Sunnah Yang Banyak Ditinggalkan

Mungkin banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah ini atau bahkan tidak kenal dengan sunnah ini sama sekali, padahal dahulu Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- selalu membacanya dalam sholat sebelum salam.

Sahabat Ali bin Abi Tholib -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan: “bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

ALLAHUMMAGH-FIR LII
MAA QOD-DAMTU
WA MAA AKH-KHORTU,
WA MAA ASRORTU
WA MAA A’LANTU,
WA MAA ASROFTU
WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII,

ANTAL MUQODDIMU
WA ANTAL MUAKH-KHIRU,
LAA ILAAHA ILLAA ANTA

(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)

[HR. Muslim: 771].

Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya… Beliau yang maksum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

 

Kejarlah Akherat Sampai Dapat…

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه  pernah
berkata:

“Siapa yang mengejar dunia, maka ia akan
bersusah-susah di akhirat. Dan siapa yang
ingin mengejar akhirat, ia harus
bersusah-susah di dunia. Wahai kaum
muslimin, bersusah-susahlah dengan yang
fana (dunia) untuk mendapatkan yang kekal
(akhirat).”

(Untaian Hikmah Pelembut Jiwa,
Syaikh Shalih Ahmad Asy Syami Hal 78)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Salah Satu Sisi Hakikat Dunia

Salah satu sisi hakikat dunia…

1. Sebelum mendapatkannya, harus banting tulang untuk mengumpulkannya. Bahkan banyak yang harus melabrak aturan Allah ta’ala.

2. Ketika menikmatinya, harus hati-hati menjaganya, agar tidak cepet rusak atau hilang atau dibegal dst. Atau bahkan harus disembunyikan karena takut dicuri atau kena lain dst.

3. Setelah itu, dia pasti akan sirna dan fana. Dan menyisakan tanggung-jawab di pundak kita, baik di alam kubur maupun di alam akherat kelak.

——

Jika demikian, pantaskah kita dilalaikan olehnya. Pantaskah kita menggunakan segala cara untuk mendapatkannya.

Padahal Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda,

“Sungguh seseorang tidaklah akan mati, hingga RIZKINYA disempurnakan, maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan carilah cara yang baik dalam mendapatkannya..” (HR. Ibnu Majah – dishohihkan oleh Syeikh Albani)

Jika yang menggunakan cara halal dan cara haram sama-sama akan disempurnakan rizkinya, tanpa berkurang dan tanpa bertambah sedikitpun, mengapa memilih cara yang haram..?

Ya Allah, lindungilah kami dari godaan setan yang terkutuk. Semoga bermanfaat…

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dermawan 100%…

Salah satu karakter terpuji yang disukai Islam adalah: kedermawanan dan sifat pemurah. Banyak dalil dan menunjukkan hal tersebut. Di antaranya firman Allah ta’ala,

“وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ”.

Artinya: “Barang siapa dihindarkan dari sifat pelit, maka merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghâbun (64): 16)

Namun, manakala berbicara tentang kedermawanan, anggapan kebanyakan orang adalah kedermawanan menggunakan harta. Padahal, sebenarnya bukan hanya itu saja. Kedermawanan yang hakiki adalah mendermakan apa yang dimiliki, apapun itu.

Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) menyebutkan bahwa kedermawanan itu ada sepuluh tingkatan:

1. Mendermakan jiwa untuk agama Allah. Dengan cara mengorbankannya demi membela agama Allah dengan cara-cara yang dibenarkan syariat. Ini merupakan tingkat kedermawanan tertinggi.

2. Mendermakan jabatan, dengan mempergunakannya untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi.

3. Mendermakan waktu istirahat dan kenyamanan pribadi, untuk membantu orang lain. Meskipun akan berakibat ia letih secara fisik.

4. Mendermakan ilmu, dengan mengajarkannya. Berderma dengan ilmu lebih tinggi dibanding berderma dengan harta, sebab ilmu lebih mulia dibanding harta.

5. Mendermakan kedudukan sosial, dengan cara memanfaatkannya untuk melancarkan urusan orang lain. Sebagaimana ilmu perlu dizakati, kedudukan sosial pun perlu dizakati

6. Mendermakan fisik, dengan mempergunakannya untuk menolong orang lain. Seperti: membantu mengangkatkan barang belanjaan, membantu menyapu halaman dan yang semisal.

7. Mendermakan kehormatan, dengan cara memaafkan orang-orang yang menggunjing atau menghinanya.

8. Mendermakan kesabaran, dengan cara menahan diri manakala emosi.

9. Mendermakan akhlak mulia, wajah berseri dan keramahan.

10. Berderma dengan meninggalkan keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Jika tidak bisa berbagi dengan orang lain, maka berdermalah dengan cara tidak mengambil milik orang lain.

Seorang muslim seyogyanya berusaha untuk menumbuhsuburkan dalam dirinya sifat dermawan, dengan berbagai jenisnya, semampu yang bisa ia praktekkan. Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk itu, amien…

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Buah Yang Kekal Dan Hilang…

Bila letih terasa setelah berbuat kebajikan,
ingatlah bahwa rasa letih akan hilang
namun (buah) kebajikan akan kekal.

Dan bila terasa kelezatan dalam
kemaksiatan, ingatlah bahwa kelezatan
akan hilang namun (buah) dari
kemaksiatan akan terus ada.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad
As Sadhan, حفظه الله تعالى

Courtesy of Twit Ulama

image

Ibu…

RAHMATMU YA RABBY

PERNAHKAH KITA MENGUKUR SEPANJANG APA KASIH DAN CINTA SEORANG IBU???

PERNAHKAH KITA MENIMBANG SEBERAT APA CINTA NYA???

PERNAHKAH KITA MERENUNG SETULUS APA KASIHNYA???

Atau setelah kita dewasa

Setelah kita bisa berjalan, bisa berlari, Bisa bekerja mencari hidup
Memiliki pasangan hidup

Setelah kita tidak butuh lagi dengan suapannya
Dengan gandengan tangannya
Dengan pelukannya
Dengan dekapannya
Dengan ninaboboknya
dengan belaiannya
Dengan, segala belas kasihnya

Kita mulai menjauh darinya
Kita mulai sibuk dengan urusan kita
Kita mulai lupa dengannya

Akhi/ukhti
Andai semua waktumu kau luangkan untuk ibundamu
Andai semua hartamu kau berikan kepada ibundamu
Aku, yakin kaupun mustahil melakukannya
Tapi kalau itu yang kau lakukan… Kau pun takkan pernah bisa membalasnya…

Tiada hal yang paling membahagiakan hati seorang ibu, lebih dari melihat anaknya bahagia…

Tiada hal yang melarakan hatinya lebih dari melihat musibah menimpa buah hati..
Apapun yang dibutuhkan anaknya akan dipenuhi, asalkan ia bisa kembali tersenyum

Dia rela memakai sandal yang usang, asalkan anaknya pakai sandal baru
Dia rela begadang aslkan anaknya lelap tidurnya
Dia kuat menahan lapar di perutnya, tp dia tak tahan melihat anaknya kelaparan

Dia rela nyawanya digadaikan asalkan anaknya hidup

Dia rela hatinya diiris-iris aslkan anaknya senang

Akhi\Ukhti..
Bila kau berada dekat dengan ibunya, maka hampirilah ia sekarang…
Kecuplah keningnya
Minta maafnya
Minta ridhanya
Pijat kakinya
Dan ucapkan Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama Rabbayani shoghiran

Bila kau jauh darinya, telponlah dia, dengarkan suaranya, mintalah doanya
Dan kirimkanlah sesuatu untuknya

Dan bila dia berada di alam yang berbeda…
Angkatlah tanganmu
Pujilah Rabbmu
Dan doakan ibumu
Selalu

RABBIGHFIRLI WA LIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMA RABBAYANI SHOGHIRAN

Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Saat Galau Melanda…

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yg Engkau miliki, yg Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yg Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yg Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yg Engkau simpan dalam ilmu ghaib yg ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”.

Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”

Tiba-tiba ada yg bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”?

Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yg mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yg lain)”.

(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Kemasyhurannya Menggerogotinya…

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى

Kebanyakan manusia ingin :

Dikenal.. terkenal.. tersohor dan dikenang dalam sejarah…

Ingin namanya kelak ditulis dengan tinta emas dalam prasasti..

Ingin dipuji disetiap majlis..setiap pertemuan.
dihormati dan disanjung..

Entah siapakah status dia :
seorang pejabat..
seorang ustadz..
seorang yang punya pengaruh..
Atau bisa juga.. seorang ilmuwan..
seorang yang kaya harta..
Bahkan orang miskin tak punya apapun juga menginginkannya..
Itulah kenyataan..

TERKENALLLL
TERSOHOR..
DOMINAN..
PALING BERJASA..DLL

Sebenarnya ada disana ada hamba hamba Allah yang jauh lebih mulia dari mereka..

Walaupun mungkin ia hanya sekedar orang biasa..
tiada orang yang mengenalnya… ia termasuk hamba hamba Allah yang jauh lebih mulia dari mereka yang terkenal..
Ia adalah sebagaimana hadits berikut :
Rasulullah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya hati, dan tersembunyi.” (HR Muslim)

Semoga dapat menjadi renungan hati

Do’a Malaikat Di Pagi Hari…

Yusuf Al Syubailiy, حفظه الله تعالى

Tidak ada satu haripun di mana seorang hamba mendapatkan pagi harinya, kecuali turun kepadanya 2 malaikat.

Salah satunya berkata, “Ya Allah berilah ganti kepada orang-orang yang telah berinfak”.

Yang lain berkata, “Ya Allah berilah kebinasaan pada orang-orang yang pelit.”

Ya Allah jadikan kami golongan yang didoakan malaikat pertama.

Courtesy of Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah