Insya Allah Medsos Jadi Ladang Amalku…

image

Majelis Taklim Baitul A’laa Raffles Hills akan mengadakan Dauroh Remaja ke-2 , yang akan diadakan pada ;
📅 Hari/Tanggal :
Ahad, 10 Januari 2016 /
28 Rabi’ul Awal 1437H
⏰ Jam : 08.30 – 14.00
👤 Pemateri : Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc.
Materi :
“Insya Allah Medsos Jadi Ladang Amalku”
Tempat : Gedung Sarbini Taman Bunga Wiladatika Cibubur.
—————-
–> Biaya Pendafataran : GRATIS .
–> Info Pendaftaran :
1. HARITS FATHIN 081219565156 (IKHWAN)
2. AYU INA 081210214938
(AKHWAT).
–> Form pendaftaran klik link dibawah ini :
http://bit.ly/1OiQWfk
–> Akan disediakan makan siang untuk peserta.
Daftarkan Segera, Tempat Terbatas…
– Panitia Dauroh Remaja MT. Baitul A’laa –

Tahun Baru…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Memangnya ada apa dengan barunya tahun?

Adakah jaminan untuk anda mendapat surga dengan datangnya tahun baru?

Adakah jaminan bahwa anda selamat dari neraka, dengan datangnya tahun baru?

Adakah jaminan untuk anda terbebas dari jerat setan, dengan datangnya tahun baru?

Adakah jaminan bahwa umur anda bertambah panjang, dengan datangnya tahun baru? Percayalah bahwa walaupun tahun berputar ulang “baru” namun anda tidak akan mengalami perubahan kecuali bila anda sendiri yang membuat perubahan itu?

Tahukah anda bahwa pada setiap tahun baru , sekian banyak saudara anda yang menghembuskan nafas terakhirnya? Mungkinkah anda adalah salah satu dari mereka yang harus mengakhiri nafasnya di dunia ini ?

Tahukah anda bahwa sekian banyak saudara anda yang terjerembab dalam dosa? Masihkah anda menanti giliran untuk menjadi korban selanjutnya?

Murid Meluruskan Kesalahan Guru, Wajar, Guru Mengajari Murid Yang Bodoh, Kewajiban…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Kebenaran selalu lebih mulia dan tinggi dibanding ikatan apapun, tanpa terkecuali ikatan perguruan. sejarah para ulama’ membuktikan akan hal ini, Imam Syafii pernah berguru kepada Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid senior Imam Syafii, rahimahumullah. Namun demikian,mmereka berbeda pendapat, bahkan mazhab.

Perbedaan antara mereka sangatlah masyhur, dan sewajarnya perbedaan pendapat antara ulama’, antara mereka terjadi bantah membantah, demi tegaknya kebenaran dan pudarnya kesalahan. Perbedaan yang terjadi dan bantah membantah yang ada, tidak menyebabkan mereka saling membenci atau melupakan status sebagai murid dan guru.

Imam syafii sering membantah pendapat gurunya sendiri yaitu Imam Malik. Bahkan kadang kala bantahan beliau terasa sedikit pedas, sebagaimana yang terjadi pada masalah khiyarul majlis ( hak membatalkan transaksi selama penjual dan pembeli masih berada satu majlis).

Kala itu menyebar informasi bahwa Imam Malik tidak memfatwakan adanya khiyarul majlis, padahal beliau meriwayatkan hadits hadits tentang hal ini dalam kitabnya Al Muwattha’.

Tak ayal lagi, pendapat beliau ini menuai kritik dari ulama’ semasa beliau tanpa terkecuali Imam Syafii.

Tanpa mengurangi rasa hormat sebagai seorang Murid, Imam Syafii mengomentari pendapat gurunya dengan berkata:

رحم الله مالكاً لست أدري من اتهم في إسناد هذا الحديث اتهم نفسه أو نافعاً وأعظم أن أقول اتهم ابن عمر

Semoga Allah merahmati Malik, aku tidak tahu siapakah yang ia tuduh telah salah dalam meriwayatkan hadits ini? Apakah ia menuduh dirinya yang salah, atau gurunya yaitu nafi’, dan aku merasa sungkan untuk mengatakan bahwa Malik telah menuduh Ibnu Umar salah meriwayatkan hadits ini.

Allahu Akbar! Inilah contoh murid cerdas dan berbakti kepada guru, kebenaran lebih dijunjung tinggi dibanding apapun, demi baktinya kepada guru. Murid yang berbakti tidak rela bila kesalahan gurunya berkepanjangan, sehingga kesalahannya menyebar dan diikuti oleh banyak orang, akibatnya dosanya juga berkepanjangan.

Andai sikap dan ucapan Imam Syafii semisal di atas, dilakukan oleh seorang murid zaman sekarang, kira kira julukan apa ya yang akan disandangkan kepadanya?

Dan sebaliknya, bila murid melakukan kesalahan baik sikap atau pendapat makabitu adalah kewajiban guru sebagai seorang berilmu untuk menyampaikan atau mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.

Anda bisa saja membuat alasan atau penafsiran atau pembelaan, namun tetap saja itu adalah persepsi anda, bisa diterima dan bisa pula ditolak. Intinya, saya hanya ingin mencontohkan bagaimana dahulu para ulama’ membangun senioritas dan memperlakukannya, selebihnya terserah kepada anda.

Iblispun Berkedok Sebagai Penasehat…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku, kebenaran diukur dengan dalil dan bukti, bukan diukur dengan judul, atau kemasan atau hal lain yang serupa. Bersikaplah dengan bijak dalam segala urusan, berpikir obyektif, dan senantiasa mewaspadai peran emosi ketika hendak memutuskan. Dan jangan lupa mohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla agar selalu menunjukkan jalan kebenaran dalam setiap urusan anda.

Indahnya judul, atau kemasan bukanlah jaminan bagi benar atau salahnya isi dan kandungan. Pelajari lebih jauh dengan menggunakan dalil dan bukti bukan sekedar melihat judul.

Ingat, dahulu nabi Adam alaihissalam terperdaya oleh judul “nasehat” sehingga terjerembab dalam perbuatan dosa. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

Iblis bersumpah kepada keduanya: sesungguhnya aku adalah pemberi nasehat bagi kalian berdua. ( Al A’raf 21)

Benar atau salahnya suatu urusan tidaklah ditentukan oleh judul dan kemasan, namun lihatlah isinya lalu timbanglah dengan dalil dan bukti. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.

Agar Dimudahkan Hisab…

image

Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih kemudaan saat dihisab di akhirat kelak.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ »

Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” [1]

Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu.

Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?” Ibnu Umar menjawab,

يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, “Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia berfirman lagi, “Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu.”[2]

Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan.

Moga Allah mudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab semacam ini di akhirat kelak saat hari perhitungan. Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’.

[1] HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan di mana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya.

[2] HR. Bukhari no. 6070.

Sunnah Meteor…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Muhammad bin Sirin berkata:
Kami pernah duduk bersama Abu Qotadah al anshori.
lalu terlihat meteor jatuh..
kamipun mengikutinya dengan pandangan kami..
maka Abu Qotadah melarang kami, dan berkata: Sesungguhnya kita telah dilarang dari itu.
HR Ahmad dengan sanad yang shahih.

Menebar Cahaya Sunnah