Penumpangnya Setan…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Dari Uqbah bin Amir radliyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من راكب يخلو في مسيره بالله وذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر ونحوه إلا كان ردفه شيطان

“Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dzikir maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat.
Sedangkan pengendara yang perjalanannya disertai nyanyian atau sejenisnya, maka yang menjadi penumpangnya adalah syetan.”

(HR Thabrani dalam al mu’jamul kabiir no 895. dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam shahih jami no 5706.)

image

Memahami Ilmu Agama Dengan Benar Lebih Berharga Daripada Memiliki Harta Dunia…

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى
Ali bin Abu Tholib radhiyallahu anhu berkata: “Ilmu agama itu jauh lebih baik daripada harta dunia. Hal ini dikarenakan beberapa hal, (yaitu);

1. ilmu agama itu akan menjagamu (dari keburukan2, pent). Sedangkan harta dunia, engkaulah yang menjaganya.

2. Harta dunia akan berkurang dengan dinafkahkan (dibelanjakan). Sedangkan ilmu agama semakin bertambah dengan diinfakkan (yakni diajarkan dan didakwahkan kepada orang lain, pent).

3. Ilmu Agama mendatangkan amal ketaatan bagi pemiliknya di dalam kehidupan (dunia)nya, dan peristiwa-peristiwa indah sesudah kematiannya. Sedangkan kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh harta dunia akan lenyap (berakhir) bersamaan dengan lenyapnya harta dunia.

(Lihat Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih karya Al-Khothib Al-Baghdadi I/50, Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani I/80, dan Miftahu Daari as-Sa’aadati, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah I/123).

Demikian Faedah ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Introspeksi Diri…

Al Hasan Al Bashri, رحمه الله تعالى berkata :

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.”

(Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal 41)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Sebuah Kisah Yang Membuat Kulit Merinding…

Sofyan Cholid Ruray, حفظه الله تعالى

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab At-Tawwaabun, dari Abdul Wahid bin Zaid, beliau berkata:

Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya,

“Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?” Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala. Kami pun mengatakan, “Kalau ini bukan tuhan yang patut disembah.”

Dia pun berkata, “Kalau kalian, siapa yang kalian sembah?” Kami menjawab, “Kami menyembah Allah.” Dia menjawab, “Apa itu Allah.” Kami mengatakan, “Allah adalah Rabb yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi seluruh makhluk, baik yang hidup ataupun yang mati.”

“Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?” Tanya dia. Kami menjawab, “Rabb Yang Maha Merajai lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami.”

“Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?” Tanyanya. Kami menjawab, “Menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya.”

“Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?” Tanyanya. “Ya.” Jawab kami.

“Apa yang dia tinggalkan?” Tanyanya lagi. Kami menjawab, “Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kitab suci dari Rabb Yang Maha Memiliki.”

“Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu.” Pintanya.

“Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus.” Timpalnya lagi. Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur’an. Dia berkata, “Aku tidak tahu apa ini.”

Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur’an. Ketika kami sedang membacanya tiba-tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.

Dia berkata, “Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati.”

Kemudian dia masuk Islam, lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur’an kepadanya.

Lalu kami pun membawanya ke atas kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, “Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku, apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?”

Kami menjawab, “Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup, Maha Berdiri sendiri dan Maha Agung yang tidak pernah tidur.”

Dia mengatakan, “Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur.”

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.

Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, “Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita.”

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata “Untuk apa ini?”

Kami berkata, “Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Dia menjawab, “Laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya (dan menyembah-Nya)?”

Lalu dia pergi dan mencari kerja untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat.

[At-Tawwaabun karya Ibnu Qudamah rahimahullah, hal. 179]

#Beberapa_Pelajaran:

1. Pentingnya mendakwahkan tauhid dan melarang syirik, dengan sebab itu Allah ta’ala memberikan hidayah kepada manusia.

2. Bahayanya kebodohan terhadap ilmu agama dan bahaya pula hidup menyendiri dengan beribadah tanpa menuntut ilmu dan tanpa bergaul dengan orang-orang yang berilmu.

3. Syirik adalah dosa terbesar dan sekaligus kebodohan terbesar, karena pelakunya telah menyembah selain Allah yang sedikit pun tidak memberi manfaat dan tidak pula mampu menimpakan bahaya kepadanya.

4. Di balik musibah ada sejumlah hikmah, ketika para tabi’in ditimpa musibah terhempas ombak ke sebuah pulau, ternyata di pulau tersebut mereka menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah, dan itu akan menjadi pahala bagi mereka yang akan terus mengalir.

5. Wajibnya tawakkal dan yakin kepada Allah ta’ala yang Maha Pemberi rezeki dan telah menjamin rezeki bagi hamba-hamba-Nya, maka tidak sepatutnya seorang hamba bergantung kepada selain-Nya.

Al-Ustadz Almanazil Billah, Lc حفظه الله تعالى

Ref : http://sofyanruray.info/sebuah-kisah-yang-membuat-kulit-merinding/

Para Malaikat Mengetahui Semua Perbuatan Kalian…

ALLAH subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sungguh banyak malaikat yang selalu mengawasi perbuatan kalian. Para malaikat itu selalu mencatat perbuatan-perbuatan kalian. Mereka mengetahui semua perbuatan kalian.” (Al-Infithaar, 82: 10-12)

“Allah memiliki malaikat yang senantiasa mengawal manusia dari depan dan dari belakangnya. Para malaikat mengawasi perbuatan manusia atas perintah Allah.” (Ar-Rad, 13: 11)

“Wahai manusia, ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap manusia bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan, dan yang lain di sebelah kirinya. Apa saja yang diucapkan oleh setiap manusia pasti diketahui dan dicatat oleh Raqib dan ‘Atid.” (Qaaf, 50: 17-18)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tambahan :

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Raqib dan ‘Atid, yang terdapat dalam QS Qaaf 17-18, bukan nama malaikat, tapi sifat dari dua malaikat pencatat amalan manusia. Jadi dua malaikat yang di sebelah kiri dan kanan manusia, keduanya memiliki sifat Roqib ‘Atid.

Roqib artinya mengawasi, dan ‘Atid artinya hadir bersama orangnya.

image

Ref : https://islamqa.info/ar/148026

Allah Membagi Amalan Sholeh Bagi Hamba-Nya Sebagaimana Allah Membagi Rizki…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Amalan-amalan sholeh seperti rizki yang dibagi-bagikan Allah kepada hamba-hambaNya, ada yang jadi tukang kayu, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi pedagang, dll.

Demikian pula amalan sholeh, ada orang yang dimudahkan untuk selalu sholat malam (namun jarang puasa sunnah), ada yang sebaliknya dimudahkan untuk selalu puasa sunnah (namun jarang sholat malam), ada yang dimudahkan untuk sholat malam dan puasa sunnah. Ada yang dimudahkan Allah untuk bersedekah namun tidak pandai berceramah, ada yang pintar ceramah tapi tidak mampu bersedekah, dan demikianlah…

Karenanya masing-masing kita hendaknya menekuni amal sholeh yang dimudahkan Allah baginya, dan jangan pernah menyepelekan amalan sholeh tersebut, serta jangan pernah pula menyepelekan amal sholeh orang lain.

Bukankah tanpa donatur, dakwah sulit untuk berjalan?, dan bukankah dana tanpa arahan da’i juga kurang optimal?.

Sebagaimana sholat malam merupakan sebab masuk surga, maka demikanpula puasa, bersedekah, dan berdakwah.

Menekuni amalan sholeh yang Allah mudahkan bagi kita (apapun bentuk amalan sholeh tersebut) merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah memudahkan segalanya.

Marah Karena Siapa…?

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan..
Bahwa sekuat kuat tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah..

Demikian seharusnya kita..
Semuanya karena Allah..
Bukan karena kepentingan pribadi..
Atau kepentingan orang lain..
Atau karena mengagumi seseorang..

Terkadang..
Seseorang mengagumi seorang ustadz..
Atau kiyai atau ajengan..
Lalu ia marah karena ustadznya..
Ia benci kepada orang yang tidak disukai ustadznya..
Sampai ada yang berkata..
Saya dikeluarkan dari grup..
Hanya karena tidak mengikuti keinginan ustadz fulan..

Ingatlah..
Seseorang tidak akan ditanya mengapa menyelisihi ustadz..
Tapi akan ditanya mengapa menyelisihi rosul..
Sedangkan ustadz bukan nabi bukan rosul..

Jangan sampai kekaguman kita pada seseorang..
Membuat kita cinta dan benci karenanya..
Tetapi..
Hendaknya cinta dan benci kita karena Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Perkara Yang Aku Cintai…

Abu Darda’ رضي الله عنه mengatakan:

“Tiga perkara yang aku cintai sementara manusia membencinya; kemiskinan, sakit dan kematian. Aku mencintai kemiskinan karena (menimbulkan) rasa tawadhu’ kepada Robb-ku, aku mencintai kematian karenan kerinduan kepada Robb-ku, aku mencintai sakit karena (merupakan) penghapus kesalahan-kesalahanku.”

[Siyar A’lamin Nubala’ biographi Abu Darda’]

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Nasehat Ibnu Kholdun Rahimahullah…

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ibnu Kholdun -rahimahullah-:

“Sungguh orang yang kalah, selamanya akan gemar meniru (mengekor) orang yang mengalahkannya, baik dalam simbolnya, pakaiannya, agamanya, dan semua keadaan dan kebiasaannya.”

(Waspadalah Kaum Muslimin, lihatlah diri Anda! Kepada siapakah anda meniru? Tidak selayaknya Anda meniru, kecuali kepada orang yang paling mulia di muka bumi ini, Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-)

image

Waktu Itu Di Mall…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

(Maaf cuma copas)

seorang wanita berhijab syar’i tengah tergopoh gopoh sambil menggendong anaknya mengikuti suaminya yang melangkah dengan cepat menuju rak rak sepatu dan sandal.. dengan ucapan yang cukup keras suaminya berkata, “cepet pilih sandal sana. Jangan pakai lama ya!”
beberapa pengunjung dan pramuniaga sempat menoleh heran ke arah si suami..
kemudian si istri sibuk memilih milih sandal masih sambil menggendong anaknya… belum sampai 15 menit kembali suaminya berkata keras, kali ini terdengar seperti teriakan.. “kamu ini lama banget sih?! milih sandal aja makan waktu lama!!” tanpa menghiraukan istrinya yang terpaku dan tatapan orang² si suami ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan sang istri dan anaknya..
Subhanallaah…
dibalik cadarnya.. mata cantik itu akhirnya meneteskan airmatanya.. sungguh tidak tega saya.. hati saya bergetar.. 
“mba, bukan maksud saya membuat suami menunggu lama.. saya hanya ingin beli sandal yang paling murah agar tidak membebani suami… tadi dijalan waktu jalan bareng suami sandal saya putus mba.. saya jalan sambil menggendong anak dan membawa bawaan dua tas berat.. suami tidak mau membantu tapi jalannya cepat sekali.. akhirnya sandal saya putus mba..”
dia terisak… dan hati saya pun ikut retak.. walaupun bukan saya yang mengalaminya…
si istri adalah teman baik saya.. dan saya tahu bahwa suaminya bukanlah orang yang tidak mampu tapi sangat mampu (kaya).. namun betapa qanaahnya sang istri.. 
Maa syaa Allaah..
~~~~~~~~~~

Mungkin banyak diantara kita yang terheran-heran.. mengapa lelaki yang sudah bertahun tahun mengaji.. namun akhlaknya bisa sedemikian buruk pada istrinya..
tidak jarang sering cerita² seperti itu menghampiri saya..
ada yang suaminya rajin sholat 5 waktu di masjid dan rajin mengkhatamkan Al-Qur’an tetapi menyelingkuhi istri..
ada yang suaminya rajin ibadahnya tetapi ketika marah istri ditinggal ditengah daerah tambak dan persawahan yang si istripun tak tahu jalan pulang..
dan masih banyak lagi..

jawabannya hanya satu… ibadah dan ilmu yang diperoleh dari majelis ta’lim atau pengajian, tidak sampai merasuk ke hati.. tidak sampai meresap pada jiwa.. yang sejatinya ilmu itu menumbuhkan rasa takut kepada Allaah… semakin rajin ibadahnya semakin baik akhlaknya..
namun ilmu hanyalah menjadi sebuah teori dan hafalan.. dan ibadahnya tidak masuk ke relung hati dan jiwanya..
~~~~~~~~~

Genggamlah tangan istrimu..
jagalah tiap langkahnya..
karena engkau memiliki tanggung jawab dalam membimbing dan menuntunnya ke arah yang lebih baik..

Jangan justru engkau tepis tangannya..
jangan justru kau hempaskan perasaannya..
sehingga hatinya terluka dan menangis..

Baarakallaahufiikum^^

Catatan :
untuk yang belum menikah jangan mudah tertipu penampilan… akan tetapi carilah yang penampilan dan akhlaknya sesuai sunnah Nabi.. yang berusaha mengamalkan ilmu buah dari majelis ta’lim walaupun dia bukan ustadz… ^__^

karena ukuran shalih dan tidak shalih seorang lelaki bukan diukur dari dia ustadz atau bukan.. hafalannnya banyak atau sedikit.. lulusan pondok atau bukan.. tetapi dari semangatnya belajar ilmu agama, kemudian mengamalkannya.. dan engkau akan bisa melihatnya dari akhlaknya ^__^

berbakti pada orangtuanya, sayang pada saudaranya sesama muslim, terjaga lisannya, dan tidak bermudah²an dengan wanita yang tak halal baginya^^

**Hanifa Ari Ummu Irhabiy**

Menebar Cahaya Sunnah