Terjaganya Hati Dari Riya’…

“Sesungguhnya kesesuaian ilmu dengan
amalan kunci utamanya adalah
keterjagaan hati dari kotoran riya’ dan
perusak-perusak keikhlasan. 
Sehingga ada di antara ulama salaf yang
berkata kepada dirinya sendiri,
“Wahai jiwaku, ikhlaslah niscaya kamu
akan selamat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله
mengatakan,
“Barangsiapa yang baik isi hatinya
pastilah baik -amal- badannya, dan
tidak sebaliknya.”

(Al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 11)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tulisan Kita…

Apa yang kita harapkan dari tulisan kita ?
Pahala ataukah dosa …
Jika berisi kebaikan, maka tunggulah
pahalanya dari Allah semata…
Jika berisi keburukan atau bisikan-bisikan
jahat, maka tunggulah murka Allah…
Apakah kita sanggup memikul dosa dari
orang-orang yang disesatkan karena
akibat tulisan …
Yaa Rab kami tetapkanlah kami di atas alhaq…

Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله

image

Ulama Salaf Dalam Berfatwa…

Dari Nafi’ diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Ibnu Umar tentang satu persoalanam beliau menundukkan kepalanya dan tidak memberikan jawaban. Orang-orang mengira beliau tidak mendengar pertanyaannya. Lelaki itu kembali bertanya: “Semoga Allah merahmati anda, apakah anda tidak mendengarkan saya?” Beliau menjawab: “Dengar, tapi saya melihat kalian semua beranggapan bahwa Allah tidak akan meminta pertanggung jawaban kami atas jawaban kami terhadap persoalan yang ditanyakan kepada kami. Biarkanlah sampai kami dapat memberi jawaban atas pertanyaanmu -semoga Allah merahmatimu-, bila kami memang memiliki bahan sebagai jawabannya. Kalau tidak, kami akan memberitahukan kalian bahwa kami tidak memiliki ilmu tentang hal itu.” (Shifatush Shafwah I : 566)

Syu’aib bin Abu Hamzah meriwayatkan dari Zuhri: “Datang berita kepada kami, bahwa Zaid bin Tsabit apabila ditanya tentang satu persoalan, beliau kerapkali menjawab: “Apakah itu benar-benar terjadi?” Apabila dijawab, benar-benar terjadi, beliau segera menjawab persoalan tersebut sebatas ilmu yang beliau miliki. Tapi kalau mereka menyatakan, hal itu belum pernah terjadi, beliau akan segera menanggapi: “Biarkan saja sampai persoalan itu benar-benar terjadi dahulu.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ II : 438).

Dari Ayyub diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku pernah mendengar
Al Qosim ditanya di Mina, beliau menjawab: “Saya tidak tahu, saya tidak mengerti.” Setelah terlalu banyak yang bertanya kepada beliau, beliau berkata: “Demi Allah, saya memang tidak mengetahui semua yang kalian tanyakan kepada kami. Kalau saya tahu, niscaya tidak akan saya sembunyikan. Dan saya memang tidak akan mungkin menyembunyikannya.”

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Yang Mereka Inginkan

Amir Naif bin Abd Aziz رحمه الله :

“Sebenarnya mereka yang menyuarakan
“kebebasan kaum hawa”… yang mereka
inginkan bukanlah kebebasan kaum hawa.

Tapi, yang mereka inginkan adalah
kebebasan untuk menikmati kaum hawa.”

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله

Semua Pasti Mati…

إن الطبـيب بِطبِّه وَدَوائـِــــه
لا يستطيع دفـَاعُ مَقْــدُورِ ِالقـَضى

ما للطَّبيبِ يموتُ بالداء الذي
قد كان يُـبْرِىء مثــلَه فيمــــا مضـى

هلك المُدَاوِي والمُدَاوَى والذي
جَلـَبَ الدَّواءَ وَباعهُ وَمن ِ اشــــتـَرى

Sungguh seorang dokter, dengan keahlian
dan obatnya, tidak akan mampu melawan
takdir yang telah ada.

Lihatlah bagaimana dokter itu mati dengan
obat yang dulunya bisa mengobati orang
yang sakit seperti dia.

Semuanya pasti mati, baik yang mengobati,
yang diobati, yang membawa obat, yang
menjual, dan membelinya.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله

image

Negara Islam Atau Negara Kafir…?

Tema ini mulai ditabuh oleh sebagian orang, namun sebenarnya menurut saya, tema ini tema penuh duri, karena kalaupun kita benar, apa manfaat yang dapat dipetik? lebih besarkah manfaatnya dibanding madharatnya?

Apalagi kalau salah, haduuuh ribet banget deh.

karena itu; himbauan saya: coba belajar lagi, belajar lagi, belajar lagi, bukan ekspos lagi ekspos lagi.

Baca satu buku, belum jadi ulama’, apalagi baru baca beberapa halaman saja.

Pesan saya: JADI MUSLIM, TERLEBIH BERILMU, JANGAN HOBI MANCING DAN JANGAN PULA MUDAH DIPANCING.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

image

Nasehatku Untuk Ummahat dan Akhwat…

Jagalah lisan mu

Dari mengghibah..

Adu domba (namimah)

Mengejek..

Pamer harta atau pamer amalan..

Merasa diri sempurna..

Berkata menyakitkan lawan bicara..

Bersuara tinggi dan mudah menghardik..

Antunna bisa mencontoh bidadari surga sebelum Allah ambil ruh kalian…

Sesungguhnya kebanyakan para laki-laki akan terpengaruh dengann wanita yang ia cintai..

Buruknya akhlaqmu akan menular ke suamimu..

Indahnya akhlaqmu akan menjadi pemersatu umat..

engkau akan menjadi telinga suamimu dikala menilai tetanggamu….kawan karib suamimu.. bahkan menjadikan seorang suami yang menjadi seoarang dai sebagai pencetus perpecahan jika dalam hatimu berisikan rasa hasad dan dendam…
karena engkaulah juru nasehatnya…

lebih parah lagi sang suami bisa durhaka kepada ibunya karena membela dirimu…

sungguh engkau tega menjerumuskannya ke api..

Banyaklah mengaca pada sikap dan perilakumu…

Berusahalah engkau timbang dengan syariah Allah ta’ala dalam setiap perbuatan dan ucapanmu..

Sungguh engkau bisa jadi pembawa kebaikan atau sebaliknya menjadi pengompor keburukan dan kerusakan…

ittaqillah..

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله

Kelalaian Membuat Hati Kering…

Ibnu al-Qayyim رحمه الله mengatakan :

“Kemarau yang melanda hati adalah kelalaian. Kelalaian itulah hakikat kekeringan dan kemarau yang menimpanya. Selama seorang hamba tetap mengingat Allah dan mengabdikan diri kepada-Nya niscaya hujan rahmat akan turun kepadanya sebagaimana layaknya air hujan yang terus menerus turun.

Namun, apabila ia lalai maka ia akan mengalami masa kering yang berbanding lurus dengan sedikit banyaknya kelalaian yang terjadi padanya. Dan apabila ternyata kelalaian telah berhasil menjajah dan menguasai dirinya maka jadilah ‘buminya’ itu hancur dan binasa.”

(Asrar as-Shalah, hal. 4).

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Allah Maha Penerima Taubat…

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du; 

Allah Ta’ala menciptakan manusia agar beribadah dan berbuat taat kepada Subhanahu wa Ta’ala. 

Dan Allah Ta’ala juga membuka pintu-pintu taubat dan inabah agar para hamba dapat menghapus segala kesalahan dan ketergelinciran serta menutup celah dan kekurangan ataupun memperbaiki diri menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Bahkan taubat dan istigfar merupakan kewajiban bagi para hamba dan menjadi perintah Allah Ta’ala, sebagaimana firman Nya : 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah: 222)

Allah Ta’ala berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh.” (Q.S. At-Tahrim : 8)

Allah Ta’ala berfirman : 

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kepada Allah, wahai orang-oran beriman sekalian agar kalian beruntung.” (Q.S. An-Nuur: 31)

Allah ta’ala berfirman :

وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (Q.S. An-Nisaa’: 27)

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya.” (Q.S. An-Najm: 32)

Allah ta’ala berfirman :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu.” (Q.S. Al-A’raaf: 156)

Allah ta’ala berfirman : 

فَإِنَّهُ كَانَ لِلأَوَّابِينَ غَفُوراً

baca lanjutannya :
http://rochmadsupriyadi.blogspot.co.id/2016/03/allah-ta-maha-penerima-taubat.html?m=1

Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Menebar Cahaya Sunnah