Adab Menjenguk Orang Sakit…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila
menjenguk orang yang sakit, beliau
berkata kepadanya,

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

La ba’sa, thohuurun insya Allah
Tidak masalah, ia (penyakit ini) menjadi
pembersih (dosa) insya Allah.
[HR al-Bukhâri, 5656].

image

Ketika Allah Mencintaimu…

Ketika ada manusia yang mencintaimu,
maka kau akan merasa bahwa dirimu
cantik dan duniapun menjadi luas.

Maka bagaimana kalau Allah yang
mencintaimu, dan Dialah Rabb yang
Maha Indah, Rabb di kala kesempitan,
dan Rabbnya segala sesuatu.

Ahmad Isa al Mu’sharawi, حفظه الله تعالى

Courtesy of Twit Ulama

Kisah Sakaratul Maut Pemuda Berbakti…

Ini adalah kisah sakaratul maut yang begitu berkesan dari seorang pemuda yang begitu berbakti pada orang tuanya. Yang begitu mengagumkan kita, ketika ia ingin dipanggil oleh bidadari surga menjelang kematiannya, ia pun masih meminta izin pada ibunya. Bagaimana baktinya yang luar biasa ?

Sebuah kisah yang menggugah hati setiap insan beriman, tentang balasan nan indah bagi seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Membuat iri siapa pun yang mendengarnya. Bergetarlah hati setiap orang beriman yang menyaksikannya.

Dalam salah satu khutbahnya,

Syaikh Muhammad Hassan menceritakan tentang keajaiban yang dialami seorang pemuda saat detik-detik sakaratul maut menjemputnya. Tidak asing lagi bagi siapa pun yang mengenalnya bahwa ia adalah potret pemuda masa kini yang amat cinta dan berbakti kepada ibundanya.

Di antara keajaiban yang sampai kepadaku pada Ramadhan kali ini adalah kisah tentang seorang anak muda di antara anak-anak muda kita. Sesosok pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya terbaring di atas kasur kematian pada usia keemasannya, yang belum genap tiga puluh tahun. Dalam kegentingan akhir hayatnya itu, tatkala detik-detik sakaratul maut menjemputnya, orang-orang yang ada di sekelilingnya terheran-heran saat mendengar ia mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat menakjubkan. Sungguh, sangat menakjubkan!

“Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku harus izin dulu kepada ibuku!”

Masih saja pemuda tersebut mengulang-ulang kalimat yang sama. Hingga membuat mereka yang menyaksikan fenomena itu bergegas memanggil ibunya, yang sedari awal menyendiri dalam kamarnya, menangis, lantaran tak kuasa melihat sang buah hati menghadapi sakaratul maut. Tidak lain karena sang buah hati adalah sosok suri tauladan yang amat berbakti kepada ibunya. Mereka pun mengabarkan apa yang sedang terjadi dengan anaknya.

“Lihatlah anakmu, ia terus-menerus mengucapkan kalimat-kalimat yang aneh!“

Mendengar hal itu, sontak sang ibu yang cemas berlari menuju kamar anaknya. Didapatinya dahi sang anak mulai mengeluarkan buliran-buliran keringat bak mutiara. Dan ini adalah sebagian di antara tanda-tanda husnul khotimah, semoga Allah Ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan beriman. Ia dengarkan sendiri kalimat yang terus diulang-ulang oleh buah hatinya.

“Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku harus izin dulu kepada ibuku!”

Segera ia dekati buah hatinya. Dan Subhanallah, ia segera bertanya kepada anak kesayangannya :

“Wahai fulan, ini aku, ibumu. Wahai fulan, aku ibumu, Nak. Aku ibumu, anakku. Dengan siapa kau bicara?”

Ketika ajal yang kian dekat, di saat waktu yang demikian singkat itu, akhirnya sang pemuda shalih ini menceritakan peristiwa paling berkesan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama hidupnya. Ia pun menoleh kepada ibunya seraya berkata :

“Wahai ibuku, seorang gadis sangat cantik jelita, Ibu. Belum pernah aku melihat gadis secantik itu. Ia datang kemari. Sungguh aku melihatnya persis di hadapanku. Ia datang melamarku untuk dirinya, Ibu. Aku bilang kepadanya, tidak. Aku tidak bisa sampai aku minta izin dulu kepada ibuku.”

Maka sang ibu pun langsung menimpali : “Aku izinkan, anakku. Sungguh, dia adalah hurriyatun (bidadari) dari surga untukmu. Aku sudah izinkan, Nak.“

Sedemikian tinggi inikah derajatmu wahai pemuda? Hingga istrimu (di surga) datang kepadamu membawa kabar gembira, sementara dirimu masih ada di dunia ?

Janganlah kalian kaget. Tidak perlu kalian semua heran, karena dalam kondisi seperti ini, seorang mukmin akan diperlihatkan tempat tinggalnya di surga dan di neraka. Ia akan melihat tempatnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan ia akan melihat para malaikat-Nya. Ia benar-benar melihat malaikat dengan mata kepalanya. Ia pun akan mendengar sebuah bisyarah (kabar gembira).

Dan Maha Benar Allah Ta’ala yang berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka beristiqomah dengannya, maka para Malaikat akan turun kepadanya seraya berkata : “Janganlah kalian takut”

Di mana kejadian itu ? Di atas kasur ketika mereka akan meninggal, menurut salah satu pendapat. Atau tatkala mereka keluar dari alam kubur, sebagaimana pendapat yang lain dari para ulama tafsir. “Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih. Berbahagialah kalian dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian.” [Qs.Fushilat : 30]

(Khutbah Syaikh Muhammad Hassan)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Sholat Tapi Belum Bersyahadat…

Khalifah / penegakan hukum islam termasuk ke dalam bagian dari ibadah yang diperintahkan. Sama seperti puasa, shalat dll yang wajib dimurnikan untuk Allah semata.

Misalnya ada orang Kristen masuk masjid terus shalat. Tentu kita bilang kepadanya: Masuk Islam dulu (bertauhid), baru kerjakan shalat.

Nah orang yang ngotot khilafah tapi mengabaikan tauhid, kurang lebih seperti orang yang melakukan shalat tapi belum syahadat.

Permisalan ini bukan berarti menjudge murtad teman-teman yang ngotot khilafah, tapi mereka telah keliru dalam menempatkan apa yang seharusnya diprioritaskan.

Wallahua’lam.

Ustadz Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Wanita Lebih Mudah Masuk Surga…

Kunci Pintu Surga bagi Wanita

Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam telah merangkum kunci surga muslimah dalam empat perkara. ‘Abdurrahman bin Auf berkata, “Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan’.” (HR. Ahmad, hadits hasan lighairihi)

Kunci Pertama, Menjaga Shalat Wajib

Hendaknya kaum muslimin khususnya seorang wanita, menjaga shalat lima waktu. Shalat adalah ibadah teragung, merupakan satu-satunya ibadah yang tidak menerima alasan ‘tidak mampu’. Shalat wajib dikerjakan dalam keadaan apa pun. Bahkan dalam sebuah hadits, shalat dikatakan sebagai pembatas antara seseorang dengan kekafiran.

Sebaiknya seseorang tidak meremehkan dan menunda-nunda melaksanakan shalat. Jangan biarkan ibadah shalat terlalaikan karena kesibukan hidup, bekerja, memasak, mengurusi rumah tangga, mengurusi anak-anak dan suami, serta sibuk dengan kegiatan lainnya.

Allah Ta‘ala berfirman (artinya), “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi” (QS. al-Munaafiquun: 9).

Kunci Kedua, Berpuasa

Seorang muslimah juga harus memperhatikan perkara qadha’ puasa Ramadhan di hari-hari lain jika dia mendapatkan halangan pada bulan Ramadhan sehingga tidak mungkin berpuasa secara penuh. Jangan sampai Ramadhan berikutnya hadir sementara dia belum melunasi hutang puasanya.
Perkara meng-qadha’ puasa di hari lain ini sering terlupakan atau terabaikan karena kesibukan hidup.

Padahal ia adalah hutang yang jika tidak dibayar maka seorang muslimah tidak bisa dikatakan telah berpuasa di bulannya. Selanjutnya muslimah tersebut gagal meraih kunci kedua dari kunci-kunci masuk surga. Bersikap hati-hati dengan menyegerakan qadha’ adalah sikap bijak karena penundaan terkadang merepotkan dan menyulitkan.

Kunci Ketiga, Menjaga Kehormatan

Surga hanya bisa diraih dengan keshalihan. Hanya wanita shalihah yang akan masuk surga. Shalihnya seorang wanita dibuktikan dengan beberapa sifat dan akhlak. Salah satunya dan yang terpenting adalah menjaga kehormatan diri.

Allah subhaanahu wa Ta‘ala berfirman (artinya), “…wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara (mereka)…”(QS. an-Nisaa’: 34).
Menjaga kehormatan berarti membentengi diri dari perkara-perkara yang mencoreng dan merusak kehormatan, yang menodai dan menggugurkan kemuliaan. Hal itu dapat diperoleh dengan tetap bersikap dan bertingkah laku dalam koridor tatanan syari’at yang suci lagi luhur.

Hendaknya seorang muslimah menimbang dan mengukur setiap seruan dan ajakan dengan timbangan dan ukuran syar’i yang baku dan menyeluruh. Hal ini agar dia selamat dan tidak terjerumus ke dalam perkara-perkara yang merusak kemuliaan dan kehormatannya.

Kunci Keempat, Menaati Suami

Menaati suami merupakan lahan dan medan besar lagi luas bagi seorang muslimah. Ia merupakan ladang ibadah bagi seorang muslimah yang sesungguhnya, setelah penghambaannya kepada Rabbnya.

Allah Ta‘ala berfirman (artinya) “Kaum lelaki itu adalah pemimpin-pemimpin atas kaum wanita -isteri-isterinya-, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka dari yang lainnya, juga karena kaum lelaki itu telah menafkahkan dari sebagian hartanya. Oleh sebab itu kaum wanita yang shalihah ialah yang taat serta menjaga dirinya di waktu ketiadaan suaminya…” (An-Nisaa’: 34).

Di antara sifat istri shalihah adalah menghormati suaminya, mengetahui kedudukan, serta hak dan kewajiban sebagai istri. Di antara hak suami terhadap istri adalah:
1. Taat kepada suaminya selain dalam hal bermaksiat kepada Allah. Hak suami lebih besar daripada hak kedua orang tua si istri terhadap istri tersebut.
2. Istri mengontrol rumah dan keluarga. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.
3. Tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izin suaminya.
4. Tidak boleh mengizinkan seorang pun masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.
5. Tidak keluar rumah kecuali atas izin suaminya.
6. Menjaga agama dan kehormatan suaminya.

Ketataan kepada suami adalah wajib, namun tak ada ketataan ketika melanggar syari’at Allah Ta‘ala.
Saudariku… Islam telah memberikan kemuliaan bagi mukminah. Bahkan dikatakan dalam sebuah hadits bahwa sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Jangan biarkan keindahan dan kemuliaan perhiasan itu luntur. Hendaknya kita dapat menghiasi kemuliaan itu dengan rasa malu terhadap Allah ta‘aalaa yang senantiasa mengawasi. Mari kita ber-istighfar dan memohon perlindungan kepada Allah agar kita terhindar dari fitnah dunia yang fana.

Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha. Mudah-mudahan Rabb kalian menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, seraya mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (QS. at-Tahriim: 8).

Baca selengkapnya di : http://buletin.muslimah.or.id/wanita-lebih-mudah-masuk-surga/

“Kafir Yang Adil Lebih Baik Daripada Muslim Yang Zalim” ?

Jangan mudah terkecoh… Jadilah muslim yang cerdas… Cobalah berpikir sejenak…

1. Siapa kafir yang adil itu, A***K kah?
Siapa muslim yang zalim itu, YU*** kah? (misal saja)

Tentunya, tidak bisa dipastikan… bahkan bisa jadi kenyataannya YU*** lebih adil dari A***k, dan kemungkinan ini juga sangat besar.

Jika demikian, berarti jargon seharusnya, “Muslim yang adil jelas lebih baik daripada kafir yang zalim”.

2. Seharusnya kaum muslimin marah dan tersinggung dengan jargon ini, karena seakan semua muslim itu zalim… dan setiap yang kafir itu adil… kaum muslimin, dimanakah harga diri kalian?

3. Jargon “kafir yang adil lebih baik … “, katanya itu perkataan sahabat Ali -rodhiallohu anhu-… Coba tanya mereka:

– Mana sanad perkataan itu kepada beliau?

Jika tidak ada, berarti perkataan itu dinisbatkan secara dusta kepada beliau… apalagi kenyataannya perkataan itu bersumber dari orang syi’ah, dan mereka banyak memalsukan perkataan sahabat Ali -rodhiallohu anhu- agar orang-orang percaya dan ikut mereka.

– Seandainya itu benar perkataan sahabat Ali -rodhiallohu anhu-… maka Ada perkataan ALLAH yang jelas-jelas membantahnya, bahkan dalam BANYAK ayat Alqur’an, diantaranya:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah kaum MUKMININ menjadikan kaum KAFIRIN sebagai pemimpin mereka, meninggalkan (pemimpin dari) kaum mukminin! Barangsiapa melakukan hal itu, maka Allah berlepas diri darinya” [Alu Imron: 28, lihat Tafsir Thobari 6/313].

Mana yang harusnya didahulukan… Tentu, tidak boleh ragu, harusnya perkataan ALLAH yang didahulukan… apalagi perkataan sahabat Ali itu tidak bersanad sama sekali.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Saya Muslim, Saya Dukung A***K = Saya Muslim, Saya Menolak Perintah Allah…

Saya muslim, saya tolak AH***

Inilah yang harusnya dikampanyekan untuk warga Jakarta saat ini… karena melihat secara obyektif keadaannya, baik dari sisi sifat, akhlak, maupun trackrecordnya.

Kalau ada yang mengatakan “Saya muslim, saya dukung A***K”, ini sama dengan mengatakan: “Saya muslim, saya menolak perintah Allah”.

Pantaskah mengaku muslim tapi menolak perintah Allah?!

Sungguh pengakuan yang sangat kontradiktif.. harusnya dia malu kepada Allah -sebelum malu kepada manusia-, karena Islam adalah agama Allah, dan Allah yang Maha Adil telah berfirman:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah kaum MUKMININ menjadikan kaum KAFIRIN sebagai pemimpin mereka, meninggalkan (pemimpin dari) kaum mukminin! Barangsiapa melakukan hal itu, maka Allah berlepas diri darinya” [Alu Imron: 28, lihat Tafsir Thobari 6/313].

Allah yang Maha Penyayang juga berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang BERIMAN, janganlah kalian jadikan kaum yahudi dan kristen sebagai (pemimpin) yang melindungi kalian. Karena mereka itu akan saling melindungi satu sama lain. Dan barangsiapa dari kalian (yang mukmin) menjadikan pemimpin dari mereka (yang kafir), maka berarti dia menjadi bagian dari mereka” [Al-Maidah: 51, lihat Tafsir Al-Jalalain hal 146].

Wahai kaum muslimin, cerdaslah dalam melihat situasi… Wahai warga pribumi jakarta, pilihlah orang yang memperhatikan nasib kalian, jangan mudah termakan media.

Sungguh media saat ini sangat tidak berimbang… buktinya, kalian tidak akan banyak mendapatkan kampanye di media, seperti:

Saya non muslim, saya dukung YU*** (misal saja)

Saya pribumi, saya dukung YU*** (misal saja)

Wahai warga jakarta, sungguh kami sangat mengharapkan kebaikan dunia dan akhirat untuk kalian…

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Mengajarkan Ilmu…

Syaikh Muhammad bin Shalih
al-‘Utsaimin, رحمه الله تعالى : 

Apabila engkau mengajarkan ilmu
kepada seseorang, lalu orang itu
mengajarkan kembali ilmu tersebut
kepada orang lain, maka engkau akan
memperoleh pahala dua orang.
Jika dia mengajarkan kembali ilmu
tersebut kepada orang yang ketiga,
maka engkau akan memperoleh
pahala tiga orang, dan begitu seterusnya.

( Kitaabul ‘Ilmi )

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Berjalan Ke Masjid…

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Dari Ubay bin Kaab berkata, Dulu ada seseorang yang tidak aku ketahui seorang pun yang jauh rumahnya dari masjid selain dia. Namun dia tidak pernah luput dari shalat. Kemudian ada yang berkata padanya atau aku sendiri yang berkata padanya, ‘Bagaimana kalau engkau membeli unta untuk dikendarai ketika gelap dan ketika tanah dalam keadaan panas’. Orang tadi lantas menjawab, ‘Aku tidaklah senang jika rumahku di samping masjid. Aku ingin dicatat bagiku langkah kakiku menuju masjid dan langkahku ketika pulang kembali ke keluargaku’. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1546)

An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan, Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa langkah kaki ketika pulang dari shalat akan diberi ganjaran sebagaimana perginya.

Masyaa Allah, inilah keutamaan melangkahkan kaki pergi dan pulang dari menunaikan shalat di masjid. Akankah kita masih melewatkannya? Orang yang tahu kalau berdagang di tempat lain akan mendapat keuntungan berlipat-lipat daripada berdagang di rumah, tentu akan melangkahkan kakinya ke tempat itu.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita agar dapat merutinkan shalat fardhu berjamaah di masjid, khususnya kaum pria. Jangan lupa bersuci dahulu sebelum berangkat ke masjid.

(Alhikmahjkt)

Courtesy og Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah