Musibah Menghapus Dosa

Ust. Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله

Akhi ukhti…

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita

Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya

Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang

Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.

sekarang coba bayangkan, dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan

Kita tidak pernah menghitungnya, kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung…

sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…

Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiem…

Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…

Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
– حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no.5641 dan Muslim no. 2573)

Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya

Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah

Salah satu ulama’ salaf berkata:

لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين

“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”.

Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah…

saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa…

Dengan menata hati,

Bersabar

Meridhoi takdir ilahi

Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan

 Ditulis oleh Ustadz Dr.Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى.

– – – – – •(*)•- – – – –

Allah Selalu Mengawasi Hamba-Nya

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Jika engkau sedang sendiri pada suatu hari..
jangan engkau katakan pada dirimu” aku tiada yang melihat..”

Tapi Katakan! : ” aku sedang diawasi..”
Jangan engkau kira Allah lalai sesaatpun
Dan jangan dikira apa yang engkau sembunyikan tidak tampak olehNya..

Lihatlah hari begitu cepat berlalu..
Masa yang akan datang padahal tampak sangat dekat..

Diterjemahkan dari syair yang disebut dalam kitab minhajul muslim. Bab muroqobah. Karya abu bakar jabir al jazairi

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Tentang Instropeksi Diri Masalah ikhlasnya Hati

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Lihatlah kisah berikut:

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa ada seseorang yang senantiasa shalat di shaf paling depan, suatu saat ia terlambat, sehingga posisinya di shaf yang kedua. Dalam posisi tersebut ia merasa malu kepada orang-orang karena ia terlihat berada di shaf kedua.

Maka dari sini diketahui bahwa kebahagiaan dan kesenangan hatinya selama ini yang berusaha agar berada di shaf terdepan adalah karena dilihat oleh manusia.

Sungguh luar biasa para ulama salafusholeh..

Mereka sangat teliti dalam menilai diri mereka..

Semoga kita dapat mencontoh mereka.. aaminn

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Ikhlas

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Dan beberapa ungkapan ulama’ tempo doeloe tentangnja..

pengertian ikhlash adalah membersihkan niatan hati ketika akan atau sedang dan pasca ibadah dari segala macam godaan baik itu sedikit maupun banyak, sampai niatnya menjadi murni yaitu hanya untuk bertaqarrub (mendekatkan diri kpd Allah) dan tidak ada pendorong lain. Dan hal ini tidak mungkin terjadi kecuali pada diri seseorang yang mencintai karena Allah keinginannya begitu mendalam untuk menuju akhirat. Dimana tidak ada kata di dalam hatinya untuk dunia. Orang semacam ini, apabila ia makan, minum, bahkan melakukan pekerjaan duniawi ia niatkan untuk Ridho Allah Ta’ala, maka akan didapati bahwa ia sosok orang yang ikhlash dalam beramal dan memiliki niat yang benar. Dan barangsiapa yang tidak seperti ini kondisinya, maka pintu untuk meraih keikhlasan sangat sulit baginya.
Ketika seseorang yang kecintaannya kuat terhadap Allah dan cinta akhirat, niscaya seluruh gerak-gerik kebiasaannya merupakan sebuah wujud keikhlasan.. Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh dunia, kedudukan, tampuk kepemimpinan, dan secara umum urusannya diserahkan kepada selain Allah;_ maka segala macam gerakannya di atasnamakan Dunia belaka, sehingga tidak ada ibadah yang selamat dari niatan kepada selain Allah, baik itu dari puasa, shalat, atau ibadah yang lainnya dan kalau pun selamat maka jarang terjadi.

Sesungguhnya metode untuk mengatasi agar niat itu bisa ikhlas, yaitu dengan menghancurkan segala kesenangan jiwa, membinasakan segala perasaan tamak terhadap dunia, serta hanya berkeinginan untuk meraih akhirat walaupun ia merupakan kerjaan duniawi. Maka dengan melakukan hal-hal di atas maka akan mudah untuk meraih ikhlas.

Betapa banyak suatu amalan yang sudah susah payah dilakukan oleh manusia, dan ia mengira bahwa semua itu dilakukan karena berharap wajah Allah, namun ternyata ia hanyalah orang telah tertipu, sebab ia sendiri belum menemukan aib dan cacat dari niatnya.

Ayyub berkata, “Mengikhlaskan niat lebih berat bagi para pengamal dari keseluruhan amalan yang ada.”

Sebagian ulama berkata, “Sesaat saja seseorang bisa ikhlas, maka ia akan memperoleh keselamatan yang abadi, namun rasa ikhlas itu sangat jarang dirasakan.”

