun yang Kami inginkan, kemudian Kami tentukan baginya neraka jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [QS. Al-Isro: 18]

Allah juga berfiman (yang artinya):

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya dengan memberinya kelapangan dan kenikmatan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” (15) Adapun bila Tuhannya mengujinya dengan kekurangan rezeki, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah menghinakanku” (16) padahal sama sekali tidak demikian..! (17)..” [QS. Alfajr: 15-17]

Bahkan, ini pula standar yang dipakai oleh Firaun untuk membenarkan ajarannya.. maka jangan sampai kita mengikuti jejaknya, Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Fir’aun menyeru kaumnya (seraya) berkata: “wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku, dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; tidakkah kalian melihatnya..?!

(**) Bukankah aku lebih baik daripada (Musa); orang yang hina, yang hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya..?

(**) Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya..?”

(**)  Maka (dengan retorika itu) Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” [QS. Azzukhruf: 51-54]

Sungguh.. harta, kedudukan, ketampanan, kecantikan, dan nikmat-nikmat dunia lainnya bukanlah standar kecintaan Allah kepada kita.

Namun.. yang menjadi standar kecintaan Allah kepada kita, adalah tingginya keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.. tanpa pandang bulu.. siapapun dia, dimana pun dia, dan bagaimana pun keadaannya.. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Ingatlah, bahwa kekasih-kekasih Allah; tidak ada ketakutan pada mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih. Yaitu = orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya.” [QS. Yunus: 62-63]

Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya):

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa-rupa kalian, dan tidak pula melihat harta-harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati-hati dan amal-amal kalian.” [HR. Bukhori Muslim]

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah