Sejak diciptakan, manusia
selamanya akan terus
menjadi musafir…
Tidak ada batas akhir
perjalanan mereka kecuali
SURGA atau NERAKA…
Ibnul Qayyim, رحمه الله تعالى
1. Tidak Membawa Sesuatu yang Bertuliskan Nama Allah
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. Al Hajj: 32)
2. Membaca Doa Sebelum Masuk Kamar Kecil
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika memasuki kamar kecil, beliau ucapkan: ‘Allahumma inni audzu bika minal khubutsi wal khobaits’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) (Muttafaq alaihi)
3. Masuk Kamar Kecil dengan Kaki Kiri, Keluar Kaki Kanan
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik) (HR. Bukhari & Muslim)
4. Menutup Diri & Menjauh Ketika Buang Hajat
Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam satu perjalanan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak buang hajat di lapangan terbuka melainkan bersembunyi hingga tidak terlihat (HR. Ibnu Majah & Abu Dawud)
5. Tidak Menghadap atau Membelakangi Kiblat
Jika kalian hendak buang hajat, janganlah menghadap dan membelakangi kiblat. Tapi, menghadaplah ke timur atau ke barat. (HR. Muslim)
6. Dilarang Bicara Kecuali Darurat
Ada seorang laki-laki lewat ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedang buang hajat kecil, lalu laki-laki itu memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tetapi beliau tidak menjawab salam tersebut. (HR. Muslim)
7. Dilarang Buang Hajat di Tempat Berteduh/Jalan Umum
Jauhilah dua perkara yang mengundang laknat. Mereka bertanya, Apakah dua perkara yang mengundang laknat itu, ya Rasulullah?’. Beliau berkata, Orang yang buang hajat di jalan orang-orang atau di tempat berteduh mereka (HR. Muslim)
8. Dilarang Buang Hajat di Air Yang Tidak Mengalir
Beliau melarang kencing di air yang menggenang (HR. Muslim)
9. Dilarang Buang Hajat di Lubang Binatang
Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di lubang (yang biasa digali oleh binatang sebagai tempat persembunyiannya) (HR. Ahmad)
(Alhikmahjkt)
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Setiap nikmat yang tidak digunakan
untuk mendekatkan diri kepada Allah,
itu hanyalah musibah.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya Allah memberikan
nikmat pada siapa saja yang Dia
kehendaki. Jika seseorang tidak
bersyukur, nikmat tersebut malah
berubah menjadi siksa.”
(‘Iddatus Shobirin, hal. 148)
(tadabburdaily)
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Diceritakan bahwasanya Imam Ibrahim An-Nakha’i (semoga Allah merahmatinya) adalah seorang yang matanya juling dan muridnya, Sulaiman ibn Mihron penglihatannya juga lemah!
Ibn Al-Jauizy dalam kitabnya Al-Munthadham meriwayatkan dari mereka berdua:
Suatu hari keduanya sedang melewati salah satu jalan di kota Kufah-Iraq menuju ke Masjid Jami’. Tatkala mereka berdua sedang berjalan, Imam Ibrahim memanggil muridnya dan berkata: “Wahai Sulaiman! Aku mengambil jalan ini dan engkau ambil jalan yang lainnya. Sesungguhnya aku khawatir kalau kita melewati orang-orang bodoh, mereka akan mengatakan: Orang juling menuntun orang yang lemah penglihatannya, sehingga mereka jatuh pada perbuatan dosa gara-gara mengghibahi kita.”
Maka muridnya menimpali: “Wahai Imam, biarkan saja mereka mengghibahi kita, toh mereka akan mendapat dosa dan sebaliknya kita akan mendapat pahala.”
Ibrahim An-Nakha’i langsung menjawab: S”ubhanallah! Lebih baik kita selamat dan mereka juga selamat dari pada mereka mendapat dosa dan kita mendapat pahala.”
Hikmah:
1. Jiwa yang sangat mulia, begitu bersih dan peduli
2. Yang tidak menghendaki kesalamatan hanya untuk dirinya sendiri
3. Berharap dirinya selamat dan orang lain juga ikut selamat bersamanya
Sumber: Status Ustadz Muh Nurhuda
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata :
“Janganlah menentang nikmat Allah !”
Kemudian ada yang bertanya :
“Siapa yang berani menentang nikmat
Allah?”
Beliau berkata :
“Orang yang dengki terhadap orang lain
karena nikmat yang telah Allah berikan
pada orang tersebut.”
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid,
حفظه الله تعالى
Courtesy of Twit Ulama
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat untuk mendapatkan kedudukan di muka bumi atau untuk menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang yang berperang karena fanatisme dan riya’.
Namun, apabila dia berbicara karena Allah, ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata, maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.”
(Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan.
Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).
Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran:
1. Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.
2. Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)
(Rumayshocom)
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
“Mama jangan menangis lagi, Renata kan milik Allah.” Kata-kata ini seketika meluncur begitu saja dari bibir Renata seakan ingin menghapus kesedihan sang mama.
“Renata, ini obatnya diminum, ada berapa?” tukas sang Papa.
“Ada tiga, ” jawab Renata pendek.
“Bismillah, ya Allah, aku adalah milik-Mu dan aku akan kembali kepada-Mu. Sembuhkan aku dengan obat ini, berilah orang tuaku kesabaran dan rizki, “ lanjutnya seraya meminum obatnya.
Tak dinyana, kalimat-kalimat itu adalah ucapan terakhir Renata karena tak berapa lama kemudian ia pun tak sadarkan diri dan melewati hari-hari terakhirnya tanpa kesadaran di ruang ICU R.S. Fatmawati. Meningitis (radang selaput otak) telah menghampirinya hingga Allah menetapkan maut menjemputnya empat puluh hari kemudian. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Ucapan terakhir itu seakan menjadi gambaran perjalanan hidup Renata, si gadis kecil itu. Belum hilang dari ingatan sang mama saat putri kecilnya itu selalu mendampingi dan mengalirkan kalimat-kalimat nasihat.
“Mama, kalau beli ayam hati-hati, harus tanya dulu motongnya pakai bismillah tidak?”
“Mama, kenapa enggak pakai jilbab? Kan wajib.”
“Anjing itu najis kalau terkena jilatannya. Harus dicuci pakai tanah dan air. Orang sebelah harus diingatkan kalau anjingnya main-main ke rumah.”
Kini, gadis kecil itu telah pergi, tak ada lagi kalimat-kalimat indah itu. Tak ada lagi celotehan riangnya saat berangkat mengaji. Bahkan tak ada lagi yang membangunkan orang rumah untuk shalat Shubuh. “Ia terbiasa bangun lebih awal saat adzan berkumandang,” tutur sang Papa.
“Renata ingin lihat Mama pakai jilbab,”tutur Renata suatu hari sebelum ia tak sadarkan diri.
“Seolah-olah selama ini ia ada untuk mengingatkan dan menasihati kami,” kenang sang Mama.
Wahai Mama, bersabarlah. Yakinlah putrimu ini, dengan izin Allah, akan berbuah pahala bagimu untuk meraih surga yang dijanjikan. Tidakkah engkau ingat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Benar-benar ada lima hal yang sangat berat takarannya di akhirat kelak, yaitu ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar dan anak shalih yang meninggal sedang orang tuanya bersabar dan berharap pahala kepada Allah dari musibah itu.” (HR. An-Nasai, Ibnu Hibban dan Al-Hakim; dishahihkan oleh Al-Albani).
Wahai Papa, janganlah larut dalam kesedihan. Yakinlah, ini bukan perpisahan abadi bahkan ini adalah awal dari kebersamaan abadi, dengan izin Allah. Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan, “Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka, ”Masuklah ke surga!” Merekapun menjawab,”Kami akan masuk jika bapak dan ibu kami masuk juga ke surga.”…Maka diserukan kepada anak-anak kecil itu, ”Masuklah kalian dan orang tua kalian ke surga!” (HR. Imam Ahmad dalam Musnad-nya 28/174).
“Ya Allah, Ar-Rahman Ar-Rahim, Engkau telah memberi amanah kepada kami seorang putri, yang kami didik agar menjadi putri sholehah yang bertaqwa kepada-Mu dan kini Engkau telah memanggilnya.
”Ya Allah, dengan amal kami ini jadikanlah putri kami syafa’at bagi kami. Jadikanlah putri kami ini salah satu dari anak-anak kecil yang menanti orang tuanya di pintu surga untuk masuk bersama-sama. Amin.“
Renata Aulia Anjani meninggal di usia 7 tahun pada 26 April 2011 akibat meningitis–radang selaput otak. Renata adalah siswi kelas 1 Madrasah Ibitidaiyah As-Sa’adatuddarain I Pamulang Tangerang Selatan.
Kisah di atas merupakan penuturan kedua orang tuanya kepada Tim Sahabatku Sehat Al-Sofwa, yang telah melakukan dampingan sejak Renata dirawat di RS.Fatmawati. Semoga Allah merahmatinya dan semoga kisah ini menjadi hikmah bagi kita. Amin.
Sumber : As-Sofwah
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Syeikh Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berpesan:
“Teguhlah, jangan goyah dengan banyaknya serangan yang diarahkan kepadamu, atau banyaknya celaan atas pendapatmu..
Selama kamu di atas kebenaran, maka teguhlah, karena kebenaran itu tidak mungkin tersingkir..
Setelah itu, belalah dirimu jika posisimu lemah, karena tidak ada keadaan yang lebih rendah dari tindakan membela diri. Adapun jika posisimu kuat, maka seranglah. Dan hari-hari itu akan terus berputar..
Tapi yang paling penting, jika posisimu lemah, kamu harus teguh, dan jangan katakan: “manusia, semuanya menyelisihi pendapat itu..“
Akan tetapi, teguhlah, karena Allah pasti akan menolong agamaNya, kitabNya, dan RasulNya di semua zaman..
Dan memang harus ada gangguan, lihatlah Imam Ahmad, dia diseret di pasar dengan hewan bagal, dan dicambuki, tapi dia tetap sabar dan teguh..
Dan lihatlah Syeikhul Islam, dia diarak di atas gerobak dan dijebloskan dalam penjara, tapi dia tetap teguh..
Selamanya tidaklah mungkin bumi bertabur banyak mawar dan bunga, bagi orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Siapa yang menginginkan hal itu, berarti dia telah menginginkan kemustahilan..”
[Syarah Annuniyyah, Syeikh Al-Utsaimin 3/270]
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.
