Munafik Berakhlak Baik…

Terkadang terkumpul pada satu orang perbuatan munafik dan akhlak yang baik, seseorang kelihatan baik di hadapan makhluk tapi melupakan Sang Khaliq.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada orang yang disebut-sebut: Sungguh cerdas! Sungguh cerdik! dan sungguh kuat! Sementara di dalam hatinya tidak ada keimanan seberat biji sawi pun.”

Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi,  حفظه الله Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. 24.3.2016

Courtesy of Twitulama

Menyembah Manusia, Namun Ndak Merasa…

Suatu hari sahabat Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat :

( اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ )

“Mereka menjadikan ulama’-ulama’ dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah ” (Surat At Taubah 31),

Merasa ada yang janggal dan kurang sesuai dengan apa yang ia alami semasa menjadi pemeluk agama Nasrani, segera ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata:
Sesungguhnya dahulu kami tidak pernah menyembah para pendeta dan ahli ibadah di antara kami.

Menanggapi pertanyaan sahabatnya ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونَهُ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ الله فَتُحِلُّونَهُ؟!) 

”Bukankah mereka mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan, kemudian kalianpun turut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan sesuatu yang Allah haramkan, lalu kalianpun turut menghalalkannya?!”

Sahabat Adi menjawab : Benar.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ) 

”Itulah wujud peribadatan kepada mereka”. (Hadits riwayat Ahmad dan At Tirmizi).

Jadi, melek dalil dan melek argumentasi tuh penting, ndak asal nurut agar tidak terjerumus dalam praktek kultus buta kepada sesama manusia, yaitu dengan mengikuti pendapat tokoh yang telah terbukti secara meyakinkan menyimpang dari dalil. Bila ndak, maka ngaku atau ndak ngaku, sadar atau ndak sadar, berniat atau ndak berniat, maka sejatinya telah terjerumus pada praktek penyembahan sesama manusia.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Perbaikilah Lisanmu…

Lisan mempunyai pengaruh yang sangat kuat, jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang berkata-kata baik, maka ia akan terbiasa untuk berkata baik. Namun jika ia bergaul dengan orang-orang yang berkata buruk, maka ia pun akan terbiasa untuk berkata buruk. Oleh karenanya, perbaikilah lisanmu dengan memperbaiki lingkungan pergaulanmu.

(Khalid Al Mushlih, حفظه الله تعالى
dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia).

Courtesy of Twit Ulama

Kondisi Apa Yang Menyebabkan SUJUD SAHWI Dilakukan Sebelum / Sesudah Salam..?

Letak sujud sahwi  sebelum ataukah sesudah salam dapat dilihat pada rincian berikut.

1. Jika terdapat kekurangan pada sholat –seperti kekurangan tasyahud awwal-, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal, maka menutupinya tentu saja DENGAN SUJUD SAHWI SEBELUM SALAM untuk menyempurnakan sholat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari sholat.

2. Jika terdapat kelebihan dalam sholat –seperti terdapat penambahan satu roka’aat-, maka hendaklah SUJUD SAHWI DILAKUKAN SESUDAH SALAM. Karena sujud sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.

3. Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan roka’at, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan roka’at tadi. Pada saat ini, SUJUD SAHWINYA ADALAH SESUDAH SALAM dengan tujuan untuk menghinakan setan.

4. Jika terdapat keragu-raguan dalam sholat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia SUJUD SAHWI SESUDAH SALAM untuk menghinakan setan.

5. Jika terdapat keragu-raguan dalam sholat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah sholatnya empat atau lima roka’at. Jika ternyata sholatnya benar lima roka’at, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan sholatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia sholat enam roka’at, bukan lima roka’at. Pada saat ini SUJUD SAHWINYA ADALAH SEBELUM SALAM karena sholatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.

Baca ulasan lengkapnya berikut ini :
https://rumaysho.com/1065-panduan-sujud-sahwi-2-tata-cara-sujud-sahwi.html

✏️
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Jauhi Sikap Seperti Ini…

Manusia, jika berat dengan suatu kewajiban, ia berdalih dengan dalil, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”, Allah tidak membebani seseorang diluar kesanggupannya.

Padahal yang haram, ia ambil kaidah, “Adh dharuratu tubihul makhdhuraat”, kondisi darurat membolehkan hal-hal yang haram.

Dan jika tersibukkan dengan yang mubah, ia berprinsip “Al ashlu fil asyaa’ al hillu”, hukum asal segala sesuatu adalah halal.

(Semoga Allah menjaga kita dari sikap demikian -pent)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, حفظه الله pengasuh web IslamQA.

Courtesy of Twit Ulama

Pertanyaan Di Kubur Itu Tentang Wali Atau Nabi…?

Eh, kalau dikubur tuh ditanya tentang wali atau tentang nabi ya?

Banyak dari ummat Islam yang menjadikan ucapan atau pendapat guru, atau imam atau walinya bagaikan wahyu yang turun dari langit, bahkan melebihi wahyu yang telah terbukti turun dari langit.

Apapun ayat dan haditsnya dengan mudah diabaikan dan dicampakkan, kalau terbukti menyelisihi ucapan wali atau qutub timur atau selatan atau  yang serupa. Dan sebaliknya apapun kata wali dan qutub timur atau selatan, utara atau selatan, niscaya dipercayai tanpa perlu ditakwil apalagi ditolak.

Kadang kala saya sendiri heran, sebanarnya para wali tuh siapa ya? apakah mereka itu lebih tinggi maqamnya dibanding para rasul dan nabi? atau mungkin juga mereka telah disandingkan dengan Allah Ta’ala? na’uzubillah min zalika.

Sabar mas, baca status ini ndak usah sambil terengah-engah nafasnya. Akan labih bijak bila anda mencoba meneeladani sikap bijak seorang muslim sejati berikut ini:

Sahabat Ibnu Abbas menuturkan :

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُم حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى اله عليه وسلم، وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
”Hampir-hampir diturunkan atas kalian bebatuan dari langit, aku katakan kepada kalian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalian membantahnya dengan perkataan Abu Bakar dan Umar”.

Imam Ahmad bin Hambal menuturkan :”Aku sangat heran terhadap orang-orang yang mengetahui sanad dan keabsahannya, akan tetapi mereka malah memilih pendapat Sufyan, padahal Allah Ta’ala telah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasulullah) akan ditimpa fitnah, atau ditimpa azab yang pedih” (Surat An Nur 63), Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan fitnah disini? Maksud fitnah disini adalah syirik, karena mungkin saja bila ia menolak sebagian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan terbetik dihatinya suatu kesesatan, sehingga ia binasa”.

Setahu saya, di alam kubur kelak kita tuh ndak ditanya: ikut qutub timur, atau barat atau selatan atau utara. atau sulthanul auliya’ syeikh abdul Qadir Al Jailany atau lainnya, namun yang ditanya tuh 3 hal:
1. Siapa Tuhan-mu?
2. Siapa nabimu?
3. Apa agamamu?

Jadi woles aja kali, cukup baca syahadatain, belajar Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar, walau ndak kenal sama sulthanul auliya’ atau lainnya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Yang Seharusnya Kita Lakukan Ketika Orang Dekat Kita Sedang Marah

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kau melihat temanmu marah dan mulai mengatakan sesuatu yang tidak pantas, maka hendaknya jangan kau pedulikan sama sekali perkataannya… karena keadaannya itu seperti keadaannya orang yang sedang mabuk, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Tapi sabarlah ketika itu, jangan kau layani dia, karena setan telah mengalahkannya, tabi’atnya bergolak, dan akalnya sudah tertutupi.

Oleh karena itu ketika kamu melayaninya, atau bereaksi melawannya; kamu seperti orang waras yang melayani orang gila, atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan, sehingga kamu yang pantas dicela.

Tapi lihatlah dia dengan mata kasih sayang… dan ketahuilah bahwa bila dia sadar, pasti akan menyesali apa yang terjadi, dan mengakui jasamu dalam kesabaranmu… setidaknya kamu terima perlakuannya ketika dia marah hingga dia tenang.

Keadaan ini hendaknya diperhatikan oleh seorang ANAK ketika orang tuanya marah, begitu pula seorang ISTERI ketika suaminya marah, hendaknya dia membiarkannya puas dengan apa yang dikatakannya dan tidak melayaninya, maka dia akan kembali sendiri dengan rasa menyesal dan meminta maaf.

Ketika keadaan marah dan perkataannya dilawan, tentu permusuhan akan semakin jadi, dan saat dia sadar akan melakukan tindakan yang melampui tindakannya saat sedang ‘mabuk’.

Tapi, kebanyakan orang mengambil selain langkah ini; ketika mereka melihat orang marah, mereka melawan perkataan dan perbuatannya, padahal ini bukan tindakan yang tepat, namun tindakan yang tepat adalah apa yang kusebutkan tadi, dan tidaklah ada yang memahami hal ini, melainkan mereka yang berilmu.

[Kitab Shoidul Khothir, hal: 296].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kesabaran Dalam Iman…

Ali bin Abi Thalib berkata : Kesabaran dalam iman itu bagaikan kepala pada jasad, mungkinkah jasad akan hidup tanpa kepala??

Demikian pula iman, butuh kesabaran..
Ia memberi nutrisi hati tuk mentaati ilahi..
Namun sabar itu mudah tuk diucapkan, tetapi sulit.. Panas.. Dan berat..

Ketika iman berkata : “tujuan hidupku mencari keridlaan ar Rahman..
Kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan..
Disanalah kesabaran mendapat kesegaran..

Bukankah Rabbuna berfirman :

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, ia berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun..
Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan dikembalikan..

Mereka itu mendapat pujian dari Rabb, dan rahmatNya, dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah..

Saudaraku..
Apakah kita mengira dibiarkan mengucapkan: “Kami beriman”. Setelah itu kita tidak diuji ??
Tidak, demi Allah..
Ujian pasti kan menerpa..
menyaring keimanan..

Dikala ujian silih berganti..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya agar semakin mendekat kepada ilahi..

Suatu malam beliau bangun tiba-tiba dan bersabda: Subhanallah.. Fitnah apa yang diturunkan di malam ini?..

Bangunkanlah para pemilik kamar itu..
Berapa banyak orang berpakaian di dunia, ia telanjang di akhirat..?

Moga untaian kata ini sedikit memberi kehidupan di hati kita..
Untuk menempuh jalan menuju Allah..

Bersabarlah..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Bersabarlah Di Dalam Mengamalkan As Sunnah…

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata,
“Demi Dzat Yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, menegakkan As-Sunnah itu berada di antara dua kelompok. (Kelompok) yang ghuluw dan (kelompok) yang bersikap meremehkan. Maka bersabarlah kalian di dalam mengamalkan As-Sunnah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati kalian.

Sesungguhnya pada waktu yang lalu Ahlus Sunnah adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Maka demikian pula pada waktu yang akan datang, mereka adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak mengikuti kemewahan manusia. Tidak pula mengikuti kebid’ahan manusia. Mereka senantiasa bersabar di dalam mengamalkan As-Sunnah sampai bertemu dengan Rabb mereka. Maka hendaknya kalian pun demikian.”

(Syarah Ath-Thahawiyyah, 2/326)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

 

Menebar Cahaya Sunnah