Ada seseorang berkata kepada Suhail, “Hal apakah yang paling berat bagi jiwa?”, ia menjawab, ‘Ikhlas, karena jiwa itu tidak mampu untuk meraihnya.”

Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan suatu amalan karena malu terhadap manusia maka ini disebut riya, beramal karena manusia syirik, sedangkan ikhlas itu ialah Allah menyelamatkanmu dari kedua perbuatan tersebut.”

Www.abu-riyadl.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Ayo Bermaulid ‘Ala Nabi…..!

Ust. Firanda, حفظه الله

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ قَالَ: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ – أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ –

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau menjawab : “Itu adalag hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai nabi, dan hari diturunkan wahyu kepadaku” (HR Muslim no 1162)

Cara maulid Nabi yaitu :

1) dengan berpuasa sebagai bentuk bersyukur kpd Allah.

2) dilakukan setiap pekan bukan tiap tahun

Namun cara maulid ala Nabi diganti dgn cara model sekarang ;

1) dengan bersenang-senang dengan menyediakan banyak makanan, bahkan ada yg mengadakan pawai dengan membuat patung-patungan hewan makhluk bernyawa. Sehingga banyak mubadzir
2) dilakukan setiap tahun
3) terkadang dibarengi dengan kemungkaran-kemungkaran seperti:
– musik-musikan
– ikhtilat (bercampurnya) lelaki dan wanita, dll (silahkan baca kembali http://firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/404-kemungkaran-acara-maulid-yang-diingkari-oleh-pendiri-nu-kiyai-muhammad-hasyim-asy-ari-rahimahullah)

Apakah kita ingin mengganti cara maulid nabi dengan cara yang buruk?

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kalian mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?”

 Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja MA حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Sayangi Buah Hatimu

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Wahai ayah dan ibu…

Diantara bentuk ketinggian dan kemuliaan agama islam yg menunjuki bahwa agama islam sangat mencintai dan menyayangi anak2 (buah hatinya) dgn penuh belas kasih. Karena berlemah lembut kpdanya serta mencurahkan kasih sayang kpd mereka akan mengantarkan kedua orang tuanya menuju surga.

Bahkan Nabi yg mulia صلى الله عليه و سلم menganjurkan kpd seseorang laki-laki yg hendak menikah agar dia menikahi wanita yg memiliki rasa belas kasih (baik kpda suaminya maupun kelak kpd buah hatinya), sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh abu dawud: 2050

Mafhumnya, jgn engkau menikahi wanita yg keras hatinya! Yg demikian akan memberikan mudharat untuk suami & anaknya.

Kemudian ada satu hadits lagi yg menunjukkan sgt sayangnya kedua orang tua kepada anaknya, lebih khusus kaum ibu karena dia lebih sering bersama buah hatinya, utk itu para ibu harus memiliki rasa belas kasih kpd anaknya.

Perhatikan hadits yg sangat besar berikut ini:

“Dari Aisyah dia berkata: Datang kpda saya seorang wanita dgn membawa 2 putrinya. Maka saya berikan 3 butir kurma, sehingga masing mereka mendapatkan 1 butir kurma. Kemudian masing2 anaknya pun memakan kurma trsbt, tinggal 1 kurma yg dimiliki oleh ibunya, ketika kurma trsbt hendak dimakan oleh ibunya, ternyata kedua putrinya meminta kurma tsbt. Lalu aku (aisyah) melihat ibunya tdk jadi memakannya, tetapi kurma yg menjadi haknya dibelah menjadi 2 kemudian dia berikan kpda kedua putrinya. Kemudian saya (aisyah) ceritakan kisah yg menakjubkan ini kpda Rasulullah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ALLAH dgn kurma trsbt itu telah mewajibkan baginya syurga & dijauhkan dari neraka” (Riwayat muslim)

Yaa subhanallah, sgt indah sekali kisah tsbt yg menunjuki sayangnya & sgt sabarnya seorang ibu kpd anak2nya, yg dgn sebab sayangnya & ksabarannya ALLAH berikan syurga & dijauhkan dari neraka utknya.

Sayangilah buah hatimu…

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈

One Day One Juz

Ust. M A Tuasikal, حفظه الله

Anak dari Al Hafizh Ibnu ‘Asakir yaitu Qasim pernah menceritakan tentang ayahnya, ia berkata, “Ayahku punya kebiasaan shalat berjama’ah dan membaca Al Qur’an, juga menghatamkan Al Qur’an setiap pekan pada hari Jum’at. Sedangkan di bulan Ramadhan, ia menghatamkan sehari sekali. Beliau juga rajin memperbanyak shalat sunnah dan memperbanyak dzikir. Beliau pun selalu instrospeksi diri terhadap amalannya yang jauh dari ketaatan.”

Subhanallah … Itulah contoh ulama salaf dahulu. Namun mereka tidaklah suka memamerkan amalan. Ketika mereka bisa menyelesaikan satu juz satu hari (One Day One Juz), mereka pun enggan menceritakan pada orang lain. Cukup amalan tersebut jadi amalan tersembunyi antara dirinya dengan Allah. Amalannya bisa ketahuan hanya dari orang-orang dekatnya saja.

Nasehat para ulama yang kami tahu, mereka memerintahkan membaca Al Qur’an sesuai kemampuan.

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ

“Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran ” (QS. Al Muzammil: 20). Abu Sa’id -sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya- menyebutkan bahwa yang dimaksud bacalah Al Qur’an walau lima ayat. Artinya, sesuaikan dengan kemampuan.

Selengkapnya: http://muslim.or.id/al-quran/one-day-one-juz.html

 Ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Cinta Nabi Masa Kini

Ust. Sufyan Basweidan, MA حفظه الله تعالى

Sekarang, cinta Rasul kebanyakan hanyalah slogan yang sulit dicari
wujudnya di lapangan. Cinta Rasul sering kali diidentikkan dengan
shalawatan, perayaan Maulid Nabi, isra’ mi’raj, dan yang sejenisnya.

Sekarang, orang yang dianggap cinta Rasul ialah mereka yang
mengagungkan beliau dengan bertawassul kepadanya dalam do’a. Atau mereka yang mengirimkan Al Fatehah kepada beliau, atau mereka yang menggelari beliau dengan gelar yang bermacam-macam: seperti Sayyidina, Habibina, dan lain-lain.

Sekarang, ‘Cinta Rasul’ merupakan judul kaset yang sering kita dengar
di mana-mana… yang dinyanyikan oleh pria dan wanita, tua dan muda…
semua merasa khusyuk ketika melantunkan kata-kata: Shalaatullaah
salaamullaah… ‘alal habiibi Rasuulillaah…

Akan tetapi jangan tanya soal sunnah beliau kepada mereka… karena mereka akan menjawab bahwa yang mereka lakukan tadilah yang namanya sunnah. Cinta Rasul kini telah berubah menjadi klaim yang diperebutkan setiap golongan. Cinta Rasul yang dahulu diwujudkan dengan ittiba’
kepadanya, kini semakin luas maknanya hingga mencakup bid’ah segala.

Menurut mereka, perayaan maulid, isra’ mi’raj, shalawatan, dan yang
sejenisnya merupakan perwujudan nyata akan kecintaan seseorang kepada Nabinya. Sehingga otomatis bila ada orang yang mengingkari hal-hal semacam itu, serta-merta dituduhlah ia sebagai orang yang tidak cinta Rasul, atau wahhabi, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, mereka berusaha mencari ‘pembenaran’ –dan bukannya kebenaran– atas apa yang selama ini mereka lakukan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah bertentangan dengan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin ‘dalil’ (baca: syubhat) untuk
melegitimasi praktik ‘sunnah’ (baca: bid’ah) mereka.

(Ustadz Sufyan Basweidan, MA حفظه الله تعالى )

Waktu Muda Cerminan Waktu Tua

Ust. M A Tuasikal, حفظه الله

Ibnu Rajab rahimahullah pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan
keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan
bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh.

Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan,
“Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang
tersebut, “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu
mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.” Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 225

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1: 303, shahih)

Baca artikel Rumaysho.Com:
http://rumaysho.com/qolbu/masa-mudamu- mempengaruhi-masa-tuamu-846

– – – – – •(*)•- – – – –

ANTARA MENGINGAT ALLAH DAN MEMBICARAKAN MANUSIA

Ust. Aan Chandra Thalib, حفظه الله

Prof DR. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily berkata:

قال مكحول: (ذكر الله شفاء وذكر الناس داء) قلت :الشفاء الذي في ذكر الله طمأنينة القلب، والداء الذي في ذكر الناس قسوة القلب

Makhul berkata: “Mengingat Allah Adalah obat, sementara membicarakan manusia adalah penyakit”
Saya katakan bahwa, “obat yang terdapat dalam mengingat Allah adalah ketentraman hati, sedangkan penyakit yang (timbul) saat membicarakan manusia adalah kerasnya hati”.

Menebar Cahaya Sunnah